TIPS MENULIS: CARI PATOK DUGA


 

Bagi saya membagi “Mel” kepada yang lain melalui jalur pribadi adalah sebuah proses perpindahan ilmu. Dan sungguh saya tak keberatan. Sila untuk ditelaah lebih dalam mengapa “Mel” menjadi yang terbaik pada momen itu. Sila untuk ditiru: gaya bahasa, cara bertutur, dan kejutannya.

Bagi yang sedang belajar menulis, proses meniru adalah sebuah keniscayaan, bahkan jalan mula untuk menemukan gaya menulisnya sendiri kelak. Jadi, seperti banyak penulis profesional sering katakan: carilah benchmarking. Jadikan satu-dua penulis yang disukai menjadi patok duga. Fokus, baca pelan-pelan, dan amati bagaimana mereka menyuguhkan keindahan berbahasa dan bercerita.

image

(Sumber gambar: Deviart art, photo by brianmiller72)

Maka saya menemukan Dahlan Iskan, Goenawan Mohammad, dan Radhar Panca Dahana adalah Istana Sulaiman yang penuh manik-manik dan permata kata-kata. Mereka adalah patok duga. Membaca Dahlan Iskan seperti membaca sebuah kelugasan, selipan humor, masakan tanpa bumbu sastra, tampilan apa adanya. Dan kekuatan yang diberikan selesai membacanya adalah selalu tumbuhnya harapan dan optimisme yang sepertinya mulai pudar ditelan skeptisme akan kondisi negeri. Inilah hebatnya ia.

Lain halnya Radhar Panca Dahana yang bermain-main dengan diksi yang kaya. Sungguh-sungguh kaya. Bagaimana dengan Goenawan Mohammad? Ayo kita tamasya pada keluasan referensi saat membaca catatan pinggirnya, gaya bahasa yang mengilap dan memuisikan itu. Walau ia dianggap bukanlah seorang sastrawan oleh seorang Saut Situmorang.

Selain patok duga, saya mengajak tak henti-hentinya kepada Anda yang ingin belajar mengolah kata untuk segera angkat ‘pena’ sekarang juga, celupkan ia pada tinta hitam, dan tuliskan di selembar kertas putih, tuangkan segala yang dirasa, yang dipikir, di atasnya. Tanpa perlu membuang-buang waktu berpikir tentang si A, si B, si C yang karyanya bisa menjuarai perlombaan, memenangkan penghargaan, ataupun masuk koran.

Tahukah Anda kalau Wolfgang Amadeus Mozart yang musisi dan komponis besar itu menghabiskan 10.000 jam untuk berlatih. Begitu pula Bill Joy, seorang pencipta bahasa pemrograman Java dan pendiri Sun Microsystems menghabiskan lebih dari 10.000 jam juga untuk berlatih membuat program dan menjadikan dirinya dianggap “an American computer scientist” serta menjadi legenda.

Kalau Anda cuma melihat keberhasilan seseorang dari bagaimana ia maju ke panggung menerima penghargaan ataupun kekayaannya yang bertambah, maka sesungguhnya ada yang dilupakan oleh Anda yaitu proses mendapatkannya. Ini seperti Anda yang hanya kagum saat melihat tukang batu berhasil meremukkan batu sebesar gajah pada pukulan yang ke-1000. Anda tidak melihat ada 999 pukulan sebelumnya yang turut menentukan, atau pada pukulan pertamanya. Dan seringkali pukulan pertama itu yang enggan untuk diayunkan. Dengan berbagai alasan tentunya.

Malam ini, saya mengajak Anda yang ingin menjadi penulis hebat untuk: yang pertama, mencari patok duga dan yang kedua, berlatih sekarang juga. Menerima tantangan ini?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih terus belajar dan berlatih

ditulis pertama kali untuk kompasiana.com

di:

http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/02/tips-menulis-cari-patok-duga-506076.html

01 November 2012

tags:

Bottom of Form

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s