CARA JITU ATASI HDD EKSTERNAL YANG TIDAK TERBACA DI INTERNET EXPLORER DAN DISK MANAGEMENT


AlamakjaaaaangHard Disk Drive (HDD) External saya bermasalah. Terbaca di icon tray sudut kiri bawah dan lampu HDD nyala tapi tidak terbaca di Windows Explorer dan Disk Management. Padahal saya mau menggawe, mau nulis sesuatu, ada bahan yang perlu saya akses di sana.

Ini HDD 1 Terabyte hadiah waktu jadi juara pertama Lomba Menulis di tahun 2012 lalu. Berharga banget. Ada foto monumental, 900 tulisan, draft buku pertama dan kedua, dan file-file yang sangat berharga sekali. Lalu bagaimana dong?

Alhamdulillah setelah saya coba cari ke sana-kemari akhirnya bisa diakses lagi. Saya tulis cara ini agar kalau ada orang lain mengalami hal yang sama dengan saya tidak panik dan tetap tenang serta ikhtiar terus mencari obatnya. Insya Allah cara ini berhasil. Dengan syarat atau kondisi sebagaimana telah saya sebut di atas, namun saya ulangi lagi sebagai berikut:

Baca Lebih Lanjut.

UNDER 6 MINUTES!



You may realize it or not, but you were born with great gifts and talents.

Let’s see what you can do every day to unleash your potentials!

~~Someone.

Perjalanan saya ke Bandung pertengahan September lalu tak sia-sia. Selain bertemu banyak orang dalam sebuah Forum Grup Discussion, saya juga bertemu dengan satu lagi orang hebat di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Petuahnya yang terngiang-ngiang di kepala saya membuat perbedaan pada hari minggu (4/10/2015) ini. Ya benar, pagi ini.

Dia pelari handal yang sering mengikuti even lari maraton. Terakhir adalah BII Maybank Bali Marathon 2015 di akhir Agustus lalu. Namanya Bambang Tejomurti. Pemeriksa pajak di Kantor Pelayanan Pajak Madya Bandung. Kesempatan bertemu dengannya saya manfaatkan betul untuk bertanya-tanya tentang pengalaman larinya. Tentunya juga konsultasi.

Baca lebih lanjut.

Bandung, Ini Etalase Itu


…dan di sebuah terowongan (foto pribadi).

Hujan yang kemarin sore (21/9) membasahi Bandung, malam ini tak lagi singgah. Kursi-kursi taman yang berjejer di sepanjang pinggir jalan Braga, Naripan, Asia Afrika menunggu untuk diduduki para pelancong yang ramai memenuhi jalanan. Ini bukan malam minggu tapi keramaiannya tak kalah.

Bandung—terutama di tiga jalan itu—memang sudah berubah. Suasananya berbeda dengan dua tahun yang lalu ketika saya terakhir mengunjunginya. Kesan suram dan gelap tak ada sama sekali. Aman dan nyaman yang tertangkap. Preman hanya ada di sinetron. Itu pun sudah taubat. Para lelaki berbaju Hansip mondar-mandir atau duduk-duduk melihat-lihat suasana.

Baca lebih Lanjut.

MINA


2011-11-09 06.39.14

Tumpukan sandal mencari pemiliknya masing-masing.
Padahal yang dicari sedang tersenyum di atas langit.
Yang fana menyebutnya tragedi.

**
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citajam, 24 September 2015

Malam-malam di Braga


image

Usai hujan sore
Di kemarau yang luput
Ada yang berzikir
Menghitung asap dan bir
Lupa yang sama-sama.

***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Bandung, 20 September 2015.

Rihlah Riza #67: Huruf R



Akhir Agustus 2015 lalu saya pulang ke Citayam. Ada momen yang harus saya hadiri. Istri saya diwisuda sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Magister Akuntansi. Dia sudah sah jadi alumnus Universitas Indonesia setelah hampir dua tahun kuliah dengan program beasiswa Star BPKP. Bukan ini yang saya mau ceritakan kali ini.

Tapi ini tentang Kinan. Anak bungsu saya yang baru berumur tujuh tahun ini sebenarnya baru seminggu itu bisa mengucapkan huruf R. Saya tak tahu. Ketika saya datang, saya kaget ketika dia sudah bisa mengucapkannya dengan jelas. “Coba Nak, ucapkan lagi huruf R,” kata saya.
Baca Lebih Lanjut.

