RIHLAH RIZA #63: Warung Pengelana, Warung Termahal di Dunia


image

“Berapa Bu? Tanpa nasi, pakai sayur, telor dadar, dan ikan itu? Tanya saya sambil menunjuk ikan merah di etalase.

“Lima belas juta…” jawabnya.

“What the…” tiba-tiba dada ini terasa memelihara Fir’aun.

Warung yang letaknya di terminal Tapaktuan ini warung “termahal” sedunia. Menu makanannya berharga jutaan rupiah. Dijual oleh wanita “tertua” sedunia pula. Entah “bego” entah kenapa,  tetap saja pengunjungnya banyak. Termasuk saya yang bersedia datang ke sana. Tak peduli tunjangan kinerja naik atau tidak.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #62: Jangan Beri Mereka Harapan


image
Salah satu sudut Tapaktuan

Hope. It is the only thing stronger than fear. A little hope is effective. A lot hope is dangerous. A spark is fine, as long as it’s contained. ~~~President Snow dalam The Hunger Games.

Setelah beberapa minggu meninggalkan Tapaktuan karena tugas, akhirnya Senin (31/5) kemarin bisa ngantor  lagi. Ada yang patut saya syukuri dari perjalanan menuju Tapaktuan di hari Ahad kemarin itu.

Baca Lebih Lanjut.

Smiling is the Way the Soul Says Hello


image

Melina, saya, Cimot, Rachmat Riyadi

Lagu Bryanna dari telepon genggam memecahkan keheningan dini hari. Itu berarti sebentar lagi teman sekamar saya ini bangun dan pergi mandi. Ia tak memedulikan dinginnya air Mega Mendung, Puncak. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian rapih. Baju koko putih dan sarung menjadi aksesorisnya untuk pergi ke masjid. Padahal waktu Shubuh masih 30 menit menjelang.

Pantaslah kalau Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Banten ini didaulat di malam keakraban  Siswa Peleton 1 Gelombang 2 Pendidikan Pelatihan (Diklat) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) DJP di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) sebagai Terkonsisten paling duluan mandi dari keseluruhan anggota peleton yang berjumlah 30 orang itu. Ada tiga orang lain lagi yang mendapat “anugrah” TER di malam pelepasan ini.

Ada yang mendapatkan gelar “Tergokil”. Karena selama diklat yang diselenggarakan selama satu bulan itu kerjaannya “ngelucu”. Dan memang betul dia itu lucu banget dan bikin anggota peleton lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Salah satu kegokilannya ditunjukkan dengan cara bernyanyi tiba-tiba saat sedang proses belajar mengajar. Kebetulan dosennya adalah seorang Polwan sekaligus Psikolog Kriminal di Mabes Polri. Salah satu dosen dengan penampilan necis ala sosialita. Lirik lagu dangdut yang ditujukan kepada Ibu Dosen cantik yang hanya bisa tersipu-sipu itu. Dialah yang bernama Cimot–pemilik nama asli Yulianto, Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan di Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur.

Gelar TER lainnya jatuh pada seorang perempuan. Dia satu dari dua perempuan di peleton kami. Prestasi TER-nya di bidang yang biasa didominasi laki-laki. Dan dia mampu mengalahkan kami. Dialah pemegang nilai tertinggi dalam menembak: Melina Harveyanti, pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Kantor Pusat DJP. Selain punya kemampuan ‘menembak’ dengan kamera dia pun ternyata mampu menembakkan, memuntahkan, serta mengarahkan proyektil peluru ke sasarannya. Patut jadi anggota Perbakin.

Nah, terakhir ternyata TER dengan kategori paling ‘aneh’. Terkonsisten tak makan nasi selama sebulan di Pusdik Reskrim. Itulah saya sendiri. Hehehe…saya tak menduga terpilih sedemikian ini. Teman-teman saya memang tahu persis kebiasaan saya. Mereka langsung menyodorkan lauk pauk tersisa kepada saya untuk dihabiskan. Biasanya lauknya itu adalah daging sapi,daging ayam, dan ikan goreng sebagai sumber protein tinggi pengganti karbohidrat. Saya memang mengganti nasi dengan karbohidrat yang lain.

Sebulan pun berlalu. Saatnya kami kembali bertugas ke tempat masing-masing. Membawa ilmu penyidikan yang diharapkan bisa langsung diaplikasikan. Sebagai bekal, kami disiapkan surat pengantar untuk disampaikan ke Korwas (Koordinasi dan Pengawasan PPNS) masing-masing daerah. Entah di Polres, Polda, ataupun di Mabes Polri-nya.

Sebulan kebersamaan pun berakhir. Tapi sepertinya berasa ada yang janggal. Seperti belum ada yang “move on”. Kebiasaan selama sebulan harus diganti dengan rutinitas seperti biasanya. Tidak ada lagi suara sirine buatan Cimot, tak ada lagi suara teriakan “ayo ayo ayo ayo” di lorong barak sebagai pengingat waktu “moving” telah tiba, tak ada lagi kumpul ramai-ramai di depan tv, dan banyak lagi tak ada tak ada lainnya.

Memang sudah semestinya demikian. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perjumpaan selalu diakhiri dengan perpisahan. Dan tetap dengan senyum kita berpisah. Karena senyum adalah cara jiwa ucapkan halo. Begitulah ingatan saya menuntun pada apa yang dikatakan Jarod Kintz.

