NAPOLEON SETELAH WATERLOO


NAPOLEON SETELAH WATERLOO

 


Liburan panjang lebaran telah usai. Besok senin sudah mulai bekerja lagi. Perasaan malas kembali muncul, “coba saja kalau liburannya lebih lama, duh enaknya”. Apalagi setelah perjalanan mudik dan balik yang tentunya melelahkan sehingga butuh penyegaran dan pemulihan fisik supaya memulai bekerjanya lebih enak. Lagi-lagi hanya alasan pembenaran untuk sebuah kemalasan.

Sebuah pesan pendek masuk meningkahi keluhan itu. “Ayolah. Tetap semangat. Jangan begitu. Coba lihat sekitar kita yang bekerja dengan mengeluarkan peluh tapi hasilnya tak seberapa. Lihat tukang jual kerang rebus, tukang sol sepatu, penjual sarung remote tv yang lewat depan rumah. Kita? Cukup duduk di ruangan ber-ac, tunggu jam 5, dapat gaji gede di awal bulan. Syukuri dan jalani saja.”

Pesan yang menyadarkan nurani tentang pentingnya rasa syukur dan optimisme dalam hidup. Hidup itu apapun yang terjadi memang harus dijalani. Baik dan buruknya, nyaman dan menderitanya. Tinggal men-setting tool yang ada dalam otak kita pada mode sabar. Tapi tunggu dulu, gaji gede?

Wah, langsung alarm satuan ukur materialistis kita berbunyi. Dengan mulai membayangkan penghasilan yang didapat oleh karyawan BI, anggota DPR, pegawai pemerintahan daerah kaya (padahal mereka sendiri juga iri kepada para pegawai Kementerian Keuangan) dan lainnya. Naluri manusia yang sangat alamiah saat dihadapkan pada harta. Senantiasa mendongak ke atas dan jarang melihat ke bawah. Yang terakhir biasanya dilakukan kalau habis mendengar taushiyah dari ustadz di televisi. Jama`aaaaaaaaah oh jamaaaaaah.

Seringkali kita merasa kurang daripada yang lain kalau soal beginian. Atau merasa hidupnya paling miskin dan menderita. Makan sepiring berdua. Tidur beralaskan koran di pinggir jalan dan beratapkan langit.

Sedangkan banyak sekali orang yang merasa kita adalah orang yang lebih daripada diri mereka sendiri. “Mas, enak yah sekarang. Sudah punya istri, anak-anak, rumah, motor, mobil, sudah sekolah tinggi, status punya, kerja di pajak, gaji pastinya gede,” seorang teman jomblo mengomentari saya. Mendengar itu saya cuma bilang padanya, “makanya cepetan nikah.” Karena bagi saya jalan untuk membuka semuanya adalah dengan menikah. Sebab itu saya menikah di usia muda.

Ya, ternyata kita memiliki banyak sekali anugerah. Soal motor, mobil, dan rumah yang masih kredit serta letaknya tidak di pusat kota bahkan jauh, puluhan hingga ratusan kilometer dari tempat bekerja kita itu soal lain. Begitupula dengan SK PNS yang masih menginap di bank, asuransi kesehatan yang belum menggaransi seluruh anggota keluarga, atau tidak punya agenda liburan bulanan bahkan ke luar negeri, itupun soal lain.

Dan itu baru sebatas yang terlihat secara zahir oleh orang lain. Ada anugerah yang tak terlihat, yang hanya dirasa oleh kita, pasangan kita atau anggota keluarga kita lainnya berupa ketenteraman dan keberkahan atas harta dan rumah tangga kita. Keluarga sehat. Anak-anak tumbuh kuat dan cerdas. Punya tetangga samping kiri, kanan, depan, dan belakang yang peduli terhadap kita dan baik-baik. Pembantu rumah tangga yang loyal, amanah, dan sangat membantu serta membuat kita tenang untuk beraktivitas di luar rumah.

Atau teman-teman kantor yang selalu mendukung kita dan apalagi kalau setiap urusan kantor senantiasa dimudahkan untuk diselesaikan dan dicari solusi atas setiap permasalahannya. Atau punya atasan yang baik dan memahami kita, itu juga sebuah anugerah yang luar biasa. Atau seringkali kita diberikan kemudahan untuk menaruh jari di finger print tanpa sedetik pun terlambat di setiap paginya—walau untuk itu ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Komputer yang enggak pernah hang atau kena bahkan tidak merasa diserang virus. Pensil, serutan, penghapus, pulpen, dan alat tulis yang selalu tersedia. Kertas continuous form, kertas ukuran kuarto dan folio, printer dan tinta refill-nya yang selalu ada setiap saat.

Telepon dan mesin faksmili yang siap untuk digunakan. Jaringan internet yang bisa diakses dengan mudah. Satpam dan office boy yang tak pernah pasang muka cemberut untuk kita. Kursi kerja yang bisa digoyang dan digeser dengan mudah dan tak pernah membuat kita jatuh saat mendudukinya. Coba, nikmat manalagi yang hendak diingkari?

Kalau sudah memikirkan ini, saya tidak bisa untuk meminta dan menuntut orang lain bersikap sama dengan saya, bahkan seringkali ini mengharuskan saya untuk berkaca pada diri sendiri. Saya jadi malu, ternyata banyak sekali yang tak sesuai dengan apa yang saya ucap dan tulis. Betapa banyak keluhan dan rasa ketidaksyukuran yang ada. Walau tidak sempat atau sedikit terucapkan dengan lisan, namun banyak terlintas dalam benak dan tercetus dalam hati.

