merah di bulanmu
*
aku tak bisa apa-apa
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
masih banyak cerita
20.13 02 Januari 2012
Sumber gambar: dari sini
Dedaunan di ranting cemara: Sosial, Budaya, Pajak, Sejarah, semua punya catatannya.
merah di bulanmu
*
aku tak bisa apa-apa
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
masih banyak cerita
20.13 02 Januari 2012
Sumber gambar: dari sini
BROTOSENO, PAK POLISI, DAN MEREKA
http://sosok.kompasiana.com/2011/12/30/brotoseno-pak-polisi-dan-mereka/
Sesaat menunggu iqamat ashar di Masjid Shalahuddin terdengar suara panggilan dari belakang, “Mas, sehat Mas?” Belum sempat menjawab, teman saya ini berkata lagi, “Mas, kata teman saya waktu ngeliat fotonya Broto, langsung bilang kalau wajah polisi itu mirip sama Mas Riza.” Saya langsung cengengesan sambil membayangkan foto Angie lagi berdua sama Kompol Brotoseno yang sedang hangat di portal berita (29/12).
Mirip gimana? Mirip apanya dengan teman dekat politisi Partai Demokrat itu? Jauh be-eng.Terlalu narsis kalau bilang saya lebih ganteng daripada Polisi perwira itu. Terlalu rendah diri kalau saya berkata sebaliknya. Lihat saja foto di bawah ini, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti saya bukan orang yang berada di samping Angie.
Ingat Brotoseno jadi ingat kejadian waktu di Madinah. Waktu itu sepulang dari shalat Isya di Masjid Nabawi. Saya sendirian bergegas menuju hotel yang jaraknya tak jauh dari masjid. Kurang 100 meter dari hotel tiba-tiba saya disapa oleh dua orang ibu-ibu yang ternyata sedang tersesat. Mereka tak tahu jalan pulang ke hotel mereka. Logat yang kental mengisyaratkan mereka berasal dari daerah Jawa Timur.
Mereka minta tolong untuk diantarkan ke hotel. Tapi sayangnya ketika saya tanya nama hotelnya mereka tak tahu. Saya minta kepada salah satu dari ibu-ibu itu untuk kembali mengingat jalan pada waktu mereka berangkat. Mereka menyerah. Ya sudah saya jalan pelan-pelan dengan mereka untuk sama-sama mencari hotel itu. Saya tak jadi pulang segera.
Di saat itu, di saat saya sedang bertanya arah kepada orang-orang, tiba-tiba muncul sosok laki-laki separuh baya dan tampak muda, berbaju gamis warna putih dengan peci warna senada memotong pembicaraan kami. “Tersesat ya Bu? Tenang saja Bu. Ada saya. Saya antar ke maktabnya. Maktab ibu nomor berapa?”
Kewaspadaan saya langsung jalan, ini kok orang baik banget tiba-tiba langsung menawarkan diri dan main tembak mau antar segala. Apalagi dia bilang tentang maktab, padahal sepengetahuansaya kalau istilah maktab itu adanya di Mekkah, bukan di Madinah. Kalau di Madinah jamaah haji Indonesia tidak dibagi berdasarkan maktab tetapi sektor oleh muassasah. Saya terus terang curiga dan langsung bertanya padanya tanpa tedeng aling-aling, “Tunggu dulu Pak, Bapak ini siapa?”
“Saya petugas. Di sini saya sudah biasa nganterin orang tersesat,” jawabnya. Dia panjang lebar menjelaskan siapa dirinya dan tentu tidak lupa menyebutkan namanya. Tapi saya lupa dialog tepatnya. Bukan penjelasan itu yang membuat saya tiba-tiba langsung percaya. Dia bilang kalau dia adalah polisi, maksudnya anggota Kepolisian Republik Indonesia yang sedang berhaji. Beneran, saya langsung percaya begitu. Makanya saya memutuskan untuk menitipkan mereka kepada Pak Polisi, “Bu, saya tinggal ya Bu, Ini bapak Polisi. Bapak ini yang akan nganterin ibu ke petugas haji Indonesia.”
Ibu-ibu itu bukannya senang karena mau ditolong sama Pak Polisi, malah ketakutan dan langsung memegang tangan saya, sambil berbisik pakai bahasa Jawa, terjemahannya begini, “Sudah Mas, saya pokoknya ikut sama kamu saja. Saya takut. Saya takut sama orang Arab.” Hehehehe, kebetulan memang Pak Polisi itu punya wajah Arab. Polisi itu pasrah saja dia dicurigain sama bangsa sendiri. Saya pikir dia jadi korban stigmatisasi yang selama ini diceritakan kepada para jamaah Haji Indonesia tentang orang Arab, yang entah dari mana sumber asal kisah itu.
Akhirnya saya mengambil jalan tengah dengan mengikuti bapak Polisi itu ke Pos Sektor. Nanti dari sana ibu-ibu itu akan diantar ke hotel oleh petugas haji yang bertugas di sana. Sepanjang perjalanan menuju Pos, Pak Polisi geleng-geleng kepala saja mengingat sampai detik itu mereka tak benar-benar percaya sama dia. Salah satu ibu itu memegang erat ikat pinggang saya. Benar-benar ketakutan dan was-was kalau-kalau saya meninggalkan mereka. Padahal saya tak henti-hentinya juga meminta supaya ibu-ibu itu percaya sama Pak Polisi.
“Kenapa Ibu kok percayanya sama saya, padahal ibu enggak kenal saya?” tanya saya. “Sampeyan kan pakai batik, wislah pokoke aku percaya,” jawabnya. Kebetulan memang pada saat itu saya memakai batik seragam jamaah haji Indonesia. Ibu yang satunya lagi tercecer di belakang sambil mencari-cari wajah dari banyak orang yang sedang lalu lalang. Mungkin ada yang dikenal. Tapi ia gagal, sampai Pak Polisi itu sedikit jengkel dan setengah berteriak, “Sudah Ibu, percaya saja sama saya!”
Menuju hotel tempat pos sektor itu berada, saya sempatkan berbincang-bincang dengan Pak Polisi. Ternyata ia seorang ajun komisaris polisi (waktu itu dia bilangnya kapten) yang sedang bertugas di daerah Kalimantan. Jabatannya saya lupa, antara kasatserse atau kasat intel. Dan memang betul, ini yang ia yang sadari, kalau ia punya garis keturunan Arab Tanah abang.
Obrolan kami terputus karena kami sudah sampai di depan hotel tempat pos sektor itu berada. Lobi hotel penuh dengan orang Turki. Kami naik ke mezanin hotel dan benar di sana ada bendera Indonesia dan spanduk tanda pos sektor. Yang jauh melegakan adalah tampak pula seorang petugas haji yang sedang jaga di sana. Kata Pak Polisi yang mengantar kami, petugas haji itu juga seorang polisi.
Mengetahui mereka telah diantar ke pos sektor dan ketemu sama petugas haji yang memakai baju biru, ibu-ibu mengucapkan terima kasih dan minta maaf sama Pak Polisi karena telah curiga berat.
Kemudian sudah saatnya Pak Polisi itu pergi dan meninggalkan kami. Selanjutnya petugas haji itu yang akan mengantar ibu-ibu itu ke hotel mereka yang ternyata dekat dengan pos sektor. Anehnya lagi, ketika saya mau meninggalkan mereka, mereka tetap bersikeras supaya saya tetap menemani mereka hingga ke hotel. Aduhai, mereka juga masih tak percaya sama Pak Petugas Haji.
Tidak sampai 100 meter dari pos sektor, kami telah tiba. Barulah terlihat wajah mereka dihiasi senyuman. Ada kelegaan yang tampak. Saya turut senang juga. Sebelum berpisah, saya minta izin memfoto mereka sambil berpesan, “ingat-ingat jalan, ta iye.”
*Ibu Siah dan Ibu Ramiah di depan hotel (26/11).
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
00.19 30 Desember 2011
JURNALNYA SEPERTI APA?
Pak Donny Prasetyo tanya tentang masalah penggunaan nilai kurs transaksi dengan kurs Keputusan Menteri Keuangan (KMK) seperti ini.
Perusahaan kami melakukan kegiatan ekspor maupun impor. Umpamanya nilai ekspor USD 100.000, kurs transaksi Rp9.500,00 sedangkan kurs KMK Rp9.000,00. Bagaimana cara menjurnal transaksinya serta perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) mengingat perbedaan kedua kurs tersebut.
