RIHLAH RIZA #31: SHAHRUKH DAN LIANG KUBUR


RIHLAH RIZA #31: SHAHRUKH DAN LIANG KUBUR

 

 

Shahrukh Mirza adalah anak keempat dari Timur Lenk, penakluk besar Asia. Selama 42 tahun kekuasaannya, Shahrukh berhasil mempertahankan dinasti Timurid dari perpecahan dan kebangkrutan. Di Herat, pusat pemerintahannya, ia mengumpulkan para cendekiawan untuk menjadikan kota itu sebagai corong peradaban Islam. Ia membangun perpustakaan besar untuk mendukung keilmuan. Kegiatan ilmiah dan perekonomian pun akhirnya berkembang pesat.

**

Kalau sudah hari Jumat, mess ini harus sudah siap-siap ditinggalkan penghuninya. Kebanyakan teman-teman satu mess pulang ke Medan atau Pekanbaru. Lengkap sudah sepi yang saya rasakan di Tapaktuan kalau kebetulan pas saya tidak pulang ke Citayam. Salah satu kegiatan yang biasa saya lakukan untuk membunuh sepi ini adalah dengan membaca buku. Tidak banyak buku yang saya bawa dari Citayam ke Tapaktuan ini. Namun internet memudahkan semuanya, ketika tidak ada lagi buku yang belum dibaca, mengunduh ebook menjadi jalan satu-satunya agar saya dapat terus membaca buku.


Sedikit buku itu (Foto koleksi pribadi).

 

Kebetulan membaca buku sudah menjadi tradisi keluarga kami. Profesi bapak saya yang mendukung tradisi itu. Salah satu profesi bapak adalah penjual majalah bekas, novel, dan teka-teki silang. Bapak beli majalah, buku, dan TTS itu di Pasar Senen, Jakarta. Otomatis sejak kami kecil kami sudah terbiasa membaca. Dari mulai majalah anak-anak, remaja, sampai ibu-ibu. Sampai sekarang saya masih ingat tentang sebuah cerita pendek yang biasa menjadi sisipan di majalah ibu-ibu. Saya lupa nama majalah itu, entah Femina, Kartini, atau Kartika atau yang lainnya. Garis besarnya demikian.

Ada seorang pemuda berkenalan dengan seorang perempuan di sebuah taman. Setiap hari mereka bertemu di sana. Sampai kemudian timbul benih-benih cinta di antara mereka berdua. Tapi tidak berapa lama perempuan itu menyatakan dengan sebenarnya kepada sang lelaki kalau hubungan ini harus diakhiri. Tidak bisa diteruskan. Cerita yang dituturkan dari pihak lelaki ini berakhir dengan sebuah kenyataan, sang lelaki harus menerima bahwa cinta yang mulai tumbuh ini kandas di tengah jalan karena perempuan itu sebenarnya adalah banci.

Tahun delapan puluhan masih belum ada majalah islami. Jadi jangan harap ketemu majalah Sabili dan Annida di lapak dagangan bapak. Dua majalah ini baru saya baca sewaktu kuliah di STAN bertahun-tahun kemudian. Pun, majalah Panji Masyarakat sebagai majalah islami yang penyebarannya paling luas saat itu tidak menjadi barang dagangan bapak, mungkin karena peminat dan pembelinya sedikit.

Membaca itu jendela dunia. Bisa tahu semua. Bisa tahu apa saja. Bukannya sombong, guru geografi di SMP sampai bosan melihat saya yang selalu pertama kali mengacungkan tangan setiap ada pertanyaan yang diajukannya. Kalau pak guru itu tahu, majalah intisari bekas inilah yang sebenarnya menjadi bacaan yang bergizi buat saya saat itu sehingga mampu menjawab pertanyaannya.

Bapak juga pembaca buku. Ada buku yang menjadi kitab wasiatnya. Selalu dibaca terus menerus walau sudah berulang kali khattam. Buku yang sudah lapuk dan menguning. Ditulis oleh Dale Carnegie yang berjudul Bagaimana Menghilangkan Cemas & Memulai Hidup Baru. Buku yang harus dijaga hati-hati oleh kami dan jangan bergeser dari tempatnya ditaruh kecuali oleh dirinya sendiri. Kalau tidak, seisi rumah akan dimarahinya. Sayang buku itu terbakar habis bersama kamar yang ditempati bapak waktu kejadian kebakaran rumah saya di tahun 2010 lalu.

Buku Carnegie ini menjaga pikiran bapak agar tetap positif. Saya menyetujuinya. Waktu kecil dulu saya sudah baca buku itu sampai habis. Puluhan tahun kemudian, di Tapaktuan ini, saya bawa dan baca buku yang ditulis oleh Dale Carnegie Associate. Sudah pernah saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya. Buku sejenis lainnya adalah bukunya ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni yang berjudul Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi.

Mau tidak mau buku tersebut menjaga dan membawa nilai-nilai positif buat saya. Berusaha untuk tidak berburuk sangka, dendam, putus asa, benci, cemas, dan takut. Selalu bekerja dengan lebih baik dan berusaha sebarkan kebaikan karena saya yakin kebaikan itu akan datang kembali kepada saya dengan energi yang lebih besar lagi. Terpenting lagi adalah berusaha mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan begitu banyak kepada saya. Puas dengan apa yang diberikan Allah membuat kita menjadi orang yang terkaya di dunia. Inilah yang disebut saya, di Tapaktuan ini, di sebuah tempat yang jauh dari orang-orang yang saya cintai, sebagai upaya menjaga nalar tetap positif.

Tapi menurut saya tidak berhenti di situ, semata menjaga nalar positif, melainkan perlu juga menjaga amal tetap positif. Ketika waktu berlebih dan beban kerja tidak sedahsyat di Jakarta, sudah semestinya kalau amal-amal yang terkait dengan ruhiyah tetap juga pada kuadran positif. Maka bacaan yang sangat menunjang itu adalah Kitab Hadis Riyadhus Shalihin yang ditulis oleh Imam Nawawi. Kitab yang direkomendasikan para ulama untuk dapat dimiliki oleh setiap keluarga muslim. Membacanya pun perlu trik. Tak perlu sekaligus dibaca, melainkan baca satu hadis dalam sehari namun konsisten membacanya. Renungi lalu amalkan.

Ah, terlalu banyak cakap awak ini. Tapi memang inilah obat sepi saya dalam kesendirian. Benar, karena dalam kesendirian ada keinsafan dan kesadaran. Kesadaran tentang bahwa kita nanti pun akan sendiri. Sendiri dengan sebenar-benarnya sendiri. Siapa coba yang akan menemani kita kala dipendam dalam tanah nanti? Almutanabbi, pujangga Arab, pernah mengatakan, “Tempat duduk yang paling mulia di dunia ini adalah pelana kuda. Dan teman yang paling baik sepanjang zaman adalah buku.”

Tapi saat itu, bukan buku lagi sebagai teman melainkan amal. Yang baik atau yang buruk? Itu tergantung dari apa yang kita kumpulkan selama hidup. Amal baik itu menjelma menjadi sosok rupawan yang akan menemani kita di liang kubur sampai kiamat tiba. Tapi sebaliknya amal buruk itu menjelma menjadi sosok buruk rupa dan bau yang kita pun akan jijik didekatinya.

Sebuah syair Arab menyatakan, “Untuk medan pertempuran, prajurit-prajurit telah diciptakan baginya, dan bagi buku, penulis dan penyairlah tempatnya. Shahrukh sebagai penakluk bekerja di atas pelana kuda mengarungi medan pertempuran untuk dapat mempersatukan kembali wilayah yang pernah digenggam bapaknya. Al-Mutanabbi dan al-Hasan al-Lu’lu’i telah disediakan buat mereka buku sebagai temannya. Untuk liang kubur, saya atau kita telah disiapkan baginya. SOS, siapa teman sejati yang akan menemani kita? Amal baik atau amal buruk?

Karena dalam kesendirian ada keinsafan dan kesadaran.

 


Patung dada Shahrukh Mirza (Wikipedia).

 


The Great Arab Poet, Abu al Tayyeb al Mutanabbi (Gambar dari sini)

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 Maret 2014

RIHLAH RIZA #30: LO SIENTO


RIHLAH RIZA #30: LO SIENTO

 
 

 
 

“Aku nyari duit seharian. Kamu di rumah aja seharian.

Rumah berantakan. Ngapain aja kamu??!!”

(Sajak suami pulang dari kerja)

 
 

Kereta rel listrik (KRL) sore ini benar-benar membuat badan saya rontok. Penumpang begitu berjubel dan berhimpit-himpitan di gerbong yang saya naiki. Pendingin udara sepertinya tidak berfungsi. Hawa panas nafas para penumpang menyebar kemana-mana. Hatta jendela KRL sudah dibuka untuk memberikan kesempatan aliran udara segar dari luar masuk. Keringat pun bercucuran. Baju sudah tidak karuan lagi lusuhnya. Pun harus bertenggang rasa kepada sesama penumpang lain yang tidak mau kesenggol sedikit saja. Perjalanan satu jam ini berasa satu abad. Capek dan lelah sekali rasanya. Lahir batin.

Dan inilah yang harus saya dan kebanyakan penumpang KRL dari Bogor dan Depok terima setiap harinya. Walau kebanyakan dari kami memaki-maki layanan kereta ini tetapi tetap saja kami membutuhkan dan menaikinya terus menerus. Karena mau tidak mau KRL adalah satu-satunya angkutan yang paling efisien mengantarkan kami berangkat dan pulang kerja.

Saya turun di Stasiun Depok Baru. Lalu menuju ke tempat penitipan motor. Saya menaiki motor ini pelan-pelan menuju rumah. Dengan mengendarainya saya merasakan angin petang yang mampu membuat panas tubuh berkurang. Nyaman. Pun, saya sudah membayangkan sampai rumah nanti saya ingin istirahat dulu sebelum bermain dengan anak perempuan yang paling cantik sedunia itu.

