RIHLAH RIZA #22: SEHARI MENJADI SINGA


RIHLAH RIZA #22: SEHARI MENJADI SINGA

 

“Hidupnya seekor singa sehari masih lebih berkenan ketimbang ratusan tahun hidupnya seekor serigala,” tegas Tipu Sultan di istananya di Seringapattam, Mysore, saat gerbang istana diserbu penjajah Inggris yang dibantu para kaptennya yang telah menjadi pengkhianat dan komprador. Penasehatnya menyarankan Tipu Sultan berkompromi dengan syarat-syarat dalam perjanjian yang disodorkan kepadanya. Tidak. Ia memilih menjadi syuhada.

**

Duha itu, jam sembilan pagi, kami berangkat menuju Kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Simeulue. Letaknya di belakang Kantor Bupati Simeulue. Di sana kami diterima oleh Kepala DPPKAD. Kami membahas persiapan acara Serah Terima Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang akan digelar besok. Acara itu rencananya akan dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten, Naskah bin Kamar. Sebagian dari kami kemudian memisahkan diri untuk memberikan konsultasi tentang perangkat lunak sistem informasi dan jaringan.

Jadi Kabupaten Simeulue ini merupakan pecahan dari Kabupaten Aceh Barat. Sejak tahun 1999 berpisah dari induknya dan beribu kota di Sinabang. Tempat KMP Sinabang bersandar. Letak ibu kota kabupaten ini berada di Kecamatan Simeulue Timur. Kotanya kecil. Pusing-pusing di sana tidak makan waktu banyak.

Di Sinabang ada masjid tertua namanya Masjid Raya Baiturrahmah. Kami singgah di hari pertama keberadaan kami di Pulau Simeulue untuk salat duhur di sana. Masjidnya sangat sederhana karena berdinding papan saja. Di sebelah masjid ini sedang dibangun masjid yang lebih besar dan kokoh lagi sebagai penggantinya. Kompleks masjid raya ini letaknya di persimpangan di depan Polsek Simeulue Timur dan Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Sinabang.

Rutan ini jangan dikira seperti Rutan Salemba atau rutan-rutan lainnya yang bertembok tebal. DI sini rutannya cukup dengan dinding papan seadanya dan berpagar luar hanya dengan kawat biasa saja. Tidak ada pengamanan ketat seperti sebuah penjara, mungkin samudera yang mengelilingi pulau ini sudah menjadi tembok alami dan bikin jiper para tahanan yang mau melarikan diri. Pernah kejadian tahanan melarikan diri dengan menggergaji papan namun dipastikan tidak bisa keluar dari Simeulue. Polisi sudah sebar fotonya di pelabuhan.

Setelah salat kami menuju pelabuhan lama Sinabang yang sekarang tidak terpakai lagi. Dermaga utama terlihat masih baik namun dermaga untuk menambatkan tali dan dermaga yang berada di sebelah kiri terlihat rusak juga amblas. Pelabuhan ini tidak dipakai lagi untuk melayani feri menuju Pulau Sumatra. Kami tidak lama di sana. Ada yang harus kami tuju setelahnya. Tempat penangkaran lobster.

Letaknya dekat keramaian kota Sinabang. Tempat ini dimiliki oleh Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan bernama Mahlil. Ia pengusaha lobster dan ikan yang sudah berusaha lebih dari 20 tahun di bidang itu. Dari daratan kami harus menyeberangi semacam demaga papan kayu menuju tempat penangkarannya itu. Di samping dermaga tertambat kapal boat milik polisi air dan kapal kayu nelayan unik yang besar. Unik karena di setiap sisi kapal kayu berwarna merah ini terdapat semacam kayu panjang untuk menjaga keseimbangannya.

Pada saat kami datang pun Mahlil sedang menyiapkan lobster untuk dikirimkan ke Medan. Inilah saat pertama kali melihat dengan mata kepala sendiri dan memegang hewan laut invertebrata berpelindung luar yang keras. Otak pajak kami sudah mulai bekerja. Kalau setiap hari saja ada puluhan kilogram lobster yang dijual, berapa pendapatan yang diterima Mahlil sedangkan harga per kilogram lobster ini 250 ribu rupiah.