“Smiling is the way the soul says hello. Obviously a frown means goodbye. Is there a word halfway between hello and goodbye? Because that’s what my soul is saying right now.

image
Loncat semua. (Foto dokumentasi teman)

image

“Siap Komandan…!” Pose para Jenderal eselon dua DJP. Kika: Pak Cucu, Pak Samon Jaya, Pak Mekar, dan Pak Rudi Gunawan Bastari

image
“Mau nembak apa Ndan?” Kumendan Alex Diantara dan Danton Agung Karmanta

image
Di sebuah sudut Pusdik

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan dinranting cemara
25 Mei 2015
Foto-foto di atas adalah foto dokumentasi bukan milik saya melainkan milik teman-teman satu peleton.

Cuma Satu yang Tak Akan Berkurang Walau Dibagi


Jalan rusak Citayam-Bojonggede via metropolitan.id

Jalanan Citayam-Bojonggede rusak berat. Menjelma kubangan kerbau dan kawah-kawah menganga yang lebar dan dalam. Tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilewati oleh mobil hitam yang berisi wanita kesakitan dan senantiasa berzikir karena hendak melahirkan.

Saya berusaha melewati setiap lubang itu dengan pelan dan tenang. Karena setiap guncangan yang terjadi maka menyebabkan kontraksi yang semakin menjadi. Seiring dengan itu tentu teriakan kesakitan mengisi kembali ruang dan waktu. Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #61: Diserbu Densus 88


image

Suara tembakan pecah di dini hari. Memekakkan telinga. Saya yang sedang tidur lelap terbangun dan terperanjat. Tapi saya tahu ini akan terjadi. Anggota Densus 88 itu akan menyerbu kamar kami.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #60: Siap Ndan…!!! 86


image

Lapangan Hijau Pusdik Reskrim

Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) yang punya moto “jeli bagai  rajawali, tangkas bagai macan kumbang, tangguh bagai batu karang” ini terletak di Mega Mendung, Puncak, Bogor. Di kaki gunung Gede Pangrango. Di sinilah tempat dididiknya penyidik dari seluruh Indonesia. Baik yang berasal dari Kepolisian Republik Indonesia ataupun Pegawai Negeri Sipil.  Kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengikuti Diklat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) selama sebulan. Sebuah kesempatan dan amanah yang tak boleh disia-siakan.  

Continue reading RIHLAH RIZA #60: Siap Ndan…!!! 86

RIHLAH RIZA #59: Tiga bukan Empat


via sarahohm.com

 


Di Tapaktuan ini akhirnya saya mendapatkan satu keberkahan baru dalam seumur hidup saya. Jadi teman-teman di Tapaktuan, kalau kalian bisa tahu, sekarang saya sudah bisa makan tiga jenis buah. Bukan empat seperti yang dikatakan oleh Bapak Kepala Kantor kita. Hahaha

~~R Almanfaluthi

 

Saya tuh tidak suka buah. Semua buah. Memakan buah bikin saya enek dan mau muntah. Apalagi kalau mencium baunya. Melihat orang makan buah juga bikin pengen muntah. Menjijikkan. Saya harus tutup hidung dan mata kalau ada orang yang makan buah di hadapan saya. Apalagi dalam sebuah kendaraan umum jarak jauh misalnya. Sudah pasti itu bikin bete.

Baca Lebih Lanjut.

FREELETICS WOCHE 15: 300! My Hell Week



Tiga ratus orang Sparta, menghalangi ratusan ribu pasukan Persia di sebuah celah sempit “Gerbang Panas” Thermophylae, 2495 tahun lalu. Unjuk kekuatan itu melegenda. Menjadi sebuah simbol atas sebuah kegigihan dan kekuatan melawan sebuah kemustahilan.

**

Hujan di Jumat (17/4) pagi itu tak henti-hentinya mengguyuri Tapaktuan. Derasnya tak terkatakan lagi. Kalau sudah demikian walaupun durasinya sebentar alamat mes akan kebanjiran. Dan betul, Bang Koen dan Bang Toels yang berjaga di sana sudah beri pesan kalau air sudah mulai naik. Terpaksa saya cabut dari kantor untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

  Baca Lebih Lanjut

POLA DIET “EAT CLEAN FREELETICS” SAYA



Freeletics.com

Being a Free Athlete doesn’t end with your workout.

A clean, balanced and healthy diet is an important part of your athletic journey.

Mengurangi berat badan sebanyak 17 kilogram dari 78 kilogram menjadi 61 kilogram dalam waktu empat bulan memang butuh perjuangan. Setelah workout Freeletics, ini saatnya membahas tentang eat clean Freeletics atau pola diet yang saya terapkan. Ada Nutrition Guide yang diberikan oleh Freeletics tapi lagi-lagi berbayar. Kalaupun mampu membelinya tentu ada kebiasaan orang barat yang berbeda atau kurang pas diterapkan buat kita orang timur. Jadi sebenarnya inti dari eat clean Freeletics ini adalah pola makan yang sehat.

Kata mereka, “Being a Free Athlete doesn’t end with your workout. A clean, balanced and healthy diet is an important part of your athletic journey.” Diet bersih, seimbang, dan sehat adalah kunci diet itu. Saya ingat dengan apa yang dikatakan oleh Opaz atau Handryano Prasetyo, pengurus freeletics Jakarta dalam wawancaranya yang dimuat di tempodotcrot.

Baca Lebih lanjut.

FREELETICS WOCHE 14: Memula dan Mengakhiri


ytimg.com

I normally pray before a race, I read dua

~~Mo, long distance runner.

Nama depannya memang Mohamed, dan nama itu bagi petugas Bea Cukai mamarika—dalam sistem komputer mereka—adalah nama yang mencurigakan, nama teroris. Sehingga ia terpaksa diberhentikan berulang kali. Walau sudah menunjukkan kepada petugas medali emas olimpiade yang diperolehnya di tahun 2012 ia tidak diperkenankan masuk ke negara itu.

Baca lebih lanjut.