BIBI TEBU


BIBI TEBU

Bibi saya yang satu ini sangat dekat sekali dengan ibu saya. Waktu meninggalnya ibu dia tampak yang sangat terpukul. Ibu adalah tempat curhat bibi di saat ia kesepian ditinggal suaminya kerja di Arab Saudi. Sebelum menikah pun ia tinggal dengan ibu.

    Hari ini saya teringatnya. Ia masih muda. Tapi saya menganggapnya sebagai pengganti ibu. Dua minggu dengan serangan maag bertubi-tubi, saya baru sadar kalau saya belum minta doa padanya. Segera saya mengirimnya pesan pendek tadi pagi. “Lik, nyuwun pandongane, kula kena maag dereng sembuh sampun kali minggu.” Yang tidak mengerti bahasa Indramayu saya terjemahkan ke bahasa Inggris Indonesia dulu: “Lik, minta doanya, saya kena maag belum sembuh juga sudah dua minggu.”

    Pada saat saya sedang mendiskusikan berkas yang akan diperiksa di Pengadilan Pajak dengan tim saya, pesan dari bibi saya mampir di telepon genggam, mau tahu apa yang ia katakan? Saya tidak menyingkat pesannya agar bisa dimengerti.

“Assalaamu’alaikum, Ang aja mangan sing pedes-pedes, keras-keras, asem-asem ari lagi kerasa. Lamon bisa mangan segane sing lemes toli baka mangan aja langsung akeh, setitik-setitik tapi sering. Lamon parek tak gawekena jamu kunir karo temulawak. Alhamdulillah Lik Idah ora pernah kerasa maning. Sing sabar bae ya Ang gage diobati sebelum parah. Ari Bapak priben waras?”

    Saya terus terang saja mengulum senyum saat baca pesan dari bibi saya ini. Saya jadi kangen bicara Dermayuan. Tapi tolong pembaca ya, jangan kami samakan dengan saudara kita yang bicaranya ngapak-ngapak itu yang kalau ngomong seperti ini nih: “Mamake wis balik?” Dengan huruf k yang medok banget. Beda sungguh. Jangan tersinggung yah.

    Ayo kita terjemahkan satu persatu ke dalam bahasa Jerman (Jejeran Sleman) Indonesia. Oh ya Ang itu adalah panggilan kepada kakak atau saudara tua. Bibi saya selalu memanggil saya Ang Riza agar anak-anaknya—saudara sepupu saya—juga ikutan memanggil dengan sebutan demikian. Sebuah penghormatan.

“Assalaamu’alaikum, Ang jangan makan yang pedas-pedas, keras-keras, asam-asam kalau lagi terasa. Kalau bisa makan nasi yang lemas, juga kalau makan jangan langsung banyak, sedikit-sedikit tapi sering. Kalau dekat sih akan dibuatkan jamu kunir dengan temulawak. Alhamdulillah Lik Idah tidak pernah terasa lagi. Yang sabar saja ya Ang cepat diobati sebelum parah. Kalau Bapak bagaimana sehat?

    Pesan darinya seperti bara yang dimasukkan ke dalam air, cess…! Mendinginkan. Bibi saya ini memang perhatian banget dengan anak-anaknya ibu saya. Kalau pulang dari rumahnya di desa Segeran—sentra buah mangga Indramayu—saya pasti diberi oleh-oleh kesukaan saya seperti krupuk melarat atau krupuk bumbu. Atau dimasakkan “blekutak” sejenis cumi dengan tinta hitamnya yang khas. Makanya setiap lebaran sebelum ke Semarang Insya Allah saya selalu mampir ke rumahnya.

    Hmm, yang pasti kalau lagi musim buah mangga, wuih itu yang namanya desa Segeran penuh dengan pohon-pohon yang buahnya sampai terjuntai ke tanah. Kuning merekah. Saya biasanya dibawakan satu kardus penuh buah mangga untuk dibawa ke Jakarta. Bukan untuk saya, karena saya tidak suka buah. Bibi sudah tahu itu. Untuk siapa dong? Untuk keluarga di rumah dan teman-teman kantor biasanya. Itulah kebaikannya.

    Dan bapak saya sampai berpesan, “tolong bantu kalau dia butuh pertolongan.” Insya Allah Pak. Tiba-tiba teringat masa kecil waktu bibi disuruh Ibu untuk menceboki saya. Ia dengan enggan mendatangi saya. Saya jelas lari darinya. Kenapa? Dia pakai batang tebu untuk menceboki saya. Saya langsung kabur.

    SMS-nya masuk kembali. “Tapi wis berobat durung? Toli kerjane priben? Tetep mangkat? Sangu roti bae kanggo ngisi weteng sebelum jam makan, aja sampe kosong nemen.” (Tapi sudah berobat belum? Kemudian pekerjaan bagaimana? Tetap berangkat? Bekal roti saja buat mengisi perut sebelum jam makan, jangan sampai kosong sekali).

