5 Kunci Utama Selesaikan Pertengkaran di Antara Anak-anak



Pernah melihat anak kita bertengkar dengan saudara atau temannya? Pernah mendengar keluhan anak kita karena dipukul oleh temannya? Atau melihat kelakuan anak kita yang sok jago karena berhasil menjatuhkan kawannya dengan satu kali pukulan?

Pertengkaran di antara anak-anak itu adalah hal yang lumrah namun yang perlu disadari oleh orang tua adalah naluri perdamaian anak-anak lebih besar daripada naluri permusuhannya. Terutama anak-anak usia pra-sekolah tidak memiliki naluri untuk menyimpan dendam. Mereka mudah melupakan pertengkarannya.

Dengan demikian jangan sampai ketika anak-anak sudah berdamai namun orang tua mereka masih bermusuhan dengan ‘musuh’ anaknya.

Pertengkaran pun akan menjadi semakin berlarut-larut jika orang tua ataupun pendidik salah dalam menyikapinya. Bahkan akan menghilangkan naluri perdamaian anak-anak jika orang tua malah memanas-manasi. Jangan sampai naluri hebat itu hilang karena kita salah asuh dan salah didik terhadap mereka.

Berikut 5 hal yang menjadi kunci utama dalam menyelesaikan pertengkaran di antara anak-anak. Diambil dari buku Mendidik Anak dengan Cinta yang ditulis oleh Irawati Istadi.

  • 1. Tidak mencari siapa yang salah

Karakter dasar anak-anak itu mempertahankan diri dan sulit mengakui kesalahannya. Menganggap dirinya paling benar dan nomor satu. Kalau terjadi perselisihan selalu melempar kesalahan kepada temannya.

Kalau menghadapi hal seperti itu sebagai orang tua harus bertanya kepada pihak ketiga. Bisa juga langsung bertanya kepada sang anak tetapi tidak langsung pada saat usai pertengkaran melainkan dalam kondisi yang tenang dan gembira.

  • 2. Tidak membela atau menyalahkan

Pembelaan akan merusak harga diri anak. Buat yang dibela akan menjadi sombong, sementara yang disalahkan akan jatuh harga dirinya. Akhirnya memungkinkan akan terjadi pertengkaran kembali. Yang satu ingin dimenangkan dan yang lain ingin balas dendam. Akan lebih parah jika orang tua tidak tahu kejadian yang sebenarnya dan hanya mendengar penuturan dari anak-anak saja.

  • 3. Motivasi untuk saling memaafkan

 Seperti yang telah diuraikan di atas naluri perdamaian itu adalah naluri dasar anak-anak. Ini perlu dipupuk terus agar jangan sampai hilang. Caranya dengan selalu memberikan motivasi kepada anak-anak.

Kepada anak yang sedang berada di atas angin berilah motivasi bahwa memaafkan itu lebih baik daripada terus memelihara dendam. Contohnya seperti ini, “Adi, kaki Iwan terluka karena kamu jatuhkan. Kasihan dia. Lebih baik kamu maafkan saja temanmu itu. Iwan mungkin belum tahu, kalau mengambil barang orang itu tidak boleh. Dia belum sepintar kamu. Nah, kau yang lebih pintar, maafkan saja kesalahan Iwan, agar kamu dapat pahala dari Allah.”

Kepada anak yang menjadi korban dan dalam posisi kalah, bisa diberi motivasi dengan cara membesarkan hatinya dan mengalihkan perhatiannya kepada hal yang lain. Jika mereka benar tapi tidak punya kuasa untuk melawan maka beri motivasi untuk bersabar. Katakan saja, “Allah tidak tidur. Biarlah kesalahan temanmu itu dibalas sendiri oleh Allah di akhirat.”

Orang tua jangan pernah untuk memanas-manasi anaknya karena hal ini malah akan memupuk permusuhan dan dendam.

Pantang buat orang tua menunjukkan kesalahan dan kejelekan teman di hadapan anak. Tutupi saja keburukan teman anak sehingga tidak mendidik anak dengan menilai keburukan temannya.

  • 4. Tidak perlu lari dari permasalahan

 Memindahkan anak dari sekolah karena anak mendapatkan perlakuan kenakalan temannya itu sama saja dengan lari dari permasalahan. Yang harus dihindari bukan permasalahnnya karena perselisihan antar anak adalah hal yang wajar. Untuk menjadi dewasa anak perlu untuk berebut, bertengkar, dan perlu sesekali menjadi korban yang tak berdaya. Yang harus diupayakan adalah jalan keluar.

  • 5. Menerima dengan lapang dada

Butuh kesabaran dan ketahanan mental tersendiri bagi orang tua untuk melihat pertengkaran yang terjadi di antara anak. Kesabaran dan kelapangan dada sangat dibutuhkan agar orang tua tidak timbul keinginan untuk campur tangan ke dalam pertengkaran itu.

Beri kesempatan anak menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan dibantu motivasi dari orang tua. Dan yang terakhir, jaga perasaan dengan orang tua teman anak tersebut. Jangan sampai antar orang tua pun ikut bermusuhan.

Selamat belajar, selamat mendidik, dan selamat menjadi orang tua. Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

25 Maret 2016

Tulisan ini dibuat untuk ayolebihbaik.com

http://www.ayolebihbaik.com/5-kunci-utama-selesaikan-pertengkaran-di-antara-anak-anak/

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s