Duka Bersama dari Garda Terdepan DJP


13012762_10209288722155575_7320788217930801356_n

 

Orang itu tidak percaya kepada saya yang membawa surat tugas dan berbaju lengkap jurusita. Ia “mengurung” saya dalam ruangan kantornya. Ditinggal sendirian. Lama banget. Teman saya tidak ikut masuk. Dia ada di tempat parkir. Saya ditanya macam-macam dan saya jawab seadanya dan menjelaskan maksud kedatangan saya memberitahukan Surat Paksa. Sampai pada akhirnya selesai urusan.

Sampai di kantor saya dipanggil kepala kantor. Barulah ketahuan kalau orang perusahaan itu menelepon kepala kantor saya dan menanyakan apakah benar saya adalah petugas dari kantor pajak. Waktu itu kepala kantor saya tidak ingat ada pegawainya bernama Riza. Untung ada Kepala Seksi Penagihan yang sedang berada di depannya. Dan langsung mengonfirmasikan kepada orang perusahaan bahwa benar saya adalah petugas pajak. Pantas saja orang perusahaan itu perlakuannya berubah kepada saya. Langsung jadi ramah. Awalnya dia menyangka saya komplotan penipu yang menyamar jadi petugas pajak.

Baca Lebih Lanjut.

DJP RUNNERS: Dari Bandung Sampai ke Hongkong


DJPRUNNERS2

Olah raga lari sudah menjadi gaya hidup sehat masyarakat saat ini. Olah raga murah ini digemari berbagai kalangan, terutama masyarakat perkotaan. Berbagai lomba lari digelar di berbagai daerah dan menarik antusiasme masyarakat. Komunitas lari pun bermunculan bak cendawan di musim hujan. Salah satunya adalah DJP Runners.

Komunitas lari buat pegawai DJP ini didirikan dan diresmikan pada momen Car Free Day Dago, tanggal 26 April 2015, oleh Kepala Kantor Wilayah DJP Jawa Barat I pada saat itu, Ajat Jatnika. Selain sebagai sarana silaturahmi, DJP Runners dimaksudkan menjadi model bagi pegawai DJP untuk hidup aktif, menjaga kesehatan, dan berbagi informasi terkini di dunia lari.

Baca Lebih Lanjut.

Spotlight, Kill The Messenger, dan Panama Papers


 

Dalam seminggu terakhir saya menemukan tiga nama: Spotlight, Kill the Messenger, dan Panama Papers. Dua nama pertama adalah judul film yang diangkat berdasarkan kisah nyata. Sedangkan Panama Papers adalah kumpulan jutaan dokumen yang dibuat oleh perusahaan asal Panama: Mossack Fonseca.

Kesamaan dari ketiganya adalah mereka buah dari kerja investigasi yang dilakukan oleh wartawan. Spotlight mengungkap kasus pelecehan seksual (pedofilia)yang dilakukan bertahun-tahun lamanya oleh oknum pastur dan biarawan. Sayangnya ini didiamkan oleh pemimpin tertinggi Keuskupan Boston saat itu, Kardinal Law. Wartawan The Boston Globe dengan tim dari meja investigasi bernama Spotlight membongkarnya.  Ini terjadi di tahun 2001.

Spotlight merupakan film yang berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik di ajang Oscar ke-88 akhir Januari 2016. Koran Vatikan menyebut film ini “not an anti-Catholic film” dan Radio Vatikan merekomendasikan film ini untuk ditonton.

Baca Lebih Lanjut

Ditjen Pajak Perluas Layanan Mini ATM di 250 KPP



Setelah sukses meluncurkan fasilitas pembayaran pajak melalui Mini ATM di 15 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) uji coba, maka sejak Akhir Februari 2016 lalu Ditjen Pajak telah memperluas layanan Mini ATM di 250 KPP, mulai dari KPP Pratama Banda Aceh sampai KPP Pratama Manokwari.


Tidak hanya itu, selain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, telah ditunjuk pula PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai Bank Persepsi yang menyediakan Mini ATM di kantor-kantor pajak.

Baca Lebih Lanjut.

seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata



cobalah untuk mengerti
ketika segenggam cerita kau taburkan di pusara kesunyian
yang ada malam seperti di siang hari raya
atau serupa anak-anak kegirangan dengan kembang gula di mulutnya
ah kalau kau tak berketentuan
ini laksana aku bentangkan tangan di puncak kanchenjunga
sampai di spasi ini pun aku kehausan
dan kutenggak sebotol air putih
menenangkan kerongkongan
lalu aku teruskan membuat segumpalan puisi
yang masih tak percaya
hatimu menjelma dresden 71 tahun lalu

cobalah untuk mengerti
kelap-kelip lampu jalanan sepanjang lanteumen hingga mata ie
yang aku terabas dengan becak motor butut
dari seorang tua yang sudah tinggal di kota ini lima dasawarsa lalu
cuma mengisyaratkan kepadamu
kalau lelah sudah mengalah
kalau malam sudah menggelar tilam
kalau rinai sudah memperlihatkan taringnya
izinkan aku untuk mengajari kelopak mata
bagaimana cara terbaik menyelubungi
mata dan semua ingatan tentangmu

