INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

KOMPASIANA HANYA KOLAM KECIL


Kompasiana Hanya Kolam Kecil

 


Ini mah bukan kolam tapi telaga. 😀 (Gambar diambil dari sini)

 

Saya mau bercerita sedikit. Mau memberikan pilihan kepada Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saya mengilustrasikannya seperti ini. Ada anak cerdas di Amerika Serikat. Ia mencintai pelajaran matematika, kimia, fisika, biologi, dan ilmu pasti lainnya. Cita-citanya menjadi seorang ahli sains. Selepas SMA ia memilih kuliah di kampus yang ternama dan bonafide untuk menggapai cita-citanya. Di sebuah universitas tempat anak-anak cerdas berkumpul.

Untuk dapat belajar di kampus itu ia harus melalui ujian SAT. Ujian yang digunakan di banyak sekolah tinggi Amerika Serikat sebagai tes masuknya. Mungkin kalau di Indonesia adalah SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)-nya. Di universitas terkenal itu ia memilih jurusan sains tentunya. Ia lulus dan dapat belajar di sana.

Tapi apa yang terjadi? Di tengah perkuliahan ia gagal dan memilih keluar serta berpindah jurusan ke ilmu sosial. Padahal ia sudah menyadari kenyataan untuk tidak menjadi nomor satu di antara orang-orang cerdas itu. Bahkan ia sangat sadar ketika menjadi mahasiswa biasa-biasa saja bahkan paling bawah sekali pun. Ia tak berharap untuk menyaingi mereka. Targetnya adalah mampu bertahan kuliah.

Namun ia tetap bekerja keras untuk dapat menyamai kecerdasan dan mengikuti irama kepandaian dari mahasiswa cerdas di kelasnya itu. Tapi ia selalu mendapatkan nilai B minus seberapa pun kerasnya usaha belajarnya itu. Nilai-nilai yang tak pernah ia dapatkan di SMA-nya dulu. Katanya, teman-temannya itu sampai pada suatu titik egoisme untuk tidak mau berbagi ilmu karena ketat nya kompetensi. Dosennya sampai bilang juga kepadanya untuk tak perlu ikut mata kuliah ini. Ia menyerah. Ia gagal.

Kalau saja ia memilih universitas yang pertengahan, maka ia akan bisa mengikuti irama kuliah dan menjadi terbaik di kelasnya. Ia pun akan tetap pada jalurnya untuk menjadi ahli sains. Ia tidak bodoh. Ia cerdas. Tapi ia salah dalam memilih. Ia tidak membandingkan dirinya dengan mahasiswa di luar kampusnya. Ia hanya menjadikan teman-teman kampusnya sebagai benchmark. Itu membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.

Universitas ternama itu adalah kolam besar dan anak cerdas itu ikan kecilnya. Sedangkan jika ia memilih universitas biasa saja atau universitas pertengahan ia sesungguhnya adalah ikan besar dan universitas biasa itu adalah kolam kecilnya. Ayah dan Bunda ingin menjadikan anak Ayah dan Bunda ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar?

Karena berdasarkan penelitian, tak ada signifikansi pengaruh almamater terhadap perolehan pendapatan setelah lulus kuliah. Berdasarkan penelitian pula ada perbandingan seperti ini dengan contoh sederhana. Ada 100 anak tercerdas yang nilai SAT-nya tinggi kuliah di jurusan sains Harvard . Seratus anak yang SAT-nya rendah di bawah daripada mereka yang kuliah di Harvard, kuliah di jurusan sains universitas biasa saja. Dua universitas ini mempunyai metode dan sistem pengajaran yang sama. Ternyata masing-masing dari universitas itu hanya bisa meluluskan 50% saja mahasiswa mereka.

Ini aneh. Seharusnya mereka yang nilai SAT-nya tinggi dan bisa kuliah di Harvard tentu lulus semua. Atau dengan kata lain mahasiswa yang SAT-nya rendah daripada mahasiswa Harvard dan hanya bisa kuliah di universitas biasa saja itu yang tak akan mampu lulus kuliah jurusan sains. Tapi kok malah ada mahasiswa Harvard yang tidak lulus kuliah.

Ini artinya adalah banyak sekali yang mau jadi ikan kecil di kolam besar dengan risiko ia tidak bisa menjadi apa yang diidamkannya, dan tidak memilih menjadi ikan besar di kolam kecil hanya karena gengsi dan kehormatan.

Anak yang saya ceritakan di atas sampai bilang: “Kalau saja saya kuliah di universitas biasa saja itu, saya bakal masih di bidang yang saya cintai dan menjadi ahli sains.” Yang lain bilang: “Lucu sekali banyak mahasiswa matematika dan fisika yang pada akhirnya drop out dan masuk kuliah hukum, setelah lulus menjadi pengacara atau konsultan pajak.”

Saya paham, perusahaan di di Amerika Serikat memilih orang-orang yang terbaik berdasarkan apa yang dihasilkannya bukan semata dari almamater mana ia lulus. Tapi untuk diterapkan di Indonesia mungkin masih cukup sulit karena masih memandang dari mana Anda kuliah. Ini untuk urusan dunia pendidikan. Tapi untuk dunia lainnya bisa jadi bisa.

 

Apa yang saya ceritakan di atas adalah sebuah penceritaan kembali secara sederhana dalam bahasa dan sedikit imajinasi saya dari apa yang ada dalam salah satu bab buku Malcolm Gladwell yang berjudul David & Goliath. Sebuah buku yang memberikan cara pandang baru dalam memahami fenomena sosial. Bagaimana memandang kelemahan sebagai sebuah keunggulan. Semua orang—dalam medan pertempuran itu—memandang remeh kepada David karena ia melawan raksasa kuat bernama Goliath. Tapi sejarah mencatatnya bahwa apa yang dianggap sebagai kekuatan itu rontok tak berdaya di hadapan sosok “penuh” kelemahan. Dari empat buku yang ditulis sebelumnya saya lebih menikmati buku terbarunya ini. Buku ini anti mainstream.

