Janji Rasulullah kepada Pembaca Kalimat Pendek Ini



http://www.flickr.com

Neraka adalah tempat terburuk dan penuh rasa sakit. Diperuntukkan buat mereka yang hidup bergelimang dengan dosa di dunia. Penuh kobaran api yang panasnya sungguh dahsyat. Batu yang dilemparkan ke dalamnya baru akan mencapai dasarnya 70 tahun kemudian. Bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Serta minuman buat para penghuninya adalah air kental yang berbau busuk dan membakar.

Sebagai manusia yang beriman tentunya kita tidak akan pernah mau dijerumuskan ke dalam neraka karena dosa-dosa yang telah dilakukan. Rasulullah saw pun tidak pernah rela umatnya menjadi bahan bakar neraka. Oleh karenanya Rasulullah saw seringkali bicara dalam nada tarhib (peringatan) kepada para sahabat agar berhati-hati dengan amalan-amalan ahli neraka yang akan menjerumuskan mereka kepada siksa.

Selain itu Rasulullah saw banyak memberikan cara kepada umatnya agar terhindar dari lubang yang sangat dalam itu. Salah satunya dengan doa perlindungan seperti yang ada pada sebuah hadis hasan berikut ini.

Baca Lebih Lanjut.

FREELETICS WOCHE 3: Bukan Masalah Finisnya, Tetapi Berani Memulainya



The miracle isn’t that I finished.

The miracle is that I had the courage to start.”

John Bingham, No Need for Speed:

A Beginner’s Guide to the Joy of Running

Dan Anda mau tahu berapa berat badan saya sekarang di hari pertama minggu keempat? Jawabannya di akhir catatan ini.

Di tengah kegaduhan politik, di minggu ketiga Freeletics ini pas kebetulan saya dipanggil diklat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpajakan, Kemanggisan, Jakarta. Hanya 25% latihan yang ada di program minggu ini yang hanya bisa saya lakukan. Sebabnya? Kalau ditulis di sini akan banyak alasan. Padahal harusnya No Excuse yah.

Baca Lebih Lanjut.

Dua Bekal Buat Anda Para Aktivis Media Sosial



Pagi ini di saat salat duha, sebuah pesan masuk dalam aplikasi Whatsapp saya. Pesan dalam bentuk gambar seorang Imam Masjidilharam—Syaikh Sudais—yang di atas foto dirinya itu termaktub sebuah pesan kenabian. Ya, benar-benar pesan dari seorang nabi junjungan alam 1400 tahun silam.

Doa orang tua untuk anaknya bagaikan doa nabi terhadap umatnya (H.R. Adailami). Itu teks hadis nabi dalam gambar tersebut. Pesan yang datang pada saat yang tepat mewujud dalam sebuah amal: saya tergerak untuk mendoakan kembali anak-anak saya. Kalau saja ibu saya masih hidup saat itu, saya pun pasti akan menghubunginya untuk meminta doa mustajab.

Baca Lebih Lanjut.

Anda Kurang Percaya Diri? Baca yang Satu Ini


Percaya diri seperti singa jantan ini? Cool Man…

Bagi sebagian orang berbicara di depan umum serupa malapetaka. Padahal kegiatan memberikan presentasi , sebagai salah satu bentuk kegiatan berbicara di depan umum, adalah sebuah pekerjaan yang sering dijumpai dan mesti dilakukan di instansi kita. Entah dalam rangka pengarahan, pemarapan rencana kerja atau pelaporan apa yang telah kita lakukan.

Sebab yang menjadikan presentasi sebagai sebuah mimpi buruk hanya ada dua yaitu kurangnya persiapan, selebihnya hanya masalah kepercayaan diri. Yang terakhir ini berkaitan dengan cara berpikir. Kali ini akan disampaikan kiat-kiat membangun rasa percaya diri agar bisa memberikan performa yang terbaik. Kiat-kiat ini—dengan sedikit penyesuaian dari Penulis—diambil dari buku Memukau Audiensi dengan Pengaruh dan Kharisma yang ditulis oleh Steve Cohen dan sudah terbukti efektif terutama bagi penulis. Berikut kiatnya.

