Review Buku Kita Bisa Menulis: Memang Tak Seperti Bernapas


Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tulisan review buku Kita Bisa Menulis dari penulis produktif sekaligus pegawai Direktorat Jenderal Pajak bernama Eko Novianto yang biasa dikenal dengan sebutan Ekonov.

Saya mengucapkan terima kasih atas resensinya ini. Sangat bermanfaat sekali buat calon pembaca buku ini. Tidak perlu berpanjang kalam, mari kita simak narasinya.

**

Aku bisa menulis. Aku percayai pernyataan itu. Aku tak bisa mengajari orang menulis. Dan aku lebih memercayai kalimat terakhir ini.

Kita bisa menulis, kata penulisnya sejak awal. Lalu dijadikannya judul buku: Kita Bisa Menulis.

Buku ini, sejatinya, aku minta dikirim ke Yogyakarta. Namun, aku tak kuasa menahan hasrat membacanya. Kemarin, buku itu sudah mendarat di Ambon. Semalaman, aku membaca (sebagian)-nya.

Aku memang tidak membaca bab 5, 6, dan bab 7. Bagian-bagian itu nanti saja. Seperti kata Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak Nufransa Wira Sakti,  “Sebagai pembaca, bila sudah pernah memiliki pengalaman menulis sebelumnya, kita juga bisa mengikuti tur tanpa harus memulainya dari awal.”

Tidak seru, kesanku soal isi buku itu. Maksudku, ada banyak sekali hal yang aku setujui. Pola pikir tumbuh, mewariskan peradaban, sumber ketakutan menulis, free writing, repetisi, banyak membaca, dan hal lainnya.

Tetapi, karena banyak kesamaan–setidaknya kemiripan–itu, buku ini terasa pas untuk aku miliki. Sebagai bekal kalau-kalau aku harus mengisi pelatihan penulisan. Meski seperti ditulis di buku ini, menjamurnya agenda pelatihan menulis itu bukan tanda bahwa akan banyak penulis (bagus dan hebat). Itu tanda bahwa dunia menulis memang tidak menjanjikan dan membuat para penulis harus menambah pekerjaannya menjadi pengisi di pelatihan-pelatihan semacam itu.

Kalau tidak menjanjikan, mengapa aku terus saja menulis? Riza seperti memerinci jawabanku kala ia membahas orientasi menulis di halaman lima buku ini. Memang tidak klir seperti itu, tetapi aku juga punya maksud untuk terus menulis.

Bab mana yang aku ‘jujug‘? Bab 2..! jawabku.

Mau belajar menulis? Baca buku ini! Sudah disebut-sebut bisa menulis? Baca buku ini! Mau bisa mengajari orang menulis? Baca buku ini. Dan buku lainnya. Mau menolak menulis? Mungkin perlu juga membaca buku ini..!

Penulis buku ini mengutip bahwa sampai saat ini belum ditemukan metode injeksi pemahaman ke dalam tubuh manusia selain dengan cara membaca. Makanya, membaca yuk karena membaca itu menulis. Dan menulis cuma menuliskan apa yang pernah dibaca.

Yuk ahh..!

Selamat, Pak Riza. Berkah. Insyaallah.

Ambon, 20 September 2022.

**
Terima kasih, Pak Ekonov.
Tak tepermanai.
Riza Almanfaluthi
21 September 2022
Untuk pemesanan buku silakan mengeklik tautan berikut https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

2 thoughts on “Review Buku Kita Bisa Menulis: Memang Tak Seperti Bernapas

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.