SEMOGA GALAU ITU ADA PADA KAMU


SEMOGA GALAU ITU ADA PADA KAMU

Banyak banget yang mau ditulis sebenarnya atau sebenarnya memang tidak ada yang perlu ditulis sama sekali sampai lama tidak menulis yang perlu ditulis. Kini, sore ini, saya harus memaksakan diri untuk berpikir dan menulis apa saja. Satu hal yang menjadi pembelajaran dari tidak menulis dalam dua minggu ini adalah semuanya memang butuh kedisiplinan. Menulis juga butuh disiplin.

Forum Lingkar Pena Depok sudah punya cara agar para anggotanya bisa disiplin untuk menulis dengan tagline: Sehari, Satu Jam untuk Menulis. Satu jam saja. Just it. Tak perlu lama-lama. Jadi waktu bikin tulisan dan sudah mentok tak ada lagi yang bisa ditulis sampai satu jam itu lewat, ya sudah tinggalkan menulisnya. Atau walau ide banyak tetapi tulisan belum selesai maka cukup selesaikan apa adanya. Jangan diteruskan lagi. Semua itu agar terbentuk miliu menulis setiap saat. Semangatnya ada kapan saja. Tak perlu menunggu mood. Tak perlu menunggu soul. Terima kasih kepada kawan yang telah memberi saya terminologi tentang soul ini.

Disiplin itu untuk menumbuhkan semangat kontinyuitas dalam menulis. Dan sungguh, menyuburkan kontinyuitas itu yang sulit sebagaimana menyuburkan semangat untuk dhuha everyday, tahajud every night, baca qur’an everyday, dzikir matsurat every morning dan every evening. Menulis juga demikian. Kudunya sih writing is every time. Minimal satu jam itu adalah kerja minimalis kita untuk bisa menulis. Ingat, menulis itu mudah tetapi mendisiplinkan diri untuk menulis itu yang perlu kerja keras kita.

Tentang menulis itu mudah, sudah saya urai di Twitter. Nah twitter ini mungkin yang telah mengalihkan saya (semoga cuma sejenak) untuk bisa menulis setiap saat. Ah bisa saja untuk cari kambing hitamnya. Tetapi memang itu dunia baru buat saya. Jadi ingat gundah seorang blogger dulu tentang dunia facebook dan twitter yang membuat dunia blogging jadi mati suri.

Era ngeblog yang sempat menarik perhatian banyak orang sudah lewat.  Ngeblog yang juga identik dengan dunia tulis menulis terlewatkan oleh dua dunia itu yang memperkenankan orang untuk berpikir instan, seadanya, dan tak terlalu dalam. Dan itu sudah cukup membuat ratusan juta orang di muka bumi ini terperangah. Ya karena tak perlu berpikir rumit tapi cukup dengan spontanitas tentang sebuah situasi dan kondisi yang dialami pada saat itu lalu status sudah ter-update.

Tetapi bagi penulis sejati, facebook dan twitter bukan untuk meluluhlantakkan semangat dan ide untuk menulis. Bahkan menjadi pendorong tambahan untuk tetap menulis karena publisitas mereka tak sekadar blog yang paling banter dibaca oleh ratusan orang tetapi dibaca oleh ribuan teman atau temannya-teman ketika mereka, penulis sejati itu,  juga mempublikasikan tulisannya di facebook dan twitter. 

So, jangan menyalahkan dua social media itu. Salahkan saja diri sendiri yang enggak punya komitmen untuk menulis. Hingga tak ada karya satu biji pun dihasilkan. Facebook, facebook, menulis sih tetap. Twitter, twitter, menulis juga tetap. Sisihkan waktu kita untuk menulis, satu jam saja,  lalu disiplinkan diri. Insya Allah akan banyak karya yang dibuat. Kualitasnya bagaimana? Insya Allah ngikut.

Itu saja dulu. Sebenarnya ini cuma gundah saya. Gundah kenapa? Karena takut tak bisa menulis lagi. Tapi dengan gundah itu saja, sekarang saya sudah bisa menghasilkan tulisan 492 kata lebih. Maka betul, pelajaran yang sering saya bagi kepada teman-teman dalam sesi belajar menulis adalah gundahlah, galaulah, karena gundah dan galau pada diri dan sekitar itu adalah modal awal untuk menulis. Bagi penulis, kegalauan dalam dadanya harus segera dimusnahkan. Caranya? Dengan menuliskannya.

Semoga galau itu ada pada kamu.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara 

besok, Insya Allah ke Pesantren Al-Kahfi

17.52           10 Maret 2012

3 HARI


3 HARI

    Tiga hari diberi tugas untuk menjadi anggota tim penyunting Buku Berbagi Kisah (Berkah) 2 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di sebuah hotel di bilangan Tanah Abang membuat saya semakin tahu kalau di DJP itu banyak penulis yang berbakat. Buktinya ada salah satu dari mereka yang tiga tulisannya lolos dari empat lebih kriteria penilaian yang telah disepakati oleh tim penilai dan editor. Termasuk kredibilitas kesehariannya di kantor. Luar biasa.

    Penilaian ketat itu membuat banyak juga tulisan yang memperoleh nilai tinggi di seleksi pertama namun gagal di seleksi berikutnya. Seperti karena temanya yang tidak unik atau hampir sama dengan tulisan lain yang berada dalam satu kelompok besar tema. Atau gagal dalam seleksi terakhir seperti penilaian keseharian di kantornya. Tulisannya memang bagus tetapi di kantor kerjanya enggak beres atau sering bolos, mohon dimaafkan kalau tulisannya memang tidak akan pernah bisa lolos.

