Cerita Mudik (2): Brexit Sampai Akhir Perjalanan



Berburu Bensin

Penunjuk bensin tinggal dua strip lagi. Saatnya untuk mengisinya. Tapi di mana? Di dekat pintu tol Brexit? Jelas tidak mungkin. Antriannya panjang. Saya bertanya ke tetangga yang juga sudah duluan mudik via grup Whatsapp. Belum ada jawaban. Namun dering telepon dari tetangga saya yang lain memberi tahu info yang cukup penting, bahwa nanti isi bensin di SPBU yang kedua di jalan Dampyak Tegal. Itu berarti SPBU Muri yang dikenal dengan toilet bersihnya.

Brebes kami lewati dengan kemacetan parah. Begitu pula di kota Tegalnya walaupun para pemudik sudah diarahkan ke jalan lingkar luar via terminal, bukan ke arah kotanya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Saya mulai ngantuk lagi. Contra Flow sudah dibuat di sepanjang Tegal tapi tetap saja macet.

Sambil terkantuk-kantuk saya mulai menyusun strategi agar bisa masuk ke jalur paling kiri agar bisa masuk antrian SPBU. Pada saat SPBU pertama di jalan Dampyak Tegal terlewati mobil saya waktu itu berada di jalan Contra Flow. Saya mulai cari-cari jalan masuk agar bisa ke kiri. Karena kalau tidak, saya tidak akan bisa ikut antrian dan ini berbahaya karena posisi bensin tinggal setengah strip lagi.

Akhirnya saya menemukan jalur yang tidak ada batasnya dan saya bisa masuk antrian kendaraan yang menuju ke SPBU Muri. Orang tidak bisa nyodok-nyodok antrian karena mulai dari SPBU Muri sampai 100 meter ke belakang sudah diberi tali pembatas. Saya bersyukur saya bisa masuk antrian sejak 500 meter sebelum SPBU Muri. Saya dengan sabar mengantri dan pada akhirnya bisa isi bensin full tank. Posisi waktu itu jam 11 siang. Kami istirahat dulu. Mandi dan bersih-bersih. Saya sempatkan untuk rebahan di mobil dan memejamkan mata. Lumayan.

SPBU ini favorit kami kalau mudik dan balik. Sebagai tempat yang ideal untuk istirahat, mandi, dan makan-makan. Toiletnya banyak dan bersih.

Jam 11.30 kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalanan mMasih macet dan siang sudah mulai membakar. Kinan sudah tak sabar untuk membatalkan puasanya. Kami bujuk agar dia tetap bersabar. Kami alihkan perhatiannya kepada banyak hal.

Kemacetan di jalan Tegal Pemalang ini memang parah. Kami berganti-ganti jalur. Terkadang di jalur Contra Flow, di sisi paling kiri, atau di sisi tengah. Pokoknya cari peluang agar mobil bisa melaju.

Berjam-jam kami lalui jalan Tegal Pemalang yang seperti tidak ada habis-habisnya. Kantuk terkadang muncul kembali. Kalau sudah begitu saya mencoba memberikan kemudi kepada anak pertama saya, Mas Haqi. Dia baru belajar nyetir. Di tengah kemacetan yang membuat mobil hanya bergerak beberapa meter saja itu saya kasih stir untuk menambah pengalamannya. Saya pindah ke bangku tengah dan Ummi Kinan mengawasinya. Lumayanlah ada beberapa menit mata saya terpejam tanpa ada gangguan. Tapi ketika saya terbangun lagi saya ambil stir kembali.

Tempat wisata Pantai Purwahamba Indah pun kami lewati. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Kami harus berhenti untuk salat jamak qasar Zuhur dan Asar. Kebetulan ketika saya ingat salat itu ada rest area dadakan yang dikelola oleh warga setempat. Tempatnya teduh dan luas. Kami minggir dan masuk ke halamannya yang tertutup dengan tembok tinggi.

Kata penjaga rest area itu, bertahun-tahun musim mudik, hanya kali ini sampai macet parah seperti ini. Dan ternyata kami masih di Tegal, sama sekali belum masuk Pemalang. Luar biasa. Akhirnya kami bisa tenang karena telah melaksanakan salat dan istirahat sebentar. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan. Sampai di sebuah titik yaitu SPBU setelah Pantai Purwahamba Indah. Di sinilah ujung kemacetan itu terjadi. Setelah melewatinya kami bisa melaju kencang. Subhanallah.

Akhirnya selesai juga kemacetan. Pas 12 jam kami menyusuri jalanan mulai dari Pintu Tol Brexit hingga Tegal itu. Brebes dan Tegal di luar musim mudik saja sudah macet apalagi sekarang pas musim mudik. Luar biasa beratnya.

Berbuka Puasa di Pemalang dan Pekalongan

Setelah semua terlewati dan jam sudah menunjukkan pukul lima sore kami berunding untuk berbuka di mana. Kalau di Sari Raos Bandung Pekalongan jelas tidak akan terkejar. Jadi kami putuskan untuk memburu takjil di Kota Pemalang lalu makan besarnya di Pekalongan. Ya kami sepakati itu.

Akhirnya kami masuk kota Pemalang. Ini baru pertama kalinya saya menyusuri Kota Pemalang. Biasanya saya melewati jalan lingkar luarnya selama bertahun-tahun mudik. Pemalang di sore hari ternyata ramai sekali. Apalagi ini hari terakhir di bulan Ramadan. Toko penuh oleh orang-orang berbelanja. Terutama toko pakaian.

