Lagi, Kisah Nyata Tentang Keajaiban Sedekah dan Istighfar: Mukidi dan Dompetnya



Sore di Banda Aceh. Senja sudah mulai turun. Jalanan ramai dengan kendaraan. Mukidi menunggui mobil yang sedang diperbaiki di salah satu bengkel yang berada di Peunayong. Sudah dari kemarin Mukidi datang ke kota ini. Ada banyak urusan yang kudu diselesaikan. Niatnya malam ini harus kembali ke Tapaktuan.

Lagi suntuk-suntuknya menunggu tiba-tiba Mukidi teringat dengan dompet tempat Mukidi banyak menaruh kartu-kartu penting. Ada kartu pegawai, kartu BPJS, dan kebanyakan uang plastik. Jantung langsung copot. Tak ada! What? Astaghfirullah. Kemana dompet itu? Mukidi memeriksa tas kecilnya bermerek Bodypack warna hitam. Tak ada.

Mukidi langsung teringat dengan tempat-tempat terakhir yang disambangi bersama kawannya. Pertama, masjid Kodam, warung makan, becak motor, toko aksesoris handphone, warung kecil, dua warung kopi, lalu toko roti tempat Mukidi membeli roti gandum. Rencananya, Mukidi harus satu persatu telusuri toko itu yang kebetulan semua berdekatan dengan bengkel. Jalan kaki juga tak apa-apa.

Mukidi pamit kepada temannya untuk mencari dompet dengan warna kuning itu. Sangat mencolok. Ini bukan dompet yang biasa untuk menyimpan uang, KTP, dan SIM. Ini khusus kartu-kartu. Terlalu tebal untuk dikumpulkan jadi satu di dompet coklat kumal Mukidi. Dompet kuning ini merupakan cinderamata saat ia mengikuti SpecTaxcular 2016.

Sebagai manusia biasa, panik tentu saja ada. Panik bukan karena uangnya akan dijebol, melainkan karena ribetnya mengurus satu per satu kartu itu. Mukidi memperbanyak istighfar ketika menyusuri jalanan untuk mencari dompet. Sambil menambah keyakinan positif bahwa dompet itu insya Allah akan ditemukan.

Pertama, Mukidi mau susuri warung makan tempat mereka makan siang setelah salat Jumat. Sesampainya di sana, pelayannya bilang kalau barusan ada yang membersihkan warung dan tidak menemukan dompet itu. Mukidi meninggalkan nomor telepon dan meminta nomor salah satu pelayannya kalau-kalau dompet itu ditemukan.

Bergegas Mukidi berjalan ke masjid Kodam. Jaraknya 100 meter dari warung makan ini. Mukidi teringat mengapa dompet itu jadi tercecer begini. Sebelum salat Jumat, sewaktu mereka memasuki kompleks masjid yang dijaga ketat itu, ada Polisi Militer yang menghampiri sambil memerintahkan mereka menaruh tas yang dibawa.

Tas kecil Mukidi diminta untuk ditaruh di pos penjagaan. “Ambil semua benda yang berharga,” katanya. Risiko salat di masjid kompleks militer ya begini apalagi di daerah yang pernah konflik. Mukidi mengambil dompet uang, dompet warna kuning itu, handphone, dan sebotol air minum. Mukidi sudah feeling sebenarnya. Kalau sudah begini rawan tercecer. Saat ke toilet masjid pun Mukidi benar-benar masih ingat dan menjaga betul ketiga barang itu.

Saat salat Jumat dimulai, Mukidi menaruh semua barang printilan itu di depannya. Kemudian setelah selesai, Mukidi segera pakai sepatu sambil duduk di teras masjid, di sanalah semua itu bermula. Sambil duduk Mukidi menaruh dompet kuning itu di sampingnya. Dan terlewat. Lupa!!!

Mukidi bergegas keluar kompleks masjid sambil mengambil tas kecil di penjagaan. Tidak ada yang aneh pada saat itu. Kemudian sadarnya adalah berjam-jam setelahnya.

Sambil beristighfar, sekarang Mukidi pergi ke masjid Kodam. Nama masjidnya lupa, padahal Mukidi sering ke masjid ini kalau lagi ada dinas di Banda Aceh. Hotel Medan tempat Mukidi biasa menginap jaraknya tak seberapa jauh dengan masjid ini.

Mukidi melewati pintu kecil kompleks dekat masjid yang pada saat itu sedang sepi dan segera menuju pos penjagaan. Kali saja mereka melihat barang yang tercecer di pos penjagaan. Ada seorang prajurit TNI sedang duduk di sana. Dan dia adalah orang yang meminta Mukidi meletakkan tas kecilnya di pos, tadi siang.

“Assalaamu’alaikum Pak. Mau Tanya. Bapak melihat dompet kecil warna kuning enggak ya Pak?” tanya Mukidi.

“Dompet kecil isinya apa?” tanya dia sambil bergegas masuk ke dalam ruangan kecil di dalam pos.

“Banyak pak, kartu-kartu saya,” jawab Mukidi.

Prajurit itu keluar sambil membawa sesuatu barang berwarna kuning.

“Alhamdulillaah,” teriak Mukidi.

“Namanya siapa?” tanyanya.

“Mukidi Pak,” jawab Mukidi sambil menyodorkan KTP dan SIM kepadanya.

“Kok beda mukanya?”

“Iya Pak, Itu waktu saya gemuk, sekarang sudah kurusan,” jawab Mukidi.

“Kok bisa?”

“Olahraga Freeletics dan jaga makan Pak. Enggak makan nasi,” jawab Mukidi lagi.

