PTKP DARI MASA KE MASA


PTKP DARI MASA KE MASA

Mulai tanggal 1 Januari 2013 akan berlaku besaran Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang terbaru setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 162/PMK.011/2012 tanggal 22 Oktober 2012 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak.

PTKP adalah komponen pengurang penghasilan neto untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) dari Wajib Pajak Orang Pribadi. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan di bidang ekonomi dan moneter serta harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat maka ketentuan yang mengatur besaran PTKP seringkali diubah atau disesuaikan.

Artikel kali ini hanya sekadar mencatat perubahan PTKP itu dari masa ke masa, berlakunya, dan beleid yang mendasarinya. Ini diawali dari yang paling teranyar atau yang pada saat tulisan ini dibuat sedang berlaku. Semoga bermanfaat.

 

PTKP

dedaunan di ranting cemara

Riza Almanfaluthi 21:30

28 November 2012

diupload pertama kali di: http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/11/29/ptkp-dari-masa-ke-masa-512683.html

S A L J U


S-A-L-J-U

hanya ada salju

tak ada yang lain

yang lebih putih di bulan Desember

aku nanar menatap pepohonan

karena ia menjelma menjadi dirimu

dalam sengkarut jiwa

yang menghapus jejak-jejak kaki

bahkan ingatan akan sakura

aku terbakar dalam dingin

merepih jilatannya yang tak berkesudahan

di dahan rantingmu

aku siap terbang

menjadi elang

mengangkasa

dan mencumbu rahasiamu

hitungan hari bersimbah detik-detik

lalu ia terhenti selamanya.

**

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

26 November  2012

WHATSAPP YANG MERAMPAS?


WHATSAPP YANG MERAMPAS?

 

Tanpa disadari atau sengaja tidak menyadari kalau dunia WhatsApp mengalihkan perhatian saya. Aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 100 juta kali itu adalah aplikasi messenger yang dapat mengirimkan teks, video, gambar, dan suara kepada teman-teman dan kontak yang ada di hp kita masing-masing. Ini juga karena saya masuk ke grupnya. Mungkin kalau tidak bergabung ke dalamnya, dunia per-whatsapp-an saya juga sepi-sepi saja.

    Saya juga berpikir inilah yang mungkin menyebabkan Blackberry digilai oleh sebagian pengguna gadget di Indonesia karena semata kehebatan dari BBM-nya. Tapi BBM ini tersaingi karena kehadiran WhatsApp yang tidak mengharuskan penggunanya untuk memakai perangkat Blackberry. Lintas smartphone, lintas operator, lintas OS. Gtalk kalau saya bandingkan dengan WhatsApp juga lewat.

    Saya tak berusaha detil untuk mengulas WhatsApp di sini, saya cuma mau mengatakan bahwa zaman sekarang orang sudah terhubung dengan berbagai macam cara. Tentu di sana selain kelebihan yang didapat ada pula kelemahan atau mudharat yang kudu diwaspadai oleh semua penggunanya. Layaknya pisau ada ditangan siapa. Atau seperti pisau karton dalam cerpen Motinggo Busye?

    Sejak kenal grup dalam WhatsApp itu jarang sekali perjalanan pulang dalam kereta menjadi perjalanan yang membosankan. Asal handphone-nya sudah dicharge terlebih dahulu tentunya. Kalau enggak, matilah gaya sudah pasti. Untuk itu, setiap jam tiga sore handphone sudah harus dicolok kabel charger. Kalau sudah jam lima teng kurang sedikit barulah dicabut. Lumayan bisa untuk satu sampai dua jam ke depan.

    Di dalam kereta, walau desak-desakkan dan sedikit panas, perhatian bisa teralihkan ke gadget. Tersenyum dan tertawa bisa muncul di saat ikutan grup WhatsApp itu. Walau harus tertawa tertahan agar tidak dilihat oleh penumpang yang lain. Apalagi kalau japri sama teman-teman di sana yang rada-rada minha. Minha itu kata teman berasal dari bahasa arab yang artinya setengah atau sebagian atau sedeng gitulah. Sebenarnya teman-teman saya tak seperti itu kok. Mereka baik-baik. Mereka tahu batas tentang bercanda dan serius. Mereka para guru. Dan sudah tentu otak mereka semua genap. Insya Allah ahli surga semua. Amin.

Kegilaan saya terhadap WhatsApp tetap ada batasnya. Dan memang harus dibatasi agar jangan merampas hidup saya. Ada waktu khusus saya yang tidak bisa diganggu gugat oleh WhatsApp. Yaitu setiap pagi saat saya naik kereta rel listrik. Ada yang harus saya kerjakan sambil berdiri yang tak bisa tergantikan olehnya. Dan Alhamdulillah masih bisa bertahan walau dering sms dan bunyi kecipak air tanda pesan WhatsApp memekik-mekik.

Dan yang kudu diperhatikan juga adalah jangan sampai hubungan kita dengan WhatsApp mengalahkan hubungan personal kita di dunia nyata. Sampai rumah ya sudah, buang itu gadget jangan dipegang terus. Kehangatan ruang grup WhatsApp tetap tak bisa mengalahkan kehangatan ruang keluarga kita. Terhadap yang mencintai kita dan kepada celoteh-celoteh riang yang memenuhi ruang itu.

