50 Tips Meningkatkan Kekuatan Otak


“Don’t get it right, just get it written.”

Beberapa hari yang lalu, kembali saya mendapat email berlangganan dari WritetoDone, situs menulis dari luar negeri itu. Isinya tentang tips menulis dari Laura Tong, berjudul: 50 Productivity Tips to Boost Your Brainpower As A Writer. Tips-tips yang disajikan dengan infografis.

Sebelumnya Laura Tong mengutip kalimat Stephen King, “Bakat lebih murah daripada garam meja. Yang membedakan individu berbakat dari mereka yang sukses adalah kerja kerasnya.”

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG


SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG

Suatu hari tautan yang ada di sebelah kanan blog saya satu persatu dicek. Sudah lama soalnya saya tak mengunjungi “beranda” mereka. Ah, sedih. Nelangsanya menjumpai blog-blog teman banyak yang mati dan tidak aktif lagi. Ada yang tulisan terakhirnya di tahun 2008 setelah itu tiada. Hanya komentar pengunjung di shoutbox yang berteriak-teriak kemana dikau adanya?

***

Aduhai, alangkah sayangnya ketika seseorang menghentikan aktifitasnya untuk ngeblog hanya karena alasan: “saya tak mau jadi orang munafik.” Munafik macam mana pula? Ya itu tadi, menulis seolah-olah kita paling hebat, paling top, paling harmonis rumah tangganya, paling cintanya pada pasangan, paling bijak, dan paling-paling lainnya. Berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

    Akhirnya memang naluri tidak bisa dibohongi. Suatu saat kelelahan itu akan muncul. Bukan kelelahan fisik tetapi kelelahan mental. Sampai pada suatu titik ia menyalahkan aktifitas ngeblognya itu. Dia tidak mau berbohong lagi. Dia berhenti berpura-pura. Berhentilah ia menulis. Sayang…

    Ya itulah saat ngeblog cuma jadi topeng. Plis deh, menulis pun butuh kejujuran—yang kata orang pajaknya sih butuh integritas. Kalau jujur itu sesuai dengan hati. Maka menulis dengan hati akan menemukan sisi keindahannya bagi yang lain. Akan ada sentuhan yang berbeza—mengutip kata teman saya di forum sebelah.

    Menulis dengan jujur maksudnya apa sih? Tentunya sesuai dengan kenyataanlah. A bilang A. B ya bilang saja B. Jika kita alami sesuatu, uraikan apa adanya tanpa diberi bumbu-bumbu penyedap dan pemanis yang akan menghilangkan cita rasa sejatinya. Kalau kita belum melakukan sesuatu yang ingin kita tulis maka tak perlulah untuk ditulis. Tunggu sejenak atau dua jenak dan baru diungkap ketika kita telah melakukan yang ingin kita bagi kepada yang lain itu.

    Lalu apakah dengan banyak matinya para blogger yang sekarang terjadi itu dikarenakan alasan tidak mau jadi orang munafik itu? Oh tidak bisa…Tidak hanya itu. Satu lagi adalah pada masalah konsistensi. Ya betul konsistensi. Menulis juga butuh konsistensi.

    Maka saya pun kagum luar biasa terhadap para blogger yang sampai hari ini aktif dengan tulisan-tulisan dan curhat-curhat mereka. Ada yang dua hari update dengan tulisannya sendiri. Bermutu lagi. Ndak sekadar curcol biasa. Tak peduli dengan jejaring sosial yang lagi ngetrend-ngetrendnya saat ini dia tetap eksis dengan blognya itu.

Jejaring sosial yang sebenarnya banyak manfaatnya itu bisa mematikan daya kreatifitas menulis karena pelakunya cukup dipuaskan dengan 150 karakter atau lebih yang bisa dikomentari oleh banyak orang. Sedangkan ngeblog? Dikomentari satu orang pun sudah syukur. Tetapi apa iya ngeblog itu Cuma untuk dikomentarin? Enggaklah. Yang pasti blogger ataupun penulis sejati tak peduli semua itu yang penting ia bisa berkarya dan terus berkarya. Waduh saya angkat tabik dah buat mereka.

Jadi tips menulis kali ini buat kita semua adalah: jujurlah dalam menulis. Menulis juga perlu konsistensi. Dan tetaplah menulis biarpun hanya sepi menghadang di depan. Kerja senyap ini adalah untuk—sekali lagi—mewariskan peradaban.

Selamat menulis.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

salam jingga

dedaunan di ranting cemara

03 Februari 2011

SAYA DULU ADALAH ANDA SAAT INI


SAYA DULU ADALAH ANDA SAAT INI

 

Saya sibak tirai kamar hotel lantai 10 pagi ini. Gunung Salak terlihat jauh di sebelah selatan. Bangunan tinggi-tinggi banyak menjulang di kejauhan. Terselip di antaranya pemukiman padat. Khas Jakarta. Terlihat pula keramaian kendaraan bermotor tiada henti melewati jalan di bawah sana.

    Seringkali saya berlama-lama menyaksikan apa yang ada di balik tirai ini. Indah sekali menurut saya. Menginspirasi. Apalagi lanskap pada waktu malam hari. Kelap-kelip lampu gedung, motor, dan mobil. Tentu pula antriannya. Baik yang ada di tol maupun non-tol. Pemandangan biasa yang menjadi keseharian ibukota.

    Saya bersyukur mendapatkan kamar yang sedemikian rupa. Lebih bersyukur lagi saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop pelatihan menulis yang diadakan oleh Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA), Direktorat Jenderal Pajak, selama tiga hari ini.