Lima belas menit kemudian saya sudah membuka pagar rumah. Pintu rumah tidak terkunci. “Assalaamu’alaikum,” saya ucapkan salam sebagaimana kebiasaan di rumah ini. Terdengar jawaban salam dari dalam kamar. Istri saya masih di dalam kamar rupanya. Saya memandang sekeliling ruang tamu lalu beranjak ke dapur. Semua sama keadaannya, berantakan. Tidak ada barang yang berada di tempatnya. Piring-piring kotor masih menumpuk.

Belum sempat mengganti baju saya membereskan semua yang berantakan ini. Tapi ada yang memuncak di kepala. Kejengkelan. “Ngapain saja di rumah??!!” sebuah tanya dalam hati. Tak lama ruang tamu sudah beres. Sekarang gilirannya dapur. Saya akan cuci semuanya.

“Ayah…” suara lembut dari pintu dapur menghentikan sejenak pekerjaan saya. “Besok saja yah. Biar Bunda saja yang nerusin nyucinya.”

“Tanggung,” jawab saya tanpa menoleh.

“Ayah sudah makan?”

“Nanti.”

Semua datar.

**

Sudah jam sepuluh malam. Saya duduk di meja makan. Mengambil nasi, sayur bening, dan potongan daging serta ceker ayam sebagai lauknya. Selera saya sebenarnya sudah hilang. Tetapi ini bukan karena kejengkelan itu melainkan penyesalan yang menyergap saya setelah kejadian petang tadi.

Saya mengambil hp dan menekan ikon aplikasi Whatsapp. Saya akan menghubungi seseorang. Ada tulisan “online” di bawah namanya. Jam segini ia belum tidur.

“Belum tidur?” tanya saya memulai percakapan.

“Belum.”

“Aku habis berantem sama istri. Aku menyesal.”

“Ya tidak apa-apa. Namanya juga suami istri. Itu bumbu rumah tangga. Yang penting kamu jangan main tangan. Diam saja deh.”

“Tadi sudah aku peluk waktu dia ngelonin anak.”

“Alhamdulillah. Itu bagus. Sudah minta maaf belum?”

“Aku yang suka ngomel. Istri malah yang diam saja.”

“Jangan begitu. Kasihan…”

“Aku malas lihat rumah berantakan. Jadi aku ingin beresin semua langsung. Aku jengkel. Tapi setelah itu aku kasihan. Aku menyesal. Sekarang aku lagi makan sayurnya.”

Tiba-tiba ada sebongkah penyesalan yang datang kembali menghimpit dada saya ketika chat ini berlangsung. Saya hentikan sejenak chat ini.

“Aku mau peluk istri dulu yah. Aku jahat soalnya. Aku sedih,” tulis saya kembali di layar.

Beberapa menit kemudian saya sudah memegang kembali hp dan meneruskan chat.

Terlihat ia merespon kalimat terakhir saya tadi.

“Bagus. Peluk dia.”

“Sudah tidur. Aku peluk, cium, dan selimuti istri dan anakku,” lanjut saya.

“Subhanallah.” Ada tanda jempol. “Lo Siento.”

“Apaan tuh?”

“Bahasa spanyol. Artinya forgive me. Peluk itu tanda permintaan maafmu padanya.”

“Aku lagi nerusin makan nih. Aku masih hilang selera.”

“Habiskan.”

“Sudah kenyang tinggal kuah doang. Kamu mau?”

Tanda senyum muncul darinya di layar.

“Tadi istriku waktu mencegahku mencuci, meletakkan anakku di lantai. Dan aku buru-buru mengangkatnya agar dia jangan duduk di lantai.”

It’s very nice.”

“Nah pas momen angkat anak itu aku mulai ingin menangis dan memeluk anakku sambil bilang anakku maafkan aku. Aku tuh seharusnya tadi main-main saja sama anakku karena seharian tidak bertemu.”

I am all ears.”

“Kadang kalau aku lagi mood baik, aku yang mencuci kaki tangan dan cebok kalau anakku mau tidur.”

“Aku ingin mengatakan satu hal kepadamu.”

“Apa?”

“Maafkan apa pun kesalahannya. That is it. Dan jangan ragu pula untuk bilang Lo Siento kepadanya.”

“Kayaknya tidak ada deh kesalahannya. Akunya saja yang sok perfectionist. Bayangkan saja rumah tanpa asisten, anak 10 bulan yang lagi aktif banget, menyempatkan menyetrika, masak, bikin makan anak, memandikan dan aktifitas lainnya yang tidak boleh mata meleng lihat anak. Aku yang salah.”

Great.”

“Pernah suatu ketika, di pagi hari sebelum aku berangkat kerja aku tanya padanya, “Bunda capek?” Dia bilang tidak.”

Good.”

**

 
 


Maafkan aku…

 
 

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan penuh keberanian. Karena dengan itu ia berani mengakui segala salah. Ia merendahkan dirinya bahwa ia tak sepatutnya melakukan itu. Di zaman dunia penuh para Sengkuni maka jalan keberanian ini jarang ditempuh. Mereka menyelamatkan dirinya masing-masing. Hanya para ksatria yang mau dan mampu melakukannya.

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan para suami keren. Karena dengan itu ia mengakui bahwa dirinya tanpa istri bukanlah apa-apa. Bukan siapa-siapa. Istri itu “separuh aku”. Istri itu yang membuat Habibie bilang, “jiwa saya kehilangan sebelah” ketika Ainun meninggalkannya. Apalagi wujud lo siento itu termanifestasikan dengan sebuah peluk. Memeluknya ketika tidur. Menyelimutinya. Dan menaburkan doa-doa di atas kepalanya. Ini benar-benar keren. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya,” kata Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan menyamakan nada agar bisa seirama dan membuat harmoni. Ini membuka lebar pintu terurainya permasalahan. Karena tidak ada ego yang meninggi. Maka ketika lo siento terucap masak sih tidak ada pemaafan? Lalu ketika sama-sama sudah mulai reda segala, mulailah muncul keinginan agar “kehidupan sebelum kesalahan itu terjadi” kembali. Di peradilan Amerika Serikat, pengingkaran terhadap kesalahan akan memperberat hukuman. Namun ketika ia mengakui kesalahan, setidaknya akan ada keringanan yang muncul.

Lo Siento. Maafkan aku. Adalah jalan menyayangi istri. Selamanya. Tak perlu ngambek, moody, jengkel. Lelaki sudah banyak salahnya, apakah mau menambah kesalahan ini dengan kesalahan-kesalahan lain? Sudahlah. Apa pun ia maafkan saja. Dan mulailah dengan mengucapkan lo siento kepadanya. Karena kamu lelaki bukan banci.

**

“Oke Za, terima kasih ya. Malam-malam sudah mendengarkanku,” kata saya mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“It’s ok no problemo.”

“Kamu di Tapaktuan kan sekarang?” tanya saya.

“Saya sedang di Banda Aceh. Insya Allah ada pernikahan anak kepala kantor besok.”

“Ok Riza, terima kasih ya. Assalaamu’alaikum,” tutup saya mengakhiri chat ini.

“Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.” Ada jempol empat di belakangnya.

Beberapa saat kemudian tampak di layar Whatsapp teman saya: Riza Almanfaluthi, last seen today 22:24.

 
 

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9 Maret 2014

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

  

RIHLAH RIZA #29: UZLAH DI MENARA


RIHLAH RIZA #29: UZLAH DI MENARA

 

Kita sama melebur menghancur jumawa diri

Kita melebur di titik nol: puncak sunyi diri sendiri.

(Nanang Cahyadi, Kosong)

Ahad pagi, saat langit Tapaktuan masih kelabu, ketika laut di depan mess masih berwarna hitam, sewaktu jarum jam sudah menunjuk angka tujuh. Saya ikatkan dengan kencang tali sepatu olahraga yang jarang dipakai ini. Sambil jalan kaki mengisi hari libur, niatnya saya ingin pergi ke suatu tempat, bukit yang bernama Gunung Lampu.

Gunung Lampu ini tempat situs tapak kaki raksasa Tuan Tapa berada. Tapi saya tidak akan ke sana. Saya akan pergi ke puncak tertingginya. Tempat banyak menara. Menara yang sering dijadikan tempat bertengger elang laut setelah berburu mangsa. Waktu kunjungan pertama ke situs tapak raksasa itu bersama teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh saya tidak sempat menaikinya.

Kali ini saya memang tekadkan untuk pergi ke sana. Untuk apa? Tentu sekadar melihat keindahan kota Tapaktuan dan samudra dari ketinggian. Bukan untuk menerjunkan diri dengan sebebas-bebasnya. Lalu judul headline macam mana pula di koran lokal sini bila yang terakhir terjadi? Lagi, Pegawai Pajak Stres Bunuh Diri. Na’udzubillaahimindzalik.

Jalan kaki dari mess menuju kaki bukit ini sudah cukup membuat berkeringat. Dari kaki bukit saya menyusuri jalan setapak yang sudah di semen. Sampai akhirnya menemukan sebuah persimpangan. Jalan setapak lurus akan menuntun kita ke jejak Tuan Tapa, sedangkan kalau ke kanan maka akan ke puncak Gunung Lampu. Perlu upaya keras lagi ketika menyusuri jalan setapak yang meninggi dengan kemiringan hampir 45 derajat ini.

Dedaunan kering memenuhi jalan setapak, pohon-pohon dengan daun yang menguning dan terbakar memenuhi ruang pandang. Sebagian pohon masih hidup dan hijau, tempat burung-burung entah apa namanya terbang bergerombol ketika saya berada di bawah melewati sarang mereka. Keberadaan saya mengusik mereka.

Di tengah perjalanan saya berhenti sejenak, duduk di anak tangga, dan memandang sekitar. Hening mendominasi. Sesekali terdengar kicauan burung dan debur ombak di bawah sana. Saya tidak cukup terlena dengan pemandangan yang ada. Akan banyak keindahan yang tersaji di atas sana. Tak seberapa lama kemudian saya sudah sampai di ujung anak tangga paling tinggi. Di sinilah tempatnya. Tapi saya tidak berhenti sampai di sini.

Saya menuju menara bercat putih setinggi kurang lebih 30 meter itu. Tapi ini tidak mudah karena harus menyusuri jalan setapak tanah dengan ilalang setinggi dada. Tak berapa lama, saya sudah berada di bawah menara. Di samping menara ada sebuah bangunan yang sudah rusak. Di atas bangunan tersebut berdiri menara lain yang sudah rusak dan berkarat.