Bolehlah kembali ke ruang maya itu saat mereka tidur semua tapi ingat kalau besok adalah hari yang pepat. Hari yang membutuhkan kesiapan fisik kita secara paripurna, yang tidak bisa disediakan oleh tubuh yang kekurangan tidur.

Saat menekan tombol titik setelah kata tidur di atas, saya langsung menguap. Tanda alarm kalau tubuh saya juga butuh tidur. Besok adalah hari Ahad, banyak sekali yang harus saya lakukan. Saya akhiri saja kali yah keterpesonaan saya kepada makanan baru bernama grup WhatsApp ini. Pesona yang sama saat bule-bule pertama dan berulang kali datang ke Raja Ampat.

Sebenarnya maksud saya mengungkapkan semua ini semata hanya ingin menulis. Enggak ada maksud lain. Terus terang saja, grup WhatsApp telah mengalihkan fokus saya dari menulis. Dan kalau seminggu saya tidak menulis badan saya meriang. Ada virus kegelisahan yang memenuhi pembuluh darah saya. Makanya saya paksakan menulis sekarang. Karena enggak ada tema-tema berat yang harus saya tulis, ya tentu yang ringan-ringan saja yang saya tulis. Seperti tentang WhatsApp ini.

Kalau sudah menulis kan bisa plong. Saya bisa berpikir yang lain. Saya bisa mengamati keadaan dan suasana yang berbeda. Tidak suntuk lagi. Ini sudah bagus saya bisa menulis sekali seminggu. Kalau bisa mah sehari sekali. Tetapi mungkin saya belum sampai ke taraf itu, karena setiap melakukan pergulatan ide (baca menulis) saya mengalami kelelahan setelahnya. Ah, itu cuma alasan saja kali yah. Iya memang betul cuma alasan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis. Kudu menulis kapan pun, setiap saat.

Agar apa? Agar bisa dipastikan bahwa otak kita masih waras. Tidak minha. Masih bisa diajak untuk berpikir. Untuk mengamati keadaan. Dan tidak dementia atau pikun. Berbagai studi telah membuktikan, supaya kita tidak mengalami kepikunan maka menulis bisa menjadi salah satu cara pencegahannya. Menulis merupakan kegiatan yang dapat menstimulasi sel-sel saraf otak

Itu aja kali yah monolog malam ahad ini. Semoga bisa bermanfaat buat yang lain. Terutama sih untuk diri saya pribadi. Semoga besok adalah hari yang menyenangkan buat kita semua. Amin. Tabik.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00:06 Ahad 25 November 2012

MENCIUM BIBIRNYA


MENCIUM BIBIRNYA

 

Terbangun di tengah malam itu sesuatu. Dua jam berikutnya hanya terpaku pada mainan baru bernama WhatsApp di android 2011 saya. Mengecek satu-persatu siapa saja yang pada pukul 00.00 masih saja terlihat jejaknya. Last seen today at 00:00.

Memergoki keponakan di tanah seberang yang masih melek. “Durung turu tah, Nok?” tanya saya. Basa Cerbon menjadi sarana komunikasi semut kami. “Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?” Pernyataan dan pertanyaan adalah responnya. Ohya maaf bagi yang tidak mengerti dialog kami, santai saja Bray, di bawah akan ada terjemahannya.

Gerak selanjutnya adalah membuka benda hitam—netbook—yang teronggok di atas meja. Terdiam sejenak dan berpikir mau menulis apa. Tiba-tiba sudut mata saya jatuh pada sebuah album foto yang hampir rusak. Saya membukanya. Dan satu persatu saya melihat rekaman hidup yang tergambar di setiap lembar kertasnya.

Kemudian menemukan foto setengah badan saya. Foto di tahun 1997. Latar belakang hijau. Pakai baju putih. Pakai dasi dan jas pemberian waktu saya jadi panitia wisuda di tahun 1996. Saya pun waktu itu masih kurus. Sedikit ada senyum di wajah. Dan jenggot tipis di dagu. Apa lagi pentingnya saya deskripsikan di sini buat Bray yah?

Dan seperti adegan di film-film biasanya. Saya mengambil foto itu dari plastiknya lalu membalik foto itu. Ah…sebuah tulisan tangan ada di sana. Sebuah tulisan tangan yang saya tentunya tahu betul siapa pemilik dari goresan tinta hitam itu. Ada dua alinea. Beberapa kalimat. Dengan dua kata pertama yang dicoret biru agar tak bisa dibaca.

“…… …… saat mendengar antum menerima ane. Meski keraguan itu masih ada, ane menerima untuk menjalani apa yang ada.”

“Ya akhi rahimakillah, hanya ketsiqohan ane kepada Umi dan Pak Hasan, yang membuat ane berani menyatakan “iya”. Bukan keraguan tentang keimanan antum yang m’buat ane bimbang.”

Ini jejaknya. Saya teringat kalau foto ini adalah foto yang saya berikan padanya saat ta’aruf. Dan itu masa lalu. Belasan tahun terlampaui. Sekarang kita tahu diri kita masing-masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Kita saling menutupi kelemahan diri kita. Kita terus berusaha dan belajar memahami.

