Cuma Satu yang Tak Akan Berkurang Walau Dibagi


Jalan rusak Citayam-Bojonggede via metropolitan.id

Jalanan Citayam-Bojonggede rusak berat. Menjelma kubangan kerbau dan kawah-kawah menganga yang lebar dan dalam. Tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilewati oleh mobil hitam yang berisi wanita kesakitan dan senantiasa berzikir karena hendak melahirkan.

Saya berusaha melewati setiap lubang itu dengan pelan dan tenang. Karena setiap guncangan yang terjadi maka menyebabkan kontraksi yang semakin menjadi. Seiring dengan itu tentu teriakan kesakitan mengisi kembali ruang dan waktu.

Kali ini, ceritanya saya diminta oleh tetangga kami untuk mengantar adiknya yang mau melahirkan anak pertamanya. Bidan di kompleks kami sudah tak sanggup lagi menangani. Semalam sebenarnya bukaannya sudah lengkap, pun si jabang bayi sudah nongol kepalanya, tapi entah kenapa makhluk yang tak berdosa itu kembali masuk ke dalam tempatnya semula.

Ya sudah, semalaman dan sesiangan itu calon ibu mengalami kesakitan yang luar biasa. Jam satu siang diputuskan agar ia dipindahkan ke rumah sakit bersalin di Cibinong. Tetangga menghubungi saya meminta bantuan. Alhamdulillah saya siap.

Ketika mobil sudah di depan klinik bidan kompleks untuk menjemput, sang suami jatuh lunglai. Air matanya berderai, ketegarannya luluh, tak tahan melihat penderitaan istrinya. Beberapa sanak menasehati dan menguatkan dirinya untuk tetap tangguh dan menerima situasi ini dengan penuh kesabaran.

Perjalanan menuju RS menjadi “nightmare” walau di siang bolong sedemikian rupa ini. Karena dilema. Satu sisi pengen cepat sampai agar penderitaannya segera berlalu. Di sisi lain itu tak mungkin karena jalanan rusak. Barangkali kondisinya sama seperti Nagoya yang dibom api oleh ratusan bomber B-29 Superfortress 70 tahun silam.

Sejak tahun lalu jalanan ini kondisinya parah. Tahun 2015 sudah hampir genap satu semester. Tapi perbaikan tak kunjung dilakukan. Entah kenapa Pemerintah Kabupaten Bogor mengabaikannya. Padahal jaraknya tidak jauh dari pusat pemerintahan kabupaten yang sejak zaman penjajah Belanda dahulu jadi tempat tetirah para sinyo kulit putih.

Nurhayanti, Bupati Bogor saat ini—menggantikan Rachmat Yasin—kudu tanggung jawab atas permasalahan ini. Namanya juga pemimpin pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya di dunia ataupun di akhirat.

Terbayang Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, 1400 tahun silam, pernah bilang kalau saja ada keledai (yang lain mengatakan unta) di Irak jatuh terperosok lantaran jalanan rusak, ia takut akan dimintakan tanggung jawabnya di akhirat sana. Apatah lagi yang jatuh manusia. Piye jal? Entah, sudah berapa pengendara motor yang jatuh terperosok di jalanan Citayam-Bojonggede ini. Entah sudah berapa nyawa manusia tak tertolong karena tak sempat diberikan pertolongan pertama.

Benar-benar saya jalankan itu mobil dengan perlahan. Pelan-pelan banget. Seperti bawa segerobak telur ayam yang mudah pecah. Gigi satu saja. “Astaghfirullah, astaghfirullah, jalanan kok rusak kayak gini,” kata sang calon ibu. Rintihannya disambut dengan teguran dari yang lain. “Sudah, sudah, sebentar lagi sampai.”

Syukurnya saya bisa tetap tenang. Tidak panik. Masih tetap fokus bagaimana menjalankan mobil ini tanpa guncangan yang berarti. Ibaratnya saya sedang berjalan di atas titian tinggi yang di bawahnya menganga jurang yang dalam. Atawa sedang berjalan di jalanan becek, berhati-hati betul agar tidak ada cipratan tanah yang mengenai ujung celana.

Saya sudah siap mental kalau memang mobil ini ditakdirkan jadi tempat terbaik buat melahirkan. Bagi saya, kondisi ini belumlah separah dulu di tahun 2011, sewaktu mengantarkan almarhum bapak ke rumah sakit saat terkena serangan stroke. Malam-malam lagi. Atau seperti ketika mengantarkan tetangga yang kena serangan jantung.

Yang patut saya syukuri kembali, kebetulan jalanan ini lagi lancar, biasanya macet. Akhirnya setelah trek lambat dan pertigaan Jalan Baru terlewati mobil dapat masuk ke gigi tiga dan empat. Tapi tunggu, jangan senang-senang dahulu, saya tetap harus berhati-hati. Saya tak bisa menjamin jalanan Pemda ini halus mulus rupawan tanpa lubang. Namanya juga Bogor. Rusak itu mesti. Walau di depan kantor bupatinya sekalipun. Skeptis banget yah.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di RSIA Assalaam yang sepi itu. Sang ibu hamil langsung ditangani oleh dokter yang sudah siap. Saya diminta menunggu sampai urusan ini selesai. Dengar-dengar dari pihak rumah sakit kalau sang ibu ini akan diupayakan dengan persalinan yang normal. Daripada kelamaan menunggu saya keluar lobi. Cari sesuatu yang bisa disantap di warung. Mi ayam rupanya enak nih.

Selesai itu saya kembali ke RS. Eh jebule bayine wis nongol. Laki-laki rupanya. Pyuuh… Rupanya tadi sang bayi terlilit tali pusar sehingga kesulitan keluar. Dengan kehendak Allah dan pengalaman sang dokter akhirnya bayi dan ibunya selamat. Alhamdulillah. Walau bukan saudara bukan siapa-siapa saya turut senang juga. Saya jabat suaminya sambil berkata, “Selamat yah, saya turut bahagia.”

“Bi, ada nama enggak buat bayi ini? Kan Abi yang nganterin. Ini pengalaman yang tak terlupakan,” kata tetangga saya.

“Bapaknya sudah nyiapin nama belum? Kalau sudah ya bapaknya saja kasih nama.”

“Alhamdulillah sudah Bi,” kata sang ayah baru ini menimpali.

“Siapa namanya?” “Kafi El Azzam.”

“Bagus tuh. Ya sudah pakai nama itu saja. Semoga menjadi doa,” kata saya sambil ingatan ini secepat kilat menuju sebuah nama seorang penulis novel Tasbih Cinta di Langit Moskow: Indah El Hafidz. Karena sama-sama pakai “El”.

Akhir yang manis. Derita yang berujung bahagia. Derita yang juga mengingatkan saya kepada derita Ummu Haqi saat melahirkan Kinan tujuh tahun lalu. Jihad seorang ibu. Tapi semua sudah terlewati. Tinggal mensyukuri apa yang sudah ada.

Bu, selamat yah. Semoga Kafi El Azzam jadi anak yang salih dan bertekad kuat. Sebuah pesan aplikasi Whatsapp masuk. Di sana terbaca sebuah pesan:

“Semua hal akan berkurang jika dibagi-bagi, kecuali kebahagiaan, justru akan bertambah jika kamu bagi kepada yang lain.” Ciamik.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citayam, 16 Mei 2015

Advertisements

3 thoughts on “Cuma Satu yang Tak Akan Berkurang Walau Dibagi

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s