Smiling is the Way the Soul Says Hello


image

Melina, saya, Cimot, Rachmat Riyadi

Lagu Bryanna dari telepon genggam memecahkan keheningan dini hari. Itu berarti sebentar lagi teman sekamar saya ini bangun dan pergi mandi. Ia tak memedulikan dinginnya air Mega Mendung, Puncak. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian rapih. Baju koko putih dan sarung menjadi aksesorisnya untuk pergi ke masjid. Padahal waktu Shubuh masih 30 menit menjelang.

Pantaslah kalau Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Banten ini didaulat di malam keakraban  Siswa Peleton 1 Gelombang 2 Pendidikan Pelatihan (Diklat) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) DJP di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) sebagai Terkonsisten paling duluan mandi dari keseluruhan anggota peleton yang berjumlah 30 orang itu. Ada tiga orang lain lagi yang mendapat “anugrah” TER di malam pelepasan ini.

Ada yang mendapatkan gelar “Tergokil”. Karena selama diklat yang diselenggarakan selama satu bulan itu kerjaannya “ngelucu”. Dan memang betul dia itu lucu banget dan bikin anggota peleton lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Salah satu kegokilannya ditunjukkan dengan cara bernyanyi tiba-tiba saat sedang proses belajar mengajar. Kebetulan dosennya adalah seorang Polwan sekaligus Psikolog Kriminal di Mabes Polri. Salah satu dosen dengan penampilan necis ala sosialita. Lirik lagu dangdut yang ditujukan kepada Ibu Dosen cantik yang hanya bisa tersipu-sipu itu. Dialah yang bernama Cimot–pemilik nama asli Yulianto, Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan di Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur.

Gelar TER lainnya jatuh pada seorang perempuan. Dia satu dari dua perempuan di peleton kami. Prestasi TER-nya di bidang yang biasa didominasi laki-laki. Dan dia mampu mengalahkan kami. Dialah pemegang nilai tertinggi dalam menembak: Melina Harveyanti, pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Kantor Pusat DJP. Selain punya kemampuan ‘menembak’ dengan kamera dia pun ternyata mampu menembakkan, memuntahkan, serta mengarahkan proyektil peluru ke sasarannya. Patut jadi anggota Perbakin.

Nah, terakhir ternyata TER dengan kategori paling ‘aneh’. Terkonsisten tak makan nasi selama sebulan di Pusdik Reskrim. Itulah saya sendiri. Hehehe…saya tak menduga terpilih sedemikian ini. Teman-teman saya memang tahu persis kebiasaan saya. Mereka langsung menyodorkan lauk pauk tersisa kepada saya untuk dihabiskan. Biasanya lauknya itu adalah daging sapi,daging ayam, dan ikan goreng sebagai sumber protein tinggi pengganti karbohidrat. Saya memang mengganti nasi dengan karbohidrat yang lain.

Sebulan pun berlalu. Saatnya kami kembali bertugas ke tempat masing-masing. Membawa ilmu penyidikan yang diharapkan bisa langsung diaplikasikan. Sebagai bekal, kami disiapkan surat pengantar untuk disampaikan ke Korwas (Koordinasi dan Pengawasan PPNS) masing-masing daerah. Entah di Polres, Polda, ataupun di Mabes Polri-nya.

Sebulan kebersamaan pun berakhir. Tapi sepertinya berasa ada yang janggal. Seperti belum ada yang “move on”. Kebiasaan selama sebulan harus diganti dengan rutinitas seperti biasanya. Tidak ada lagi suara sirine buatan Cimot, tak ada lagi suara teriakan “ayo ayo ayo ayo” di lorong barak sebagai pengingat waktu “moving” telah tiba, tak ada lagi kumpul ramai-ramai di depan tv, dan banyak lagi tak ada tak ada lainnya.

Memang sudah semestinya demikian. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perjumpaan selalu diakhiri dengan perpisahan. Dan tetap dengan senyum kita berpisah. Karena senyum adalah cara jiwa ucapkan halo. Begitulah ingatan saya menuntun pada apa yang dikatakan Jarod Kintz.

“Smiling is the way the soul says hello. Obviously a frown means goodbye. Is there a word halfway between hello and goodbye? Because that’s what my soul is saying right now.

image
Loncat semua. (Foto dokumentasi teman)

image

“Siap Komandan…!” Pose para Jenderal eselon dua DJP. Kika: Pak Cucu, Pak Samon Jaya, Pak Mekar, dan Pak Rudi Gunawan Bastari

image
“Mau nembak apa Ndan?” Kumendan Alex Diantara dan Danton Agung Karmanta

image
Di sebuah sudut Pusdik

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan dinranting cemara
25 Mei 2015
Foto-foto di atas adalah foto dokumentasi bukan milik saya melainkan milik teman-teman satu peleton.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s