 

Dalam dunia tulis menulis Anda bisa menjadi ikan besar di kolam kecil untuk menjadi orang yang dikenal sebagai penulis hebat. Misalnya dengan konsisten menulis dan mengirimkan tulisan ke media di bawah Kompas. Atau membuat sebuah media sendiri tempat buat para penulis berkreasi tanpa ada seleksi, juri, dan keterbatasan lainnya. Tanpa mengesampingkan kualitas tentunya. Tak perlu berkecil hati. Kompasiana, saat ini, bisa menjadi kolam kecilnya. Dan banyak kompasianer yang telah menjadi ikan besarnya di sana.

Seperti Monet, Degas, Cezanne, Renoir, dan Pisarro yang tidak akan pernah dikenal dunia jika mereka hanya menjadi ikan kecil di kolam besar dengan hanya bertahan bagaimana bisa memasukkan karya mereka di galeri “Salon” yang benar-benar ketat dalam seleksi dan tempatnya sangat terbatas.

Tapi akhirnya mereka membentuk komunitas tersendiri untuk mengenalkan lukisan impresionisme dan mereka menjadi ikan besar di kolam kecil. Pada akhirnya mereka dikenal dunia. Lukisan mereka banyak dicari orang. Saya memilih menjadi ikan besar di kolam kecil. Anda?

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 Mei 2014

Dimuat pertama kali di Kompasiana: http://media.kompasiana.com/buku/2014/05/09/kompasiana-hanya-kolam-kecil-652009.html

 


 

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA


Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.coSuami dengan kesabaran setara tabi’in, orang zuhud, dan shiddiqin pada zaman sekarang ini ternyata ada dan ditunjukkan kepada saya langsung malam itu setelah tulisan yang berjudul “Istri Belum Hamil-Hamil, Suami Mau Nikah Lagi” dimuat di Islamedia pagi harinya. Salah seorang ibu yang bernama Ibu Shanti memberikan sebuah persaksian di komentar blog saya. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman yang menyangsikan di dunia ada laki-laki semacam itu. Berikut kisah lengkapnya:

Hampir dua belas tahun usia pernikahan dan kami masih berdua saja. Belum juga dikaruniai anak. Semua terapi sudah kami jalani dari mulai medis hingga alternatif. Dokter yang menangani kami adalah seorang dokter spesialis kandungan yang saleh dan tidak mengeruk keuntungan pribadi. 

Ketika semua tahapan terapi telah selesai dijalani, sang dokter berkata : “Ibu dan Bapak tidak ada masalah sedikit pun, ikhtiar sudah dijalankan, sekarang saya sarankan kepada Ibu dan Bapak untuk memperbanyak sedekah, doa, dan istighfar. Posisi anak dan harta itu sejajar dalam Alquran, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Mohonlah kepada Allah untuk segera diberi keturunan. Sehebat apa pun ilmu kedokteran dan obat yang saya berikan, semua tidak akan berguna tanpa bantuan dari Allah.” 

Kami hanya tersenyum dalam tangis haru. Subhanallah, kami dipertemukan dengan dokter yang baik ini padahal pasien beliau lebih dari empat puluh orang sehari. 

Saya pernah mengalami masa-masa stres yang panjang, sampai-sampai saya enggan berkunjung kepada teman atau tetangga yang melahirkan karena ada perasaan kecewa, sedih, cemburu, dan marah. “Kapan giliran saya ya Rabb?!” 

Di saat saya menangis, suami selalu mengingatkan saya untuk bersabar. Ketika saya betul-betul merasa sedih saya membaca Alquran tanpa memilih surat maupun ayatnya. Subhanallah, Allah menegur saya melalui Alquran yang saya baca sambil meneteskan air mata ini. Yakni pada ayat “jadikanlah salat dan sabar sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. 

Saya tidak mampu membaca ayat tersebut dalam satu helaan nafas. Tenggorokan saya tercekat dan sakit mengingat apa yang sudah saya pikirkan terhadap Allah. Betapa Allah sayang kepada saya, betapa Allah ingin menunjukkan seberapa sabar saya. Malam itu saya berusaha tawakal menerima apa pun keputusan Allah dan semoga bisa menerimanya dengan ikhlas. 

Dan malam itu juga saya bertanya kepada suami, ”Kenapa Ayah tidak pernah mempertanyakan kapan Bunda hamil?” Sambil tersenyum dan mengusap kepala saya dengan lembut, ia berkata: ”Karena Ayah tidak mau menyakiti perasaan Bunda dengan pertanyaan tersebut. Kita serahkan semuanya kepada Allah ya, Nda! Sementara itu, kita dekatkan diri kita kepada Allah.” 

Peristiwa itu terjadi tahun 2009, di usia pernikahan kami yang ketujuh. Sekarang, hampir dua belas tahun usia pernikahan kami. Dan dia tetap mencintai saya seperti awal mula kami menikah, tetap tidak pernah mempertanyakan kapan kami akan memiliki keturunan. Komitmen awal kami menikah adalah ingin menyempurnakan setengah din yang sudah kami miliki. Semoga kami tetap istikamah dalam berikhtiar, bersedekah, beristighfar, dan saling menerima kekurangan masing-masing.

Membaca kisah Ibu Shanti dan suaminya membuat saya kembali teringat beberapa perkataan Rasulullah saw yang pernah dicatat dalam kitab Attirmidzi bahwa sebaik-baik ibadah adalah menunggu dengan sabar datangnya hasil yang membahagiakan. Atau dalam hadis sahih lainnya, “Ketahuilah bahwa kemenangan datang setelah kesabaran dan kemudahan datang setelah kesulitan.” 