Mahlil selain menangkar lobster, juga menangkar jenis ikan kerapu tiger dan hiu. Semua hewan bernilai mahal ini didapatkan dari para nelayan yang menangkapnya dari tengah laut. Kebetulan kami pun melihat ada satu nelayan sedang menyandarkan sampannya lalu menjinjing hasil tangkapannya berupa kerapu tiger untuk dijual kepada Mahlil. Pengusaha ini menjual kembali kerapu tiger dengan harga 120 ribu rupiah per kilogramnya.

Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melihat penangkarannya. Mahlil membuat banyak petak keramba masing-masing berukuran sembilan meter persegi. Setiap petak keramba mempunyai jaring-jaring dan diberi nomor dengan memakai styrofoam. Di atas jaring itulah ditempatkan hiu berukuran kecil sepanjang satu meter, lobster, dan kerapu tiger. Tentu tidak dicampur.

Setelah puas melihat-lihat kami segera pergi menuju sebuah tempat di mana legenda tentang Simeulue bermula: Makam Tengku Diujung. Kami harus menempuh perjalanan sepanjang 67,8 kilometer dari Sinabang ke Desa Latak Ayah, tempat makam itu berada. Ini berarti kami harus berpindah lokasi dari sisi timur pulau Simeulue menuju sisi baratnya.

Empat per lima bagian perjalanan itu sudah pasti dilalui melalui pesisir pantai. Kami terpukau habis dengan pemandangan yang disuguhkannya. Pantai pasir putih, jejeran pohon kelapa, ombak yang pas buat surfing, dan
pegunungan di sisi kanan kami. Jalanan sepi dan hanya satu dua kendaraan yang kami susul, bahkan berpapasan dengan kendaraan lain pun tidak.

Kondisi jalan lumayan mulus, hanya pada saat di jembatan kami harus mengurangi kecepatan karena masih dalam perbaikan. Hampir seluruh jembatan yang kami lewati demikian adanya. Selain itu, seperti di daerah lainnya di provinsi Aceh, kami banyak melihat kumpulan kerbau yang merumput dan dibiarkan begitu saja. Tak ada gembalanya sama sekali.

Setelah lebih dari dua jam berkendara, akhirnya kami sampai. Makam ini berada di sebuah teluk. Kata penduduk setempat, di sekitar makam ini dulunya adalah pantai. Namun setelah adanya tsunami permukaan tanahnya naik sehingga garis pantai pun mundur puluhan meter. Daratannya menjadi bertambah luas. Konon katanya tsunami memang menghantam teluk ini, tapi tidak merusak sama sekali kompleks makamnya. Air membelah dan melewati begitu saja. Siapa Tengku Diujung ini?

Seperti diceritakan oleh Kepala DPPKAD sendiri kepada kami, dulu ada seorang ulama bernama Khaliilullaah yang berangkat haji dari Minangkabau, saat itu Minangkabau masih menjadi daerah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Ia singgah dulu di Aceh. Oleh Sang Sultan ia diminta untuk menunda keberangkatannya ke tanah suci Makkah. Ia ditugaskan untuk mengislamkan penduduk Pulau Simeulue. Keinginan Sang Sultan dituruti, ia bersama dayang istana yang kemudian menjadi istrinya pergi ke pulau itu untuk memulai dakwahnya di sana.

Di pulau itu ia bertemu dengan penguasa Pulau Simeulue yang bernama Songsong Bulu yang masih menganut paham animisme. Dua orang itu adu kesaktian yang pada akhirnya dimenangkan oleh sang ulama. Singkat cerita penduduk Simeulue pun memeluk Islam. Oleh para pengikutnya sang ulama digelari oleh para pengikutnya sebagai Tengku Diujung. Di akhir hayatnya Tengku Diujung dimakamkan di sebuah tempat yang kemudian dinamakan Latak Ayah. Latak itu berasal dari bahasa minang yang berarti letak. Bersebelahan dengan makam sang ulama terdapat makam sang istrinya.

Selesai berziarah kami mampir di warung sebelahnya. Warung ini berdiri di atas tambak dan persis di bibir teluk. Airnya berwarna hijau. Remaja dan anak-anak pun menjadikan teluk itu sebagai tempat bermain mereka. Berenang atau bersampan.

Pemilik warung juga merupakan penangkar lobster, ikan, dan hiu. Inilah tempat yang sering menjadi kunjungan bagi para pecinta lobster. Perjalanan lama dan melelahkan ini terbayar dengan kenikmatan Mr. Crab yang digoreng sampai berwarna merah itu. Dagingnya empuk dan manis. Ini pengalaman pertama saya makan lobster.

