Pemimpin PADASEBEL


 

Dalam sebuah diskusi di grup Whatsapp yang saya ikuti, seorang kepala kantor pajak pratama di timur Indonesia memberikan pernyataan tentang apa itu pemimpin. Menurutnya pemimpin itu adalah seseorang yang mampu menjadi problem solver, decision maker, source of knowledge, buffer, teladan buat yang dipimpinnya.

Pernyataannya membadai dalam memori saya. Bahkan agar saya bisa mengingatnya dengan sempurna, saya membuat sebuah akronim yang asal bunyi: PADASEBEL. Dan kalau bicara masalah kepemimpinan maka akan banyak teori dan pembahasan. Pembahasan itu sudah pula banyak dituangkan dalam artikel, skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal-jurnal. Maka izinkan untuk kali ini saya bicara masalah pemimpin dalam perspektif saya, pemimpin itu “padasebel.”

Problem Solver

Sebagai seorang problem solver, pemimpin tak akan lari dari masalah. Ia akan melihat permasalahan dari berbagai sisi, berusaha mengetahui akar permasalahannya, berusaha menemukan hal-hal yang akan membantu atau menyulitkan jalan membuka permasalahan, serta memberikan pemecahan masalah dari berbagai sisi. Ia akan ambil risikonya.

Kalau jadi pemimpin itu pasti banyak masalah. Kalau tak mau memecahkan masalah jangan jadi pemimpin. Colin Powell pernah bilang, “Leadership is solving problems. The day soldiers stop bringing you their problems is the day you have stopped leading them. They have either lost confidence that you can help or concluded you do not care. Either case is a failure of leadership.

 

Decision Maker

Pemimpin itu harus membuat keputusan. Seberapa pun sulit dan rumitnya keputusan itu dibuat. Tak bisa ia bersembunyi dan menyuruh orang lain membuat keputusan. Sedangkan ia cukup bilang, “Saya ikut saja.” Wajar pemimpin itu salah dalam mengambil keputusan, karena dari kesalahan-kesalahan itu ia berusaha memperbaiki diri dan belajar dari kesalahannya.

Dan kita mengakui bahwa setiap keputusan mempunyai berbagai konsekuensi. Konsekuensi inilah yang ia harus ambil terkait dengan alokasi sumber daya, keterbatasan informasi, dan konflik di dalam organisasi. Pemimpin juga harus mampu menyeimbangkan antara pelibatan yang dipimpin dalam pengambilan keputusan dan  efektifitas pengambilan keputusan itu sendiri.

Peraih Nobel untuk Perdamaian tahun 2014 dari Pakistan, Malala Yousafzai, pernah berkata, “It is very important to know who you are. To make decisions. To show who you are.” Siapa dan apa diri kita adalah pada saat mengambil keputusan.

 

Source of Knowledge

 Untuk efektifitas pekerjaan maka pemimpin harus memiliki pengetahuan. Memang tidak semua informasi harus dikuasai oleh pemimpin. Mereka harus tetap bisa menyaring. Setidaknya seorang pemimpin minimal mengetahui apa core business dari organisasinya sehingga dengan demikian ia bisa menentukan prioritas tindakan yang diambil.

Pemimpin adalah sumber pengetahuan dalam organisasi. Ia tahu kekuatan dan kelemahan dirinya, memahami budaya organisasi, dan tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan efektif dan efisien. Dengan ini pemimpin memiliki kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan dirinya sehingga tidak cenderung mendominasi ide dan dukungan untuk kepentingan pribadinya. Ia berusaha mendengar masukan dan pandangan dari sudut yang berbeda.

Yang celaka adalah ketika pemimpin merasa dirinya paling dan benar dan pendapatnya tidak boleh dibantah. Kalau sudah demikian tinggal menunggu waktu saja penyakit yang bernama kegagalan berkreasi dan berinovasi dalam organisasi menggejala.