    Saya cuma membalasnya dengan ucapan Jazakillah Khoiron Katsiiro, Bi. Semoga Allah membalas kebaikan bibi dengan kebaikan yang berlipat ganda. Doanya telah meringankan saya hari ini.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas ketinggian lantai 9 gedung Pengadilan Pajak

11.32 10 Februari 2011    

 

    Tags: segeran , jatibarang, ngapak, dermayuan, indramayu, jerman, jejeran sleman, sleman, inggris, indonesia, pengadilan pajak, sentra mangga

Advertisements

CARILAH MODEL: DARI INDIA HINGGA MALAYSIA


CARILAH MODEL: DARI INDIA HINGGA MALAYSIA

 

Cakra saya masih setengah. Malam ini saya masih ingin menulis yang ringan-ringan saja. Ada sih di otak bahan untuk nulis nyang entu tuh…reward and punishment atau stick and carrot. Biarlah itu sih untuk hari libur saja. Besok juga masih harus rekonsiliasi dengan Wajib Pajak di Pengadilan Pajak. Masih ada hari esok. Tak perlu dipaksakan.

Sudah jam satu malam tapi masih saja ada yang corat doret di di dinding facebook (fb)–termasuk saya. Ada yang nyetatus lagu India ada juga lagu Malaysia—lagunya itu tuh Siti Nurazizah Nurhaliza. Yang lagu India diposting dari temen yang ada di Dammam Arab Saudi. Di sono masih jam 10-an malam kali.

Saya jadi teringat sesuatu nih. Masih dengan sosok ibu Guru kelas 1 SD yang ada di Sidoarjo sana. Punya semangat besar menulis. Berusaha untuk menciptakan karya. Walaupun hanya untuk ditampilkan di sebuah blog. It’s oke. Perjuangan yang patut untuk diapresiasi. Tanya ini dan itu pada saya. It’s oke juga. Saya justru senang. Itu ciri orang mau maju. Dia nganggap saya guru—dengan segala keterbatasan yang ada. Jeruk makan jeruk. Guru makan guru.

Saya jadi ingat sekitar hampir enam atau tujuh tahun lampau. Saat saya masih sama kondisinya dengan guru yang dari Sidoarjo ini dalam dunia kepenulisan. Berusaha untuk membangkitkan kemampuan menulis yang terpendam lama dengan berusaha belajar kepada sosok teman yang sudah hebat dalam proses kreatif menulis. Dia juga sudah menghasilkan buku. Salah satunya adalah: Hari Ini Aku Makin Cantik, ya betul penulisnya adalah dia, dia, dia Azimah Rahayu. Cari saja di Google atau FB ada deh nama itu.

Saya banyak belajar darinya. Saya sedang mencari model. Saya cermati betul tulisannya. Jumlah karakter. Jumlah kata. Jumlah paragaf dan jumlah halamannya. Coba lihat artikel-artikel saya zaman dulu: gaya tiga halaman adalah persis dari dia. Saya juga belajar cara dia memandang sesuatunya, cara membuka dan menutupnya, dan lain sebagainya. Pokoknya dia adalah the real model. Yang pasti dia mau berbagi. Mau memberikan saran dan masukan. Sampai pada suatu titik bahwa apapun yang diberikan guru tetap semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

Akhirnya inilah saya, pada saat ini. Yang menulis hanya untuk mencari kepuasan. Menuntaskan kegelisahan. Mengabadikan pikiran. Menentang kezaliman. Menyuarakan ketertindasan. Melawan kebohongan. Menyingkirkan kebisuan. Mengungkapkan perasaan. Tidak lain. Tidak bukan. Insya Allah.

Saya—dari hati yang paling dalam—pada malam ini mengucapkan terimakasih yang tulus kepada teman saya dan ibu guru saya, compradore di Forum Lingkar Pena: Azimah Rahayu, semoga ini menjadi amal ibadah yang tak berhenti mengalir.

Yang saat ini masih terus menerus belajar menulis, pesan saya satu: carilah model. Siapapun dia dan di mana pun dia berada. India, Malaysia, Indonesia whatever-lah. Pelajari dengan seksama. Suatu saat Anda akan menemukan gaya Anda sendiri. Yang ini sudah saya bilang berkali-kali pada ibu guru di timur sana. Tetap semangat. Terus menulis. Ungkapkan semua yang dirasa, yang dilihat, yang didengar. Siti Nurazizah Nurhaliza yang bukan seorang penulis saja dan tengah malam ini lagi nyanyi-nyanyi sampai berpesan: “kekasih tulis namaku di dalam diari hatimu”. Ayo tulislah. Apapun.

Semoga bermanpaat bermanfaat. Selamat berkarya.

***

 

Riza Almanfaluthi

ngantuk…

dedaunan di ranting cemara

02.21 WIB 28 Januari 2011.

 

Tags: forum lingkar pena, flp, azimah rahayu, siti nurhalizah, dammam, arab saudi, saudi arabia

 

NOTULENSI, NOTULEN, ATAU NOTULA?


NOTULENSI, NOTULEN, ATAU NOTULA?

(Dimuat dan Diambil dari Situs BahasaKita.com)

Jum’at sore, saya membaca sebuah hasil rapat yang terdiri dari beberapa halaman. Judul lembaran itu adalah NOTULENSI RAPAT. Karena saya merasa sudah pernah berburu kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia di laman Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia saya mencoba mengoreksi judul tersebut. Tapi yang membuat lembaran hasil rapat tersebut bersikeras bahwa yang betul adalah notulensi.

