Cerita Lari: Menjadi Prajurit Alqutuz



Sejak ditempatkan di Tapaktuan dan mengenal olahraga lari, keterbatasan waktulah yang menghalangi saya untuk mengikuti lomba-lomba lari. Tapaktuan itu jauh kemana-mana. Tapi kali ini, takdir menentukan lain. Akhirnya kesampaian juga buat ikut race di SpecTAXcular 2016. Homely karena yang menyelenggarakan adalah instansi sendiri.

Sebuah even kampanye pajak yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada hari Ahad, 29 Mei 2016 di Jakarta, tepatnya di pelataran parkir barat Sarinah Plaza. Salah satu acaranya adalah lomba lari 5K.

Ini race pertama saya. Momen pertama kali saya untuk bisa mengunjungi Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman dan Thamrin, Jakarta. Juga adalah kopdar pertama saya bersama teman-teman lari di DJP Runners yang seru-seru itu.

Berangkat Jumat malam dari Tapaktuan, sampai Sabtu siang di Bandara Halim Perdanakusumah. Sampai di Citayam Bogor sudah sore. Langsung saya ajak istri dan Kinan untuk pergi ke rumah adik di Jakarta. Malamnya saya carbo loading sambil mengitari seputaran Jalan Wahid Hasyim dan Jalan Cut Meutia, Jakarta.

Baca Lebih Lanjut.

Tembok Besar Cina Buat Mereka


 

 

“Ketika kami tiba di rumah, Ayah menarik bahu saya dan menghadapkan saya ke wajahnya. Dengan suara baritonnya, dia berkata, “Nak, ingatlah ini. Yang penting bukanlah kamu mulai dari mana, melainkan kamu berakhir di mana.”

Seringkali orang dibuat jauh terlebih dahulu untuk merasakan betul nikmat yang besar berupa persatuan  dan perjumpaan. Begitulah adanya saya.  Penugasan yang berjarak ribuan kilometer membuat saya tidak bisa berkumpul dengan keluarga setiap saat. Saya pulang sebulan sekali ke Kota Hujan.

Maka di situlah saya belajar yang namanya kangen yang dendam, rindu yang tak berkesudahan. Kepada istri dan anak-anak tentunya. Anak pertama saya, laki-laki, sudah duduk di kelas 1 SMA. Anak kedua saya, laki-laki juga, sudah kelas 2 SMP di sekolah dan pesantren yang sama dengan kakaknya. Sedangkan si bungsu, perempuan, baru kelas 2 SD.

Saya sadar mereka berada di usia-usia yang membutuhkan panutan. Bukankah kita tahu dari berbagai pakar parenting yang menyatakan bahwa ada lima fase kehidupan saat seorang anak mengalami masa krisis dan ayahlah—mengutip Bendri Jaisyurrahman—pertanda dari Allah yang mampu menyelamatkannya.

Pertama, saat anak mulai masuk sekolah. Kedua, saat anak praremaja. Ketiga, saat remaja. Keempat, saat menjelang pernikahan. Dan kelima, lima tahun pertama usia pernikahan.

Kini, saya tidak berada di sisi mereka pada fase ketiga itu. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu “keep in touch” dengan mereka. Melalui jaringan telepon misalnya.

Tapi kesibukan dan peraturan yang ketat di pesantren tentunya membuat saya tidak bisa bebas menelepon mereka setiap saat. Namun ketika sudah tersambung, mendengar suara mereka saja itu sudah cukup bagi saya. Ini mampu menurunkan tensi tinggi kangen saya.

  Baca Lebih Lanjut.

Pemimpin PADASEBEL


 

Dalam sebuah diskusi di grup Whatsapp yang saya ikuti, seorang kepala kantor pajak pratama di timur Indonesia memberikan pernyataan tentang apa itu pemimpin. Menurutnya pemimpin itu adalah seseorang yang mampu menjadi problem solver, decision maker, source of knowledge, buffer, teladan buat yang dipimpinnya.

Pernyataannya membadai dalam memori saya. Bahkan agar saya bisa mengingatnya dengan sempurna, saya membuat sebuah akronim yang asal bunyi: PADASEBEL. Dan kalau bicara masalah kepemimpinan maka akan banyak teori dan pembahasan. Pembahasan itu sudah pula banyak dituangkan dalam artikel, skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal-jurnal. Maka izinkan untuk kali ini saya bicara masalah pemimpin dalam perspektif saya, pemimpin itu “padasebel.”

Baca Lebih Lanjut

Mereka Berhasil Menurunkan Berat Badannya



Kalau tulisan saya itu ternyata membawa manfaat buat orang lain, saya sudah cukup senang. Beberapa orang yang berhasil menurunkan berat badannya dan terinspirasi untuk menjalani Freeletics serta meniru apa yang saya lakukan memberikan komentar dan pendapatnya.

Dari Muhammad Iman Santosa yang berhasil menurunkan berat badannya dari 97 kg menjadi 83 kg.

Assalamualaikum,wr.wb…blog ini sangat berguna sekali untuk saya…tadinya saya pikir saya doang yg dibilang penyakitan krn berat badan drop krn workout…berat sy dr 97 Kg turun menjadi 83 kg..itu dalam waktu sekitar 4 bulan, tinggi saya 183..saya dibilang sakit gula, stress dll..saya blm sampe 5 minggu…menu latihan pun masih amburadul karna tdk pake coach..alhamdulillah dgn blog ini insaaallah latihan lebih teratur…terimakasih..

Lalu ada dari Evan Chandra yang berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 5 kg dalam dua minggu dari 97 kg menjadi 92kg. Berikut testimoninya.

Baca Lebih Lanjut.

