O, Nuh



O, Nuh…
Apakah badai di luar kapal ini sudah berhenti?
Kapan kapal ini akan bersandar ke tepi?
Minta kepada Tuhanmu agar kasihani kami
Agar bah-Nya taklah singgah di hati
kami yang hanya bertaring dan bergigi
hanya sepasang-sepasang hewani
tanpa mimpi, amarah, apalagi kendali.

O, Nuh…
Kami takut api Tuhanmu
dan apa yang bangkit dari masa lalu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
25 September 2017

 

Dua Pungguk


Kita dua pungguk, berteduh di bawah daun, saat penghujan. Mendekatlah ke sini, bahkan ketika barulah gerimis, bahkan saat mengalir di kedua matamu yang belum sempat memejam, bahkan ketika menyentuh jari-jari kakimu,  bahkan ketika ia akan meratap ke tanah, bahkan  ketika semua usai, bahkan ketika penghujan akan cuma sisa, bahkan kalau daun itu mulai mengering, bahkan ketika aku menjelma matamu, bahkan ketika aku menjadi hoo-hoo-hoo-hoo mu, bahkan ketika aku menjadi bulumu, bahkan ketika aku adalah sayapmu, bahkan saat waktu adalah aku yang rindu repetisi. Kita dua pungguk, berteduh di bawah daun, saat penghujan. Mendekatlah ke sini, bahkan…

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 24 September 2017

Seperti Gita yang Kau Sampaikan kepada Janardana



seperti gita
yang kau sampaikan
ada janardana
mendengarnya
di padang kuru,
semua berseteru
seluruh meluruh
o, janaka

seperti cerita
yang tak meledak,
ada gada batu
membuatku bisu
di sabana jiwaku,
semua mengguruh
menjelma lupaku
o, bisma

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 September 2019

Hati Merpati


Lelaki sendiri di senja piazza san marco
berbincang dengan merpati-merpati
matanya menelisik jauh ke balik dada
hati mereka, mana rumahnya untuk pulang

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 September 2017
Gambar dari: wikimedia

Lelaki yang Dimakan Kabut


Jangan menghilang
jangan pergi,
jangan jauh-jauh,
dekat-dekat saja,
cukup di sini,
di inti jantungku.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 22 September 2017

Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali


Di September yang dipaksa untuk ceria, seorang laki-laki bertemu dengan muasalnya, sejarahnya. Untuk tak mati, sejarah memakan nektar dan ambrosia waktu agar terus awet muda. Lelaki ini tidak. Ia hanya menuliskannya di laman Facebook.

Setelah berjuang dari ketersesatan Google Maps—dan sesungguhnya saya berlindung kepada Tuhan atas hal itu—yang membuat saya harus menyusuri jalanan sempit Pondok Karya, akhirnya saya bisa menemukan kampus Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN yang saya tinggalkan 20 tahun lampau ini.

Continue reading Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali

Tidak Hanya Malam yang Dekat Dengan Kejujuran


 

Tidak Hanya Malam yang Dekat Dengan Kejujuran

Oleh: Riza Almanfaluthi

Karena Kami Pendosa



Suatu ketika, sehabis kegiatan Pajak Bertilawah yang dilakukan oleh 12.035 pegawai Direktorat Jenderal Pajak di 366 unit kerja, muncul cuitan dari Pak Zaim Saidi di akun Twitternya. Ia bilang begini,”Pajak haram. Dosanya gak akan hilang hanya dg tilawah Qur’an. Berhentilah memajaki. Hijrah kerja lain.”
Pertama, terima kasih Pak Zaim atas nasihatnya. Kami terima dengan baik walau kami meyakini bahwa pendapat keharaman itu masih bisa diperdebatkan. Kedua, semua manusia pada dasarnya tidaklah lepas dari dosa. Ketiga, kalaupun pegawai pajak ini adalah pendosa, sungguh tak elok dengan meremehkan kebaikan yang dilakukan mereka untuk bertilawah secara serentak pada hari itu.

Continue reading Karena Kami Pendosa

Menghilang Bersama Ribuan Kupu-kupu


Seringkali aku lumpuh dalam kedigdayaan malam. Ia menghanyutkan kesendirian dengan kaki-kaki bulan yang meraba pelupuk jendela kamarmu dan masuk diam-diam tanpa permisi. Datang dan perginya menjejakkan purwaragam warna. Padamu. Padaku. Pada langit. Pada tanah. Pada keharuman. Pada rambutmu. Pada tawamu.

Kenyataan yang kutelan pahitnya adalah di setiap kangkangan malam itu, engkau menghilang pelan-pelan, mulai dari jemarimu yang pernah kusentuh dengan pandangan, membayang ribuan kupu-kupu, menjelma ribuan kupu-kupu. Terbang ke langit. Satu yang terakhir dari kupu-kupu itu menyempatkan diri menengok hitam mataku tanpa dasar.

Yang kubenci dari semua itu, pertanyaan siapa lagi yang akan meneduhi waktu tak bertepi, yang merindangi hari tanpa pori, yang memayungi melata di kemarau hati. Siapa? Maka huruf-huruf yang ingin abadi itu hanya punya satu musuh: tombol Delete yang kausentuh. Huruf itu tak akan bisa menjadi puisi, menjadi tentangmu, karena kau menghilang bersama ribuan kupu-kupu.

Di atas kertas sobekan kecil, dengan pinsil berujung tajam, ada yang tega melukai putihnya untuk sekadar berucap: aku satu kupu-kupu ketinggalan untuk mati.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
25 Agustus 2017
Gambar dari Pinterest.

2017 Indonesian MAKE Study: Ajang Perdana Tim Kompatriot


Kendati palagan ini menjadi pengalaman pertama, Tim Kompatriot optimis masuk tiga besar. Selain presentasi hebat, barang jualannya memang luar biasa: lembaga bernama Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak). Mereka satu-satunya perwakilan dari lembaga pemerintah yang maju pada babak final ajang bergengsi 2017 Indonesian Most Admired Knowledge Enterprise Study (MAKE Study) 9-10 Agustus lalu di Ayana Midplaza, Jakarta.

Penyelenggara hajat adalah Dunamis Organization Services, organisasi global yang berdiri sejak 1991 untuk memberikan pelatihan di bidang pengembangan kepemimpinan dan eksekusi. Dunamis juga merupakan lembaga konsultan dan pelatihan yang memegang lisensi pelaksanaan MAKE Study dari Teleos UK.

Baca Lebih Lanjut.