Oke, saya akan berbagi kepada Anda semua. Tapi sebelumnya saya memberitahukan kepada Anda jika Anda mengetik kata notulensi di laman pencarian seperti Google maka Anda akan mendapatkan pemakaian kata notulensi banyak dipakai oleh instansi-instansi beken di republik ini.

Dan kepada siapa kita akan merujuk tentang bentuk kata yang benar dari sebuah kata? Maka jawabannya adalah tentu kepada sebuah instansi pemerintahan yang berwenang dan kapabel dalam menangani ini. Pusat Bahasa tentunya.

Di laman Kamus Besar Bahasa Indonesia yang telah disediakan oleh Pusat Bahasa itu maka dapat dicari banyak kata dasar. Kalau kita memilih bentuk pencarian “memuat” dan mengetikkan kata notul pada kotak yang disediakan tersebut maka daftar kata yang ditampilkan ada tiga:

  • Notula;
  • Notulen;
  • Notulis.

Coba lihat tak ada kata notulensi di sana. Saya tidak tahu darimana kata ini berasal. Apakah KBBI yang lupa memasukkan kata ini atau adakah sumber lain yang meyakinkan saya bahwa kata ini memang layak untuk dipakai.

Mungkin maksudnya karena ini berkaitan dengan dokumen dan kata dokumen berdekatan dengan kata dokumentasi, maka kata notulen didekatkan pula dengan imbuhan “si” di belakang sehingga menjadi notulensi. Pengaitan yang salah.

Mari kita cari tahu definisi ketiga kata itu.

no·tu·la
n catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yg dibicarakan dan diputuskan: — rapat merupakan dokumentasi penting

no·tu·len ? notula

no·tu·lis
n orang yang bertugas membuat notula (catatan rapat)

Terkadang orang juga banyak yang bingung dalam pemakaian kata siapa yang bertugas membuat catatan rapat. Notulis atau notulen? Tentu setelah Anda membaca pengertian di atas semoga tidak keliru untuk memakainya.

Contoh yang salah dari pemakaian kata notulen:

Saya butuh seorang notulen yang mengerti tentang isu pencemaran udara.”

“Saya diminta sama seorang teman buat jadi notulen di acaranya yang cukup berbau internasional.”

Yang benar adalah:

“Saya butuh seorang notulis yang mengerti tentang isu pencemaran udara.”

“Saya diminta sama seorang teman buat jadi notulis di acaranya yang cukup berbau internasional.”

Jadi singkatnya, catatan rapat itu disebut notula sedangkan yang membuat notula adalah notulis.

Pakailah kata notula atau notulen jangan notulensi. Dan pakailah notulis jangan notulen untuk menunjukkan siapa yang membuat catatan rapat.

Semoga informasi ini berguna buat Anda semua.

***

Catatan: yang tidak setuju tentang catatan kecil saya ini coba tunjukkan kepada saya sebuah landasan yang betul dari pemakaian kata notulensi.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis untuk laman Bahasa Kita yang diasuh oleh Wieke Gur