Saya menghentikan sejenak tulisan ini. Segera bergegas masuk ke dalam kamar. Melihat sosok perempuan itu terlelap. Dan mencium keningnya. Ada Kinan di sebelahnya. Khusus untuk perempuan kecil lucu ini, tidak lain tidak bukan, bibirnya saya cium. Sambil berkata, “Zawwadakillaahuttaqwa.” Ucapan doa yang saya kutip dari Ustadz Fathur—semoga Allah senantiasa menyehatkan beliau—yang artinya kurang lebih: “semoga Allah membekalimu taqwa.”

Saat melanjutkan tulisan ini jarum pendek jam sudah menusuk di angka 3. Bergegas untuk segera menyelesaikannya. Saya butuh tidur lagi. Sebentar saja. Sebagai penutupnya saya teringat sebuah dialog dengan perempuan ini, siang tadi.

“Bersyukurlah punya istri yang tidak minta macam-macam,” katanya.

Sambil berpikir, meresapi kalimat yang ia ucapkan, saya pun menyetujuinya. Polos saya berkata, “Betul, karena barangsiapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmatnya.”

“Wuih…enggak sopan,” tegurnya sambil melirik tajam.

“What &(%($*#&*??”

*

Semoga ini bukan pencitraan. Saya ini pembelajar saja. Setiap pembelajaran tentu ada salahnya. Kalau orang memanggil saya dengan sebutan terhormat, aduh saya sungguh tidak pantas. Masih banyak dosanya. Masih saja terus berbuat salah. Masih saja enggak mau “nyadar”. Nyadar nikmat, nyadar umur, nyadar Allah masih terus menutupi aib-aib saya, dan nyadar-nyadar yang lainnya.

Kalau kamu, Bray, nemuin saya salah, terjerembab, sadari Bray, saya juga manusia. Mohon dimaafkan. Saya cuma pembelajar. Semoga Allah mengampuni saya selalu. Kita.

**

Terjemahan:

  1. Durung turu tah, Nok?     : Belum tidur, Nok?
  2. Nok         : Panggilan kepada adik perempuan, anak perempuan, perempuan yang dimudakan.
  3. Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?    : Bangun habis menyusui, Ang. Bagaimana, bagaimana?
  4. Ang        : Panggilan kepada kakak laki-laki.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tak saya edit lagi. Apa adanya. Selesai di 03.14

12 November 2012

 

tags: whatsapp, android, ustadz Fathurrahman, ustadz fathur, curahan hati, kinan, perempuan, ria dewi ambarwati, cerbon, mamuroh, ma’muroh, maam, ma’am,

TIPS MENULIS: CARI PATOK DUGA


 

Bagi saya membagi “Mel” kepada yang lain melalui jalur pribadi adalah sebuah proses perpindahan ilmu. Dan sungguh saya tak keberatan. Sila untuk ditelaah lebih dalam mengapa “Mel” menjadi yang terbaik pada momen itu. Sila untuk ditiru: gaya bahasa, cara bertutur, dan kejutannya.

Bagi yang sedang belajar menulis, proses meniru adalah sebuah keniscayaan, bahkan jalan mula untuk menemukan gaya menulisnya sendiri kelak. Jadi, seperti banyak penulis profesional sering katakan: carilah benchmarking. Jadikan satu-dua penulis yang disukai menjadi patok duga. Fokus, baca pelan-pelan, dan amati bagaimana mereka menyuguhkan keindahan berbahasa dan bercerita.

image

(Sumber gambar: Deviart art, photo by brianmiller72)

Maka saya menemukan Dahlan Iskan, Goenawan Mohammad, dan Radhar Panca Dahana adalah Istana Sulaiman yang penuh manik-manik dan permata kata-kata. Mereka adalah patok duga. Membaca Dahlan Iskan seperti membaca sebuah kelugasan, selipan humor, masakan tanpa bumbu sastra, tampilan apa adanya. Dan kekuatan yang diberikan selesai membacanya adalah selalu tumbuhnya harapan dan optimisme yang sepertinya mulai pudar ditelan skeptisme akan kondisi negeri. Inilah hebatnya ia.

Lain halnya Radhar Panca Dahana yang bermain-main dengan diksi yang kaya. Sungguh-sungguh kaya. Bagaimana dengan Goenawan Mohammad? Ayo kita tamasya pada keluasan referensi saat membaca catatan pinggirnya, gaya bahasa yang mengilap dan memuisikan itu. Walau ia dianggap bukanlah seorang sastrawan oleh seorang Saut Situmorang.

Selain patok duga, saya mengajak tak henti-hentinya kepada Anda yang ingin belajar mengolah kata untuk segera angkat ‘pena’ sekarang juga, celupkan ia pada tinta hitam, dan tuliskan di selembar kertas putih, tuangkan segala yang dirasa, yang dipikir, di atasnya. Tanpa perlu membuang-buang waktu berpikir tentang si A, si B, si C yang karyanya bisa menjuarai perlombaan, memenangkan penghargaan, ataupun masuk koran.

Tahukah Anda kalau Wolfgang Amadeus Mozart yang musisi dan komponis besar itu menghabiskan 10.000 jam untuk berlatih. Begitu pula Bill Joy, seorang pencipta bahasa pemrograman Java dan pendiri Sun Microsystems menghabiskan lebih dari 10.000 jam juga untuk berlatih membuat program dan menjadikan dirinya dianggap “an American computer scientist” serta menjadi legenda.