Akhirnya perbincangan pun mengalir. Namanya Kopral Dua Juniadi. Usianya lebih muda daripada Mukidi. Dia punya saudara di Warung Jambu, Bogor. Katanya, dompet Mukidi itu ada yang mengantarkannya ke pos penjagaan sehabis salat Jumat. Tidak ada nomor yang bisa dihubungi dalam dompet itu. Jadi Kopda Juniadi tak bisa menghubungi Mukidi. Ini murni kelalaian Mukidi, di dompet itu tidak ada sama sekali nomor telepon. Umurnya juga tidak bisa dibohongi. Memori Mukidi sudah dol, gampang lupa.

Tapi Kopral Juniadi kaget sewaktu Mukidi kasih tahu kalau Mukidi sudah punya anak tiga dan umurnya lebih tua daripada Kopral itu. Mukidi juga mengenalkan Freeletics dan cara diet kepadanya. Syukurnya Kopda Juniadi tidak merokok lagi. Kejutan sekali loh. Ada laki-laki di Serambi Mekkah yang tidak merokok. Setidaknya dia sudah mencegah satu hal yang menjadi alasan untuk selalu sakit. Kopda Juniadi sudah punya modal untuk hidup sehat.

Mukidi mengucapkan terima kasih banyak kepadanya. Sambil memberikan sedikit buat ngopi-ngopi yang bisa Mukidi beri sebagai tanda terima kasih. Awalnya menolak dan Alhamdulillah beliau mau menerima. Mukidi paham posisi sang Kopral sebagai abdi Negara tetapi ini bukan suap bukan apa. Ini sekadar awal persahabatan dan persaudaraan mereka. Bahkan beliau mendoakan Mukidi supaya tambah rezekinya. Amin.

Upayanya sungguh tak bisa dihargai dan dinilai dengan uang. Makanya Mukidi berdoa juga semoga Allah memberikan banyak keberkahan hidup kepada Kopda Juniadi. Mukidi juga mendoakan kepada anonim yang telah menemukan dompetnya ini dan dengan keikhlasannya menyerahkannya kepada Kopda Juniadi. Semoga Allah memberikan surga untukmu Bang.

Masih banyak orang jujur di negeri ini. Semoga ini menjadi tanda-tanda keberkahan di negeri Aceh yang bersendi syariah ini. Kata ustad, salah satu tanda keberkahan di suatu negeri adalah aman. Dan di Tapaktuan contohnya saja, tempat Mukidi tinggal selama tiga tahun ini, banyak sekali orang yang masih menaruh motornya di depan rumah semalaman, seakan-akan enggak khawatir dengan adanya maling motor yang mengincar. Kalau di Jabodetabek, meleng sedikit bisa lenyap itu motor.

Sekali lagi, semoga ini tanda-tanda banyaknya keberkahan. Walaupun tidak dimungkiri ada juga kriminalitas di Negeri Aceh Tempat Penuh Kedamaian ini. Saat berpisah dengannya tak lupa Mukidi menyimpan nomor telepon Kopda Juniadi.

‘Ala kulli hal, rezeki memang tiada kemana. Kalau memang rezekinya, ya rezeki itu tetap akan datang kepada pemilik seberapa pun mustahilnya. Kalau memang bukan rezekinya, ya rezeki itu tetap akan lepas seberapa erat memegangnya. Buat Mukidi ini semata pertolongan Allah. Semoga bukan istidraj.

Semoga ini berkah dari sedekah dan istighfar yang senantiasa dikerjakan. Karena Mukidi yakin sedekah dan istighfar itu adalah dua pintu keluar dari setiap kesulitan dan kesempitannya. Walau diri Mukidi ini masih bakhil dan mulutnya masih berat untuk selalu meminta ampunan-Nya.

Banyak sekali pelajaran yang Mukidi ambil dari peristiwa ini. Menurut Mukidi, sedekah itu adalah premi asuransi perjalanan hidupnya. Harta yang disedekahkan itu adalah harta milik Mukidi yang sesungguhnya. Bukan harta yang berada di rekening tabungan dan depositonya.

Orang yang bakhil itu adalah musuhnya Allah sekaligus dibenci manusia. Jadilah orang yang punya mental kaya dengan tangan yang senantiasa di atas, bukan di bawah. Banyak-banyaklah berdoa, karena doa itu mampu mengubah takdir. Dawamkan selalu setiap pagi doa-doa perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang jelek. Begitulah kira-kira prinsip
hidup yang bisa di-quotes oleh Mukidi.

Ini adalah kesekian kali keajaiban yang terjadi karena sedekah dan istighfar. Semoga Allah mengampuni Mukidi dan kita semua serta semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat buat orang yang membacanya.

Agar tidak tertimpa musibah maka perbanyaklah sedekah dan istighfar. Seperti Mukidi ini.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

29 Agustus 2016

Gambar diambil dari seltonlabel.com


Advertisements

3 thoughts on “Lagi, Kisah Nyata Tentang Keajaiban Sedekah dan Istighfar: Mukidi dan Dompetnya

  1. Bang terima kasih semua ceritera yang selalu saya baca di emailku yang kadangkala ada nasehat dan pengalaman hidup yang anda kirimkan ke emailku banyak sekali dan selalu aku baca.Hal tsb dapat juga menjadikan kehidupan saya untuk menjadi yang lebih baik dengan membaca kisah2 anda.Aku adalah keturunan dari kota Padang Sidempuan yang hidup dikota Madiun JawaTimur dimana nenek dan kakek moyangku Asli Minangkabau dan Batak Trims banyak.Selalu aku baca email yang anda kirimkan.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s