Bukan menara itu yang ingin saya naiki. Tapi menara di atas kepala saya ini. Menara yang bercat putih. Seperti tempat tandon air di rumah-rumah namun untuk yang ini dalam ukuran raksasanya. Berdiri kokoh menjulang menusuk langit tapi belumlah setinggi menara BTS. Di pucuknya ada lampu stadion berwatt tinggi yang tak tahu apakah masih berfungsi atau tidak.

Saya kemudian menekadkan diri menaiki menara. Sepertinya tak perlu tinggi-tinggi dulu pada pengalaman pertama. Jadi saya cuma bisa sampai di bordes pertama saja. Bordes adalah tempat mengistirahatkan kaki sejenak ketika menaiki tangga. Mungkin ketinggiannya berkisar lima meter saja dari permukaan puncak Gunung Lampu. Tapi ini sudah membuat saya gamang. Karena terlihat betapa jauhnya permukaan laut dari atas sini.

Umur yang sudah tidak muda lagi, otak kiri yang mendominasi, suara guntur yang bersahut-sahutan, menahan langkah kaki menuju bordes berikutnya. Nyali saya kalah jauh dari Rika Adriana, gadis Pontianak, yang menaiki menara BTS setinggi 75 meter untuk melihat keindahan Bumi Laskar Pelangi di Gantung, Belitong. Padahal ketika di sekolah dasar pun, saya bersama teman bernama Rica masih bisa tidur-tiduran di puncak tertinggi menara PDAM Jatibarang. Menikmati matahari pagi dan melihat pemandangan Kali Cimanuk. Masih berani.

Papan besi bordes berukuran 50 cm x 100 cm dengan pegangan setinggi pinggang menahan saya jatuh ke bawah. Di sinilah saya berdiri dan lama memandang sekitar. Memerhatikan pelabuhan dari jauh, perahu di tengah laut, rumah-rumah di tengah kota, dan pantai di sebelah utara. Saya menunggu elang laut itu, yang ternyata tidak pernah datang.

Menuju puncak butuh keberanian dan tekad yang kuat. Tekad kuat mendorong orang untuk berani melangkah ke depan dan ini beda tipis dengan jumawa. Karakter terakhir akan menjerumuskan orang ke dalam jurang kehancuran. Karena semakin naik ke atas hambatannya semakin besar. Gravitasi, angin, kegamangan adalah contohnya. Sepertinya menuju ke atas pun harus bersama dengan yang lain. Tidak bisa sendiri, karena butuh orang yang senantiasa menguatkan kita untuk terus naik menggapai asa yang menggantung. Butuh pula orang yang berani menjadi tolok ukur ketika kita hanya bisa menjadi pengikut. Suatu saat kelak saya akan bersama teman untuk menuju puncak menara ini.

Langit masih kelabu. Ada hening yang menguasai di sini. Ini menenteramkan. Lalu setelah lama menatap keindahan alam dari atas ketinggian, saya putuskan untuk turun dan pulang. Uzlah (mengasingkan diri dari keramaian) ini harus segera diakhiri. Kantung bahagia saya sudah penuh. ‘Aid alQarni pernah bilang kalau aroma yang harum mewangi, makanan lezat, dan pemandangan yang membangkitkan pesona akan membawa penerangan dan kebahagiaan pada jiwa. Insya Allah.

Bagi mereka yang suntuk dengan rutinitas yang membosankan, keramaian yang melalaikan, mari pergi dari sana, menyepilah. Rihlahlah. Beruzlahlah. Pergilah ke tempat indah. Nikmati dan rasakan bahagia itu memenuhi aliran darah.

Sudilah kiranya, di akhir ini, saya seorang hamba bertanya kepada Tuan dan Nyonya, “Akan uzlah kemana setelah ini?”

 

Menara putih di atas Gunung Lampu yang gambarnya saya ambil beberapa waktu lalu. (Foto koleksi pribadi).

 

Ini jalan setapaknya (foto koleksi pribadi).

 

Lagi, jalan setapak itu (foto koleksi pribadi).

 

Pelabuhan Tapaktuan dari ketinggian di bordes pertama menara putih (Foto koleksi pribadi).

 

Sisi pantai di utara dilihat dari kejauhan (Foto koleksi pribadi).

 

Puncaknya masih jauh (Foto koleksi pribadi).

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 2 Maret 2014

RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA


RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA

 

Dengarlah apa yang digemakan dari jauh, apa yang disuarakan dari bawah. Sesungguhnya kekuasaan tidak akan pernah abadi.

**

Tubagus sedang bahagia kali ini. Keluarganya sudah menyiapkan beraneka macam seserahan yang akan diberikan kepada keluarga anak gadis yang akan dilamarnya. Ia sudah membayangkan akan memperistri kekasih yang teramat dicintanya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Berita lamarannya sudah tersebar ke seantero kampung. Hatinya berbunga-bunga serupa tujuh macam kembang di taman balai diklat keuangan di sebelah rumahnya yang dirawat dengan telaten. Otaknya penuh hanya dengan nama si gadis.

Sehari sebelum D-day, ada berita dari si gadis yang sangat mengejutkan. Si gadis meminta Tubagus untuk membatalkan lamaran, karena ia tidak akan pernah menikah dengan Tubagus. Jadi, mengapa harus melakukan hal yang sia-sia dengan tetap memaksakan datang melamar. Tubagus terkejut, ia berusaha mencari alasan mengapa sang pujaan hatinya tiba-tiba 180 derajat menolak dirinya. Tapi komunikasi sudah ditutup oleh si gadis dan keluarganya. Keluarga besar Tubagus kecewa apatah lagi dirinya. Malu. Menyakitkan.

Tubagus menarik diri dari pergaulan. Ia menelan malam dan siang dengan mulut kesendiriannya. Ia mengurung di kamar. Jarang keluar. Keluarganya prihatin dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berusaha untuk tidak menyerah kepada lelah dengan tetap memberikan nasihat buat Tubagus. Sampai hari-hari yang panjang itu berakhir ketika ia menjelma menjadi tokoh yang ditulis oleh Mawlana Hakim Nizhami: Qais. Qais yang tak akan pernah bisa memiliki cinta Laila. Ingatannya lumpuh. Ah, ini klise. Tapi nyata adanya.

Tubagus mengalami gangguan stres pasca trauma. Ia gila. Ia menggelandang pergi ratusan kilometer dari rumahnya. Terakhir ia terlihat di sudut Jakarta. Rambut gimbal, kulit menghitam, kain tanpa bentuk yang masih menutupi auratnya, aroma tiada tara.

**

Orang gila terpisahkan dunianya dari kegiatan dan urusan orang-orang waras. Ia sudah tidak bisa dibebani lagi dengan urusan ibadah. Karena salah satu syarat ibadah adalah sehat akalnya atau tidak gila. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak kecil hingga ia besar.” (HR. Abu Dawud).

Sebagian orang waras melecehkan dan menyingkirkan mereka. Padahal berdasarkan perkataan Nabi Saw sesungguhnya orang yang waras pun bahkan bisa gila dengan sebenar-benarnya gila. Ustaz Nandang Burhanuddin dalam sebuah tulisannya mengutip dua hadis tentang gila ini.

Dalam hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibn Najjar dikisahkan, “Pada suatu hari, Rasulullah Saw saat berkumpul bersama para sahabat, lewatlah seorang pria gila. Para sahabat berkata, “Pria ini, adalah pria gila.” Rasul Saw kemudian bersabda, “Hati-hati bicara. Orang ini bukanlah gila. Orang gila adalah yang terus-menerus berbuat maksiat. Sedangkan orang ini, ia sedang mendapat musibah (sakit).”

Dalam riwayat lain Baginda Rasul bersabda, “Tahukah kalian orang gila seperti apa?” Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasul Saw kemudian menjelaskan: “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan, yang keburukannya membuat orang tidak merasa aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya (al-majnuun haqq al-majnuun).”

Saya lama merenungi dua hadis ini. Lama sekali. Seperti baru menemukannya. Sebenarnya memang saya baru menemukannya, baru membacanya. Barulah menyadari kalau puluhan tahun belajar belum menjamin kita akan tahu segalanya. Ternyata Rasulullah Saw sudah menegaskan kepada orang-orang yang waras bahwa pelaku maksiat atau pun orang yang sombong sejatinya lebih gila daripada Tubagus. Mereka menertawakan Tubagus padahal mereka tidak menyadari bahwa mereka sendiri gila.

Orang sombong adalah orang gila. Mereka yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Mereka, orang sombong itu, yang diserang bukan pikirannya sebagaimana Tubagus, melainkan hatinya. Orang sombong mengira bahwa ia akan menemukan penghargaan manusia di dalam kesombongannya. Padahal orang bijak bilang, “Aku mencari ketinggian derajat dalam kesombongan, tetapi aku menemukannya dalam ketawadhuan.”

Mengingat ini, saya teringat sebuah kisah dalam kitab yang ditulis oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi yang biasa disebut Imam Nawawi Al Bantani, Nashoihul ‘Ibad. Saya mengutipnya dari buku terbitan Irsyad Baitus Salam yang berjudul: Nashoihul ‘Ibad, Nasihat-nasihat untuk Para Hamba, Menjadi Santun dan Bijak.

Hasan Basri berkata: “Pada suatu hari aku mengelilingi lorong kota Bashrah dan pasarnya bersama seorang pemuda ahli ibadah. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang tabib. Dia duduk di atas kursi yang di hadapannya ada banyak orang, baik laki-laki maupun wanita serta anak-anak, yang semuanya membawa botol berisikan air. Setiap seorang dari mereka bermaksud meminta obat yang tepat bagi penyakit yang mereka derita.

