Gerimis dengan desau yang purba sabar menghujani lekuk tubuh tanah berbatu. Kita menghitung derainya satu-satu. Meski hanya menemukan dua dengan sayang dan rindu yang sungguh terlalu.
***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
29 Juli 2017
Dedaunan di ranting cemara: Sosial, Budaya, Pajak, Sejarah, semua punya catatannya.
Gerimis dengan desau yang purba sabar menghujani lekuk tubuh tanah berbatu. Kita menghitung derainya satu-satu. Meski hanya menemukan dua dengan sayang dan rindu yang sungguh terlalu.
***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
29 Juli 2017
![]()
Air panas yang menyiram serbuk kopi lalu menetes ke cawan serupa bisik puisi yang dilemparkan ke jurang. Selalu menyisa gema. Di dadaku menyiksa tanya. Sedang apa kau di sana?
***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
31 Juli 2017
gambar dari : Shutterstock

Di senja yang akan mati mendadak,
percakapan kita hanya peninggalan di sebuah penanggalan.
Lalu namaku menjadi nama jalan di lapuknya ingatan.
Bagimu, kalau mau mati ya mati, tak perlu basa-basi untuk menjelma histori.
***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
4 Agustus 2017

Kacamata ini membantuku. Segala bisa kulihat jelas. Hanya denyut reruntuhan di bilik jantungmu berharap mengirimkan wanginya ke mimpi-mimpimu yang selalu kautolak. Di halaman buku itu, kausayat tubuh sepi. Bayangmu mengeruh. Bayangku apalagi.
***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
31 Juli 2017

Burung burung jangkung terbang rendah
hinggap di bulu matamu yang senja
bersihkan daki-daki penerbangan
selinapkan kepala di sayap-sayap waktu
Kini,
burung-burung malam tatapi tanah
terbang dari hitam matamu yang terjaga
sesekali ia menengok kepada bulan
ia yang setengah dan malu-malu .
di awal hari dan petang
di setiap keberangkatan
matamu mengirim doa harapan
agar burung-burung itu
selalu dalam lindungan Tuhan
tak mati di tangan pemburu
fii ‘amanillaah
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
6 Agustus 2017

Anak lelah itu baru tertidur ketika api menjilat dinding kamar, tirai, dan pinggiran ranjangnya. Asap sudah mulai semerbak dan memenuhi ruangan. Seorang ayah terjaga dan segera mendobrak kamar. Apa yang akan dilakukan ayah itu selanjutnya? Membiarkan sang anak ditelan api karena merasa kasihan kepada anak yang baru saja lelap atau akan menyeretnya sedemikian rupa untuk menyelamatkan nyawanya?
*
Langit sudah menanggalkan topeng dari wajahnya yang benderang merayakan pagi ketika petugas berbaju seragam putih biru masuk ke dalam Bus Damri yang akan berangkat ke bandar udara. Bus yang hanya berisi tujuh orang, termasuk Kinan, akan segera berangkat setelah pengecekan.
Liang lambung saya begitu parah waktu itu. Saya sampai merasakan organ tubuh itu dikorek-korek dengan selang yang dijulurkan dari lubang hidung di sebuah rumah sakit. Tapi syukurnya tidaklah separah seperti yang dirasakan Presiden Amerika Serikat ke-42 William Jefferson Blythe III ketika mengidap Gastro-Esophageal Reflux Disease yang sampai bikin nyeri di dada—ini denotasi sebenarnya.
Gaya hidup tak sehat meraja seperti ini: makan telat, pemuja mi instan, dan penikmat kopi sasetan. Untuk yang terakhir itu kemudian berakhir dengan tragis ketika saya dipindah ke surga kopi: Aceh. Tepatnya di Tapaktuan, Aceh selatan. Sejak itu saya mengenal sejatinya kopi paling nikmat di dunia. Saya begitu menghamba kepada segelas dua gelas kopi manis.

sekuntum bunga untukmu wahai pejuang
lemparkan batu intifadha
balikkan tank-tank penuh jemawa
selarik doa untukmu wahai pejuang
hunjamkan seru takbir
bungkam bibir-bibir yang mencibir
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Pancoran, 28 Juli 2017

Pada suatu malam, candra yang sama-sama kita pandangi, meleleh ke bilik-bilik ingatan lalu berenang ke perigi jantung, terjun ke sela-sela jari dan sebidang bahu yang kausebut pelukan.
Pada suatu jarak, cahayanya yang sama-sama kita indrai, melesat lari menjadi pelangi, meluluh di wajah yang begini, menyublim menjadi gemetar di sekujur tubuh yang kausebut kerinduan.
***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Stasiun Kalibata, 28 Juli 2017

Di suatu pagi yang padat dengan sinar rawinya masih majal, saya baru saja keluar dari mulut Commuter Line di Stasiun Kalibata. Saya bentangkan aplikasi perbincangan yang sudah berjejal dengan banyak risalah itu. Salah satunya pesan gambar yang terkirim dalam sebuah grup. Saya membuka gambar itu dan langsung tersentak hingga sanggup menghentikan langkah saya yang bergegas.
Kemudian saya mencari bangku kosong yang ada di peron stasiun, saya melirik jam, dan saya pikir masih cukup waktu untuk tiba di tempat pendidikan dan pelatihan yang sedang saya ikuti selama sepekan ini. Semua neuron yang ada di balik tempurung kepala saya seperti tepercik api, terpantik.