Kalau Anda cuma melihat keberhasilan seseorang dari bagaimana ia maju ke panggung menerima penghargaan ataupun kekayaannya yang bertambah, maka sesungguhnya ada yang dilupakan oleh Anda yaitu proses mendapatkannya. Ini seperti Anda yang hanya kagum saat melihat tukang batu berhasil meremukkan batu sebesar gajah pada pukulan yang ke-1000. Anda tidak melihat ada 999 pukulan sebelumnya yang turut menentukan, atau pada pukulan pertamanya. Dan seringkali pukulan pertama itu yang enggan untuk diayunkan. Dengan berbagai alasan tentunya.

Malam ini, saya mengajak Anda yang ingin menjadi penulis hebat untuk: yang pertama, mencari patok duga dan yang kedua, berlatih sekarang juga. Menerima tantangan ini?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih terus belajar dan berlatih

ditulis pertama kali untuk kompasiana.com

di:

http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/02/tips-menulis-cari-patok-duga-506076.html

01 November 2012

tags:

Bottom of Form

15 Tahun Lampau. Jurangmangu.


image

ROKOK, AQUA, TISU


ROKOK, AQUA, TISU

 

Teman saya tidak menyangka kalau saya adalah salah satu saksi sekaligus pelaku dalam tulisan berjudul “Mel” yang saya ikut sertakan untuk Lomba Penulisan Artikel Perpajakan 2012 Direktorat Jenderal Pajak. Tulisan ini adalah satu dari dua yang saya kirim. “Mel” akhirnya jadi pemenang kesatu.

Ya betul, waktu itu saya masih SMP kelas 2. Pengasong rokok di stasiun Jatibarang dan di atas kereta api. Saya memang mengasong pada hari minggu dan libur panjang. Biasanya pagi keluar dari rumah menyusuri pinggiran jalan menuju stasiun sembari menawarkan rokok pada tukang-tukang becak.

Jam 7 pagi Stasiun Jatibarang ramai penuh calon penumpang menuju Jakarta. Mereka akan naik Kereta Api Gunung Jati dari Cirebon. Itu saat terbaik untuk mengasong. Setelah kereta itu lewat, saya baru pergi ke pasar yang letaknya di depan stasiun. Di sana ramai juga, apalagi kalau hari pasaran, hari rabu dan minggu. Para pedagang kain dari seluruh penjuru Indramayu, Cirebon, Brebes datang, tumplek blek di sana. Wuih…sesuatu banget kalau melihat kerumunan orang.

Setelah berjibaku di sana, menjelang dzuhur saya pulang dengan arah yang berbeda dari waktu berangkat. Kembali menawarkan pada para pengguna trotoar. Rokok! Rokok! Rokok! Aqua! Tisu! Hati berbunga kalau ada dari mereka yang membeli barang satu atau dua batang rokok.

Sampai rumah biasanya saya makan, istirahat, dan sholat. Lalu “kulakan” kepada bapak saya sebagai ‘distributor’ sekaligus pemilik toko kecil-kecilan di rumah. Ada barang yang sudah habis saya beli kepadanya. Beliau yang mencatatnya. Bayarnya kalau sudah selesai mengasong sore nanti.

Sekitar jam satu siang saya kembali jualan. Topi sudah terpasang di kepala. Kotak bertali berisi penuh dagangan terselempang di depan. Semangat sudah terkokang penuh untuk mencapai target penjualan dalam sehari. Saya sering berharap air minum dalam kemasan laku keras karena ia penyumbang keuntungan terbesar saya.

Sekarang tujuan utama saya adalah tetap ke stasiun. Jam siang begini tempat itu penuh calon penumpang baik ke Jakarta ataupun ke Jawa. Kalau kereta apinya belum datang saya mengasong di darat, susuri dari peron ke peron, menyapa setiap orang, “Rokok Pak!”

Kalau kereta apinya datang saya ikutan naik bersama puluhan pedagang lainnya ke atas gerbong. Mengais rezeki dari penumpang dalam waktu yang tidak lama. Berharap ada yang beli di tengah persaingan ketat antar-pedagang. Kalau ada bule saya sapa padanya, “Smoke, Sir.” Seumur hidup saya ngasong, bule itu tidak pernah beli.

Yang paling menegangkan kalau ada yang membeli pada saat pengumuman pemberangkatan kereta api. Saya buru-buru melayaninya. Apalagi pada saat menyerahkan uang kembalian kereta apinya sudah bergerak perlahan. Saya panik kalau sudah begitu. Saya segera lari ke pintu kereta dan lompat. Hup! Kaki duluan.

Hanya sekali saya gagal. Ini karena saya salah ambil posisi tubuh. Seharusnya menghadap searah gerak kereta. Saya tidak. Saya langsung lompat. Gaya gravitasi pun bekerja, saya terjungkal di tengah teriakan orang di stasiun. Alhamdulillah tidak menggelinding ke kolong kereta. Kotak asongan yang bertuliskan Pemburu Dollar itu tumpah berantakan. Dan sedikit luka.