Selanjutnya, majulah seorang pemuda yang ahli ibadah itu kepada tabib tersebut, lalu berkata: “Wahai Tabib, apakah engkau mempunyai ramuan obat yang dapat membersihkan dosa dan mengobati penyakit hati?” Tabib tadi berkata: “Punya.” Pemuda itu berkata lagi: “Tolong berilah aku obat tersebut.” Tabib menjawab: “Ambillah sepuluh resep dariku berikut ini:

  1. Ambillah akar pohon kefakiran dan akar pohon ketawadhuan;
  2. Masukkan akar tobat ke dalamnya;
  3. Masukkan ketiga unsur itu ke dalam lesung rida;
  4. Tumbuklah sampai halus dengan alu qana’ah;
  5. Masukkan semua itu ke dalam panci takwa;
  6. Tuangkan air malu itu ke dalamnya;
  7. Didihkan semua itu dengan api mahabbah;
  8. Selanjutnya, tuangkan semua itu ke dalam mangkuk syukur;
  9. Dinginkan apa yang ada di dalam mangkuk syukur tersebut dengan kipas raja’;
  10. Minumlah semua itu dengan sendok pujian.

Jika engkau dapat melaksanakannya, maka semua itu akan menyelamatkan dirimu dari berbagai jenis penyakit dan musibah di dunia dan di akhirat.”

Saya jelaskan sedikit di sini. Qana’ah itu merasa cukup dengan apa yang ada. Sedangkan mahabbah mengutip Abu Abdullah Al-Quraisyi adalah memberikan semua yang engkau miliki kepada pihak yang engkau cintai hingga tidak bersisa sedikit pun. Dan raja’ adalah sepenuh harap, yang menurut Imam Al-Ghazali merupakan salah satu sayap selain sayap khauf (rasa takut) yang dengan kedua sayap itu orang bisa dekat dengan Allah Swt.

**

Salah satu pemicu gangguan stres pasca trauma adalah pertempuran dan konflik yang berkepanjangan. Di Aceh, melengkapi penyebab di atas yang berasal dari faktor kesengajaan manusia adalah penyebab yang lain berupa faktor bencana alam besar bernama tsunami. Dan saya berharap saya tidak menambah daftar panjang orang yang mengalami gangguan stress pasca trauma di negeri maghribi—tempat matahari terbenam ini. Entah karena menjadi Tubagus atau karena gila dalam makna konotasinya.

Di Tapaktuan, apa yang harus disombongkan? Sejatinya bahkan di mana pun kita berada. Seharusnya yang di Jakarta pun demikian adanya. Dengarlah apa yang digemakan dari jauh, apa yang disuarakan dari bawah. Sesungguhnya kekuasaan tidak akan pernah abadi.

Di pantai inilah—di negeri maghribi, tempat matahari terbenam—kita sama-sama melihat senja.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citajam, 15 Februari 2014

CARA DAFTAR BPJS BUAT ANAK KETIGA PNS


CARA DAFTAR BPJS BUAT ANAK KETIGA PNS

 

Mulai 1 Januari 2014 anak ketiga Pegawai Negeri Sipil (PNS) dapat diberikan jaminan kesehatan oleh PT Askes (Persero) yang kini telah bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kebetulan anak ketiga saya yang berumur hampir enam tahun belum diikutkan dalam asuransi kesehatan ini. Oleh karenanya mumpung saya cuti kerja saya menyempatkan diri untuk mengurus pendaftarannya.

Pertama, saya cari informasi terlebih dahulu ke laman BPJS yang beralamat di sini. Lalu saya telepon ke Pusat Layanan Informasi BPJS 24 Jam di 500400 untuk memastikan boleh tidaknya anak ketiga PNS dapat jaminan kesehatan. Selain itu untuk mendapatkan informasi dokumen apa yang perlu dilampirkan pada saat pendaftaran anak ketiga ini.

Dari 500400 itu juga dapat informasi kalau kartu Askes lama yang berwarna kuning masih berlaku dan untuk sementara waktu tidak perlu ditukarkan dengan yang baru. Kalau Anda datang ke kantor BPJSnya untuk menukarkan kartu ini pun Anda akan ditolak.

Berdasarkan informasi dari 500400 itu saya siapkan dokumen yang ada. Setelah lengkap saya datang ke Kantor BPJS Cabang Bogor yang ada di Jalan Ahmad Yani Nomor 62 E Bogor. Kantor cabang yang ada di Kota Bogor ini dulunya tempat saya mendaftarkan diri sebagai peserta Askes. Kantor ini mencakup tiga wilayah kerja BPJS: Kota Bogor, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor.

Saya datang ke kantor BPJS yang sudah ramai pada waktu itu. Di halaman kantor sudah didirikan tenda dan telah disediakan kursi-kursi untuk mengantisipasi membludaknya masyarakat yang ingin melakukan pendaftaran. Saya ambil nomor antrian dengan menekan tombol nomor satu di mesin yang tersedia di pintu masuk. Sedangkan tombol nomor tiga untuk antrian surat rujukan.

Sambil menunggu antrian saya bertanya-tanya kepada petugas yang berada di depan pintu. Orangnya sudah tua dan terlihat ramah melayani pertanyaan para pengunjung. Tapi sayangnya informasi yang diberikan berbeda dengan apa yang saya dapatkan dari 500400. Malah menyaratkan dokumen macam-macam seperti Surat Keputusan PNS terakhir. Akhirnya saya bertanya kepada petugas yang ada di dalam. Barulah ketahuan kalau SK CPNS tidak diperlukan lagi, namun demikian masih ada dokumen yang kurang sebagai bukti adanya anak ketiga saya ini yaitu KP4 atau Surat Keterangan untuk Mendapatkan Pembayaran Tunjangan Keluarga.

Jadi secara lengkapnya, dokumen apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaftarkan anak ketiga PNS sebagai peserta BPJS adalah sebagai berikut:

  1. Mengisi Formulir Daftar Isian Tambahan Anggota Keluarga yang bisa diunduh di sini;
  2. Fotokopi Kartu Peserta Askes Kepala Keluarga (Satu lembar). Jangan lupa bawa kartu aslinya untuk jaga-jaga jika diminta untuk diperlihatkan;
  3. Fotokopi KTP Kepala Keluarga (Satu Lembar);
  4. Asli KP4 atau Surat Keterangan untuk Mendapatkan Pembayaran Tunjangan Keluarga;
  5. Daftar gaji yang ada nama kita dan telah dilegalisir;
  6. Fotokopi Kartu Keluarga yang ada nama anak ketiga (Satu lembar);
  7. Fotokopi Akta Kelahiran anak ketiga (Satu Lembar);
  8. Pasfoto anak ketiga kita dengan ukuran 3×4 (Satu lembar) dan ditempel di formulir Daftar Isian Tambahan Anggota Keluarga.

Akhirnya saya pulang dan tidak jadi daftar karena ada satu dokumen lagi yang kurang yaitu KP4 itu. Tadinya saya sudah hampir putus asa dan berniat mendaftarkan diri di kantor BPJS yang ada di Tapaktuan, Aceh Selatan. Kata petugasnya kita diperbolehkan untuk mendaftarkan diri di kantor BPJS mana pun karena sudah online.

Namun dengan bantuan dari teman-teman Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan dan kecanggihan teknologi informasi saat ini akhirnya saya bisa mendapatkan KP4 dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Di hari berikutnya saya kembali ke Kantor BPJS Cabang Bogor. Saya datang pada jam 9.33 pagi dan mendapatkan nomor antrian 175. Waktu itu sedang dipanggil antrian dengan nomor 150. Pelayanan pendaftaran BPJS hanya dilayani oleh dua orang petugas. Jadi harus sabar mengantri. Kalau tidak mau mengantri lama maka datangnya pagi-pagi saja. Kita diperbolehkan ambil nomor antrian sejak pukul 07.30 pagi, sedangkan kantor BPJS mulai buka setengah jam setelahnya.

Hampir dua jam kemudian saya dipanggil. Tadinya hampir ditolak karena saya PNS. Petugas itu bilang kalau PNS pendaftarannya dilakukan secara kolektif, saya setengah protes karena kata petugas di loket sebelah tidak pernah dikatakan seperti itu. Pusat Layanan Informasi 500400 itu pun tidak bilang seperti itu juga. Akhirnya petugas itu memasukkan berkas saya ke dalam sistemnya setelah memeriksa kelengkapannya. Bahkan kartunya langsung dicetak oleh petugas tersebut tanpa perlu banyak cingcong lagi. Di sistemnya mungkin sudah lengkap ada nomor keanggotaan saya sehingga tidak perlu susah buat memasukkan data baru.

Berbeda dengan PNS, peserta Non-PNS setelah mendaftarkan berkasnya, mereka mendapatkan tanda terima bukti pendaftaran, lalu pergi ke bank untuk setor iuran keanggotaan, kemudian datang kembali untuk ditukarkan dengan kartu BPJS. Jadi butuh waktu lama dan mengantri kembali. Saya tidak. Cepat sekali malah. Alhamdulillah. Kenapa PNS tidak perlu membayar ke bank? Jawabannya karena untuk PNS iurannya akan dipotong langsung dari gaji bulanannya.

Kartu BPJS (Foto koleksi pribadi).

Setelah menerima kartu BPJS, saya mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak petugas atas bantuannya dan upaya memudahkan prosedur ini. Saya sebelumnya bilang kalau saya sudah jauh-jauh datang dari Tapaktuan untuk mengurus hal beginian. Mbak itu tidak ngeh Tapaktuan itu di mana, tapi ketika saya bilang Aceh Selatan, dia rada-rada paham dah di mana daerah terpencil itu berada. Yang penting ada nama Acehnya. *Melet.

Akhirnya saya pulang dengan hati plong, tidak sia-sia cuti saya ini. Semua demi anak. Hujan, gerimis, sakit diterabas saja agar semua urusan selesai. Ini semua karena bantuan Allah yang telah memudahkan segala urusan saya dan teman-teman KPP Pratama Tapaktuan seperti Pak Dodik Krido Rahardjo, Fabianus Gita Ariswara, dan Rachmad Fibrian. Thanks a lot Bro…

Ohya pendaftaran sebagai peserta BPJS ini tidak dipungut biaya sepeser pun kecuali untuk membayar iuran bulanannya. Itu pun dibayarnya ke bank, sebagaimana bayar atau setor pajak pun tidak ke kantor pajak melainkan ke bank juga. Segala informasi dan syarat pendaftaran di sini bisa juga untuk mendaftarkan anak pertama dan kedua PNS. Demikian. Semoga bermanfaat.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citajam, 30 Januari 2014

Diunggah pertama kali di Kompasiana.

