SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG


SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG

“Wallet! Wallet..!!” teriak orang Malaysia itu sambil memandang sekeliling orang-orang thawaf yang ada di sekitarnya. Saya yang berada persis di belakangnya menyangka bahwa ia telah kehilangan dompetnya. Benar, ia kecopetan. Hah, di Masjidil Haram ada copet? Tak semua orang yang ada di sana berniat ibadah. Itu saja jawabnya kalau ada pertanyaan mengapa.

    Yang jadi pertanyaan juga mengapa ke Masjidil Haram bawa dompet? Dompet penting untuk bawa duit? Tidak penting sebenarnya karena kita tak perlu bawa uang banyak-banyak. Paling banter cuma 50 Real. Dan itu bisa diselipkan di mana saja. Di kantong kaos kangguru, saku celana, saku kemeja, atau tempat tersembunyi lainnya.

Dompet penting juga untuk menyimpan tanda pengenal dan kartu-kartu penting lainnya? Enggak juga. Sebelum berangkat ke tanah suci saya sudah menyortir apa saja yang wajib ada di dalam dompet. Dan ternyata cuma KTP dan satu ATM saja. SIM tidak perlu di bawa ke sana. Setelah itu dompet saya tipisnya minta ampun.

Karena tidak perlu bawa uang banyak-banyak, juga dikarenakan KTP kita tidak berlaku di sana, pun karena rawan hilang, maka selama ini saya tidak pernah bawa dompet ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Cukup saya simpan dalam kopor besar dan baru saya tengok kembali setelah tiba di tanah air.

Lalu tanda pengenal apa yang berlaku atau penting buat kita di sana? Kalau dihitung-hitung bisa ada sampai tujuh tanda pengenal yang menunjukkan identitas dan alamat kita selama di Makkah ataupun di Madinah.

Yang pertama dan terpenting sudah barang tentu adalah Paspor. Karena ini dokumen paling penting buat Jama’ah Haji Indonesia maka paspor ini akan disimpan oleh pengurus maktab di Makkah atau muassasah di Madinah. Kita sudah tidak pegang paspor lagi sewaktu kita naik ke bus yang akan mengantarkan kita ke pondokan atau hotel dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah atau Bandar Udara Madinah. So, selama kita di Makkah ataupun di Madinah kita tidak pegang paspor sama sekali. Menurut saya metode yang dilakukan oleh maktab ataupun muassasah ini sudah tepat untuk mengantisipasi hilangnya paspor oleh jamaah haji. Karena peluang hilang dokumen ini sangatlah besar.

*Paspor

*Beberapa identitas yang harus dibawa pada saat di Makkah

Setelah paspor ada kartu tanda pengenal lain yang warnanya coklat dan ada foto kita. Ini kita dapatkan dengan menyobek lembar A Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji yang ada di selipan buku paspor. Setelah disobek nanti oleh petugas embarkasi, kita diminta untuk menuliskan nama daerah tempat pondokan berada dan nomor maktab. Lihat sudut kiri atas lembar coklat pada foto di atas. Ada tulisan tangan saya. Setelah disobek, segera simpan kartu itu di kantong depan tas haji kecil kita.

*Buku Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH)

Identitas lainnya adalah gelang besi yang diberikan kepada jamaah haji pada saat di embarkasi sebelum keberangkatan menuju bandar udara. Gelang ini adalah gelang termahal di dunia. Harganya senilai biaya ONH (ongkos naik haji) kita. Di gelang itu sudah tercetak nama , tahun, nomor tempat duduk pesawat, nomor kloter, nomor paspor, tulisan haji Indonesia dalam bahasa Arab , bendera negara, dan lambang negara kita.

Gelang ini jangan sampai hilang karena sangat penting untuk menunjukkan berapa nomor kloter kita. Bagi kita yang usia muda mungkin gampang untuk mengingat nomor kloter tetapi betapa banyak jama’ah haji Indonesia usia lanjut yang tidak mengerti baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan mungkin penglihatannya kurang tajam. Bagaimana kalau mereka tersasar? Maka itulah gunanya gelang, oleh karenanya gelang itu harus dipakai ke mana-mana. Saya benar-benar mencopotnya ketika sampai di rumah di Citayam.

Yang ketiga adalah gelang karet yang diberikan oleh pengurus Maktab. Gelang ini diberikan pada saat pertama kali sampai di kota Mekkah. Jadi sebelum kita turun ke pondokan atau hotel, bus dari Madinah atau dari Jeddah kudu mampir dulu ke kantor Maktab.

Warna gelang kami satu kloter adalah biru muda bertuliskan huruf Arab dan ada angka latinnya juga. Apakah semua gelang orang Indonesia berwarna yang sama? Saya tak tahu. Tak soal warnanya yang terpenting gelang ini penting banget untuk menunjukkan nomor maktab kita. Jadi jangan dilepas juga ini gelang. Sayangnya tulisan yang ada di gelang karet itu mudah luntur.

Selain gelang karet, oleh pengurus Maktab diberikan juga kartu tanda pengenal yang dilaminasi dan dikasih peniti. Peniti ini gunanya agar kartu tanda pengenal itu bisa disematkan di baju atau di mana gitu. Tapi saya sarankan, benar-benar saya sarankan, kalau pakai peniti kartu tanda pengenal itu juga rawan hilang, oleh karenanya simpan saja di kantong bagian luar dari tas haji kecil yang selalu dibawa ke mana-mana itu.

*Bagian belakang kartu tanda pengenal.