Karenanya saya selalu melarang adik saya—yang ikut ngasong juga—untuk turut naik jualan ke atas gerbong. Takut tak bisa turun atau terbawa kereta. Saya deg-degan mikirin dia. Takut ada apa-apa. Pernah sampai sore tak terlihat batang hidungnya di stasiun, bahkan sampai maghrib. Saya sudah cemas. Eh, betul dia terbawa kereta. Syukur bisa balik.

Waktu itu kalau kereta ekonomi tidak ada Polisi Khusus (polsus)-nya. Jadi banyak juga teman-teman pedagang yang ikutan naik kereta api itu sampai Haurgeulis ataupun Pegaden. Atau kalau ke arah Cirebonnya ikut hanya sampai Arjawinangun atau Bangodua.

Stasiun Arjawinangun *Sumber Wikipedia

Stasiun Bangodua (*sejutagaleri.wordpress.com)

Kalau ada polsusnya—terutama untuk kelas bisnis dan eksekutif—mereka tetap naik juga, tapi naik ke atap kereta api. Bukan untuk jualan melainkan untuk ikut kereta ini sampai di stasiun tujuan. Buat apa? Supaya bisa mencegat kereta api lainnya yang pedagang asongan bisa jualan di atas gerbongnya.

Naik ke atap kereta ini dilakukan oleh pria dan wanita pedagang. Ini berbahaya sekali. Saya tidak ikutan. Kalau terpaksa saya ikut, saya naik di atas gerbong kereta bersama yang lain dan patungan seribuan atau berapa untuk diserahkan kepada petugas. Dengan syarat tidak boleh mengasong di dalam kereta.

Pernah saya iseng ngasong juga. Pas melewati gerbong restorasi kebetulan di sana ada Kepala Stasiun Jatibarang yang ikut naik. Saya langsung ditampar. Niatnya kayak bintang film India Amitabhbachan, kalau ditampar sekali tidak lari, tapi menatap lagi. Eh betul, saya ditampar lagi. Sakit euy. Langsung saya ngibrit. Gagal jadi bintang film. Wajah Kepala Stasiun Jatibarang itu sampai sekarang masih saya ingat betul.

Salah satu trik agar bisa tetap jualan di atas gerbong kereta sudah saya ceritakan di tulisan yang berjudul “Mel” itu. Menghentikan laju kereta dengan beberapa bungkus rokok yang diikatkan pada sebatang ranting pohon.

Kalau sedang tidak naik kereta saya biasanya kumpul bareng bersama teman pedagang lainnya. Ngobrol ke sana ke mari. Saya mungkin masih dianggap anak-anak atau junior tapi pergaulan saya bisa diterima oleh pedagang lainnya. Dari hubungan itu saya bisa tahu bagaimana taktik mereka agar jualannya laris. Dari yang pakai klenik sampai sogok-menyogok kepada petugas.

Jam setengah lima sore biasanya saya siap-siap pulang. Saya balik ke rumah sambil bawa oleh-oleh kesukaan. Wingko babat dan nasi rames tambah sate ayam yang dijual sesama pedagang asongan. Sedap banget apalagi pakai duit sendiri.

Sampai rumah, Bapak yang menghitung berapa banyak barang dagangan yang laku. Hitungannya begitu detil. Setiap batang rokok yang terjual dan berapa perak keuntungannya dicatat. Sehari dapat untung lima sampai sepuluh ribu saja sudah bersyukur. Uangnya ditabung untuk biaya melanjutkan sekolah ke SMA (SMU sekarang) nanti.

Namun kalau malam minggu saya tidak hanya sampai sore ngasongnya tapi sampai malam. Saya pergi ke gedung bioskop. Nah di sana juga ramai. Laku juga. Biasanya saya hanya sampai para pengunjung masuk ke dalam gedung. Setelah itu pulang.

Semua ini adalah bagian dari sejarah hidup yang menempa kepribadian saya hingga saat ini. Banyak pengalaman yang didapatkan, diiringi kekhawatiran ibu setiap hari karena anak-anaknya yang belum pulang di petang-petang yang lama. Ataupun kengerian melihat darah yang mengalir dari atap gerbong, di sana ada sosok tubuh dengan kepala hancur terkena jembatan. Mimpi buruk menjelma.

Tapi ada selimut kegembiraan walau dalam senyap, karena saat itu saya sudah bisa pegang uang dan tak minta ke orang tua. Tidak malu menghadapi orang dewasa ataupun teman sekolah. Yang lain pacaran, saya ngasong. Belajar tetap nomor satu. Prestasi sekolah masih bisa dipertahankan.

Dari sana ada yang bisa dijadikan pembelajaran, kalau keberhasilan atau kesuksesan itu tak bisa dicapai tanpa keringat yang menetes dan pengorbanan. Sampai-sampai saya menulis sebuah kalimat dengan gaya kaligrafi di atas slop pembungkus rokok dan menempelkannya di dinding rumah: tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Sungguh. Dua puluh dua tahun kemudian saya baru tahu kalau Rasulullah saw pernah bilang: “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan sholat.” Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “bersusah payah dalam mencari nafkah.”