Saya tidak membayangkan kemenangan dan kebahagiaan seperti apa yang didapat oleh Ibu Shanti dan suaminya jika dalam waktu dekat ini Allah segera karuniakan kepada mereka buah hati yang didamba. Sudah barang tentu ini adalah buah dari pohon ikhtiar dengan pupuk tawakal dan kesabaran itu. Insya Allah. 

Namun apa pun itu, ada ataupun tidak ada anak adalah sebuah takdir. Sebuah ketetapan Allah. Kata Rasulullah saw lagi: “Segala sesuatu yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya adalah lebih baik baginya.” 

Semoga kita bisa menerima apa yang Allah tetapkan buat kita. Dan percayalah bahwa laki-laki sabar setara tabi’in itu ada, saat ini. Saya yakin pula, tidak hanya suami Ibu Shanti, melainkan Anda. Semoga. ***


Riza Almanfaluthi

Sumber: http://www.islamedia.co/2014/05/suami-penyabar-setara-tabiin-itu-ada.html

 

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI


ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

Gambar diambil dari Islamedia.

Islamedia.co Suaminya ingin menikah lagi. Gara-gara dirinya tidak bisa memberikan anak dalam pernikahan. Perempuan ini hanya bisa mengelus dada, menangis, bersabar, dan berdoa tiada henti. Ketidakmampuan memberikan anak tentu bukan sesuatu yang dikehendaki. Semua jalan sudah ditempuh dari mulai periksa ke dokter sampai pengobatan alternatif.

Suaminya tak sabar bahkan berhubungan intens dengan seorang janda. Diingatkan pelan-pelan bahkan dengan cara yang lebih tegas, dirinya malah dimarahi balik oleh sang suami. Ia menyimpulkan kalau-kalau sang suami sudah kena sihir dari janda itu. Apalagi yang harus dilakukan agar ia tetap menjadi istri yang baik buat suaminya?

Pertanyaan itu masuk di komentar tulisan lama saya di blog. Judul tulisannya “Kisah Nyata: Lakukan Ini Jika Ingin Punya Anak”. Sebuah cerita tentang sahabat saya yang punya anak setelah melakukan dua hal yang disarankan di sana. Banyak komentar yang masuk. Sebagian besar berisikan permintaan doa agar bisa memiliki keturunan. Sebisa mungkin saya membalasnya walau terkadang hanya menuliskan kata amin. Tapi yakinlah ini setulus-tulusnya doa dan bukan basa-basi hanya sekadar membalas komentar.

Pertanyaan dari perempuan yang tidak saya kenal ini membuat saya berpikir. Bahkan menarik saya ke dalam situasi seandainya saya menjadi perempuan itu. Apa yang bisa dilakukan? Ini empati. Menjawabnya mungkin saya hanya bisa meminta kepadanya untuk bersabar. Sebuah nasihat biasa tapi kata Rasulullah saw tanda keimanan seorang hamba adalah kesabarannya. Sudah banyak nasihat tentang sabar yang diucapkan dan ditulis oleh para ulama. Kiranya saya tak perlu mengulanginya kembali.

Mungkin juga saya akan tetap meminta kepada perempuan ini untuk tetap ikhtiar dan doa terus menerus karena Allah senang melihat hamba-Nya memohon-mohon dan memelas dengan penuh pengharapan. Di titik tertinggi dari kelemahan, ketidakberdayaan, dan kepasrahan itu biasanya Allah turunkan pertolongan yang tidaklah terduga. Menguatkan dan membahagiakan. Itu saja. Sembari saya juga berdoa agar Allah memberikan kemudahan dan jalan keluar atas setiap permasalahan perempuan ini. Yakinlah Allah akan ganti dengan kebaikan lain yang berlipat ganda.

Karenanya saya memberikan respek tidak terhingga kepada para suami yang mampu memberikan sikap dan cinta terbaiknya buat sang istri. Ketika ia sadar istrinya tidak mampu memberikan keturunan ia tetaplah sabar. Walaupun ia juga berhak mendapatkan anak sebagai penerusnya dari perempuan lain. Tapi ia tepis kesempatan itu agar tidak menyakiti perasaan istrinya. Bahkan ia mampu menjaga lisan dan amarahnya. Ia tahu sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini bisa jadi memiliki kesabaran setingkat para tabi’in (generasi setelah sahabat Rasulullah saw) ketika ia mampu sabar dengan tidak mengeluhkan kepada siapa pun tentang keadaan dirinya yang belum memiliki anak atau istrinya yang belum atau tidak hamil-hamil juga.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini juga bisa memiliki kesabaran setingkat orang-orang yang zuhud ketika ia menyadari bahwa ketidakmampuan istrinya mempunyai anak ini adalah ketetapan Allah. Dalam benaknya anak sekadar amanah dan urusan duniawi. Orang zuhud tidak mempedulikan masalah duniawi. Balasan buat orang-orang yang zuhud adalah cintanya Allah dan Allah akan ringankan dirinya atas segala musibah.

Suami yang hebat dengan sabarnya ini bisa memiliki kesabaran setingkat para shiddiqin (orang-orang yang benar imannya) ketika ia menerima keadaannya dengan senang hati karena menganggap semua itu dari Allah belaka. Tempat bagi para shiddiqin iniadalah bersama para nabi, syuhada, dan shalihin.