Tentang angan-angan liar berapa banyak harta dan kekuasaan (baca: penempatan) yang bisa diraih lagi. Tentang keluhan terhadap kondisi rumah dan kantor. Tentang aktivitas dan kerja yang seringkali dengan embel-embel ataupun pamrih, ucapan yang dihias dengan ambisi, dan merasa mulia dengan jabatan dan kekayaan yang serba tanggung ini. Padahal dua terakhir ini pun sudah pasti tak bisa menyelamatkan diri saya saat di ujung nafas nanti. Saya jadi teringat Al Walid Ibn Abdul Malik, penguasa Damaskus, penguasa sebagian belahan dunia, pemuncak kejayaan Dinasti Bani Umayyah, di saat sekaratnya yang berucap, “hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku. Mana hartaku? Mana kekuasaanku?”

Itu baru sebatas keluhan, yang paling parah adalah jika tidak berhenti sampai di situ, tetapi hingga direalisasikan dengan ibadah yang sedikit. Duh, Gusti. Padahal Pemilik seluruh harta kekayaan di langit dan bumi telah menjamin rezeki buat saya jika saya mampu untuk melakukan tiga hal ini: meminta padaNya, ibadah yang benar dan banyak, dan bersyukur. Memikirkan semua itu saya seperti menjadi Napoleon setelah Waterloo.

Syawal ini saya mau berubah ke arah yang lebih baik lagi. Semoga.

***

 

Riza Almanfaluthi

Penelaah Keberatan

Direktorat Keberatan dan Banding

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak

–dimuat di Majalah Berita Pajak Edisi September-Oktober 2011

Gambar berasal dari sini.

 

 

 

PENGUMUMAN KLOTER


PENGUMUMAN KLOTER

 

Jauh-jauh hari kalau daerah lain, pengumuman kloter dan pemberangkatan ini sudah diketahui. Tapi untuk Kabupaten Bogor baru tanggal 1 Oktober ini diumumkan. Itupun setelah beberapa kali dimundurkan dari jadwal semula 17 September dan 24 September 2011.

Tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini. Yang selalu dikatakan oleh petugas haji Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor kepada kita-kita adalah: “Sabar, sabar, sabar.” Ya, ya, ya, kami sabar Pak. Masalahnya keputusan segera diketahuinya kapan pemberangkatan ini berpengaruh pada kapan calon jamaah haji (calhaj) akan mengambil cuti dan persiapan perbekalan, padahal tanggal 6 Oktober ada yang sudah berangkat.

Walau sudah diumumkan ada juga calhaj yang tercecer belum dimasukkan dalam daftar itu. Kebetulan calhaj itu adalah teman saya. Kok bisa? Saya juga tidak tahu kenapanya. Sampai-sampai ada calhaj yang tidak bisa menepis rasa curiga jangan-jangan ada rempeyek di balik gado-gado. Eits…tak perlu diperpanjang.

Lama kami—calhaj mandiri—mencari bocoran pengumuman itu, kali saja ada informasi yang bisa dibagi tetapi ternyata petugas haji keukeuh untuk tak mau memberitahu sebelum tanggal 1 Oktober 2011. Masalahnya kepada kami-kami yang mandiri bersikap itu tetapi lain hal kalau yang dari KBIH. Informasi pemberangkatan sudah sampai kepada calhaj binaan mereka. Seperti yang mau berangkat tanggal 7 Oktober nanti, mereka sudah dapat informasinya jauh sebelum tanggal 1 Oktober 2011. Apakah ini bukan diskriminasi namanya?

Walau demikian saya akhirnya lega juga pada hari Sabtu (1/10/2011) ini sudah ada kepastiannya setelah akun facebook saya ditempel gambar pengumuman hasil jepretan ketua regu Pak Rakhmat Tomi Wibowo ( http://www.facebook.com/tomi.wibowo ). Terima kasih banyak Pak Tomi.

Dari situ diketahui kalau Saya dan istri masuk

Kelompok Terbang (Kloter)     : 65

Rombongan            : 9

Regu                : 35

Tanggal pemberangkatan    : Selasa, 25 Oktober 2011

Embarkasi            : Jakarta

Untuk yang tanggal itu kumpul di Cibinong jam 4 pagi. Lalu berangkat ke asrama haji jam 5 pagi. Kemudian pergi ke bandara jam 11.25.

Setelah pengumuman ini apa lagi yang harus dikerjakan? Enggak tahu. Saya benar-benar enggak tahu. Tapi pada intinya kita yang mandiri ini memang harus banyak tanya dan cari informasi. Pada siapa saja. Petugas Haji, Pembimbing Manasik Haji, teman yang sudah pernah haji, teman satu regu, teman satu rombongan dan kepada siapa saja yang ditengarai memiliki informasi penting tentang haji.

Semoga informasi ini bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01 Oktober 2011

 

Tags: haji, pengumuman kloter 2011, pengumuman kloter kabupaten bogor, kementerian agama kabupaten bogor, depag kabupaten bogor, departemen agama kabupaten bogor, haji, haji kabupaten bogor, pengumuman haji kabupaten bogor,

PELUNASAN BIAYA HAJI


PELUNASAN BIAYA HAJI

 

    Kini saatnya untuk menerangkan tahap pelunasan biaya haji di tahun 2011 atau 1432 H ini. Seperti telah diketahui bersama Pemerintah dan Komisi VIII DPR telah menyepakati besarnya Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2011 M sebesar Rp30.771.900,00 yang akan berlaku berbeda tergantung embarkasinya. Kalau dalam mata uang dollar untuk embarkasi Jakarta senilai US$3,589.00 ( 1 US$ = Rp8.700,00).

    Waktu pembayaran telah diplot selama dua minggu mulai 15 Agustus sampai dengan 26 Agustus 2011. Jika pada masa ini ada calon jamaah haji yang belum mampu melunasi diberikan tenggang waktu mulai tanggal 6 sampai dengan 9 September. Jika tidak maka akan digantikan dengan jamaah daftar tunggu 2012.