    “Tidak adakah ruang untuk konfirmasi, klarifikasi, dan pertobatan di sini?” tanya saya pada forum. Jelas ada untuk dua yang pertama tetapi yang ketiga sepertinya tak memungkinkan dikarenakan buku ini diharapkan sebagai cerminan nyata dari para penulis. Jadi tak sekadar bisa menulis tapi sejalankah antara omongan atau tulisan dengan perbuatan atau integritasnya.

    Di tiga hari itu saya jadi tahu juga kalau tak banyak dari para penulis itu yang menulis bersih tanpa turun tangan dari para editor. Hatta masalah penggunaan kutipan buat kalimat langsung banyak yang tidak tahu. Di sinilah pentingnya tim penyunting untuk membereskan masalah itu. Tak sekadar itu jika memang diperlukan tim penyunting bisa memangkas tulisan hingga separuhnya.

    Pun, di tiga hari itu saya menemukan sebuah tulisan bagus. Tim juri juga memberikan nilai yang tinggi. Dan semua sepakat bahwa tulisan itu memang layak masuk. Karena keindahan bahasanya, alurnya, dan gaya penceritaannya. Tetapi ketahuan juga kalau itu cuma fiksi. Duh, sayangnya.

    Di tiga hari itu bahkan saya menemukan sebuah tulisan yang lebih bagus lagi. Dan ini bisa menutupi kekecewaan sebagian dari kami karena cerita yang cuma fiksi itu. Tulisan bagus yang biasa saya temukan di kolom oh mama oh papa dari majalah Kartini. Saya sampai merinding saat membaca dan mengeditnya—kebetulan saya yang ditugaskan untuk menyuntingnya.

Dan saya semakin tahu bahwa sebuah tulisan yang dibuat oleh seseorang yang mengalami langsung dari peristiwa pokok yang diungkap dalam tulisannya itu jelas lebih indah dan lebih bagus daripada tulisan yang dibuat dari orang yang hanya sekadar membayangkan saja. Padahal ia bukanlah seseorang yang menjadikan menulis sebagai kesenangannya. Salut buatnya. Tabik.

Di tiga hari itu yang terpenting lagi saya mendapatkan banyak hal lain. Seperti semangat menulis yang ditularkan dari Asma Nadia, bagaimana cara mengedit dari Mbak Nanik Susanti, dan cerita tentang integritas luar biasa dari pegawai pajak yang sudah 30 tahun mengabdi dan tidak mau disebut namanya itu.

Terakhir, dari sekian banyak kalimat kuat yang disampaikan Asma Nadia ada yang menggugah saya: “Jangan sampai ketidaksempurnaan tulisan itu menjadikan Anda berhenti untuk menulis.” Maka, ini sebuah nasehat buat saya dan mereka yang ingin menulis yaitu jangan pernah sekali pun untuk berhenti menulis sampai akhir nafas kita.

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ada saya atau tidak ada saya, jangan pernah berhenti untuk menulis

00.14 – 16 Oktober 2011

    Gambar diambil dari sini.

Jangan Katakan Itu di Hadapan Saya


Jangan Katakan Itu di Hadapan Saya

    

Sewaktu bercermin di ruang kaca toilet, datang teman saya. Sama-sama memandang cermin di hadapan dan membasuh tangan. Saya menegurnya, “mana Mas tulisannya? Katanya mau menulis?” Dia Cuma tertawa saja.

“Begini saja Mas, sampeyan kasih kepada saya apa yang harus saya tulis, lalu saya buat, dan saya kasih hasilnya? Bagaimana?” tantangnya.

“Boleh,” jawab saya.

“Kalau sudah memulai menulis, mungkin nanti saya bisa menulis, ya Mas,” tambah dia lagi.

Mendengar itu saya langsung menghentikan aktivitas saya, menegakkan kepala, dan langsung berkata, “jangan katakan mungkin, bisa! Insya Allah.” Setengah berteriak saya berkata demikian. Karena bagi saya kata “mungkin” adalah kata yang menyiratkan pesimisme. Dan saya tidak suka itu. Begitu pula sebaliknya.

Seperti ada yang bilang kepada saya, “saya tak mungkin bisa menulis seperti Anda, saya tak punya bakat, saya tak punya waktu.” Jangan katakan ‘tak mungkin” di hadapan saya. Ini sudah lebih parah daripada yang di atas. Ia telah menciptakan mental blocknya terlebih
dahulu. Membentengi dirinya dari segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Kalau sudah demikian, saya katakan kalau menulis itu tidak sulit. Menulis cuma butuh 3 hal—kata Maghfiroh Jenny—yatu minat, tekun, dan jujur.

Mengutip Om Wijaya Kusumah, minat merupakan salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu obyek, cenderung untuk memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih besar kepada obyek tersebut. Namun apabila obyek tersebut tidak menimbulkan rasa senang, maka ia tidak akan memiliki minat pada obyek tersebut.

Seberapapun keinginan Anda untuk menulis tetapi Anda tidak punya minat untuk menulis ya percuma saja. Ini ditunjukkan ketika Anda sudah punya niat untuk menulis tetapi gagal melulu karena dikalahkan oleh kegiatan lain.

