Di Titik Didih Kerinduan


Malam lebaran di salah satu sudut Semarang.

Suara mirip peluit mencelat dari ketel yang isinya air mendidih. Uap panasnya berontak dan buru-buru keluar dari celah sempit di ujung moncong ketel seperti iblis dengan bala tentaranya ketika azan Magrib 1 Syawal besok berkumandang.

Mereka kembali merapatkan barisan, berkoordinasi, dan membagi tugas mengembalikan manusia kepada kesesatan setelah sebulan mereka dipenjara. Mereka ingin agar kawan-kawannya dari kalangan manusia yang sudah suci dibasuh Ramadan, kembali menjadi anggota yang akan menemani mereka di neraka.

Baca Lebih Lanjut.

Membeli Martabak di Bulak


MEMERANGKAP***Senja.

Ketika kami tiba di Masjid Alhusna, Kinan langsung menuju saf terdepan saja.  Tak ada yang menemaninya. Umminya Kinan sedang tak enak badan jadi tak bisa salat id. Sedangkan kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan utama masjid.

Hari ini lebaran. Kami kembali salat di masjid ini. Mengulang ritual setahun sekali. Khatibnya berkhotbah selama 30 menit yang isinya diingat dengan baik oleh Kinan. Di antaranya tentang nyamuk, organ tubuhnya, alat untuk menusuk korban, dan obat bius yang dipakai satoan itu saat menggigit manusia.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Mudik 2017: Tak mau Mengulang Brexit


Musim mudik usai. Besok Senin semua pekerja akan menjalani rutinitasnya masing-masing. Saya termasuk di antaranya. Dengan menyisakan perjalanan mudik 2017 di kepala sebagai perjalanan yang tidak memberatkan. Mudik atau baliknya. Salah satunya adalah saya akan menepi kalau saya sudah mengantuk mengendarai mobil. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik antisipasi.

Sebenarnya banyak hal dilakukan agar tidak mengantuk seperti menampar-nampar pipi, memukul-mukul paha, mengusap-usap wajah dan kepala berulang-kali, minum air putih banyak-banyak, cuci muka, dan minum kopi. Tapi kalau sudah mengantuk ya ternyata semua tidak mempan. Obatnya cuma satu: tidurlah yang nyenyak.

Continue reading Cerita Mudik 2017: Tak mau Mengulang Brexit

Cerita Mudik (2): Brexit Sampai Akhir Perjalanan



Berburu Bensin

Penunjuk bensin tinggal dua strip lagi. Saatnya untuk mengisinya. Tapi di mana? Di dekat pintu tol Brexit? Jelas tidak mungkin. Antriannya panjang. Saya bertanya ke tetangga yang juga sudah duluan mudik via grup Whatsapp. Belum ada jawaban. Namun dering telepon dari tetangga saya yang lain memberi tahu info yang cukup penting, bahwa nanti isi bensin di SPBU yang kedua di jalan Dampyak Tegal. Itu berarti SPBU Muri yang dikenal dengan toilet bersihnya.

Brebes kami lewati dengan kemacetan parah. Begitu pula di kota Tegalnya walaupun para pemudik sudah diarahkan ke jalan lingkar luar via terminal, bukan ke arah kotanya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Saya mulai ngantuk lagi. Contra Flow sudah dibuat di sepanjang Tegal tapi tetap saja macet.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Mudik: Dari Citayam, Brexit, Sampai Semarang


kendaraan-memasuki-pintu-tol-brebes-timur-pejagan-brebes-jawa-tengah-_160709184446-290


Akhirnya setelah satu bulan persis di Tapaktuan dan tidak bertemu dengan anak dan istri, saya bisa berkumpul lagi dengan mereka pada Jumat tanggal 1 Juli 2016. Tepatnya pada malam ke-27 Ramadan 1437 H. Masih ada waktu untuk sahur dan berbuka puasa bersama dengan mereka. Terpenting lagi melakukan perjalanan mudik untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung.

Kami merencanakan mudik berangkat ke Semarang pada Senin siang (4 Juli 2016). Kami berangkat bertujuh. Saya dan Ummi Kinan, Kinan, Mas Haqi, Mas Ayyasy, Hendrik (adik istri), dan Mbak Alfi (keponakan). Sebelumnya kami telah mempersiapkan diri untuk membawa bekal buat berbuka puasa di tengah jalan. Seperti kejadian tahun lalu kami berbuka puasa di pinggir jalan tol Palikanci.