Kalaulah saya menemukan orang itu, saat ini izinkan saya mencium tangannya sebagai tanda hormat. Saya harus belajar banyak kepadanya. Kepada perempuan yang bertanya,

***

Riza Almanfaluthi

02 Mei 2014

 

Sumber dari:

http://www.islamedia.co/2014/05/istri-belum-hamil-hamil-suami-mau-nikah.html#.U2McdGDafWg.facebook

SELALU ADA JALAN ANDA BISA KAYA, KAYA YANG BAHAGIA


SELALU ADA JALAN ANDA BISA KAYA, KAYA YANG BAHAGIA

 


 

Sebentar lagi, di bulan Mei ini, kita akan mendapat rezeki yang banyak Insya Allah. Tapi sejatinya, setiap hari kita pun mendapatkan rezeki. Rezeki yang telah ditentukan Allah. Dari rezeki itu sebagiannya dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan jasad kita. Sebagiannya ditabung untuk persiapan masa depan. Sebagiannya lagi dibelanjakan untuk membeli perhiasan dunia. Kita senang dengan perhiasan. Itu manusiawi. Sejak zaman purba pun manusia senang dengan perhiasan. Saat ini di dunia yang serba materialistis perhiasan itu menjelma sedemikian rupa: harta tak bergerak, gadget, emas berlian, logam mulia, mobil, dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan perhiasan itu manusia menjadi senang walau tidak mesti berakhir bahagia.

Dalam benak kita perhiasan itu terkungkung pada nilai kebendaan. Hanya bisa diraih dan dimiliki oleh orang-orang yang berpunya. Padahal tidak. Perhiasan bisa dimiliki oleh siapa saja manusia di muka bumi ini. Sekali pun miskin total. Tapi perhiasan itu tidak berwujud “benda yang bisa dinilai dengan uang” sebagaimana kita ketahui selama ini. Namun demikian sudah dipastikan akan berujung pada bahagia. Tak hanya di dunia melainkan di akhirat pula. Karena seorang yang beriman adalah visioner maka apa yang dilakukannya di dunia adalah untuk tujuan akhiratnya.

Bukankah anak-anak adalah perhiasan dunia sebagaimana Allah telah sebutkan dalam kitabNya? Anak-anak yang membuat hidup kita semakin hidup dengan segala pernak-pernik kewajiban mendidik mereka. Walau di lain ayatnya Allah menyebutkan pula bahwa anak-anak akan menjadi cobaan dalam kehidupan. Yang akan membuat lalai dalam ketaatan kepada Allah. Tapi marilah untuk senantiasa optimis, bahwa kita bisa menjadikan anak-anak kita anak-anak terbaik dalam zamannya. Generasi yang akan membawa umat ini kepada kejayaannya. Tapi wahai Kakanda, bagaimana dengan kami yang tidak punya anak ini?

Semoga Allah menakdirkan Adinda untuk mempunyai anak yang disebut Ibnu ‘Abbas ra sebagai keturunan yang selalu mengerjakan ketaatan, sehingga dengan ketaatannya sang anak mampu membahagiakan Adinda sebagai orang tuanya di dunia dan akhirat. Tapi jikalau Allah belum menakdirkan anak pada Adinda, aih, bukankah istri Adinda atau Adinda sendiri adalah wanita saleh? Bukankah dengan demikian itu adalah sebaik-baik perhiasan di dunia? Berbahagialah.

Wahai Kakanda, lalu bagaimana dengan kami yang sampai saat ini belum Allah takdirkan untuk mempunyai pasangan? Kakanda cuma bisa menjawab menikahlah segera. Ikhtiar dan berdoalah. Jangan pula Adinda khawatir tidak mempunyai perhiasan yang membuatmu bahagia.

Suatu ketika Abdullah bin Abu Quhafah, yang biasa dikenal dengan nama Abu Bakar Ashshidiq ra pernah berkata: “Ada delapan perkara yang merupakan perhiasan bagi delapan perkara yang lain, yaitu:

  1. memelihara diri dari meminta-meminta merupakan perhiasan bagi kefakiran;
  2. bersyukur kepada Allah merupakan perhiasan bagi nikmat;
  3. sabar adalah perhiasan bagi musibah;
  4. tawadhu’ adalah perhiasan bagi (kemuliaan) nasab;
  5. santun adalah perhiasan bagi ilmu;
  6. rendah hati adalah perhiasan bagi seorang pelajar;
  7. tidak menyebut-nyebut pemberian merupakan perhiasan bagi kebaikan;
  8. khusu’ adalah perhiasan bagi shalat.”

     

Semuanya adalah perhiasan. Perhiasan yang membahagiakan. Bukankah semuanya itu adalah akhlak Baginda Nabi Muhammad saw? Para sahabat menemukan oase kebahagiaan dengan mengikuti Baginda, pemimpin mereka, pemimpin umat, pemimpin kita. Itulah perhiasan tak ternilai yang membuat kita kaya dan membahagiakan. Kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa. Kita, Kakanda dan Adinda, bisa mendapatkannya. Sekarang ini. Tanpa menunggu bulan Mei.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Situs Masjid Shalahuddin

27 April 2014

 

Catatan:

  1. Harta dan anak-anak adalah perhiasan bisa dilihat pada AlKahfi ayat 46;
  2. Harta dan anak-anak adalah cobaan bisa dilihat di At Taghabun ayat 15;
  3. Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita solehah”(HR. Muslim: 3649,Nasai,Ibnu Majah)
  4. Perkataan Abu Bakar Ashshidiq ra bisa dilihat dalam buku Nashoihul Ibad: Nasihat-nasihat untuk Para Hamba;
  5. Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). HR. Abu Yu’la.

 

Gambar diambil dari

PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR


PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR

 

Ada yang rumit dari sebuah pagi, detilnya. Kali ini, pagi ini, demikian pula. Walau ada sebuah cerita mengiringinya. Ini sungguh terkait dengan keajaiban istighfar seperti yang sudah saya ceritakan kepada Anda semua di “Cring”.

Tadi malam saya i’tikaf di masjid komplek desa lain. Sahurnya pun disitu. Pas sahur air minum kemasan gelas habis. Mau mengambil air yang ada di dispenser tak ada gelasnya. Sudahlah, saya minumnya nanti, di rumah saja. Pun, karena saya harus kembali ke rumah segera untuk dapat sholat shubuh di Masjid Al-Ikhwan. Ada ceramah shubuh di sana.

