RIHLAH RIZA #57: Assalaamualaikum Bojong



Saya dikirim oleh negara saya yang 5000 mil

jauhnya ke Meksiko untuk tetap berlari.

~~Akhwari di 1968

Ini bukan tentang sebuah pelarian. Melainkan lari dalam makna yang sesungguhnya. Melangkahkan kaki dengan cepat dan sesaat kedua kaki itu melayang tak menginjak bumi. Nafas terengah-engah dengan jantung berdegup kencang.

November 2013 lalu lari 100 meter saja sudah bikin nafas mau putus. Nafas dan daya tahan tubuh terhadap sakit benar-benar parah. Tidak ada kekuatan sama sekali. Tapi itu memang awal bagi orang yang tidak pernah olahraga. Dan saya yakin tubuh ini lama kelamaan akan menyesuaikan diri. Sampai batas maksimalnya.

Alhamdulillah setelah berusaha memulai mencintai olahraga, endurance pun mulai meningkat. Sudah bisa push up, sit up, pull up (walau masih sedikit banget) dan lain-lainnya dengan repetisi yang semakin meningkat dari hari ke hari.

Yang mengejutkan adalah saya mampu lari 5 kilometer jauhnya. Dengan panduan sebuah aplikasi yang mampu mengukur jarak dan kecepatan berlari, saya berlari untuk pertama kalinya. Di sebuah pagi yang dingin, di saat mata manusia belumlah terbuka semua, di Citayam, Bojonggede, yang masih gelap, pada akhirnya saya mampu menyelesaikannya dalam waktu 1 jam 5 menit. Walau banyak istirahatnya dan pencapaian waktunya amatir banget, tetapi ini merupakan pencapaian yang luar biasa.

Dan saat percobaan kedua, enam hari kemudian di Tapaktuan, saya mampu berlari tanpa henti di 2,5 kilometer pertama. Ini lagi-lagi sebuah pencapaian luar biasa. Pun, dengan perbaikan waktu hampir 20 menit lebih cepat. Tepatnya 46 menit 39 detik.

Yang luar biasa dari lari-lari ini adalah sebuah perjuangan batin melawan ketidakberdayaan, berhenti cukup sampai di sini, dan menyerah. Tapi quitting is not an option. Saya harus mengakhirinya di garis finis, bukan di tengah perjalanan. Terutama di 500 meter terakhir. Betapa jarak sepuluh dua puluh meter saja cukup dirasa jauh sekali.

Saya teringat pada satu sosok atlet pada zaman dahulu kala. Akhwari, pelari maraton dari Tanzania di Olimpiade 1968, berlari tertatih-tatih memasuki stadion. Salah satu kakinya terlihat dibalut kain putih. Cederanya tak mampu mengurangi tekad untuk tetap sampai di garis finis. Di urutan paling buncit. Disertai jarak waktu yang teramat jauh dengan pelari di depannya. Di antara terhenyaknya para penonton yang hendak bubar karena kegigihan yang diperlihatkannya. Malam itu, waktu berhenti terpaku.

Keluar dari lidahnya, “Saya dikirim oleh negara saya yang 5000 mil jauhnya ke Meksiko untuk tetap berlari.” Bila itu adalah kerja keras untuk mempertahankan eksistensi sebuah kehormatan dan harga diri bangsa, maka ia adalah seorang yang monumental berbalut jubah sebuah kata: persistensi.

Tak ada sebuah prestasi tanpa persistensi. Entah di antara batas kebenaran dan kesalahan. Persistensi dalam kekejian dan kesalehan. Buku tebal yang diakhiri titik itu adalah tamsil persistensi dari huruf yang mula ditulis oleh pena. Begitu pula dengan langkah terakhir sesudah garis finis. Akhwari memilih tidak berhenti, kecuali di garis finis. Walau terluka, walau cedera.

Ini pengalaman batin yang luar biasa—kali keempat saya mengatakan frasa ini. Bagaimana agar pikiran kita bisa tetap fokus hanya kepada satu tujuan, satu tempat, dan finis. Pada akhirnya ketika sampai di garis finis walau dengan kesusahan yang teramat sangat dan walau tidak dengan kaki terluka seperti Akhwari, ada kepuasan dapat menyelesaikan semuanya itu.

