Perluas Pengaruh pajak.go.id, Ditjen Pajak Gelar Rakor Editor Situs


Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (Direktorat P2humas) Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Editor Situs di Hotel Grand Keisha, Sleman, Yogyakarta (Rabu, 23/8). Rakor yang berlangsung hingga 25 Agustus 2017 ini digelar untuk terus memperkuat pengaruh situs resmi Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id) di dalam mengedukasi publik tentang pajak dengan selalu meningkatkan kualitas layanan pemberian informasi kepada wajib pajak melalui pajak.go.id.

Saat ini, pajak.go.id merupakan kanal yang diandalkan wajib pajak dalam mencari informasi tentang perpajakan. Dari ranking Alexa,pajak.go.id menempati urutan ke-136 sebagai situs di Indonesia yang paling sering dikunjungi.

Baca Lebih Lanjut.

Sehening Sandaran di Sebuah Bahu


Rinai membasahi jendela. Ada yang mengetuk bening-bening kaca yang hening. Sehening sandaran di sebuah bahu. Tapi jantung kita tak pernah bisa hening. Degupnya menggema ke Ankara dan tepian bumi. Mengisyaratkan pertautan sederhana. Antara kau yang hujan dan aku yang tanah kering.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Yogyakarta, 25 Agustus 2017

Sepinggan Sore


Aku sepinggan sore yang dihidangkan waktu, penuh remah-remah cahaya, gemerisik lemah daun yang dibisik angin, awan-awan yang  rambutnya memutih, dan pucuk-pucuk padi menguning dengan bulir-bulir matanya menatap ke langit, setengah merunduk. Aku sepinggan sore yang dahaga matamu untuk segera menatap, sebentar lagi aku menghilang. Tawamu janganlah turut pula. Sisakan secuilnya buatku di esoknya. Aku sepinggan sore yang tabah heningnya dirontokkan gemuruh roda-roda baja kereta api, tetapi tak pernah sabar diluruhkan heningmu di suatu masa. Aku sepinggan sore yang menyisakan sungai di bawah jembatan untuk bercerita panjang lebar tentang tepian-tepian sampai ke muaranya. Ingatlah, tepian itu adalah tebing yang dihajar waktu nan abadi. Kelok-keloknya punya kisah masing-masing yang dirahasiakan. Aku sepinggan sore yang berharap menjadi cameo dalam mimpi-mimpimu yang langka. Malam sebentar lagi tiba.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Di atas Gerbong 7,
25 Agustus 2017
Gambar diambil dari wallpaperscraft.com

Pertemuan di Segelas Teh


Suatu waktu, jari-jarimu memeluk gelas teh hangat yang tak rela kaujauhkan untuk sesaat. Tawamu mengombak, mencoba menepis raihan tangan matahari  yang berusaha merengkuh pundak-pundak kita.

Di ujung persuaan, ada yang bergolak di dada, samudra keheningan yang akan segera tumpah. Muara dari sungai kehilangan. Di situlah, engkau seperti empu: “Mengapa kita harus kehilangan, kalau sesungguhnya kita tak punya apa-apa?”

Engkau mudah begitu. Sedangkan aku, pemilik segala pendakuan, sungguh muskil.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
23 Agustus 2017
Foto Stasiun Jenar

Aylaview: Fenomena Seretnya Investasi Kasih Sayang


Waktu itu saya masih berada di commuter line yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang lebih kurang pukul 22.00. Saya pulang larut sehabis menonton siaran langsung bincang-bincang antara Sri Mulyani dan Rosi Silalahi di salah satu stasiun tv swasta. 

Tiba di Stasiun Tanah Abang kereta rel listrik yang menuju Bogor sudah nongkrong di jalur 3. Kebetulan saya dapat tempat duduk di commuter line itu.  Kantuk sudah merajalela di pelupuk mata. Kadang tidur kadang juga bangun. Kalau bangun saya lanjutkan dengan baca buku. Tetapi juga saya perhatikan telepon genggam, masuk ke aplikasi Facebook, dan melihat lini masanya.
Baca Lebih Lanjut.

Anak-anak Kesunyian


Jalanan ini mengaduh lirih ketika gerimis menindih, bukan karena mesin-mesin yang melindas tanpa jiwa yang awas, ia memilin kesah dalam setiap madah, menggemakan sekuntum hening yang sebegitu bening.