RIHLAH RIZA #25: TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI


RIHLAH RIZA #25:

TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI

 

 

“Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…” (Umar Kayam, Desember 1982)

**

 

Seringkali menyangka kalau gemericik air itu hanya ada di Bogor, atau tanah Pasundan lainnya. Gemericik air yang menggelitik telinga, menenteramkan hati yang gundah, mendinginkan kepala, dan memancing-memancing setiap yang bermata untuk bisa menyentuh segarnya. Turun dari pancuran atau sela-sela tanah pegunungan. Berkumpul semuanya lalu menjadi besar dan turun kembali menjadi air terjun. Orang Sunda bilang itu curug. Ada seperti Curug Cigamea, Curug Pangeran, Curug Luhur.

Suatu tempat eksotis. Pantas saja para peri kahyangan turun ke bumi. Di serat Babat Tanah Jawi, Jaka Tarub tahu benar akhlak para batari, maka ia ambil satu selendangnya saja, jadilah itu sebuah cerita dari mulut ke mulut yang diturunkan kepada anak cucu. Sebuah mitos untuk memberikan legitimasi bahwa walaupun Mataram didirikan dari keluarga petani, bukan keluarga bangsawan, mereka adalah keturunan anasir-anasir dari langit nan absurd: bidadari.

Ternyata Tapaktuan, negeri 1000 ombak, punya juga persemayaman para dewi ini. Namanya Air Terjun Tujuh Tingkat. Letaknya di desa Batu Itam, di selatan pusat kota Tapaktuan. Tidak ada penunjuk tempat wisata ini. Pokoknya sebelum kita melewati gunung yang kedua ada jembatan, sebelum jembatan ada masjid di sebelah kiri jalan, sebelum masjid itu ada gang atau lorong. Di lorong itulah mobil kecil bisa masuk. Cukup untuk satu mobil saja.

Dari ujung jalan kecil, sekitar 200 meteran, parkirkan mobil di tanah lapang di pinggir sungai. Di atas sungai ada jembatan beton. Dari jembatan itulah kita memulai perjalanan mendaki menuju air terjun yang menjadi penyuplai utama air bersih Kota Tapaktuan ini. Kalau tidak hujan, motor bahkan bisa sampai menuju titik terdekat air terjun sehingga kita tidak perlu kehabisan tenaga dan bisa mengurangi waktu tempuh.

Jika kaki kita mampu berjalan dan nafas kita masih panjang, berjalanlah dari tempat parkir itu. Kita akan temui pemandangan indah saat menyusuri jalanannya. Kita berada di kaki bukit hijau dengan pepohonan lebat nan alami dan juga ladang-ladang penuh pohon pala. Para peladang mendirikan gubug-gubugnya di sana.

Teman saya yang pertama kali berkunjung di sini, biasanya langsung terpukau dengan pemandangan yang ada. Di titik 0 pendakian saja sudah mulai foto-foto. Saya bilang kepada mereka kalau pemandangan di sini belumlah seberapa, nanti kalau kita naik sedikit akan menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Ya betul, naik sedikit saja kita akan disuguhkan bentangan pemandangan laut dan rumah-rumah penduduk di bawah sana. Tunggu, belum. Naik sedikit lagi, di atas batu besar, kita akan punya tempat yang paling baik untuk mengambil gambar dari ketinggian. Pantai, laut, bukit, pohon-pohon kelapa, atap-atap rumah tersaji seindah-seindahnya dari kejauhan. Subhanallaah.

Di tengah jalan kita menemui persimpangan. Kalau lurus kita akan menuju tingkat paling atasnya, namun cukuplah hari ini kita ke tingkat empatnya saja. Karena biasanya para pengunjung lebih suka di sana. Di situlah spot yang paling normal untuk didaki tanjakannya dan direnangi kolamnya.

Kurang lebih 500 meter dari tempat kita bermula atau sekitar setengah jam berjalan santai sampailah kita di Air Terjun Tujuh Tingkat. Tingkat paling bawah, kedua, ketiga, keempat, dan kelima berkumpul dalam jarak yang tidak begitu jauh. Ada bangunan yang terbuat dari papan kayu, di pinggir air terjun, di atas ketinggian, tempat untuk berleha-leha sehabis mandi, tempat untuk memandang ke bawah.

Sudah lama tidak berkunjung ke air terjun. Terakhir waktu ada perkemahan di Taman Nasional Gunung Gede, bertahun-tahun lampau. Itu pun hanya lewat. Tidak jebar-jebur serupa Penguin Gentoo di Semenanjung Antartika. Sekarang, ribuan kilometer dari kaki bukit Gunung Gede, di bawah Pegunungan Leuser, saya merasakan kembali kesegaran air pegunungan. Airnya jernih sehingga dasar kolam air terjun bisa dilihat. Tetapi memang jika turun hujan tetaplah membawa material dari atas. Membuat sedikit keruh. Sedikit saja. Airnya tetap bening kehijauan. Yang pasti air terjun ini tidak ada beda dengan air terjun di tanah kerinduan, Bogor. Cuma kurang satu: Degung Cianjuran.

Di air terjun tingkat keempat, area kolamnya cukup luas dan dalam. Ini memungkinkan kita untuk terjun dengan gaya apa saja. Gaya sekelas peloncat indah Olimpiade London atau gaya batu sekalipun silakan. Di sinilah saya kembali memuaskan hasrat masa kecil dulu seperti waktu saya terjun dari ketinggian beton penahan air Sungai Cimanuk, Jatibarang, Indramayu.

 


Pemandangan bawah yang diambil dari ketinggian jalanan menuju Air Terjun Tingkat Tujuh (Foto koleksi pribadi).

Cemmana pula ini awak (Foto koleksi pribadi).

 

Bersama DJ-Ono di depan Air Terjun Tingkat Tujuh. Kok enggak pose berdua? Ini gantian ngambilnya. 😀 (Foto koleksi pribadi)

Gubug di atas air terjun. Bisa memandang segala. (Foto koleksi pribadi).

 

Kalau yang ini Air Terjun Tingkat Keduanya (Foto koleksi pribadi).

Nah yang ini, tingkat keempat. (Foto koleksi pribadi).

 

 

Siap-siap lompat (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pokoknya seru banget dah di sini. Segar, senang-senang, renang-renang, terjun-terjun, selam-selam, foto-foto. Sensasinya beda sekali dengan sensasi saat menjalani kegemaran baru saya di Tapaktuan ini: snorkelling. Sensasi kesegaran dan amannya lebih terasa. Sudah barang tentu lebih aman di air terjun ini daripada di laut. Tidak perlu khawatir binatang laut berbisa, kedalaman palung, dan seretan ombak tentunya.

Tapi sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang, untuk kedua kalinya dompet saya—dengan segala isinya—ikutan mandi. Kali ini mandi air tawar. Hari kemarin, saat snorkelling di tengah laut, saya tidak sadar kalau menyelamnya sambil bawa-bawa dompet di kantung bagian belakang. Untung tidak jatuh. Teman di pantai yang sedang santai-santai bilang, “Di sono
kagak ada warung kenapa bawa dompet segala.” Untuk kedua kalinya pula, apa yang ada di dalam dompet akan dikeringkan lagi. Ini pertanda apa?

Pada akhirnya selain untuk membunuh rindu, maka menikmati keindahan dan kesegaran adalah jalan jiwa mencari sebuah inspirasi. Untuk dituliskan. Dan saya persembahkan kepada Anda. Cukuplah apa yang dikatakan Umar Kayam, “Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…”

Di tengah kebosanan yang menjelma puncak Cartenz, belantara sepi yang menggoda fokus, samudera luas ketidaktahuan tentang apa yang mau ditulis lagi, saya tetap mencoba melanjutkan menggerakkan jari-jari saya di atas papan ketik komputer, sesulit apa pun. Dan menjelmalah ia menjadi apa yang sedang dibaca oleh Anda saat ini. Tentang air terjun yang pada sabitnya, tak ada satu pun bidadari turun dari pelangi untuk saya curi selendangnya.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 Januari 2014

RIHLAH RIZA #24: JEJAKMU MERAKSASA, RINDUKU APALAGI


RIHLAH RIZA #24: JEJAKMU MERAKSASA, RINDUKU APALAGI

Atau biarkanlah ketika kangen yang meraksasa itu menusuk pusat pertahanan ketegaran, izinkanlah memuarakannya pada samudera keheningan yang bernama doa dan sajak. Seperti dua laki-laki ini.

**

Matahari duha bersinar hangat. Ini saat yang tepat menuju tempat yang menjadi ciri khas kota Tapaktuan: Tapak Raksasa Tuan Tapa. Enggak afdal jika berkunjung ke kota pala ini tetapi tidak mampir melihatnya. Dan baru kali ini—selama hampir tiga bulan di Tapaktuan—saya menyempatkan diri berkunjung. Itu pun karena mengantarkan teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh yang sedang silaturahmi ke Tapaktuan.

Seperti kebanyakan daerah wisata di Kabupaten Aceh Selatan ini yang potensinya kurang digarap maksimal, papan petunjuk arah menuju lokasi wisata jejak Tuan Tapa pun tidak ada sama sekali. Entah di pusat kota atau di lokasi wisatanya sendiri. Tidak ada juga plang atau papan informasi yang menceritakan legenda atau asal usul objek wisata itu seperti yang saya sering lihat ketika mengunjungi objek wisata atau situs bersejarah di Banda Aceh.

Bekas tapak berukuran besar itu terkait dengan legenda yang beredar di kalangan masyarakat Aceh Selatan. Yakni ketika sepasang naga bertarung dengan Tuan Tapa dalam rangka memperebutkan Putri Naga. Putri ini sebenarnya adalah anak manusia yang terombang-ambing dari kapal Cina yang karam. Putri itu lalu diasuh sepasang naga tersebut.