    Nah, bagaimana cara melunasinya? Tentu datang ke bank tempat kita buka rekening haji dan membayar setoran awal. Apa dokumen yang harus dibawa? Masing-masing bank punya aturan yang berbeda. Oleh karenanya untuk mengetahui pastinya lebih baik telepon Customer Service (CS) bank itu. Informasi dari petugas haji di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor kurang valid.

    Kalau di Bank Mumalat Indonesia Cabang Bogor—tempat kami berdua membayar setoran awal haji—yang di Jalan Pajajaran dekat Warung Jambu itu, menyaratkan kami untuk membawa ini:

  1. Pas Foto ukuran 3 x 4 sebanyak 5 lembar;
  2. Fotokopi Setoran awal BPIH sebanyak 1 lembar;
  3. Mengisi formulir yang disediakan petugas bank di sana.

Bagaimana dengan meterai? Bawa silakan tak bawa juga tak apa-apa. Karena bank telah menyediakannya dengan harga yang normal sebesar Rp6000,00 untuk 1 lembarnya.

Kami sampai di sana sekitar pukul 11.30 sesuai informasi yang didapat dari CS via telepon sebelum kami berangkat karena baru pukul 11.00 SISKOHAT bisa online. Dan menurut informasi SISKOHAT hanya online sampai pukul 14.00. “Jadi mengapa harus datang pagi-pagi?” begitu pikir kami. Di halaman depan bank sudah ada tenda berukuran 12 m2 dengan kursi-kursi yang masih kosong.

Pelayanan yang kurang memuaskan di tahun 2009 saat kami melakukan penyetoran awal dan informasi dari teman tentang kualitas pelayanan yang tak memadai di tahun-tahun sebelumnya pupus sudah saat kami datang ke sana. Kami sudah disambut ramah oleh petugas keamanan di pintu masuk yang juga memberi kami banyak informasi tentang cara pelunasan itu.

    Ternyata kami datang di waktu yang tepat, karena kalau saja kami datang di hari pertama atau di pekan pertama waktu pelunasan maka antriannya panjang dan memakan waktu lama. Pada hari Selasa (23/8) ini sampai siang itu cuma tiga orang termasuk kami yang melakukan pembayaran. Jadi tidak butuh lama untuk antri.

 

Kami diminta untuk mengisi formulir aplikasi transfer/pengiriman uang ke Menteri Agama dengan nomor rekening: 301 00394 15. Di tahun 2009 kami hanya diminta membayar Rp20 juta untuk mendapatkan porsi. Sehingga pada saat pelunasan BPIH di tahun 2011 ini kami hanya membayar sisanya. Perhitungannya sebagai berikut:

Jumlah BPIH     US$3,589.00 x 8.595,00 (kurs US$ pada hari itu) = Rp30.847.000,00

Dikurangi setoran awal = Rp20.000.000,00

Jumlah kekurangan = Rp10.847.000,00

Dari Teller lalu kami menuju CS untuk dibuatkan dokumen Setoran BPIH yang akan diserahkan kepada petugas di Kantor Kementerian Agama. Setelah dilayani oleh teller untuk pembayaran dan Customer Service untuk pembuatan dan penandatanganan seluruh dokumen, maka selesai sudah proses pelunasan BPIH ini.

    Sebelum pergi kami diberikan cinderamata. Satu tas untuk saya yang isinya satu set kain ihram, baju koko, dan kantung batu. Dan satu tas lain yang lebih kecil untuk istri saya berisi satu gamis, jilbab, mukena, dan kantung batu.

Setelah itu kami langsung menuju Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor yang berada di Cibinong untuk menyerahkan dokumen-dokumen sebagai berikut:

  1. Fotokopi KTP 3 lembar;
  2. Fotokopi Kartu Keluarga 1 lembar;
  3. Formulir Setoran BPIH.

Sudah selesai. Kami diminta untuk menghubungi petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor lagi nantinya di nomor telepon 021-87909015 untuk mengetahui kapan jadwal manasik terakhir. Semuanya dimudahkan Allah dalam tahap pelunasan ini. Insya Allah ini adalah berkah ramadhan 1432 H.

Demikian pembaca, semoga informasi ini bermanfaat buat Anda.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.46 – 26 September 2011

Tags: haji bogor, pelunasan biaya ibadah haji, bpih, biaya haji 2011, biaya haji, bank muamalat indonesia, bmi, tanggal pelunasan, kapan pelunasan ibadah haji, kantor kementerian agama kabupaten bogor, pelunasan haji, pelunasan biaya haji

JANGAN DIBUNGAIN YA PAK


JANGAN DIBUNGAIN YA PAK

Dewi namanya. Malam-malam kirim SMS pada saya. Bahkan datang ke rumah jam setengah sebelas malam. Saya tidak kenal dia. Dia juga tidak kenal saya. Saya dikenalkan dengan dia oleh Ustadz Fatkhurrokhman—KPP Pasar Rebo, halo Ustadz semoga antum sehat selalu—maghrib sebelumnya. Sebenarnya Dewi hendak menuju ke rumah Ustadz Fatkhurrokhman, tetapi, maka ia menyarankan Dewi untuk menemui saya.

Dewi mengetahui Ustadz Fatkhurrokhman dari mahasiswa UI yang ditemuinya di Metromini sepulang dari Dompet Dhu’afa. Permohonan mendadak atas suatu keperluannya tidak bisa dipenuhi oleh lembaga itu. Ia mengeluh kepada mahasiswa UI dan dari mahasiswa itu Dewi diminta untuk datang ke rumah Ustadz Fatkhurrokhman. Tetapi karena sedang bedrest dan jaraknya jauh dari Bojonggede ke Cinere, Ustadz Fatkhurrokhman menyarankan Dewi untuk menemui saya saja.