cobalah untuk mengerti
huruf-huruf yang kau pintal menjadi kata-kata
cuma sekadar cakap besar nyanyian para pengamen
yang masuk silih berganti ke warung mi razali
aku bergeming masih menikmati mi goreng cumi-cumi basah
sambil uluk kata maaf, maaf, dan maaf
lalu menjelang fajar kau terkaget-kaget
seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata
nyaris berdiri tegak di hadapan manekin keangkuhanmu
kalau saja dayang-dayang kenangan tak segera kau bangunkan

cobalah untuk mengerti
waktu sudah sedari tadi duduk di sampingku
sambil memijat-mijat punggung
mengusir letih yang menjadi kutu di rambut
mencabik-cabik kantung mata yang hinggap di wajah
sambil berbisik, “tidurlah. sudah dini hari.”
dia masih tak percaya padaku, balasku.
makanya aku biarkan jari-jariku ini
bukan untuk membuat perkamen, tapi prasasti
titik koma
a sampai z
kiri ke kanan
membiarkannya kehujanan lalu membatu
agar zaman bergulung-gulung lewat menjadi tahu
kalau senyummu itu senja firdaus yang tercecer di bumi
oooo, kaukah arca terakhir itu?

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
banda aceh, 7 april 2016

foto dari skyhdwallpaper.com

Change Doesn’t Happen Overnight



Di sebuah penjara. Di sebuah sel berukuran 2×3 meter persegi. Dengan cahaya yang masuk dari sela-sela jeruji pintu sel yang kokoh. Seseorang laki-laki berotot dan bermandikan keringat sedang mengolah fisiknya sedemikian rupa. Ada pushup, situp, pullup yang dilakukan dengan banyak repetisi. Sampai kemudian pintu sel itu berderak karena kuncinya yang terbuka. Brak!!!

“Ayo keluar. Kamu bebas!” kata sipir bermuka codet. Orang itu sesaat berhenti dan menengok, “It’s time to go home.”

Baca Lebih Lanjut.

5 Kunci Utama Selesaikan Pertengkaran di Antara Anak-anak



Pernah melihat anak kita bertengkar dengan saudara atau temannya? Pernah mendengar keluhan anak kita karena dipukul oleh temannya? Atau melihat kelakuan anak kita yang sok jago karena berhasil menjatuhkan kawannya dengan satu kali pukulan?

Pertengkaran di antara anak-anak itu adalah hal yang lumrah namun yang perlu disadari oleh orang tua adalah naluri perdamaian anak-anak lebih besar daripada naluri permusuhannya. Terutama anak-anak usia pra-sekolah tidak memiliki naluri untuk menyimpan dendam. Mereka mudah melupakan pertengkarannya.

Dengan demikian jangan sampai ketika anak-anak sudah berdamai namun orang tua mereka masih bermusuhan dengan ‘musuh’ anaknya.

Baca Lebih Lanjut.

LOG ENTRY: DAY 885



Masih seperti biasa. Azan Subuh berkumandang. Saya bangkit dari lelap. Mengambil air wudhu, memakai sarung, dan pergi ke meunasah yang jaraknya 300 meter dari rumah. Udara dingin karena baru selesai hujan. Jalanan sepi dan gelap.

Salat berjamaah dengan empat orang bapak-bapak. Lalu usainya, tak segera bergegas, merenung sebentar. Zikir dan kontemplasi atas banyaknya dosa yang senantiasa berulang. Sebagai manusia, dosa sungguh berjibun. Dosa yang sengaja atau tidak sengaja tercipta.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #69: Saat Bangun Tidak Capek itu Sebuah Kenikmatan



Rakorda di Lhokseumawe menyisakan sesuatu yang mengesankan buat saya. Bukan tentang rakordanya, kotanya, atau apanyalah. Tapi satu hal: bus malam jurusan Lhokseumawe-Medan. Ceritanya begini.

Akhir pekan setelah rakorda saya tidak kembali ke Tapaktuan. Sudah waktunya saya pulang ke Bogor. Dari Lhokseumawe banyak moda transportasi menuju Medan. Bisa travel, bus, ataupun pesawat. Saya pilih bus, karena pesawat baru bisa terbang besok sore. Sayang banget dengan waktu yang terbuang hanya seharian menunggu pesawat.

Di Lhokseumawe ada banyak bus. Entah bus yang berangkat langsung dari Lhokseumawe itu sendiri atau bus dari Banda Aceh yang mampir di kota ini. Jadi saya masih banyak disuguhkan alternatif moda transportasi.

Baca Lebih Lanjut.

Wow, Pajak Pesangon Besar Sekali. Mengapa Begini? Ini Jawabannya



Ada email masuk kepada saya dari Ibu Nur Laely. Ia sedang mempelajari perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 atas pesangon. Ada yang ingin ia tanyakan. Berikut email lengkapnya.

Email Ibu Nur Laely:

Terima kasih atas waktunya,

Saya mempelajari mengenai perhitungan pph 21 atas pesangon , Dan saya menemukan soal & jawaban berikut :

Agung Budi merupakan pegawai tetap pada PT. Maju Mundur sejak tahun 1980. Pada bulan April 2011, Agung Budi terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Agung Budi menerima pembayaran uang pesangon sebesar Rp. 900 juta yang dibayarkan secara bertahap oleh PT Maju Mundur dengan jadwal pembayaran sebagai berikut:

Baca Lebih Lanjut.