Dalam salah satu versi cerita, Tuan Tapa dimintakan bantuannya oleh orang tua sang putri. Mereka ingin mengambil kembali anak mereka dari cengkeraman sepasang naga. Tuan Tapa berkelahi dan berhasil membunuh naga jantan. Naga betina melarikan diri walaupun pada akhirnya tewas juga. Bekas-bekas pertempuran yang berserakan, antara lain tapak raksasa, tongkat, dan topi Tuan Tapa menjadi bukti dari legenda itu dan bisa disaksikan sampai sekarang. Namanya juga legenda, kita tidak pernah tahu realitas sesungguhnya dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut masyarakat Aceh Selatan ini

Lokasi tersebut berada tidak jauh dari pelabuhan Tapaktuan. Tepatnya berada di belakang gedung olahraga. Untuk ke sana bisa ditempuh dengan mobil, motor, sepeda, atau jalan kaki. Semua kendaraan hanya bisa diparkirkan di kaki bukitnya. Kendaraan bus tentunya tidak bisa masuk. Tempat parkirnya berada di tepian laut. Satu garis dengan tembok pembatas pelabuhan. Ada semacam bangunan kecil di sana sebagai tempat istirahat atau pos. Dan perlu diperhatikan tidak ada orang yang menjaga kendaraan di sana. Pastikan semua terkunci dengan aman. Apalagi sepeda.

Dari tempat parkir itu naik ke atas bukit melalui jalan setapak yang sudah dibuat undakan semen. Berjalannya harus hati-hati karena di sebelah kiri undakan itu jurang dan laut dengan ombak yang besar. Tidak butuh waktu lama dan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke bagian tertinggi undakan. Setelah itu kita menyusuri bebatuan hitam untuk bisa sampai ke tapak raksasanya. Batu-batu itu terjal sehingga harus tetap waspada melangkahinya.

Di atas batu-batu itulah—walaupun belum sampai ke titik akhir—kita akan benar-benar terpesona dengan keindahan alam yang memanjakan mata. Tempat ini bisa dijadikan tempat untuk berkhalwat dan berkontemplasi. Batu hitam, ombak besar yang menghantam pantai, semilir angin, pepohonan yang rindang adalah suasana yang mendukung dalam pencarian sebuah inspirasi.

Ada adat-istiadat yang harus dipegang saat mengunjunginya. Terutama sekali agar tidak bicara sembarangan dan tinggi hati. Sebenarnya tidak hanya di tempat itu, di mana pun adanya, sikap angkuh dan banyak cakap itu tidak terpuji. Ada lagi aturan penduduk setempat bagi perempuan pengunjung, yang boleh sampai ke jejak itu adalah perempuan yang tidak datang bulan. Kalau lagi datang bulan cukup melihatnya dari atas batu hitamnya saja. Tidak boleh mendekat. Aturan ini adalah bentuk kearifan lokal, turuti saja, dan bukan pada masalah angker atau keramatnya melainkan pada ketiadaan jaminan keselamatan yang ada.

Sampai di situsnya, jejak tapak itu, bolehlah kita ambil gambar tetapi jangan lupa pula untuk berhati-hati. Karena pernah kejadian, di hari keempat lebaran tahun 2013 lalu, ada tiga orang dimakan ombak. Kejadiannya persis jam-jam pagi seperti kedatangan kami ini. Dua orang tewas, salah satunya perempuan. Satu orang selamat walaupun dalam kondisi kritis. Jadi kalau mau foto-foto lihat posisi dan keadaan ombaknya. Jangan asal pose. Apalagi berpose di ujung kaki sambil duduk di tepian karangnya. Tepian karang itu dengan permukaan laut cukup tinggi, ini berarti ombak yang menerjang dan menelan bulat-bulat tiga orang itu adalah ombak yang sangat besar.

Setelah puas melihat-lihat, kami pun pulang. Sebenarnya ada undakan lagi menuju puncak Gunung Lampu ini. Undakan ini menuju menara pemancar yang kalau kita memanjatnya akan terlihat seluruh pemandangan kota Tapaktuan. Dari posisi teratas di bukit ini kita juga bisa melihat dan mengambil gambar jejak Tuan Tapa dari ketinggian. Tapi untuk hari ini kami cukup sampai di sini dulu. Suatu saat kami akan kembali dan menaiki puncak yang paling tingginya.

Jejak raksasa itu berada di ujung karang sebelah kiri, lihat bangunan kecil itu adalah semacam saung atau pos, di situlah kendaraan diparkirkan. Sedangkan gedung besar itu adalah gedung olahraga. (Foto Koleksi pribadi).

Jalan setapak menuju tapak raksasa Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Pemandangan pelabuhan angkutan barang dari Gunung Lampu (Foto koleksi pribadi).

Salah satu pemandangan pantai Tapaktuan yang diambil dari karang batu hitam (Foto koleksi Agung Pranoto EP).

Di atas jejak raksasa Tuan Tapa (Foto koleksi Agung Pranoto EP)

Bersama teman-teman KPP Pratama Meulaboh (Kika): Niko Andriansyah Kopa: Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Agung Pranoto Eko Putro: Kepala Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal, Tulus Mulyono Situmeang: Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II KPP Pratama Tapaktuan, saya, Yan Permana: Account Representative KPP Pratama Tapaktuan, dan Agus Salim: Kepala Seksi Penagihan KPP Pratama Meulaboh, bercelana pendek hijau (Foto koleksi pribadi).

Cara ini, mengunjungi tempat-tempat indah di Tapaktuan, adalah cara tepat membunuh rindu yang serindu-rindunya, rindu yang bikin pilu sepilu-pilunya. Atau mengalihkan sejenak dari kepenatan mengembara savana kangen. Atau biarkanlah ketika kangen yang meraksasa itu menusuk pusat pertahanan ketegaran, izinkanlah memuarakannya pada samudera keheningan yang bernama doa dan sajak. Seperti dua laki-laki ini.

Di sebuah maghrib laki-laki yang satu mendoakan anak-anaknya. “Kalau aku kangen, aku bacakan Alfatihah untuk anak-anakku. Di halaman depan Alquran, sebelum surat Alfatihah, aku tempel pas foto mereka berdua. Dan sebelum aku tilawah, aku baca Alfatihah sambil memandangi foto mereka lalu aku cium fotonya satu per satu. Sebelum tidur, bila tidak capek sekali, Saya sebut nama dan mendoakan mereka. “

Laki-laki yang tak mau disebut namanya ini menambahkan, “Aku hanya mengingat nasihat Ibu saya. Kalau anak-anak itu tidak hanya cukup dipenuhi kebutuhan fisiknya saja. Aku juga harus prihatin untuk anak-anak. Puasa, salat malam, mendoakan mereka adalah laku prihatin itu. Mengusap-usap kepala mereka bila tidur dan membacakan doa-doa diubun-ubun mereka. Itu yang dilakukan ibu kepadaku.”

“Sampai sekarang aku belumlah sehebat ibuku. Ibu selalu berpuasa bila anak-anaknya akan dan sedang ujian. Selalu menghibur bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Sedoyo sampun dikersakke Gusti Allah, ” tambahnya lagi.

Di sebuah pagi, lelaki lain menuliskan rasa kangennya di buku catatan hariannya. “Semalam mau menelepon Mas Haqi, tapi telepon asramanya tidak ada yang mengangkat. Pagi ini pun demikian. Susah adanya. Padahal Abi sudah kangen sama Mas Haqi. Sudah setengah bulan lebih tak mengobrol dengannya. Tadi malam pun telepon rumah begitu. Mas Ayyasy sudah tidur. Kinan habis menangis. Waktu menerima telepon bekas-bekas tangisan menjejak di pita suaranya. Abi bilang, nanti sebentar lagi Abi pulang. Melihat di internet ada gambar kalian berdua, foto Mas Ayyasy dengan Kinan di samping patung unta, membuat kangen Abi bertambah saja Nak. “

Caramu melampiaskan kangen seperti apa?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 18 Januari 2014

RIHLAH RIZA #22: SEHARI MENJADI SINGA


RIHLAH RIZA #22: SEHARI MENJADI SINGA

 

“Hidupnya seekor singa sehari masih lebih berkenan ketimbang ratusan tahun hidupnya seekor serigala,” tegas Tipu Sultan di istananya di Seringapattam, Mysore, saat gerbang istana diserbu penjajah Inggris yang dibantu para kaptennya yang telah menjadi pengkhianat dan komprador. Penasehatnya menyarankan Tipu Sultan berkompromi dengan syarat-syarat dalam perjanjian yang disodorkan kepadanya. Tidak. Ia memilih menjadi syuhada.

**

Duha itu, jam sembilan pagi, kami berangkat menuju Kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Simeulue. Letaknya di belakang Kantor Bupati Simeulue. Di sana kami diterima oleh Kepala DPPKAD. Kami membahas persiapan acara Serah Terima Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang akan digelar besok. Acara itu rencananya akan dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten, Naskah bin Kamar. Sebagian dari kami kemudian memisahkan diri untuk memberikan konsultasi tentang perangkat lunak sistem informasi dan jaringan.

Jadi Kabupaten Simeulue ini merupakan pecahan dari Kabupaten Aceh Barat. Sejak tahun 1999 berpisah dari induknya dan beribu kota di Sinabang. Tempat KMP Sinabang bersandar. Letak ibu kota kabupaten ini berada di Kecamatan Simeulue Timur. Kotanya kecil. Pusing-pusing di sana tidak makan waktu banyak.

Di Sinabang ada masjid tertua namanya Masjid Raya Baiturrahmah. Kami singgah di hari pertama keberadaan kami di Pulau Simeulue untuk salat duhur di sana. Masjidnya sangat sederhana karena berdinding papan saja. Di sebelah masjid ini sedang dibangun masjid yang lebih besar dan kokoh lagi sebagai penggantinya. Kompleks masjid raya ini letaknya di persimpangan di depan Polsek Simeulue Timur dan Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Sinabang.

Rutan ini jangan dikira seperti Rutan Salemba atau rutan-rutan lainnya yang bertembok tebal. DI sini rutannya cukup dengan dinding papan seadanya dan berpagar luar hanya dengan kawat biasa saja. Tidak ada pengamanan ketat seperti sebuah penjara, mungkin samudera yang mengelilingi pulau ini sudah menjadi tembok alami dan bikin jiper para tahanan yang mau melarikan diri. Pernah kejadian tahanan melarikan diri dengan menggergaji papan namun dipastikan tidak bisa keluar dari Simeulue. Polisi sudah sebar fotonya di pelabuhan.