09.09 16 Januari 2009

Melihat Ketua BIN dari Jauh


25.01.2006 – Melihat Ketua BIN dari Jauh

Suatu sore, ketika hendak mengambil KTP saya di gerbang komplek BIN, saya dikejutkan oleh teriakan dari anggota TNI yang bertugas di pos tersebut kepada teman-temannya yang sedang duduk santai di samping pos. Mereka yang berpakaian preman langsung bersembunyi masuk ke dalam pos, sedangkan mereka yang berpakaian dinas “sekuriti” langsung mengambil segala atribut yang harus dikenakannya.
Saya yang segera pergi dari pos itu sambil menengok ke belakang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Ternyata, dari kejauhan ada sosok tegap, berkulit bersih, berpakaian sport menunggang kuda tinggi berwarna coklat. Di belakangnya terdapat beberapa pengawal dengan berjalan kaki dan ada juga yang menaiki kendaraan seperti mobil golf—hanya yang ini lebih besar lagi.
Langsung semua pemakai jalan di suruh minggir oleh pengawal, pos penjagaan yang berada di depan komplek langsung di tutup, sehingga ada beberapa kendaraan yang hendak memasuki komplek terpaksa berada di luar untuk beberapa saat. Sampai sosok berkuda itu menjauh dan di saat saya meninggalkan komplek itu, pintu gerbang masih di tutup.
Pembaca tahu siapa dia? Ya betul, dia adalah orang nomor satu dalam penanganan intelejen di negara republik ini. Hendropriyono. Sosok yang menjadi momok bagi umat Islam di era orde baru berkuasa dan sedang jaya-jayanya. Siapa yang tidak ingat dengan peristiwa Warsidi Lampung yang berdarah-darah itu.
Sekarang, ia menjadi Ketua Badan Intelejen Indonesia, suatu jabatan setingkat menteri, dan bertanggung jawab langsung terhadap presiden. Kalau pembaca adalah orang-orang yang sering melewati jalan antara Kalibata dan Volvo Pasar Minggu, maka pasti Anda akan melihat suatu renovasi besar-besaran di lingkungan komplek. Apalagi kalau Anda adalah orang yang juga sering masuk ke dalam komplek tersebut—karena komplek tersebut juga berbaur dengan komplek perumahan pegawai BIN—maka Anda pasti akan merasakan banyak perubahan tersebut.
Sepengetahuan saya yang kadang-kadang (kalau tidak dikatakan sering) mampir bersilaturahim ke rumah saudara, maka perubahan itu akan dirasakan ketika berada di pos pertama pintu gerbang. Sosok yang menyambut kita selain para anggota TNI juga adalah para petugas ( ini bukan anggota TNI, mereka direkrut utamanya dari para anak-anak pegawai BIN sendiri) yang berseragam hijau dengan bersepatu bot dan bertopi koboi. Sangat amat nyentrik.
Pintu keluar masuk pun di alihkan menjadi satu di sebelah selatan dengan pos yang cukup megah—yang mungkin biaya pembuatannya juga lebih mahal dari perumahan PNS tipe 21. Semua kendaraan beroda empat diperiksa dengan teliti menggunakan piranti anti logam dan kaca penglihatan untuk melihat bagian bawah mobil.
Semua yang masuk—kecuali tukang ojek yang telah dikenal, diwajibkan untuk menyerahkan ID card untuk ditukar dengan tanda pengenal tamu. Ini sebenarnya sudah sejak lama sebelum Hendropriyono menjabat sebagai ketua BIN, namun sekarang lebih ketat lagi (prosedural inilah yang menyebabkan saya kadang malas untuk bersilaturahim dengan saudara saya di komplek BIN). Semua itu terjadi di pos pertama untuk masuk komplek perumahan dan komplek perkantoran BIN. Saya tidak tahu bagaimana pula prosedural di pos perkantorannya yang di kelilingi pagar kawat tinggi itu. Jadi ada pagar tinggi di dalam pagar luar komplek.
Kemudian perubahan lainnya adalah, jalan sisi selatan yang biasanya juga bisa dilalui oleh para pengunjung umum, sekarang diblokir dan di setiap ujung jalannya berdiri pos penjagaan dengan para penjaga yang juga dibekali alat komunikasi primer yakni handy talky. Sekarang jalan itu menjadi jalan khusus karena di situlah Hendropriyono bertempat tinggal di rumah dinasnya. Semua jalan diberikan tanda-tanda lalu lintas standar, yang dulunya tidak ada sama sekali, dan jalan sekunder dijadikan satu arah.
Sekitar beberapa bulan yang lalu saya pernah melihat beberapa atau belasan ekor menjangan Bogor berada di bagian belakang komplek perkantoran di balik pagar kawat tinggi itu. Semua bisa di lihat dengan jelas. Namun sekarang entah kemana menjangan itu, mungkin sudah dipindahkan ke Monas. Dan sekarang di ganti menjadi istal (kandang kuda) yang amat bagus sekali.
Pada saat saya melintas masuk menuju rumah saudara saya sore itu, saya melihat kuda tegap yang sedang dimandikan oleh beberapa orang, dan awalnya saya berpikir bahwa kuda itu diperuntukkan bagi para petugas berseragam koboi itu. “Asyik juga jadi petugas disini”, pikir saya. Namun perkiraan saya salah besar, ternyata kuda itulah yang dipakai Hendropriyono untuk jalan-jalan di sekitar komplek.
Pembaca juga melihat bukan, sekarang telah berdiri kokoh sebuah tugu besar di depan komplek perkantoran BIN. Itulah BIN saat ini, mengalami perombakan luar biasa mungkin juga luar dalam. Entah bermaksud menjadikan BIN sebagai suatu lembaga yang harus dipandang oleh dunia internasional sebagai lembaga bonafid atau lainnya saya tidak tahu.
Tapi yang pasti, sepengetahuan saya (itu pun kalau saya tidak lupa) perombakan itu tidak dilakukannya waktu ia menjabat sebagai menteri transmigrasi di era Gus Dur. Saya juga berpikir, wah sepertinya Hendropriyono jadi anak emasnya Ibu Presiden apalagi dalam masalah pemberantasan terorisme ini. Tentu bukan dengan anggaran yang kecil ia dapat melakukan semua itu. Apalagi setelah ia sukses menangkap Umar Al-Faruq dan mereka yang dianggap olehnya sebagai teroris.
Tapi apa yang saya lihat di sore itu, seperti saya melihat suatu peristiwa di era majapahit atau era mataram dulu, di mana pemimpin feodal begitu dimuliakan, semua warga yang berada di pinggir jalan harus menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan. Dan para orang tua berharap kalau-kalau pejabat kerajaan itu melirik anak gadisnya, setidaknya dapat mengangkat harkat dan martabat orangtua.
Saya juga sempat berpikir, enak juga jadi menteri. Apalagi dengan menunggang kuda sepertinya ia bagaikan Mahapatih yang sedang inspeksi warganya tapi sayang hanya warga di tanah perdikannya (kira-kira rumah di komplek itu sudah bayar PBB belum yah…?:)). Bagaikan Adipati yang berusaha menyusun kekuatannya sendiri.
Saya pun sempat berpikir, “ah itu kan, fasilitas yang pantas ia dapatkan sebagai seorang menteri”. Apa iya…? Sedangkan banyak yang menjadi korban tak bersalah dari penerapan UU anti terorisme, lho apa hubungannya? Entahlah…Anda semua yang bisa menilainya.
Dan sepertinya, saya cukupkan di sini dulu tulisan ini. Terus terang saja, ketika saya menulis ini dan akan mempublikasikannya saya merasa khawatir. Terus terang pula saya merasakan sekali bahwa orde (untuk tidak dikatakan rezim) saat ini, menjadikan saya was was untuk mengungkapkan pendapat saya. Tidak ada bedanya pada waktu era orde baru.
Apalagi dengan adanya Undang-Undang anti terorisme. Dengan undang-undang itu intelejen kita bisa berbuat apa saja. Bahkan bisa juga ada intelejen cyber yang melacak siapa yang membuat tulisan ini. (wah paranoya bgt). Tak mengapalah….walaupun saya PNS dan masih satu almamater dengan Hendropriyono (mantan Ketua Ikatan Alumni STIA LAN), bukan berarti tidak harus dikritik, betul tidak…(gaya AA Gym)?
Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah dari diri saya pribadi, subjektifitas sangat berperan sekali dalam penulisan ini, makanya saya memberi judul Melihat Hendropriyono dari Jauh, tidak dari dekat, karena hanya sebatas informasi terbatas yang saya peroleh, kemudian saya kelola, dan jadilah tulisan ini.
Wassalaam.
: Senin, 21 Juni 2004.
: dedaunan sepanjang isya yang terlalu pendek untuk dilewatkan hanya dengan
menonton tv.
di edit 09:43 24 Januari 2006

