HUNTING IMAJI DAN KULINER


HUNTING IMAJI DAN KULINER

Jum’at, 18 Agustus 2006
Setelah semalamnya kami beristirahat total untuk merehatkan tubuh, pada hari ini kami sepakat untuk pergi ke rumah ibu yang berada di Poncol. Kami berempat pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor. Selalu saja antara Haqi dan ayyasy selalu bersaing untuk berada di depan. Pada akhirnya mereka selalu bertengkar pada masalah ini. Tapi saya tegaskan kepada mereka untuk gantian. Eh…maklum anak-anak. Padahal saya pikir apa enaknya sih duduk di depan. Tapi mungkin enggak enaknya kalau duduk di belakang pasti tidak bebas melihat pemandangan sekitar karena terjepit badan kedua orangtuanya.
Perjalanan kami tidak jauh, cuma menempuh sepuluh kilometer saja dari rumah kakak. Melewati kota lama yang dipenuhi dengan bangunan kuno saya berniat berhenti sebentar untuk potret-potret dengan kamera digital yang saya bawa: Nikon Coolpix 5700 bekas lungsuran teman yang mau berbaik hati merugi sekitar lima jutaan dari harga barunya untuk dibeli oleh saya.
Qaulan Sadiida tidak setuju untuk hunting foto pada saat ini. Kangen pada sang Ibu membuatnya tidak betah berlama-lama berhenti. “Sore saja nanti saat pulang,”katanya. Akhirnya saya menurut. Seharian kami di rumah sang Ibu.
Sorenya kami pun pulang. Saya menagih janji pada Qaulan Sadiida untuk menemani saya hunting. Karena hari sudah keburu terlalu sore, saya pun cuma ambil beberapa saja foto bangunan kuno di jalan samping gedung bank Mandiri. Lalu setelah cukup puas, saya pun kembali meneruskan perjalanan pulang.
Tapi berhubung ada lokasi bagus yang kami lewati, yaitu folder pengendali rob di depan Stasiun Tawang dengan jejeran lampu hias zaman dulu, semburat sinar matahari senja, air yang tenang, lokasi yang tampak bersih, dan bendungan kecil ala Belanda membuat saya tergoda berhenti. Dengan rayuan kepada Qaulan Sadiida berupa posenya bersama anak-anak, Qaulan Sadiida mau menemani saya kembali hunting foto di sini. “Jangan lama-lama,” tegasnya. Oke, bossss….
Bagus sekali. Banyak gambar sensasional (menurut saya yang pemula ini) yang bisa diambil. Lumayan. Kalau saja bisa lebih lama lagi tapi senja semakin memerah semburatnya.

Sabtu, 19 Agustus 2006
Tidak ada yang dilakukan pada hari ini. Hanya main game kuno di komputer yang sudah lama saya tinggalkan. SOLITAIRE. Selanjutnya kami cuma berencana untuk pergi ke rumah saudara yang lain nanti malam. Yang pasti di tengah panasnya Semarang, saya habiskan waktu untuk eksplore keunikan kuliner Semarang (halah…).
Ah, cuma soto Pak No dan es teh manis. Plus bakso sapi Pak Min. Lezat Euy…Saya akui, ternyata di setiap sudut kota semarang selalu saja ada kaki lima yang berjualan makanan. Dan laku coy. Apalagi di daerah istri saya ini, Perumnas Tlogosari, Pedurungan. Kalau malam jalanan utamanya penuh sesak dengan orang yang berjalan kaki dan berkendaraan untuk meramaikan warung-warung kaki lima penjual makanan. Saya sampai bilang: “wuih…di sini surganya makanan”.
So, tidak ada yang istimewa di hari ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s