Sulit untuk tidak jatuh hati pada karya bikinan Riza Almanfaluthi kali ini.
Dalam karya beliau berjudul “Kita Bisa Menulis”, saya beroleh afirmasi di tengah rimba kebimbangan untuk konsisten berkarya dalam dunia tulis menulis. Bahwa saya harus tetap berkarya lewat tulisan, menuangkan gagasan, dan lebih dari itu yakni mewariskan kenangan untuk anak cucu saya nanti. Oleh sebab itulah, patut kiranya saya berterima kasih kepada Riza yang lewat karyanya telah membantu saya beroleh nyala api semangat.
Testimoni kepada buku Kita Bisa Menulis, Belajar kepada Mereka yang Tak Menyerah terus berdatangan tanpa diminta. Tentu itu membuat sayabersyukur. Pun, sekaligus sebagai tanda bahwa buku tersebut sangat bermanfaat buat pembaca. Insyaallah.
Selain testimoni, kritik juga datang. Buat saya, kritik menjadi masukan berharga untuk perbaikan di edisi atau cetakan mendatang. Pada cetakan kedua yang sudah mulai diedarkan apda pertengahan Oktober 2022, perbaikan berdasarkan kritik itu saya akomodasi.
Pagi itu, seorang sahabat datang ke ruang kerja saya. Ia langsung mengambil buku Kita Bisa Menulis yang sengaja saya bawa khusus untuknya. Ia telah memesan buku itu sejak lama. Kemudian, di sorenya, beberapa paragraf tertulis mengomentari pertemuan pagi tadi. Buat saya ini bagus sekali. Terima kasih Mas Dhimas Wisnu Mahendra sudah meluangkan waktunya untuk menuliskan rendezvous tadi pagi.
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak Nufransa Wira Sakti menerima buku Kita Bisa Menulis beberapa waktu lalu.
Pembaca buku dan Penyuluh Antikorupsi Kak Johana Lanjar Wibowo memiliki keluangan waktu untuk membuat pandangannya kepada buku Kita Bisa Menulis, Belajar kepada Mereka yang Tak Menyerah. Buat saya ini adalah sesuatu yang manikam. Terima kasih banyak atas tulisannya ini.
Sebagai pembaca, bila sudah pernah memiliki pengalaman menulis sebelumnya, kita juga bisa mengikuti tur tanpa harus memulainya dari awal. Semua titik wisata dapat dinikmati walaupun tidak secara berurutan. Buku ini meyakinkan kita bahwa semua orang bisa menulis dan bisa mulai dari mana saja.
Nufransa Wira Sakti, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak
Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tulisan review buku Kita Bisa Menulis dari penulis produktif sekaligus pegawai Direktorat Jenderal Pajak bernama Eko Novianto yang biasa dikenal dengan sebutan Ekonov.
Saya mengucapkan terima kasih atas resensinya ini. Sangat bermanfaat sekali buat calon pembaca buku ini. Tidak perlu berpanjang kalam, mari kita simak narasinya.
Buku Kita Bisa Menulis (KBM), Belajar kepada Mereka yang Tak Menyerah ini diluncurkan pada 1 September 2022. Tim kami membuka pemesanan Pre Order mulai 1—13 September 2022.
Buku datang dari penerbit sebelum tanggal 13 September 2022 sehingga kami bisa langsung mengirimkan kepada para pemesan buku. Respons pembaca sangat luar biasa. Foto-foto buku itu datang dan telah diterima oleh para pemesan dikirim kepada saya. Satu, dua, tiga testimoni bermunculan tanpa diminta. Ini yang kami syukuri.
Lomba Menulis Artikel 2022 dalam rangka memperingati Hari Pajak 2022 telah usai.
Beberapa waktu yang lalu, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah mengumumkan siapa pemenangnya.
Saya sebagai pihak internal DJP diamanahi menjadi salah satu dari tiga juri lomba tersebut.
Kembali, yang menjadi pemenang lomba adalah mereka yang memiliki gagasan bagus tanpa melupakan bungkus.
Bungkus itu adalah cara mereka mengemas gagasan dalam tulisan bagus yang memenuhi kaidah menulis populer.
Barang jualan bagus dengan kemasan atau bungkus yang jelek atau biasa saja punya potensi tidak dilirik pembeli. Sebaliknya demikian, bungkus bagus, tetapi isi kosong atau biasa saja.
Selamat kepada para pemenang. Gagasan dan kemasan Anda memang terbaik. Semua juri memiliki penilaian sama atas para pemenang ini.
Terima kasih juga buat penyanyi kebanggaan DJP Mas @febrinoviardi yang telah mengambil gambar dan membuat video ini. Tak tepermanai. 😀🙏
Namanya Etti Guritno. Saya biasa menyapanya Ibu Etti. Suatu ketika Ibu Etti meminta saya untuk mengirimkan buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan ke kediamannya. Buku itu merupakan buku kumpulan sajak saya yang terbit pada Februari 2022.
Ibu Etti ingin membaca buku saya pada saat dirinya menjalani isolasi mandiri. Ya, takdir Allah, Ibu Etti terserang virus Covid-19 pada waktu itu.
Terima kasih, Bu atas apresiasinya kepada buku-buku saya selama ini. Sesungguhnya itu mampu memelihara semangat saya untuk senantiasa berkarya dan memberikan manfaat kepada masyarakat Indonesia.
Sekali lagi terima kasih.
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
5 Juni 2022
Beberapa waktu lalu, kawan saya sekaligus pembaca buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan bernama Ikhwanudin membagikan foto dan narasi tentang kesaksiannya saat membaca buku sajak-sajak saya tersebut.
Ia menuliskannya di saat sedang menunggu kereta api malam yang akan membawanya ke Semarang. Ia kemudian menyebarkan foto dan narasi itu di grup Whatsapp dan akun Instagramnya. Tentunya buat saya, apa yang dilakukannya sangat berharga. Saya berterima kasih kepadanya.