Baca Lebih Lanjut.

RENUNGAN BUAT PARA JOMBLO, MENGAPA RASULULLAH HANYA MENIKAHI SATU ORANG PERAWAN?


 

RENUNGAN BUAT PARA JOMBLO, MENGAPA RASULULLAH HANYA MENIKAHI SATU ORANG PERAWAN?


(Gambar dari islamic-literatures.com)

 

Rasulullah Muhammad Saw beristri lebih dari empat. Tepatnya dua belas orang. Mereka itu adalah Khadijah binti Khuailid, Saudah Al-A’miriyah, A’isyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khattab, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juairiyah binti Harist, Shafiyyah binti Hay, Ummu Habibah, Maimunah binti Harist, dan Mariya Al-Qibthiyyah.

Dari dua belas istri Rasulullah Saw tersebut hanya satu orang yang dinikahi dalam keadaan perawan oleh beliau, yaitu Aisyah Ra. Selebihnya janda. Lalu jika timbul pertanyaan: “Bagaimana Rasulullah Saw bisa menganjurkan untuk menikah dengan gadis, sedangkan beliau sendiri lebih banyak menikah dengan para janda?

Baca Lebih Lanjut

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

KOMPASIANA HANYA KOLAM KECIL


Kompasiana Hanya Kolam Kecil

 


Ini mah bukan kolam tapi telaga. 😀 (Gambar diambil dari sini)

 

Saya mau bercerita sedikit. Mau memberikan pilihan kepada Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saya mengilustrasikannya seperti ini. Ada anak cerdas di Amerika Serikat. Ia mencintai pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan ilmu pasti lainnya. Cita-citanya menjadi seorang ahli sains. Selepas SMA ia memilih kuliah di kampus yang ternama dan bonafide untuk menggapai cita-citanya. Di sebuah universitas tempat anak-anak cerdas berkumpul.

Untuk dapat belajar di kampus itu ia harus melalui ujian SAT. Ujian yang digunakan di banyak sekolah tinggi Amerika Serikat sebagai tes masuknya. Mungkin kalau di Indonesia adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)-nya. Di universitas terkenal itu ia memilih jurusan sains tentunya. Ia lulus dan dapat belajar di sana.

Tapi apa yang terjadi? Di tengah perkuliahan ia gagal dan memilih keluar serta berpindah jurusan ke ilmu sosial. Padahal ia sudah menyadari kenyataan untuk tidak menjadi nomor satu di antara orang-orang cerdas itu. Bahkan ia sangat sadar ketika menjadi mahasiswa biasa-biasa saja bahkan paling bawah sekali pun. Ia tak berharap untuk menyaingi mereka. Targetnya adalah mampu bertahan kuliah.

Namun ia tetap bekerja keras untuk dapat menyamai kecerdasan dan mengikuti irama kepandaian dari mahasiswa cerdas di kelasnya itu. Tapi ia selalu mendapatkan nilai B minus seberapa pun kerasnya usaha belajarnya itu. Nilai-nilai yang tak pernah ia dapatkan di SMA-nya dulu. Katanya, teman-temannya itu sampai pada suatu titik egoisme untuk tidak mau berbagi ilmu karena ketat nya kompetensi. Dosennya sampai bilang juga kepadanya untuk tak perlu ikut mata kuliah ini. Ia menyerah. Ia gagal.

Kalau saja ia memilih universitas yang pertengahan, maka ia akan bisa mengikuti irama kuliah dan menjadi terbaik di kelasnya. Ia pun akan tetap pada jalurnya untuk menjadi ahli sains. Ia tidak bodoh. Ia cerdas. Tapi ia salah dalam memilih. Ia tidak membandingkan dirinya dengan mahasiswa di luar kampusnya. Ia hanya menjadikan teman-teman kampusnya sebagai benchmark. Itu membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.