Selain itu kami membayar gaji expatriat menggunakan uang pinjaman/hutang dalam bentuk Dollar AS. Pertanyaan kami, dengan kurs apa kami menghitung Pajak Penghasilan (PPh) 21 dan bagaimana jurnalnya? Demikian. Terimakasih banyak atas jawabannya.

Pada saat perusahaan mengekspor barang, maka dikenakan PPN sebesar 0%. Atau sama saja PPN nya Rp0,00. Jurnal akuntansinya sebagai berikut:
Piutang Dagang 950.000.000
——————–Penjualan 950.000.000
Kurs yang dipakai adalah kurs transaksi.
Pada saat perusahaan mengimpor barang, maka dikenakan PPN sebesar 10%. Kita anggap tidak ada PPh Pasal 22nya. Maka untuk pencatatan PPN dalam jurnal menggunakan kurs KMK, sedangkan untuk akun yang lainnya menggunakan kurs transaksi. Berikut Jurnalnya:
Pembelian 950.000.000
PPN Masukan 90.000.000
——————-Hutang 1.040.000.000
Misal hari kerja ekspatriat itu mulai 26 Oktober 2011 sampai dengan 25 November 2011. Misal juga perusahaan meminjam uang dollar AS kepada pemegang saham sebesar USD5,000.00 tanggal 27 November 2011. Sedangkan pembayaran gajinya tanggal 1 Desember 2011. Misal kurs transaksi Rp9.500,00 sedangkan kurs KMK Rp9.000,00 dan tarif PPh Pasal 21 misal 5%.
Kalau demikian maka mulai tanggal 26 November 2011 s.d. 30 November 2011 terdapat hutang gaji oleh perusahaan kepada ekspatriat tersebut, sehingga dicatat demikian.
– Jurnal tanggal 26 November 2011
Biaya Gaji 47.500.000
—————–Hutang Gaji 45.250.000
—————–Hutang PPh Pasal 21 2.250.000
Jadi ceritanya begini. Gaji ekspatriat itu adalah sebesar USD5000. Kalau dirupiahkan maka kurs yang dipakai adalah kurs transaksi. Berapa? Kalikan USD5000 dengan Rp9.500,00. Total rupiah gaji yang terutang kepada ekspatriat adalah sebesar Rp47.500.000,00.
Perusahaan mencatat sebagai hutang gaji pada tanggal 26 November 2011. Dan ingat, perusahaan punya kewajiban memotong PPh Pasal 21 sebesar 5% (ini tarif permisalan/gampangnya saja) pada saat terutang atau pencatatan transaksi ini. Berapa PPh Pasal 21 yang harus dipotong? Maka gunakan kurs KMK untuk menghitungnya yakni sebagai berikut: USD5000xRp9000x5%. Ditemukanlah hasil Rp2.250.000,00. Ini menandakan perusahaan punya utang kepada Negara karena pemotongan PPh Pasal 21 yang belum disetor ke Kas Negara sebesar Rp2.250.000,00. Paham yah?
Lalu perusahaan mikir nih. Duit dari mana buat bayar gaji ekspatriat? Pemegang saham berbaik hati minjemin itu duit dengan Dollar AS pada tanggal 27 November 2011. Maka dicatatlah pencatatan tersebut dengan memakai kurs transaksi sebagai berikut:
– Jurnal tanggal 27 November 2011.
Kas 47.500.000
————–Hutang pada Pemegang Saham 47.500.000
Kemudian untuk pencatatan tanggal 1 Desember 2011 sebagai tanggal pembayaran gaji adalah sebagai berikut:
– Jurnal tanggal 1 Desember 2011
Hutang Gaji 45.250.000
———————–Kas 45.250.000
Perusahaan punya kewajiban membayar PPh Pasal 21 yang telah dipotong tersebut ke Kas Negara itu paling lambat tanggal 10 Desember 2011, maka jurnalnya adalah sebagai berikut:
– Jurnal tanggal 10 Desember 2011
Hutang Pajak 2.250.000
———————-Kas 2.250.000
Demikian semoga bisa dipahami.
**
Riza Almanfaluthi & Arifin Purnomo
dedaunan di ranting cemara
09.56 28 Desember 2011
Tags: pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pph pasal 21, pph 21, ppn, jurnal akuntansi, ekspor, impor,
MENJAWAB TRINITY TRAVELLER
Di Twitternya (21/12), Trinity Traveller (Penulis Buku The Naked Traveller, nama lengkapnya tak perlu saya tulis di sini) ngetwit begini: Udahan dulu ah ngamuknya ttg #pajak. Yg jelas gue SEBEL, MARAH, KECEWA!!!. Tak lama dia ngetwit lagi: Teman2 kantor #pajak yg mau berbaik hati menolong gue, mohon email ke naked.traveler@gmail.com Terima kasih. *terharu*.

Ya sudah saya tawarkan bantuan untuk sedikit mengurangi kesebalannya, kemarahannya, dan kekecewaannya. Emang ada apa lagi dengan pajak? So, Saya kirim email dan inilah balasannya. Enggak ada yang dikurangin atau dilebihin.
Hai,
Saya sangat berterima kasih Anda mau bantuin saya ttg pajak, bukan menghujat2 🙂
Saya memang bego soal pajak, pdhl niatnya beneran mau jadi wajib pajak yg baik.
Izinkan saya menerangkan masalah saya yaa..
– Saya terdaftar di kantor pajak Pratama Cipulir Kby Lama, 6 digit akhir NPWP saya adalah xxx.xxx
– Saya adalah seorg freelancer, tanpa penghasilan tetap, tdk bekerja di perusahaan tetap.
– Utk pengisian SPT atas NPWP saya tdk masalah krn ada yg bantu mengisikan setiap tahun. Saya juga selalu minta surat potong bukti pajak dari klien yg meng-hire saya utk menulis.
– SPT 2009 yg saya laporkan kelebihan bayar tp ketika saya diminta utk klarifikasi di kantor pajak saya tidak bisa datang (biasaa, lg traveling) shg akhirnya saya lah yg harus membayar pajak kurang bayar.
– Dua kali saya mau bayar pajak itu di Bank DKI kantor pajak, dua2nya ditolak dg alasan harus pake formulir (entah apa) dan pas bank tdk terima lagi di atas jam 12 siang. Akhirnya saya lupa2 terus, sampai saya terima surat peringatan minggu yl.
– SPT 2010 saya kelebihan bayar dan belajar dari pengalaman sebelumnya, saya datang utk klarifikasi. Hasilnya stelah dioprek2, kantor pajak dan saya sama2 menyetujui bhw saya kelebihan bayar dan negara utang ke saya.
– Di situ lah saya baru tahu bahwa saya kena denda Rp 100 ribu/bln (jd total Rp 1,2 jt/th) krn saya tdk melaporkan SSP bulanan. Lalu saya diberi segepok formulir SSP yg katanya harus disetor ke kantor pajak sekaligus spy ga repot asal disetor sbln sebelumnya (misalnya setor di bln Jan utk Feb, dst). Saya disuruh isi nihil utk PPH pasal 25 dg kode akun pajak 411125 dan kode jenis setoran 100 –> ini apaan saya ga ngerti.
– Nah, hari ini saya ke kantor pajak utk membayar pajak 2009 dan setor SSP itu, yg hasilnya saya malah dimarahin balik sama petugas loket kantor pajak krn katanya blm ada di sistem. Saya jg disuruh menghub AR saya utk SSP, yg ketika saya tanya AR sayasiapa, mrk jg ga tau siapa 😦
– Petugas lain menyuruh saya tetap tiap bulan datang ke kantor pajak utk setor SSP atau dikirim via pos tiap bulannya –> info ini berbeda dg info dr petugas kantor pajak pas urus SPT.
– Petugas bank DKI yg bilang tutup jam 12 itupun bilang bhw utk bayar pajak, saya harus minta formulir ke loket, dan petugas loket jg ga tau saya harus pake formulir apa sampe dia tanya org di sebelahnya dan saya diberi formulir SSP lagi.
– Saya sudah keburu kesal krn mengantri lama (10 loket cuma dilayani 1 org) tapi petugas2nya tdk memberikan saya solusi shg saya ngamuk2 di twitter tadi :((
Pertanyaan saya:
– Bgmn cara saya bayar pajak 2009? Saya cuma diberi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan dan surat peringatan, dan ini tdk diterima oleh bank DKI.