Berpayah-payahlah dalam mencari nafkah teman. Niscaya ada akhir yang baik di ujungnya. Menulis pun demikian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13.22 20 Oktober 2012

Terima kasih kepada Ustadz Fathurrahman yang telah mengirim hadits riwayat Bukhari itu.

 

tags: stasiun jatibarang, stasiun arjawinangun, stasiun pegaden, stasiun bangodua, stasiun haurgeulis, lomba menulis artikel perpajakan, direktorat jenderal pajak, kereta api gunung jati, pemburu dollar, mel, kepala stasiun jatibarang, tips menulis,

TIPS BERTOILET DI ARAFAH, MUZDALIFAH, DAN MINA


TIPS BERTOILET DI ARAFAH, MUZDALIFAH, DAN MINA

    Calon jamaah haji akan berada di Arafah selama dua hari, di Muzdalifah semalam, di Mina tiga hari, tentunya urusan buang air adalah sesuatu yang penting sekali, oleh karenanya perlu dipahami suasana dan kondisi toilet yang ada di sana. Plus tipsnya. Serius, saya mau cerita tentang yang satu ini.

    Kalau kita membayangkan dua kata: Arab Saudi, maka hal yang terlintas dalam pikiran adalah negara tandus, kering, padang pasir, onta, kurma, Mekkah, dan Madinah. Tapi jangan dikira kalau tandusnya negara itu—yang tentunya kalah jauh dengan ijo royo-royonya Indonesia ini, menyebabkan mereka kekurangan air. Tidak. Bahkan melimpah sekali.

    Selama perjalanan haji tahun 2011 itu terutama di Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), saya sama sekali jarang menjumpai air yang hangat ini mengalir lemah keluar dari kran. Semuanya kencang. Tekanannya tinggi. Sama kalau kita pergi ke toilet di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

*Suasana kamar mandi di Mina

    Air yang keluar kencang ini tentunya menentramkan hati kalau kita mau bersuci ataupun mandi. Meyakinkan saya kalau najis-najis yang ada di badan ataupun di sekitar toilet akan cepat hilang kalau disiram. Mandi dan buang air jadi terbantu. Toilet pun jadi tidak bau.

*Toilet di Mina. Lumayan bersih.

    Kita tak bisa membayangkan kalau air yang keluar itu sedikit. Jutaan orang akan mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa. Apalagi antrian akan semakin panjang karena orang yang sedang buang hajat itu akan lama memastikan bahwa dirinya sudah suci. Mandi apalagi. Alhamdulillah ini tidak terjadi.

    Saya bersyukur bahwa selama ritual haji yang utama di Armina itu saya tidak mendapatkan kesulitan dalam masalah ini. Karena satu hal juga: saya meminta kepada Allah atas hal yang sepele ini. Saya benar-benar berdoa kepada Allah agar saya dimudahkan segala urusan saya dalam mandi dan bersuci. Enggak perlu antri panjang dan lancar-lancar saja. Kenyataannya memang demikian.

    Dengan modal kesabaran yang sudah dikumpulkan sejak dari tanah air, saya cukup antri sebentar lalu masuk, bersihkan dinding kamar mandi dan lubang pembuangan dengan air yang mengucur deras itu, kemudian mandi. Tentunya saya juga memperhitungkan kapan waktu yang lebih sepinya agar saya bisa bebas, lebih lama serta tidak menzalimi yang lain.

    Perlu diketahui kalau satu toilet atau darul mayah di Armina ini terdiri dari toilet laki-laki dan perempuan. Masing-masing terdiri lebih dari sembilan pintu. Oleh karenanya kita harus tahu kapan waktu sepinya toilet ini. Biasanya kalau jam dua dan tiga pagi. Kalau jam empat pagi sudah mulai antri. Kalau waktu menjelang sholat itu yang antriannya bisa panjang, tiga sampai empat orang berderet ke belakang. Kalau sudah begini, maka toleransi kita perlu dipertajam kalau sudah ada di dalam, tak perlu lama-lama. Seperlunya saja.

    Pada dasarnya kebersihan toilet tergantung para jamaah haji sendiri. Ada yang enggak sabar lalu buang air kecilnya di tempat wudhu. Ini akan membuat najisnya kemana-mana. Ada juga yang menggantungkan, maaf, pakaian dalamnya di tembok-tembok tempat wudhu. Bahkan ada ibu-ibu yang mencuci pakaiannya di tempat wudhu dengan hanya membelitkan kemben sebatas dada—persis mandi di sungai, seperti di tanah airnya saja. Bukan saya yang melihat tapi istri dan ibu-ibu di rombongan kami. Syukurnya juga bukan anggota rombongan atau kloter kami yang melakukan itu.

*Tempat wudhu di Mina

    Itu saja gambaran suasana toilet yang ada di Armina yang dapat saya ceritakan sedikit agar calon jamaah haji dapat mempersiapkan mental dan dirinya. Tentunya kesabaran juga perlu dipupuk karena ada juga yang enggak mau antri untuk bisa mandi ataupun buang hajat. Yang paling penting adalah minta sama Allah untuk dimudahkan dalam segala urusan menyangkut air selama di sana.

Bertoilet di Armina cukup dengan sabar, tahu waktu, tertib mengantri, seperlunya, dan berdoa. Semoga bermanfaat. Semoga keyakinan dalam bersuci menjadi jalan menuju haji yang mabrur. Amin.