Universitas ternama itu adalah kolam besar dan anak cerdas itu ikan kecilnya. Sedangkan jika ia memilih universitas biasa saja atau universitas pertengahan ia sesungguhnya adalah ikan besar dan universitas biasa itu adalah kolam kecilnya. Ayah dan Bunda ingin menjadikan anak Ayah dan Bunda ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

Karena berdasarkan penelitian, tak ada signifikansi pengaruh almamater terhadap perolehan pendapatan setelah lulus kuliah. Berdasarkan penelitian pula ada perbandingan seperti ini dengan contoh sederhana. Ada 100 anak tercerdas yang nilai SAT-nya tinggi kuliah di jurusan sains Harvard . Seratus anak yang SAT-nya rendah di bawah daripada mereka yang kuliah di Harvard, kuliah di jurusan sains universitas biasa saja. Dua universitas ini mempunyai metode dan sistem pengajaran yang sama. Ternyata masing-masing dari universitas itu hanya bisa meluluskan 50% saja mahasiswa mereka.

Ini aneh. Seharusnya mereka yang nilai SAT-nya tinggi dan bisa kuliah di Harvard tentu lulus semua. Atau dengan kata lain mahasiswa yang SAT-nya rendah daripada mahasiswa Harvard dan hanya bisa kuliah di universitas biasa saja itu yang tak akan mampu lulus kuliah jurusan sains. Tapi kok malah ada mahasiswa Harvard yang tidak lulus kuliah.

Ini artinya adalah banyak sekali yang mau jadi ikan kecil di kolam besar dengan risiko ia tidak bisa menjadi apa yang diidamkannya, dan tidak memilih menjadi ikan besar di kolam kecil hanya karena gengsi dan kehormatan.

Anak yang saya ceritakan di atas sampai bilang: “Kalau saja saya kuliah di universitas biasa saja itu, saya bakal masih di bidang yang saya cintai dan menjadi ahli sains.” Yang lain bilang: “Lucu sekali banyak mahasiswa matematika dan fisika yang pada akhirnya drop out dan masuk kuliah hukum, setelah lulus menjadi pengacara atau konsultan pajak.”

Saya paham, perusahaan di di Amerika Serikat memilih orang-orang yang terbaik berdasarkan apa yang dihasilkannya bukan semata dari almamater mana ia lulus. Tapi untuk diterapkan di Indonesia mungkin masih cukup sulit karena masih memandang dari mana Anda kuliah. Ini untuk urusan dunia pendidikan. Tapi untuk dunia lainnya bisa jadi bisa.

 

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah penceritaan kembali secara sederhana dalam bahasa dan sedikit imajinasi saya dari apa yang ada dalam salah satu bab buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath. Sebuah buku yang memberikan cara pandang baru dalam memahami fenomena sosial. Bagaimana memandang kelemahan sebagai sebuah keunggulan. Semua orang—dalam medan pertempuran itu—memandang remeh kepada David karena ia melawan raksasa kuat bernama Goliath. Tapi sejarah mencatatnya bahwa apa yang dianggap sebagai kekuatan itu rontok tak berdaya di hadapan sosok “penuh” kelemahan. Dari empat buku yang ditulis sebelumnya saya lebih menikmati buku terbarunya ini. Buku ini anti mainstream.

 

Dalam dunia tulis menulis Anda bisa menjadi ikan besar di kolam kecil untuk menjadi orang yang dikenal sebagai penulis hebat. Misalnya dengan konsisten menulis dan mengirimkan tulisan ke media di bawah Kompas. Atau membuat sebuah media sendiri tempat buat para penulis berkreasi tanpa ada seleksi, juri, dan keterbatasan lainnya. Tanpa mengesampingkan kualitas tentunya. Tak perlu berkecil hati. Kompasiana, saat ini, bisa menjadi kolam kecilnya. Dan banyak kompasianer yang telah menjadi ikan besarnya di sana.