Setengah jam menjelang adzan shubuh, saya memacu Fit di jalanan Bojonggede yang sepi. Di tengah perjalanan, saya baru ingat kalau jarum penunjuk fuel sudah menyentuh garis merah. Mentok sementok-mentoknya di dasarnya. Lupa belum diisi. Wah gawat kalau benar-benar dorong motor pas mau puasa. Ngelak tenan ik

Saya ingat nasehat ustadz. Perbanyak istighfar niscaya Allah kasih kelonggaran atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, rezeki dari arah yang tidak terduga. Langsung dah saya istighfar sebanyak mungkin, “ya Allah cukupkanlah bensin di motor saya ini sampai ketemu tukang bensin.” Saya percaya Allah akan menolong saya. Akankah keajaiban itu datang? Ternyata tidak saudara-saudara!

Motor benar-benar berhenti jauh dari tempat tukang bensin jualan. Saya turun dari jok dan mendorong motor itu. Speaker masjid dari mana-mana sudah terdengar menyuarakan pemberitahuan bahwa imsak akan datang sebentar lagi. Seratus meter dorong sambil cari warung pinggir jalan yang jualan air minum. Tak ada. Dan ujian akan tambah berat lagi. Di depan saya, kurang dari 100m, ada jembatan. Ini pertanda saya harus mengerahkan tenaga ekstra lagi untuk bisa melaluinya karena jalanannya menaik. Saya pasrah. Ini takdir yang harus dijalani di hari ke-26 Ramadhan.

Dan di titik inilah, di saat kepasrahan itu menjelma, keajaiban istighfar datang menghampiri. Seorang pengendara motor , anak muda, berhenti dan menanyakan kepada saya apa yang terjadi. Setelah mengetahui kondisinya, ia langsung menawarkan untuk nyetut
motor saya. Stut motor itu mendorong motor yang saya naiki dengan kakinya atau dorki (dorong kaki). Alhamdulillah ini sangat membantu. Kurang lebih 500 meter ia dorong motor saya sampai di tukang bensin terdekat. Dan ia langsung pergi tanpa berhenti untuk sekadar menerima ucapan terima kasih saya. Semoga Allah memudahkan urusannya dan membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

Ilustrasi dari sini.

Saya beli dua botol bensin. Sebelumnya saya bertanya sambil melirik kulkas apakah ada air kemasan yang dijual. Ibu itu bilang tidak ada. Tapi ia langsung mengambil air segelas besar penuh dan memberikannya kepada saya. Ia tahu betul kalau saya lagi kehausan. Ucapan terima kasih lagi-lagi saya haturkan kepada orang baik kedua yang telah menolong saya. Inilah keajaiban istighfar yang kedua pas imsak tiba.

Di pagi yang rumit itu saya mendapatkan tiga keutamaan sekaligus dari istighfar. Allah hapus kegalauan saya karena harus mendorong motor di pagi buta, disebabkan ada orang yang mau membantu saya. Allah kasih jalan keluar atas setiap kesempitan karena ada orang yang kasih solusi dengan nyetut dan tukang bensin yang tak sebegitu jauhnya. Lalu Allah kasih rezeki segelas penuh air minum gratis menjelang waktu shubuh untuk menghilangkan dahaga dan bekal seharian berpuasa. Nikmat mana lagi yang mau diingkari jeh? Astaghfirullahal’adziim…

Maka untuk merayakan pagi yang tak rumit lagi ini bolehlah saya teriakkan: “Pagi Cantik…” Semoga amal ibadah kita di Ramadhan ini bagus semua, cantik semua. Lalu Allah menerimanya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di pojokan masjid

04 Agustus 2013

 

C R I N G


CRING

Kalau di surga, Adam jika menginginkan sesuatu maka ia tinggal bilang lalu “cring”. Segalanya sudah ada di hadapannya. Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Dalam kesendiriannya naluri sebagai seorang manusia menghendaki adanya seorang teman. Lalu diciptakanlah Hawa dari tulang rusuknya. Maka kenikmatan apa lagi yang dapat menandingi kenikmatan yang mereka miliki? Sampai terjerumus oleh Iblis dengan memakan buah terlarang. Kenikmatan dua manusia pertama itu dicabut dan mereka berdua turun ke bumi. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercipta akan mengurangi banyak kenikmatan.

Di bumi, walaupun tidak sedahsyat surga, tetapi jika Adam menginginkan buah ia masih tinggal memetiknya dari pohon. Keturunannya sudah semakin banyak. Dengan sebuah pelajaran yang teramat berharga—terusirnya mereka dari surga—lalu membuat anak keturunan Adam tidak berbuat dosa? Dosa-dosa pun tercipta. Lalu mereka tak bisa memetik buah dari pohon, mereka harus menanamnya mulai dari biji-biji yang mereka dapatkan. Ada upaya keras tercipta untuk mendapatkan sebuah kenikmatan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Dosa-dosa selanjutnya membuat manusia semakin sukar mendapatkan apa yang diinginkannya hingga untuk mendapatkan kebutuhan yang paling pokokpun mereka harus memiliki sesuatu yang berharga untuk bisa ditukar. Sistem barter pun mulai berjalan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Lalu apa yang membuat antagonis dari postulat tersebut? Hingga sebabkan satu “something” itu dilakukan maka akan menambah banyak kenikmatan yang lain. Istighfar. Ya Istighfar. Istighfar itu dekat dengan kenikmatan. Dekat dengan surga. Istighfar itu sebuah pengakuan kelemahan diri akan sebuah dosa yang dilakukan, dan berharap kepada Sang Pemilik Ampunan agar menghilangkan bintik-bintik dosa di sekujur tubuh yang memberatkan sisi timbangan amal sebelah kiri.

