Sentilan di Sentul: Konsinyering atau Konsinyasi?


Judul pertemuannya menyelentik urat kebahasaan saya.

Saya meluruh. Dengan seluruh. Seperti bunyi yang ada di ujung petir. Apa coba?

 

Di suatu masa, salah satu bagian Tim Reformasi Perpajakan mengadakan sebuah rapat di luar kantor, tepatnya di sebuah hotel di bilangan Tangerang pada pertengahan 2017. Rapat itu berjuluk panjang yang diawali dengan kata konsinyering pada sebuah latar belakang (backdrop) besar yang dipasang di panggung rapat.

Saya ingat, ini adalah rapat dengan jenama konsinyering yang pertama kali saya ikuti selama saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Dalam percakapan, kata ini biasa disingkat juga dengan kata konser.

Baca Lebih Lanjut.

Seperti Aku Mencintai



Aku mencintai pagi
seperti aku mencintai matahari
ia pemilik janji untuk para petani
dan para penjala di rawa-rawa sepi

Aku mencintai pagi
seperti aku terbangun dari mimpi
setelah mendayung sampan sendiri
menuju segalamu yang nisbi

Apalah aku sebagai biru
merah yang membatu
jingga yang memburu
dan seluruh warna purbamu

Genggaman di pangkuanmu
bisikan di suatu hari:
aku mencintaimu
seperti aku mencintai pagi

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2 Desember 2017

Terima kasih kepada Mas @herrywondo yang telah menghibahkan foto ini, supaya bisa dikata-katain, supaya bisa dipuisi-puisiin, supaya bisa di-caption, supaya bisa…ah sudahlah. Terima kasih banyak, Mas. Danke schön. 

 

Di Atas Kereta Api Malam


Ini kursi kereta api malam. Bukan kursiku. Kursiku di sebelah, telah ada seorang laki-laki mendengkur di atasnya. Aku tak mau merebut mimpinya dan meletakkan di kepalaku. Aku sudah tak peduli. Aku telah lelah. Aku ingin tidur segera. Aku ingin menjamahmu dalam mimpi-mimpi.

Tetapi aku curiga, kursi ini telah membuang mimpiku ke luar kereta api. Terjungkal, tergilas roda, dan terpotong-potong. Membiarkannya dimangsa cahaya bulan pemakan bangkai. Sedetik pun aku tak sempat bermimpi dan menengokmu.

Menengokmu dengan sepasang mata yang mencintai pejam dengan kesumat tak berkesudahan. Walaupun disengat lebah yang terbang berlelah-lelah dari sarang neon. Walaupun didekap dingin pendingin yang ingin, aku punya selimut merah. Walaupun bantal biru yang tak akan pernah menjadi pengganjal kepala, tempat muasal segala mimpiku.

Aku harusnya sadar, mimpiku hanyalah dicuri olehmu sebentar. Sedang mampir, di lelapmu yang fakir. Besok pagi, ia akan kembali. Membawa banyak cerita, untuk sebuah puja. Saat aku sudah tiba, di Jatinegara.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
26 November 2017

 

Setiap Anjing Boleh Berbahagia, Apalagi Aku


 

Apalagi setelahnya?

Si Tokek memberinya selembar foto. Foto gadis yang sama, yang ditempel di langit-langit kabin truk. Gadis itu telah bertambah besar. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya, yang semuanya selalu dibawakan oleh Si Tokek, kali ini di balik foto tersebut ada tulisan. Tulisan tangan si gadis kecil:

 

 

Menulis itu membaca. Maka ketika kesibukan memang telah memakan waktu yang kita punya, bahkan untuk menulis pun sampai tak sempat, bagi saya itu tidak mengapa asal waktu-waktu yang lewat itu telah diisi dengan kegiatan membaca. Ini penting buat menulis dan penulis.

Baca Lebih Lanjut.

Perbandingan Upaya Pajak Indonesia dengan Negara ASEAN


Di samping rasio pajak yang sudah kerap digunakan sebagai indikator keberhasilan kinerja perpajakan suatu negara, ada juga upaya pajak yang mulai acap dipakai sebagai indikator alternatif. Apa itu upaya pajak? Lantas, di antara negara-negara ASEAN, berada di posisi manakah upaya pajak Indonesia? Apa yang perlu kita lakukan guna mendongkrak upaya pajak?

Pada Oktober 2016 lalu International Monetary Fund merilis World Economic Outlook Database. Dalam rilis itu Indonesia termasuk dalam kategori negara yang memiliki rasio pajak (tax ratio) rendah. Di Asia Tenggara, rasio pajak Indonesia masih di bawah Singapura dan Malaysia. Tahun lalu rasio pajak Indonesia hanya 10,3%. Jauh di bawah rasio pajak rata-rata negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) – sebesar 30%.

Baca Lebih Lanjut.

Menggelandang di Sekujurmu


Perangkaplah aku dalam bayang-bayang hitammu. Di pinggiran sungai kesepian, kucabik uap-uap kabut tipis pembawa pesan, ah, champ de mars, aku tiba di sini dari rue sedilliot, menjadi penggelandang, menjadi pengenang, menjadi rumput-rumput yang kauinjak, menjadi anak-anak tangga yang kaupijak. Malam itu, aku penggelandang, pengenang, di sekujurmu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 25 November 2017

Semacam



Semacam lara, tak perlu ditambah marah, untuk semakin parah.
Semacam perih, tak perlu ditambah sedih, untuk semakin pedih.
Semacam rindu, tak perlu ditambah pilu, untuk semakin biru

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
22 November 2017

Dusseldorf


Aku merah kayu bakar yang menjulang di tepian jalan saat kaupergi menekur, setiap sentimeter Dusseldorf yang tak pernah jatuh tidur.  Di suatu masa, aku ingin menjelma sepatumu.

Aku espresso yang kau pesan seharga 3,8 Euro di sebuah resto,  saat kau memuntahkan lelahmu yang datang tergopoh-gopoh. Di suatu waktu, aku ingin menjadi kopi Gayo yang kauminum.

Aku permenungan yang kauperam dan pada saatnya menetas menjadi tawa yang getas. Di suatu masa, aku ingin menjelma kesedihan yang kaubuang ke dasar Rhine.

…untuk menjadi amaryllis, menjadimu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
19 November 2017 

Cokelat


 

Cokelat seperti rindu. Sedikit, menggoda. Banyak, mencandu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13 November 2017

Aku terbakar


Aku terbakar bermenit-menit, bergolak dalam keramaian menuju kau. Aku mau memamahmu, tidak dalam butiran yang biasa, melainkan cairan dengan asap yang mulai tiada. Bau terbakar mulai ada, seadanya matahari selepas hujan. Dengan basah belumlah jua sirna dari jalanan. Ingat satu perihal ini: ketika kautuang aku di sebuah cawan retak kehilangan, kenang-kenanglah aku seperti genangan, di daun jendela matamu, atau di sudut segitiga sama kaki bibirmu. Aku yang terbakar perih di sini, engkau yang menjadi asap menuju sesap.”

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 11 November 2017