Buang Empat Mitos Ini



Email yang dikirim di medio Juni lalu oleh Freeletics.com ini punya isi yang bener kabeh. Tentang banyak mitos ketika kita akan benar-benar menjalani Freeletics. Mitos yang tidak berguna dan kudu dibuang jauh-jauh. Karena pada faktanya itu semua sudah saya rasakan dan berguna buat pencapaian “goal” saya.

Di email itu, Freeletics.com kurang lebihnya bilang, “Begitu banyak terdengar mitos di sekitar kita. Di manapun kita pergi, kita mendengar hal-hal yang berbeda. ‘Jangan lakukan ini. ‘Makan itu saja.’ Dan masih banyak lagi yang lainnya. Mana yang bisa dipercaya? Begitu banyak jawaban yang berbeda.”

Apa mitos-mitos itu? Dan kebenaran seperti apa yang ada di baliknya?

Mitos 1. Tidak Butuh Pemanasan (Warm Up)

Karena Freeletics ini adalah HIT (High Intensity Training) dan HIIT (High Intensity Interval Training), sebuah pelatihan dengan intensitas tinggi jadi tidak perlu pemanasan karena sebentar saja memulai gerakan langsung panas. Ini hanya mitos.

Faktanya adalah gerakan-gerakan eksplosif yang ada dalam Freeletics jika tidak dikelola dengan benar malah akan menyebabkan tekanan yang tidak terkendali pada tubuh. Oleh karenanya pemanasan bahkan sangat dibutuhkan sekali saat memulainya. Keuntungan dari pemanasan terlebih dahulu sebelum workout Freeletics adalah meningkatkan kinerja kita dan mencegah terjadinya cedera.

Alhamdulillah, menyadari pentingnya pemanasan ini saya sekarang sering terhindar dari cedera. Dulu waktu awal-awal mengenal Freeletics dan karena keinginan cepat selesai saja, agar bisa hemat waktu, saya abai dengan pemanasan. Pada akhirnya saya sering terkilir dan malahan waktu yang diraih jelek sekali.

Saya sering meluangkan waktu sekitar lima menit untuk pemanasan. Dan saya benar-benar menyeriusi setiap gerakan yang ada dalam pemanasan itu. Walau gerakan-gerakannya belum standar Freeletics karena saya masih menggunakan gerakan warming up saat di SD atau SMP dulu. Gerakan-gerakan untuk melemaskan kepala, tangan, pinggang, dan kaki. Saya masih memakai Static Stretching. Alangkah lebih baiknya kalau dicoba juga Dynamic Stretching Freeletics Pro.

Mitos 2. Lari Sangat Kontraproduktif dalam Membangun Otot

Karena pikirnya sering-sering lari akan merusak dan memakan otot-otot yang sedang dibangun. Ini juga mitos. Faktanya lari sangat berguna buat pertumbuhan otot malah. Memang di awal-awal Freeletics dibangun tidak ada menu larinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu maka lari pun sudah menjadi menu dalam Freeletics.

Masak iya sih Free Athlete malah tidak bisa lari? Kok atlet bebas tidak latihan lari? Ini mungkin yang mendasari dibangunnya program lari di Freeletics. Ada menu lari sprint dan lari jarak jauh. Mulai dari 100 meter sampai dengan jarak lari maraton.

Menu sprint benar-benar merangsang pertumbuhan otot sebagai gerakan eksplosif dan dapat meningkatkan volume otot. Maka tidak heran kalau kita sering melihat bentuk tubuh para pelari jarak pendek ini bagus-bagus. Contohnya para pelari 100 meter yang berotot-otot itu.

Semakin jauh jarak lari yang sering menjadi latihan maka semakin berbeda bentuk tubuh dari para atilit itu. Coba bandingkan bentuk tubuh para pelari sprinter, jarak menengah, dan jarak jauh (maraton). Bentuk tubuh mereka semakin mengecil. Efek positif dari endurance running adalah dapat menyebabkan sistem seluruh tubuh berjalan optimal, sehingga membantu dalam mendapatkan dan mempertahankan otot.

Maka, lari tidaklah kontraproduktif dengan membentuk otot, karena faktor penting dalam membangun otot selalu diet seimbang yang kaya akan semua nutrisi yang dibutuhkan. Just it.

Alhamdulillah sejak mengenal Freeletics saya jadi bisa lari dan mencintai olahraga lari. Sayangnya di Aceh ini jarang sekali even lari. Tidak seperti di Jakarta yang minimal sebulan sekali saja ada. Semoga saya bisa ikut even-even lari itu dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama lagi.