MY FIRST HALF MARATHON



Di Tapaktuan saya masih ragu bawa sepatu lari atau tidak. Tapi daripada kelamaan mikir akhirnya saya bawa ke Banda Aceh. Kebetulan Senin nanti ada dinas di sana.

Dari Tapaktuan malam hari naik travel Sempati. Di travel saya usahakan sebisa mungkin buat tidur. Alhamdulillah bisa. Jadi insya Allah belum berasa capek walau menempuh jarak 500km-an. Tiba di Banda Aceh jam 7.45 pagi.

Sampai di hotel langsung ganti kostum dan pakai sepatu lari walau belum sarapan. Sayang banget kalau hari Ahad tak dipakai buat lari. Kali ini saya punya tekad buat lari sejauh 21,1 km. Belum pernah mencoba. Paling jauh 15 km, itu pun bulan Maret 2015 lalu.

Setelah pemanasan sebentar dan aktifkan GPS di Garmin langsung lari. Tentu sebelumnya doa dulu buat dikuatkan oleh yang Maha Kuat, Allah swt. Bismillah.

Baca Lebih Lanjut.

Tenang! Diskotek, Karaoke, Klab Malam, dan Ajeb-ajeb Tetap Kena Pajak



Pertengahan Agustus ini dikeluarkan beleid pemerintah yang mengatur bahwa hiburan yang diberikan oleh diskotek, karaoke, dan klab malam termasuk jasa kesenian dan hiburan yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Beleid itu adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terbaru Nomor 158/PMK.010/2015 tanggal 12 Agustus 2015 tentang Kriteria Jasa Kesenian dan Hiburan yang Tidak Dikenai PPN. Aturan ini berlaku 30 hari setelah tanggal diundangkan. Efektifnya mulai tanggal 12 September 2015.

Membincang PMK itu tidak bisa dilepaskan dari aturan di atasnya yakni Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-undang (UU) PPN.

Baca Lebih Lanjut.

Buang Empat Mitos Ini



Email yang dikirim di medio Juni lalu oleh Freeletics.com ini punya isi yang bener kabeh. Tentang banyak mitos ketika kita akan benar-benar menjalani Freeletics. Mitos yang tidak berguna dan kudu dibuang jauh-jauh. Karena pada faktanya itu semua sudah saya rasakan dan berguna buat pencapaian “goal” saya.

Di email itu, Freeletics.com kurang lebihnya bilang, “Begitu banyak terdengar mitos di sekitar kita. Di manapun kita pergi, kita mendengar hal-hal yang berbeda. ‘Jangan lakukan ini. ‘Makan itu saja.’ Dan masih banyak lagi yang lainnya. Mana yang bisa dipercaya? Begitu banyak jawaban yang berbeda.”

Apa mitos-mitos itu? Dan kebenaran seperti apa yang ada di baliknya?

Baca Lebih Lanjut.

Roman HAMKA dengan Janda Cianjur, Cinta yang Putus di Tengah Jalan


(Via http://www.stoomvaartmaatschappijnederland.nl/g/)

Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah roman karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa disebut Hamka. Salah satu latar novel ini adalah Mekkah di tahun 1927. Saat haji sedang ramai-ramainya karena Tanah Hejaz jatuh ke tangan Ibnu Sa’ud dan kenaikan harga getah di tanah air. Dari tanah air saja ada 64.000 calon jama’ah haji.

Novel ini pun merupakan buah perjalanan spiritual Hamka ke tanah suci di tahun yang sama. Sekaligus dalam kenyataan yang sebenarnya ada kisah roman yang mengiringi perjalanan itu. Di atas sebuah kapal. Bersama seorang perempuan asal Sunda bernama Kulsum.

Saat itu awal Februari 1927, Malik, sebutan Hamka di kala muda, meninggalkan pelabuhan Belawan, Medan, dengan menggunakan kapal “Stoomavaart Maatschappij Nederland.” Jeddah adalah tujuan kapal itu. Melewati Laut Ceylon menjelang Laut Socotra, genap usianya 19 tahun.

Baca Lebih Lanjut.