Hanya Seorang FIDEL CASTRO


25.01.2006 – Hanya Seorang FIDEL CASTRO

Siapa yang tidak tahu dengan Fidel Castro pada saat ini? Sosok atheis yang telah memimpin Kuba selama 47 tahun ini bahkan kembali membuat merah telinga para petinggi Gedung Putih dengan tawarannya yang seperti mengejek itu.
Sebagaimana diberitakan oleh Republika kemarin (24/1), Castro menawarkan kepada penduduk miskin Amerika Serikat—negara moderen, makmur, dan superpower—bantuan berupa operasi mata sebanyak 150 ribu operasi. Termasuk di dalamnya berupa bantuan jemputan, akomodasi, dan perawatan yang dibutuhkan secara gratis.
Tawaran ini bagi Amerika mungkin merupakan upaya mempermalukan mereka, namun bagi Castro tentu bukan sekadar iseng belaka atau rutinitas pemberian kutukan kepada Amerika sebagaimana biasanya, tapi karena Castro meyakini kemampuan negaranya yang memang perlu dibanggakan. Yakni kemampuannya dalam menyediakan rumah sakit yang canggih, peralatan medis yang lengkap, dan didukung dengan sumber daya manusia yang unggul.
Dan ini semua bermula dari ambisinya menjadikan Kuba sebagai kekuatan medis global. Sejak tahun 1980, Kuba mulai menanamkan investasi pada sektor bioteknologi. Hasilnya adalah pada tahun 1990 Kuba menjadi negara pertama yang mengembangkan dan menjual vaksin Meningitis B disusul dengan Hepatitis B.
Tidak berhenti disitu, bersama Venezuela sejak 10 tahun yang lalu menggelar operasi mata gratis bagi warga warga miskin di Amerika Latin. Tidak tanggung-tanggung enam juta orang telah menerima manfaat dari program ini.
Dan pada akhirnya dunia pun mengakui keunggulan Kuba di bidang kesehatan ini. Bahkan prestasinya mengalahkan Amerika Serikat dalam masalah ketersediaan tenaga medis, yakni satu dokter untuk 177 penduduk. Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan satu dokter untuk 188 penduduk.
Tentunya keunggulan itu menjadikan Kuba sebagai daya tarik yang memesona bagi ribuan dokter dari berbagai dunia. Seperti yang ditulis Republika lagi, bahwa tahun lalu saja 1800 dokter dari 47 negara menyelesaikan studinya di Kuba. Pada saat yang sama 25 ribuan tenaga medis Kuba melanglang buana dengan menjelajahi sedikitnya 68 negara, termasuk Indonesia.
Maka dengan semua keunggulan itu pula wajar bagi Castro untuk meyakini bahwa Kuba dapat terselamatkan dari kebangkrutan finansial dan memutuskan ketergantungan pada sektor pariwisata. Wajar bagi Castro untuk membantu warga miskin Amerika Serikat yang sering menggerakkan sisi-sisi kemanusiaan negaranya karena banyak dari mereka terganggu penglihatannya.
Dus, dengan semua keunggulan itu wajar pula bagi Castro untuk menunjukkan izzah (kemuliaan) dirinya dan bangsanya. Wajar bagi Castro untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya dan bangsanya masih tetap eksis di tengah embargo tiada berkesudahan dari negara besar yang selama enam kepemimpinan presidennya tidak sanggup menggulingkan dirinya.
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah mengapa ia sanggup tidak bertekuk lutut di bawah kaki Amerika Serikat? Mengapa ia mampu bertahan dari embargo ekonomi itu dengan hanya mengandalkan produksi gula, industri perikanan, dan cerutu Havana-nya yang terkenal itu? Mengapa ia sanggup menunjukkan kemuliaan dirinya hatta ia hanya seorang komunis, atheis pula? Yang seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh seorang muslim. Mengapa?
Seharusnya kemuliaan itu ditunjukkan oleh para emir negara Arab yang dengan kebijakan cadangan minyaknya bisa mengobrak-abrik tatanan perekonomian global, bukan ditunjukkan oleh Ajami seperti Iran. Ditambah dengan kemampuan salah satu negaranya yang dapat mengumpulkan lebih dari tiga juta manusia dalam satu waktu.
Dengan dua kekuatan itu, dipastikan mereka dapat menggentarkan hati para musuh Islam dan dunia. Namun apa yang terjadi? mereka bahkan menjadi budak-budak setia dari tuannya yang bernama Amerika Serikat.
Bahkan mereka bersorak sorai di saat tuan besarnya menebarkan angkara murka dengan melakukan invasi kepada negara Arab lainnya. Sehingga satu pertanyaan muncul: ”Dimana logika , dimana akal sehat? Saya semakin tidak paham saja membaca kelakuan politik beberapa negara Arab ini. Apa yang mereka cari sebenarnya?” (Syafii Maarif,17/1).
Tidak hanya itu, persoalan Israel pun tidak kunjung selesai sampai saat ini. Walaupun dari hari kehari sejak tahun 1948 nasib dan harga diri Palestina yang nota bene adalah bangsanya sendiri sudah semakin tiada artinya di mata durjana Israel.
