Ditjen Pajak Gencarkan Penyidikan Buru Pengemplang Pajak


Kerja keras Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan kerja samanya dengan pihak Kepolisian RI dan Kejaksaan membuahkan hasil pada minggu pertama pascaliburan panjang lebaran.

Pekan lalu, pada hari pertama setelah liburan itu (Senin, 10/6), Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibinong, Jawa Barat membacakan putusan pengadilan terhadap tiga terdakwa.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Tahun 2016, Wajib Pajak Harus Mewaspadai Ini



Dari banyak email yang masuk ke kotak surat atau kolom konsultasi pajak di blog saya, ada beberapa yang tanpa sungkan menanyakan tentang bagaimana caranya supaya penghasilan yang ia terima dari berbagai sumber tidak bisa terdeteksi oleh petugas pajak.

Kasarnya, supaya pajak yang dibayar bisa berkurang atau tidak bayar pajak sama sekali. Kalau untuk hal ini tentu saya tidak akan meladeninya bahkan menasihati supaya jangan melakukan hal itu.

Karena selain ongkosnya mahal kalau ketahuan, akan banyak hal tak menyenangkan yang dia alami sebagai Wajib Pajak tidak patuh. Apalagi di tahun 2016 nanti.

Baca Lebih Lengkap

Smiling is the Way the Soul Says Hello


image

Melina, saya, Cimot, Rachmat Riyadi

Lagu Bryanna dari telepon genggam memecahkan keheningan dini hari. Itu berarti sebentar lagi teman sekamar saya ini bangun dan pergi mandi. Ia tak memedulikan dinginnya air Mega Mendung, Puncak. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian rapih. Baju koko putih dan sarung menjadi aksesorisnya untuk pergi ke masjid. Padahal waktu Shubuh masih 30 menit menjelang.

Pantaslah kalau Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Banten ini didaulat di malam keakraban  Siswa Peleton 1 Gelombang 2 Pendidikan Pelatihan (Diklat) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) DJP di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) sebagai Terkonsisten paling duluan mandi dari keseluruhan anggota peleton yang berjumlah 30 orang itu. Ada tiga orang lain lagi yang mendapat “anugrah” TER di malam pelepasan ini.

Ada yang mendapatkan gelar “Tergokil”. Karena selama diklat yang diselenggarakan selama satu bulan itu kerjaannya “ngelucu”. Dan memang betul dia itu lucu banget dan bikin anggota peleton lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Salah satu kegokilannya ditunjukkan dengan cara bernyanyi tiba-tiba saat sedang proses belajar mengajar. Kebetulan dosennya adalah seorang Polwan sekaligus Psikolog Kriminal di Mabes Polri. Salah satu dosen dengan penampilan necis ala sosialita. Lirik lagu dangdut yang ditujukan kepada Ibu Dosen cantik yang hanya bisa tersipu-sipu itu. Dialah yang bernama Cimot–pemilik nama asli Yulianto, Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan di Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur.

Gelar TER lainnya jatuh pada seorang perempuan. Dia satu dari dua perempuan di peleton kami. Prestasi TER-nya di bidang yang biasa didominasi laki-laki. Dan dia mampu mengalahkan kami. Dialah pemegang nilai tertinggi dalam menembak: Melina Harveyanti, pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Kantor Pusat DJP. Selain punya kemampuan ‘menembak’ dengan kamera dia pun ternyata mampu menembakkan, memuntahkan, serta mengarahkan proyektil peluru ke sasarannya. Patut jadi anggota Perbakin.

Nah, terakhir ternyata TER dengan kategori paling ‘aneh’. Terkonsisten tak makan nasi selama sebulan di Pusdik Reskrim. Itulah saya sendiri. Hehehe…saya tak menduga terpilih sedemikian ini. Teman-teman saya memang tahu persis kebiasaan saya. Mereka langsung menyodorkan lauk pauk tersisa kepada saya untuk dihabiskan. Biasanya lauknya itu adalah daging sapi,daging ayam, dan ikan goreng sebagai sumber protein tinggi pengganti karbohidrat. Saya memang mengganti nasi dengan karbohidrat yang lain.

Sebulan pun berlalu. Saatnya kami kembali bertugas ke tempat masing-masing. Membawa ilmu penyidikan yang diharapkan bisa langsung diaplikasikan. Sebagai bekal, kami disiapkan surat pengantar untuk disampaikan ke Korwas (Koordinasi dan Pengawasan PPNS) masing-masing daerah. Entah di Polres, Polda, ataupun di Mabes Polri-nya.

Sebulan kebersamaan pun berakhir. Tapi sepertinya berasa ada yang janggal. Seperti belum ada yang “move on”. Kebiasaan selama sebulan harus diganti dengan rutinitas seperti biasanya. Tidak ada lagi suara sirine buatan Cimot, tak ada lagi suara teriakan “ayo ayo ayo ayo” di lorong barak sebagai pengingat waktu “moving” telah tiba, tak ada lagi kumpul ramai-ramai di depan tv, dan banyak lagi tak ada tak ada lainnya.

Memang sudah semestinya demikian. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perjumpaan selalu diakhiri dengan perpisahan. Dan tetap dengan senyum kita berpisah. Karena senyum adalah cara jiwa ucapkan halo. Begitulah ingatan saya menuntun pada apa yang dikatakan Jarod Kintz.

“Smiling is the way the soul says hello. Obviously a frown means goodbye. Is there a word halfway between hello and goodbye? Because that’s what my soul is saying right now.

image
Loncat semua. (Foto dokumentasi teman)

image

“Siap Komandan…!” Pose para Jenderal eselon dua DJP. Kika: Pak Cucu, Pak Samon Jaya, Pak Mekar, dan Pak Rudi Gunawan Bastari

image
“Mau nembak apa Ndan?” Kumendan Alex Diantara dan Danton Agung Karmanta

image
Di sebuah sudut Pusdik

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan dinranting cemara
25 Mei 2015
Foto-foto di atas adalah foto dokumentasi bukan milik saya melainkan milik teman-teman satu peleton.

RIHLAH RIZA #60: Siap Ndan…!!! 86


image

Lapangan Hijau Pusdik Reskrim

Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) yang punya moto “jeli bagai  rajawali, tangkas bagai macan kumbang, tangguh bagai batu karang” ini terletak di Mega Mendung, Puncak, Bogor. Di kaki gunung Gede Pangrango. Di sinilah tempat dididiknya penyidik dari seluruh Indonesia. Baik yang berasal dari Kepolisian Republik Indonesia ataupun Pegawai Negeri Sipil.  Kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengikuti Diklat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) selama sebulan. Sebuah kesempatan dan amanah yang tak boleh disia-siakan.  

Continue reading RIHLAH RIZA #60: Siap Ndan…!!! 86