– Bgmn cara agar saya tdk kena denda Rp 100rb/bln? Bgmn sebenarnya proses SSP itu spy saya ga repot bolak-balik tiap bulan?
– Bulan Okt 2012 saya berencana traveling ke luar negeri selama setahun penuh, bgmn saya mengurus pajak tahunan saya?
Sebenarnya permasalahannya sepele bagi Anda, tapi sungguh saya nggak ngerti! :((
Jadi mohon bantuan Anda utk membantu saya menerangkan.
Terima kasih banyak!
****
Itu email dari Trinity Traveller, dan saya berusaha menjawab sebisa dan semampu saya. Yang bisa jawab dengan tepat dan banyak tentunya adalah petugas di Kantor Pelayanan Pajak Pratama XXX.
Saya unggah email dari Trinity dan jawaban saya supaya bisa diambil pelajaran buat Wajib Pajak yang lain. Maksudnya sekalian belajar pajak. Mumpung di blog ini saya terbiasa mengelola berbagai pertanyaan pajak dari pembaca blog saya. Biasanya kalau ada pertanyaan yang menarik dari penanya saya tulis ulang dan saya tampilkan di halaman utama blog. Tidak sekadar menjawabnya di halaman Konsultasi Pajak.
Berikut balasan saya. Semoga bermanfaat.
Trinity: Hai,
Riza: Hai Juga
Trinity: Saya sangat berterima kasih Anda mau bantuin saya ttg pajak, bukan menghujat2 🙂
Riza: Sama-sama. Selagi ada yang bisa dibantu, saya bantu. Emangnya
ada yah yang menghujat-hujat Mbak Trinity.
Trinity: Saya memang bego soal pajak, pdhl niatnya beneran mau jadi wajib pajak yg baik.
Riza: Good Mbak. Niat yang baik. Kalau saja semua warga negara seperti Mbak.
Trinity: Izinkan saya menerangkan masalah saya yaa..
– Saya terdaftar di kantor pajak Pratama XXX, 6 digit akhir NPWP saya adalah xxx.xxx
– Saya adalah seorg freelancer, tanpa penghasilan tetap, tdk bekerja di perusahaan tetap.
Riza: Keterangan ini sangat bermanfaat.
Trinity:
– Utk pengisian SPT atas NPWP saya tdk masalah krn ada yg bantu mengisikan setiap tahun. Saya juga selalu minta surat potong bukti pajak dari klien yg meng-hire saya utk menulis.
Riza: Ini sudah betul. Setiap kali dipotong pajak oleh Klien maka bukti pemotongannya harus diminta, sebagai kredit pajak diakhir tahun nanti. Penting banget. Good juga kalau sudah tidak ada masalah dalam pengisian SPT Tahunan karena ada yang bantu. Itu saja dulu Mbak. Yang lain menyusul Insya Allah.
Trinity:
– SPT 2009 yg saya laporkan kelebihan bayar tp ketika saya diminta utk klarifikasi di kantor pajak saya tidak bisa datang (biasaa, lg traveling) shg akhirnya saya lah yg harus membayar pajak kurang bayar.
Riza:
Betul Mbak, SPT Tahunan Orang Pribadi Mbak lebih bayar. Lebih bayarnya karena berdasarkan perhitungan total pajaknya lebih kecil daripada kredit pajak yang telah dipotong oleh klien sehingga sekali lagi jadi LEBIH BAYAR (LB). Atas LB itu maka dapat dikembalikan tetapi melalui mekanisme pemeriksaan. Dalam mekanisme ini Wajib Pajak dipanggil untuk diminta pinjam buku atau rekening koran Wajib Pajak oleh Pemeriksa Pajaknya. Atau dimintai keterangan apabila ada hal yang kurang jelas. Jadi ketika Mbak tidak datang bisa jadi pemeriksa memeriksa berdasarkan data-data minim yang dimiliki pemeriksa saja. Sehingga timbul SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar) itu. Ini kemungkinannya. Dan ketika timbul SKPKB maka timbul utang pajak yang harus dibayar oleh Mbak Trinity.
Trinity:
– Dua kali saya mau bayar pajak itu di Bank DKI kantor pajak, dua2nya ditolak dg alasan harus pake formulir (entah apa) dan pas bank tdk terima lagi di atas jam 12 siang. Akhirnya saya lupa2 terus, sampai saya terima surat peringatan minggu yl.
Riza:
Ya Betul, ketika Mbak Triniti mau bayar pajak maka ada formulir yang harus diisi yaitu Surat Setoran Pajak (SSP). SSP itu terdiri dari lima rangkap. Mbak Trinity bisa minta itu ke Seksi Pelayanan KPP yang baisanya satu lantai dengan Bank DKI Kantor Pajak.
Ohya, sekadar pengingat saja bahwa BANK DKI itu insitusi di luar kantor pajak dan di sana cuma numpang stan saja (bahasa sederhananya demikian) di KPP, jadi bukan institusi pajak.
Kembali lagi ke permasalahan. Maka setelah SSP itu diisi dengan benar (karena harus benar mengisinya jika salah dan sudah disetor ke bank nanti tambah ribet lagi mekanisme pembetulannya) dengan mengisi NAMA, NPWP, kode Jenis setoran, kode jenis pajak, nomor ketetapan pajaknya maka barulah Mbak Trinity mendatangi Bank DKI (atau bank mana saja yang sudah online dengan DJP).
Ohya, jika cara pengisian masih belum dimengerti oleh Mbak Trinity maka mbak Trinitiy bisa tanya kepada petugas di Seksi Pelayanan KPP atau kepada Account Representative Mbak Trinity. Atau jika masih ribet tanya secara detil kepada saya juga bisa.
Tentang masalah Account Reprensentative (AR) maka selayaknya Mbak Trinity mengetahui namanya siapa dan nomor teleponnya berapa. Karena AR tersebut mempunyai kewajiban untuk melayani keluhan Mbak Trinity. Mbak Bisa tanya nama AR itu ke Pegawai Seksi Pelayanan. Dan mohon ditunggu dengan sabar jika memang jawabannya tidak segera diterima oleh Mbak. Yang terpenting pula Mbak dapatkan CP-nya maka Mbak tak perlu lagi susah-susah untuk bertanya kepada orang lagi ketika mengalami kesulitan permasalahan perpajakan. Sekali lagi KANTONGI nama AR itu. Petugas Seksi Pelayanan di sana pasti tahu siapa yang bertanggung jawab tentang hal ini.
Sekadar pemberitahuan, bahwa untuk pembayaran pajak maka pembayarannya dilakukan di bank. Banklah yang mempunyai jadwal setoran pajaknya. Dan KPP tidak bisa mengatur bank mengenai masalah jadwal pembayaran ini. Karena hal itu adalah masalah internal pihak bank. Biasanya bank membatasi jam pembayaran pajaknya mulai pagi sampai jam 12.00. Masing-masing bank punya jadwal yang berbeda.
Tentang surat peringatan maka surat peringatan itu kalau saya simpulkan adalah surat teguran yang menegur Mbak Trinity untuk segera membayar pajaknya. Demikian.
Trinity:
– SPT 2010 saya kelebihan bayar dan belajar dari pengalaman sebelumnya, saya datang utk klarifikasi. Hasilnya stelah dioprek2, kantor pajak dan saya sama2 menyetujui bhw saya kelebihan bayar dan negara utang ke saya.
Riza:
Nah, betul bukan kalau sesi klarifikasi adalah sesi penting dalam pemeriksaan tersebut. Jadi kalau data dan keterangan yang diberikan oleh Wajib Pajak mencukupi Insya Allah Pemeriksa Pajak akan menerima adanya kelebihan bayar pajak tersebut. Dan akan mengembalikannya kepada Mbak. Tentu dengan mekanisme atau prosedur yang telah ditentukan yaitu maksimal 1 bulan sejak SKPLB (Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar) itu terbit.
Trinity:
– Di situ lah saya baru tahu bahwa saya kena denda Rp 100 ribu/bln (jd total Rp 1,2 jt/th) krn saya tdk melaporkan SSP bulanan. Lalu saya diberi segepok formulir SSP yg katanya harus disetor ke kantor pajak sekaligus spy ga repot asal disetor sbln sebelumnya (misalnya setor di bln Jan utk Feb, dst). Saya disuruh isi nihil utk PPH pasal 25 dg kode akun pajak 411125 dan kode jenis setoran 100 –> ini apaan saya ga ngerti.