Dewi anak pertama dari sembilan bersaudara. Umurnya 27 tahun. Bapaknya sudah dua tahun tidak ada. Lima orang adiknya masih sekolah. Sedangkan ia belum lama keluar dari Rumah Sakit Cibinong dan Rumah Sakit Bunda Margonda Depok karena vertigo. Karena sering sakit-sakitan, ibu dari dua orang anak ini ditinggal suaminya tanpa kejelasan status. “Enggak kuat biayain sakit kamu,” kata suaminya. Kini Dewi tinggal bersama ibunya sebagai tulang punggung keluarga untuk membiayai adik-adiknya dan tentu dua anaknya juga. Peran sebagai buruh cuci pun dilakonin.

Dewi meng-SMS: “Pak, adek saya yang baru masuk SMK sampai saat ini belum bisa bayar SPP selama tiga bulan. Saya sudah ke sana ke mari namun masih belum ada jalan. Saya berusaha minta tolong sama tetangga tetapi mereka mintanya dibungain.”

Butuhnya berapa Mbak? Saya
kirim sms balasan.

Besarnya 240 ribu rupiah Pak. Jumlah yang sangat besar Pak. Tadi saya sudah coba usaha ke Jakarta. Yang ada malah uang yang seharusnya buat beli beras terbuang buat ongkos sama beli pulsa. Soalnya saya pinjam hp teman adek saya Pak.

Saya jadi ingat ada amanah yang belum tertunaikan. Maka saya minta ia datang malam itu juga ke rumah saya. Soalnya kalau bertemu besok pagi sudah jelas saya tidak ada. Saya sudah pergi ke kantor. Jarak 6 kilometer ditempuhnya.

Di ruang tamu itu wajahnya terlihat kelelahan. Ia mengutarakan semua keluhannya. Sang adik sebenarnya menunggak SPP tiga bulan, tapi cukup diminta untuk membayar 2 bulan dulu. SPP sebulannya Rp120 ribu. Saya periksa semua fotokopi dokumen yang saya minta sebelumnya. Yang pasti harus diketahui adalah alamat rumahnya untuk suatu saat saya dapat silaturahim dengan ibunya.

“Jadi emangnya Mbak Dewi mau pinjam uang?” tanya saya.

“Iya Pak. Tapi tolong jangan dibungain ya Pak,” pintanya.

“Emangnya tetangga sana minta bunga yah?”

“Iya Pak, saya mau pinjam 100 ribu. Saya cuma dapatnya 80 ribu. Lalu bayarnya bulan depan 130 ribu,” jelasnya. Waduh…gede amat.

“Ya sudah, tapi sebelumnya saya minta nanti Mbak Dewi sama keluarga yang lain doakan nama ini yah. Beliau yang sebenarnya bantu Mbak,” kata saya sambil menyodorkan secarik kertas berisi sebuah nama. “Anaknya sakit, tolong doakan supaya anaknya cepat sembuh.”

“Insya Allah Pak.”

“Ini uangnya.” Dua kertas warna merah dan dua kertas warna hijau berpindah tangan. “Tak perlu bayar bunga. Dan tak perlu ngutang. Ini dikasih saja.”

“Tapi pak…saya niatnya minjem?” Ia terperangah. Tak percaya. Matanya berkaca-kaca.

“Tak usah. Tidak apa-apa. Manfaatkan dengan baik saja,” potong saya. Ia tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dua tangan menangkup wajahnya. Saya sampai harus menarik tangan saya ketika ia tiba-tiba turun dari kursi tamu, duduk bersimpuh di hadapan saya, dan hendak mencium tangan saya.

Kata-kata terima kasih berulang-ulang terluncur dari mulutnya. Rona bahagia terlihat dari wajahnya. Besok ia akan datang lagi untuk menyerahkan bukti pembayaran SPP itu.

Uang 240 ribu rupiah bagi kita bisa jadi itu senilai jumlah pulsa hp bulanan kita. Atau senilai satu potong kemeja. Atau senilai traktiran 7 porsi tongseng STEKPI Kalibata dan 20 tusuk satenya. Atau senilai internet unlimited dua bulanan. Tapi bagi Dewi, uang senilai itu berharga sekali. Amat. Memperpanjang masa depan dan hidup keluarganya.

Nama yang saya sodorkan kepada Dewi adalah nama salah satu dari anggota milis ini. Kepadanya saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Masyarakat Bojonggede sangat terbantu sekali.

Infak dan segala pemberian kita adalah harta yang sesungguhnya. Menjadi benteng dari segala musibah dan petaka, wasilah untuk mendapatkan anak, menyembuhkan derita sakit, menjadi awal dari bertambahnya kebaikan kita, serta melatih kepekaan dan mendidik kita untuk menjadi orang yang soleh secara sosial. Karena sejatinya orang soleh secara individu itu banyak tetapi paripurna berkelindan dengan soleh sosial itu yang jarang. Saya banyak belajar dari teman-teman sekalian yang ada di sini.

Terima kasih atas pelajarannya, Kisanak…

***

Thanks to Bapak, Ibu, Mas Bro dan Mbak Sist :

Herlin Sulismiyarti; Hartyastuti; Harsoyo; R Ganung Harnawa; Noviyanti; Euis Purnama Sari; Erwinsyah Marpaung; Erwan; Ervan Budianto; Erni Nurdiana; Erin Fadilah Sari; Erfan; Eni Susilowati; Emma Kataningrum; Eldes Gina Kencanawati Marbun; Dina Lestari; Dian Sofa Imama; Dian Rahmawati; Dewi Andriani; Desiana Witianingtyas; Desi Purbi Mulyani; Cucu Sri Rahayu Botutihe; Binanto Suryono; Ayu Diah Rahmayati; Awik Setyaningsih; Ardiana Wiryawan; Anton Rukmana; Anik Noerdianingsih; Anang Anggarjito; Amran; Aliyah; Al Mukmin; Agus Budihardjo; Agung Priyo Susanto; Ade Hasan Pahru Roji; Abdul Manan; Moh. Suroto; Budi Utomo; Zakki Asyhari; Ujang Sobari; Uha Indiba; Tujanawati; Tri Satya Hadi; Tosirin; Tjandra Risnandar; Titik Minarti; Tintan Dewiyana; Sulistiyowati; Siti Nur`Aini; Setyo Harini; Ruli Kushendrayu; Roos Indrapurwati Yulinapatrianingsih; Riza Almanfaluthi; Rina Febriana Sitepu; Rimon Domiyandra; Ratna Marlina; Nugroho Putu Warsito; Nana Diana; Nady Safutra; Listya Rindrawardhani; Lia Yuliani; Layli Sulistiorini; Larisman Gaja; Khuriah Nur Azizah; Khadijah; Ita Dyah Nursanti; Irma Handayani; Indria Sari; Imamuddin Hakim; Ikaring Tyas Aseaningrum; Leli Listianawati; Mona Junita Nasution; Herri Rakhmat; Herpranoto; Rosvita Wardhani; Indah Pujiati