Kami berangkat dari rumah di Citayam pada pukul 12.30 dengan membaca Bismillah. Mengingatkan kepada semua bahwa perjalanan ini adalah perjalanan dalam rangka kebaikan dan bukan dalam rangka kemaksiatan. Sehingga dengan itu kami senantiasa berharap agar Allah melindungi perjalanan kami.

Baca Lebih Lanjut.

SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH


SILUMAN BABI, SILUMAN IKAN, SILUMAN MONYET DLL: MEREKALAH YANG KALAH

image

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Sejatinya kita menang atau kalah yang merasakan cuma diri sendiri. Soalnya bisa saja kita dekralasikan diri sebagai manusia merdeka dan bertakwa tetapi kemudian setan ikut bergembira dan merayakan karena ia baru saja melihat budak yang baru saja merdeka itu kembali terjerumus dalam perangkapnya yang sebenarnya lemah.

Ini adalah hari kemerdekaan setelah satu bulan melawan hawa nafsu dan bahagia yang terus menerus dirasakan. Kita cuma bisa berharap Allah kasih kita perlindungan dan bahagia sampai akhir hayat. Apalagi yang pada hari ini sedang memanjangkan umurnya dan sedang menerima rizki yang banyak karena lagi silaturahmi dengan sanak saudara. Ooo…semoga Allah kasih keberkahan di umur yang panjang dan rizki yang diterima itu.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari di saat kita bebas menikmati makan dan minum tanpa ada larangan lagi. Opor ayam, ketupat, dan sambal goreng ati yang terhidang kita santap sepenuh hati di  siang bolong dengan keceriaan dan bincang-bincang tanpa topeng dan basa-basi. Yang adanya baru kita rasakan cuma setahun sekali. Dengan segala detil dan pernak-perniknya. Hanya ada di hari itu. Tidak di hari lain. Walau sengaja banyak manusia berusaha menciptakannya di hari lain. Tetap tak bisa samakan. Kau harus merasakannya kembali dengan detil yang sama di tahun depan.

Ooo ini adalah hari kemerdekaan. Kala kata maaf berseliweran di antara dua mata, dua telinga, dan satu rasa. Itu kita sambut dengan lapang dada entah broadcast ataupun satu yang berbeda. Semua upaya yang harus dihargai agar tidak kehilangan makna di hari ini. Sungguh kita terima dengan senang hati. Karena semata ini tanda cinta dan perhatian kepada kita. Dari mereka. Yang patut jadi perhatian ketika tak ada maaf yang terberi…Ooo sedangkan Sang Pencipta kita adalah Dzat Yang Maha Memaafkan, lalu mengapa tak sudi beri maaf. Ataukah ada keangkuhan yang menjadi tabir. Ooo…ayolah maafkan saja mereka. Maafkan dia. Tidakkah kita ingin menjadi ahli surga karena gemar memaafkan?

Ini adalah hari kemerdekaan, hari buat mereka yang telah berpuasa. Bukan buat mereka yang sengaja berbuka di siang hari dan pamer di jalan-jalan. Buat mereka yang telah berlelah-lelah di siang hari dan malam-malamnya supaya bisa dekat-dekat dengan Sang Maha Pemberi Kemerdekaan. Sudahkah kita jadi mereka? Hasibu anfusakum qabla antuhasabu….Itung-itungan dulu  yuk amal kita sebelum kita diitung-itung sama Yang Di atas.

Ini adalah hari kemerdekaan. Hari kemenangan. Panjinya sudah dikibar-kibarkan di atas benteng, Tapi ini belumlah usai karena ini cuma pertempuran kecil. Perangnya masih berlangsung sampai ajal. Tidak tahu siapa yang menjadi pemenang sejati, Tapi kita berharap kepada Allah supaya kita menjadi pemenangnya. Dan merekalah yang kalah: iblis dan bala tentaranya: setan, jin, tuyul, sundel bolong, genderuwo, pocong, kolor ijo,  siluman babi, siluman ikan, siluman monyet, vampir (sebenarnya ini bukan karnaval)  dan manusia pengikutnya.

Ini adalah hari kemerdekaan, Hari di mana diri yang bernama Riza Almanfaluthi,  mohonkan maaf kepada semua. Seraya berharap kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan 1435 Hijr. Bekasi…cukup di sini aja sssssiiiih……ikan peda sono pegi daaahhh…..

Tabik. Happy Eid Mubarak, 1 Syawal 1434H.

Riza Almanfaluthi

Pojokan Semarang Panas

8 Agustus 2013 M