Duhai…manusia, janji Allah yang tersebut dalam Surat Hud ayat 3 sudah menjadi sebuah keniscayaan. “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus).”

Apalagi janji Rasulullah yang tak pernah teringkari: “Barang siapa yang melazimkan istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Sunan Ibnu Majah 3809).

Sudahlah, hapus segala galaumu dengan istighfar. Longgarkan jalanan macet dengan istighfar. Commuter Line tidaklah manusiawi hingga tak tahu lagi kemana kaki berpijak dan tangan yang tergantung, luaskan semua itu dengan istighfar. Tak percaya? Lakukan saja.

Dalam sebuah perjalanan. seorang ustadz bertemu dengan muridnya yang pengangguran di sebuah musholla. Sang Ustadz lagi banyak rezeki, maka ia pun membagi barang satu lembar kertas merah bergambar Soekarno Hatta kepada Sang Murid. Lalu mereka shalat bersama jama’ah yang lain. Setelah salam Sang Murid menghampiri Sang Guru, mencium tangannya kembali dan berkata, “Ya Ustadz seharian saya mencari pekerjaan tapi tak dapat juga. Dan akhirnya saya singgah ke musholla ini. Saya mulanya tak tahu akan makan apa hari ini karena tak dapat uang sepeserpun. Saya teringat pesan Ustadz untuk senantiasa beristighfar, maka saya pun beristighfar. Banyak. Terus menerus. Sampai Ustadz datang dan menyerahkan uang 100.000 an itu. Subhanallah Ustadz. Jazaakallah. Allah maha menepati janji.”

Tidak ada manusia yang tak luput dari dosa. Maka ia pun selayaknya untuk selalu beristighfar. Pun karena Allah mencintai orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat. Allah gembira dengan orang yang bertaubat melebihi kegembiraan seorang musafir di tengah gurun pasir yang terik di saat menemukan kembali ontanya yang hilang.

Kalau saja nabi Yunus tidaklah mengucapkan doa ini niscaya ia akan selamanya terkurung dalam kegelapan perut ikan yang besar. Pada akhirnya Nabi Yunus terbebas dari kesempitan yang akan membuatnya mati.

clip_image002

Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat di sisa-sisa terakhir ramadhan. Setelahnya pun demikian. Selamanya. Hingga nafas terakhir kita. Ingat pulalah yang satu ini: Satu dosa menghancurkan kenikmatan, satu istighfar akan mendatangkan kenikmatan. Kita berharap kelak akan bisa seperti Adam dulu, di surganya Allah, dengan sebuah “cring…” Segalanya ada.

***

Riza Almanfaluthi

29 Juli 2013

dari sebuah ceramah yang diremark

KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK


KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK

image

“Jika belum adanya keturunan yang membuatmu gelisah di penghujung malam ini mintalah Allah ta’ala dengan do’a Nabi Zakariya.” Satu kalimat yang ditwitkan oleh Moh. Fauzil Adhim pada dini hari ini membuat saya termenung. Sebuah kebetulan bahwa pada malam itu saya ingin menuliskan sebuah cerita tentang kegundahan seorang teman akan hadirnya buah hati dalam umur perkawinannya yang baru mencapai lima bulan. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebuah waktu yang tidak bisa disetarakan dengan waktu sepi yang dimiliki oleh Nabi Zakariya dalam sebuah penantian yang panjang dan endapan keniscayaan kalau istrinya yang mandul tidak pernah mungkin akan punya keturunan. Maka hanya doa yang bisa terlantun: “Tuhanku, jangan biarkan aku sendiri. Dan Engkaulah sebaik-baik Waris (QS. 21: 89)”

Dalam sebuah percakapan maya, di pertengahan ramadhan 1433 H yang penuh keberkahan, tercetus sebuah kegalauan betapa pusing teman saya ini memikirkan istrinya yang juga belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.

“Kamu mau enggak saya beri solusi?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Karena dengan mengemukakan masalahnya pada saya saja setidaknya ia merasa sudah cukup gelisah itu terkurangi.

“Kamu dan istri kamu lakukan dua hal ini.”

“Apa?”

“Istighfar dan sedekah. Perbanyaklah. Misalnya saat mau berhubungan intim, saat kamu berdiri di dalam kereta, saat kamu bekerja. Insya Allah kita akan lihat hasilnya dalam sebulan ini.”

Hanya itu yang bisa saya sampaikan padanya persis seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak dikaruniai seorang anak pun dan aku tidak memiliki anak.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Lalu di mana kamu dari banyak beristighfar dan banyak bersedekah, karena engkau akan diberi rizki anak karena sebab keduanya.” Lalu laki-laki ini memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata, “Maka orang ini dikaruniai sembilan anak laki-laki.”1)

Saya meyakinkannya untuk melakukan dua hal itu. Apalagi sudah jelas kalau dalam Surat Nuh (71: 10-12) disebutkan tentang janji Allah kepada orang yang meminta ampunan kepadaNya, maka Ia akan memberikan banyak rupa kebaikan dan salah satunya adalah memperbanyak harta dan anak. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Kepada para jamaah shalat tarawih saya sampaikan cerita teman ini dan berharap ada keajaiban yang datang dalam sebulan ini. Pengharapan besar, doa yang terucap sepenuh keyakinan, sedekah yang seikhlas-ikhlasnya, permintaan ampunan tertuturkan dengan sebenar-benarnya permintaan, dari hati yang dilembutkan oleh madrasah ramadhan, pada waktu yang mustajabah, variabel manalagi yang akan membuat Allah tidak mewujudkan semua asanya?