Sosok-sosok yang mempunyai izzah itulah yang tidak dapat diberikan negara-negara Arab pada saat ini. Walaupun dulu pernah tercetak satu orang yang dapat melawan dengan gagahnya kesombongan Amerika Serikat dengan upaya yang dilakukan oleh King Faisal bin Abdul Aziz dengan embargo minyaknya pada tahun 1973.
Namun selalu saja di saat tunas kejayaan Islam mulai tumbuh, maka hama kekuatan kotor tak terlihat mulai bermain dengan segala daya dan upayanya. Di tahun 1975 Faisal pun dibunuh oleh keponakannya sendiri. Dunia Islam pun berduka tapi membawa sebuah pengakuan dalam hati yang paling dalam tentang kemuliaan diri seorang Faisal.
Bagaimana dengan Indonesia? Sanggupkah negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini dapat menunjukkan izzahnya di hadapan Amerika Serikat? Sanggupkah ia menandingi sikap yang ditunjukkan oleh Kuba yang luas daratannya hanya 88% dari pulau Jawa itu?
Hanya segunung keraguan untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Karena pada saat yang sama Indonesia pun dipertanyakan keunggulan apa yang dipunyainya, selain dari tingkat korupsinya yang sudah terkenal di dunia internasional.
Lagi dengan tekad kemandirian yang nyaris nihil pada diri para pemimpinnya. Semisal adanya ajakan untuk memboikot produk-produk Amerika Serikat dibalas dengan segudang argumen yang bersembunyi di balik kepentingan rakyat: ”Bahwa kita sendiri yang akan rugi kalau kita melakukan aksi boikot itu.” Lalu dengan alasan: ”berapa pengangguran akan tercipta dengan aksi itu?”, kekanak-kanakan, picik dan lain sebagainya.
Padahal di sisi lain, mereka membungkuk-bungkuk menuruti apa kata IMF dan para kapitalis liberalis dalam menelurkan kebijakan pembangunannya, tanpa melihat apa rakyat masih mampu untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasarnya?
Lalu jikalau tekad kemandirian itu saja nihil akankah mampu untuk menghadapi embargo dan tekanan dari negara-negara yang berusaha menginjak-injak kedaulatan dan harga diri bangsa ini? Tidak, tidak akan mampu.
Maka kita banyak menyaksikan anak-anak bangsa kita di siksa, dianiaya, diusir oleh para majikannya, pemerintah republik ini boro-boro untuk menegur negara pengimpor Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu, bahkan untuk memberikan bantuan hukum saja pun tak mampu.
Bahkan dengan negara tetangga yang bekas salah satu provinsinya saja tidak bisa bersikap tegas dalam menyikapi tiga rakyatnya yang tewas tertembak oleh ulah prajurit perbatasan negara itu. Apatah lagi dengan menghadapi negara Kangguru yang sudah terlalu banyak mengintervensi dan telah lama tidak bisa bersikap sebagai tetangga yang baik bagi Indonesia?
Maka tanpa kemuliaan diri itu, dengan mudahnya bangsa ini ikut turut pula memerangi anak bangsanya sendiri baik individu maupun kelembagaan dengan tuduhan terorisme yang dibuat-buat dan stigma yang amat buruk.
Maka tanpa kemuliaan diri itu kita pun akan melihat pula bangsa ini begitu rendahnya merengek-rengek kepada bangsa lain untuk mendapatkan pinjaman dan investasi baru yang menggiurkan bagi keberlangsungan jalannya pembangunan. Dan merengek-rengek pula untuk dapat menangguhkan pembayaran utang di saat jatuh tempo tak sanggup membayar bunganya saja yang benar-benar mencekik leher.
Maka tanpa kemuliaan itu kehinaan apalagi yang akan menimpa bangsa ini? Padahal tanpa mereka sadari—atau pura-pura tidak tahu—bahwa 85 % bangsa ini punya modal unggul untuk meninggikan izzahnya, yakni Islam.
Karena sungai sejarah peradaban Islam walaupun selalu dialiri dengan airmata, darah, dan pengorbanan, tidak akan jemu-jemunya menyuburkan tanah-tanah sekitarnya untuk senantiasa menumbuhkan dan mencetak generasi-generasi rabbani, para pahlawan, orang-orang besar, dan mempersembahkan tokoh-tokoh agung kepada dunia.
Maka kemuliaan manalagi yang didapat selain dari Islam? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menegakkan panji-panji dan obornya yang terang gemilang itu? Kemuliaan manalagi yang didapat selain dari menguatkan geraham untuk senantiasa berpegang teguh pada dua pusaka yang ditinggalkan utusan terakhir-Nya?
Jika itu didapat, tidak hanya seorang Castro yang atheis itu yang akan tunduk dan menghinakan diri pada kemuliaan Islam, beribu-ribu Castro bahkan berjuta-juta nasionalis yankee hawkees pun akan terpaku, tunduk, dan bertekuk lutut di bawah bangsa yang hanya menakutkan dirinya pada satu Tuhan: Allah Sami’il ’Aliim .
Cuma: kapan saat itu akan tiba?
Allohua’lam.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08.29 25 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…


