Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko


Sabtu pagi itu, setelah salat subuh, saya segera check out dari tempat saya bermalam. Saya kemudian memesan taksi daring menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jalanan lengang sehingga mobil yang saya tumpangi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.

Saya kemudian mengantre di konter maskapai penerbangan untuk mendapatkan kertas fisik boarding pass. Sesuatu yang mestinya tidak saya lakukan karena ternyata di sudut lain bandara ada mesin untuk mencetak boarding pass secara mandiri.

Continue reading Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko

Tertawa yang Benar Sesuai Kamus


Jadi ditulisnya menggunakan spasi. Bagaimana dengan vokal e atau i seperti he he he atau hi hi hi?Menurut saya bisa saja, tetapi tetap ada spasi. Semoga bermanfaat.

Testimoni Seseloki Seloka di Pinggir Selokan: Bagaikan Gelombang Ombak di Pantai Selatan


Beberapa waktu lalu, kawan saya sekaligus pembaca buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan bernama Ikhwanudin membagikan foto dan narasi tentang kesaksiannya saat membaca buku sajak-sajak saya tersebut.

Ia menuliskannya di saat sedang menunggu kereta api malam yang akan membawanya ke Semarang. Ia kemudian menyebarkan foto dan narasi itu di grup Whatsapp dan akun Instagramnya. Tentunya buat saya, apa yang dilakukannya sangat berharga. Saya berterima kasih kepadanya.

Baca Lebih Lanjut

Seperti Matahari, Tanah Basah, dan Pelangi Seusai Hujan


Jumat itu saya bersilaturahmi kepada Ibu Aan Almaidah Anwar atau A3. Beliau biasa diinisialkan seperti ini. Adanya di lantai 25 Gedung Mar’ie Muhammad Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.

Sesaat hendak menuju meja kerjanya yang tidak berada di ruangan khusus—karena sudah menerapkan metode flexible working space (WFS)—panggilan menyeruak.

Baca Lebih Banyak

Nidya Hapsari: Hidup itu Maraton, Bukan Sprint


Di lantai 16 Gedung B Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, INTAX menyambut Nidya Hapsari yang datang berseragam khas Kementerian Keuangan warna biru dipadupadankan dengan sweater biru tua dan kerudung motif coklat tua. Tanda pengenal bertali panjang hitam tergantung di lehernya.

Nidya menampik tawaran INTAX untuk meminum kopi. “Tadi pagi saya sudah minum kopi,” kata perempuan penggemar amerikano dingin ini dari balik maskernya. Kegemaran meminum kopi tumbuh ketika ia kuliah di Australia. “Masyarakat sana tuh embracing the coffee culture. Kopi sudah jadi kebutuhan,” ujarnya. Sampai sekarang Nidya masih menyimpan cangkir kopi andalan yang ia selalu bawa saat di sana.

Baca Lebih Banyak

Sebuah Testimoni: Buku Sajak di Awal Tahun yang Layak Anda Baca


Salah satu pembaca buku tingkat akut adalah Sigit Raharjo. Ia juga pembaca buku puisi Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.

Ia menuliskan ulasan singkat di akun Instagramnya dengan nama @om.sig. Buat saya ulasannya berharga. Apa katanya setelah mendapatkan dan membaca buku tersebut?

Langsung saja kita simak testimoninya.

Baca Lebih Lanjut

Psikologi Uang: Sabar dan Tamak


Seperti Steven Spielberg, sebagian masyarakat Indonesia tergiur investasi dengan imbal hasil tak masuk akal.

Pada pertengahan Desember 2021 lalu, terbongkar investasi bodong alat kesehatan hingga mencapai Rp1,2 triliun. Tergoda dengan keuntungan luar biasa, investor menyerahkan uangnya untuk dikelola. Bukannya untung, malah bencana yang datang. Mereka tertipu investasi yang menggunakan skema Ponzi.

Continue reading Psikologi Uang: Sabar dan Tamak

Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Merah Buku

Tidak tebersit dalam benak saya untuk menerbitkan buku kumpulan sajak dalam waktu dekat. Sebabnya, saya sedang menulis buku lain dengan tema khusus.

Apa daya, diselingi dua proyek buku formal dari kantor konsentrasi saya terpecah. Saya belum sempat meneruskan naskah buku keempat saya itu.

Baca Lebih Banyak

Buku Sajak Itu Tiba di Masjid Nabawi


“Tiga genting jatuh di talang,” kata istri.

“Kok bisa?” tanya saya.

Baca Lebih Lanjut