Jadi kalau Anda sudah memegang pulpen atau sudah menyediakan layar putih di hadapan Anda kemudian Anda malah menggantikan kegiatan itu dengan kegiatan lain berarti Anda tidak punya minat. Maka lebih baik kubur harapan Anda menjadi penulis. Menulis bukan jalan Anda dan carilah jalan lain yang memang sesuai dengan Anda. Menulis bukan bakat Anda.

Yang kedua, menulis itu mudah asal selain punya minat juga punya ketekunan. Tekun ini berarti Anda tidak mudah menyerah dan sudah siap untuk mengawalinya dengan berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih dan konsisten untuk menulis.

Salah satu bentuk ketekunan itu adalah misalnya Anda bertekad kuat menulis diari atau di blog setiap harinya. Jelek atau bagus tulisannya, yang penting menulis. Sambil terus menerus belajar dari kesuksesan orang dalam menulis dan tak henti-hentinya mengevaluasi diri mana yang kurang dari tulisan yang dibuat.

Bentuk ketekunan lainnya adalah Anda mampu menyisihkan waktu khusus untuk menulis. Bisa habis shubuh, tapi kayaknya buat para pekerja di Jakarta, waktu itu biasanya untuk kegiatan persiapan berangkat ke tempat kerja. Okelah kalau tidak punya, bangun tengah malam dan menulislah. Pokoknya sempatkan diri untuk meluangkan waktu. Mengantuk di siang harinya itu adalah harga yang harus dibayar kalau Anda mau jadi penulis sukses. So, yang tahu waktu tepat untuk Anda menulis adalah Anda sendiri.

Dan menulis itu tidak sulit kalau kita menulisnya dengan penuh kejujuran. Tidak mengada-ada. Kalau menulisnya sudah tidak jujur itu adalah awal untuk menciptakan kebohongan berikutnya. Jujur di sini pun bisa berarti sesuai logika. Menulis fiksi, yang sudah jelas mengkhayalnya, itu saja butuh ditulis sesuai logika. Apatah lagi menulis nonfiksi. Benar juga kalau jujur adalah mata uang yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Untuk menulis pun demikian.

Maka, sekali lagi buat teman-teman yang ingin belajar menulis, jangan katakan mungkin dan apalagi tidak mungkin di hadapan saya, karena sesungguhnya Anda bisa menulis dengan mudah. Yang terpenting Anda punya minat (bukan bakat), tekun, dan jujur. Ayo menulislah.

***

 

*sumber gambar: di sini

 

riza almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara    

satu rindu, lara hati, liberian girl: rewind terus

00.45 am 25 Maret 2011

 

Tags: tips menulis, menulis dengan jujur, minat menulis, bakat menulis, waktu untuk menulis, tekun dalam menulis,

Kamar Dua Anak Itu


KAMAR DUA ANAK ITU

 

Perjalanan setengah jam lamanya berjalan kaki dari Stasiun Cawang ke tempat Diklat Menulis tepatnya di Gedung Pusdiklat Keuangan Umum itu membuat saya berkeringat tapi tetap harum. J Saya tidak langsung menuju ke kelas, tetapi mampir dulu ke Warung Tegal (warteg) yang berada di luar gedung. Makan pagi dan setelah selesai langsung buka laptop.

Untuk browsing begitu? Tidaklah. Saya harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan kemarin oleh Sang Tutor. Tadi malam saya tak sempat untuk mengerjakannya. Ada “pekerjaan” yang harus saya selesaikan—dan itu lebih penting—ditambah dengan kantuk yang luar biasa.

PR-nya adalah mendeskripsikan kamar. Soal ini saya sudah pernah mendapatkannya waktu di Forum Lingkar Pena (FLP) Depok tahun 2007. Untuk ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman FLP Depok.

Pendeskripsian yang bagus, kata sang Tutor, adalah ketika pendeskripsian kita itu benar-benar tampak nyata di depan orang lain dan dipahami betul tanpa orang lain itu turut serta melihat objek yang dideskripsikan. Jadi dengan membaca pendeskripsian kita itu dia sudah merasa cukup. Nah, kalau belum, berarti pendeksripsiannya gagal.

Deskripsi itu harus punya detil, punya dominan impresi serta menuliskannya berdasarkan urutan ruang. Nah, Sang Tutor juga ingin dalam deskripsi itu ada gambaran yang berdasarkan penglihatan kita, lalu menambahkan suara di dalamnya, lalu ada detil aroma, dan sentuhan serta detil pengecapan.

Ya sudah, di warteg itu, saya tulis berdasarkan apa yang saya ingat tentang sebuah kamar yang ada di rumah. Silakan untuk dinikmati. Apakah Anda sudah merasakan dan mengetahui dengan baik penggambaran kamar ini tanpa perlu jauh-jauh datang ke Citayam? Dan perlu diketahui saja dominan impresi deskripsi ini adalah BIRU. Nah loh…

Rasakan saja. Semoga bisa dinikmati dan dipelajari buat yang lain. Maaf ini sebisanya saya saja, cuma 4 paragraf, dan waktunya pun mepet. ^_^

DESKRIPSI KAMAR

 

Ruangan kamar itu berukuran 3×3 meter. Dengan cat warna biru yang teramat dominan. Sebuah springbed bersusun teronggok begitu tepat di depan pintu namun tidak menghalangi. Dengan coverbed bertemakan tokoh kartun ternama di dunia—lagi—berwarna biru. Di sudut kiri ruangan di seberang pintu memojok sebuah lemari plastik berukuran tinggi 2 meter dengan warna yang sama menghadap ke timur. Aduhai biru nian terasa.