Dan sumpah Beib, Demi Allah, jangan sampai hilang ini kartu. Jangan sampai ketinggalan di pondokan atau hotel kalau mau pergi ke Masjidil Haram. Karena kartu ini menunjukkan daerah tempat maktab atau pondokan atau hotel kita berada. Di kartu saya ada tulisan Arab yang bertuliskan Almisfalah Bakhutmah, serta nomor maktab, dan nomor rumah jama’ah. Setiap pondokan atau hotel buat jamaah haji Indonesia selalu disebut sebagai Rumah Jama’ah. Dan setiap rumah jama’ah ada nomor-nomornya. Nomor rumah jama’ah itu selalu terpampang jelas di neon box yang ada di depan pondokan atau hotel.

Bakhutmah adalah nama daerah tempat rumah jama’ah saya berada. Sekitar dua kiloan dari Masjidil Haram. Rumah Jama’ah saya bernomor 1128. Empat digit nomor ini punya arti. Dua digit pertama adalan nomor sektor dan dua digit terakhir adalah nomor urut rumah jama’ah yang berada di sektor tersebut. Kalau ada nomor rumah jama’ah 917, berarti sektor 9 nomor 17. Tapi tak penting tahu detil seperti ini yang penting adalah ingat betul nomor rumah jama’ahnya.

Seringkali saya mengantar orang yang tersasar dan yang paling sulit ditemukan pondokan mereka adalah mereka yang enggak bawa kartu identitas itu dan sama sekali tak ingat atau tak tahu nomor rumah jama’ahnya. So, kartu itu memudahkan banget buat orang yang mau bantuin kita atau pada saat kita mau bantuin orang lain yang sedang tersasar. Ingat jangan sampai hilang. Atau jika memang tak butuh kartu itu tajamkan ingatan Anda, ingatan adik, ingatan kakak, ingatan orang tua, ingatan kakek-nenek, dan ingatan seluruh kerabat Anda yang sedang pergi haji dan berada di Mekkah setajam memori prosesor tercanggih saat ini agar tak lupa.

Ohya jangan juga untuk dilupakan adalah di lantai berapa kamar kita berada dan nomor kamar kita. Sayangnya ini tak dapat kita ketahui di kartu tanda pengenal yang diberikan maktab. Ingatlah-ingatlah atau kalau kita punya ingatan pendek, segera tulis di selembar kertas dan taruh di kantung depan tas kecil. Karena betapa banyak dari jama’ah haji, terutama yang berusia lanjut yang lupa lantai dan di nomor kamar berapa dia tinggal. Perlu diketahui yah, kalau dalam satu hotel itu tidak semua penghuninya mereka yang berada dalam satu kloter yang sama. Ada beberapa juga kloter lain di sana. Makanya kalau tidak ingat-ingat betul, bisa tersesat di hotel sendiri. Betul begitu omsqu?

*Ini adalah pondokan kami. Saat-saat keberangkatan menuju Madinah tanggal 25 November 2011. Di sebelah pintu gerbang pondokan ada yang jual eskrim, sayang saya dari awal sampai akhir tak pernah bisa mencicipi es krim itu. Tak berani. Batuk…uhuk…uhuk…

Nah itu baru di Mekkah, ketika kita baru sampai di Madinah, kita akan diberi dua tanda pengenal lagi. Satu diberikan oleh pihak Muassasah dan satunya lagi diberikan oleh pihak hotel.

  • Kartu Identitas

Terus terang saja kartu yang diberikan pihak muassasah ini pada saya kurang fungsinya. Saya tak tahu kegunaannya apa. Di balik kartu itu juga yang ada cuma informasi tentang muassasah saja. Pakai bahasa Arab lagi.

*Kartu yang diberikan pihak muassasah di Madinah.

Menurut saya yang mesti kita harus punya dan penting dimiliki adalah kartu identitas yang diberikan pihak hotel berupa kartu nama hotel. Pada waktu kami datang pertama kali ke hotel kami, Burju Badri Al Muhammadiyah, pihak hotel menyediakan kartu nama ini dan membagikannya kepada jamaah haji. Nah masalahnya tidak semua hotel begini. So, berinisiatiflah untuk meminta kartu nama hotel kepada pihak hotel.

Jika tidak ada, maka catatlah nama hotel itu dan ingat-ingat betul. Karena lagi-lagi banyak dari jamaah haji Indonesia yang tersasar di Madinah itu adalah mereka yang tidak bawa kartu nama hotel bahkan sama sekali tidak tahu nama hotelnya. Saking semangat ibadah mengejar arba’in, maka pertama kali masuk Masjid Nabawi dengan penuh rasa percaya diri jadi tidak lihat-lihat jalan. Baru sadar kalau sudah keluar pintu. Tadi arahnya kemana yah? Nah loh.

Pada akhirnya apakah menjamin dengan membawa enam atau tujuh tanda pengenal ini kita tidak tersasar? Hanya Allah yang tahu dan berkehendak. Yang penting kita sudah berikhtiar. Jangan lupa untuk tidak bawa dompet.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.33 24 Desember 2011-12-24

Tags: burju badri al muhammadiyah, makkah, madinah, masjidil haram, masjid nabawi, al misfalah, bakhutmah, rumah jama’ah, kloter, dapih, dokumen administrasi perjalanan ibadah haji, maktab, muassasah, king abdul aziz, king ‘abdul ‘aziz, malik abdul aziz, malik ‘abdul ‘aziz, onh, ongkos naik haji, biaya perjalanan ibadah haji, bpih, citayam, jeddah

Advertisements

2 thoughts on “SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s