Dan menjelang 15 menit waktu berbuka puasa terakhir ini kami membeli sop buah. Saya tidak. Saya cukup air putih saja. Dan subhanallah, di saat berbuka puasa itu nikmatnya tiada tara. Apalagi Kinan yang sedari tadi ingin membatalkan puasanya.

Azan berkumandang melalui radio yang kami putar. Setelah itu kumandang takbiran membahana dari radio ataupun masjid-masjid yang kami lalui. Syahdu. Perasaan ini sama seperti saat mudik di tahun 2007, ketika kami menempuh perjalanan hanya dalam waktu 12 jam dari Citayam sampai Semarang. Pada saat itu jam tujuh malam, kami sudah sampai di tol Semarang dan menyaksikan langit Semarang penuh dengan kembang api menyambut kemenangan dan berakhirnya Ramadan.

Perjalanan Pemalang Pekalongan lancar. Kurang dari satu jam saja. Lalu kami mampir ke alun-alun Pekalongan yang pada saat itu sedang ramai. Kami parkir di depan Masjid Kauman dan turun untuk menuju rumah makan favorit kami: Sari Raos Bandung.

Sari Raos Bandung itu rumah makan dengan menu ayam kampungnya. Biasa kami mampir di Pekalongan kalau bertepatan dengan jam buka puasa. Sedangkan kalau di cabangnya yang lain seperti di Gringsing itu kami mampir pada saat waktu sahur. Sambalnya enak. Tapi jangan kebanyakan. Berlebihan itu memang tidak baik. Beberapa tahun lalu saya sampai kena sakit mag karena kebanyakan makan sambalnya. Walhasil saya merayakan lebaran sambil menahan lambung yang perih teriris-iris.

Akhir Perjalanan Mudik

Setelah makan dan salat di Pekalongan, kami lanjut kembali. Karena kelelahan dan kekenyangan barangkali, mata saya kembali memberat. Sampai titik yang tidak tertahankan lagi. Saya harus minggir. Tidak boleh melanjutkan nyetir sambil ngantuk. Berbahaya. Pernah kejadian saya hampir menabrak motor waktu mudik yang lampau.

Saya meminggirkan mobil dan masuk ke dalam sebuah masjid dengan halaman yang sempit. Entah di daerah mana. Yang pasti Batang sudah lewat jauh. Saya lupa apakah waktu itu Alas Roban sudah kami lewati atau belum.

Waktu itu jam setengah sembilan malam. Saking ngantuknya, saya langsung masuk ke dalam masjid dan merebahkan diri di atas karpetnya yang empuk. Ada pengurus masjid yang sedang takbiran di teras depan masjid. Baru juga memejamkan mata sebentar ada seorang bapak-bapak membangunkan saya untuk pindah tidur di teras. Karena ruang utama masjid ini bukan tempat tidur. Baiklah.

Saya kemudian pergi ke teras dan mengambil tikar plastik yang sudah disediakan pengurusnya lalu tidur. Yang lain tidak tidur cuma duduk-duduk saja. Setengah jam kemudian mata saya sudah segar dan bisa berangkat lagi.

Kami menyusuri jalanan Weleri sampai Kendal kemudian sampai di Mangkang lalu masuk ke dalam tol Semarang dan keluar di pintu tol Gayamsari menuju Tlogosari. Kondisi jalanan dari Pekalongan sampai Semarang lancar jaya. Bisa berpacu kecepatan dengan mobil yang lain.

Alhamdulillah, kami tiba di rumah kakak jam 23.30. Waw, total jenderal ada 35 jam perjalanan mudik kami. Selama 10 tahun kami mudik sendiri pakai mobil, baru kali ini kami mengalami perjalanan terparah dan yang paling lama. Walaupun demikian syukur banyak-banyak kami panjatkan kepada-Nya yang telah memberikan kami perlindungan selama di perjalanan sehingga tidak mendapatkan peristiwa yang menyenangkan.

Segelas teh manis panas menjadi hidangan penyambutan di malam itu. Subhanallah, nikmatnya teh poci ini. Ini salah satu yang saya suka kalau pergi ke Semarang. Setelah itu kami harus siap-siap tidur agar bisa salat Idul Fitri besok pagi.

Demikian cerita mudik ini yang sebagiannya sudah tertuliskan dalam artikel saya yang lain berjudul “Mahabenar Engkau Adhityawarman”. Ini adalah versi lengkapnya. Sampai bertemu kembali.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

20 Juli 2016

Foto diambil dari bintang.com


Advertisements

7 thoughts on “Cerita Mudik (2): Brexit Sampai Akhir Perjalanan

  1. Wuih, Brexit a la Indonesia ini benar-benar fenomenal yang di tahun ini. Aku baca liputan mas saja sampai bias merasakan lelahnya, nyetir berjam-jam, sedang puasa, sambil atur strategi mulai isi bensin, mau buka pakai apa dimana dan lain-lain.

    Tapi yang penting lebaran bisa kumpul dengan sanak keluarga tercinta ya mas 🙂

    Like

      1. iya mas… alhamdulillah kmrn lancar, brkt pas puncak mudik tgl 22/6 jam 9 dr tangerang, sy gak lewat cipali sama sekali, bahkan nyaris gak lewat tol cikampek. exit pintu tol tambun, ngikutin kalimalang masuk lagi karawang timur, ambil tol purbaleunyi, masuk garut (nagrek udh ditutup soalnya), tasik, dst….. sampe Purworejo jam 12 malam. Bsk nya jam 7 pagi lanjut ke Sumenep, sampe jam 10 malem. Sempet nyicipin tol soker jg yg ruas Ngasem – Widodoren

        Pulangnya, exit Kertajati, ambil cikamurang, masuk lagi Kalijati. Semarang – Tangerang 13 jam

        Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s