Di depan lemari, tak jauh darinya, sebuah meja menyudut di sisi lainnya. Meja itu terlihat bersih tanpa ada setitik debu karena selalu dibersihkan setiap harinya. Di atas meja itu terpasang seperangkat komputer lengkap dengan kabel telepon dan kabel internet. Kabel yang membuatnya tidak pernah kesepian. Di dunia yang maya itu ia punya banyak teman yang bisa diajak ngobrol untuk mengurangi rasa sepinya.

Ya, ruangan itu terasa sepi, apalagi kalau sudah tengah malam. Suara jangkrik sajalah yang terdengar diselingi dengan suara kucing jantan yang sedang birahi. Setelah itu desibel hanya menunjukkan angka rata-rata seperti di kuburan. Tapi di sini tidak ada wangi kemenyan dan bunga kamboja yang ada malah bau cat yang menyengat tapi harum sekali. Ruangan ini baru direnovasi total setelah kebakaran di tahun lalu.

Sekarang kamar ini terlihat indah dengan lantai keramik berukuran 40×40 cm dan plafon gipsum warna putih yang kontras dengan warna dominan. Warna putih itu seakan penetralisir dari warna-warna mayoritas. Biru di dinding kamar dan hijau muda pada pintu, serta coklat tua pada sisi-sisi kayu jendela kamar dan pintu. Semua ini saya persembahkan untuk anak-anak saya, Haqi dan Ayyasy. Selamat tidur nyenyak, Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut warteg pancoran tanpa ada wifi

07.51 02 Maret 2011

TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG


TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG

 

Dalam Islam sastra harus dibatasi. Tak bisa bilang sastra untuk sastra. Atau berpijak pada kebebasannya semata. Bahkan seperti yang Albert Camus katakan bahwa sastra tak boleh memihak siapapun.

Sastra—dalam Islam—harus memegang teguh apa yang diperbolehkan dan tidak dalam nilai-nilai yang terkandungnya. Semua muncul dari ajaran wahyu dan fitrah insani. Ini yang menjadi ukuran. Bacaan yang memancing syahwat dan tulisan yang menggedor nilai-nilai keimanan sudah jelas dilarang untuk diciptakan. Dalam puisi pun demikian.

Siang tadi, saya membuat puisi yang sekarang berjudul agar tak ada namanya. Draf awal berbeda sekali
dengan yang sekarang sudah jadi. Saya tulis di atas kertas draf itu seperti ini:

Rabb, bisukan aku agar tak ada namanya yang tersebut dalam igauanku.

Rabb, tulikan aku agar tak ada suaranya yang terdengar dalam telingaku.

Rabb, butakan aku agar tak ada rupanya yang tergambar dalam ratusan mimpiku.

Rabb, ambil pikiranku agar tak ada ruang yang ada untuk mengenangnya.

Aha…saya tinggal mengetikkannya di layar komputer. Tapi jari-jari tak mampu untuk melakukannya. Apa sebab? Nurani saya menentangnya dan dengan sekuat tenaga menghentikan apa yang akan dilakukan oleh jari-jari saya. Karena? Bait-bait itu adalah bait-bait do’a. Mengapa mendoakan keburukan untuk diri saya?

Akhirnya saya corat-coret kembali kertas putih itu. Dan kembali mengulang dari awal untuk membuatnya namun tetap dalam tema besar yang sama: tak sempat untuk memikirkan yang lain. Loh, itu kan cuma kata-kata yang bisa jadi pembacanya sendiri punya penafsiran lain. Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa pengarang itu telah mati?

Ya betul, saya tetap konsisten dengan pernyataan itu. Tetapi saya tak ingin penafsiran itu muncul sekalipun dalam benak para pembaca. Bahkan apalagi kalau sudah benar bahwa itu yang dimaksudkan oleh pengarangnya sendiri sebagai sebuah do’a. Maka dalam Islam tak sembarangan untuk membuat nama buat putra dan putri mereka. Karena nama adalah do’a.

Inilah yang membuat saya berpikir, sebebas-bebasnya saya berekspresi tetap ada nilai yang membatasi. Tak bisa tak. Kalau memang mengaku sebagai orang yang beriman. Mungkin ini akan berbenturan dengan proses kreatifitas yang selalu saya pegang dalam menulis, terutama bagi mereka yang berniat untuk bisa menulis yaitu menulis tanpa beban dan seliar mungkin.

Ya tanpa beban dan seliar mungkin. Itu yang selalu katakan. Semua berawal menulis dengan menggunakan otak kanan, tetapi nanti setelah selesai barulah pakai otak kiri. Dan nilai-nilai Islam inilah yang menjadi batasan saat kita menggunakan otak kiri dalam mengedit dan memperbaiki tulisan yang kita buat seliar mungkin itu.

Oleh karenanya sampai sekarang saya belum mampu untuk menyelesaikan cerita pendek “Beranak Dalam Kubur” hasil proses menulis cepat dan seliar mungkin selama 30 menit pada saat workshop menulis yang diselenggarakan oleh BP School of Writing dan DJP. Karena ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Untuk apa dan mau dibawa kemana? Adakah hikmahnya?

Kalau tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu bisa jadi cerpen tersebut hanya sekelas film Arwah Goyang Karawang. Oh…tidak bisa. Saya tak mau.