Satu pemikiran yang terbersit adalah mengapa dalam urusan dunia bisa begini sedangkan dalam urusan akhirat tak bisa fokus? Mengapa dalam kehidupan di dunia ini kita tak bisa fokus mengejar surga? Enggak ngoyo-ngoyo amat.

Kita punya satu tujuan, menuju surga, godaan dan semua rayuan yang membuat kita terjerumus ke dalam jurang dosa adalah sebuah upaya mengalihkan fokus kita dari tujuan. Tapi seringkali kita layu, kalah, dan berulang kali jatuh, padahal sebagaimana dalam lari setiap kali istirahat (baca berhenti) hanya memperpanjang kelemahan, istirahat hanya memanjakan dan melenakan kita, kita menganggap istirahat dapat menguatkan kita, pada kenyataannya istirahat membuat kita kecanduan untuk istirahat lagi.

Begitu pula dengan dosa, semakin kita menuruti dosa, semakin terjerumuslah kita. Yang paling parah adalah hilangnya sensitifitas, yakni ketika berbuat dosa tidak ada sama sekali perasaan bersalah. Kalau sudah demikian, mengutip Jamil Azzaini, kehilangan sensitivitas adalah penyakit yang sangat berbahaya. Sebab, ada perasaan kita ini orang baik padahal kehidupannya kotor dan melakukan banyak keburukan yang dibenci oleh Sang Maha.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Ini Allah yang berfirman dalam Alkahfi ayat 103-104. Jleb, astaghfirullah.

Lari 5 kilometer ini merupakan salah satu rangkaian dari 3 minggu workout yang diberikan freeletics.com sebagai minggu percobaan ketika mau menekuni dengan serius 15 minggu latihan yang sebenarnya. Dan hari ini (Kamis, 1 Januari 2015), di hari pertama tahun baru, saya berhasil menyelesaikan satu sesi workout Aphrodite. Bahkan dengan personel best, catatan waktu terbaik.

Di ronde-ronde itulah berasa banget mau menyerah. Lima ronde ditempuh dengan ronde pertama burpee, squat, situp masing-masing sebanyak 50 repetisi. Lalu ronde keempat sebanyak 40 repetisi. Sampai ronde kelima sebanyak 10 repetisi untuk masing-masing gerakan. Buat apa saya melakukan segala kesusahan ini. Buat siapa?

Lagi-lagi saya mencoba meluruskan niat kembali, bahwa semua ini hanya karena Allah, mencari sehat, dan bukan mau pamer-pamer. Kata ustad kalau semua urusan diniatkan hanya karena Allah maka hasilnya—yang semacam dunia—akan ngikut. Ya Allah, berat banget ya mencoba niat yang benar dan meluruskan niat itu sepanjang masa.

Tiga minggu selesai sudah. Insya Allah akan lanjut dengan program berikutnya jika Allah menghendaki. Saya berdoa Allahumma ‘afini fi badani, fi sam’i, fi bashori. Ya Allah sehatkan badanku, pendengaranku, dan penglihatanku. Dan ini hasil tiga minggu percobaan tersebut.


Berhenti sampai di sini? Insya Allah tidak. Saya belajar banyak dari olahraga HIT (high intensity training) and HIIT (high intensity interval training) semacam freeletics ini. Pengalaman mentalnya sekali lagi luar biasa—ini yang kelima. Selalu ada kepuasan batin ketika bisa menyelesaikan satu tantangan workout yang diberikan.

Tiba-tiba ajakan untuk nonton sebuah film datang saat mau mengakhiri catatan yang pertama di tahun baru ini. “Tontonlah Assalaamu’alaikum Beijing, bagus dan mengharukan,” kata suara di seberang sana. Saya cuma bisa tertawa. Di Tapaktuan, bahkan di seantero negeri Serambi Mekkah ini tidak ada bioskop. Lain kali saja. Barangkali untuk saat ini yang bisa saya lakukan hanya berucap buatnya: “Assalaamu’alaikum Bojong.”


***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 2 Januari 2015


Advertisements

6 thoughts on “RIHLAH RIZA #57: Assalaamualaikum Bojong

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s