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10.25 – 17 September 2011

Philanthropycanus Erectus Citayamiensis

DIGAYUSIN LAGI


DIGAYUSIN LAGI

    Ry, izinkan aku menulis lagi malam ini. Tentang apa saja. Mungkin tentang yang aku alami hari ini. Seperti biasa aku harap engkau cukup diam dan menyimak apa yang aku tulis. Kau tahu kepalaku sakit kalau tidak menulis.

    Malam ini Ry, hujan. Jakarta hujan. Depok hujan. Citayam hujan. Apalagi Bogor, hujan pastinya. Alhamdulillah. Berkah banget. Sepertinya kemarau akan segera berakhir. Syukurlah. Dan aku seperti hari terakhir di musim kemarau. Kau tahulah artinya apa. Tapi tadi di Stasiun Sudirman ketika tetes-tetes hujan itu berubah menjadi gemerisik yang deras, sungguh bau tanah yang tersiram hujan itu menyengat banget.

Tahu kamu Ry, apa yang aku lakukan? Di pinggir rel, di peron 2 itu, aku hirup dalam-dalam petrichornya. Aku tiba-tiba teringat kamu Ry. Kalau saja aku sendiri di sana, akan aku rentangkan tanganku dan membiarkan nafasku yang berbicara lalu membiarkan wajahku tersiram gerimis pertama itu. Untuk menghapus ingatan pagi tadi agar hilang dan lenyap bersama petang yang membawa malam.

Kamu tahu Ry, aku di-Gayus-in lagi. Kapan? Iya, tadi pagi. Aku jadi teringat, Juli kemarin aku menulis sebuah artikel. Ceritanya tentang empatiku pada teman-teman DJP di bulan Maret 2010 lalu. Ketika itu kalau ada metromini yang berhenti di depan kantor keneknya itu selalu bilang: “Gayus! Gayus! Gayus!!!” Nah, aku tuh—dalam tulisan tadi—membayangkan bagaimana perasaan teman-teman ketika turun dari Metromini tadi.

Eh, sungguh Ry. Kejadian itu nyata padaku. Menimpa padaku hari ini. Dan aku tidak sekadar empati. Tapi menjadi saksi hidup dari perasaan yang timbul itu. Dulu sekadar membayangkan, kini benar-benar nyata. Pagi tadi dari Stasiun Sudirman aku naik Metromini 640 jurusan Tanah Abang Pasar Minggu. Perjalanan lancar mulai dari Setiabudi, Kolong, Benhil, Atmajaya, Komdak, dan Gedung Mulia. Nah sebentar lagi turun di jembatan penyeberangan sebelah gedung Jamsostek, persis depan kantor BKPM. Biasanya sih si kenek bilangnya: “Pajak..! Pajak..!” Tapi, kali itu si kenek ini bilangnya ya itu tadi: “Gayus! Gayus! Gayus!!!”

Spontan Ry, aku merasa gimana gitu. Banget nget…nget… “Alhamdulillah ya, sesuatu ya…,” kata Mbak Titi Sugiarti—yang ini teman saya—ala Syahrini di Gtalk. Sepertinya seluruh penumpang melihat saya dengan pandangan aneh dan penuh selidik. Atau ini hanya perasaan saya saja yah? Tapi pokoknya gimana gitu. Menggambarkan perasaan seperti itu rada-rada susah.

Beruntungnya Ry, tidak hanya saya yang turun, tapi sekitar lima orang teman saya juga ikut di Metromini itu. Mereka cuma tersenyum kecut dan saling pandang. Heheheheh kita senasib Mas Bro dan Mbak Sist. Tapi kebetulan Pak Jon Suryayuda S—atasan saya—tidak satu bus. Ceritanya akan tambah seru kalau beliau ikut merasakan juga. Akan jadi obrolan menarik. Hehehhhe…

Ternyata saya baru tahu dan kalau benar, kejadian itu adalah efek dari berita baru tentang Gayus yang punya duit 4 milyar. Ada-ada saja. Tapi yang pasti, kayaknya saya kudu lihat-lihat dulu keneknya siapa kalau mau naik Metromini. Kalau dia lagi—wajahnya ingat betul—ogah ah. Ngapain gitu? Metromini kan banyak…

Itu saja Ry, malam ini aku cerita sama kamu. Terima kasih tetap sama kayak yang dulu. Diam, masih mau mendengarkan aku. Aku yakin diammu adalah cinta yang tak terkatakan untukku. Ohya Ry, di luar hujan sudah menjadi prasasti malam. Jejaknya hanyut diterkam dingin. Kau merasakannya?

Salam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.45 – 15 September 2011

Pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/15/digayusin-lagi/

Tags: gayus, djp, metromini 640, tanah abang, setiabudi, kolong, benhil, atmajaya, komdak, gedung mulia, titi sugiarti, jon suryayuda s, bkpm, pasar minggu

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

HARAPAN MAHADAHSYAT


HARAPAN MAHADAHSYAT


Islamedia –Apa yang menyebabkan seseorang ingin terus hidup di dunia? Tentunya karena ada harapan ia akan mendapatkan sesuatu untuk kesenangan dirinya. Dan harapan itu adalah kuncinya. Orang yang tidak punya harapan maka biasa disebut orang yang putus asa. Kalau enggak kuat iman biasanya bunuh diri.