Jadi Pak..Bu…, semua itu ada batasnya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad malam pendek

11.42 26 Februari 2011

diunggah pertama kali di: http://bahasa.kompasiana.com/2011/02/27/tak-mau-sekelas-arwah-goyang-karawang/

tags: arwah goyang karawang, BP School of Writing, DJP, Beranak Dalam Kubur, albert camus, puisi

SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG


SAAT NGEBLOG CUMA JADI TOPENG

Suatu hari tautan yang ada di sebelah kanan blog saya satu persatu dicek. Sudah lama soalnya saya tak mengunjungi “beranda” mereka. Ah, sedih. Nelangsanya menjumpai blog-blog teman banyak yang mati dan tidak aktif lagi. Ada yang tulisan terakhirnya di tahun 2008 setelah itu tiada. Hanya komentar pengunjung di shoutbox yang berteriak-teriak kemana dikau adanya?

***

Aduhai, alangkah sayangnya ketika seseorang menghentikan aktifitasnya untuk ngeblog hanya karena alasan: “saya tak mau jadi orang munafik.” Munafik macam mana pula? Ya itu tadi, menulis seolah-olah kita paling hebat, paling top, paling harmonis rumah tangganya, paling cintanya pada pasangan, paling bijak, dan paling-paling lainnya. Berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

    Akhirnya memang naluri tidak bisa dibohongi. Suatu saat kelelahan itu akan muncul. Bukan kelelahan fisik tetapi kelelahan mental. Sampai pada suatu titik ia menyalahkan aktifitas ngeblognya itu. Dia tidak mau berbohong lagi. Dia berhenti berpura-pura. Berhentilah ia menulis. Sayang…

    Ya itulah saat ngeblog cuma jadi topeng. Plis deh, menulis pun butuh kejujuran—yang kata orang pajaknya sih butuh integritas. Kalau jujur itu sesuai dengan hati. Maka menulis dengan hati akan menemukan sisi keindahannya bagi yang lain. Akan ada sentuhan yang berbeza—mengutip kata teman saya di forum sebelah.

    Menulis dengan jujur maksudnya apa sih? Tentunya sesuai dengan kenyataanlah. A bilang A. B ya bilang saja B. Jika kita alami sesuatu, uraikan apa adanya tanpa diberi bumbu-bumbu penyedap dan pemanis yang akan menghilangkan cita rasa sejatinya. Kalau kita belum melakukan sesuatu yang ingin kita tulis maka tak perlulah untuk ditulis. Tunggu sejenak atau dua jenak dan baru diungkap ketika kita telah melakukan yang ingin kita bagi kepada yang lain itu.

    Lalu apakah dengan banyak matinya para blogger yang sekarang terjadi itu dikarenakan alasan tidak mau jadi orang munafik itu? Oh tidak bisa…Tidak hanya itu. Satu lagi adalah pada masalah konsistensi. Ya betul konsistensi. Menulis juga butuh konsistensi.

    Maka saya pun kagum luar biasa terhadap para blogger yang sampai hari ini aktif dengan tulisan-tulisan dan curhat-curhat mereka. Ada yang dua hari update dengan tulisannya sendiri. Bermutu lagi. Ndak sekadar curcol biasa. Tak peduli dengan jejaring sosial yang lagi ngetrend-ngetrendnya saat ini dia tetap eksis dengan blognya itu.

Jejaring sosial yang sebenarnya banyak manfaatnya itu bisa mematikan daya kreatifitas menulis karena pelakunya cukup dipuaskan dengan 150 karakter atau lebih yang bisa dikomentari oleh banyak orang. Sedangkan ngeblog? Dikomentari satu orang pun sudah syukur. Tetapi apa iya ngeblog itu Cuma untuk dikomentarin? Enggaklah. Yang pasti blogger ataupun penulis sejati tak peduli semua itu yang penting ia bisa berkarya dan terus berkarya. Waduh saya angkat tabik dah buat mereka.

Jadi tips menulis kali ini buat kita semua adalah: jujurlah dalam menulis. Menulis juga perlu konsistensi. Dan tetaplah menulis biarpun hanya sepi menghadang di depan. Kerja senyap ini adalah untuk—sekali lagi—mewariskan peradaban.

Selamat menulis.

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

salam jingga

dedaunan di ranting cemara

03 Februari 2011

CARILAH MODEL: DARI INDIA HINGGA MALAYSIA


CARILAH MODEL: DARI INDIA HINGGA MALAYSIA

 

Cakra saya masih setengah. Malam ini saya masih ingin menulis yang ringan-ringan saja. Ada sih di otak bahan untuk nulis nyang entu tuh…reward and punishment atau stick and carrot. Biarlah itu sih untuk hari libur saja. Besok juga masih harus rekonsiliasi dengan Wajib Pajak di Pengadilan Pajak. Masih ada hari esok. Tak perlu dipaksakan.

Sudah jam satu malam tapi masih saja ada yang corat doret di di dinding facebook (fb)–termasuk saya. Ada yang nyetatus lagu India ada juga lagu Malaysia—lagunya itu tuh Siti Nurazizah Nurhaliza. Yang lagu India diposting dari temen yang ada di Dammam Arab Saudi. Di sono masih jam 10-an malam kali.

Saya jadi teringat sesuatu nih. Masih dengan sosok ibu Guru kelas 1 SD yang ada di Sidoarjo sana. Punya semangat besar menulis. Berusaha untuk menciptakan karya. Walaupun hanya untuk ditampilkan di sebuah blog. It’s oke. Perjuangan yang patut untuk diapresiasi. Tanya ini dan itu pada saya. It’s oke juga. Saya justru senang. Itu ciri orang mau maju. Dia nganggap saya guru—dengan segala keterbatasan yang ada. Jeruk makan jeruk. Guru makan guru.