Riza: Ya betul, Petugas Pajak menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) karena Mbak tidak melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa setiap bulannya. Itu mungkin untuk tahun pajak 2010 kali ya Mbak. Mbak diberi segepok formulir SSP supaya memudahkan Mbak tidak nyari-nyari lagi SSP kosong.
Sebenarnya mudah mengisinya. Tinggal isi Nama, NPWP, alamat, kode jenis setoran dan kode jenis pajak (kode yang diberikan oleh petugas pajak disana sudah betul, Mbak tinggal mengisinya). Kode Jenis Pajak 411125 menerangkan bahwa SSP ini adalah Untuk Jenis Pajak PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi. Sedangkan kode jenis setoran 100 menerangkan bahwa SSP tersebut untuk jenis setoran masa (bulanan). Teknis banget yah… Tapi tak apa-apa Mbak. Supaya Mbak lebih mengerti.
Ohya Mbak, jadi begini, perlu diketahui oleh Mbak. Kantor Pajak itu bukan tempat untuk menyetorkan pajak. Kantor Pajak (KPP) adalah tempat pelaporan pajaknya. Tempat untuk setor pajaknya di mana? yaitu di bank atau kantor pos. Merekalah yang menerima duit pajaknya. Kantor Pajak sekali lagi hanya jadi tempat ngelaporin: “nih gue sudah bayar pajak” Begitu Mbak.
Kalau ada yang harus dibayar setiap bulannya maka Mbak isi dulu SSP lalu pergi dulu ke bank, setelah setor baru ke KPP. Bahkan kalau banknya online (sekarang online semua) maka setelah setor ke bank, Mbak tak perlu lagi ke KPP karena SSP tersebut dianggap telah disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai
dengan tanggal validasi yang tercantum pada SSP.
Tapi berhubung Mbak tidak ada pembayaran (NIHIL) maka mau tidak mau harus datang melaporkannya sendiri, atau diwakilkan orang lain, atau kantor pos. Sampai saat ini sepengetahuan saya belum ada aturan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi seperti Mbak bisa sekaligus melapornya. Jadi datang ke KPP setiap bulan kudu dilakuin. Omong-omong, Mbak bisa minta pada orang yang buatin SPT Tahunan mbak untuk melaporkannya setiap bulan.
Kapan paling lambat setor pajak ke bank jika Mbak ada setoran? Paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.
Contoh:
Masa Pajak Januari berarti paling lambat Mbak harus setor ke bank tanggal 15 Februari. Untuk bulan Februari maka paling lambat tanggal 15 Maret, dan seterusnya.
Terus untuk melapor ke KPP kapan? Paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya.
Contoh:
Masa Pajak Januari 2012 paling lambat dilapor ke KPP tanggal 20 Februari.
Jika tanggal setor dan tanggal lapor jatuh pada hari sabtu atau libur, maka bisa ditunda paling lambat ke hari berikutnya. Gitu Mbak.
Trinity:
– Nah, hari ini saya ke kantor pajak utk membayar pajak 2009 dan setor SSP itu, yg hasilnya saya malah dimarahin balik sama petugas loket kantor pajak krn katanya blm ada di sistem. Saya jg disuruh menghub AR saya utk SSP, yg ketika saya tanya AR sayasiapa, mrk jg ga tau siapa 😦
Riza: Mohon dimaafkanlah kalau memang betul “dimarahin”. Kalau belum ada di sistem, saya tak bisa menjelaskan lebih lanjut Mbak. Berkenaan dengan AR, memang layak dan wajib Mbak punya CP-nya. Karena AR bisa membantu kesulitan Mbak. Minimal jadi tempat bertanya kalau ada permasalahan dan tempat meminta solusi. Tentang ketika mereka ditanya siapa ARnya dan dijawab tidak tahu. Maka saya bisa menghubungkannya dengan sebab: NAMA MBAK TIDAK ADA DALAM SISTEM. Karena jika tidak ada dalam sistem maka tidak akan ada pula nama AR yang menangani Wajib Pajak tersebut. Ini kemungkinannya.
Kalau sudah masuk dalam sistem, sebenarnya gampang banget diketahui nama ARnya, karena setiap mencetak tanda terima surat selalu ada nama AR dari wajib pajak tersebut. Nah ini mungkin yang perlu ditanyakan kepada atasan petugas pajak tersebut, yaitu minimal Kepala Seksi Pelayanan, sudah masukkah nama dalam sistem? Dan siapa nama AR? Sekali lagi mohon dimaafkan jika pelayanannya dianggap kurang memuaskan Mbak.
Begitu mbak. Semoga bisa teratasilah masalah ini.
Trinity:
Petugas lain menyuruh saya tetap tiap bulan datang ke kantor pajak utk setor SSP atau dikirim via pos tiap bulannya –> info ini berbeda dg info dr petugas kantor pajak pas urus SPT.
Riza: Maafkan kalau begitu tentang adanya info yang berbeda itu. Tetapi yang tepat adalah apa yang dikatakan oleh petugas yang bilang bahwa datang setiap bulan ke KPP untuk lapor (bukan setor) pajak. Teknisnya bisa mbak Trinity atur sendiri. Bisa lapor melalui orang lain, datang sendiri, atau kantor pos. Maafkan kami kalau sampai ini cuma bisa itu yang bisa menyamankan Wajib Pajak.
Trinity:
Riza: kalau saya perhatikan, Mbak datangnya pas waktu mepet makan siang. Diusahakan memang jangan jam segitu Mbak. Pagi atau siangan saja sekalian. Kami buka jam setengah 8 pagi sampai jam 5 sore. Bank saja Mbak, waktu peak season juga ada yang cuma naroh dua petugas di depan. Btw, tetap kami meminta maaf jika ada yang kurang berkenan insya Allah akan jadi perhatian buat orang pajak, minimal saya. Hehehheheh….
Trinity:
Pertanyaan saya:
– Bgmn cara saya bayar pajak 2009? Saya cuma diberi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan dan surat peringatan, dan ini tdk diterima oleh bank DKI.
Riza:
Gampang beud, kalau SSPnya sudah diisi dengan benar bisa langsung Mbak setor ke Bank DKI. Tolong datangnya lebih pagian dikit. Jam 9 kali yah. Lalu setelah setor ada lembaran yang dikembalikan kepada Mbak Trinity, lembar ketiga itu yang dilapor ke KPP. Yang penting sekali lagi mengisi SSPnya benar. Mbak bisa konsultasi ke petugas pelayanan cara pengisiannya atau ke AR kalau sudah tahu. Atau ke saya juga bisa. Asal saya dikasih tahu informasi tentang NPWP, NAMA, Alamat, nomor ketetapannya, atau discan sajalah ketetapan pajaknya untuk diemail ke saya. lalu insya Allah akan saya bantu pengisian pengerjaannya. GRATIS. Sekali lagi kalau Mbak mau ngisi sendiri JANGAN SAMPAI SALAH: nomor ketetapan, tahun pajak atau masa pajaknya dan kode jenis pajak dan setorannya.
Trinity:
– Bgmn cara agar saya tdk kena denda Rp 100rb/bln?
Riza: melaporkannya tepat waktu.
Trinity:
Bgmn sebenarnya proses SSP itu spy saya ga repot bolak-balik tiap bulan?
Riza: sudah dijawab di atas Mbak. Sepengetahuan saya tidak ada solusi lain.
Trinity:
Bulan Okt 2012 saya berencana traveling ke luar negeri selama setahun penuh, bgmn saya mengurus pajak tahunan saya?
Riza: Sisihkan waktu dua minggu atau satu bulan untuk bisa in charge itu SPT. Paling lambat SPT Tahunan PPh Orang Pribadi tahun pajak 2012 dilapor pada tanggal 31 Maret 2013. Yang penting pula kumpulkan dokumen-dokumen penunjang seperti bukti pemotongan dan dokumen akta keluarga. Mau tidak mau ada yang harus diminta untuk buatin itu SPT. Orang yang biasa dimintakan bantuannya bisa Mbak minta lagi bantuannya. Yang penting lagi adalah jika terjadi lebih bayar, maka konsentrasi untuk klarifikasi jika tidak akan terjadi lagi kurang bayar pajaknya. Ada solusi lain tetapi tak layak jika solusi itu saya kemukakan, karena saya adalah PETUGAS PAJAK.