Dalam Islam kita dilarang untuk melakukan bunuh diri, karena dosanya begitu besar. Pun, buat apa bunuh diri karena sebenarnya setiap masalah tentunya selalu ada solusi sebagai pasangannya. Karena pula rahmat Allah yang begitu luas. Maka jangan sekali-kali putus asa dari rahmatNya. Lagi-lagi ini menyangkut masalah iman.

Nah terkait dengan harapan ini, ramadhan bisa juga disebut sebagai bulan penuh harapan. Dengan demikian begitu banyak orang—terutama yang beriman—menyambutnya dengan riang gembira, minimal enggak ngedumel. Mengapa? Karena begitu banyak harapan-harapan yang diberikan Allah kepada orang yang berpuasa. Mulai dari segi kebendaan sampai yang transendental (Memangnya Ulil doang yang bisa ngomong kayak ginian).

Mulai dari sekadar berharap bedug maghrib cepat berbunyi atau juga suasana siang dan malamnya yang berbeda dengan hari-hari biasanya dan ini sering menimbulkan kerinduan yang begitu mendalam. Atau harapan dapat berbuka puasa bersama dengan keluarga dan mendapatkan kehangatan yang menyertainya. Atau dengan mencicipi minuman, makanan, dan masakan yang hanya muncul di bulan Ramadhan itu. Atau keramaian tiada tara di masjid dan musholla bagi anak-anak yang tidak biasa didapatkan di bulan selainnya.

Atau sekadar harapan dapat THR bagi para pegawai dan buruh. Atau dapat bagian beras dan uang zakat bagi para mustadh’afin. Atau harapan bisa mudik yang tidak menyurutkan niat dari jutaan orang para pelakunya walau kesulitan dan kelelahan menghadang didepan. Dan lebaran tentunya. Duh, banyak banget yah harapan-harapan itu. Tetapi itulah yang membuat kita hidup. Apalagi jika semuanya, harapan-harapan itu, bermuara pada kenyataan.

Itu hanya sebatas keduniawian. Padahal ada harapan yang lebih dahsyat dan mahadahsyat lagi. Seluruhnya ada di bagian yang transendental itu. Mulai dari harapan bisa dilipatgandakannya pahala dari semua amal-amal kebaikan yang dilakukan, atau ketenangan jiwa yang begitu banyak dicari oleh orang seantero dunia, atau keberkahan hidup dunia dan akhirat, atau mendapatkan malam yang mulia, malam seribu bulan, malam lailatul qadr.

Atau menjadi orang yang seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia di 1 Syawal. Bersih. Putih. Tanpa noda dan cela apalagi dosa. Atau harapan mendapatkan predikat al-‘abda attaqiyya (orang yang bertakwa)—dan ini sudah jelas dicintai oleh Allah. Atau harapan mendapatkan rahmat, ampunan Allah, dan pembebasan dari api neraka. Atau harapan masuk surganya Allah dari pintu Arroyyan.

 

Dan harapan yang mahadahsyat itu adalah berjumpa dengan Allah Akbar. Sebuah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama di alam ruh. Kita begitu merasakan nikmat yang luar biasa hingga mendapatkan sensasi tiada terkira ketika kita berbuka puasa hanya dengan seteguk air dingin atau secangkir teh hangat, seiring itu kita mengucap syukur Alhamdulillah, apatah lagi berjumpa dengan Sang Mahaindah: Allah ‘azza wajalla. Indah nian jika harapan mahadahsyat itu terealisasi.

Berharaplah, teruslah berharap, jangan pernah berhenti untuk berharap di hari-hari Ramadhan yang tersisa ini. Hiduplah, teruslah hidup, jangan pernah berhenti untuk hidup di bulan 1000 harapan ini. Jangan pernah menyerah untuk terus beramal karena Allah, sebagai jalan memuluskan harapan itu menjadi nyata. Jangan pernah untuk lelah lalu kita rehat karena tempat istirahat kita sejatinya cuma ada di sana, di jannahNya Allah.

Semoga, kau dan aku, menjadi bagian dari manusia yang dapat mewujudkan harapan mahadahsyat itu. Agar tak sekadar mimpi.

***

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Islamedia

03.33 pada 20 Ramadhan 1432 H

http://www.islamedia.web.id/2011/08/harapan-mahadahsyat.html

Gambar diambil dari sini.

EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU


EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU

 

Tak dinyana saya menemukan banyak buku bagus waktu pergi ke toko buku Gramedia di ITC Cibinong, Rabu petang (29/6). Selain bagus sudah barang tentu murahnya itu yang  membuat saya tertarik sekali. Seperti biasa yang saya cari pertama kali di toko itu adalah bukan buku-buku yang terpajang di rak-rak utama di bagian dalam toko. Tetapi pada buku-buku yang tergeletak tak beraturan di lapak-lapak khusus buku murahnya.

Bayangkan buku Membongkar Kegagalan CIA dijual cuma 35 ribu perak. Namun bukan buku itu yang saya pilih, karena saya sudah baca bukunya di Perpustakaan Kantor Pusat DJP. Selain itu ada buku-buku yang seharga semangkuk bakso atau satu gelas jus buah. Berkisar angka 5 ribu sampai dengan 10 ribu rupiah. Nah yang ini baru saya beli. Murah tapi tidak murahan. Dan perasaan saya saat membelinya seperti membeli satu kilogram emas batangan yang dijual cuma dengan harga 1 gram saja.

Ada lima buku yang saya beli. Bukunya tebal-tebal lagi.