Albert Einstein pernah berkata, “the only source of knowledge is experience.” Maka wajar jika kita secara naluriah memilih pemimpin yang memiliki pengalaman banyak dalam bidangnya agar ia menjadi sumber pengetahuan dalam organisasi.

Buffer

Pemimpin itu penyangga organisasi. Entah buat organisasi itu sendiri sebagai suatu badan atau buat yang dipimpinnya. Jika diibaratkan dengan rumah, maka penyangga haruslah kuat. Tidak boleh lemah dan rentan. Karena banyak elemen rumah yang menyandarkan pada dirinya. Jika tidak, maka tunggu saja keruntuhannya.

Contoh sederhana dalam keseharian di kantor kita, jika seorang kepala kantor memarahi kepala seksi, maka kepala seksi tidak lantas memarahi pelaksananya. Atau jika ada “serangan” dari luar, kepala seksi berfungsi sebagai “the protector”. Mengutip perkataan seorang teman, pemimpin ini seperti atmosfer yang menahan cahaya matahari ke bumi.

Yang tidak wajar dan dibenci dari yang dipimpinnya adalah ketika pemimpin malah tidak berdiri di depan saat prajurit membutuhkan jenderal perangnya maju membantu mereka. Bahkan lari terbirit-birit ke belakang.

Kalau melihat sisi yang lain maka kunci kekuatan pemimpin sebagai penyangga itu ada di keadilannya. Maka manusia mulia Muhammad saw, pernah berkata, “Dunia ditegakkan dengan empat hal: ilmu para ulama, pemimpin yang adil, kedermawanan orang-orang kaya dan doa orang-orang fakir (HR. Bukhari).” Keadilan itulah menjadi penyangga buat seorang pemimpin, untuk yang dipimpin dan organisasi yang dikendalikannya.

Adil itu adalah ketika ia mampu bersikap yang sama untuk dirinya sendiri dan kepada yang dipimpinnya. Sayangnya, memang tidak mudah untuk menjadi pemimpin yang adil. Tapi memang harus demikian adanya. Karena kezaliman sebagai lawan dari keadilan akan membuahkan doa-doa yang tidak putus dari mereka yang terzalimi. Dan doa bawahan yang dizalimi senantiasa mustajab. Pemimpin, waspadalah.

 

Teladan

Pemimpin itu seharusnya menjadi sumber inspirasi keteladanan buat yang dipimpinnya. Sebuah proverb mengingatkan kita seperti ini: “Satu teladan lebih berdampak daripada seribu komentar.” Ini benar adanya. Keteladanan itu menggerakkan. Keteladanan itu sebuah perisai seorang pemimpin dari orang-orang yang pekerjaannya mencari-cari kesalahan.

Peradaban timur dan barat sudah sepakat tentang hal ini, bahwa pemimpin itu memang harus menunjukkan keteladanan. Yang dipimpin bisa menjadi cerminan pemimpin suatu organisasi. Jangan berharap bawahan akan bersikap yang diinginkan jika pemimpin tidak menunjukkan keteladanan itu. Saya tidak perlu menulis lebih banyak lagi di sini.

Akhirnya, selamat menjalankan peran sebagai pemimpin. Pemimpin yang PADASEBEL tentunya. Ini baik daripada disebelin oleh bawahan bahkan sesama.

 

***

Riza Almanfaluthi

Tapaktuan, 11 Oktober 2015

 

Artikel ini dimuat di Majalah Internal Kantor Wilayah DJP Aceh PINTOE ACEH Edisi Desember 2015

Sumber Gambar:  newimgbase.com

Advertisements

2 thoughts on “Pemimpin PADASEBEL

  1. Wah…sangat menginspirasi…khususnya yang “Leadership is solving problems. The day soldiers stop bringing you their problems is the day you have stopped leading them…saya sedang mengalami ini terhadap atasan saya..sangat menyebalkan sekali…

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s