Cerita di Balik Layar Puisi Malam Ini Kanda Dinda


Suatu ketika pada 1 Agustus 2017 Kak Cut Ratna Marlina menanyakan kepada saya, “Jadi perlu slot khusus di acara?” Acara yang dimaksud adalah acara Reuni Alumni STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Pajak tahun lulus 1997. Niatnya acara ini akan diselenggarakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta pada 2 September 2017. Tepat 20 tahun setelah kami diwisuda.

Kak Cut Ratna Marlina ini adalah anggota kepanitiaan reuni yang luar biasa gigihnya dalam mengusahakan terselenggaranya acara tersebut. Perihal nama sebenarnya adalah Hajjah Ratna Marlina saja. Namun dikarenakan pada Juni 2017 lalu dipromosikan sebagai kepala seksi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Banda Aceh maka teman-teman menahbiskannya dengan “Cut”. Lengkap sudah hidupnya.

Ketika saya ditanya seperti itu saya hanya menjawab begini, “Slot-slotan begitu  ya acaranya. Saya baca puisi saja.” Spontanitas yang harus saya bayar mahal. Pertama, karena saya bukanlah siapa-siapa di Angkatan 1997 ini, kok bisa-bisanya saya dikasih slot. Sungguh suatu kehormatan.  Kedua, sudah lama saya tidak baca puisi di depan orang banyak. Terakhir pada saat Internalisasi Corporate Value Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat bertahun-tahun lampau, kalau tidak salah di antara tahun 2006 sampai dengan 2010.

Pada 20 Agustus 2017, teman panitia lainnya yaitu Bang Jan M Sitio, Ketua Panitia Reuni, tiba-tiba menghubungi saya menanyakan apakah bahan puisi perlu disertakan dalam multimedia dan dibuatkan latar pendukung dengan musik, bahan, dan gambar. Jika saya ingin kondisi tertentu dalam pembacaan puisi itu maka panitia siap untuk menyediakannya.

Alamakjang, di tanggal itu puisi saya belum siap sama sekali. Sebabnya pikiran saya sedang terfokus pada penyelesaian persiapan Rapat Koordinasi Editor Situs pajak.go.id di Yogyakarta. Saya bilang kepada Bang Tio kalau saya akan buat puisi dan latihan bacanya setelah urusan di Yogyakarta selesai semua. Saya pun akan memberitahukan kondisi yang diinginkan saat pembacaan puisi itu nanti.

Saya menyadari penawaran Bang Tio ini sesungguhnya upaya menagih janji saya. Wajar sih. Semua ini agar acara berlangsung sakses.

Waktu menjelma sebagai Usain Bolt. Tahu-tahu sudah 29 Agustus 2017 saja. Bang Tio lagi-lagi japri saya. “Sore Pak Riza, hanya mau menginfo, jika bahan puisi sudah ada, mohon segera dikirim ke kami beserta konsepnya. Ditunggu sampai dengan H-1.”

Jeleger!!!!

Akhirnya dengan modal kepepet saya pun membuatnya. Maafkan saya Bang Tio sampai menagih begitu. Saya tidak tahu diri begini. Sudah dikasih kesempatan masih mefetmefet buatnya.

Sebagai awalan dan mengurangi rasa bersalah saya, pada 30 Agustus 2017 saya kirim terlebih dahulu bahan buat pengiring pembacaan puisi saya ini. Instrumentalia dari soundtrack sebuah drama Korea yang berjenama “Can’t Forgive” yang dinyanyikan Cha Soo Kyung—untuk menentukan gender orang ini saja saya sampai googling.

Drama Koreanya (drakor) itu sendiri berjudul Temptation of Wife. Sebuah drakor di tahun 2008. Saya tidak pernah menonton film ini. Saya  juga bukan penggemar drakor. Tapi saya lupa awal mula mengenal soundtrack-nya. Tetapi memang soundtrack ini seringkali menjadi gas bertekanan tinggi yang mendorong endapan magma sampai menjadi letusan puisi.

Puisi, sajak, syair atau apapun namanya memang sudah saya kenal sejak sekolah dasar dulu. Saya pernah menjuarai beberapa lomba puisi waktu itu. Sering pula ikut memeriahkan panggung 17 Agustusan. Berlanjut juga sering menulis puisi sampai sudah bekerja. Sering juga diminta membuat puisi untuk acara pisah sambut pegawai pajak.

Di Tapaktuan hidup saya bergelimang dengan puisi karena kawan karib puisi bernama kesepian tinggal nyaman di sana. Walaupun sempat enam bulan kosong dan tak berpuisi sejak Oktober 2016.

Lalu di April 2017, tiba-tiba tanpa disangka, dapur magma di bawah permukaan bumi permenungan meletuskan gunung puisi saya. Erupsinya memuntahkan gas vulkanik, wedhus gembel, lahar panas, lahar dingin, goncangan, dan hujan abu kata-kata. Episentrumnya yang berada di hulu jantung saya menjalar sampai di akun Instagram dan blog saya. Getarannya berbulan-bulan masih terasa hingga saat ini. Postingan di kedua media itu penuh puisi dan Puisi.

