Misteri Roseto



Ketika Malcolm Gladwell akan memulai menulis buku dia bertemu dengan salah satu temannya yang berprofesi sebagai dokter dan bertugas di Kota Roseto dekat Pennsylvania United Stated, yang penduduknya adalah hampir 100% imigran asal Italia.

Temannya ini bercerita pada Malcolm bahwa dia hampir tidak pernah menemukan penduduk Roseto yang meninggal dunia pada usia muda dan berpenyakit koroner. Kasus ini menjadi hal yang menarik untuk diteliti, mereka ditambah beberapa mahasiswa kedokteran dan sosiologi, kemudian melakukan penelitian dengan mengumpulkan sampel-sampel darah, catatan kematian, dan mempelajari pola makan dan minum mereka.

Hasil penelitian mereka benar-benar menakjubkan. Di Roseto, praktis tidak ada orang yang di bawah usia lima puluh tahun meninggal karena serangan jantung atau menunjukkan tanda-tanda penyakit jantung, penyakit luka lambung, tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit kejahatan, serta hampir tidak seorang pun yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Tim peneliti menduga bahwa penduduk Roseto menjalankan pola makan sehat yang membuat mereka lebih sehat dari kebanyakan orang Amerika lainnya. Namun, kemudian disadari bahwa asumsi itu keliru. Warga Roseto mempunyai kebiasaan membuat pizza dalam lempengan tebal ditambah sosis, daging papperoni, salami, ham, dan telur, tidak lupa juga biscotti dan tarreli dengan kudapan manis mereka setiap hari, dan semua makanan yang mereka konsumsi adalah sarat dengan lemak, gula, dan karbohidrat yang tinggi.

Lari pagi atau joging pun bukan kebiasaan mereka. Kalaupun ada satu dua orang yang melakukan pasti tidak terlalu konsisten. Maka tidak heran kalau kebanyakan warga Roseto, Pennsylvania selalu berkutat dengan masalah obesitas dan sulit sekali meninggalkan kebiasaan merokok berat.

Kalau pola makan dan olahraga tidak menjelaskan temuan mereka, bagaimana dengan genetika? Ternyata itupun tidak bisa membuktikan bahwa mereka keturunan dari gen yang sehat. Setelah diteliti, warga Roseto yang berada di Italia mempunyai catatan kesehatan yang buruk.

Dan hal yang mulai disadari oleh tim peneliti adalah bukan pola makan, olahraga, gen, dan letak geografi. Rahasianya adalah saat mereka jalan-jalan di kota tersebut mereka menemukan jawabannya. Tim peneliti melihat bagaimana warga Roseto saling berkunjung satu sama lainnya, berhenti untuk mengobrol sejenak, berbagi makanan satu sama lainnya dan itu adalah kebiasaan yang mereka lakukan sepanjang masa.

Cerita ini terdapat dalam sebuah buku yang ditulis oleh Anna Mariana dan berjudul Inilah Pesan Penting di Balik Berkah dan Manfaat Silaturahmi. Anna Mariana mengutipnya dari buku yang ditulis oleh Malcolm Gladwell berjudul Outliers: The Story of Success.

Buku Malcolm Gladwell inilah yang menyelip bersama barang-barang lain dalam sebuah goody bag pada sebuah acara penyerahan penghargaan terhadap pemenang lomba menulis perpajakan di tahun 2012 lalu. Sejak saat itulah saya mengenal Malcolm dan banyak bukunya.

Sentuhan Kecil

Cerita Malcolm menunjukkan kepada kita sebuah pengajaran hikmah atas silaturahmi dan berbagi. Maka sebagai upaya melestarikan tradisi agung itulah pada saat lebaran lalu jutaan orang rela dan bersusah payah melakukan perjalanan mudik. Hingga sampai terjadi horor kemacetan yang luar biasa dan memakan korban jiwa.

Dengan segala pernak-pernik kehebohannya itu menurut saya adalah hal yang naïf jika mengatakan para pemudik itu sebagai agen kapitalisme global yang permisif, artifisial, dan konsumtif sebagaimana pemerhati budaya katakan. Hanya dikarenakan pemudik sekarang bisa dikatakan sebagai orang-orang yang sekadar pamer keberhasilan, pelapor kesuksesan di tanah rantau, dan penghamba pemuas keinginan—bukan kebutuhan. Kita tak bisa menggeneralisasi demikian atas sebuah fenomena sosial-kolosal itu.

Silaturahmi dan keinginan berbagi seharusnya menjadi sebuah kebutuhan. Ini niat mulia yang dibawa para pemudik itu ke kampung halaman setelah sekian lama berada di rantau dan hanya waktu dan momen itu yang tepat sehingga mereka berkesempatan.