Saya jadi ingat sekitar hampir enam atau tujuh tahun lampau. Saat saya masih sama kondisinya dengan guru yang dari Sidoarjo ini dalam dunia kepenulisan. Berusaha untuk membangkitkan kemampuan menulis yang terpendam lama dengan berusaha belajar kepada sosok teman yang sudah hebat dalam proses kreatif menulis. Dia juga sudah menghasilkan buku. Salah satunya adalah: Hari Ini Aku Makin Cantik, ya betul penulisnya adalah dia, dia, dia Azimah Rahayu. Cari saja di Google atau FB ada deh nama itu.

Saya banyak belajar darinya. Saya sedang mencari model. Saya cermati betul tulisannya. Jumlah karakter. Jumlah kata. Jumlah paragaf dan jumlah halamannya. Coba lihat artikel-artikel saya zaman dulu: gaya tiga halaman adalah persis dari dia. Saya juga belajar cara dia memandang sesuatunya, cara membuka dan menutupnya, dan lain sebagainya. Pokoknya dia adalah the real model. Yang pasti dia mau berbagi. Mau memberikan saran dan masukan. Sampai pada suatu titik bahwa apapun yang diberikan guru tetap semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

Akhirnya inilah saya, pada saat ini. Yang menulis hanya untuk mencari kepuasan. Menuntaskan kegelisahan. Mengabadikan pikiran. Menentang kezaliman. Menyuarakan ketertindasan. Melawan kebohongan. Menyingkirkan kebisuan. Mengungkapkan perasaan. Tidak lain. Tidak bukan. Insya Allah.

Saya—dari hati yang paling dalam—pada malam ini mengucapkan terimakasih yang tulus kepada teman saya dan ibu guru saya, compradore di Forum Lingkar Pena: Azimah Rahayu, semoga ini menjadi amal ibadah yang tak berhenti mengalir.

Yang saat ini masih terus menerus belajar menulis, pesan saya satu: carilah model. Siapapun dia dan di mana pun dia berada. India, Malaysia, Indonesia whatever-lah. Pelajari dengan seksama. Suatu saat Anda akan menemukan gaya Anda sendiri. Yang ini sudah saya bilang berkali-kali pada ibu guru di timur sana. Tetap semangat. Terus menulis. Ungkapkan semua yang dirasa, yang dilihat, yang didengar. Siti Nurazizah Nurhaliza yang bukan seorang penulis saja dan tengah malam ini lagi nyanyi-nyanyi sampai berpesan: “kekasih tulis namaku di dalam diari hatimu”. Ayo tulislah. Apapun.

Semoga bermanpaat bermanfaat. Selamat berkarya.

***

 

Riza Almanfaluthi

ngantuk…

dedaunan di ranting cemara

02.21 WIB 28 Januari 2011.

 

Tags: forum lingkar pena, flp, azimah rahayu, siti nurhalizah, dammam, arab saudi, saudi arabia

 

MANUSIA LENGKAP


MANUSIA LENGKAP

Sore ini saya terperangah dengan banyaknya buku yang teramat menarik di rak-rak itu. Judul-judul yang terpampang di sampulnya menggoda saya untuk membelinya. Sungguh, kalau saja saya tak mengingat betapa banyak yang harus dibeli untuk si Bungsu, saya akan borong itu buku.

    Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di toko buku terkenal ini. Dan sekali datang sungguh langsung menyesakkan dada kalau saya tak sanggup untuk membeli semua buku yang diincar. Saya pikir saya harus punya target untuk dapat memilikinya. Dengan mencicil satu dua buku di setiap bulan misalnya.

    Ah, kalau saja saya tak mengingat waktu yang ada, tentu saja saya akan berlama-lama di sana hingga toko itu tutup. Membaca dan banyak membaca. Hingga dahaga akan ilmu itu terpuaskan. Bukannya sok pintar atau dianggap berilmu, tapi itu memang sudah menjadi kebutuhan. Minimal saat buku itu termiliki, keberadaannya dapat mengusir bosan ketika naik kereta rek listrik. Lebih berguna daripada sekadar menebak-nebak tak karuan berapa lama lagi kereta ini sampai di stasiun terdekat.

    Banyak buku yang ingin saya miliki. Temanya juga banyak. Tentang dunia perwayangan beserta tokoh-tokohnya. Ini gara-gara “racun” Gunawan Mohammad dalam catatan pinggirnya yang banyak mengisahkan jagat para dewa dan ksatria itu.

Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun menarik minat saya. Terutama berkaitan dengan Mataram Islam dan format mutakhirnya yang terpecah menjadi empat, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Ada lagi buku bagus lagi, tapi harganya tak kira-kira. Atlas Perang Salib, Fikih Jihad Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, Antara Mekkah & Madinah harganya di atas rongatus ewuan (dua ratus ribuan). Hanya Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab yang harganya di bawah itu.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang tidak saya bidik. Tapi membeli buku yang kebetulan sempat tertangkap oleh mata. Bukunya Jonru—pegiat Forum Lingkar Pena pastinya sudah tahu tentang orang yang satu ini. Buku berjudul Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat itu menarik perhatian saya. Kayaknya renyah untuk disantap otak saya. Ringan dan gurih. Enggak perlu mikir banyak. Itu konklusi sementara saya.

Tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan toko buku itu, saya sempatkan diri ke bagian buku murah. Yang kisaran harganya mulai dari goceng (lima ribu rupiah) sampai ceban-go (15 ribu rupiah). Ternyata…wow. Bagus-bagus banget. Tebal-tebal lagi. Terutama novel-novel terbitan Penerbit Hikmah.

Suer…kalau enggak ingat Kinan, saya ambil semua. Saking bingungnya saya sempat lama mikir. Buku mana yang harus dipilih. Tentu ada kriterianya. Buku yang benar-benar bisa habis dibaca. Selain itu. No way…nanti saja!

Pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Laskar Pelangi The Phenomenon, buku yang sempat saya idam-idamkan tapi tidak jadi dibeli karena relatif mahal pada waktu itu. Yang kedua adalah Evo Morales:
Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika. Terus terang saja, buku murah itu kondisinya bagus sekali. Masih dalam plastik. Bukunya Jonru saja masih kalah—tidak dibungkus plastik.

Tiga buku murah lainnya yang bercerita tentang Blackberry, Facebook, dan Google saya abaikan. “Lain kali saya akan beli kalian,” pikir saya dengan tekad membaja dan semangat 45. Maklum duit di dompet cuma tinggal 14 ribu rupiah. Mepet banget untuk sampai ke rumah.

Di sepanjang perjalanan saya gelisah, karena tak sabar untuk segera membaca ketiga buku yang saya beli itu. Lebih gelisah lagi karena saya ingin membagi perasaan saya ini kepada Anda semua Pembaca. Oleh karenanya saya tulis ini untuk Anda.

Teringat dengan ucapan Francois Bacon—membaca menciptakan manusia lengkap—saya menginginkan Anda untuk banyak membaca. Saya juga. Membaca adalah langkah awal untuk menulis. Pun, dengan itu kita akan merasa betapa ilmu yang kita miliki teramatlah sedikit. Sedikit sekali…

Ayo…membaca.

***

 

Tags: facebook, google, blackberry, penerbit hikmah, francois bacon, goenawan mohamad, catatan pinggir, evo morales, jonru, jonriah ukur, laskar pelangi, laskar pelangi the phenomenon, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunegaran, forum lingkar pena, flp, yusuf al qaradhawy

diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/11/manusia-lengkap/

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad bukan malam panjang

21.17 11 Desember 2010

ORANG PAJAK: DARI MISKIN HINGGA MENJADI KAYA


ORANG PAJAK: DARI MISKIN HINGGA MENJADI KAYA

 

Suatu saat saya pernah menjadi ‘gila’ karena banyak ide yang harus ditulis. Hingga tak berhenti untuk menulis. Suatu saat pula kering dari ide hingga tidak menulis berminggu-minggu lamanya. Sampai meragukan diri dan bertanya dalam hati, “saya mampu menulis tidak yah?” Untuk itu saya berdoa pada Tuhan, “berilah aku kemampuan untuk menulis.”

Selain doa, saya berikhtiar untuk menjejali isi kepala saya dengan banyak bacaan. Mulai dari membaca puisi, cerita pendek, novel, hingga koran. Setiap hari. Saya biarkan isi bacaan itu masuk dalam memori. Berita apapun saya amati. Perkataan orang saya dengar seksama. Mata saya eksplorasi ke mana-mana. Setelah itu biarlah apa yang di dalam kepala ini bekerja. Hanya demi untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit ide.

Saya percaya kepala kita ibarat teko. Terus menerus dipenuhi air maka teko itu akan meluber. Luberan inilah yang akan menjadi ide dan mencari tempat penyaluran. Dan saluran itu adalah menulis. Ini sudah sering saya ungkap beberapa waktu yang lampau.

Lebih-lebih lagi jika disokong dengan usaha pengomporan berupa pelatihan-pelatihan. Maka air itu akan semakin panas. Hingga tak terbendung lagi dan meluberlah banyak ide. Ini terbukti. Masalahnya adalah bagaimana mempertahankan agar ide itu tak menguap begitu saja?

Saya disarankan untuk mencatatnya dalam kertas-kertas kecil yang dapat ditempel. Atau menulisnya dalam buku kecil yang mudah dibawa ke mana-mana. Jadi, kalau ada ide yang terlintas dalam pikiran langsung dicatat dalam buku itu. Saran yang bagus.

Saya kemudian berangan-angan untuk menyetorkan ide yang terkumpul itu ke Bank Gagasan. Sebelumnya saya harus membuat rekening tabungan ide terlebih dahulu. Lalu saldo rekening ide saya bertambah. Pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit terbukti. Ide saya menggunung.

Di sini tak akan ada sejenis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPTAK) yang mengawasi darimana datangnya ide yang masuk ke rekening tabungan ide. Mencurigakan atau tidak aliran ide itu. Tidak. Tidak ada. Seberapun banyaknya. Seberapa gila dan liarnya. Biarkan semuanya masuk dan tercatat menambah saldo rekening.

Sampai suatu titik di mana saya teramat membutuhkan sekali ide itu untuk memenuhi nafkah batin dan kepuasan diri, saya ambil tabungan ide itu. Barulah akan ada pengawas yang akan menyeleksi dan menyaringnya. Mana yang perlu dan tepat pada saat itu. Dialah hati nurani yang tak bisa dibohongi. Dia adalah pengawal alami. Biarkan dia bekerja.

Dengan itu sudah pasti saldo rekening ide saya pun berkurang. Tapi tak mengapa. Kalau rajin bekerja (baca: bereksplorasi), saya akan mendapatkan banyak ide yang hendak ditabung. Pendek kata, saya tak takut untuk menghadapi masa depan yang ‘suram’ dengan miskin dari ide.