Rinai di Jakarta, di Istanbul, mengalir dari pipi-pipi langit dan menara merah. Rasanya sama, tajamnya beda. Di sini lebih sembilu. Mengiris baja ketangguhan yang pura-pura disuguhkan.

Sekuntum dua kuntum barangkali keniscayaan. Tetapi jika sepanjang malam, telinga siapa yang mampu bertahan mengunyah kesenyapan. Desibel. Resonansi. Gaung. Coba kauhitung gelegarnya. Barangkali bersama gemericik lembaran sajak yang terbakar api.

Jalanan ini mengaduh lirih. Hanya didengar telinga dan hati para pecinta. Di dada mereka, bersemayam anak-anak kesunyian yang dikumpulkan. Kelak mereka akan dewasa. Dan kita tertawa bersama sebagai orang tua yang paling penyayang.

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
APTB, 15 Agustus 2017

 

Lidah Hitam


Lidahmu hitam, taringmu tajam, dan kau jerembapkan di leherku segala kepahitan, lalu kauhisap seluruh kebahagiaan. Relakan aku memeluk diriku sendiri, menghilangkan kepala sebab ia tempat semua kepedihan, salahku apa?

Kata-katamu panah, mulutmu busur, dan kau bidikkan di inti jantungku yang luka, lalu kau teteskan asam cuka. Ikhlaskan aku berbincang-bincang kepada kucing yang sedari tadi melihatku dengan aneh. Aku memang aneh, I’m not okay, salahku apa?

Terima kasih aku ucapkan, sebabmu aku berdamai dengan rasa sakit. Aku adalah harapan, mimpi, dan hati yang tak pernah ada.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Bojonggede, 12 Agustus 2017

 

Apa yang Kaucari Puan?


Puan nan rupawan, sungguh tanpa tujuwankah? Sehingga Puan tabah berpusing-pusing singgahi waktu dan tempat. Apa yang kau cari, Puan? Sedangkan lama sudah sejarah membeku jadi cerita yang ingin dikisahkan hanya kepada satu orang.

O, Puan, entah kemana lagi aku hendak mencari tahu, sedangkan lidah membeku, di titik bawah 0 derajat celcius yang jauh, jauh, jauh, dan jauh, antartika saja tak sebeku ini, Puan.

O, Puan bukankah tanpa tujuwan adalah tujuwan itu sendiri? Maka bertanyalah kepada ibu arah karena ia muasal dari segala tujuwan.

O, Puan, kapankah akan berhenti, dan dengan apa jarak tak bertambah lagi? Dengan apa Puan?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 11 Agustus 2017

Januari 2018


:untuk Machdalena Siregar

Musala berdinding bambu
​p​unya telinga dan mata
​u​ntuk lelaki yang menjelma stevan
pemilik ​hakiki kehilangan
dan harapan yang renta
untuk tali tak tersimpul

Rantai membelenggu
menggusur hasrat
tak boleh ada janur
kuning melengkung
dua kali dalam setahun
karena syariat
kau tak mau lama menjadi penanti

Aku berbaju biru di hari rabu
punya telinga dan mata
untuk lelaki yang menjelma stevan
pemilik gundah yang tak bisa disembunyikan
dari setiap tatapan dan perasaan

ada yang menusuk-nusuk jantung stevan
perihnya ingin ia bagi kepada siapa
tak bisa di rahasia
agar dada ini menjadi terang
tanpa gerhana dan langit mendung
lelaki yang mau menanti sampai Januari 2018

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10 Agustus 2017

KPP Madya Batam: Dari FTZ hingga Toilet


Dalam edisi kali ini Intax melakukan liputan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Batam. Selain memiliki unit khusus yang tidak ada di KPP lain, kantor ini memiliki strategi khusus pengawasan terkait tipikal wajib pajak yang ditanganinya. Menariknya KPP Madya Batam juga tak melupakan kebutuhan dasar para pemangku kepentingannya: toilet bersih.

*

Provinsi Kepulauan Riau merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Riau dan terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002. Provinsi ini mencakup lima kabupaten: Bintan Kepulauan, Karimun, Kepulauan Anambas, Lingga, Natuna, dan dua kota: Batam dan Tanjungpinang. Kota terakhir ini terletak di Pulau Bintan serta menjadi ibukota Kepulauan Riau.

Baca Lebih Lanjut.