  1. Pahlawan Zaman Kita, sebuah novel yang ditulis oleh Penulis Rusia, Mikhail Lermontov , harganya cuma 10 ribu rupiah. Tebal 200 halaman.  
  2. The Long Tail: Ekonomi Baru dalam Bisnis dan Kultur, Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas, Chris Anderson, harganya sama cuma ceban. Tebal lebih dari 287 halaman.
  3. Bidik, Novel Dengan Dua Sisi. Sisi 1: Lomotions, Sisi 2: Loko Motive. Sebuah novel yang ditulis oleh Nugroho Nurarifin.  Harganya goceng saja, lima ribu rupiah. Tebal 264 halaman.
  4. Orang Batak Berpuasa, buku yang ditulis oleh Baharuddin Aritonang. Harganya cuma 10 ribu rupiah saja.
  5. Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Jilid 3. Merupakan buku yang direkomendasikan oleh Tutor pada waktu workshop menulis untuk dimiliki. Sayangnya yang ada cuma jilid ke-3. Tidak ada jilid ke-1 dan ke-2 nya. Harganya? 10 ribu rupiah. Tebal 224 halaman.

Sampai tulisan ini dibuat buku yang sudah saya baca adalah Novelnya Mikhail Lermontov dan buku yang sedang saya baca adalah The Long Tail. Tiga lainnya belum terbaca sama sekali.

Tidak sampai satu bulan kemudian, Ahad kemarin (24/7) saya balik lagi ke toko buku itu. Dan ternyata, waow, buku-buku murahnya tambah banyak lagi dan baru-baru. Maksud baru di sini adalah buku lama yang di bulan sebelumnya belum ada di lapak buku murah. Dan ternyata lagi, jilid 1 dan jilid 2 dari buku Proses Kreatif sudah ada. Sudah pasti saya angkut dua buku itu dengan harga masing-masing cuma 15 ribu rupiah.

 

Tak disangka pula saya menemukan bukunya Jung Chang, Angsa-angsa Liar. Tahu siapa Jung Chang? Dia yang menulis buku bagus tentang Mao. Buku tebal yang berjudul Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui sudah saya baca habis. Waktu itu saya penasaran sama Jung Chang yang bisa bercerita detil tentang Mao dengan segala kekejamannya itu. Eh, malah ketemu buku lainnya itu yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Wild Swan.

Di toko itu, harganya cuma 20 ribu rupiah. Dulu harga buku barunya 100 ribu rupiah.

Walaupun banyak sekali buku murah yang bagus-bagus, saya memutuskan  hari Ahad itu saya beli buku tiga saja. Ada loh buku tentang India dan Cina, juga tentang Perang Troya. Tetapi  nafsu saya harus ditahan dulu. Insya Allah bulan depan.

Yang mengejutkan saya kira buku Proses Kreatif itu hanya sampai jilid 3, baru saja googling ada juga jilid empatnya.

Semoga saja sudah ada edisi murahnya bulan depan.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16.19 25 Juli 2011

 

 

tags: gramedia, itc cibinong, membongkar kegagalan cia, perpustakaan kantor pusat djp, djp, pahlawan zaman kita, rusia, mikhail lermontov, the long tail, chris anderson, bidik: novel dengan dua sisi, lomotions, loko motive, bidik, nugroho nurarifin, orang batak berpuasa, baharuddin aritonang,  proses kreatif: mengapa dan bagaimana saya mengarang, jung chang, angsa-angsa liar,  mao zedong, mao tse tung,  mao: kisah-kisah yang tak diketahui, mao: untold story, wild swan, india, perang troya.

[CATATAN SENIN KAMIS]: EUFEUMISME PARADOKSAL


EUFEUMISME PARADOKSAL

 

Bergumul dengan percakapan tadi malam dengan seseorang membuat saya menafsirkan ulang arti dari sebuah permintaan, pernyataan, ataupun penegasan akan sebuah keinginan. Inilah pentingnya memahami arti atau makna yang sebenarnya dari sebuah kalimat yang terlontar. Tanpa ada reduksi arti ataupun distorsi makna.

Pun, karena kita berada di sebuah tatar di mana sebuah kesopanan dijunjung di atas kepala setinggi-tingginya dengan sebuah aforisme 1000 kawan terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak maka yang tampak mengemuka adalah eufeumisme. Penghalusan ungkapan sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar, tidak menyenangkan, ataupun merugikan.

Maka akan banyak sekali kita temukan di negeri sejuta eufeumisme ini, semua penghalusan itu. Mulai dari kematian hingga menyangkut masalah apa yang ditelan manusia. Bahkan menular pada kehidupan perpolitikan negeri ini yang penuh basa-basi dan kehidupan kita sehari-hari.

Sebuah perusahaan ketika ingin memecat seseorang, maka yang dilakukan bukan seperti orang-orang di Barat yang tanpa tedeng aling-aling mudah untuk bicara “You are fired!!!” dengan berteriak di depan durja sang korban, hanya beberapa sentimeter saja jaraknya. Tidak seperti itu. Tetapi cukup dengan sebuah ungkapan “tidak membutuhkan Anda lagi” yang didahului dengan kata maaf.

Yang lebih halus lagi adalah ketika pinta itu direpresentasikan dengan hal-hal yang kontradiktif dari kalimat yang terucap—melanjutkan contoh di atas—misalnya, “Anda sepertinya butuh waktu untuk istirahat, dan kami dengan senang hati memberikannya kepada Anda.” Sebuah tawaran yang teramat baik dan terpuji. Tetapi dibaliknya adalah: “Kau dipecat!!!” Ironi. Paradoks. Menyakitkan.

Inilah eufeumisme paradoksal.