Trinity:
Sebenarnya permasalahannya sepele bagi Anda, tapi sungguh saya nggak ngerti! :((
Jadi mohon bantuan Anda utk membantu saya menerangkan.
Terima kasih banyak!
Riza:
Semua juga bermula dari ketidakmengertian. Mark dan Engels pun berpikir dari sebuah ketidakmengertian. Sampai akhirnya pun mereka juga tidak mengerti. ^_^
Sama-sama Mbak. semoga penjelasannya memuaskan.
***
Riza Almanfaluthi
mantan Account Representative KPP PMA Empat
sekarang Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding
Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak
dedaunan di ranting cemara
tak semua harus ditanggapi
13.14 26 Desember 2011
Gambar saya ambil dari sini.
SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG
“Wallet! Wallet..!!” teriak orang Malaysia itu sambil memandang sekeliling orang-orang thawaf yang ada di sekitarnya. Saya yang berada persis di belakangnya menyangka bahwa ia telah kehilangan dompetnya. Benar, ia kecopetan. Hah, di Masjidil Haram ada copet? Tak semua orang yang ada di sana berniat ibadah. Itu saja jawabnya kalau ada pertanyaan mengapa.
Yang jadi pertanyaan juga mengapa ke Masjidil Haram bawa dompet? Dompet penting untuk bawa duit? Tidak penting sebenarnya karena kita tak perlu bawa uang banyak-banyak. Paling banter cuma 50 Real. Dan itu bisa diselipkan di mana saja. Di kantong kaos kangguru, saku celana, saku kemeja, atau tempat tersembunyi lainnya.
Dompet penting juga untuk menyimpan tanda pengenal dan kartu-kartu penting lainnya? Enggak juga. Sebelum berangkat ke tanah suci saya sudah menyortir apa saja yang wajib ada di dalam dompet. Dan ternyata cuma KTP dan satu ATM saja. SIM tidak perlu di bawa ke sana. Setelah itu dompet saya tipisnya minta ampun.
Karena tidak perlu bawa uang banyak-banyak, juga dikarenakan KTP kita tidak berlaku di sana, pun karena rawan hilang, maka selama ini saya tidak pernah bawa dompet ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Cukup saya simpan dalam kopor besar dan baru saya tengok kembali setelah tiba di tanah air.
Lalu tanda pengenal apa yang berlaku atau penting buat kita di sana? Kalau dihitung-hitung bisa ada sampai tujuh tanda pengenal yang menunjukkan identitas dan alamat kita selama di Makkah ataupun di Madinah.
Yang pertama dan terpenting sudah barang tentu adalah Paspor. Karena ini dokumen paling penting buat Jama’ah Haji Indonesia maka paspor ini akan disimpan oleh pengurus maktab di Makkah atau muassasah di Madinah. Kita sudah tidak pegang paspor lagi sewaktu kita naik ke bus yang akan mengantarkan kita ke pondokan atau hotel dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah atau Bandar Udara Madinah. So, selama kita di Makkah ataupun di Madinah kita tidak pegang paspor sama sekali. Menurut saya metode yang dilakukan oleh maktab ataupun muassasah ini sudah tepat untuk mengantisipasi hilangnya paspor oleh jamaah haji. Karena peluang hilang dokumen ini sangatlah besar.

*Paspor

*Beberapa identitas yang harus dibawa pada saat di Makkah
Setelah paspor ada kartu tanda pengenal lain yang warnanya coklat dan ada foto kita. Ini kita dapatkan dengan menyobek lembar A Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji yang ada di selipan buku paspor. Setelah disobek nanti oleh petugas embarkasi, kita diminta untuk menuliskan nama daerah tempat pondokan berada dan nomor maktab. Lihat sudut kiri atas lembar coklat pada foto di atas. Ada tulisan tangan saya. Setelah disobek, segera simpan kartu itu di kantong depan tas haji kecil kita.

*Buku Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH)
Identitas lainnya adalah gelang besi yang diberikan kepada jamaah haji pada saat di embarkasi sebelum keberangkatan menuju bandar udara. Gelang ini adalah gelang termahal di dunia. Harganya senilai biaya ONH (ongkos naik haji) kita. Di gelang itu sudah tercetak nama , tahun, nomor tempat duduk pesawat, nomor kloter, nomor paspor, tulisan haji Indonesia dalam bahasa Arab , bendera negara, dan lambang negara kita.
Gelang ini jangan sampai hilang karena sangat penting untuk menunjukkan berapa nomor kloter kita. Bagi kita yang usia muda mungkin gampang untuk mengingat nomor kloter tetapi betapa banyak jama’ah haji Indonesia usia lanjut yang tidak mengerti baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan mungkin penglihatannya kurang tajam. Bagaimana kalau mereka tersasar? Maka itulah gunanya gelang, oleh karenanya gelang itu harus dipakai ke mana-mana. Saya benar-benar mencopotnya ketika sampai di rumah di Citayam.
Yang ketiga adalah gelang karet yang diberikan oleh pengurus Maktab. Gelang ini diberikan pada saat pertama kali sampai di kota Mekkah. Jadi sebelum kita turun ke pondokan atau hotel, bus dari Madinah atau dari Jeddah kudu mampir dulu ke kantor Maktab.
Warna gelang kami satu kloter adalah biru muda bertuliskan huruf Arab dan ada angka latinnya juga. Apakah semua gelang orang Indonesia berwarna yang sama? Saya tak tahu. Tak soal warnanya yang terpenting gelang ini penting banget untuk menunjukkan nomor maktab kita. Jadi jangan dilepas juga ini gelang. Sayangnya tulisan yang ada di gelang karet itu mudah luntur.
Selain gelang karet, oleh pengurus Maktab diberikan juga kartu tanda pengenal yang dilaminasi dan dikasih peniti. Peniti ini gunanya agar kartu tanda pengenal itu bisa disematkan di baju atau di mana gitu. Tapi saya sarankan, benar-benar saya sarankan, kalau pakai peniti kartu tanda pengenal itu juga rawan hilang, oleh karenanya simpan saja di kantong bagian luar dari tas haji kecil yang selalu dibawa ke mana-mana itu.

*Bagian belakang kartu tanda pengenal.
Dan sumpah Beib, Demi Allah, jangan sampai hilang ini kartu. Jangan sampai ketinggalan di pondokan atau hotel kalau mau pergi ke Masjidil Haram. Karena kartu ini menunjukkan daerah tempat maktab atau pondokan atau hotel kita berada. Di kartu saya ada tulisan Arab yang bertuliskan Almisfalah Bakhutmah, serta nomor maktab, dan nomor rumah jama’ah. Setiap pondokan atau hotel buat jamaah haji Indonesia selalu disebut sebagai Rumah Jama’ah. Dan setiap rumah jama’ah ada nomor-nomornya. Nomor rumah jama’ah itu selalu terpampang jelas di neon box yang ada di depan pondokan atau hotel.
Bakhutmah adalah nama daerah tempat rumah jama’ah saya berada. Sekitar dua kiloan dari Masjidil Haram. Rumah Jama’ah saya bernomor 1128. Empat digit nomor ini punya arti. Dua digit pertama adalan nomor sektor dan dua digit terakhir adalah nomor urut rumah jama’ah yang berada di sektor tersebut. Kalau ada nomor rumah jama’ah 917, berarti sektor 9 nomor 17. Tapi tak penting tahu detil seperti ini yang penting adalah ingat betul nomor rumah jama’ahnya.
Seringkali saya mengantar orang yang tersasar dan yang paling sulit ditemukan pondokan mereka adalah mereka yang enggak bawa kartu identitas itu dan sama sekali tak ingat atau tak tahu nomor rumah jama’ahnya. So, kartu itu memudahkan banget buat orang yang mau bantuin kita atau pada saat kita mau bantuin orang lain yang sedang tersasar. Ingat jangan sampai hilang. Atau jika memang tak butuh kartu itu tajamkan ingatan Anda, ingatan adik, ingatan kakak, ingatan orang tua, ingatan kakek-nenek, dan ingatan seluruh kerabat Anda yang sedang pergi haji dan berada di Mekkah setajam memori prosesor tercanggih saat ini agar tak lupa.