Dari Mereka Saya Belajar Lagi



Above the sky

Pagi itu, lebih dari 30 ribu kaki di atas permukaan laut, awan putih di langit Aceh bergulung-gulung seperti permadani. Cahaya kuning matahari yang baru saja terbit menghiasinya. Memesona saya yang berada di balik jendela Boeing 737-900ER yang menuju Jakarta ini. Ini perjalanan biasa, sekali dalam sebulan dari Tanah Rencong.

Selagi menikmati pemandangan luar biasa itu, saya teringat sesuatu. Sebuah amanah yang harus saya tunaikan segera. Membaca 20 artikel dan menilainya. Sebenarnya, membaca adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa saya tampik saat terbang. Dan ketika lelahnya mendera, maka tidur menjadi obat setelahnya.

Saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya ketika jiwa telah dipenuhi dengan rasa puas terhadap keindahan, akal jernih di pagi hari yang belum tercemari polusi masalah kehidupan, dan badan yang insya Allah senantiasa diberi kesehatan.

Baca Lebih Lanjut.

Ini Soal Bertengkar dengan Istri, Pergilah ke Tempat Ini.


image

Di suatu hari saya pulang ke rumah dalam keadaan letih dan penuh beban. Saya membuka pintu ketika tiba-tiba istri saya menunggu penuh tanda marah dan emosi.

Dia langsung menjejali saya dengan berbagai pertanyaan. Saya tidak bisa menguasai diri, lalu menghadapinya dengan emosi dan marah yang sama.

Malam sudah larut, sementara debat dan marah terus berlanjut sampai menjelang Subuh. (Lama kaliiiiii…). Akhirnya, istri saya mengambil inisiatif meninggalkan rumah dan pergi ke rumah orang tuanya. (Ini seperti lagu jadul. Lagu tahun 90an. Sepertinya lagu Betharia Sonata. Pulangkan saja aku pada ibuku.)

Baca Lebih Lanjut.

UNDER 6 MINUTES!



You may realize it or not, but you were born with great gifts and talents.

Let’s see what you can do every day to unleash your potentials!

~~Someone.

Perjalanan saya ke Bandung pertengahan September lalu tak sia-sia. Selain bertemu banyak orang dalam sebuah Forum Grup Discussion, saya juga bertemu dengan satu lagi orang hebat di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Petuahnya yang terngiang-ngiang di kepala saya membuat perbedaan pada hari minggu (4/10/2015) ini. Ya benar, pagi ini.

Dia pelari handal yang sering mengikuti even lari maraton. Terakhir adalah BII Maybank Bali Marathon 2015 di akhir Agustus lalu. Namanya Bambang Tejomurti. Pemeriksa pajak di Kantor Pelayanan Pajak Madya Bandung. Kesempatan bertemu dengannya saya manfaatkan betul untuk bertanya-tanya tentang pengalaman larinya. Tentunya juga konsultasi.

Baca lebih lanjut.

MY FIRST HALF MARATHON



Di Tapaktuan saya masih ragu bawa sepatu lari atau tidak. Tapi daripada kelamaan mikir akhirnya saya bawa ke Banda Aceh. Kebetulan Senin nanti ada dinas di sana.

Dari Tapaktuan malam hari naik travel Sempati. Di travel saya usahakan sebisa mungkin buat tidur. Alhamdulillah bisa. Jadi insya Allah belum berasa capek walau menempuh jarak 500km-an. Tiba di Banda Aceh jam 7.45 pagi.

Sampai di hotel langsung ganti kostum dan pakai sepatu lari walau belum sarapan. Sayang banget kalau hari Ahad tak dipakai buat lari. Kali ini saya punya tekad buat lari sejauh 21,1 km. Belum pernah mencoba. Paling jauh 15 km, itu pun bulan Maret 2015 lalu.

Setelah pemanasan sebentar dan aktifkan GPS di Garmin langsung lari. Tentu sebelumnya doa dulu buat dikuatkan oleh yang Maha Kuat, Allah swt. Bismillah.

Baca Lebih Lanjut.

Dua Puluh Tujuh Tahun Menanti, Akhirnya Hamil Juga



(Ilustrasi via kabarumat.com)

Banyak saudara kita yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum dikaruniai anak. Doa sudah dipanjatkan dan ikhtiar sudah dilakukan namun tetap saja belum diberikan amanah. Tentu akhirnya hanya dengan sabar kepada ketentuan Allah yang menjadi bekal terakhir orang-orang beriman. Allah Maha berkehendak dan mengabulkan segala doa, 27 tahun menunggu keajaiban terjadi, perempuan ini hamil.

Baca Lebih Lanjut.

Wanita Ini Rela Pulang Pergi Bangkok Solo Bawa Air Susu Ibu Demi Kai


 Gunakan coolerbox ukuran kabin jika berniat on board, untuk menyimpan ASI dan blue ice.
(Dokumentasi Indy)

 

Kalau dulu kita mengenal Risa Fajarwati yang membawa cooler box berisi ASI pulang pergi Jakarta-Wates selama lebih dari setahun di akhir pekan dengan menggunakan kereta api, sekarang kita wajib mengenal perempuan inspiratif satu lagi. Tidak lagi ratusan kilometer yang ditempuh melainkan ribuan kilometer dengan menggunakan moda transportasi udara melewati batas negara.

Wanita kelahiran Solo 27 tahun lalu ini bernama lengkap Nindya Nindita Sari, biasa dipanggil Indy. Ia adalah mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa dari Kasetsart University Bangkok, Thailand. Indy harus meninggalkan anak pertamanya di Solo karena usianya yang belum tiga bulan membuat sang anak tidak boleh terbang.

Baca Lebih Lanjut