Seperti Monet, Degas, Cezanne, Renoir, dan Pisarro yang tidak akan pernah dikenal dunia jika mereka hanya menjadi ikan kecil di kolam besar dengan hanya bertahan bagaimana bisa memasukkan karya mereka di galeri “Salon” yang benar-benar ketat dalam seleksi dan tempatnya sangat terbatas.

Tapi akhirnya mereka membentuk komunitas tersendiri untuk mengenalkan lukisan impresionisme dan mereka menjadi ikan besar di kolam kecil. Pada akhirnya mereka dikenal dunia. Lukisan mereka banyak dicari orang. Saya memilih menjadi ikan besar di kolam kecil. Anda?

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana: http://media.kompasiana.com/buku/2014/05/09/kompasiana-hanya-kolam-kecil-652009.html

 


 

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA


Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.coSuami dengan kesabaran setara tabi’in, orang zuhud, dan shiddiqin pada zaman sekarang ini ternyata ada dan ditunjukkan kepada saya langsung malam itu setelah tulisan yang berjudul “Istri Belum Hamil-Hamil, Suami Mau Nikah Lagi” dimuat di Islamedia pagi harinya. Salah seorang ibu yang bernama Ibu Shanti memberikan sebuah persaksian di komentar blog saya. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman yang menyangsikan di dunia ada laki-laki semacam itu. Berikut kisah lengkapnya:

Hampir dua belas tahun usia pernikahan dan kami masih berdua saja. Belum juga dikaruniai anak. Semua terapi sudah kami jalani dari mulai medis hingga alternatif. Dokter yang menangani kami adalah seorang dokter spesialis kandungan yang saleh dan tidak mengeruk keuntungan pribadi. 

Ketika semua tahapan terapi telah selesai dijalani, sang dokter berkata : “Ibu dan Bapak tidak ada masalah sedikit pun, ikhtiar sudah dijalankan, sekarang saya sarankan kepada Ibu dan Bapak untuk memperbanyak sedekah, doa, dan istighfar. Posisi anak dan harta itu sejajar dalam Alquran, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Mohonlah kepada Allah untuk segera diberi keturunan. Sehebat apa pun ilmu kedokteran dan obat yang saya berikan, semua tidak akan berguna tanpa bantuan dari Allah.” 

Kami hanya tersenyum dalam tangis haru. Subhanallah, kami dipertemukan dengan dokter yang baik ini padahal pasien beliau lebih dari empat puluh orang sehari. 

Saya pernah mengalami masa-masa stres yang panjang, sampai-sampai saya enggan berkunjung kepada teman atau tetangga yang melahirkan karena ada perasaan kecewa, sedih, cemburu, dan marah. “Kapan giliran saya ya Rabb?!” 

Di saat saya menangis, suami selalu mengingatkan saya untuk bersabar. Ketika saya betul-betul merasa sedih saya membaca Alquran tanpa memilih surat maupun ayatnya. Subhanallah, Allah menegur saya melalui Alquran yang saya baca sambil meneteskan air mata ini. Yakni pada ayat “jadikanlah salat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. 

Saya tidak mampu membaca ayat tersebut dalam satu helaan nafas. Tenggorokan saya tercekat dan sakit mengingat apa yang sudah saya pikirkan terhadap Allah. Betapa Allah sayang kepada saya, betapa Allah ingin menunjukkan seberapa sabar saya. Malam itu saya berusaha tawakal menerima apa pun keputusan Allah dan semoga bisa menerimanya dengan ikhlas. 

Dan malam itu juga saya bertanya kepada suami, ”Kenapa Ayah tidak pernah mempertanyakan kapan Bunda hamil?” Sambil tersenyum dan mengusap kepala saya dengan lembut, ia berkata: ”Karena Ayah tidak mau menyakiti perasaan Bunda dengan pertanyaan tersebut. Kita serahkan semuanya kepada Allah ya, Nda! Sementara itu, kita dekatkan diri kita kepada Allah.” 