Silaturahmi menghilangkan dahaga atas sebuah kekangenan dan lapar atas sebuah pemaafan karena laku lampah yang tak elok. Sedangkan berbagi dengan rezeki yang ada adalah merapatkan cinta karena sebuah kebijakan Muhammad yang mengatakan tahaadu tahaabu. Berilah hadiah, kamu akan berkasih sayang.

Saya yakin misteri Roseto yang terpecahkan dan telah menjadi sebuah efek ini membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik sampai para pemudik itu kembali menjalani aktifitasnya di tanah rantau. Sekecil apapun perubahan itu. Sekecil apapun yang bisa diberikan saat berbagi.

Inilah yang Malcolm sebut dalam bukunya yang lain berjudul Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference bahwa perubahan besar terjadi akibat suatu perubahan dan tindakan kecil. Sesuatu yang kecil tak bisa disepelekan. Hal yang kecil bisa mengubah hidup.

Maka pada suatu hari saya terpesona kepada seorang teman yang mampu membawa dirinya melampaui keterbatasan sehingga dirinya dikenal dan perkataannya didengar oleh semua orang karena kebaikannya. Rahasianya adalah ia mampu berkomunikasi, bersilaturahmi, dan berbagi yang baik. Ia diingat orang dengan kebaikan-kebaikan kecilnya.

Misalnya dalam sebuah makan siang bersama di luar. Ketika selesai makan dan akan kembali ke kantor, dia adalah orang yang pertama bangkit menuju mobil lalu menyalakan penyejuk ruangan, setelah mobil sudah dingin, baru ia menjemput teman-temannya. Ia tidak mau teman-temannya kepanasan saat memasuki mobil. Ia pula yang pertama datang dan menjenguk saat temannya mendapatkan musibah tanpa harus ada imbauan terlebih dahulu. Ini sebuah sentuhan kecil. Ah, banyak lagi sebenarnya contoh kebaikan kecilnya itu.

Eureka!

Begitu pula pada cerita yang lain kita semestinya dapat pelajaran untuk selalu memupuk rasa optimisme. Seperti di kantor kami dalam rangka menyiapkan dan menyukseskan program pengampunan pajak yang sudah dikumandangkan oleh pemerintah awal Juli 2016 lalu. Ada strategi sosialisasi yang turun ke bawah, agar seluruh kantor pajak menyiapkan ruangan khusus, kampanye, dan lain sebagainya.

Seketika kerepotan terjadi dalam persiapannya yang serba gegas. Padahal kantor kami berada di sebuah wilayah yang “terpencil” dengan potensi perpajakan yang kecil, lalu sebuah pertanyaan menyeruak. Apakah ada Wajib Pajak yang ikut program ini? Akankah effort yang bikin repot
ini sebanding dengan hasil uang tebusan pengampunan pajak yang diperoleh? Kalau ada uang tebusan yang masuk akankah mencapai jumlah yang cukup signifikan?

Sudah keniscayaan memang pesimisme itu dikuburkan dalam-dalam. Yang elementer adalah ikhtiar. Perkara hasil adalah nomor kesekian. Karena kita menasdikkan tentang apa yang Lao Tzu ujarkan: “a journey of a thousand miles begins with a single step.

Kalau sudah demikian, maka ihwal yang setara dituntut kepada pemangku kepentingan yang menggadang-gadang 165 triliun rupiah terkumpul dari uang tebusan ini. Sebuah pengakuan sederhana yang dihasilkan dari pengamatan dengan menggunakan mikroskop nalar sehat dan pembesaran ratusan kali bahwa dari jumlah itu ada sen-sen rupiah dihasilkan oleh kantor pajak ini. Eureka! Tak ada yang meremehkan sesuatu yang kecil.

Pada penjurunya kemudian seharusnya tak ada yang meremehkan terhadap silaturahmi yang hanya setahun sekali dan berbagi yang sedikit. Sebab sekecil-kecilnya kebaikan adalah besar dan sesedikit-dikitnya adalah banyak.

Apa yang terjadi 30 tahun kemudian saat dilakukan penelitian kembali terhadap masyarakat Roseto, Pennsylvania? Angka kematian karena serangan jantung mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Penyebabnya satu: perubahan sosial secara radikal yang merusak solidaritas dan kohesivitas masyarakat Roseto sehingga mereka sama Amerikanya dengan yang lain. Saat silaturahmi dan berbagi mulai ditinggalkan.

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

30 Juli 2016

Artikel ini telah dimuat pertama kali di Kolom Refleksi eMagazine DJP Edisi Juli 2016.

Edisi lengkap majalah ini bisa diunduh di sini.


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s