Ramadhan usai, Syawal menjelang. Hiruk-pikuk mudik, lebaran, dan baliknya menyita perhatian semua. Tidak terkecuali saya. Tapi ada mekanisme takdir Allah yang sedang berjalan. Hari ke-9 Syawal sang teman memberitahu saya, “Aku mengucapkan terima kasih untuk saran dan doa kamu bulan puasa kemarin. Subhanallah walhamdulillah. Aku telah memastikan secara medis kalau kandungan istriku sudah berjalan kurang lebih lima minggu.”

Allah Maha Besar, nikmat mana lagi yang hendak diingkari. Allah tunjukkan keajaiban sedekah dan istighfar itu pada kami, walau baru sebatas janin. “Terus perbanyak sedekah dan istighfarnya, karena sedekah dan istighfarmu yang konsisten akan menjaga kandungan istrimu.”

Istighfar itu tanda kepasrahan dari hamba yang sesadar-sadarnya kalau dirinya lemah, membawa kedamaian, menjadikan lapang atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, dan membuka datangnya rizki dari arah yang tiada terduga. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara pribadi sebagaimana shalat.

Sedekah berkelindan dengan istighfar. Sedekah itu pembuktian adanya iman di dada, ia menghapus kesalahan, menjauhkan dari kematian yang buruk, menghindarkan dari musibah, ia mengobati orang-orang yang sakit. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara sosial sebagaimana zakat.

Inilah ikhtiar. Dan setelah kawan saya itu, keajaiban apalagi yang akan muncul di hadapan Anda dari banyaknya istighfar dan sedekah yang tertunaikan?

Untuk berkonsultasi dengan saya silakan melalui Facebook Messenger dan Whatsapp.

**

Catatan: Kisah-kisah sejenis dapat dibaca secara lengkap dalam buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Buku ini  terbit pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

 

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59.jpeg

Terkait artikel ini JANGAN LUPA baca juga yang ini:

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA

Kisah Nyata: Ini Dia 7 Ikhtiar Dalam 7 Tahun untuk Mendapatkan Momongan

DUA PULUH TUJUH TAHUN MENANTI, AKHIRNYA HAMIL JUGA

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Maraji’:

1) Musnad Abi Hanifah, syarah Mulia Ali al-Qari dalam Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam; Keajaiban Sedekah & Istighfar

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

30 Agustus 2012

Sumber Gambar diambil dari sini.

Diunggah pertama kali untuk: Citizen Fimadani

Tags: Zakariya, Moh. Fauzil Adhim, Jabir bin Abdullah, Abu Hanifah, Musnad Abi Hanifah, Sedekah, istighfar,

JANGAN PERNAH MENYERAH


JANGAN PERNAH MENYERAH

 

 

Ya Allah Sang Pemilik Keindahan

jika pertemuan dan perpisahan

adalah sebuah kemestian,

maka jadikanlah pertemuan itu indah

dalam pandangan kami

jadikanlah pertemuan itu indah

dalam benak dan hati kami,

sehingga keindahan itu akan tetap

menghiasi hari-hari kami,

pada saat kami berpisah nanti

 
 

Ya Allah, Ya ‘Aziiz

jika pertemuan hanyalah awal

dari sebuah perpisahan,

maka cukuplah kebahagiaan

yang kami bawa pulang,

karuniakanlah kebaikan

yang lebih kepada saudara kami yang akan pergi,

melebihi kebaikan yang ia dapatkan di sini

dan karuniakanlah kebaikan yang sama

kepada saudara kami yang datang kepada kami,

melebihi segala kebaikan

yang ia tinggalkan.

 
 

 
 

            Beberapa harap yang terucap dalam doa di saat acara Pisah Sambut Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Jum’at (13/5) siang ini. Kami melepaskan lima teman yang akan berpisah.

Dua orang teman kami akan menjadi Account Representative yakni Mbak Nur di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tamansari Satu dan Mas Rio di KPP Duren Sawit. Dua orang lagi tetap menjadi Penelaah Keberatan yakni Mbak Ratna di Kantor Wilayah DJP Banten dan Pak Sudiya di Kantor Wilayah DJP Lampung. Sayangnya dua teman kami yang terakhir ini tidak ikut dalam acara.

Satu lagi adalah Mbak Vivi yang akan cuti di luar tanggungan negara untuk ikut suaminya yang sedang tugas belajar di Adelaide, Australia. Mbak yang satu ini bilang pada sesi  sambutan, “Sudah cukup 13 tahun mengabdi di Direktorat Jenderal Pajak dan kini saatnya saya untuk mengabdi kepada suami.” Tepuk tangan kami menyambut dari akhir kalimatnya itu.

Mas Rio

Mbak Nur

Mbak Vivi

 

Setelah menerima cenderamata mereka didaulat untuk bernyanyi bersama-sama. Saya tak tahu lagu apa itu awalnya, tetapi ketika tiba pada baris reffrain sepertinya itu lagu ada band,

walau badai menghadang
ingatlah ku kan selalu setia menjagamu
berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Saya juga tak hafal lagunya . Ini pun hanya menyalin dari internet. Mendengar lagu itu teman-teman sampai pada ikutan bernyanyi dan mengangkat kedua tangannya lalu menggoyangkannya ke kanan dan kiri. Sayang tidak ada pohon di sana. Kalau enggak, pasti MC-nya, Kang Awe, akan bilang: “yang dipohooon goyaaanng…!”

Setelah itu diperkenalkan teman-teman yang baru datang. Ada 10 orang. Satu per satu diperkenalkan. Tiba-tiba, sebelum dilanjutkan ke acara berikutnya, aku seperti merasa sendiri. Walau di tengah keramaian. Dan segera saya pun beranjak untuk meninggalkan acara itu. Entahlah, siang itu saya ingin sendiri. Tulisan ini pun sepertinya harus berakhir sampai di sini.

