LOG ENTRY: DAY 885



Masih seperti biasa. Azan Subuh berkumandang. Saya bangkit dari lelap. Mengambil air wudhu, memakai sarung, dan pergi ke meunasah yang jaraknya 300 meter dari rumah. Udara dingin karena baru selesai hujan. Jalanan sepi dan gelap.

Salat berjamaah dengan empat orang bapak-bapak. Lalu usainya, tak segera bergegas, merenung sebentar. Zikir dan kontemplasi atas banyaknya dosa yang senantiasa berulang. Sebagai manusia, dosa sungguh berjibun. Dosa yang sengaja atau tidak sengaja tercipta.

Berdoa banyak-banyak. Perlahan dan menjelma pengemis yang sesungguhnya. Menghiba kepada Sang Maha Berkehendak. Ia Maha Tahu atas segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati, karenanya ini adalah saat terbaik untuk berucap mesra dengan-Nya.

Setelah itu kembali ke mes dan mengambil mushaf besar di atas lemari setinggi 50 cm. Membaca cukup setengah juz untuk pagi ini. Kemudian mengisi Ahad pagi dengan lari sejauh 10 km. Dengan kecepatan lambat yang saya sengaja.

Setelah itu minum whey, lalu sarapan dengan dua lembar roti tawar ditambah sarden, dan memperbanyak minum air putih. Apa lagi? Baca-baca buku yang seringkali tidak tuntas saya baca habis. Setelah itu blank.

Masih memandang langit-langit kamar memikirkan sesuatu. Memikirkan banyak hal. Memikirkan tentang tawaran menulis di dua tempat yang belum saya penuhi. Dua tema berbeda. Tema tentang pengasuhan anak dan tema tentang pajak.

Kurang modalnya. Kurang baca buku. Jadinya begitu. Buku-buku sudah saya pindahkan ke Citayam semua sejak bulan Oktober tahun lalu ketika genap dua tahun di Tapaktuan. Ternyata masih lama keberadaan saya di sini. Efeknya adalah ketiadaan referensi. Kosong.

Barangkali saya perlu mengganti kata “paint” dengan “ink” untuk mengisi kekosongan itu dalam sebuah kalimat yang ditulis oleh Kimberly Novosel, “I decided I would fill the emptiness in me with God and with paint.”

Membaca dengan menggenggam fisik buku lebih saya sukai daripada membaca layar komputer.

Di hari 885 ini, masih harus memupuk semangat, memotivasi diri, bersabar, berpikir positif, dan menjadi manfaat buat orang lain saat argo ini terus berjalan. Ini seperti Mark Watney saat terdampar di Mars. Ia ditinggal oleh tim Ares 3 karena dianggap telah tewas saat badai Mars menerjang Hab (tenda pangkalan).

Cerita Mark Watney ini saya baca di buku yang ditulis oleh Andy Weir berjudul The Martian: Si Penghuni Mars. Buku Andy yang keluar di tahun 2011 dan cetak ulang di tahun 2014, kemudian difilmkan dan dirilis September 2015, dan buku terjemahannya baru ada di Januari 2016.

Novelnya sudah saya baca habis, sudah saya bikin resensinya, dan sudah saya kirim ke media internal Kementerian Keuangan, entah dimuat atau tidak. Setelah itu sudah saya tonton filmnya di internet. Matt Damon memerankan Mark Watney. Bukunya lebih bagus daripada filmnya.

Hari 885, belum juga ada tanda-tanda Ares 4 menjemput saya di sini. Houston sepertinya sibuk sendiri dengan urusannya. Entah apa saja yang mereka kerjakan di sana. Padahal gaji sudah besar dan dekat dengan bumi tempat ia dilahirkan. Tak ada urusan keluarga yang mereka pikirkan. Berkeping-keping hati mereka seharusnya penuh dengan endorphin karena dekat dengan keluarga.

Tapi janji tinggallah janji. Aturan memang seringkali dibuat untuk dilanggar. Dibuat dilanggar. Dibuat dilanggar. Dibuat dilanggar. Sepertinya saya memang harus “survival”. Mengendarai MAV—Mars Ascent Vehicle—untuk bisa ke orbit Mars agar dapat dijemput. Yang penting tidak gila dan tidak ikut-ikutan gila.

Houston, di sini sedang hujan saat menuliskan kata “gila”. Saya ambil sekeping biskuit dan memakannya. Sebuah sumber kalori yang bagus buat tubuh. Logistik aman sampai hari-hari ke depannya. Tinggal kekuatan mental. Sudah keping kelima biskuit yang saya makan sampai menulis di paragraf ini.

Saya suka buku dan film bertemakan Sci-fi. Tiga hari ini saya sudah habis tonton ulang Alien, Aliens, Alien 3, Alien Resurrection, Alien VS Predator, Alien VS Predator: Requiem , dan Prometheus. Semua ada benang merahnya. Barangkali Mark melakukan hal yang sama, dia menonton semua film jadul dan musik disko milik komandan ekspedisi gagal ini: Lewis, yang tertinggal di Hab.

Houston, this day 885.
Time is over. Mayday…mayday…mayday.

Sinyal itu semakin lemah berkedip dilihat dari layar besar di ruang kontrol Houston. Semua terdiam sambil mengelus-elus perut buncit mereka. Sambil berkata di dalam hati: “Untung bukan gue yang di Mars.”

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20 Maret 2016

Rihlah Riza #70

Houston, Texas adalah Markas Nasa.

Gambar dari: http://wfiles.brothersoft.com/

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s