16.01.2006 – Playboy Indonesia: Oh Yes…, Oh No…
Belum juga surut gaung studi banding legalisasi judi, kini masyarakat Indonesia kembali digegerkan upaya segelintir orang untuk menerbitkan majalah Playboy Indonesia. Dengan sistem franchise, izin penerbitannya pun sudah diperoleh pada akhir November 2005 yang lalu.
Kini mereka sudah mengadakan audisi playmate—model yang akan ditampilkan di halaman utama—walaupun secara tertutup. Dan rencananya majalah itu akan beredar Maret 2006 nanti. Pengusung majalah pengeksploitasi aurat perempuan ini tentu saja bersikukuh bahwa penerbitannya akan disesuaikan dengan apa yang bisa diterima oleh masyarakat. Tetapi tak menampik bahwa foto-foto syur pun tetap akan ada. (Detikhot).
Mereka pun tak takut dengan kontroversial yang akan terjadi dengan peluncuran majalah itu di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim ini. Dengan melihat betapa sekarang pun telah banyak beredar dan di jual di lapak-lapak majalah pria yang juga menampilkan aurat wanita. Apalagi dengan harga seribu rupiah sudah mendapatkan tabloid serupa yang lebih hot di sepanjang pintu tol Tomang, Jakarta.
Lagi-lagi alasan klise dengan berlindung di balik keindahan, cita rasa seni yang tinggi dan tidak murahan, ekspresi rasa syukur kepada Tuhan, menjadi justifikasi. Apalagi dengan jaminan bahwa majalah itu tidak akan sembarangan beredar, hanya dijual di toko-toko buku terkemuka, serta menitikberatkan distribusi pada sistem berlangganan untuk meraih pembacanya.
Kembali di sini terjadi pertarungan wacana antara sekulerisasi dan integralisasi ideologi dalam berkesenian. Di mana bertahun-tahun sebelumnya pertarungan ini sudah didahului pada ranah kesusastraan dengan adanya pembagian sastra Islam di satu sisi dengan sastra tanpa embel-embel di belakangnya di sisi yang lain.
Perlu dicermati pula bahwa rencana penerbitan ini yang sengaja diekspos lebih dini dan akan menjadi kontroversial, ditinjau dari aspek pemasaran maka apa yang diinginkan pengusungnya tercapai sudah. Selain publikasi gratis juga akan dapat dilihat kecenderungan ke mana arah angin keinginan masyarakat bertiup.
Menolak atau menerima. Bila iya, maka Rencana A: penerbitan dengan lebih berani akan segera terlaksana. Bila tidak, rencana B harus dilakukan berupa penundaan peluncuran sampai waktu yang tidak dapat ditentukan atau menunggu lengahnya imun dari masyarakat.
Namun tentunya, kelengahan itu jangan sampai terjadi di tengah keinginan mayoritas bangsa ini keluar dari keterpurukan, kemiskinan, degradasi moral, dan rentetan musibah sepanjang tahun lalu bahkan di awal memulai tahun barunya.
Akankah tidak terpikir tentang musibah apa lagi yang akan menimpa bangsa ini dengan adanya niatan semu itu? Akankah tidak terpikir kerusakan moral apalagi yang akan dialami oleh para generasi penerus bangsa ini, yang sudah dibombardir dengan tayangan porno melalui siaran televisi, piranti-piranti cakram bajakan, telepon genggam, dan internet?
Akankah tidak terpikir naiknya angka kejahatan berupa kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, pemerkosaan, trafficking, pedophilia atau semuanya itu sekadar onggokan angka statistik tiada berguna?
Atau akankah pemerintah pun kembali mengulang langkah paradoksal dengan membiarkannya begitu saja beriring dengan program peningkatan sumberdaya manusia Indonesia?
Mengutip pendapat seseorang di sebuah milis: “ketika di dalam kerja keras membenahi pendidikan bagi anak bangsa, pengupayaan peningkatan pengalokasian dana yang cukup, pembenahan sistem pendidikan, perbaikan gedung-gedung sekolah dan disertai peningkatan kesejahteraan guru, ditengarai ada upaya-upaya yang kontra produktif, yang mengikis dan menggerogoti output yang ingin dihasilkan, maka berapa besarkah dana yang akan terhambur sia-sia?” (Arnoldison, 13/1/06). Ya, sia-sia.
Tapi di saat mata hati menjadi bebal kesia-siaan pun hanya dianggap masalah kecil dan resiko yang harus diterima sebagai negara yang akan maju dalam pergaulan global. Tentu dengan sejuta argumen yang telah dikokang. Semisal tidak ada relevansi yang signifikan antara kemajuan dan kedigdayaan suatu bangsa dengan penerbitan-penerbitan tidak bermoral tersebut.