Mitos 3. Butuh Waktu dan Tempat Buat Latihan.

Butuh waktu berjam-jam di tempat fitnes buat menguruskan badan atau menguatkan otot sehingga harus punya cukup waktu dulu untuk bisa bugar dan sehat. Ini juga mitos. Sekadar alasan saja.

Pada faktanya, tidak butuh waktu lama dan ruang yang luas buat melakukan Freeletics. Di mana pun bisa. Yang dibutuhkan hanya niat kuat saja. Mau atau tidak untuk latihan. Itu saja. Freeletics dapat dilakukan di tempat yang sempit, di tempat kerja, di kamar kita, atau di kamar hotel sekali pun. Tetap efektif. Apalagi sekarang Freeletics punya fitur baru dengan menu latihan Freeletics 2×2 Coach. Bagaimana supaya tetap bisa latihan di tempat yang luasnya hanya 4 meter persegi itu.

Saya sudah membuktikan dan merasakannya. Di tempat diklat, di kamar diklat, atau kamar hotel Freeletics tetap saya jabanin. Ini semata agar saya bisa disiplin mengerjakannya dalam suasana dan kondisi apa pun. Karena kalau saya tidak disiplin maka yang ada hanya malas. Kalau malas maka saya bisa berbahaya. Malasnya jadi nambah-nambah.

Di kamar Hotel pernah saya melakukan Hades. Di menu latihan ini ada latihan larinya. So, saya ukur saja berapa kali saya kudu bolak balik kamar hotel untuk menyelesaikan 80 meter lari cepat.

Freeletics bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Mitos 4. Kamu Harus Sempurna Dulu Untuk Bisa Sukses

Sempurna itu hanya ilusi. Dan itu mitos. Dalam kehidupan kita sesungguhnya menjadi perfeksionis itu adalah kesalahan. Perfeksionis itu membuang ruang kesalahan. Padahal pada faktanya kita butuh kesalahan untuk perbaikan diri. Kalau kita selalu perfeksionis maka dalam jiwa kita yang ada hanyalah penyesalan dan kekesalan saja.

Dalam Freeletics yang dicapai bukan kesempurnaan melainkan keunggulan. Bedanya apa? bahwa dengan keunggulan, Anda menerima kegagalan dan kesalahan dan Anda belajar dari mereka. Sedangkan, dengan kesempurnaan Anda tidak pernah mengakui kelemahan. Semuanya harus sempurna setiap saat. Kalau demikian jadinya, kita akan susah mencapai “goal” kita.

Kesempurnaan adalah ketika kita berpikir kita belumlah cukup melakukan itu. Seharusnya pikirkan pada apa yang telah kita capai. Itu saja.

Contohnya begini. Misal saya hari ini menu Poseidon. Di sana ada menu pullup dan pushup masing-masing sebanyak 45 repetisi. Kalau kita dimulainya hanya untuk mencari kesempurnaan gerakan dalam pullup—sedangkan kita masih pemula—maka kapan selesainya Poseidon? Kita tidak akan bisa bergerak ke menu berikutnya karena merasa Poseidon tidak selesai dengan sempurna. Akhirnya “stuck” di situ saja.

Dulu waktu pertama kali di kasih menu Poseidon maka saya pakai negative pullups buat menyelesaikan Poseidon itu. Dan saya anggap selesai ketika saya bisa menuntaskannya. Saya lalu lanjut ke menu Freeletics berikutnya di hari yang lain. Saya tetap bergerak dan tidak mandek di situ-situ saja.

Pada akhirnya saya bisa menyelesaikan semua menu yang ada. Saya bisa bertahan di 15 minggu kedua dan sekarang sedang menjalani 15 minggu yang ketiga. Dan saya sekarang sedang menuju level 40 Freeletics. Mengejar kesempurnaan? Bukan. Ini sekadar keunggulan dan siapa yang bertahan dan punya nafas yang panjang.

Kejarlah keunggulan. Kita memang masih belum sempurna. Seiring dengan waktu kita nantinya bisa pullup dengan gerakan yang dianjurkan dalam Freeletics. Ini hanya masalah waktu saja. So, dalam Freeletics kita belajar dari kesalahan untuk kita bisa perbaiki di lain kesempatan.

Semoga manfaat.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan,

23 Agustus 2015


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s