Bulan Sabit


Tetap saja, di suatu malam yang sangit, ketika aku disodorkan sebuah pilihan tentang suka cita pertemuan atau duka lara perpisahan dan yang aku jawab pertama adalah pilihan, ternyata itu tak bertahan lama, sisanya waktu sedemikian tega menyayat dan mengganti isi-isi sel yang memenuhi saluran darah di sekujur tubuh dengan derita jarak itu.

Maka serta merta yang kupikirkan adalah derak-derak roda di atas rel yang menjadi nafas kehidupan cerita-cerita, hingga jam-jam yang tak seberapa itu mampu melarikan diri dari penjaranya. Maka, tidak ada lagi tertawa yang sepanjang perjalanan kurekam di benak melainkan tawa-tawa malam, tawa-tawa bulan, tawa-tawa nokturnal, tawa-tawa kopi, tawa-tawa selimut, tawa-tawa kegelapan lorong kereta, hingga kau membangunkanku dengan mimpimu.

Seketika itu aku menjadi priyayi dengan ring terpasang di jantungnya, meledak, ringnya lepas menggelinding dan melekat di jemarimu. Jari-jari dengan pergelangan dan punggung tangan sejarah yang tak pernah bisa dibenamkan masa. Kuusap bulan sabit, di tempatnya bersemayam, untuk menjadi pagi dan malam yang disiram endorphin ke sekujur tubuhmu, tubuh Puisi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 27 Agustus 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s