Menjemput Buku di Waktu Pagebluk


Photo by Pixabay on Pexels.com

Menulis itu gampang. Itu saya akui betul. Namun mengupayakannya menjadi sebuah buku itu tantangan luar biasa. Apalagi di tengah budaya literasi di Indonesia yang kurang mendukung—untuk tidak mengatakannya rendah.

Maka apresiasi pembaca dengan membeli buku, membacanya di perpustakaan, memberikan testimoni, membuat telaah (review) atau resensi buku adalah laku yang membuat penulis buku bersemangat untuk terus berkreasi.

Barangkali serupa seorang Youtuber yang selalu memberikan prakata dalam tayangannya dengan berpesan kepada pemirsa untuk jangan lupa subscribe dan memberikan like, comment, atau share atas kontennya itu agar mereka bisa terus berkarya menyuguhkan konten bermutu.

Alhamdulillah, tidak sedikit teman-teman saya yang sudah membeli buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini memberikan dorongan yang luar biasa atas karya saya ini. Mereka mengirimkan pesan secara pribadi, membuat story di media sosialnya, mengirimkan foto bersama buku itu, membikin testimoni, atau menceritakan bagaimana cara mereka mendapatkan buku ini.

Itu buat saya bombongin ati (melegakan hati). Banget dan banget

Seperti beberapa pekan yang lalu ada teman saya yang berlari empat kilometer dari rumahnya sekadar menjemput buku ini. Ini luar biasa. Ada juga di tengah kesibukan dan kedukaannya teman saya yang lain melakukan hal yang lebih-lebih.

Serupa yang dikisahkan oleh Marietta Servanda Sitorus Pane di akun Facebooknya pada 3 April 2020. Saya hanya menyunting sedikit sekali untuk memudahkan pembacaan dalam tampilan blog. Berikut kisahnya:

 

Kelelahan yang bertubi-tubi sejak mengurusi pernikahan adik ipar pada Februari lalu, disusul perjalanan dinas yang langsung disambut mengurusi anak sakit selama seminggu, kemudian tidak putus mendapat kabar abang yang masuk RS untuk diopname dan akhirnya pulang ke rumah bapa pertengahan Maret ini, membuahkan rasa ingin bernapas panjang dan duduk bersemedi di dalam sunyi.

Di tengah “keparnoan” gejala Covid-19, sehingga tiap hari memegang leher dan mengukur suhu badan, selalu terucap doa memohon Kepada yang Maha Penguasa Alam Semesta untuk melalukan segera badai pandemik Corona yang menghantui setiap hari.

Siang itu, front office kantor menelepon untuk memberitahukan bahwa ada paket dari teman saya, Riza Almanfaluthi. Saya diingatkan bahwa saya telah lupa akan pesanan buku itu. Teman saya yang sangat rajin menulis ini, yang dulu saya sering baca tulisannya di blognya, Dedaunan di Ranting Cemara, selalu bercerita penuh makna.

Inisiatif isolasi mandiri yang saya ambil sejak pemakaman abang saya belum sampai di hari ke empat belas, tetapi keinginan untuk segera menjemput buku ke kantor tidak terbendung.

Selasa kemarin, sebelum berangkat ke kantor, saya terlebih dahulu menelepon kantor untuk menyiapkan paket saya agar saya tidak perlu turun dari mobil dan tidak melakukan kontak ke banyak orang.

Saya mengendarai mobil ke kantor, (tentunya dengan prosedur Covid-19) memakai masker, mengambil paket (yang telah disemprot security dengan desinfektan), menyemprot tangan dengan hand sanitizer, setelah serah terima langsung cuss go.

Hari Rabu saya menikmati buku ini. At least menambah vitamin jiwa.

Terima kasih kawan. Covid-19 ini telah menciptakan sejarah. Sejarah bukan hanya untuk Covid-19, tetapi bahkan untuk dunia ini. Sengaja saya menulis ini biar pada suatu saat bisa dilihat kembali di timeline bahwa si Covid ini pernah memorakporandakan kehidupan umat manusia, tetapi kemudian menampar, dan membuat manusia mengerti bahwa manusia hanya debu yang tidak berkuasa atas dirinya. Hanya Tuhan, Allah yang perkasa yang patut disembah dan berkuasa atas segalanya.

**

Terima kasih Etta atas apresiasinya. Terima kasih telah berkarib dengan buku. Semoga kita senantiasa bahagia. 

Terakhir, izinkan saya mengutip pesan dari ahli hikmah siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.

Salam.