Maka malam itu saya membuka laptop dan bergegas menulis puisi. Awalnya bingung mau menulis apa. Tetapi sesungguhnya kebingungan itu karena saya tidak menjadi diri saya sendiri. Pun, karena saya masih memakai otak kiri. Akhirnya “ketidakmenjadian diri saya sendiri” itu saya taruh dalam sebuah kotak besi lalu saya buang ke palung Mariana entah di kerak otak saya yang sebelah mana.

Kemudian saya bisa memulung kurang lebih 350 kata. Saya cukup butuh paragraf penutup untuk menyelesaikannya.   Saya endapkan dulu. Saya pergi tidur. Besoknya saya buka di kantor. Saya bacakan puisi yang belum jadi itu kepada teman-teman penikmat kopi di lantai 16 Gedung Mar’ie Muhammad sebagai tes pasar. Alhamdulillah penerimaannya baik. Lalu saya menemukan titik akhirnya hingga menjelma tiga alinea terakhir. Done. Sent.

Tempat ngopi-ngopi di lantai 16 itu.

Email terkirim kepada Bang Tio pada 31 Agustus 2017. Kurang dua hari menjelang hari H-nya. Pyuh… Sekarang tinggal latihannya. Saya harus memilih untuk dua pilihan ini. Mendeklamasikan puisi ala Rendra yang penuh gelora dengan artikulasi tegas dan intonasi yang meledak-ledak atau gaya Mbah Maestro Sapardi Djoko Damono yang begitu-begitu saja. Untuk kali ini Rendra menang. Semoga ia tenang di sana dan Allah melapangkan kuburnya.

Dan saya baru tahu dari daftar acara yang dikirim oleh Bang Tio kalau pembacaan puisi ini ada di sesi khusus dan tidak dicampur dengan sesi hiburan lainnya. Aduh, kirain saya sekadar biduan hiburan belaka, ternyata tidak. Beban semakin berat, tetapi saya ucapkan terimong geunaseh beuh.

Sekarang waktu menjelma menjadi Justin Gatlin, hari H tiba. Jam J-nya pun sudah mendekat. Tinggal menit-menitnya saja. Sebentar lagi saya maju ke depan. Mendadak saya ingin ke toilet. Saya beranjak dari kursi dan menuju ke belakang. Di luar aula saya berjumpa Rossy Reinawaty  yang sudah mengingatkan tentang giliran saya yang sebentar lagi. “Saya ke toilet dulu,” kata saya.

Di depan cermin toilet saya membasahi paras dengan air, mengeringkannya dengan tisu, dan menatap lamat-lamat sepasang mata yang ada di sana. Di labirin matamukah aku menemukan peron itu? Bismillaah.

Tibalah saatnya. Saya maju ke depan. Sedikit memberikan pembukaan. Sambil mengucapkan terima kasih kepada panitia karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berubah peran yang biasanya menjadi pendoa sekarang menjadi pembaca puisi.

Kemudian saya baca judul puisi. Can’t Forgive  mulai merayu. Lalu saya memamah kalimat pertama yang membuat saya merinding sendiri. Terus. Terus. Terus. Sampailah kemudian saya  di kalimat terakhir. Dan saya mengucapkan terima kasih sambil mengangkat kedua tangan. Selesai sudah. Bebas. (Video lengkapnya bisa dilihat di atas. Teks lengkap puisi itu ada di sini.)

Ketua alumni terlantik Tri Satya Hadi merekam secara langsung di Facebooknya. Saya unduh dan saya bagi di akun Facebook saya. Dari video itu saya baru tahu, ketika saya baca puisi, layar besar di belakang saya menampilkan teks puisi dan hujan salju seperti itu. Saya kirim pesan ke beberapa teman. “Aku isin, yo…”

Malam semakin larut. Saya baru terlelap ketika sudah menjelang jam satu malam. Pagi membangunkan matahari. Seusai salat Subuh saya segera memakai kostum lari. Saya belum pernah lari di Ancol. Jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja. Syukurnya saya bisa lari 10 kilometer bolak-balik di sepanjang pantai utara Jakarta.

Setelah itu saya bergegas kembali ke hotel. Di suatu tempat parkir, sambil berjalan menuju lobi hotel, saya mencoba melihat ulang video live yang saya unggah di Facebook. Setelah melihatnya saya tiba-tiba langsung jongkok sambil menekuk kepala saya dekat-dekat lutut. Kalau sudah begini itu berarti saya sedang melakukan ritual menghilangkan rasa malu. Kok ya saya jadi malu sendiri melihat video itu.

Kemudian setelah rasa malu itu mereda saya bangkit dan berjalan seperti biasa lagi. Tetapi tentang malu itu sebenarnya hanya perasaan saya sendiri. Beberapa teman mengirimkan pesan pribadi kepada saya mengapresiasi penampilan semalam. Itu di luar ekspektasi saya. Lagi-lagi saya mengucapkan terima kasih. Hanya itu yang bisa diberikan.

Tiba-tiba saya hanya ingin menyendiri, menyudut, mengemis, dan mengatakan sesuatu, “Ya Rabb, tenggelamkan aku ke dalam samudra cinta-Mu.”

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citayam, 04 September 2017
Foto-foto berasal dari Brader Makhfal
Video taken by: Mas Eko Pramuyanto

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s