Ohya jangan juga untuk dilupakan adalah di lantai berapa kamar kita berada dan nomor kamar kita. Sayangnya ini tak dapat kita ketahui di kartu tanda pengenal yang diberikan maktab. Ingatlah-ingatlah atau kalau kita punya ingatan pendek, segera tulis di selembar kertas dan taruh di kantung depan tas kecil. Karena betapa banyak dari jama’ah haji, terutama yang berusia lanjut yang lupa lantai dan di nomor kamar berapa dia tinggal. Perlu diketahui yah, kalau dalam satu hotel itu tidak semua penghuninya mereka yang berada dalam satu kloter yang sama. Ada beberapa juga kloter lain di sana. Makanya kalau tidak ingat-ingat betul, bisa tersesat di hotel sendiri. Betul begitu omsqu?
*Ini adalah pondokan kami. Saat-saat keberangkatan menuju Madinah tanggal 25 November 2011. Di sebelah pintu gerbang pondokan ada yang jual eskrim, sayang saya dari awal sampai akhir tak pernah bisa mencicipi es krim itu. Tak berani. Batuk…uhuk…uhuk…
Nah itu baru di Mekkah, ketika kita baru sampai di Madinah, kita akan diberi dua tanda pengenal lagi. Satu diberikan oleh pihak Muassasah dan satunya lagi diberikan oleh pihak hotel.
Terus terang saja kartu yang diberikan pihak muassasah ini pada saya kurang fungsinya. Saya tak tahu kegunaannya apa. Di balik kartu itu juga yang ada cuma informasi tentang muassasah saja. Pakai bahasa Arab lagi.

*Kartu yang diberikan pihak muassasah di Madinah.
Menurut saya yang mesti kita harus punya dan penting dimiliki adalah kartu identitas yang diberikan pihak hotel berupa kartu nama hotel. Pada waktu kami datang pertama kali ke hotel kami, Burju Badri Al Muhammadiyah, pihak hotel menyediakan kartu nama ini dan membagikannya kepada jamaah haji. Nah masalahnya tidak semua hotel begini. So, berinisiatiflah untuk meminta kartu nama hotel kepada pihak hotel.
Jika tidak ada, maka catatlah nama hotel itu dan ingat-ingat betul. Karena lagi-lagi banyak dari jamaah haji Indonesia yang tersasar di Madinah itu adalah mereka yang tidak bawa kartu nama hotel bahkan sama sekali tidak tahu nama hotelnya. Saking semangat ibadah mengejar arba’in, maka pertama kali masuk Masjid Nabawi dengan penuh rasa percaya diri jadi tidak lihat-lihat jalan. Baru sadar kalau sudah keluar pintu. Tadi arahnya kemana yah? Nah loh.
Pada akhirnya apakah menjamin dengan membawa enam atau tujuh tanda pengenal ini kita tidak tersasar? Hanya Allah yang tahu dan berkehendak. Yang penting kita sudah berikhtiar. Jangan lupa untuk tidak bawa dompet.
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23.33 24 Desember 2011-12-24
Tags: burju badri al muhammadiyah, makkah, madinah, masjidil haram, masjid nabawi, al misfalah, bakhutmah, rumah jama’ah, kloter, dapih, dokumen administrasi perjalanan ibadah haji, maktab, muassasah, king abdul aziz, king ‘abdul ‘aziz, malik abdul aziz, malik ‘abdul ‘aziz, onh, ongkos naik haji, biaya perjalanan ibadah haji, bpih, citayam, jeddah
Bias

*
hujan mengetuk jendela
aku terjaga
“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu
derit reot mencoba membuat garis lurus di tengah
“namamu siapa?”
“derai!”
hujan meramaikan sudut menjadi onggokan hidup
aku terjun pada kebekuan
apa yang kau inginkan derai?
jawabmu bagiku adalah
:sepucuk tanya untuk kau kirimkan pada drupadi
“jika api menjadi debu, kapan kau akan injakkan kaki di bara hati?”
ah, pasopati di balik punggung membara.
derai menjadi partikel
fana tapi ada
tapi di sebelah kamar
hujan mengetuk jendela
“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu
terlelap dalam hutan mimpi jadi kunci untuk lari
aku bias
menjadi bunga di atas meja
tanpa nama
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di atas krl tanah abang bogor, aku teringat drupadi
17:54 23 desember 2011
Gambar di ambil dari sini
JANGAN CERITA YANG SERAM-SERAM
“Ayo, mumpung masih muda segera saja ke sana. Nikmat banget. Beneran!” seru saya pada teman baik saya agar tidak menunda-nunda lagi pergi haji. Minimal sudah mulai mendaftar atau menabung. Jawabannya setengah mengagetkan. “Enggak ah, takut. Masih banyak dosanya,” timpalnya berulang kali.
Kalau memikirkan dosa kapan bisa perginya sedangkan manusia tempatnya lupa dan lalai. Tetapi kekhawatiran itu wajar juga. Seminggu sebelum berangkat saja saya masih berpikir saya ini layak enggak sebenarnya untuk pergi ke sana. Banyak dosanya begini. Saya sampai berdiskusi via Gtalk dengan teman yang saat itu sudah berada di Makkah tentang kekhawatiran ini. Khawatir tentang apa sih? Takut dibalas sama Allah di sana atas segala kelakuan buruk selama di tanah air. Jawabnya gampang saja: “daripada dibalas di akhirat.”
Ketakutan teman itu juga dan kebanyakan calon jamaah haji yang lain karena seringkali mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang keadaan di sana, seperti kisah tak bisa melihat Kakbah, tersesat berhari-hari, diperkosa sama orang Arab, sakit dari awal sampai akhir, hilang uang dan barang, dan semua kesulitan yang terjadi di sana. Semuanya selalu dianggap sebagai pembalasan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Yang tampak adalah Allah sebagai Tuhan yang Maha Pembalas. Mana kasih sayangnya Allah?
Sebenarnya ada perspektif yang perlu dipahami. Pertama, Allah adalah pemilik rumah itu. Sebagai Tuan Rumah yang baik sudah barang tentu Allah tidak akan pernah menyengsarakan dan menelantarkan tamunya. Maka yakinlah dengan ini terlebih dahulu.
Kedua, berusahalah untuk selalu menjadi tamu yang baik pula. Adab-adab bertamu hendaklah diindahkan. Merendahkan diri, bersikap sopan, dan tidak sombong. Bukankah yang berhak sombong itu hanya Allah? Bukankah kesombongan adalah selendangnya Allah? Maka wajar saja ketika setitik kesombongan itu ada di hati yang tidak berhak, maka yang berhak sombong akan menuntutnya.
Maka seringkali kita mendengar cerita-cerita kurang enak itu. Misalnya ada orang yang bilang, “ah segini sih mudah?” Sedikit keangkuhan yang terucap di Tanah Haram baik di lisan atau di dalam hati itu pada akhirnya berbuah kesulitan. Lalu kenapa langsung dibalas? Sebagaimana layaknya do’a yang langsung dikabulkan, begitupula dengan kesalahan yang tercipta maka akan langsung ditegur. Semata-mata karena di sana itu Allah sangat dekat.
Yang ketiga bukankah mereka yang mau bertekad bulat untuk pergi haji senantiasa dianjurkan untuk bertaubat terlebih dahulu, menyesali dosa yang lampau, dan berusaha kuat untuk tidak mengulanginya. Walaupun sejatinya bertaubat pun tidak perlu menunggu sampai mau pergi haji saja. Kalau sudah demikian mengapa khawatir kalau Allah akan menghukum kita di sana? Jika memang kita mendapatkan kesulitan di sana maka muhasabah saja dulu jangan-jangan taubat kita memang taubat yang hanya di mulut saja. Taubat yang perlu ditaubati.
Selanjutnya adalah jika memang kesulitan itu benar-benar terjadi menimpa pada diri kita, semoga jangan, anggap saja ini adalah teguran dan semata-mata kasih sayang Allah yang ingin menaikkan derajat keimanan kita. Betul kata teman saya, lebih baik dibalas di dunia atas kesalahan yang kita lakukan daripada dibalas akhirat, karena pembalasan di sana lebih keras adanya.
Berikutnya adalah bercerita yang nikmat-nikmat dan enak-enak saja sepulang dari haji. Ini yang kelima. Ada hal yang menarik di sini. Ada teman saya, salah seorang jamaah Masjid Al-Ikhwan, yang pergi haji di tahun 2007. Sampai sekarang ia sama sekali tidak pernah menceritakan kisah perjalanan hajinya yang enggak enak-enggak enak. Semuanya adalah cerita yang menyenangkan. Sehingga membangkitkan semangat yang mendengar ceritanya untuk bisa segera pergi ke Tanah Suci.