Hakim di Pengadilan Pajak sedang meneliti syarat formal pengajuan gugatan yang diajukan Penggugat. Dalam hal ini Penggugat kebetulan mencantumkan dua keputusan yang digugat dalam satu surat gugatan. Maka Majelis Hakim menilai bahwa gugatan ini tidak dapat diterima. Majelis hakim mengatakan kepada Penggugat, “Gugatan Penggugat tidak dapat diterima.” Sebenarnya itu cukup tapi terkadang ditambah dengan kalimat, “Lebih baik perbaiki saja surat gugatan ini.”

Padahal sia-sia saja untuk diperbaiki karena biasanya pemeriksaan gugatan dilakukan setelah batas waktu pengajuan 30 hari terlampaui. Penggugat tak akan bisa lagi mengajukan gugatan karena jatuh tempo pengajuan itu telah lewat. Dengan kata lain, “Percuma!” Tawaran hakim Inilah yang bisa disebut eufeumisme paradoksal.

Suatu malam di ujung telepon sana, atau di sudut layar telepon genggam, atau di layar putih surat elektronik, atau dalam gerak cepat layar chat box, seorang laki-laki menerima pesan terucap atau tertulis seperti ini, “Maukah kau melupakanku dari hidupmu, karena kau terlalu baik buatku. Tetapi aku tetap menjadi kawan atau adik terbaik buatmu.”

Laki-laki ini terkejut, hatinya karut seiring langit yang memuntahkan angkaranya dengan petir membahana. Ia tahu perempuan itu cuma mau bilang, “Kau, aku, selesai!” Sebuah pernyataan tentang kemuakan, kebencian, ketakbergunaan, tak perlu diingat lagi kepada laki-laki itu. Tetapi dibalut dengan eufeumisme “maukah kau melupakanku dari hidupmu.” Yang sebenarnya adalah “Gua empet lihat muka elo!” Plus paradoksal, “karena kau terlalu baik buatku.” Yang sejatinya terkatakan adalah: “Iblis bermuka nabi”. Inilah eufeumisme paradoksal.

Yitzak Rabin di tahun 1992 adalah Perdana Menteri baru buat Israel. Ini kali kedua setelah ia menjabat pertama kalinya sebagai Perdana Menteri di tahun 1974-1977. Ia dikenal dengan tangannya yang berlumuran darah rakyat Palestina.

Tahun 1948 ia melakukan teror dan pengusiran terhadap puluhan ribu rakyat Palestina dari tanah mereka. Ratusan ribu lainnya menyusul di tahun 1967. Pada saat gerakan intifadhah selama 4 tahun yang dimulai tahun 1987, Israel dibawah kendalinya sebagai Menteri Pertahanan melakukan pembunuhan, penyiksaan, pemotongan anggota badan, pemenjaraan, dan pengusiran terhadap bangsa Palestina.

Dan apa yang ditawarkan setelah ia menjabat sebagai Perdana Menteri Israel kala itu: menawarkan keinginan dan visi perdamaian. Tetapi sejalan dengan itu Rabin tetap memerintahkan penyelesaian 11 ribu unit perumahan yang belum jadi di Tepi Barat, menolak setiap kompromi terhadap kota Yerusalem, dan menolak pemberian kewarganegaraan Israel bagi orang-orang Palestina yang hidup di tanah pendudukan tersebut. Di tahun 1994, ia dianugerahi Nobel Perdamaian hanya gara-gara ia mau berdamai dengan Palestina di tahun 1993.

Tangan kanan Yitzak Rabin menyerukan salam perdamaian kepada rakyat Palestina dan dunia namun tangan kirinya tetap dengan cambuk yang siap untuk dilecutkan. Inilah eufeumisme paradoksal. Bahkan diabadikan sampai sekarang oleh seluruh penerusnya.

Rwanda di akhir abad 20 adalah contoh getir dari ketiadaan harga nyawa manusia dan pembiaran dunia internasional atau impotennya negara-negara pengoar-ngoar demokrasi dan hak asasi manusia.

Rwanda dengan mayoritas Hutu yang tambun, bulat, berkulit gelap, dan petani dengan minoritas Tutsi yang ramping, tinggi, berkulit kurang gelap, dan peternak. Berkaitan dengan benang sejarah lampau antara Hutu yang sahaya dengan Tutsi yang penguasa. Namun di awal tahun 90-an itu Rwanda dipegang oleh Hutu. Tentu dengan semangat penuh kebencian dan kemarahan warisan kolonialisme Belgia kepada minoritas Tutsi. Sebagian Tutsi kuat diluar perbatasan Rwanda melalui RPF (Front Patriotik Rwanda) dan siap merongrong pemerintahan Hutu yang berkuasa.

November 1992, Leon Mugessera—kuasa Hutu dalam pidatonya, menyerukan untuk mengirim Tutsi ke Ethiopia—karena menurutnya Ethiopia adalah negara sebenarnya buat Tutsi dan bukan Rwanda—melalui sungai Nyabarongo. Inilah eufeumisme paradoksal itu. Di tahun 1994, faktanya Nyabarango penuh dengan Tutsi, benar-benar penuh, hingga sampai ke Danau Victoria. Tapi dalam wujud bangkai. Genosida selama 100 hari—6 April hingga 18 Juli 1994—itu memakan korban sekitar 800 ribu orang terbunuh. Atau rata-rata 5 orang per menitnya.

Lima tahun berikutnya karena benci telah menemukan tempat strategisnya, Ambon pun membara. Tapi lidah kelu untuk bicara dan mengisahkannya karena banyak tikungan tragedi di sana. Atau ah, kalimat terakhir tadi cuma eufeumisme paradoksal untuk sekadar berkelit bahwa sesungguhnya saya memang ketiadaan pengetahuan tentangnya. Bisa jadi.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

geretap daun kena hujan

00.42 7 Juni 2011

 

Tags: eufeumisme, paradox, eufeumisme paradoksal, pengadilan pajak, rwanda, ethiopia, genosida, ambon, leon mugessera, danau Victoria, nyabarongo, hutu, tutsi, belgia, rpf, yitzak rabin, nobel perdamaian, palestina, yerusalem,