Setelah 1000 Harimu


Roda pesawat mendarat di bandara yang namanya mengingatkanku padamu dan pada sepasang kelopak mata yang sering melahirkan aku, telaga, dan kata-kata. Atau sepasang ingatan yang kerap pudar karena takut pada hujan yang jatuh dan melunturkan warna pada dua sayap berwarna merah, kuning, hijau, dan kelabu. Di tanah gembur sawah bertumbuhlah padi dan segala engkau yang tak menyerah untuk keluar menyambut pagi, dengan tikus dan ular kembali ke sarangnya setelah adu akting di dramanya masing-masing, atau keong mas yang lapar terus menerus mencatat ribuan telur merah muda seperti tengkulak di masa panen. Sampai jualah kita di ujung cerita, tak tampak kucari fotomu di belantara binari, tak satu pun, tak ada. Sampai jualah fotomu itu, kudapatkan dari seorang teman yang menyerahkan buku Yasin, setelah 1000 harimu.

**
Riza Almanfaluthi
10-12-1445
Gambar dari media.cntraveler.com

Propaganda israel dalam ChatGPT


Dalam sebuah komentar atas sebuah postingan di akun Instagram Arab Saudi dan Indonesia, salah satu warganet menyalahkan Hamas yang membuat warga Palestina terbunuh sebanyak 32 ribuan orang dan melukai 78 ribuan orang lainnya. Bahkan warganet tersebut menyebut Hamas sebagai organisasi teroris.

Penyebutan tersebut tentunya keliru karena beberapa hal. Pertama, sebutan Hamas sebagai organisasi teroris dari seorang muslim (saya memastikannya demikian) adalah sebuah sebutan yang terburu-buru dan tidak layak diucapkan. Fitnah ini akan dituntut dan berat pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Sabda Nabi Muhammad saw., “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR. Bukhari).

Continue reading Propaganda israel dalam ChatGPT

Putu Buku Mengulas Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Mas Nugroho Putu Warsito adalah penyair sekaligus ASN Kementerian Keuangan dan pemilik akun Youtube Putu Buku. Spesialisasi kontennya adalah mengulas buku dan membaca puisi.

Salah satu konten yang baru-baru ini terbit adalah ulasan terhadap sajak-sajak saya dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.  Bagaimana komentar dan pendapatnya tentang buku sajak itu silakan ditonton saja.

Lebih detail tentang buku saya itu bisa dicari dalam menu pencarian dalam blog ini dengan kata kunci “Seseloki Seloka”. Salah satunya bisa dibaca dalam tautan berikut Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.

Pembaca juga bisa melihat-lihat beragam buku saya pada menu tautan berikut Linktree.

***
Riza Almanfaluthi
20 Mei 2024

Shohibul Maks dan Pajak di Arab Saudi


Suatu ketika saya melihat akun Instagram @beasiswasaudi di lini masa. Salah satu konten yang mereka angkat adalah kedatangan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menyapa, berdiskusi, dan juga memberikan motivasi kepada mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).

Dalam takarirnya, admin akun tersebut menyampaikan harapannya bahwa akan ada lulusan Timur Tengah yang tidak hanya menjadi dai, tetapi juga memiliki peran penting di kementerian-kementerian Republik Indonesia.

Baca Lebih Banyak

Life Hack Hidup Tenang Tanpa Utang


Ilustrasi uang. (Foto: Istimewa)

Sejak awal menikah sampai hari ini, kalau saya hitung-hitung, empat kali kami berutang.

Pertama, saat saya membeli rumah setelah menikah. Menurut saya, rumah itu penting sekali dimiliki karena rumah akan menjadi fondasi masa depan dan tempat pulang. Bapak saya pernah mengatakan, “Barang yang wajib kamu beli setelah menikah adalah rumah.”

Continue reading Life Hack Hidup Tenang Tanpa Utang

Tiga Buku yang Wajib Dibaca Sekali dalam Seumur Hidupmu


Ada tiga buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca.