Selayaknya memang demikian, kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan yang pernah kita alami pada saat haji hendaknya tak perlu diceritakan serta merta. Cukup menjadi pembelajaran bagi kita saja, menjadi pengingat kala bermuhasabah, dan jadi nasehat bagi yang benar-benar membutuhkan.
Dikhawatirkan kalau diceritakan, kita seperti menjadi hamba yang tidak bersyukur, yang bisanya mengeluh tentang kelelahan-kelelahan di sana, yang punya dada sempit dan tidak lapang terhadap segala kenikmatan yang sebenarnya telah ditunjukkan Allah di sana. Ini sudah jelas akan membuat orang enggan untuk pergi haji.
Maka berceritalah tentang keberkahan yang kita dapatkan di sana. Perasaan dekatnya kita dengan Allah, keagungan bangunan hitam itu, kekhusyu’an thawaf kita, kemegahan Masjidil Haram, keanggunan Masjid Nabawi, syahdunya Arafah, kesejukan pagi Muzdalifah, semangat membara melempar di jamarat untuk menanggalkan segala bentuk jejak-jejak iblis pada diri kita serta kedamaian kita saat berziarah mengunjungi Nabi Saw. Pokoknya jadilah jama’ah haji yang gembira atas nikmat yang diberikan Allah karena telah dimudahkan untuk datang mengunjungi rumahNya.

*Tampak jamaah haji asal Pakistan tertidur di atas kursi yang biasa dipakai oleh syaikh untuk mengajar di majelis taklim Masjidil Haram. Nikmaaat…(Dhuha, 24 November 2011)
Kalau sudah tahu perspektif ini, maka sudah seharusnya pula kita tak bertanya kepada yang baru datang dari berhaji dengan pertayaan seperti ini: “ada yang aneh-aneh enggak di sana?” Pun, jika kita di tanya seperti itu tak perlu terpancing dengan bercerita yang serba menyusahkan. Take it easy.
Lalu bagaimana jika ketakutan pergi haji waktu muda itu karena nanti setelahnya tak bisa ngapa-ngapain lagi? Itu bahasan lain. Semoga kita tidak demikian. Insya Allah.
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ada gak ada saya, kudu nulis
23.12 20 Desember 2011
ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA
Sosok paling terhormat, paling mulia, paling dicinta oleh seluruh umat islam sejak dahulu kala sampai saat ini terbujur kaku dan abadi di bawah bangunan berpagar hijau ini. Dialah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tak jauh darinya terdapat makam beserta dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ashshidiq, dan Umar bin Khaththab. Di sebelahnya lagi konon terdapat lubang kosong yang sudah disiapkan untuk makam Nabi ‘Isa. Ke sanalah saya pergi mengunjungi mereka untuk terakhir kalinya.
Ahad dini hari (4/12), pukul 01.00 waktu Madinah, saya keluar dari hotel menuju Masjid Nabawi yang dinginnya benar-benar menusuk tulang. Kebetulan pada saat itu Madinah sudah mulai memasuki musim dingin. Jam 7 pagi kami harus sudah ada di dalam bus yang akan membawa kami menuju Bandar Udara Madinah, jadi malam ini adalah malam terakhir kami di Madinah. Oleh karena itu saya berusaha untuk berpamitan dan berziarah sebagai bentuk perpisahan.
*Suasana lengang dini hari di pelataran Masjid Nabawi.
Pintu masjid Nabawi sebagian besar masih tertutup. Hanya Babussalam Gate dan pintu-pintu disampingnya yang terbuka. Saya melangkahkan kaki memasuki masjid. Walau sudah jam segitu, masih saja raudhah ramai dengan orang. Pelan-pelan melewati orang mencari tempat kosong di sana yang beralaskan karpet hijau itu. Shalat untuk beberapa raka’at dan berdo’a. Lagi-lagi saya memastikan diri untuk tak ada satu pun harap yang terlewatkan.
Saya membayangkan wajah-wajah dari teman-teman di tanah air. Wajah Bapak A, Ibu B, Mbak C, Mang D, Teteh E, Mas F, Bibi G, Lik H, Aa I, dan saya bayangkan wajah-wajah orang-orang yang telah mendoakan kami kala kami hendak berangkat ke tanah suci. Saya meminta pada Allah, “Ya Allah begitu banyak do’a-do’a yang dititipkan kepada kami oleh sanak saudara dan teman-teman kami, kabulkanlah semuanya yang mereka titipkan itu ya Allah. Dan begitu banyak yang telah mendoakan kami untuk menjadi haji yang mabrur, maka pada malam terakhir di raudhah ini, kami meminta padamu ya Allah, jadikan pula mereka haji yang mabrur dan berilah kesempatan untuk datang mengunjungi makam kekasihMu.”
Sudah jam setengah tiga pagi. Saya memutuskan untuk meninggalkan raudhah dan tentunya berjalan ke depan untuk bisa melewati makam Nabi saw. Sebelumnya saya salami salah satu askar yang berdiri di pintu Raudhah. Saya ucapkan salam dan terima kasih kepadanya. Karena merasa bahwa askar-askar ini lebih ramah daripada teman mereka yang berada di Masjidil Haram. Mereka lebih mengutamakan pelayanan kepada jama’ah, dan tak sekadar pengawasan serta penghukuman.
Ketika melewati makam Nabi itu, tak terasa lagi kalau air mata ini jatuh. Emosional lagi. Saya pun mengucapkan banyak shalawat dan salam kepadanya. “Assalaamu’alaika ya Rasulullah, warahmatullah, wabarakaatuh.” Begitu pula kepada dua orang sahabatnya, salam pun teruluk untuk mereka. Untuk Abu Bakar, sahabat mulia yang begitu perasa, yang ketika mengimami shalat seringkali tidak terdengar suara karena tangisannya. Untuk Umar bin Khaththab, seorang yang keras kepala sebelum Islam datang menghampirinya lalu menjadi seorang lembut, tegas, dan zuhud ketika hidayah itu datang.
Sebelum benar-benar keluar dari Baqee Gate (tempat keluar dari makam Nabi saw), saya berdoa lagi untuk ketiga orang mulia itu. Ya Allah kumpulkanlah kami bersama Kanjeng Nabi Muhammad saw dan para sahabat di Firdaus A’laa. Dan berilah kesempatan kepada kami untuk bisa datang kembali.
*Baqee Gate yang terekam pada tanggal 26 November 2011.
Shubuh masih lama dan saya memutuskan untuk pulang ke hotel kembali. Kembali saya dipeluk dingin. Tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Dan saya tak menengok lagi ke belakang.
Dari ketiga cerita itu, saya pun akhirnya berkesimpulan bahwa pada dasarnya saya tak sudi untuk sebuah kata yang disebut perpisahan. Apalagi dengan orang dan sesuatu yang kita cintai. Tapi perpisahan memang sebuah kemestian jika ada pertemuan di awalnya. Maka apa mesti bahwa pertemuan itu yang harusnya disesali daripada perpisahan itu sendiri. Tidaklah. Itu cuma ada di negeri dangdut. Di sini pertemuan pun adalah sebuah kemestian. Apalagi perpisahannya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita dipisahkan dari rahmat Allah sampai hari nanti itu. Semoga.
***
Selesai
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
tak ada lagi elegi setelah ini?
10:02 19 Desember 2011
Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar,
ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK
Tiga hari menjelang keberangkatan ke Madinah, sekitar 11 hari setelah ritual haji, suasana kota Makkah sudah mulai sepi. Banyak jama’ah haji Indonesia atau dari negara lain yang sudah pulang ke tanah air atau mulai meninggalkan kota Makkah menuju Madinah.
Hotel atau pondokan sudah mulai ada yang di gembok dengan rantai karena sudah kosong. Toko-toko sepi dan siap-siap tutup untuk buka kembali di tahun depan, karena konsumen utama mereka—jama’ah haji Indonesia—telah menyusut. Setiap hari ada saja rombongan bis yang sudah nongkrong di depan hotel untuk mengangkut jama’ah haji yang mau pulang.