Peristiwa itu terjadi tahun 2009, di usia pernikahan kami yang ketujuh. Sekarang, hampir dua belas tahun usia pernikahan kami. Dan dia tetap mencintai saya seperti awal mula kami menikah, tetap tidak pernah mempertanyakan kapan kami akan memiliki keturunan. Komitmen awal kami menikah adalah ingin menyempurnakan setengah din yang sudah kami miliki. Semoga kami tetap istikamah dalam berikhtiar, bersedekah, beristighfar, dan saling menerima kekurangan masing-masing.

Membaca kisah Ibu Shanti dan suaminya membuat saya kembali teringat beberapa perkataan Rasulullah saw yang pernah dicatat dalam kitab Attirmidzi bahwa sebaik-baik ibadah adalah menunggu dengan sabar datangnya hasil yang membahagiakan. Atau dalam hadis sahih lainnya, “Ketahuilah bahwa kemenangan datang setelah kesabaran dan kemudahan datang setelah kesulitan.” 

Saya tidak membayangkan kemenangan dan kebahagiaan seperti apa yang didapat oleh Ibu Shanti dan suaminya jika dalam waktu dekat ini Allah segera karuniakan kepada mereka buah hati yang didamba. Sudah barang tentu ini adalah buah dari pohon ikhtiar dengan pupuk tawakal dan kesabaran itu. Insya Allah. 

Namun apa pun itu, ada ataupun tidak ada anak adalah sebuah takdir. Sebuah ketetapan Allah. Kata Rasulullah saw lagi: “Segala sesuatu yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya adalah lebih baik baginya.” 

Semoga kita bisa menerima apa yang Allah tetapkan buat kita. Dan percayalah bahwa laki-laki sabar setara tabi’in itu ada, saat ini. Saya yakin pula, tidak hanya suami Ibu Shanti, melainkan Anda. Semoga. ***


Riza Almanfaluthi

Sumber: http://www.islamedia.co/2014/05/suami-penyabar-setara-tabiin-itu-ada.html

 

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI


ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.co Suaminya ingin menikah lagi. Gara-gara dirinya tidak bisa memberikan anak dalam pernikahan. Perempuan ini hanya bisa mengelus dada, menangis, bersabar, dan berdoa tiada henti. Ketidakmampuan memberikan anak tentu bukan sesuatu yang dikehendaki. Semua jalan sudah ditempuh dari mulai periksa ke dokter sampai pengobatan alternatif.

Suaminya tak sabar bahkan berhubungan intens dengan seorang janda. Diingatkan pelan-pelan bahkan dengan cara yang lebih tegas, dirinya malah dimarahi balik oleh sang suami. Ia menyimpulkan kalau-kalau sang suami sudah kena sihir dari janda itu. Apalagi yang harus dilakukan agar ia tetap menjadi istri yang baik buat suaminya?

Pertanyaan itu masuk di komentar tulisan lama saya di blog. Judul tulisannya “Kisah Nyata: Lakukan Ini Jika Ingin Punya Anak”. Sebuah cerita tentang sahabat saya yang punya anak setelah melakukan dua hal yang disarankan di sana. Banyak komentar yang masuk. Sebagian besar berisikan permintaan doa agar bisa memiliki keturunan. Sebisa mungkin saya membalasnya walau terkadang hanya menuliskan kata amin. Tapi yakinlah ini setulus-tulusnya doa dan bukan basa-basi hanya sekadar membalas komentar.

Pertanyaan dari perempuan yang tidak saya kenal ini membuat saya berpikir. Bahkan menarik saya ke dalam situasi seandainya saya menjadi perempuan itu. Apa yang bisa dilakukan? Ini empati. Menjawabnya mungkin saya hanya bisa meminta kepadanya untuk bersabar. Sebuah nasihat biasa tapi kata Rasulullah saw tanda keimanan seorang hamba adalah kesabarannya. Sudah banyak nasihat tentang sabar yang diucapkan dan ditulis oleh para ulama. Kiranya saya tak perlu mengulanginya kembali.