    Begitu banyak yang didapat. Bertemu dengan begitu banyak orang, dengan berbagai karakter dan asal. Dari barat Indonesia maupun timurnya. Begitu banyak talenta. Begitu banyak semangat membara untuk membuat Direktorat Jenderal Pajak menjadi lebih baik lagi melalui pena-pena yang tergores di atas kertas.

    Kini, saat saya menulis lembaran ini, matahari pagi memboroskan cahayanya hingga memenuhi ruangan kamar hotel. Amat saya rindukan atmosfer ini. Seperti saat saya shalat dhuha di saung tengah sawah bermandikan kirana surya beberapa tahun yang lampau.

    Seperti pula rindunya saya pada sesuatu yang bernama konsistensi dalam menulis. Untuk punya komitmen menulis apa saja di setiap hari.Hingga ide di kepala ini terkuras habis. Atau maut memutus segala kenikmatan.

    Sebenarnya inilah jawaban kepada teman-teman—baik peserta atau kawan di berbagai tempat di luar sana—yang mengeluhkan tentang ketidakmampuannya untuk menulis. Kok mereka mengeluh pada saya yah padahal saya bukan penulis buku, terkenal apalagi, saya cuma blogger yang berusaha untuk tetap menulis dan menulis.

C’mon beib…kamu bisa. Hapus semua mental block yang ada. Takkan terulang lagi keluar dari mulut kita kata-kata yang melemahkan kemauan kita untuk menulis. “Saya dulu adalah Anda saat ini,” begitulah kalimat saya yang terucap kepada mereka. “Anda cuma butuh konsistensi untuk menulis apa saja di setiap hari,” terang saya lagi.

Realitanya, sungguh saya senang dengan keluhan mereka. Itu adalah ungkapan hati dan benih dari sebuah kejernihan yang tak bisa dibohongi bahwa mereka ingin berkarya. Wow…Mereka ingin maju. Mereka ingin menghasilkan karya. Mereka ingin menelurkan buku. Mereka ingin ada sebuah keabadian yang akan dikenang oleh anak cucu.

Apapun niatan mereka, takkan berhasil jikalau mereka—setelah membaca tuntas artikel ini—tak segera ambil kertas, buka laptop, dan langsung menuliskan apa saja yang ada di benak mereka. Kawan, saat ini tulis apa saja yang kau rasa, derita, pikirkan, bayangkan. Semuanya. Dan saya selalu akan menunggu karyamu.

Sang baskara mulai meninggi.

***

 

Tags: kitsda, djp, tips menulis, blogger, workshop, pelatihan, gunung salak.

    

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semua orang bisa menulis

06.40 04 Desember 2010

    

Termuat pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/04/saya-dulu-adalah-anda-saat-ini/

 

The Real Blogger


Setiap berdiskusi dengan teman saya yang satu ini, seringkali saya mendapat banyak pencerahan. Tentang Both Sides Perspective misalnya, istilah ini saya dapatkan darinya. Hari ini pun dia memberikan sesuatu yang menarik, yang membuat wawasan saya terbuka tentang hal yang menjadi fenomena para Blogger’s pada hari ini. Yaitu untuk menjadikan dunia maya sebagai tempat mencurahkan apa yang dia rasakan dan miliki untuk dibagi dengan yang lain.
Menurutnya, dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi yang cukup pesat ini membuat semua pakem masa lalu menjadi berubah 180 derajat dan hampir-hampir tak berlaku pada saat ini. Contoh gampangnya adalah, dulu setiap orang yang mempunyai kesenangan mengungkapkan perasaannya dalam tulisan selalu menumpahkannya ke dalam buku diarynya. Entah perasaan sebal, senang, bahagia, benci, cinta etc. Semuanya tumplek blek di buku itu. Terkunci rapat, digembok pula, tidak ada yang boleh mengetahuinya. Hanya Allah dan dirinya saja yang tahu. Maka, setiap ada orang yang tanpa sengaja membaca buku diarynya atau bahkan menyentuhnya saja, bisa membuat ia marah luar biasa.
Tapi zaman telah berubah, kini orang dengan mudahnya menuliskan perasaannya sehari-hari, baik benci, sebal, senang, bahagia, derita, cinta semuanya ia ungkapkan dalam sebuah wadah yang bernama Weblog atau disingkat menjadi blog saja. Ia tulis agar semua orang mengetahui apa yang ia alami pada hari itu. Ia ikut membagi kesedihannya, kegembiraannya, dan semua perasaan itu kepada semua orang. Ia mempunyai satu tujuan bahwa apa yang ia tulis diharapkan memberikan sesuatu yang baru, pencerahan, pengalaman baru bagi orang lain.Orang yang membacanya diharapkan memiliki respon peka terhadap apa yang ia tulis, sedikit komentar saja bisa membuat ia bahagia.
Di dalam wadah itu ia pun mendapatkan sesuatu yang baru dari teman-temannya. Ia akan mencari para blogger yang dapat memberikan kepada dirinya sesuatu yang baru, sesuatu yang berguna, sesuatu yang membawa dirinya pada cinta, ketergugahan diri untuk selalu semangat memperbaiki diri sendiri. Dimanapun mereka berada walaupun mereka tidak ada dalam daftar top active blogs, top commented blogs, top commenters, top popular users, ataupun new blogs. Inilah blogger sejati. The real bloggers. Give and Take more new experiences.
And then, float to the surface a big question mark. Sudahkah kita menjadi the real blogger, blogger yang dapat memberikan kepada semua orang banyak inspirasi baru, blogger yang sering mencari sesuatu yang baru dari orang lain pula? Jika belum, yuk kita sama-sama belajar untuk menjadi the real blogger. Tiada waktu lain lagi, kecuali sekarang juga.
Allohua’lam.
###
thanks to my best friend: abi attaya
dedaunan di ranting cemara
endeavor to be the real blogger
16:09 09 September 2005