Buku ini bicara soal ekonomi makro, keuangan, dan investasi dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Ini karena ketiga buku tersebut menggunakan anekdot, tokoh fiktif, dan teknik penceritaan dalam penulisannya.

Langsung saja kita bahas ketiga buku ini.

Baca Lebih Banyak

Disasarkan Google Maps ke Tepi Jurang


Pemandangan dan suasana pagi di Wringinputih, Borobudur, Magelang.

Ketika kami kembali ke Semarang dari Magelang pada Ahad petang, 14 April 2024, kami tidak mengambil jalur biasa: jalan Magelang-Ambarawa karena padatnya yang minta ampun. Kami mengambil jalan alternatif, yaitu Jalan Grabag-Pucang. 

Google Maps mengarahkan mobil kami belok kiri ke Jalan Grabag Secang. Seharusnya kami belok, tetapi kami abaikan. Mau putar balik juga nanggung karena Google Maps menunjukkan jalur lainnya. Akhirnya kami terus melaju menuju jalur lain yang ditunjukkan oleh Google.

Continue reading Disasarkan Google Maps ke Tepi Jurang

Singgah di Sebuah Warung Asli dan Tidak Buka Cabang di Tempat Lain


Seperti di tahun-tahun sebelumnya, kami menyengaja untuk mudik pada satu hari menjelang lebaran. Bukan tanpa maksud. Ini upaya kami untuk memaksimalkan hari-hari dan malam-malam terakhir Ramadan.

Biasanya pun jalanan sudah tidak seramai pada dua-empat hari sebelum Idulfitri. Nyatanya memang benar. Perjalanan kami hanya sebentar. Google Maps menginformasikan, kami membutuhkan hanya lima sampai enam jam menuju tempat tujuan.

Baca Lebih Banyak

Reformasi Perpajakan: Core Tax dan Konsultan Pajak


Suasana sudut kota di Irlandia.

Bangsa Indonesia telah menyelesaikan kenduri demokrasi pemilihan presiden dan anggota legislatif melalui pemilu tanggal 14 Februari 2024 silam. Komisi Pemilihan Umum pun telah mengumumkan hasilnya.

Pesta demokrasi lima tahunan tersebut menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, pemilu dapat membangun kesadaran demokrasi masyarakat menjadi lebih maju. Di tahun pemilu ini pula pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan meluncurkan sistem informasi administrasi perpajakan yang terintegrasi pada 1 Juli 2024 mendatang. Sistem itu dikenal luas dengan nama Core Tax (Core System of Tax Administration). Core Tax dibangun untuk mendukung tugas DJP dalam pengumpulan penerimaan pajak. Peluncuran sistem ini menjadi bagian dari reformasi perpajakan jilid tiga yang mulai dijalankan sejak tahun 2016 lalu.

Baca Lebih Banyak

Pernak-Pernik Persiapan Kuliah Mandiri di Jerman


Pada Ramadan 1445 ini, jagat pemberitaan Indonesia dihebohkan dengan adanya kasus perdagangan manusia berkedok pengiriman mahasiswa magang ke Jerman. Kebetulan juga di saat yang bersamaan, beberapa kawan menanyakan soal bagaimana caranya menempuh pendidikan S1 di Jerman. Bertahun-tahun lampau, saya pernah diminta untuk menuliskan hal ini. Namun, baru sekarang saya bisa memenuhinya.

Seperti diketahui, anak kedua saya—Muhammad Yahya Ayyasy Almanfaluthi—saat ini sedang menempuh pendidikan strata satu di Jerman. Tepatnya di Technische Universitat Berlin di Berlin, Jerman. Sudah tiga tahun Ayyasy di Jerman dan sudah dua Ramadan ini ia pulang untuk bisa berlebaran di tanah air.

Baca Lebih Banyak