Masjidil haram pun demikian, sudah sedikit mulai kosong dan tidak seperti sebelum ritual wajib haji yang begitu padat dan berjubel. Kami masih mendapatkan dengan mudah posisi strategis dengan melihat Kakbah langsung pada saat shalat. Pun posisi shaf perempuan di lantai 1 sudah mulai maju tanpa khawatir diusir oleh para askar. Lantai paling atas, lantai 4 yaitu lantai untuk tempat sa’i telah ditutup. Tak ada lagi jama’ah yang berdiri di pagarnya untuk melihat kerumunan orang thawaf.
Suasana itu membuat saya nelangsa. Dan berpuncak pada saat pelaksanaan thawaf wada ba’da Shubuh di pagi jum’at (25/11). Karena setelah thawaf ini kami harus langsung pulang dan tak boleh kembali lagi shalat di masjidil haram. Saya putari Kakbah itu tujuh kali. Berdo’a lagi banyak-banyak. Menatap lekat-lekat bangunan yang dirindu oleh jutaan manusia di dunia. Tak henti-hentinya air mata jatuh.
Setelah tujuh itu terlampaui, kami pun menuju barisan yang searah multazam untuk berdo’a lagi. Lalu shalat sunnah dua raka’at. Berdo’a kembali. Banyak. Lama. Kembali meyakinkan diri tidak ada yang terlewat. Dan berulang-ulang saya berharap untuk bisa diberikan kesempatan untuk kembali ke sini.
Emosional sekali kala itu ketika saya mengulang-ulang sebuah harap ini. “Ya Allah jadikan hati kami adalah hati yang senantiasa merindukan-Mu dan rumah-Mu. Ya Allah jikalau Engkau rela padaku maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak ya Allah, maka berilah aku anugerah sekarang ini, saat ini juga, sebelum aku jauh dari rumah-Mu. Ya Allah janganlah Engkau jadikan waktuku ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya engkau jadikan masa ini adalah masa terakhir, maka gantilah masa itu dengan surga untukku dengan rahmatMu.”
Setelah minum air zam-zam, kami langsung pulang dengan hati yang masih berdebar-debar. Tidak ada jalan mundur. Saya menguatkan hati betul untuk tidak ada lagi air mata yang jatuh lagi setelah sesi do’a itu. Lamat-lamat bangunan hitam itu hilang dari pandangan mata tertutup tiang-tiang megah Masjidil Haram.
Di pelataran Masjidil Haram pun, kami segera memakai sandal dan bergegas. Tidak dengan jalan mundur pula dan bertekad untuk tidak menengok-nengok ke belakang lagi. Tak ada foto-fotoan juga. Tapi saya luruh kembali. Di antara tinggi bangunan Menara Abraj Al Bait dan Bin Dawood Super Store, saya berhenti sejenak dan menengok ke belakang untuk menatap dinding marmer putih Masjidil Haram yang tertimpa matahari dhuha. Selamat tinggal Masjid Mulia dan I’ll be right back, insya Allah.
*Abraj Al Bait Tower.
***
Bersambung ke Elegi 3.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
tak ada yang dicari
10:02 19 Desember 2011
Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar
ELEGI 1: PADA PANDANGAN PERTAMA
Pertanyaan dari seorang sahabat ketika bertamu itu membuat saya berpikir keras, “apa yang paling berkesan selama di tanah suci yang bisa dijadikan pelajaran buat kami?” Pertanyaan ini terus terang menyentak dan membuat saya terdiam. Menjawabnya pun jadi lama, karena saya harus berpikir dulu. Ada beberapa kemungkinan, ini dikarenakan memang tidak ada yang luar biasa di sana atau semuanya luar biasa sehingga sulit menemukan yang paling luar biasa.
Pertanyaan ini pun sejenis dengan pertanyaan seperti ini, “apa yang paling membuat kamu emosional di sana?” Seringkali saya mendengar banyak cerita dari orang, keluarga, dan teman saat pertama kali melihat Kakbah. Tidak ada yang tidak menangis. Tidak ada yang tidak emosional. Tidak ada yang tidak terharu.
Tapi sungguh saya tidak emosional melihat bangunan hitam itu pertama kali dengan nyata di depan mata. Tak ada air mata yang jatuh. Dan saya tidak bisa berpura-pura untuk menangis sesenggukan karena jama’ah yang lain dalam satu rombongan sudah pada menangis. Saya sampai berkata dalam hati, “hatiku telah mati ya Allah?”
Memasuki Masjidil Haram pertama kali dengan do’a (25/10) melalui pintu Raja Malik ‘Abdul ‘Aziz, masih dengan dua lembar pakaian ihram, rambut masih gondrong, melihat Kakbah pertama kali, lalu menuju sudut Hajar Aswad untuk memulai thawaf umrah sebagai rangkaian pertama dari haji Tamattu’. Di belakang saya ada istri dan sepasang kakek nenek yang mengikuti kami karena terpisah dari rombongan.
“Bismillahi Allahu Akbar…!” seru saya serasa mengangkat tangan kanan memulai thawaf. Saya membaca semua doa dan dzikir yang saya hafal. Dan tentu do’a Robbana Atina ketika melewati Rukun Yamani sampai Rukun Hajar aswad. Bukankah begitu sunnahnya? Bagaimana dengan sunnah Raml? Berlari-lari kecil tiga putaran pertama thawaf? Tidak bisa dilakukan karena terlalu padatnya pelataran utama Masjidil Haram.
“Banyak dosa membuat hati saya mati,” lagi-lagi saya berpikir demikian. Memikirkan banyaknya dosa, aib, maksiat, tidak diampuninya semua itu, dan tidak diterimanya amal-amal saya malah membuat saya luruh. Dan pada putaran kedua itulah tak ada yang bisa ditahan oleh mata. Semuanya keluar. Deras. Dan pada saat itulah saya tahu antara titik harap dan takut pada-Nya.
*Suasana Thawaf pada tanggal 26 Oktober 2011, saat pertama kali kami datang.
Itu yang paling emosional? Tidak. Kalau saya bisa urutkan adalah pada saat wukuf di Arafah, pada saat thawaf wada, dan pada saat ziarah yang terakhir kali di makam nabi saw.
Seperti diketahui bersama kalau Islam telah memerintahkan kepada yang mampu untuk berhaji dan haji adalah wukuf di Arafah. Kami berwukuf di dalam tenda yang telah dipersiapkan. Sudah suci dari hadas kecil dan besar sejak jam 11 karena sebentar lagi pelaksanaan khutbah wukuf dan shalat jama takdim dhuhur dan asar.
*Suasana pagi tanggal 9 Dzulhijjah 1432 di Arafah.
Mental sudah saya siapkan untuk waktu wajib wukuf itu yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai matahari tenggelam. Pun karena waktu wukuf adalah salah satu hari yang terbaik di dunia. Yaitu hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka. Saat di mana Allah mendekat. Pun tertawa.. Saat Ia membanggakan kepada para malaikat orang-orang yang bermunajat pada-Nya di hari itu serta berfirman, “apa yang mereka kehendaki.” Piye jal?
*Jama’ah haji dari negara lain yang berdo’a di luar pagar tenda pada waktu ashar.
Apalagi terasa sekali bagi saya kalau waktu itu seakan-akan waktu yang paling mahal yang pernah dirasa. Waktu yang mungkin hanya dijumpai sekali dalam seumur hidup saja adanya. Waktu yang terasa pendek untuk do’a, talbiyah, Istighfar, tahlil, dan shalawat.
Seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya kalau waktu wukuf itu pun bagi saya seakan-akan waktu terakhir di mana besok akan dihukum mati. Ibaratnya seperti kedatangan malaikat maut yang bilang: “Za, besok pagi kamu mati!” Maka detik itu langsung tobat, langsung minta ampun, berdo’a yang macam-macam untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Teks khutbah wukuf yang dibacakan oleh Ketua Kloter 65 bagi saya terasa indah, seperti pukulan untuk menyadarkan sanubari bahwa masih adanya banyak kesalahan pada diri, serta menghanyutkan dengan do’a-do’a muhasabah panjangnya.
*Suasana sore di Arafah.
Apalagi menjelang maghrib, saya benar-benar harus meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tertinggal dari do’a-do’a itu. Do’a untuk diri, istri, anak-anak, keluarga, teman-teman, tanah air, dan kejayaan umat Islam. Semoga tetesan air mata itu menjadi saksi buat kami.
***
Bersambung ke Elegi 2
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
masih mencari
10:02 19 Desember 2011
Tags: menara abraj al bait, abraj al bait tower, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar