PEMANDI MAYAT


PEMANDI MAYAT

    Yang menulis dan membaca artikel ini adalah calon mayat. Tentunya tak perlu tersinggung untuk dikatakan demikian. Karena sewaktu-waktu kita akan menjadi layon tak berguna. Entah sedetik setelah ini atau 100 tahun yang akan datang.

    Sudah siap? Belum. Saya mau hidup seribu tahun lagi. Itu kata-kata kita di dalam hati. Tapi sayangnya malaikat maut tak mau mendengar kata hati itu. Ia cuma sudah siap bergerak sesuai dengan waktunya. Tak maju dan tak mundur.

    Sayangnya saya sering lupa kalau malaikat maut senantiasa mengincar kehidupan. Yang ada adalah bagaimana mengejar kenikmatan duniawi selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Menggesakan obsesi. Memburu antusiasme. Melelahkan diri bergumul dengan cita dan sejuta keinginan.

    Barulah tersadar kalau ada pengumuman di masjid: “Innalillaahi wainnailaihi rooji’uun 3x. Telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang Bapak Fulan bin Fulan pada pukul 23.00 WIB hari ini di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Jenazah akan dikuburkan besok hari. Kita doakan semoga segala amalnya diterima Allah swt.”

    Dan setelah itu, pengurus Rukun Tetangga (RT) akan datang ke rumah meminta kepada saya agar tim pengurusan jenazah masjid kami bersiap untuk mengurus semuanya. Memandikan, mengafankan, menyolatkan, serta mengantarkannya ke liang lahat.

    Tubuh yang kaku menyadarkan saya betapa kenikmatan yang diburu setiap saat itu tak berguna lagi. Tak bisa menolongnya. Perlahan setiap usapan berbalur sabun, siraman air ke seluruh tubuh, sekaan handuk kering, gotongan tubuh ke kain putih yang terhampar, peletakan kapas di setiap lubang dan persendian, pembungkusan yang membebatkan, simpulan dengan tujuh ikatan, membuat saya senantiasa ingat betapa saya akan menjadi objek dari semua itu. Suatu saat.

    Dzikrul maut (mengingat kematian) betul momen itu. Malamnya, saya cuma bisa tercenung. Merenung wajah almarhum di pelupuk mata. Merenung seberapa banyak amal yang akan dibawa sebagai bekal.

    Dunia? Cita? Obsesi? Nafsu? Hasrat? Syahwat? Sirna semuanya ke laut. Tidak butuh. Terlupakan. Tergantikan. Seperti dijatuhkan dari pesawat yang sedang terbang di ketinggian 10000 kaki. Untuk tersadar dari mimpi dan angan yang muluk-muluk. Pantas saja disebut dalam agama kalau maut adalah pemutus segala kenikmatan. Buat yang mati dan yang hidup—yang mau memikirkannya tentu.

    Saya bersyukur saya dapat bergabung dalam tim itu. Tim yang walaupun dulu banyak anggotanya, sekarang cuma dua orang saja, saya dan pengurus masjid yang lain. Bersyukur kenapa? Sudah pasti, selalu diingatkan tentang nasehat besar itu.

    Tapi yang namanya dunia dengan segala pesonanya atau lemahnya imun iman saya, terkadang dzikrul maut itu hanya bisa bertahan dua atau tiga hari. Setelahnya sama saja dengan hari-hari biasa. Apa harus memandikan mayat lagi baru ingat mati? Apa harus ada yang meninggal dulu lalu ingat mati kembali. Tanya yang kebanyakan tak berjawab.

    Dzikrul maut itu ibarat vitamin. Terlalu sedikit tak berefek apa-apa. Terlalu banyak malah jadi penyakit. Tidak menjadi peka. Sensitivitasnya berkurang. Bisa diuji pada para penunggu kamar jenazah di rumah-rumah sakit atau para penggali kuburan.

    Maka wajarlah Umar bin Khaththab menjarangkan untuk datang ke Ka’bah di masjidil haram, karena takut ia tidak akan bisa merindu lagi saat jauh darinya. Takut sensitivitasnya hilang.

    Saudaraku, tak perlu menunggu kematian untuk dapat mengingat tentang sebuah ajal dan kemudian kita bisa merenunginya serta mengambil hikmah, karena akhir hayat itu bisa datang kapan saja. Oleh karenanya yang terpenting adalah sudahkah kita packing amal kebajikan ke dalam tas perjalanan abadi kita?

    Belum dan belum banyak? Ayo bareng-bareng dengan saya mempersiapkannya. Tapi patut dicatat, bukan sebagai pemandi mayat peran itu saya lakoni.

***

Artikel ini untuk teman-teman di forum shalahuddin. Semoga bermanfaat.

 

 

 

    Riza Almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara

21.32 16 Desember 2010

 

Tags: dzikrul maut, memandikan jenazah, mengurus jenazah, umar bin khaththab, umar al faruq, antikebal, ilmu kebal, belajar ilmu kebal, cara pengurusan jenazah, fikih janaiz

Yth. Bro and Sist…


 

Yth. Bro and sist semua

di manapun berada.

 

Bro and Sist…apa kabar pagi ini? Saya harap bro and sist semua baik-baik saja. Sehat semuanya. Jasmani dan ruhaninya. Bangun tidur tadi pagi dengan penuh semangat dan keceriaan. Walaupun pahitnya hidup masih dirasa di pelupuk mata, tapi anggaplah itu sebagai pelangi agar hidup kita terasa lebih berwarna. Yang tak punya problema hidup berat, bersyukurlah ternyata Tuhan masih banyak memberikan kepada kita nikmat yang lebih daripada yang masih tidur di kolong-kolong jembatan itu.

Bro and sist…saya mau cerita nih. Saya harap cerita ini bermanfaat buat kita semua. Cerita ini teramat menggugah saya. Dikisahkan dari teman baru saya yang berasal dari Sidoarjo sana. Kurang lebihnya begini ceritanya bro and sist.

Ada tiga orang terpidana mati. Mereka akan dihukum mati malam ini. Caranya? Mereka akan dimasukkan ke dalam kotak sempit dan gelap. Dari celah sempit yang sengaja dibuat di kotak itu terjulur ke luar selang seukuran jempol manusia.

Sebelum mereka dimasukkan, algojo membisikkan sesuatu kepada mereka, “kamu akan dijebloskan ke dalam kotak itu dan saya akan alirkan gas beracun itu pelan-pelan ke dalamnya, lalu kamu akan mati perlahan-lahan.”

Apa yang terjadi bro and sist dengan ketiga terpidana mati itu? Keesokan paginya, saat kotak itu dibuka, dua orang mati sedangkan satu lainnya sekarat. Padahal, bro and sist, tidak ada sedikitpun gas beracun yang dialirkan ke dalam kotak itu. Lalu mengapa mereka mati? Pikiran mereka yang menyakiti dan membunuh mereka sendiri.

Begitulah bro and sist, di saat pikiran kita telah tertanam sesuatu yang negatif maka pikiran dalam otak yang ada di batok kepala kita itu mengirimkan sinyal-sinyal negatif dan mematikan kepada seluruh anggota tubuh.

Otak dengan sinyal-sinyal elektriknya akan memerintahkan kaki untuk tidak bergerak, darah untuk berhenti mengalir, jantung untuk stop berdenyut, dan seluruh tubuh untuk menjadi pecundang. Mati. Maka matilah ia.

Bro and sist, yang dibutuhkan seorang karateka, petinju, pesepak bola, pegolf, pesilat, pedayung, petenis meja, atau olahragawan lainnya selain dari keahlian teknis yang harus dikuasai untuk memenangkan pertandingan maka kekuatan mental juara harus dimiliki oleh mereka. Pantang menyerah sebelum bertanding. Pantang ada kata “kalah” dalam pikirannya.

Karena jika “kalah” itu sudah menjadi penguasa dalam pikirannya maka otak akan memerintahkan kaki, tangan, siku, lutut, dan organ tubuh lainnya untuk diam, kalah, takluk, ambau, tumbang, dan tunduk. Ia menjadi pecundang.

Bro and sist, itulah yang namanya kekuatan berpikir. Dan betullah apa yang telah dikatakan teladan kita, Muhammad saw, kalau Tuhan itu tergantung dari prasangka hamba-Nya. Kalau hambanya ketika bangun tidur sudah pesimis duluan dalam menghadapi hidup maka ia seharian itu seakan mempunyai dunia yang seolah neraka. Tak memberinya kebahagian. Yang ada hanyalah kesengsaraan dan kepedihan.

Kalau hamba-Nya di saat berdoa tak mempunyai keyakinan untuk dikabulkan doanya, ya sudah Tuhan juga tak perlu untuk mengabulkan doa hamba-Nya itu. Begitupula sebaliknya.

Pun, kalimat yang terlontar dari lidahnya pada saat menjenguk orang yang sakit adalah kalimat-kalimat positif yang mengandung kekuatan luar biasa. Laa ba’tsa, thohurun, Insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

Bro and sist…membaca cerita itu saya jadi malu kepada diri sendiri. Terlalu banyak nikmat yang diberikan kepada saya tetapi saya begini-begini bae. Maksudnya kalau dilihat dari grafik naik atau turunnya iman, kayaknya degradasinya terlalu tajam. Bro and sist bagaimana? Saya harap tidak lah yah…

Bro and sist… orang yang terbaik di antara kita bukanlah orang yang selalu benar, tetapi yang terbaik adalah orang yang ketika ia salah ia lalu menyadari kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Itulah yang terbaik di antara kita. Dan tentunya ada sebuah asa dari saya kalau bro and sist lebih baik daripada saya.

Bro and sist…kembali kepada masalah kekuatan berpikir itu, maka kita hendaknya selalu bertekad untuk memenuhi hidup kita dengan sebuah keyakinan yang positif, positif, dan positif. Yah…minimal ketika bangun dari tidur kita berpikir seperti ini:

Kalau ada hutang yang menumpuk, ah…yakin suatu saat pasti terbayar. Insya Allah.

Jika ada sakit yang menyeri tak tertahankan, ah…yakin hari ini juga akan sembuh. Insya Allah.

Andaikata ada beban pekerjaan yang teramat sulit, ah…yakin hari ini dimudahkan. Insya Allah.

Jikalau ada cinta yang tertolak, ah…yakin hari ini cinta itu baru, datang, dan kembali. Insya Allah.

Andaikan ada hati yang tersakiti, ah…yakin pintu maaf itu akan terbuka lebar darinya. Insya Allah.

Kalau-kalau ada rezeki yang tak kunjung datang, seperti IPK (imbalan prestasi kerja) misalnya, ah…yakin rezeki itu tak akan lari ke mana. Insya Allah.

Semampang ada penyejuk mata yang tak kunjung hadir untuk menghibur kita, ah…yakin purnama depan ada bulan yang terlambat datang menjemput kita atau pasangan kita. Insya Allah.

Semisal jabatan tak kunjung naik, ah…yakin ada yang lebih baik daripada sekadar itu. Insya Allah.

Senyampang kita tak kunjung berkumpul dengan keluarga karena bertugas nun jauh di sana, ah…yakin kita bisa berhimpun dengan mereka besok. Insya Allah.

Seumpama ada hasil ujian yang mengecewakan, ah…yakinlah tahun depan kita lulus dan masuk menjadi peserta yang terbaik. Insya Allah.

Sekiranya ada begitu banyak cita yang belum terwujud sedemikian rupa, ah yakinlah semua itu akan terjadi untuk kita semua besok. Insya Allah.

Ihwalnya adalah sudahkah kita meminta semua itu kepada Tuhan? Sudahkah dengan sebuah keyakinan yang teramat positif?

Bila dua pertanyaan itu terjawab dengan satu kata lima huruf “sudah”, yakinlah semua itu tinggal menunggu waktu.

Dengan izin Allah, Bro and Sist…

***

Artikel ini khusus saya persembahkan buat teman-teman milis dedaunan (pajak.go.id). Tidak saya unggah di manapun sebelum bro and sist menikmatinya terlebih dahulu.

Herlin Sulismiyarti ; HARTYASTUTI ; Harsoyo ; GANUNG HARNAWA ; Fee ; Euis Purnama Sari ; Erwinsyah ; Erwan ; Ervan.Budianto ; Erni Nurdiana ; ERIN FADILASARI ; Erfan ; ENI SUSILOWATI ; EMMA KATANINGRUM ; ELDES GINA KENCANAWATI MARBUN SS ; Dina LestariDian Rahmawati ; DEWI DAMAYANTI ; DEWI ANDRIANI ; DESIANA WITIANINGTYAS ; DESI PURBI MULYANI ; CUCU SRI RAHAYU BOTUTIHE ; Binanto Suryono ; Ayu Diah Rahmayati ; Awik Setyaningsih ; Ardiana ; ANTON RUKMANA ; ANIK NOERDIANINGSIH ; ANANG ANGGARJITO ; AMRAN ; ALIYAH ; AL MUKMIN ; Agus Budihardjo ; Agung.Susanto ; Ade Hasan Pahru Roji ; Abdul Manan L. L. M. ; 060089104-MOHAMMAD SUROTO ; BUDI UTOMO

ZAKKI ASYHARI ; UJANG SOBARI ; UHA INDIBA DRS ; TUJANAWATI ; TRI SATYA HADI ; Tosirin ; Tjandra Risnandar ; Titik Minarti ; Tintan Dewiyana ; SULISTIYOWATI ; SITI NURAINI ; Setyo.Harini ; RULI KUSHENDRAYU ; ROOS.YULINAPATRIANINGSIH; RINA FEBRIANA SITEPU ; RIMON DOMIYAN ; Ratna Marlina ; Nugroho Putu Warsito ; NANA DIANA ; NADY SAPUTRA ; LISTYA RINDRAWARDHANI ; LIA YULIANI ; LAYLI SULISTIORINI ; Larisman Gaja ; KHURIAH NUR AZIZAH ; Khadijah ; Ita Dyah Nursanti ; IRMA HANDAYANI ; INDRIA SARI ; IMAMUDDIN HAKIM ; Ikaring Tyas Aseaningrum ; Ibu Leli Listianawati ; Ibu Mona Junita Nasution; HERRI RAKHMAT SE.AK ; HERPRANOTO ; ROSVITA WARDHANI

 

 

Tags: muhammad, ipk, imbalan prestasi kerja, hukuman mati, terpidana mati

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

07.59 16 Desember 2010

 

 

 

MANUSIA LENGKAP


MANUSIA LENGKAP

Sore ini saya terperangah dengan banyaknya buku yang teramat menarik di rak-rak itu. Judul-judul yang terpampang di sampulnya menggoda saya untuk membelinya. Sungguh, kalau saja saya tak mengingat betapa banyak yang harus dibeli untuk si Bungsu, saya akan borong itu buku.

    Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di toko buku terkenal ini. Dan sekali datang sungguh langsung menyesakkan dada kalau saya tak sanggup untuk membeli semua buku yang diincar. Saya pikir saya harus punya target untuk dapat memilikinya. Dengan mencicil satu dua buku di setiap bulan misalnya.

    Ah, kalau saja saya tak mengingat waktu yang ada, tentu saja saya akan berlama-lama di sana hingga toko itu tutup. Membaca dan banyak membaca. Hingga dahaga akan ilmu itu terpuaskan. Bukannya sok pintar atau dianggap berilmu, tapi itu memang sudah menjadi kebutuhan. Minimal saat buku itu termiliki, keberadaannya dapat mengusir bosan ketika naik kereta rek listrik. Lebih berguna daripada sekadar menebak-nebak tak karuan berapa lama lagi kereta ini sampai di stasiun terdekat.

    Banyak buku yang ingin saya miliki. Temanya juga banyak. Tentang dunia perwayangan beserta tokoh-tokohnya. Ini gara-gara “racun” Gunawan Mohammad dalam catatan pinggirnya yang banyak mengisahkan jagat para dewa dan ksatria itu.

Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun menarik minat saya. Terutama berkaitan dengan Mataram Islam dan format mutakhirnya yang terpecah menjadi empat, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Ada lagi buku bagus lagi, tapi harganya tak kira-kira. Atlas Perang Salib, Fikih Jihad Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, Antara Mekkah & Madinah harganya di atas rongatus ewuan (dua ratus ribuan). Hanya Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab yang harganya di bawah itu.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang tidak saya bidik. Tapi membeli buku yang kebetulan sempat tertangkap oleh mata. Bukunya Jonru—pegiat Forum Lingkar Pena pastinya sudah tahu tentang orang yang satu ini. Buku berjudul Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat itu menarik perhatian saya. Kayaknya renyah untuk disantap otak saya. Ringan dan gurih. Enggak perlu mikir banyak. Itu konklusi sementara saya.

Tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan toko buku itu, saya sempatkan diri ke bagian buku murah. Yang kisaran harganya mulai dari goceng (lima ribu rupiah) sampai ceban-go (15 ribu rupiah). Ternyata…wow. Bagus-bagus banget. Tebal-tebal lagi. Terutama novel-novel terbitan Penerbit Hikmah.

Suer…kalau enggak ingat Kinan, saya ambil semua. Saking bingungnya saya sempat lama mikir. Buku mana yang harus dipilih. Tentu ada kriterianya. Buku yang benar-benar bisa habis dibaca. Selain itu. No way…nanti saja!

Pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Laskar Pelangi The Phenomenon, buku yang sempat saya idam-idamkan tapi tidak jadi dibeli karena relatif mahal pada waktu itu. Yang kedua adalah Evo Morales:
Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika. Terus terang saja, buku murah itu kondisinya bagus sekali. Masih dalam plastik. Bukunya Jonru saja masih kalah—tidak dibungkus plastik.

Tiga buku murah lainnya yang bercerita tentang Blackberry, Facebook, dan Google saya abaikan. “Lain kali saya akan beli kalian,” pikir saya dengan tekad membaja dan semangat 45. Maklum duit di dompet cuma tinggal 14 ribu rupiah. Mepet banget untuk sampai ke rumah.

Di sepanjang perjalanan saya gelisah, karena tak sabar untuk segera membaca ketiga buku yang saya beli itu. Lebih gelisah lagi karena saya ingin membagi perasaan saya ini kepada Anda semua Pembaca. Oleh karenanya saya tulis ini untuk Anda.

Teringat dengan ucapan Francois Bacon—membaca menciptakan manusia lengkap—saya menginginkan Anda untuk banyak membaca. Saya juga. Membaca adalah langkah awal untuk menulis. Pun, dengan itu kita akan merasa betapa ilmu yang kita miliki teramatlah sedikit. Sedikit sekali…

Ayo…membaca.

***

 

Tags: facebook, google, blackberry, penerbit hikmah, francois bacon, goenawan mohamad, catatan pinggir, evo morales, jonru, jonriah ukur, laskar pelangi, laskar pelangi the phenomenon, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunegaran, forum lingkar pena, flp, yusuf al qaradhawy

diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/11/manusia-lengkap/

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad bukan malam panjang

21.17 11 Desember 2010

ENEMY OF THE STATE


ENEMY OF THE STATE

 

Kehidupan Robert Dean (diperankan Will Smith) hilang setelah sekelompok agen NSA (National Security Agency) di bawah pimpinan politik korup, Thomas Brian Reynolds (Jon Voight), memburunya. Keluarga dan karirnya lenyap. Asetnya dibekukan. Bahkan tuduhan membunuh pun telah dipersiapkan untuknya.

Ini gara-gara temannya sebelum mati menitipkan rekaman pembunuhan senator yang dilakukan Reynolds. Dikejar ke sana ke mari oleh banyak Agen NSA yang didukung dengan teknologi mata-mata dan pencitraan satelit canggih, Dean telah menjadi enemy of the state.

Dean tak mau menyerah, ia berusaha untuk dapat mengembalikan hidupnya. Untuk itu ia tidak sendiri. Ia dibantu oleh mantan agen rahasia yang bernama “Brill”. Mereka berdua mampu membalikkan keadaan dan menjadi pemenang perseteruan itu.

Itulah sedikit kisah Enemy of the State, film yang dibesut oleh sutradara Tony Scott dan dirilis di tahun 1998. Tetapi bukan untuk mengupas film itu artikel ini dibuat. Apa yang dimunculkan oleh Hollywood bisa dijadikan cerminan yang terjadi di dunia nyata.

Betapa tidak, pembunuhan karakter dan penghilangan kehidupan seorang target dapat dilakukan dengan mudah oleh para pemilik kekuasaan. Untuk dapat menangkap seseorang yang menjadi musuh politik atau membahayakan karirnya, mereka mampu untuk membuat cerita bohong, rekayasa, dan konspirasi rumit.

Contoh gampangnya demikian: saldo rekening banknya tiba-tiba bertambah padahal ia tidak tahu dari mana duit itu bisa mampir ke rekeningnya. Dan tiba-tiba ia mendapatkan tuduhan yang disebar melalui media bahwa ia korupsi. Atau tahu-tahu ayah dan ibunya ditangkap oleh polisi dengan berita yang muncul keesokan harinya: mereka dianggap sebagai pengedar narkoba. Banyak lagi lainnya. Tujuannya cuma satu. Orang yang dijadikan target diharap untuk menyerah dan tidak melakukan apa-apa.

Ini pula yang diterima oleh Julian Assange, pendiri Wikileaks. Situs yang pada bulan April 2010 memposting video serangan helikopter Apache Amerika Serikat (AS) pada 2007 di Afghanistan dan menewaskan fotografer dan supir Reuters. Situs yang pada Juli 2010 menerbitkan sebanyak lebih dari 77 ribu dokumen serangan AS di Afghanistan. Kini 250 ribuan lebih dokumen kawat kedutaan besar AS di berbagai negara siap untuk diunggah di situs itu—sebagiannya sudah.

Julian Assange adalah orang yang paling dicari dan diburu oleh interpol (polisi internasional) atas permintaan pengadilan Swedia. Kalau sudah berkaitan dengan interpol, maka Assange harus berurusan dengan 188 negara anggota di dalamnya. Dugaannya ia telah melakukan kejahatan seksual, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebelumnya Assange juga telah ditolak untuk tetap tinggal di Swedia, alasannya persyaratannya tidak terpenuhi.

Akan ada otoritas yang menolak untuk mengaitkan apa yang dialami oleh Assange dengan bocornya sejumlah dokumen rahasia AS ke sejumlah pihak. Seperti otoritas Kejaksaan Swedia yang mengatakan bahwa ada laporan dari pihak yang dilecehkan ke kepolisian atau karena Assange dianggap tidak kooperatif dalam penyidikan yang dilakukan oleh otoritas AS.

Australia pun—tempat Assange lahir dan dibesarkan—melakukan hal serupa dengan memerintahkan otoritas kejaksaan untuk menyelidiki adanya kemungkinan Assange telah melakukan pelanggaran undang-undang.

Assange telah menjadi enemy of the state.

Itulah resiko peniup peluit (whistle blower). Nasib Khairiansyah Salman
dan Susno Duaji hampir-hampir mirip. Tentu dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Khairiansyah Salman membongkar kasus korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 2005 lalu. Sedangkan Susno Duaji membongkar korupsi besar yang melibatkan banyak profesi.

Setelahnya, dua-duanya mendapatkan penghargaan. Khairiansyah memperoleh Integrity Award 2005 dari Transparency International. Susno dianugerahi Top Newsmaker oleh PWI Jaya. Dan dua-duanya lalu dijadikan tersangka dalam kasus lain. Yang tampak dari ini adalah tiadanya perlindungan hukum buat para peniup peluit itu.

Akankah itu akan menakutkan bagi para peniup peluit yang ada di Direktorat Jenderal Pajak ini? Pun setelah seluruh pegawai dirangsang dengan pariwara untuk menjadi peniup peluit. Alih-alih diberikan penghargaan sebagai orang yang telah menyelamatkan bangsa ini dari penyakit akut yang dideritanya, malah sebaliknya. Masa lalu dibongkar, dijauhi teman sejawat, karir hancur, dan bahkan fitnah yang sebegitu banyaknya.

Diyakini, bahwa ada sistem di instansi ini yang akan memberikan perlidungan—hukum, kenyamanan dalam bekerja—kepada para peniup peluit ini. Masalahnya adalah sudahkah diberikan keyakinan yang 100% kepada para mereka? Jika tidak jangan harap mereka mau menjadi peniup peluit. Karena bagi mereka menjadi peniup peluit sama saja dengan menjadi enemy of the state.

Semoga tidak.

 

Dimuat di situs internal DJP: http://kitsda

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

katak-katak malam itu sekarang telah bernyanyi riang

11.20 06 Desember 2010

ORANG PAJAK: DARI MISKIN HINGGA MENJADI KAYA


ORANG PAJAK: DARI MISKIN HINGGA MENJADI KAYA

 

Suatu saat saya pernah menjadi ‘gila’ karena banyak ide yang harus ditulis. Hingga tak berhenti untuk menulis. Suatu saat pula kering dari ide hingga tidak menulis berminggu-minggu lamanya. Sampai meragukan diri dan bertanya dalam hati, “saya mampu menulis tidak yah?” Untuk itu saya berdoa pada Tuhan, “berilah aku kemampuan untuk menulis.”

Selain doa, saya berikhtiar untuk menjejali isi kepala saya dengan banyak bacaan. Mulai dari membaca puisi, cerita pendek, novel, hingga koran. Setiap hari. Saya biarkan isi bacaan itu masuk dalam memori. Berita apapun saya amati. Perkataan orang saya dengar seksama. Mata saya eksplorasi ke mana-mana. Setelah itu biarlah apa yang di dalam kepala ini bekerja. Hanya demi untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit ide.

Saya percaya kepala kita ibarat teko. Terus menerus dipenuhi air maka teko itu akan meluber. Luberan inilah yang akan menjadi ide dan mencari tempat penyaluran. Dan saluran itu adalah menulis. Ini sudah sering saya ungkap beberapa waktu yang lampau.

Lebih-lebih lagi jika disokong dengan usaha pengomporan berupa pelatihan-pelatihan. Maka air itu akan semakin panas. Hingga tak terbendung lagi dan meluberlah banyak ide. Ini terbukti. Masalahnya adalah bagaimana mempertahankan agar ide itu tak menguap begitu saja?

Saya disarankan untuk mencatatnya dalam kertas-kertas kecil yang dapat ditempel. Atau menulisnya dalam buku kecil yang mudah dibawa ke mana-mana. Jadi, kalau ada ide yang terlintas dalam pikiran langsung dicatat dalam buku itu. Saran yang bagus.

Saya kemudian berangan-angan untuk menyetorkan ide yang terkumpul itu ke Bank Gagasan. Sebelumnya saya harus membuat rekening tabungan ide terlebih dahulu. Lalu saldo rekening ide saya bertambah. Pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit terbukti. Ide saya menggunung.

Di sini tak akan ada sejenis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPTAK) yang mengawasi darimana datangnya ide yang masuk ke rekening tabungan ide. Mencurigakan atau tidak aliran ide itu. Tidak. Tidak ada. Seberapun banyaknya. Seberapa gila dan liarnya. Biarkan semuanya masuk dan tercatat menambah saldo rekening.

Sampai suatu titik di mana saya teramat membutuhkan sekali ide itu untuk memenuhi nafkah batin dan kepuasan diri, saya ambil tabungan ide itu. Barulah akan ada pengawas yang akan menyeleksi dan menyaringnya. Mana yang perlu dan tepat pada saat itu. Dialah hati nurani yang tak bisa dibohongi. Dia adalah pengawal alami. Biarkan dia bekerja.

Dengan itu sudah pasti saldo rekening ide saya pun berkurang. Tapi tak mengapa. Kalau rajin bekerja (baca: bereksplorasi), saya akan mendapatkan banyak ide yang hendak ditabung. Pendek kata, saya tak takut untuk menghadapi masa depan yang ‘suram’ dengan miskin dari ide.

Anehnya, Bank Gagasan ini hanya akan memberikan bagi hasil kepada saya jika rekening saldo ide berkurang. Ini lain dari kenyataan bank yang di dunia bahana. Mereka hanya akan memberikan bagi hasil jika saya menumpuk begitu banyak uang di rekening.

Nah, di Bank Gagasan ini, bagi hasil itu berupa kepuasan batin yang merajalela di jiwa. Semakin banyak ide yang diambil, akan semakin puas jiwa saya. Tentunya dengan syarat mutlak bahwa ide itu harus bermuara pada sebuah tulisan. Selain itu, jangan harap akan mendapatkan bagi hasil. Bank Gagasan akan memantau dengan cermat perkembanganya melalui sistem teknologi informasinya yang canggih.

Tentu ada pajak yang harus dibayar dari bagi hasil yang didapat. Pajak itu berupa waktu. Memang, segala sesuatu di dunia ada harga yang harus ditaur. Tapi tak mengapa karena hasilnya adalah sesuatu yang bermanfaat.

Maka dari itu, agar mendapatkan banyak bagi hasil berupa kepuasan batin, saya harus rajin untuk mengambil ide sebanyak mungkin dari rekening itu. Dan tak mungkin saya melakukannya jika saldo tabungan ide sedikit. Oleh karenanya saya pun harus tekun mengumpulkan ide-ide itu dari mana saja datangnya. Itu sudah saya lakukan, Insya Allah.

Anda tahu seberapa bengkaknya saldo rekening ide saya kini? Ia sejumlah kata-kata bahasa Indonesia yang pernah terdengar di muka bumi ini.

Saya—orang pajak—yakin betul Anda pun memilikinya.

***

Tags: ppatk, bank gagasan, saldo rekening, saldo rekening orang pajak, ide, gagasan, tema, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, orang pajak, pns, djp

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dari malam hingga pagi

5:51 07 Desember 2010

 

http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/orang-pajak-dari-miskin-hingga-menjadi-kaya/

IBU GURU ITU MENGGURUI SAYA


IBU GURU ITU MENGGURUI SAYA

 

Pagi ini saya menemukan sebuah pelajaran berharga tentang penggunaan kata dari seorang ibu yang berasal dari Sidoarjo. Ini meyakinkan saya bahwa saya dapat belajar dari siapapun dan kapanpun saja. So, menegaskan kembali bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, belajar, dan belajar apa saja.

    Ibu itu berdiskusi
via facebook dengan saya tentang bagaimana cara membangkitkan minat untuk menulis. Bla…bla…bla…dengan gaya menggurui atau seolah-olah penulis handal saya beri semangat dan semangat ibu itu untuk bisa menulis. Padahal sebenarnya dia sudah jago menulis. Karena dari pengakuannya sendiri, sedari kecil dia sudah suka menulis.

Tapi masalahnya sekarang dia tak punya waktu untuk menulis, intensitasnya menurun sejak di SMA hingga semester 4 dia kuliah. Setelah itu menulis sedikit-sedikit sampai sekarang. Problemnya adalah kesibukan yang menyita.

    Di saat belajar yang sok online ini, tiba-tiba keluar di layar chat room kata “merubah” yang terselip dalam satu kalimat yang ditulis saya. Ibu itu bilang kalau kata yang benar itu bukan “merubah” tetapi mengubah. Oh…sensitifitas berbahasanya muncul. Maklum ibu itu adalah seorang guru bahasa Indonesia. Weks….

    Saya terima dengan senang hati koreksi ini. Karena saya merasakan betul, kalau koreksi yang diberikan langsung akan lebih membekas pada diri saya. Saya akan teringat terus tentang itu.

    Penasaran dengan sebarapa banyak saya telah menggunakan kata yang salah itu, maka saya cek di WordPress saya. Dari 460-an lebih tulisan, “cuma” lima belas tulisan yang ada kata merubahnya. Lumayanlah tidak banyak amat-amat.

Tulisan paling akhir yang memuat kata merubah dalam blog saya itu pun bukan benar-benar dari saya. Karena saya hanya mengutip teks aslinya tanpa mengubah sedikitpun twit-nya Tifatul Sembiring yang saya kutip tentang jabat tangannya dia dengan Michelle Obama.

Pada akhirnya, mulai hari ini saya akan merubah—eh maaf salah—mengubah pengetahuan saya tentang penggunaan kata merubah dan mengubah. Sekali lagi yang betul adalah mengubah bukan merubah. Silakan Anda cek sendiri di Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring.

Bu Guru, terima kasih Bu atas pengajarannya. Alih-alih Ibu yang belajar kepada saya, sayalah yang ternyata banyak belajar dari Ibu. Saya pikir kalau tulisan ini pun disodorkan kepada Ibu, belum tentu saya dapat nilai 6.

Bu Guru, terimakasih telah menginspirasi saya. Terimakasih pula telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menghasilkan karya ini. Dan…

Bu Guru…terimakasih telah menggurui saya.

Sejuta tabik untuk Ibu.

***

Tags: tiffatul sembiring, michelle obama, lailatul kodar, kbbi, kbbi daring, pusat bahasa, glosarium, merubah, mengubah, eyd, ejaan yang disempurnakan,

 

    Riza Almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara

     guru itu digugu dan ditiru

08.03 05 Desember 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

SAYA DULU ADALAH ANDA SAAT INI


SAYA DULU ADALAH ANDA SAAT INI

 

Saya sibak tirai kamar hotel lantai 10 pagi ini. Gunung Salak terlihat jauh di sebelah selatan. Bangunan tinggi-tinggi banyak menjulang di kejauhan. Terselip di antaranya pemukiman padat. Khas Jakarta. Terlihat pula keramaian kendaraan bermotor tiada henti melewati jalan di bawah sana.

    Seringkali saya berlama-lama menyaksikan apa yang ada di balik tirai ini. Indah sekali menurut saya. Menginspirasi. Apalagi lanskap pada waktu malam hari. Kelap-kelip lampu gedung, motor, dan mobil. Tentu pula antriannya. Baik yang ada di tol maupun non-tol. Pemandangan biasa yang menjadi keseharian ibukota.

    Saya bersyukur mendapatkan kamar yang sedemikian rupa. Lebih bersyukur lagi saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop pelatihan menulis yang diadakan oleh Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA), Direktorat Jenderal Pajak, selama tiga hari ini.

    Begitu banyak yang didapat. Bertemu dengan begitu banyak orang, dengan berbagai karakter dan asal. Dari barat Indonesia maupun timurnya. Begitu banyak talenta. Begitu banyak semangat membara untuk membuat Direktorat Jenderal Pajak menjadi lebih baik lagi melalui pena-pena yang tergores di atas kertas.

    Kini, saat saya menulis lembaran ini, matahari pagi memboroskan cahayanya hingga memenuhi ruangan kamar hotel. Amat saya rindukan atmosfer ini. Seperti saat saya shalat dhuha di saung tengah sawah bermandikan kirana surya beberapa tahun yang lampau.

    Seperti pula rindunya saya pada sesuatu yang bernama konsistensi dalam menulis. Untuk punya komitmen menulis apa saja di setiap hari.Hingga ide di kepala ini terkuras habis. Atau maut memutus segala kenikmatan.

    Sebenarnya inilah jawaban kepada teman-teman—baik peserta atau kawan di berbagai tempat di luar sana—yang mengeluhkan tentang ketidakmampuannya untuk menulis. Kok mereka mengeluh pada saya yah padahal saya bukan penulis buku, terkenal apalagi, saya cuma blogger yang berusaha untuk tetap menulis dan menulis.

C’mon beib…kamu bisa. Hapus semua mental block yang ada. Takkan terulang lagi keluar dari mulut kita kata-kata yang melemahkan kemauan kita untuk menulis. “Saya dulu adalah Anda saat ini,” begitulah kalimat saya yang terucap kepada mereka. “Anda cuma butuh konsistensi untuk menulis apa saja di setiap hari,” terang saya lagi.

Realitanya, sungguh saya senang dengan keluhan mereka. Itu adalah ungkapan hati dan benih dari sebuah kejernihan yang tak bisa dibohongi bahwa mereka ingin berkarya. Wow…Mereka ingin maju. Mereka ingin menghasilkan karya. Mereka ingin menelurkan buku. Mereka ingin ada sebuah keabadian yang akan dikenang oleh anak cucu.

Apapun niatan mereka, takkan berhasil jikalau mereka—setelah membaca tuntas artikel ini—tak segera ambil kertas, buka laptop, dan langsung menuliskan apa saja yang ada di benak mereka. Kawan, saat ini tulis apa saja yang kau rasa, derita, pikirkan, bayangkan. Semuanya. Dan saya selalu akan menunggu karyamu.

Sang baskara mulai meninggi.

***

 

Tags: kitsda, djp, tips menulis, blogger, workshop, pelatihan, gunung salak.

    

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semua orang bisa menulis

06.40 04 Desember 2010

    

Termuat pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/04/saya-dulu-adalah-anda-saat-ini/

 

PIKIRAN ADALAH MUSUH


PIKIRAN ADALAH MUSUH

 

Tulisan membuat seseorang mampu untuk melebihi masa hidupnya dan mampu membuat pintu untuk melampaui ruang lingkupnya. Tulisan menjadi sesuatu yang tidak ada kata pensiunnya buat penulisnya.

Itulah salah satu yang dikemukakan oleh Zaim Uchrowi dalam Pelatihan Aktif Menulis, Kreatif, dan Inspiratif yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA) di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Kamis (2/12).

Zaim melanjutkan bahwa untuk menjadi penulis sejati maka ia harus hati-hati dengan pikirannya, karena terkadang pikiran adalah musuh bagi penulis sendiri. Penulis sering terjajah dengan pikirannya. Seharusnya penulis harus mampu untuk mengendalikannya. Maka seringkali mengajar tentang kepenulisan di dunia akademisi akan lebih sulit daripada yang lainnya karena hilangnya spontanitas dan mereka benar-benar hidup di dunia pikiran.

Oleh karenanya, lanjut Zaim, untuk tidak terjajah oleh pikiran, penulis harus mampu menggunakan mata, mata, dan matanya. Memosisikan matanya seperti kamera yang mampu untuk merekam segalanya. Dengan mata itulah ia mengamati dan memdeskripsikan apa yang ia lihat. Dan tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa mendeskripsikan sesuatu dengan jelas.

Untuk memperkuat mata itu, dalam menulis pun perlu menggunakan bahasa atau kata-kata sehari-hari. Hindari jebakan akademik. Karena dunia akademik kita amat sangat diwarnai dengan feodalisme, kekakuan, dan formalistik. Di luar negeri, karya akademik dari dunia ilmiah mampu mendekatkan diri dengan tulisan-tulisan populer lainnya.

Zaim mencontohkannya dengan tulisan anak-anak yang mampu berkata jujur dan polos. “Kita lihat tulisan anak-anak itu. Jelas strukturnya, subjek, predikat, objek, dan keterangan.Pendek-pendek. Namun dengan bertambahnya usia mereka, ilmu mereka, pendidikan mereka, tulisannya semakin panjang, dan membingungkan. Menjadi sulit dimengerti. Hingga muncul anggapan tulisan yang ilmiah itu adalah tulisan yang sulit dipahami.”

“Akan sangat baik pula untuk menambahkan latar belakang wilayah lokalnya masing-masing dalam tulisan itu agar penuh dengan warna,” lanjut Zaim mengakhiri.

Pelatihan yang diisi instruktur dari Balai Pustaka School of Writing dan dibuat untuk
para kontributor Buku Berbagi Kisah dan Harapan (Berkah) Direktorat Jenderal Pajak ini, menurut rencana akan diselenggarakan selama tiga hari.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

memandang pagi Jakarta dari lantai 10

04.44 03 Desember 2010

HARGA SEBUAH KEPERAWANAN


Harga Sebuah Keperawanan

    “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Senilai jumlah uang tertentu? Atau sebatas janji dari rayuan maut para begundal syahwat? Ooooo…ya betul. Terkadang kombinasi dua diantaranya. Maka keperawanan jadi barang yang tak berharga. Hingga diri tak berarti. Tak ada yang bisa dibanggakan. Apatah lagi cuma gadis kampung yang cuma tamatan smp. Yang terkejut-kejut dengan budaya kota. Yang bermodalkan telepon genggam berkamera satu mega pixel-an. Tetapi punya akses ke seantero belahan dunia dengan gprs, 3g, ataupun wifi. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Hingga nanar mata membaca berita 51% gadis remaja sudah tak perawan lagi. Ooooo…ya betul. “Aku dipaksa. Aku dipaksa,” kata salah satunya. Kenapa tak meronta? Kenapa tak lari? Tanyaku lagi bertubi-tubi laksana ribuan panah menghunjam atap istana terlarang di Peking sana. Padahal jawaban itu hanyalah kamuflase untuk kenikmatan yang dirasa tak terkira. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Hingga membuyarkan mimpi para cecunguk yang lidahnya terjulur dengan air liur membasahi bibir memandangi tubuhmu menunggu kesempatan untuk lagi, lagi, dan lagi. Modalnya cuma kata-kata tak bermutu dan obral janji. Aih…bulan pun bisa ngomong kalau mereka itu cuma dusta belaka. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Sampai batok kepala ini tak kuasa menggeleng-geleng karena leher sudah tak mampu tuk berbuat apa-apa lagi. Bosan melihat tingkahmu. Jikalau orang tuamu tahu, apa yang akan mereka derita kecuali makan hati yang tiada berwujud rupa karena itu cuma rasa. “Duh…nduk anakku yang cantik. Mau-maunya kamu begitu. Tak kasihankah engkau dengan diri kami?” Cuma petani pemanjat pohon kelapa untuk mendapatkan secuil air aren yang harus digodok berjam-jam di atas tungku panas berbahan kayu bakar. Kun fayakun jadilah gula jawa. “Duh…nduk anakku yang cantik.” Air mata mereka mungkin sudah habis saat engkau datang menjumpa mereka. Karena bisik-bisik tetangga sudah mengacaukan hidup mereka. “Woro…!!!woro…!!! fotonya sudah sampai Los Angeles.” Kau mengira apa yang kau sudah rekam dalam megapixel-megapixel video dan gambar itu sudah hilang saat engkau tekan tombol delete. “Tidaklahyau…” Ingat kata-kataku ini. “Tidaklahyau…” Zaman sekarang teknologi sudah canggih, membangkitkan arwah gambar yang sudah “mati”, semudah membalikkan tangan dan mengedipkan mata. Makanya CIA dan FBI kudu memformat sampai lima kali harddisk-harddisk rongsokan mereka untuk memastikan tak ada data yang tertinggal. Dan kamu? Bukanlah siapa-siapa hingga hp yang kau jual itu masuk ke toko reparasi hp, dan si reparator menemukan semuanya itu lalu mengunggahnya ke dunia tanpa batas. “Woro…!!!woro…!!! fotonya sudah sampai Los Angeles.” Orang tuamu cuma bisa terpekur kayak burung tekukur mendengkur di atas kasur. Duh Gusti…air mata mereka sudah kering. “Berapa?” Itu tanya yang menggema dalam benak kepalaku. Tapi sambil berbisik kini. Karena aku takut mengganggu awal generasi baru dalam perutmu itu. Katamu sambil mengusap perutmu: “aku mencintainya dan isi perut ini.” Kalimat terakhir sebelum engkau menjatuhkan diri dari lantai 27 gedung ini.

“Berapa ???!!!!!” teriakku sepi.

***

 

“buat remaja putri semoga engkau tetap menjadi yang 49% itu”

 

Riza Almanfaluthi

sajak tengah malam

dedaunan di ranting cemara

00.19 30 November 2010

 

SUNDEL BOLONG TAMPAK BELAKANG


SUNDEL BOLONG TAMPAK BELAKANG

Menyeramkan? Tidak juga. Ceritanya begini. Di kantor baru tempat saya bekerja seringkali menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) atau bahasa bulenya sekarang in house training(IHT) buat para pegawainya yang sebagian besar adalah para Penelaah Keberatan (PK).

Tujuannya sudah barang tentu untuk meningkatkan—saya hapus kata “upgrade” karena dalam Bahasa Indonesia sudah ada kata yang tepat untuk menggantikannya—kapasitas keilmuan para PK yang sehari-hari berkutat dengan permasalahan sengketa Wajib Pajak.

Mulai dari memproses permohonan keberatan, mempertahankan argumentasi dan koreksi pemeriksa pajak di Pengadilan Pajak, mengevaluasi putusan banding, mengirimkan Peninjauan kembali ke Mahkamah Agung dan lain-lain. Tentunya ini butuh ilmu yang bervariasi dan tidak sedikit.

Dan tampak betul IHT ini digarap dengan serius. Tidak main-main. Tampak ada komitmen dari para pimpinan untuk menjadikan para pegawainya tidak jumud (mandek, bahasa Arab) dalam berilmu. Oleh karenanya dalam menghadirkan pembicaranya pun tidak main-main. Mereka yang betul-betul menguasai bidangnya. Bisa dari internal dan eksternal Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Para pimpinan pun mewajibkan seluruh pegawainya untuk mengikuti pelaksanaan IHT ini secara rutin. Diselenggarakan di setiap hari Jum’at dan dimulai pada pukul 08.00 pagi sampai menjelang jum’atan. Jum’at memang bagi kami adalah hari besar. Hari kebersamaan. Dan hari libur. Karena para PK yang setiap harinya di Pengadilan Pajak tidak ada jadwal sidang di hari itu.

Kebetulan pula selain IHT, para pegawai baru—termasuk saya di dalamnya—diikutkan juga dalam diklat lain yang dinamakan OJT, on the job training. OJT ini hampir sama dengan IHT. Bedanya adalah kalau IHT diisi dengan materi-materi baru terkini di luar keilmuan dasar yang harus dimiliki oleh para PK, sedangkan di OJT ini adalah benar-benar ditujukan agar para PK memahami betul tugas pokok dan fungsinya.

IHT diselenggarakan di sebuah ruangan besar dalam bentuk kuliah umum. Sedangkan OJT diselenggarakan secara klasikal. Pelaksanaannya dua mingguan selama enam bulan setiap hari Jum’at mulai jam 2 siang sampai dengan selesai.

Saya ini ngapain gitu yah panjang lebar kayak gini, cerita seramnya mana dong? Sabar. Enggak seram kok. Bener…

Kebetulan sekali Jum’at (19/11) kemarin, setelah IHT transfer pricing di paginya, siangnya langsung lanjut OJT tentang prosedur permohonan dan penyelesaian keberatan. Sambil menunggu pembicaranya datang atau ketika sesi diskusi berpanjang-panjang itu tiba, saya membuat coret-coretan. Hasilnya seperti dibawah ini:

    

Saya gambar apa saja yang terlintas di pikiran. Apa yang tampak di depan mata. Ada kotak kue. Minuman dalam kemasan. Gumpalan kertas. Naruto atau temannya? Pengennya gambar Naruto tapi yang jadi malah temannya. Moderator setengah jadi. Gambar telapak tangan setengah jadi pula. Juga sundel bolong tampak belakang dan depan. Enggak seram bukan? He…he…he…

    Memang cuma gambar dan saya tidak berniat cerita seram seperti di film-film itu. Biasanya apa yang mau digambar bila jenuh menerjang? Apa saja. Dan saya bisanya hanya ini. Tapi tidak ah…Terkadang kalau lagi melow, puisi menjadi kelindan setiap nafas.

    Ngomong-ngomong saya cuma intermezo saja Pembaca. Kerana hasrat menulis sudah memuncak. Pun ada yang ingin membuncah di kepala karena sundel bolong itu. Kalau sudah tertuliskan, saya bisa menulis dan berpikir yang lain. He…he…he…

    Maaf dari saya.

    ***

Tags: direktorat jenderal pajak, djp, sundel bolong, kuntilanak, sundel bolong tampak depan, sundel bolong tampak belakang, rupa sundel bolong, naruto, moderator, iht, ojt, in house training, on the job training, penelaah keberatan, pengadilan pajak, sengketa pajak, wajib pajak, malam jum’at, malam jum’at kliwon.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.48 20 November 2010

tabik buat semua IHT dan OJT itu