 

Sinabang-Latak Ayah (Google Maps Olahan)

Tempat Penangkaran Lobster milik Mahlil di Sinabang. (Foto koleksi pribadi).

 

Ini di Maldives bukan di Simeulue (@NatGeoID).

 

Nah, kalau ini asli di Latak Ayah. (Foto koleksi pribadi).

 

Pantai yang sudah menjadi daratan di Teluk Latak Ayah (Foto koleksi pribadi).

 


Pemandangan Lain Teluk Latak Ayah (Foto koleksi pribadi).


Makam Asysyaikh Khaliilullaah (Foto koleksi pribadi).

 


Anak-anak Nelayan (Foto Koleksi Pribadi).

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul enam sore walau suasananya masih terang benderang. Kami pun segera beranjak pulang. Besok pagi masih ada yang harus kami selesaikan. Yang pasti seharian itu saya banyak mendapatkan pengalaman luar biasa. Jadi banyak tahu. Jadi banyak ngebatin kaya batin. Sehari di sini mengayakan sisi-sisi jiwa saya yang tidak pernah didapatkan dalam ratusan hari di Jakarta dan keramaiannya. Tapi baik singa atau pun jadi serigala mereka sama-sama hewan yang suka hidup berkelompok. Entah jadi salah satu dari keduanya, mereka tidak bisa hidup sendirian di luar kelompok dan keluarganya, di alam liar. Apalagi saya sebagai manusia. So…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sebuah garis imajiner

12 Januari 2013

 

RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH


RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH

Sultan Iskandar Muda ini menghukum mati adiknya—Meurah Pupok—yang berzina dengan istri seorang perwira. Ada kalimat yang difatwakannya ketika ia dihalangi oleh para penasehatnya untuk tidak menghukum sang adik, “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.”

**

Jam 6 pagi Banda Aceh masih gelap dan saya masih terbaring di atas kasur. Ke depannya lagi saya tidak akan berurusan dengan hal yang bernama Commuter Line di waktu yang sama, dengan manusia yang berjejalan di dalamnya, dengan aroma parfum yang menusuk hidung, dan ketergesaan ala orang-orang metropolitan.

Ini hari kedua kami di ibu kota propinsi paling barat Indonesia ini. Kami sepakat untuk jalan-jalan pagi sebelum sarapan. Kemana? Ke mana saja kaki ini akan membawa kami. Itu jawabannya.

image

Ini para mantan Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding di sebuah sudut Banda Aceh.(foto pribadi)

“Lokasinya dekat,” jawab saya atas sebuah pertanyaan teman tentang keberadaan masjid yang menjadi landmark kota Banda Aceh. Itu juga karena saya selalu ingat-ingat betul rute yang ditempuh mobil jemputan kami sepanjang perjalanan kemarin dari bandara menuju hotel. Letaknya lebih dari satu km dari tempat kami menginap.

image

Suasana Masjid Baiturrahman pagi itu (18/10). Foto pribadi.

Masjid Baiturrahman ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, seorang sultan yang membawa kesultanan Aceh pada kejayaan dan kemakmurannya. Masjid yang mulanya hanya satu kubah ini pernah terbakar pada saat agresi penjajah Belanda di 1873 dan dibangun kembali pada 1881. Pada 1935 masjid dipugar dengan menambah dua kubah. Di masa orde baru, tepatnya di tahun 1979 masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini dipugar kembali dengan menambah dua kubah dan dua menara di utara dan selatannya.

Dari segi arsitekturnya masjid ini indah banget. Dengan kolam yang berada di halaman depannya mengingatkan kita dengan Tajmahal di Agra. Sebuah bangunan indah peninggalan raja Mughal, Sultan Shah Jahan, yang kebetulan pula sebagian tahun pembangunannya bersamaan dengan masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh.

image

(foto pribadi)

Karena keterbatasan waktu saya tak sempat untuk memasuki masjid itu. Saya hanya memandangnya dari luar saja. Insya Allah suatu saat saya akan shalat di dalamnya.

Dari masjid kami berjalan ke arah timur. Melewati sebuah lokomotif dan satu gerbong yang ditaruh di atas sebuah bangunan. Kami melihatnya dari jauh. Ada plang berkarat yang menginformasikan tentang sejarah perkeretaapian di Aceh.