Setelah salat kami menuju pelabuhan lama Sinabang yang sekarang tidak terpakai lagi. Dermaga utama terlihat masih baik namun dermaga untuk menambatkan tali dan dermaga yang berada di sebelah kiri terlihat rusak juga amblas. Pelabuhan ini tidak dipakai lagi untuk melayani feri menuju Pulau Sumatra. Kami tidak lama di sana. Ada yang harus kami tuju setelahnya. Tempat penangkaran lobster.

Letaknya dekat keramaian kota Sinabang. Tempat ini dimiliki oleh Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan bernama Mahlil. Ia pengusaha lobster dan ikan yang sudah berusaha lebih dari 20 tahun di bidang itu. Dari daratan kami harus menyeberangi semacam demaga papan kayu menuju tempat penangkarannya itu. Di samping dermaga tertambat kapal boat milik polisi air dan kapal kayu nelayan unik yang besar. Unik karena di setiap sisi kapal kayu berwarna merah ini terdapat semacam kayu panjang untuk menjaga keseimbangannya.

Pada saat kami datang pun Mahlil sedang menyiapkan lobster untuk dikirimkan ke Medan. Inilah saat pertama kali melihat dengan mata kepala sendiri dan memegang hewan laut invertebrata berpelindung luar yang keras. Otak pajak kami sudah mulai bekerja. Kalau setiap hari saja ada puluhan kilogram lobster yang dijual, berapa pendapatan yang diterima Mahlil sedangkan harga per kilogram lobster ini 250 ribu rupiah.

Mahlil selain menangkar lobster, juga menangkar jenis ikan kerapu tiger dan hiu. Semua hewan bernilai mahal ini didapatkan dari para nelayan yang menangkapnya dari tengah laut. Kebetulan kami pun melihat ada satu nelayan sedang menyandarkan sampannya lalu menjinjing hasil tangkapannya berupa kerapu tiger untuk dijual kepada Mahlil. Pengusaha ini menjual kembali kerapu tiger dengan harga 120 ribu rupiah per kilogramnya.

Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melihat penangkarannya. Mahlil membuat banyak petak keramba masing-masing berukuran sembilan meter persegi. Setiap petak keramba mempunyai jaring-jaring dan diberi nomor dengan memakai styrofoam. Di atas jaring itulah ditempatkan hiu berukuran kecil sepanjang satu meter, lobster, dan kerapu tiger. Tentu tidak dicampur.

Setelah puas melihat-lihat kami segera pergi menuju sebuah tempat di mana legenda tentang Simeulue bermula: Makam Tengku Diujung. Kami harus menempuh perjalanan sepanjang 67,8 kilometer dari Sinabang ke Desa Latak Ayah, tempat makam itu berada. Ini berarti kami harus berpindah lokasi dari sisi timur pulau Simeulue menuju sisi baratnya.

Empat per lima bagian perjalanan itu sudah pasti dilalui melalui pesisir pantai. Kami terpukau habis dengan pemandangan yang disuguhkannya. Pantai pasir putih, jejeran pohon kelapa, ombak yang pas buat surfing, dan
pegunungan di sisi kanan kami. Jalanan sepi dan hanya satu dua kendaraan yang kami susul, bahkan berpapasan dengan kendaraan lain pun tidak.

Kondisi jalan lumayan mulus, hanya pada saat di jembatan kami harus mengurangi kecepatan karena masih dalam perbaikan. Hampir seluruh jembatan yang kami lewati demikian adanya. Selain itu, seperti di daerah lainnya di provinsi Aceh, kami banyak melihat kumpulan kerbau yang merumput dan dibiarkan begitu saja. Tak ada gembalanya sama sekali.

Setelah lebih dari dua jam berkendara, akhirnya kami sampai. Makam ini berada di sebuah teluk. Kata penduduk setempat, di sekitar makam ini dulunya adalah pantai. Namun setelah adanya tsunami permukaan tanahnya naik sehingga garis pantai pun mundur puluhan meter. Daratannya menjadi bertambah luas. Konon katanya tsunami memang menghantam teluk ini, tapi tidak merusak sama sekali kompleks makamnya. Air membelah dan melewati begitu saja. Siapa Tengku Diujung ini?

Seperti diceritakan oleh Kepala DPPKAD sendiri kepada kami, dulu ada seorang ulama bernama Khaliilullaah yang berangkat haji dari Minangkabau, saat itu Minangkabau masih menjadi daerah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Ia singgah dulu di Aceh. Oleh Sang Sultan ia diminta untuk menunda keberangkatannya ke tanah suci Makkah. Ia ditugaskan untuk mengislamkan penduduk Pulau Simeulue. Keinginan Sang Sultan dituruti, ia bersama dayang istana yang kemudian menjadi istrinya pergi ke pulau itu untuk memulai dakwahnya di sana.

Di pulau itu ia bertemu dengan penguasa Pulau Simeulue yang bernama Songsong Bulu yang masih menganut paham animisme. Dua orang itu adu kesaktian yang pada akhirnya dimenangkan oleh sang ulama. Singkat cerita penduduk Simeulue pun memeluk Islam. Oleh para pengikutnya sang ulama digelari oleh para pengikutnya sebagai Tengku Diujung. Di akhir hayatnya Tengku Diujung dimakamkan di sebuah tempat yang kemudian dinamakan Latak Ayah. Latak itu berasal dari bahasa minang yang berarti letak. Bersebelahan dengan makam sang ulama terdapat makam sang istrinya.

Selesai berziarah kami mampir di warung sebelahnya. Warung ini berdiri di atas tambak dan persis di bibir teluk. Airnya berwarna hijau. Remaja dan anak-anak pun menjadikan teluk itu sebagai tempat bermain mereka. Berenang atau bersampan.

Pemilik warung juga merupakan penangkar lobster, ikan, dan hiu. Inilah tempat yang sering menjadi kunjungan bagi para pecinta lobster. Perjalanan lama dan melelahkan ini terbayar dengan kenikmatan Mr. Crab yang digoreng sampai berwarna merah itu. Dagingnya empuk dan manis. Ini pengalaman pertama saya makan lobster.

 

Sinabang-Latak Ayah (Google Maps Olahan)

Tempat Penangkaran Lobster milik Mahlil di Sinabang. (Foto koleksi pribadi).

 

Ini di Maldives bukan di Simeulue (@NatGeoID).

 

Nah, kalau ini asli di Latak Ayah. (Foto koleksi pribadi).

 

Pantai yang sudah menjadi daratan di Teluk Latak Ayah (Foto koleksi pribadi).

 


Pemandangan Lain Teluk Latak Ayah (Foto koleksi pribadi).


Makam Asysyaikh Khaliilullaah (Foto koleksi pribadi).

 


Anak-anak Nelayan (Foto Koleksi Pribadi).

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul enam sore walau suasananya masih terang benderang. Kami pun segera beranjak pulang. Besok pagi masih ada yang harus kami selesaikan. Yang pasti seharian itu saya banyak mendapatkan pengalaman luar biasa. Jadi banyak tahu. Jadi banyak ngebatin kaya batin. Sehari di sini mengayakan sisi-sisi jiwa saya yang tidak pernah didapatkan dalam ratusan hari di Jakarta dan keramaiannya. Tapi baik singa atau pun jadi serigala mereka sama-sama hewan yang suka hidup berkelompok. Entah jadi salah satu dari keduanya, mereka tidak bisa hidup sendirian di luar kelompok dan keluarganya, di alam liar. Apalagi saya sebagai manusia. So…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sebuah garis imajiner

12 Januari 2013

 

RIHLAH RIZA #21: LALI SELALI-LALINE


RIHLAH RIZA #21: LALI SELALI-LALINE

 

 

Padahal “rindu dendam” atau “cinta berahi” itu laksana Lautan Jawa, orang yang tidak berhati-hati mengayuh perahu memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia diguling oleh ombak dan gelombang, hilang di tengah samudera yang luas itu, tidak akan tercapai selama-lamanya tanah tepi.

Sebuah petikan paragraf dalam novel Buya Hamka yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Tapi bagi saya “rindu dendam” atau “cinta berahi” tak sebanding dengan Lautan Jawa. Ia adalah Samudera Hindia. Dalam senyatanya Samudera Hindia telah dijelajahi dengan gagah berani oleh Sulaiman Al Mahiri di abad 16. Belum samudera yang lainnya. Tapi dunia abai. Karena ia orang Arab. Sepatutnya kita tak lali selali-laline. Lupa selupa-lupanya. Padahal selain sebagai seorang penjelajah samudera ia pun seorang penulis yang telah menyumbangkan ilmu pengetahuannya di abad pertengahan tentang ilmu kelautan, astronomi, dan geografi.

**

Kembali saya menaiki sebuah kapal laut setelah belasan tahun lewat. Dulu saya pernah mengarungi samudera menyeberangi Selat Sunda dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni. Waktu itu dalam rangka menghadiri pernikahan sahabat. Sekarang, menuju ke Pulau Simeulue dalam rangka urusan pekerjaan.

Kapal yang akan menyeberangkan kami dari Pelabuhan Singkil menuju Pelabuhan Sinabang adalah KMP Teluk Sinabang. Kapal ini menjadi urat nadi perekonomian dan gerak pembangunan Pulau Simeulue. Jika rusak dan tidak ada penggantinya maka bisa dipastikan 86 ribu lebih penduduk Pulau Simeulue akan mengalami krisis sembako sebagaimana pernah diberitakan oleh media di bulan November 2013 lalu. Waktu itu KMP Teluk Sinabang mengalami kerusakan mesin.

“Barangkali deru mesin kapal laut membelah samudera ini adalah igaumu yang tak pernah sampai menjadi ode. Tak pernah terceritakan.”

Pukul 16.45 kami sudah berada di atas kapal. Kami pun sudah menempati kamar Anak Buah Kapal (ABK) yang disewa selama pelayaran ini. Kamar ABK letaknya di bagian bawah. Lebih bawah lagi daripada tempat parkir kendaraan. Bahkan bisa dipastikan kalau kamar ini berada di bawah permukaan air laut.