**

Buat teman-teman yang sedang mencari hadiah untuk kawan, pasangan, atau sahabat, dan hendak memesan buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini yang sudah memasuki cetakan kelima, silakan mengisi formulir berikut:

 

https://forms.gle/2XtH4KEPG9wqgYVq9

 

Sinopsis buku ini bisa dibaca pada tautan ini: https://rizaalmanfaluthi.com/2020/02/24/buku-kedua-itu-terbit-orang-miskin-jangan-mati-di-kampung-ini/

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
06 April 2020

 

Buku dan Kopi Pagi


Di atas pesawat Pak Muchamad Ardani membaca buku kedua saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Ia kemudian menulis panjang atas pembacaannya itu di akun Facebook-nya. Buat saya itu adalah sebuah kehormatan.

Maka benarlah yang William Gibson katakan kepada kita, “Ketika Anda bertemu dengan seorang penulis, Anda bukan bertemu dengan pikiran yang menulis buku. Anda bertemu dengan tempat pikiran itu tinggal.”  Berikut testimoninya.

Baca Lebih Lanjut

Jangan Terlalu Cepat Menjadi Sixpack


Berkali-kali saya dibuat tercengang. Setelah ada yang berlari untuk mengambil buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini, kini ada pula yang memang menyengaja datang jauh-jauh-jauh ke kantor saya sekadar untuk mendapatkan buku itu. Saya merasa menerima anugerah yang luar biasa besarnya.  Kali ini Pesohor Facebook Mas Wahid Nugroho menuliskan pengalamannya di laman Facebook.

Lelaki di sebelah saya ini namanya Riza Almanfaluthi. Saya biasa memanggil beliau mas Riza. Di kalangan terbatas, beliau biasa dipanggil Ki Dalang. Soal panggilan Ki Dalang ini ceritanya bisa panjang, jadi kita lewati saja lah ya, ha ha.

Baca Lebih Lanjut

Apa Kesan Pertama Bersua Dengan Istrimu?


Mas Wiyoso sedang mengajar kelas di KPP PMA Lima (4/2).

Omong-omong, hari ini (Selasa, 4 Februari 2020) saya bersilaturahmi dengan segelintir orang yang memang berniat untuk belajar menulis di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Lima. Kami memang meminta kepada pengampu di sana yaitu Mas Anang Anggarjito, kalau untuk belajar menulis itu tidak perlu dihadiri banyak pegawai satu kantor, tetapi cukup oleh pegawai yang serius belajar menulis dari lubuk kalbunya yang paling dalam.

Akhirnya terkumpul 20 orang yang berniat belajar menulis. Acara diadakan satu setengah hari mulai Selasa sampai Rabu  (4-5 Februari 2020). Nah, pas pada sesi belajar menulis opini yang saya ampu siang ini, saya memberikan materi, salah satunya tentang membuat judul yang menarik. Judul itu penting karena judul adalah kesan pertama dan paling utama dari sebuah tulisan. Ketika kita berkunjung ke toko buku, lalu mengambil satu buku, itu karena apa? Karena kita melihat judul.

Baca Lebih Lanjut

Kapan Aku Bisa Menulis Buku?


Pak Bagus di sebelah kanan saya. Pak Harris Rinaldi di sebelah kiri saya.

Pertanyaan itu terhidang kepada saya di suatu petang ketika saya berada di kelimunan orang di dalam gerbong KRL yang lumayan padat. Jawaban yang disampaikan sama seperti yang saya berikan kepada setiap orang lain yang bertanya hal serupa, yaitu: fokuslah menulis (buku dan apa pun) tentang hal yang paling dikuasai serta menabunglah.

Buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini juga adalah hasil tabungan (menulis) selama bertahun-tahun itu. Saya mah yakin, kalau saya saja bisa menulis (buku), apalagi teman saya yang bertanya itu, dan juga teman-teman sekalian. Sungguh, tidaklah sulit. Beneran, saya mah apa atuh. 🙏🙏🙏

Baca Lebih Lanjut

Riza Alhamdulillah Itu bukan Namaku.


Beberapa hari yang lalu saya bersua dengan seorang kawan yang berdinas di kantor pajak Poso nan pelosok. Namanya Mas Danang Nurcahyo. Pertemuan itu selepas salat zuhur di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.

Saya kaget dengan penampilan barunya. Kali ini lebih kurus daripada yang pernah saya jumpai di pertemuan yang terakhir. Ya, benar. Sewaktu pertama kali menginjakkan kakinya di Poso 2 tahun 8 bulan yang lalu berat badannya 84 kg. Kini sekitar 74 kg saja. Luar biasa.

Continue reading Riza Alhamdulillah Itu bukan Namaku.

Berlari Sejauh Delapan Kilometer Pulang Pergi Untuk Membaca Buku Ini


Karena saya adalah pelari hobi, maka untuk mengambil buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini, Mas Haryo Seno menggunakan kesempatan itu dengan berlari dari rumahnya yang berjarak empat kilometer saja dari rumah saya

Maka Sabtu pagi itu ia berlari. Dering teleponnya membangunkan saya yang sedang mager (males gerak). “Saya sudah di depan rumah,” katanya. Wah, ia sudah datang.

Baca Lebih Lanjut