Mungkin juga saya akan tetap meminta kepada perempuan ini untuk tetap ikhtiar dan doa terus menerus karena Allah senang melihat hamba-Nya memohon-mohon dan memelas dengan penuh pengharapan. Di titik tertinggi dari kelemahan, ketidakberdayaan, dan kepasrahan itu biasanya Allah turunkan pertolongan yang tidaklah terduga. Menguatkan dan membahagiakan. Itu saja. Sembari saya juga berdoa agar Allah memberikan kemudahan dan jalan keluar atas setiap permasalahan perempuan ini. Yakinlah Allah akan ganti dengan kebaikan lain yang berlipat ganda.

Karenanya saya memberikan respek tidak terhingga kepada para suami yang mampu memberikan sikap dan cinta terbaiknya buat sang istri. Ketika ia sadar istrinya tidak mampu memberikan keturunan ia tetaplah sabar. Walaupun ia juga berhak mendapatkan anak sebagai penerusnya dari perempuan lain. Tapi ia tepis kesempatan itu agar tidak menyakiti perasaan istrinya. Bahkan ia mampu menjaga lisan dan amarahnya. Ia tahu sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini bisa jadi memiliki kesabaran setingkat para tabi’in (generasi setelah sahabat Rasulullah saw) ketika ia mampu sabar dengan tidak mengeluhkan kepada siapa pun tentang keadaan dirinya yang belum memiliki anak atau istrinya yang belum atau tidak hamil-hamil juga.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini juga bisa memiliki kesabaran setingkat orang-orang yang zuhud ketika ia menyadari bahwa ketidakmampuan istrinya mempunyai anak ini adalah ketetapan Allah. Dalam benaknya anak sekadar amanah dan urusan duniawi. Orang zuhud tidak mempedulikan masalah duniawi. Balasan buat orang-orang yang zuhud adalah cintanya Allah dan Allah akan ringankan dirinya atas segala musibah.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini bisa memiliki kesabaran setingkat para shiddiqin (orang-orang yang benar imannya) ketika ia menerima keadaannya dengan senang hati karena menganggap semua itu dari Allah belaka. Tempat bagi para shiddiqin iniadalah bersama para nabi, syuhada, dan shalihin.

Kalaulah saya menemukan orang itu, saat ini izinkan saya mencium tangannya sebagai tanda hormat. Saya harus belajar banyak kepadanya. Kepada perempuan yang bertanya,

***

Riza Almanfaluthi

02 Mei 2014

 

Sumber dari:

http://www.islamedia.co/2014/05/istri-belum-hamil-hamil-suami-mau-nikah.html#.U2McdGDafWg.facebook

SELALU ADA JALAN ANDA BISA KAYA, KAYA YANG BAHAGIA


SELALU ADA JALAN ANDA BISA KAYA, KAYA YANG BAHAGIA

 


 

Sebentar lagi, di bulan Mei ini, kita akan mendapat rezeki yang banyak Insya Allah. Tapi sejatinya, setiap hari kita pun mendapatkan rezeki. Rezeki yang telah ditentukan Allah. Dari rezeki itu sebagiannya dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan jasad kita. Sebagiannya ditabung untuk persiapan masa depan. Sebagiannya lagi dibelanjakan untuk membeli perhiasan dunia. Kita senang dengan perhiasan. Itu manusiawi. Sejak zaman purba pun manusia senang dengan perhiasan. Saat ini di dunia yang serba materialistis perhiasan itu menjelma sedemikian rupa: harta tak bergerak, gadget, emas berlian, logam mulia, mobil, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan perhiasan itu manusia menjadi senang walau tidak mesti berakhir bahagia.

