Waktu itu Sekolah Dasar (SD) kami menyelenggarakan kegiatan Pramuka. Acaranya hiking dan mencari jejak. Saya ikut. Lengkap dengan seragam pramuka dan perlengkapannya. Ditambah satu termos besar berisi es bungkus. Es bungkus dengan rasa teh manis ini saya ambil dari tetangga.
Ya, sambil ikut pramuka saya jualan juga. Laku? Alhamdulillaah, laku keras. Saya senang kalau teman-teman pada kelelahan karena berjalan jauh ini di tengah terik matahari, dengan begitu mereka akan mengincar es teh saya. Semakin mereka lelah, semakin ringan termos yang saya bawa ini. Keuntungan jualan ini buat jajan. Itu pengalaman berdagang saya waktu SD.
Atas jasa-jasanya membantu Kesultanan Demak, Ki Ageng Sela mendapatkan desa perdikan di Grobogan. Penduduknya dibebaskan dari pembayaran pajak dan kerja wajib. Saat masa kolonial Hindia Belanda tiba status perdikan tetap dipertahankan dengan Staatsblad nomor 77 tahun 1853. Status yang kemudian lenyap pada saat kemerdekaan Republik Indonesia dan tak elok terjadi pada kiwari yang menuntut kesadaran lebih-lebih.
Membaca Opini Kompas, Kamis, 19 Maret 2020, yang ditulis oleh Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Suyanto membenarkan pemikiran selama ini. Laku pada kondisi sekarang bukan hanya soal membangkitkan kesadaran mencuci tangan, namun mengubah pemikiran orang tentang banyak hal.
Mejaku berantakan. Buku-buku menjulang berusaha menggapai langit walau baru sekadar 30 cm. Meja di belakangku juga serupa. Kertas centang perenang, benda-benda kecil bertaburan, dan berdebu.
Niat untuk membereskan meja itu sedari dulu sudah muncul, tetapi tak kuasa menjelma menjadi upaya. Aku hanya masih bisa terpukau dengan mejanya teman sejawat, Bu Harmini di Direktorat P2Humas dan Mas Rizky Piet di Direktorat Penegakan Hukum, yang bersih tiada tara.
Moldova adalah negara yang rakyatnya paling tak bahagia. Islandia sebaliknya. Sebabnya adalah rakyat Moldova kurang percaya satu sama lain. Di Islandia, pertemanan adalah segalanya. Itu kesimpulan sebuah penelitian beberapa waktu lampau.
**
Hari ini, Selasa, 17 Maret 2020 adalah hari pertama kami melaksanakan Kerja dari Rumah (KDR) atau Work from Home. Sebanyak 80% pelaksana Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak melaksanakan KDR itu.
Di atas pesawat Pak Muchamad Ardani membaca buku kedua saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Ia kemudian menulis panjang atas pembacaannya itu di akun Facebook-nya. Buat saya itu adalah sebuah kehormatan.
Maka benarlah yang William Gibson katakan kepada kita, “Ketika Anda bertemu dengan seorang penulis, Anda bukan bertemu dengan pikiran yang menulis buku. Anda bertemu dengan tempat pikiran itu tinggal.” Berikut testimoninya.
Buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini terbang melewati ngarai dan lembah, samudra dan daratan menuju Pulau Lombok. Teman saya Mas Yacob Yahya telah menerima buku yang dipesannya. Ia memberikan tertimoni yang mengesankan buat saya. Terima kasih Mas Yakob. Semoga buku tersebut bermanfaat buat kita semua.
Berikut testimoninya di laman Facebooknya pada tanggal 15 Maret 2020:
Berkali-kali saya dibuat tercengang. Setelah ada yang berlari untuk mengambil buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini, kini ada pula yang memang menyengaja datang jauh-jauh-jauh ke kantor saya sekadar untuk mendapatkan buku itu. Saya merasa menerima anugerah yang luar biasa besarnya. Kali ini Pesohor Facebook Mas Wahid Nugroho menuliskan pengalamannya di laman Facebook.
Lelaki di sebelah saya ini namanya Riza Almanfaluthi. Saya biasa memanggil beliau mas Riza. Di kalangan terbatas, beliau biasa dipanggil Ki Dalang. Soal panggilan Ki Dalang ini ceritanya bisa panjang, jadi kita lewati saja lah ya, ha ha.
Seperti biasa saya mengecek formulir pemesanan buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Pemesanan yang sampai saat ini belum bisa tertangani semuanya.
Saya menjumpai salah satu nama dalam formulir itu. Ia memberi catatan khusus dalam kolom keterangannya. Apa yang ia catat?
Mas Wiyoso sedang mengajar kelas di KPP PMA Lima (4/2).
Omong-omong, hari ini (Selasa, 4 Februari 2020) saya bersilaturahmi dengan segelintir orang yang memang berniat untuk belajar menulis di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Lima. Kami memang meminta kepada pengampu di sana yaitu Mas Anang Anggarjito, kalau untuk belajar menulis itu tidak perlu dihadiri banyak pegawai satu kantor, tetapi cukup oleh pegawai yang serius belajar menulis dari lubuk kalbunya yang paling dalam.
Akhirnya terkumpul 20 orang yang berniat belajar menulis. Acara diadakan satu setengah hari mulai Selasa sampai Rabu (4-5 Februari 2020). Nah, pas pada sesi belajar menulis opini yang saya ampu siang ini, saya memberikan materi, salah satunya tentang membuat judul yang menarik. Judul itu penting karena judul adalah kesan pertama dan paling utama dari sebuah tulisan. Ketika kita berkunjung ke toko buku, lalu mengambil satu buku, itu karena apa? Karena kita melihat judul.