Jalan kereta api di Aceh dibangun oleh Belanda dengan tujuan utamanya adalah untuk kepentingan politik dan ekonomi. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474; kayu untuk bantalan rel dari Malaka tahun 1875 dan meterial untuk rel dari Inggris (1875). Jalan kereta api Ulee Lhee-Kuta Radja sepanjang 5 KM dibuka untuk lalulintas umum pada tanggal 12 Agustus 1876. Lintas Ulee Lhee-Kuta Radja terkenal sebagai lintas kereta api negara yang ada di Nusantara.

image

Lokomotif dan gerbong di Komplek Kereta Api Banda Aceh (foto pribadi)

Ada yang salah dari informasi di plang itu. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474? Apakah benar? Yang benar mungkin 1874. Karena Belanda baru menduduki Banda Aceh di tahun 1873 setelah mengorbankan 80 serdadu mati dan tewasnya Jenderal Kohler dalam agresinya. Tahun 1474 saja Kesultanan Aceh belum berdiri. Sultan Ali Mughayat Syah mendirikannya di tahun 1514.

Dari sebuah buku yang ditulis oleh sejawaran Ahmad Mansur Suryanegara yang berjudul Api Sejarah maka kita akan mengetahui maksud adanya pembangunan rel kereta api di masa penjajahan Belanda.

Menurut teori geopolitik McKinder, kereta api sebagai alat transportasi dalam upaya penguasaan wilayah. Pada masa perang, kereta api berfungsi sebagai Benteng Stelsel dalam penguasaan teritorial. Serdadu Belanda dalam Perang Aceh menggunakan jasa kereta api sebagai sarana ruthless operation—operasi tanpa belas kasih, menumpas perlawanan ulama dan santri—santri insurrection. Malam harinya dihancurkanlah rel kereta api oleh gerilyawan Aceh. Di Pulau Jawa, dibangun jalan kereta api sebagai gurita yang menyempitkan ruang gerak ulama dan santri.

Dari komplek milik perusahaan kereta api kami terus menuju ke selatan. Melewati komplek perumahan militer. Di sana kami menjumpai Komplek Makam Kandang XII. Terdapat 12 makam sultan Aceh beserta keluarganya. Antara lain: Sultan Syamsu Syah, Sultan Ali Mughayyat Syah, Sultan Shalahuddin, Sultan Ali Riayat Syah AlQahar, Sultan Husain Syah—empat sultan terakhir secara berurutan ini merupakan para sultan di awal-awal Kesultanan Aceh, dan Malikul Adil.

image

Komplek Makam Para Sultan Aceh (foto pribadi)

Ada pagar tembok yang mengelilingi komplek ini. Kalau Anda mau menziarahinya silakan lewati pintu besi yang tak terkunci. Ingat adab-adab ziarah kuburan. Ucapkan salam dan doakan mereka. Assalaamu’alaikum ya ahlal qubur. Saya sekadar lewat dan tidak memasukinya karena teman-teman sudah jauh meninggalkan saya.

Kemudian ada area terakhir yang kami kunjungi—sebenarnya cuma lewat doang—untuk pagi itu, yakni Meuligoe Gubernur Aceh atau pendopo atau rumah dinas Gubernur Aceh. Dulu pendopo ini merupakan kediaman dari gubernur Belanda dan didirikan di tahun 1880 saat penjajah Belanda mulai menguasai Banda Aceh.

image

(foto pribadi)

Setelah itu kami kembali bergegas ke tempat kami menginap, karena kami harus bersiap-siap. Bakda sholat jumat nanti kami akan segera dilantik. Pak Andy Purnomo akan menjemput kami pukul 12.00 siang dan mengantarkannya ke Kanwil DJP Aceh.

Pagi itu ada jejak-jejak masa lalu yang saya dapatkan. Jejak dari sebuah kejayaan bangsa. Masa keemasan Sultan Iskandar Muda telah dicatat dalam sejarah sebagai masa yang paling gemilang bagi masyarakat Aceh. Dan kegemilangan serta kejayaan itu simetris dengan penegakan hukum tanpa pandang bulu yang dicontohkannya. Keteladanan yang patut ditiru oleh para penguasa saat ini di republik ini. Siapa pun orangnya, apa pun jabatannya.

Ia tak akan melindungi anaknya, adiknya, istrinya, kerabatnya, saat mereka melanggar hukum. Biarlah menjadi gema apa yang dikatakan Sultan Iskandar Muda ke dalam sanubari setiap anak bangsa saat ini: “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.” Ini seperti de javu episode Muhammad saw dan Fathimah 14 abad yang silam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

18:45 21 Oktober 2013