Anehnya, Bank Gagasan ini hanya akan memberikan bagi hasil kepada saya jika rekening saldo ide berkurang. Ini lain dari kenyataan bank yang di dunia bahana. Mereka hanya akan memberikan bagi hasil jika saya menumpuk begitu banyak uang di rekening.

Nah, di Bank Gagasan ini, bagi hasil itu berupa kepuasan batin yang merajalela di jiwa. Semakin banyak ide yang diambil, akan semakin puas jiwa saya. Tentunya dengan syarat mutlak bahwa ide itu harus bermuara pada sebuah tulisan. Selain itu, jangan harap akan mendapatkan bagi hasil. Bank Gagasan akan memantau dengan cermat perkembanganya melalui sistem teknologi informasinya yang canggih.

Tentu ada pajak yang harus dibayar dari bagi hasil yang didapat. Pajak itu berupa waktu. Memang, segala sesuatu di dunia ada harga yang harus ditaur. Tapi tak mengapa karena hasilnya adalah sesuatu yang bermanfaat.

Maka dari itu, agar mendapatkan banyak bagi hasil berupa kepuasan batin, saya harus rajin untuk mengambil ide sebanyak mungkin dari rekening itu. Dan tak mungkin saya melakukannya jika saldo tabungan ide sedikit. Oleh karenanya saya pun harus tekun mengumpulkan ide-ide itu dari mana saja datangnya. Itu sudah saya lakukan, Insya Allah.

Anda tahu seberapa bengkaknya saldo rekening ide saya kini? Ia sejumlah kata-kata bahasa Indonesia yang pernah terdengar di muka bumi ini.

Saya—orang pajak—yakin betul Anda pun memilikinya.

***

Tags: ppatk, bank gagasan, saldo rekening, saldo rekening orang pajak, ide, gagasan, tema, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, orang pajak, pns, djp

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dari malam hingga pagi

5:51 07 Desember 2010

 

http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/orang-pajak-dari-miskin-hingga-menjadi-kaya/

IBU GURU ITU MENGGURUI SAYA


IBU GURU ITU MENGGURUI SAYA

 

Pagi ini saya menemukan sebuah pelajaran berharga tentang penggunaan kata dari seorang ibu yang berasal dari Sidoarjo. Ini meyakinkan saya bahwa saya dapat belajar dari siapapun dan kapanpun saja. So, menegaskan kembali bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, belajar, dan belajar apa saja.

    Ibu itu berdiskusi
via facebook dengan saya tentang bagaimana cara membangkitkan minat untuk menulis. Bla…bla…bla…dengan gaya menggurui atau seolah-olah penulis handal saya beri semangat dan semangat ibu itu untuk bisa menulis. Padahal sebenarnya dia sudah jago menulis. Karena dari pengakuannya sendiri, sedari kecil dia sudah suka menulis.

Tapi masalahnya sekarang dia tak punya waktu untuk menulis, intensitasnya menurun sejak di SMA hingga semester 4 dia kuliah. Setelah itu menulis sedikit-sedikit sampai sekarang. Problemnya adalah kesibukan yang menyita.

    Di saat belajar yang sok online ini, tiba-tiba keluar di layar chat room kata “merubah” yang terselip dalam satu kalimat yang ditulis saya. Ibu itu bilang kalau kata yang benar itu bukan “merubah” tetapi mengubah. Oh…sensitifitas berbahasanya muncul. Maklum ibu itu adalah seorang guru bahasa Indonesia. Weks….

    Saya terima dengan senang hati koreksi ini. Karena saya merasakan betul, kalau koreksi yang diberikan langsung akan lebih membekas pada diri saya. Saya akan teringat terus tentang itu.

    Penasaran dengan sebarapa banyak saya telah menggunakan kata yang salah itu, maka saya cek di WordPress saya. Dari 460-an lebih tulisan, “cuma” lima belas tulisan yang ada kata merubahnya. Lumayanlah tidak banyak amat-amat.

Tulisan paling akhir yang memuat kata merubah dalam blog saya itu pun bukan benar-benar dari saya. Karena saya hanya mengutip teks aslinya tanpa mengubah sedikitpun twit-nya Tifatul Sembiring yang saya kutip tentang jabat tangannya dia dengan Michelle Obama.

Pada akhirnya, mulai hari ini saya akan merubah—eh maaf salah—mengubah pengetahuan saya tentang penggunaan kata merubah dan mengubah. Sekali lagi yang betul adalah mengubah bukan merubah. Silakan Anda cek sendiri di Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring.

Bu Guru, terima kasih Bu atas pengajarannya. Alih-alih Ibu yang belajar kepada saya, sayalah yang ternyata banyak belajar dari Ibu. Saya pikir kalau tulisan ini pun disodorkan kepada Ibu, belum tentu saya dapat nilai 6.

Bu Guru, terimakasih telah menginspirasi saya. Terimakasih pula telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menghasilkan karya ini. Dan…

Bu Guru…terimakasih telah menggurui saya.

Sejuta tabik untuk Ibu.

***

Tags: tiffatul sembiring, michelle obama, lailatul kodar, kbbi, kbbi daring, pusat bahasa, glosarium, merubah, mengubah, eyd, ejaan yang disempurnakan,

 

    Riza Almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara

     guru itu digugu dan ditiru

08.03 05 Desember 2010.