Dalam benak kita perhiasan itu terkungkung pada nilai kebendaan. Hanya bisa diraih dan dimiliki oleh orang-orang yang berpunya. Padahal tidak. Perhiasan bisa dimiliki oleh siapa saja manusia di muka bumi ini. Sekali pun miskin total. Tapi perhiasan itu tidak berwujud “benda yang bisa dinilai dengan uang” sebagaimana kita ketahui selama ini. Namun demikian sudah dipastikan akan berujung pada bahagia. Tak hanya di dunia melainkan di akhirat pula. Karena seorang yang beriman adalah visioner maka apa yang dilakukannya di dunia adalah untuk tujuan akhiratnya.

Bukankah anak-anak adalah perhiasan dunia sebagaimana Allah telah sebutkan dalam kitabNya? Anak-anak yang membuat hidup kita semakin hidup dengan segala pernak-pernik kewajiban mendidik mereka. Walau di lain ayatnya Allah menyebutkan pula bahwa anak-anak akan menjadi cobaan dalam kehidupan. Yang akan membuat lalai dalam ketaatan kepada Allah. Tapi marilah untuk senantiasa optimis, bahwa kita bisa menjadikan anak-anak kita anak-anak terbaik dalam zamannya. Generasi yang akan membawa umat ini kepada kejayaannya. Tapi wahai Kakanda, bagaimana dengan kami yang tidak punya anak ini?

Semoga Allah menakdirkan Adinda untuk mempunyai anak yang disebut Ibnu ‘Abbas ra sebagai keturunan yang selalu mengerjakan ketaatan, sehingga dengan ketaatannya sang anak mampu membahagiakan Adinda sebagai orang tuanya di dunia dan akhirat. Tapi jikalau Allah belum menakdirkan anak pada Adinda, aih, bukankah istri Adinda atau Adinda sendiri adalah wanita saleh? Bukankah dengan demikian itu adalah sebaik-baik perhiasan di dunia? Berbahagialah.

Wahai Kakanda, lalu bagaimana dengan kami yang sampai saat ini belum Allah takdirkan untuk mempunyai pasangan? Kakanda cuma bisa menjawab menikahlah segera. Ikhtiar dan berdoalah. Jangan pula Adinda khawatir tidak mempunyai perhiasan yang membuatmu bahagia.

Suatu ketika Abdullah bin Abu Quhafah, yang biasa dikenal dengan nama Abu Bakar Ashshidiq ra pernah berkata: “Ada delapan perkara yang merupakan perhiasan bagi delapan perkara yang lain, yaitu:

  1. memelihara diri dari meminta-meminta merupakan perhiasan bagi kefakiran;
  2. bersyukur kepada Allah merupakan perhiasan bagi nikmat;
  3. sabar adalah perhiasan bagi musibah;
  4. tawadhu’ adalah perhiasan bagi (kemuliaan) nasab;
  5. santun adalah perhiasan bagi ilmu;
  6. rendah hati adalah perhiasan bagi seorang pelajar;
  7. tidak menyebut-nyebut pemberian merupakan perhiasan bagi kebaikan;
  8. khusu’ adalah perhiasan bagi shalat.”

     

Semuanya adalah perhiasan. Perhiasan yang membahagiakan. Bukankah semuanya itu adalah akhlak Baginda Nabi Muhammad saw? Para sahabat menemukan oase kebahagiaan dengan mengikuti Baginda, pemimpin mereka, pemimpin umat, pemimpin kita. Itulah perhiasan tak ternilai yang membuat kita kaya dan membahagiakan. Kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa. Kita, Kakanda dan Adinda, bisa mendapatkannya. Sekarang ini. Tanpa menunggu bulan Mei.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Situs Masjid Shalahuddin

27 April 2014

 

Catatan:

  1. Harta dan anak-anak adalah perhiasan bisa dilihat pada AlKahfi ayat 46;
  2. Harta dan anak-anak adalah cobaan bisa dilihat di At Taghabun ayat 15;
  3. Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah”(HR. Muslim: 3649,Nasai,Ibnu Majah)
  4. Perkataan Abu Bakar Ashshidiq ra bisa dilihat dalam buku Nashoihul Ibad: Nasihat-nasihat untuk Para Hamba;
  5. Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). HR. Abu Yu’la.

 

Gambar diambil dari