HAQI DIKHITAN


HAQI DIKHITAN

    Sehari sebelum D-Day, hari ini, Ahad 3 Juli 2011, Haqi dikhitan. Sebelum shubuh kami sudah bersiap-siap agar kedatangan kami tepat waktu. Dokter yang akan mengkhitan Haqi tempat praktiknya jauh. Dan ia hanya memberikan waktu dari jam lima sampai jam tujuh pagi.

    Haqi umurnya sudah 11 tahun dan memang tidak kami paksa untuk dikhitan sedari dulu. Maunya dia saja kapan. Tetapi tak jemu-jemu kami menyarankannya untuk berkhitan segera dan paling lambat kelas enam sudah harus dikhitan. Beberapa bulan sebelum ujian kenaikan kelas Haqi ternyata sudah minta dikhitan. Katanya malu karena dari seluruh murid laki-laki di kelasnya cuma ada dua orang saja yang belum dikhitan.

    Ya sudah, kami meminta ia bersiap-siap untuk disunat pada liburan panjang ini. Tadinya kami mau mengikutkan Ayyasy untuk sunat sekalian, ternyata dia enggak mau. Kami bilang sama Ayyasy untuk sunat di tahun depan saja waktu naik ke kelas 5 atau di bulan Desember tahun ini saat di pertengahan kelas empat.

    Ditemani sama omnya Haqi, saya tiba di Pura Medika, tempat dokter Bambang berpraktik, tepat pukul 06.30. Ketika kami sampai, kami sudah berada di antrian nomor 3. Pun, di sana sudah ada yang teriak-teriak. Anak yang dikhitan dan teriak-teriak ini pakai metode laser. Sedangkan Haqi kami niatkan dengan metode smart klamp. Yang metode laser ini lama juga. Sedangkan anak yang kedua dikhitan, juga memakai metode yang sama dengan Haqi. Cukup 15 menit.

    Setelah tiba gilirannya, saya dan omnya Haqi masuk. Sesudah suntik sana dan sini cairan penghilang rasa sakit, kemudian dibersihkan, saatnya dipasang tabungnya. Pada waktu pemasangan tabung inilah tiba-tiba, kepala saya kok pusing, dan perut kok mual . Tanda-tanda waktu kejadian donor darah beberapa tahun yang lampu seperti akan terulang. Saya segera keluar untuk meminum teh hangat yang saya bawa dari rumah—terima kasih buat Ummu Haqi yang sudah menyiapkannya.

    Kemudian setelah tenang sedikit saya kembali masuk. Tak seberapa lama, proses khitan itu selesai. Langsung bisa jalan seperti tidak ada apa-apa. Keunggulan metode smart klamp seperti ini. Bahkan bisa langsung beraktivitas seperti sediakala atau berenang sekalipun.

    Setelah membayar ongkos khitan sebesar Rp500.000,00 dan diberikan obat-obatan kami pun berpamitan dengan dokter untuk pulang ke rumah. Muka Haqi sudah terlihat pucat. Ia memang belum sarapan. Saya memintanya untuk meminum teh hangat. Di dalam mobil ia langsung tidur.

    Saya mengirimkan pesan kepada Ummu Haqi untuk mempersiapkan segalanya karena kami sudah dalam perjalanan pulang. Memang sih, tidak ada rebanaan atau marawisan untuk khitanan Haqi ini. Dan kami tidak berniat mengadakan resepsi khitanan. Cukup dengan syukuran buat ibu-ibu satu RT di pekan yang akan datang. Tetapi penyambutan juga perlu buat Haqi untuk memberikan kesan bahwa Haqi telah melewati satu fase kehidupannya untuk menjadi laki-laki sejati dan muslim yang lebih baik lagi.

    Selamat Nak, semoga jadi anak yang sholeh juga. Dan jangan lupa untuk menjaga sholatnya karena kamu sudah baligh. Tanggal 3 Juli akan selalu diingat sebagai hari istimewa buatmu dan buat Abi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.47 3 Juli 2011.

Tags: Maulvi izhharulhaq Almanfaluthi, smart klamp, laser, sunat, khitan, dr. bambang, pura medika, bojonggede, bogor, pabuaran, D-Day, haqi, maul, maulvi, ayyasy

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s