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:52 06 Oktober 2012

foto-foto: dokumen pribadi

Pertama kali diunggah di:

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/10/06/tips-bertoilet-di-arafah-muzdalifah-dan-mina/

tags: arafah, mina, muzdalifah, mekkah, madinah, toilet, darul mayah, bersuci, arab saudi, thaharah, haji 2011, haji, toilet haji,

SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


    Surat pemanggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu telah membuat keluarga besar istrinya terperanjat dan risau. “Apa salah suami saya? Kena kasus apa?” tanya Sang Istri. Tentu saja juga membuat dirinya yang sedang memulai iktikaf di hari pertama Ramadhan itu gamang. Bagaimana bisa kondisi ini ada ketika ia benar-benar ingin memulai iktikafnya secara penuh mulai hari pertama sampai hari terakhir nanti. Tapi ia menyadari bahwa ini semua takdir Allah.

    Yang membuatnya sedikit tenang adalah ia dipanggil oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu kapasitasnya hanya sebagai saksi atas sebuah kasus yang terjadi di sebuah perusahaan asuransi, tempatnya ia bekerja. Bukan sebagai tersangka ataupun terdakwa. Tapi itu saja sudah membuatnya menguras energi dan mengalihkan fokusnya.

    Berulang kali ia membaca surat itu. Pelan-pelan. Lalu ia pahami betul setiap kata yang ada. Agar tidak ada kata yang tidak dimengertinya. Ia mengontak teman-temannya untuk berkonsultasi tentang kasusnya ini. Semua dipersiapkan dengan betul supaya tenang dalam persidangan dan ia mampu menjawab semua pertanyaan Majelis Hakim.

    Selama proses itu ia mengamati cara berpikir dan tindakannya sendiri. Di sinilah ia mengerti bahwa telah ditampakkan di hadapan dirinya sebuah pelajaran maha penting. Pelajaran tentang laku yang seharusnya ia kedepankan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Seharusnya ia lebih gemetar saat menerima ‘surat-surat’ dari Allah itu tinimbang surat dari Pengadilan negeri jakarta Selatan. Surat dari Sang Pencipta Manusia yang kedudukannya jelas sangatlah jauh daripada Majelis Hakim yang hanya makhluk fana. Apatah lagi saat membacanya. Ia seharusnya gemetar saat mendapat ancaman-ancaman jika Ia tidak memenuhi apa yang telah dijanjikannya saat ia masih berada di alam ruh.

    Seharusnya ia berlinang air mata saat ia tak mampu memahami setiap makna dibalik kata yang tertulis di sana. Apatah lagi saat ia menyadari bahwa ia tak mampu untuk melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

    Seharusnya ia lebih takut dihadapkan pada sebuah pengadilan kelak yang benar-benar tanpa intervensi uang dan kekuasaan. Pengadilan yang membuat setiap manusia terperanjat ngeri karena kedahsyatan suasananya. Apatah lagi Sang Hakimnya di sana.

    Pun seharusnya ia lebih mempersiapkan diri sesempurna-sempurnanya untuk mencari bekal terbaik. Agar kelak ia tak terjerembab karena dilempar dengan buku amalnya dari belakang. Duhai diri…berbeda sekali diri menghadapi dua hal ini.

     “Karena yang satu adalah material dan yang satunya lagi adalah masalah iman,” ujarnya. Ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini dan berada pada zaman serba materialistis. Tapi tak serta merta harus terpalit, tersert-seret, dan terjerumus pada semua yang menggodanya.

    Tekad pun tercetus, materialisme bolehlah hidup tapi bukan di hatinya tapi cukup di tangannya. Di hatinya hanya untuk Al Qur’an yang kembali ia baca setiap harinya satu juz setelah Ramadhan meninggalkan dirinya. Ia tartilkan bacaannya, karena setiap huruf di dalamnya punya hak masing-masing untuk dibaca dengan benar. Ia bertekad kuat memahami makna yang dikandungnya, selain pula menambah pundi-pundi kekayaan hafalannya. Tertatih-tatih dengan memohon perlindungan-Nya agar ia selamat dalam mengumpulkan sebaik-baik bekal.

    Saya termenung mendengar tuturannya pada saat acara mabit tadi malam. Ini adalah sebagian kecil dari upayanya meri’ayah (memelihara) amalan-amalan Ramadhan agar tetap tumbuh dan bersemi setelah Ramadhan dan Syawal usai. Sebuah telatah yang patut dijiplak mentah-mentah tanpa perlu membayar royalti. Biar Allah SWT yang membayarnya saja dengan balasan banyak kebaikan.

**

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

Citayam, 23 September 2012

dimuat di Dakwatuna di

http://www.dakwatuna.com/2012/09/23125/surat-yang-membuatnya-gemetar/

Gambar diambil dari situs: http://www.iol.co.za/

SHARING IS AMAZING


SHARING IS AMAZING


    Selalu saja perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Kantuk tidak mendominasi seperti biasanya. Nyupir pun jadi enteng. Saya juga heran kenapa bisa seperti ini? Eh, ternyata karena di sepanjang perjalanan balik dari Bandung ke Jakarta itu saya mengobrol terus. Ngobrolin apa saja dengan Ibu W Arifah, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi di Kantor Pelayanan Pajak Bogor. Ibu Arifah ditemani putranya yang baru berumur 15 bulan dan pengasuhnya.

