Menyoal Pajak dan Kesadaran Kita: (Tanggapan dan Apresiasi untuk Prof Apridar)



Oleh Riza Almanfaluthi

MENINGKATKAN penerimaan pajak perlu kesadaran kita sebagai warga negara. Apalagi dengan adanya program pengampunan pajak (tax amnesty) yang dikampanyekan pemerintah pada saat ini. Kesadaran itu sayangnya dicemari oleh ulah oknum pegawai pajak dan panyakit akut korupsi di kementerian dan lembaga negara, sehingga perlu adanya pengawasan internal dan eksternal untuk mengamankan keuangan negara.

Demikian disampaikan oleh Guru Besar Ekonomi dan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Prof Dr Apridar SE MSi, dalam opininya berjudul “Pajak dan Kesadaran Kita” yang dimuat di Serambi Indonesia (Rabu, 3 Agustus 2016).

Secara garis besar penulis setuju dengan opini Prof Apridar, namun ada beberapa hal yang perlu ditanggapi. Pertama, tentang kekeliruannya mengenai tarif uang tebusan dalam rangka pengampunan pajak ini. Kedua, pengawasan internal di lingkup Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dan, ketiga, potensi korupsi di kementerian dan lembaga negara.

Baca Lebih Lanjut.

Lagi, Kisah Nyata Tentang Keajaiban Sedekah dan Istighfar: Mukidi dan Dompetnya



Sore di Banda Aceh. Senja sudah mulai turun. Jalanan ramai dengan kendaraan. Mukidi menunggui mobil yang sedang diperbaiki di salah satu bengkel yang berada di Peunayong. Sudah dari kemarin Mukidi datang ke kota ini. Ada banyak urusan yang kudu diselesaikan. Niatnya malam ini harus kembali ke Tapaktuan.

Lagi suntuk-suntuknya menunggu tiba-tiba Mukidi teringat dengan dompet tempat Mukidi banyak menaruh kartu-kartu penting. Ada kartu pegawai, kartu BPJS, dan kebanyakan uang plastik. Jantung langsung copot. Tak ada! What? Astaghfirullah. Kemana dompet itu? Mukidi memeriksa tas kecilnya bermerek Bodypack warna hitam. Tak ada.
Baca Lebih Lanjut.

Ratib


 

 

karib hujan bernama dingin

berladang di sekujur tubuhku

yang sedang mencari akal

cara terbaik mencampakkan pejam

ia menadbirkan sekutunya, gerimis

bertandak di luar rumah

berkongsi dengan angin, debur ombak,

minus kodok-kodok kawin

dan kucing-kucing jantan sedang berahi

agar kadar sadar ada yang menunggu selebar zaman

kudongak irisan pasrah merayapi langit

di atas sajak yang panjang

warnanya biru

 

**

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tapaktuan, 25 agustus 2016

Dua Warna


Kain kumal berdansa haha hihi 

di langit biru hari ini

sempat jantungan ditumbuk ironi

yang membawa kabur konsentrat pedih 

anak negeri keluar bumi pertiwi

Merdeka mbahmu!

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17 Agustus 2016

Independence Day Run


 

Alhamdulillah pagi bisa lari sejauh 17,08 kilometer dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-71.

Rute yang ditempuh dimulai dari mes pajak sampai gerbang ke pemandian Panjupian, Tapaktuan yang ternyata jaraknya 8,61 km. Kemudian setelah sampai di sana kembali lagi putar haluan ke mes pajak lagi.

Baca Lebih Lanjut.

sajak yang tak pernah gagal


aku menjelma bibir

dengan cecap pada segelas teh

yang panasnya pupus  dua jam lalu

di pinggiran malam yang retak

 

gelas yang lupa

dentingnya yang berisik

menitahkan mata

agar tak nyalang di sembarang

sengkarut suratan

 

tapi aku melawan geming

di atas kursi rotan berkepinding

pada layar putih yang sedang bunting

buat memperanakkan sajak-sajak kering

tilam sudah terbentang, sayang…

sentosalah

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tapaktuan , 16 Agustus 2016

Amnesti Pajak: Menjadi Ayah yang Tidak Lupa



Saya menemukan kisah pendek ini dalam dua buku yang berbeda. Kisah pendek yang ditulis oleh William Livingstone Larned berjudul Father Forgets. Kisah ini muncul pertama kali sebagai editorial dalam sebuah majalah wanita People’s Home Journal di tahun 1920-an. Kemudian kisah ini dicetak ulang oleh Reader Digest.

Kisah ini juga ada dalam buku Dale Carnegie yang berjudul How to Win Friends and Influence People. Karena banyak menangkap imajinasi dan hati orang di seluruh dunia, kisah ini diterjemahkan dan dicetak ulang berkali-kali dan masih beredar sampai saat ini.

Baca Lebih Lanjut.

Misteri Roseto



Ketika Malcolm Gladwell akan memulai menulis buku dia bertemu dengan salah satu temannya yang berprofesi sebagai dokter dan bertugas di Kota Roseto dekat Pennsylvania United Stated, yang penduduknya adalah hampir 100% imigran asal Italia.

Temannya ini bercerita pada Malcolm bahwa dia hampir tidak pernah menemukan penduduk Roseto yang meninggal dunia pada usia muda dan berpenyakit koroner. Kasus ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti, mereka ditambah beberapa mahasiswa kedokteran dan sosiologi, kemudian melakukan penelitian dengan mengumpulkan sampel-sampel darah, catatan kematian, dan mempelajari pola makan dan minum mereka.

Baca Lebih Lanjut.

CAHAYA BULAN DI JENGGALA



sajak menderas hujan

berpikir ia satu-satunya 

kemilau kenangan

padahal tidak

jumputlah semuanya

dalam setangkup tangan

yang kau tadahkan.
**

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Medan, 5 Agustus 2016

Pengampunan Pajak Untuk Infrastruktur Aceh



SATU dekade kurang satu bulan setelah Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) disahkan, pada 1 Juli 2016 Presiden Joko Widodo mengesahkan UU No.11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Program pemerintah dalam rangka membiayai pembangunan yang memerlukan pendanaan besar dan bersumber utama dari penerimaan pajak.

Wajib pajak yang mengikuti program pemerintah ini akan diberikan penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi dan sanksi pidana perpajakan. Caranya, masyarakat mengungkap harta yang dimiliki dan belum dilaporkan serta membayar sejumlah uang tebusan dengan tarif yang ringan.

Baca Lebih Lanjut.