Namun tidakkah kita bisa mengambil pelajaran penting tentang keruntuhan peradaban umat Islam dengan kota-kota gilang gemilangnya di Baghdad, Cordova, Granada, Sevilla, ataupun Istanbul? Ya, keruntuhan terjadi di saat aspek moral sebagai PONDASI suatu peradaban berada pada titik nadir.
Bahkan Prancis yang tergolong negara besar, memiliki militer terlatih dan dipersenjatai dengan senjata-senjata canggih, serta diprediksikan oleh sebagian pengamat sanggup memberikan perlawanan kepada Jerman di saat perang kedua, pada kenyataannya mereka menyerah dengan mudah, tanpa syarat, bertekuk lutut di bawah kaki Hitler. Satu analisis penting dari kekalahan tersebut adalah Perancis dilanda dekadensi moral parah yang dibungkus dengan nama kebebasan (Alwakkil: 1998).
Ataukah kita akan bercermin pada polisi dunia Amerika Serikat (AS) di mana keluarga sebagai PILAR PENEGAK suatu peradaban dengan berjalannya waktu semakin ringkih dan tidak mempunyai ketahanan mental yang kuat. Single parent akibat perceraian ataupun kumpul kebo, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan psikotropika, hingga gank-gank kejam yang tidak mengenal hukum dan perikemanusiaan.
Tinggal menunggu waktu saja dari keruntuhannya, yakni di saat hukum dan penegakkannya sebagai ATAP PELINDUNG suatu peradaban hanya sanggup mengaum di atas kertas.
Lalu bagaimana dengan tanah air tercinta ini? Di saat penegakan hukum tidak berjalan, akankah dua hal lain paling esensi suatu peradaban yakni moral dan keluarga pun menjadi tidak kokoh, lemah, ringkih bagaikan sarang laba-laba?
Tentu kita akan sama-sama berseru: Tidak! sambil menata langkah-langkah perbaikan ke depan. Maka, langkah pertama adalah sudah sepatutnya pemerintah sebagai pemegang otoritas sah bersikap tegas. Pelegalisasian rencana undang-undang antipornografi dan pornoaksi menjadi suatu hal yang niscaya. Ketegasan ini perlu agar kebingungan para pakar terhadap pendefinisian pornografi dan pornoaksi berhenti. Dan tentu berhenti dengan keperpihakan pada nilai-nilai moral dan etika yang termaktub pada agama yang dianut mayoritas bangsa ini, yang tentunya juga ada pada agama lainnya.
Langkah Kedua tidak bisa dilepaskan dari peran para perwakilan rakyat di DPR RI dalam mempercepat pembahasan rencana undang-undang tersebut yakni dengan memetakan kekuatan kawan dan lawan. Sehingga dengan demikian diketahui seberapa besar kekuatan riil dari para pengusung moral dan pendukung materialisme. Setelahnya jika perlu pengerahan massa berupa parlemen jalanan dapat dibentuk sebagai kekuatan penyeimbang. Selain sebagai bentuk pengawasan atas kinerja anggota DPR yang seringkali lambat dalam menelurkan legislasi dan tidak sebanding dengan gaji/tunjangannya yang diterima.
Langkah ketiga adalah dengan tetap mempererat silaturrahim dan menyinergikan gerak dari para partai Islam, ormas Islam, LSM dan tentunya pula dengan media Islam serta pemuka-pemuka agama-agama lain yang seide agar tetap menjadi kekuatan penekan yang selalu diperhitungkan. Dengan tidak bosan-bosannya membuat pernyataan sikap, pembentukan opini melalui media massa, dan penyebaran ide perlawanan pada setiap khutbah sholat jumat.
Ketiga langkah di atas akan percuma bila tidak ada dukungan dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Berupa langkah tidak membeli, tidak membaca, tidak menonton produk-produk erotisme dengan alasan apapun. Yang terpenting lagi adalah azzam atau tekad dari setiap muslim untuk selalu terpanggil melakukan amar makruf nahi munkar. Sebagaimana himbauan Ikatan Da’i Indonesia agar setiap muslim harus proaktif dan terdepan dalam menebar nilai-nilai kebaikan dan memusnahkan nilai-nilai kejahatan.
Bila tidak, maka dengarkanlah firman Allah dalam surat AlJaatsiyah ayat 23 ini: ”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.
Bila tidak, maka bersiaplah-siaplah melihat seorang bapak sembunyi-sembunyi, ragu-ragu membeli Playboy, sambil bergumam: ”oh Yes, oh No.” Ya, karena dia penasaran. Tidak, karena risih, malu, dan takut ketahuan anak-anaknya. Na’udzubillah.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:02 15 Januari 2006

http://10.9.4.215/blog/dedaunan