    Selama tiga hari, sejak Rabu, kami mengikuti Workshop Tax Knowledge Base (TKB) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), di Grand Royal Panghegar.

    Workshop itu dimaksudkan untuk mencari masukan dan dalam rangka pengembangan TKB. TKB itu apa? TKB itu seperti situs kumpulan peraturan perpajakan yang berjalan di intranet DJP. TKB diharapkan menjadi rujukan bagi para pegawai DJP untuk mendapatkan peraturan yang valid, mutakhir, dan dapat dipercaya.     

    Nah dalam workshop itu kami dibekali tentang praktik manajemen data peraturan perpajakan dari pengelola situs Ortax. Situs ini cukup dikenal bagi para pencari peraturan perpajakan. Saya saja kalau bingung mencari peraturan terkait sengketa persidangan di Pengadilan Pajak selalu mencari di Google dengan menambahkan kata “ortax” sebagai kata kunci tambahan. Semata agar Google dapat langsung menampilkan indek pencariannya dengan Ortax menempati daftar urutan pertama hasil pencarian.

    Itu di hari pertama. Di hari kedua kami dibekali ilmu tentang Knowledge Management (KM) Sederhananya begini KM itu. Misal ada pegawai baru masuk di Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) untuk jadi Petugas Banding. Pegawai ini belajar dari awal semua tentang ilmu-ilmu yang ada di DKB, mulai dari pengetahuan dasar keberatan dan banding, teknik berkomunikasi, teknik beracara di Pengadilan Pajak, dan lain sebagainya. Sampai dia menjadi seorang ahli dan rujukan dari teman-temannya dalam masalah sengketa di persidangan.

    Eeh…tiba-tiba gelombang mutasi menerpa pegawai tersebut. Ya sudah pegawai itu meninggalkan begitu saja DKB dengan membawa semua pengetahuan berharga yang ia miliki yang seharusnya bisa dimanfaatkan optimal di DKB. Inilah yang disebut tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang hanya ada di kepala Sang Pegawai itu yang belum terbagi.

    Pegawai baru yang menggantikan ternyata mulai dari nol lagi untuk bisa seperti pegawai yang pindah itu. Nah, dengan KM itulah tacit knowledge dipecahkan dengan cara berbagi pengetahuan.

    Ohya kami dilatih juga cara membuat matrik “from business strategy to knowledge“, sebuah matrik yang menjabarkan cara agar pengetahuan tentang strategi bisnis bisa didapat dan dibagi. That’s great. Ilmu baru buat saya.

    Satu pertanyaan adalah mengapa perlu ilmu KM pada workshop kali ini? Jawabnya adalah bahwa pengembangan kesempurnaan TKB tidak lain dan tidak bukan juga didapat dari para pegawai DJP sebagai kontributor utamanya. Dan itu hanya bisa dilaksanakan jika semangat berbagi sudah tumbuh. KM menjadi pemantik tumbuhnya semangat berbagi.

    Malamnya ada sesi motivasi dari seorang motivator. Kami diajak untuk sama-sama membuang kotak problem hidup yang ada dalam benak kami, yang dari alam bawah sadar seringkali hal itu menghambat kami untuk bisa sukses. Tentu pada akhir sesi itu kami diajak untuk saling berbagi. Tidak hanya teori, kami diajak untuk merealisasikannya saat itu juga. Semangat berbagi ini berbuah donasi sebesar lebih dari tiga juta rupiah untuk disumbangkan kepada yatim piatu.

**

    Dua setengah jam perjalanan Bandung sampai Tanjung Barat. Kami langsung berangkat jam dua siang selesai shalat jum’at dan makan. Tidak ada acara jalan-jalan bahkan untuk sekadar cari oleh-oleh. Oleh-oleh sudah dipesankan oleh adiknya Ibu Arifah. Jalan-jalan di Bandung mah nanti saja. Cari waktu yang lebih luang. Kami ingin cepat-cepat sampai di Jakarta seperti itu karena tidak mau terjebak macetnya Jakarta di petang hari, apalagi di hari jum’at.

    Workshop kami di hari Rabu dan Kamis sampai larut malam. Sedang di hari terakhir, kami dibatasi sampai waktu check out pukul 12.00 siang. Jadi di pagi hari Jum’at itu kami melakukan finalisasi gagasan untuk TKB serta mempresentasikannya.

    Empat kelompok telah memberikan masukan yang amat berharga buat TKB. Setelah terkumpul semua kami berharap TKB dapat disempurnakan dan diluncurkan segera untuk bisa dipakai oleh seluruh pegawai DJP.

    Yang terpenting untuk tidak dilupakan adalah selayaknya pula para peserta workshop ini untuk menularkan semangat berbaginya kepada teman-teman pegawai DJP lainnya. Karena berbagi itu menakjubkan, berbagi itu untuk menerima, dan berbagi itu membahagiakan. Ayo berbagi!

***

 

 

Riza Almanfaluthi

Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding

dedaunan di ranting cemara

15 September 2012

Sumber gambar dari sini.