Satu kalimat buat yang meninggalkan kami, jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun. Semangat!!! Semoga Allah memberikan keberkahan di setiap waktu yang dimiliki.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ask: what do you feel today? my answer: I am very happy

07.52 am 14 Mei 2011

     

 

 

 

 


 

 

KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK


KARENA IA ADALAH PENGGANTI YANG LEBIH BAIK

 

Hari sudah semakin sore, jum’at (29/4) itu rekonsiliasi dengan Pemohon Banding di gedung Pengadilan Pajak belumlah usai seluruhnya. Kami hanya dapat menyelesaikan untuk satu sengketa pajak saja mengenai objek-objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23.

Kami sepakat untuk melanjutkannya di pekan yang akan datang. Tentunya bagi tim kami, yang penting ada panggilan dari Pengadilan Pajak, kalau tidak ada itu kami tidak akan datang. Jangan dilupakan, kami tidak akan datang juga walau sudah ada panggilan kalau tidak ada surat tugas dari direktur kami. Ini semata-mata agar kami tidak dianggap sebagai petugas banding liar dan tetap dalam kerangka melaksanakan tugas negara—bukan tugas pribadi.

Saya bergegas menuju Jalan Senen Raya untuk menghadang Bus Jurusan Senen Cimone yang melewati Stasiun Gambir—karena dari sana saya akan pulang naik kereta rel listrik (KRL). Untuk menghentikan bus itu saya harus menunggu lama di seberang Hotel Oasis Amir. Bisa saja saya naik bajaj atau ojek motor atau juga naik taksi. Tapi pilihan itu akan saya ambil jika waktunya mepet dengan jadwal KRL yang saya naiki. Dan untuk hari itu waktu yang saya miliki masih banyak.

Kemudian tak sengaja mata saya melihat gedung tinggi di ujung sana. Tempat Pengadilan Pajak berada. Saya sempatkan untuk mengambil gambarnya dengan menggunakan kamera hp.

Gedung bercat putih itu adalah Gedung Dhanaphala. Di sana selain Pengadilan Pajak adalah tempat berkantornya para pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.

Bus itu tiba dan tak sampai 10 menit sampai di depan Stasiun Gambir. Sesampainya di stasiun itu segera saya beli tiket dan naik ke lantai 1. Saya mencari tempat duduk di sana. Tak biasanya saya demikian. Di hari-hari sebelumnya kalau sudah beli tiket saya langsung naik ke lantai dua dan menunggu KRL datang di peron 3-4.

Saya pikir waktunya masih lama dan pasti akan ada pemberitahuan kalau KRL Pakuan Ekspress itu tiba di Stasiun Gambir dari Stasiun Kota. Makanya saya santai saja duduk-duduk di bangku lantai 1. Ada sekitar 20 menit saya di sana. Untuk sekadar menelepon, sms-an, dan tentunya melihat Monas dari kejauhan. Sepertinya emas yang ada dipuncaknya itu tak berkurang satu gram pun.

Ketika ada pengumuman bahwa KRL Pakuan datang, saya segera naik ke lantai 2 dengan santainya. Eh, pas betul, setibanya di atas, KRL Pakuan itu sudah nongkrong di jalur 3 dengan pintu yang sudah tertutup dan kemudian berangkat lagi. Saya gigit jari. Saya ketinggalan kereta. Tega nian KRL itu untuk tidak membuka pintunya barang sejenak agar saya bisa ikut dengannya.

Aneh, seharusnya pengumuman kedatangan KRL diberitahukan sebelum KRLnya datang di Stasiun Gambir bukan? Atau pada saat KRL sudah berangkat dari stasiun terdekat. Nah, ini benar-benar tidak ada. Tiba-tiba diumumkan kalau KRLnya sudah tiba di jalur 3. Atau sebenarnya ini salah saya? Seharusnya pula kalau sudah tahu jadwalnya jam segitu ya segera naik ke atas. Tak perlu tunggu pengumuman. Nanti akan alasan begini: “Memangnya jadwal KRL selama ini tepat waktu?” Ya sudahlah akan banyak argumentasi yang muncul.

KRL ini memang tidak berhenti di Stasiun Citayam tetapi ia berhenti di Stasiun Bojonggede. Dari sana saya harus menunggu KRL arah baliknya yang menuju ke Jakarta untuk nantinya turun di Stasiun Citayam.

Keterlambatan ini harus ditebus dengan 20 menit menunggu kereta berikutnya. Apalagi sore itu Stasiun Gambir sudah mulai penuh karena banyaknya pemakai jasa kereta api yang ingin pulang kampung. Maklum akhir pekan. Jadi suasananya tambah semrawut.

Eh, kekecewaan ini terobati juga. Dari pengumuman yang ada, KRL berikutnya itu bisa berhenti di Stasiun Citayam. Jadi tak perlu harus ke Stasiun Bojonggede dan balik lagi. Dan betul ketika sampai di Stasiun Citayam waktu tibanya tidak berbeda jauh bila naik KRL yang meninggalkan saya itu. Hmm…

Saya kembali memikirkan sesuatu. Hingga pada sebuah ujung bahwa seringkali kita menyesali dan merutuki nasib karena sesuatu yang diharapkan lepas dari tangan kita. Padahal Allah sudah menggariskan kalau memang yang diharapkan itu bukan untuk kita, bisa jadi karena tidak baik untuk kehidupan kita di dunia atau setelahnya. Pun, karena Allah sudah mempersiapkan yang lain lagi sebagai penggantinya, bahkan lebih baik.

Sore itu saya mendapatkan yang terakhir.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

bahagia ditemani sepanjang perjalanan

10.40 01 Mei 2011

 

Tags: pengadilan pajak, senen raya, hotel oasis amir, Cimone, kereta rel listrik, gambir, citayam, bojonggede, pajak penghasilan pasal 23, pakuan, jakarta, gedung dhanapala, direktorat jenderal anggaran, departemen keuangan,