Cerita Lari Jakarta Marathon 2017: Mengejar Melanie


Pada 2015, Esa Marindra Fauzi, seorang teman sekaligus penamat triatlon mengajak saya yang waktu itu sedang bertugas di Tapaktuan untuk mencoba menyeret-nyeret kaki bareng sejauh 21,1 kilometer di palagan Jakarta Marathon. Baru dua tahun kemudian niat itu menjadi nyata setelah saya pindah tugas ke Jakarta.

Ahad pagi yang masih gulita, 29 Oktober 2017, pada saat saya menyerahkan tas di tempat penitipan tas (drop bag area) sebuah colekan menyentuh pundak saya. Ternyata Esa. Kami sama-sama terlambat datang.

Baca Lebih Lanjut.

Aku Menaruh Matamu di Mataku


Aku mengira wajahmu telanjur berdebar saat melihatku memanen bulir-bulir terang di matamu yang asri seperti bungalo di tepian telaga. Saat menyingkap gelap yang menyelinap di halaman-halamanku yang kaubaca. Saat dinding jantungmu belumlah cukup tebal untuk melindungi dari cemburu buta. Saat gemetarmu, tertawamu, kedikmu menyusut menjadi kelopak-kelopak mekar padma. Dan aku mendengarmu. Dan aku terjun menjadi abu setelah kaubakar aku dengan perasaan-perasaan paling dalam perigimu. Dan aku mendengarmu. Dan aku hanyalah sehelai benang yang jatuh dari jalinan zirahmu. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang meraba hurufku dengan bening jari di pejam netramu yang bercahaya. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang menghujani jantungku dengan rinai rindu di putih gaunmu yang merajalela. Sekarang, aku menaruh matamu di mataku.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Oktober 2017

Lagi, lagi, dan lagi. Fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret yang sungguh-sungguh berbunyi ini diinfakkan kepada saya, untuk dikata-katai. 😀 Danke, danke, danke schon, Mastah.

Gletser Dusta di Kulitmu


Nada harus berganti nada agar biola yang kaugesek menjadi perihal rindu yang memukul gendang-gendang telingaku, agar tidak menjadi tawa yang kautabur kepada lantai hitam semenjana, atau agar sekadar helai sayap menutup bahumu muasal pelukku. Cobalah di lidah apiku, agar sekujur gletser dusta di kulitmu, merayap ke jendela dan pergi bersama pagi yang merintih-rintih. Aku adalah hitam di balik punggungmu, atau sekadar bayang di setiap pikirmu. Percayalah…

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Oktober 2017

 

Foto ini sejatinya milik Mastah DOF Pak @harris_motret. Suatu ketika, sambil guyon ia bertanya kepada saya, “Sudah ada belum puisi untuk foto ini?” Ya sudah, dan begitulah adanya captioning dari fotonya yang ciamik tenan itu.

 

Di Tepian Furka Pass


Ketika pagi menyusut menjadi peputih di puncak-puncak ketinggian, di lobi hotel aku sedang menunggu bus warna kuning yang akan membawaku kembali kepada keramaian. Di sinilah aku lalu percaya kepada hidungku yang tak pernah mengelabui tentang aroma kopi yang menguar dari dapur, kepada mataku yang tak pernah mengaburi tentang kaki-kaki kabut dan gunung yang mulai mendekat, tentang pikirku yang tak pernah mengakali tentang kesementaraan dan kekekalan. Di pucuk-pucuk pinus aku taruh bulir-bulir embun untuk dimangsa cahaya. Di deru-deru bus aku taruh mata-mata rabun untuk digilas roda. Besok, aku kembali ke sini, tak membawa sendok dan garpu yang tak perlu. Karena jantungku saja sudah cukup. Dengan detaknya, dengan degup Berlinnya, yang pertama atau pun kedua.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21 Oktober 2017

Lembayung yang Terlambat Tidur


Tumpukan batu bata roboh masih tak bosan merajam matanya dengan lembayung di suatu senja serupa boneka kuning di pinggiran bantalmu yang sering kauajak bincang-bincang di setiap malam ketika kauhendak mendaki puncak mimpi dan nyeri. Kantuk membuat sujudmu lama.

Malam usai dan dini hari bangkit menuju pintu membuka daunnya yang hijau, menyilakan kucingmu, lagi-lagi kuning, masuk ke haribaan matamu untuk tidur dan menghitung mawar yang tumbuh di sana, aku lupa jantungku pun merekah di tempat yang sama.

Subuh terbangun dengan susah payah memicingkan mata, betapa ia buta dengan pagi yang hendak lewat, menanggalkan rindu putih yang roboh satu per satu dari kepalanya tempat ia menyimpan belati. Aku masih ingat, langit adalah asalmu, tak sulit untuk membiru sebentar lagi.

Adalah benar, kenapa siang selalu menyimpan ribuan umpama? kenapa sore selalu terkecoh untuk cepat tiada? kenapa sarimu yang lembayung dan pernah kaupakai di suatu hari terbakar kobaran senja?

Karena aku adalah bilah bahu pikir dan bingungmu. Barangkali.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
19 Oktober 2017

 

Aku Pernah Berteduh


Dulu aku pernah berteduh
dari hujan rindu yang deras
di langit -langit lidahmu
yang terjejak lidahku,
setelah itu yang ada
hanyalah sisa-sisa badai,
berantakan.
Kita hanyalah
sepasang waktu
di bawah tiang guillotine.
Terbang, terbanglah
melompat, berputar, bersalto
bersama percikan-percikan biru
di jantungmu yang samudra.
Gapai-gapailah.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 18 Oktober 2017

Tax Holiday: Efektif atau Tidak?


 

Ada satu poin krusial yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada konferensi pers tentang RAPBN 2018 beberapa waktu lalu, yakni langkah perbaikan perpajakan 2018. Di dalamnya, memuat tax holiday. Sebenarnya, seberapa efektifkah penerapan tax holiday selama ini? Jawaban atas pertanyaan ini penting untuk mendesain ulang kebijakan agar lebih berdampak positif di masa yang akan datang.

Investasi penting buat Indonesia terutama dalam peningkatan aktivitas ekonomi, yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah sendiri gencar memberikan sinyal bahwa Indonesia ramah terhadap investasi. Beberapa potensi besar yang kita miliki terkait hal itu meliputi sumber daya alam melimpah, pasar domestik yang besar dan terus bertumbuh, bonus demografi dengan banyaknya tenaga kerja produktif pada 2025 dan 2035, serta dukungan peningkatan iklim investasi.

Baca Lebih Lanjut.

Hujan Puisi Payung Warna Warni


Jpeg
Payung warna-warni yang menggantung di atas langit-langit Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan.

Puisi adalah karya seni tertinggi dalam kesusastraan. Karena menyajikan keindahan dan pemaknaan yang mendalam. Tidak semua orang diberi anugerah untuk dapat membuat puisi, sebagaimana tidak semua orang dapat menikmati puisi.

Beberapa orang menyatakan bahwa puisi yang baik adalah puisi yang bisa dinikmati. Dan berbicara kenikmatan, maka semua kembali ke soal selera. Menjadi relatif.

Baca Lebih Lanjut