Pemimpin PADASEBEL


 

Dalam sebuah diskusi di grup Whatsapp yang saya ikuti, seorang kepala kantor pajak pratama di timur Indonesia memberikan pernyataan tentang apa itu pemimpin. Menurutnya pemimpin itu adalah seseorang yang mampu menjadi problem solver, decision maker, source of knowledge, buffer, teladan buat yang dipimpinnya.

Pernyataannya membadai dalam memori saya. Bahkan agar saya bisa mengingatnya dengan sempurna, saya membuat sebuah akronim yang asal bunyi: PADASEBEL. Dan kalau bicara masalah kepemimpinan maka akan banyak teori dan pembahasan. Pembahasan itu sudah pula banyak dituangkan dalam artikel, skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal-jurnal. Maka izinkan untuk kali ini saya bicara masalah pemimpin dalam perspektif saya, pemimpin itu “padasebel.”

Baca Lebih Lanjut

PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT


PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

071814_0401_PATRIOTISME1.jpg

“War costs money”

Franklin D Roosevelt, Januari 1942

Wajahnya kusut tapi dengan senyum yang tak pernah lepas. Kumis yang menyambung dengan jenggot di dagu. Penampilannya tidak seberapa tinggi. Berkulit coklat. Umurnya mendekati lima puluhan. Laki-laki itu membawa secarik kertas datang ke ruangan Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Saya menyambut dengan tangan terbuka, menjabat erat tangan, dan mempersilakan duduk untuk menjelaskan maksud kedatangan.

Ia warga Tapaktuan. Pemilik sebuah CV yang sudah lama bangkrut. Sekarang hanya mengandalkan bisnis fotokopi. Jauh dari kondisi jayanya pada tahun 2008 ke bawah sebagai penyuplai kebutuhan kantor. Rumahnya sudah diberi plang oleh sebuah bank. Ternyata ia tiba untuk memenuhi undangan kami. Sedianya ia diminta datang membahas penyelesaian utang pajaknya pada hari Selasa pekan depan, namun dikarenakan ia punya urusan di hari itu, Rabu pekan ini ia sempatkan diri memenuhi panggilan.

“Saya tahu Pak saya masih punya utang. Dan saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan atau penghapusan. Saya akan tetap bayar semuanya. Tapi tidak bisa sekarang. Mohon kesempatannya untuk bisa mencicil,” katanya menjelaskan. “Saya tidak mau punya utang kepada siapa pun. Utang kepada orang lain ataupun kepada negara. Saya tak mau mati membawa utang. Setiap utang akan diminta pertanggungjawabannya,” tambahnya lagi.

Baca Lebih Lanjut