Jenis kamar ABK ini macam-macam. Ada kamar yang berisi satu atau dua tempat tidur, ada pula dengan dua ranjang bersusun. Saya menempati kamar terakhir ini. Kamarnya sempit tetapi muat untuk empat orang, berpendingin ruangan, dan bertelevisi.

Sang Nahkoda, Kapten Eko Medianto, seorang Pujakesuma (Putera Jawa kelahiran Sumatera) asal Medan ini memastikan kalau perjalanan pada nanti malam akan berjalan lancar, karena ombak dan arusnya yang tenang. Maksimal perjalanan ditempuh selama dua belas jam, paling cepat sepuluh jam dengan kecepatan 10 knot. Tentunya lebih cepat dan bertenaga daripada kapal “Karimata” di tahun 1927 yang membawa tokoh “saya” dalam novel Buya Hamka tadi. “Saya” selama empat belas hari terkatung-katung di lautan dari Pelabuhan Belawan menuju Jeddah.

Jam lima sore ini seharusnya kapal sudah membunyikan terompetnya yang ketiga kali sebagai tanda dimulainya pelayaran. Tapi walau sudah lewat dari jam lima kapal belum juga menutup pintu jembatannya. “Kita menunggu truk sayuran.  Sebentar lagi datang. Kalau ditinggal kita disalahkan. Ini sembako penting,” katanya.

Saya menaiki dek paling atas. Sebelumnya saya harus melalui dek tengah dengan deretan tempat duduk kelas ekonomi terlihat kosong. Sepertinya pelayaran sore ini ditempuh dengan sedikit penumpang. Di dek paling atas sebagiannya beratap, sebagian besarnya tidak. Di bawah atap ada meja-meja berbentuk bulat di depan meja kantin panjang. Sedangkan di bagian ujung dek yang tak beratap, di sisi yang menghadap ke bagian belakang kapal, terdapat dua kursi panjang, di tengahnya tiang tinggi dengan bendera merah putih berkibar-kibar ditiup angin laut.  Gagah segagah-gagahnya.

Saya menatap air laut di pelabuhan yang berwarna kecoklatan. Seperti warna Sungai Cimanuk di Indramayu. Saya tidak tahu mengapa bisa sampai berwarna seperti itu. Tapi kalau diperhatikan lebih seksama lagi, ini  tampak hanya di permukaannya saja. Ketika kapal berangkat dan mulai membelah air laut terlihatlah lapisan air di bawahnya yang berwarna khas, hijau dan biru. Air coklat itu tipis setipis-tipisnya seperti kulit ari.

Sambil duduk, berdiri, ngobrol, jalan-jalan di sekitar dek, saya sangat menikmati sore itu dari bibir kapal: bau laut, angin kecil, senja, matahari tenggelam, buih ombak di belakang kapal, deru mesin, langit kelabu, perahu nelayan, dan pemandangan segala di kejauhan. Kalau sudah demikian saya jadi teringat cerita pendek yang berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu bikinan Hamsad Rangkuti dan film Titanic besutan James Cameron. Saya tidak tahu apa yang membuat dua orang itu sama-sama mengaitkan hal-hal ini—laut, kapal, dan deknya—dengan keinginan wanita untuk bunuh diri.  Akhirnya pun sama, wanita itu tak jadi bunuh diri. Sebagai penyedap, ada pahlawan yang mencegah ritual tadi.

Ketika malam benar-benar menelan anak-anak cahaya barulah saya turun ke kamar. Ambil wudhu, lalu shalat jamak qashar, dan memeluk kantuk. Saya benar-benar tidur senatural-naturalnya. Tanpa menjadi Descartes yang bilang, “Aku berpikir, maka aku ada.” Di suatu tempat yang sering menjadi tempat tidurnya, sumber inspirasinya: pendiangan.

 Singkil Sinabang

Dari Singkil menuju Sinabang, Simeulue. (Gambar olah dari google map).

 Singkil Port

Pelabuhan Singkil kami tinggalkan (foto koleksi pribadi).

 

 Dek 1

Tempat terbaik untuk memandang segala, dek paling atas. (Foto koleksi pribadi).

 Dek Atas 2

Sudut lain dek paling atas. Baik pula untuk merenung di suatu malam. Habis senja, ada setumpuk gelombang datang menjadi angan. Dan aku tenggelam dalam lautan kata-kata. (Foto koleksi pribadi).

 

 Kamar ABK

Kamar ABK. Di bawah itu ranjang awak (saya). (Foto Koleksi pribadi).

 

Senja

Senja di sebuah ruang waktu. Namaku langit, dan kamu sebentuk siluet ungu di tepian cakrawala.

 

 

 Ruang Ekonomi

Ruang kelas ekonomi malam itu sepi.  (Foto Koleksi Pribadi)

 

Entah kenapa jam setengah dua malam saya terbangun.               Saya bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Saya naik ke atas, melalui arena luas parkir kendaraan, naik ke kelas ekonomi, dan naik ke atas dek lagi. Sepi. Tidak ada orang sama sekali. Saya duduk di salah satu meja yang ada di sana. Mengambil hp dan menelepon orang di seberang sana. Teleponnya tidak diangkat. Ia masih terlelap di hari jadinya itu. 2 Januari 2014.

Omong kosong! Di tengah laut masih ada sinyal? Ya masih, walaupun seringnya hanya dapat EDGE. Tapi itu sudah cukup. Saya tidak tahu dari menara BTS yang mana sinyal ini didapat? Apa di kapal ini ada menara BTS? Itulah kelebihan daerah ini. Coba bayangkan, sepanjang perjalanan saya dari Tapaktuan ke Singkil sampai di tengah laut menuju Simeulue ini, ketersediaan sinyal akses telepon dan internetnya tidak ada “matinya”.  Walaupun juga ada blank spot tapi itu tidak lama. Di tengah samudera seperti ini saya masih bisa update status Facebook dan Twitter. Tapi jangan harap kalau di dalam kamar atau di bagian bawah kapal. Sinyal tidak ada sama sekali.

Saya memandang ke atas langit. Tidak ada awan yang menutupinya. Di atas penuh bintang. Rasi bintangnya pun tampak. Saya mencoba mencari petunjuk, dalam surat Annahl ayat ke-16 disebutkan, wabinnajmihum yahtaduun, dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Karena saya bukan nelayan apalagi seorang Sulaiman Al Mahiri, saya tetap saja gagal paham mana rasi kalajengking, mana domba jantan, dan mana-mana yang lainnya itu. Kemudian saya pun menatap laut dalam gelap.

Seperti bintang dan malam yang saling berbincang, begitulah semestinya aku dan laut saling memandang.

Saya menggigil sebentar karena angin yang tidak kencang ini. Tapi itu tak mengurangi keinginan saya untuk berlama-lama di sana. Ini tafakur alam setafakur-tafakurnya. Jarang saya mendapatkan suasana trance seperti ini—halah nggaya.

Merenung segala. Saya akui benarlah apa yang dikatakan teman-teman sejawat kalau nilai-nilai di Kementerian Keuangan—selain integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan itu perlu ditambah satu lagi dengan nilai Kesabaran. Sebenarnya kesabaran masih menjadi subordinat dari nilai-nilai integritas itu: berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral. Artinya orang yang sabar adalah merupakan bagian dari orang-orang yang teguh dengan prinsip moralnya.

Tapi itu belum cukup. Nilai kesabaran itu perlu dinaikkan menjadi dominan. Tak hanya sekadar menjadi sekunder. Dus, nilai ini sepertinya sudah menjadi nilai-nilai yang telah terinternalisasi dengan sendirinya tanpa diada-adakan dengan kegiatan semacam internalisasi corporate value, in-house training, outbond,  atau banyak istilah lainnya. Sebab satu hal, pegawai-pegawai di Kementerian Keuangan terutama di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) itu sudah sabarnya luar biasa.

Sabar dengan cacian dan hujatan dari pihak eksternal, sistem di internal, beban kerja, take home pay, cicilan yang menggunung, jaminan kesehatan seadanya, dikasih nilai kecil walau sudah bekerja mati-matian, ditempatkan jauh dari keluarga,  bekerja mencapai target penerimaan tanpa diberi empati, dan lain sebagainya. Luar biasa sabarnya.

Mengapa belum cukup kalau sekadar subordinat nilai-nilai kementerian, karena sabar itu dalam pandangan profetik adalah variabel kemenangan. Janji Rasulullah saw atas orang-orang sabar adalah surga. Nashir Sulaiman Al-Umr, penulis buku Hakikat Pertolongan dan Kemenangan, menyatakan kesabaran merupakan salah satu bentuk kemenangan terbesar. Dengan kesabaran seseorang akan mudah mewujudkan apa-apa yang dicita-citakannya. Begitulah adanya.

So, kalau DJP mau target penerimaannya—sebagai target kemenangan—tercapai manfaatkanlah sumber daya melimpah berupa kesabaran para pegawainya dengan baik sebaik-baiknya. Jadikanlah ini sebagai nilai dominan dari nilai-nilai Kementerian Keuangan. Ah, sudahlah.

Setelah perenungan itu telah menemukan titik zenitnya, jam tiga dini hari saya kembali ke kamar. Namun mata sudah tidak bisa dipejamkan lagi. Bahkan satu jam kemudian ketika tidur saya hampir pulas, pengeras suara dari awak kabin sudah terdengar, mengumumkan kalau sebentar lagi kapal akan berlabuh. Refleks saya bangkit dari ranjang dan membangunkan teman-teman yang lain. Kami pun segera berkemas.

Pelabuhan Sinabang masih tampak gelap. Waktu shubuh masih jauh. Kami turun belakangan daripada penumpang yang lain. Hari ini terbayang kami akan melakukan apa saja. Di pelosok ini, kami bekerja, maka kami ada.

Tak akan pernah lali selali-laline perjalanan tadi.

 

***

Catatan: Siapa pun adanya yang tidak setuju dengan tulisan feature ini silakan bikin tulisan setara, jangan sms, dan jangan email, jangan menggerutu, apatah lagi telepon. 😀

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

8 Januari 2014