Tak Perlu Lari


Alat yang menunjukkan waktu kini tidak lagi ada di pergelangan tangan.  Ia telah beralih ke gawai. Dan angka digitalnya sudah menunjuk angka 07.24 pada pagi ini, di Stasiun Cawang

Pagi yang luruh dengan gerimis kecilnya. Gerimis yang mengiringi perjalanan commuter line dari Stasiun Citayam. Jadwal sedikit berantakan karena ada laju kereta yang dihentikan lama di stasiun-stasiun antara.

Ketika keluar dari Stasiun Cawang, saya masih punya waktu setengah jam untuk tidak terlambat. Hari ini saya niatkan untuk tidak naik ojek. Saya akan naik bus APTB itu. Dan saya harus berlari menuju pangkalan bus di tengah gerimis yang semakin cerewet. Lari? Tapi apakah memang perlu berlari di tengah hujan seperti itu?

Pada saat hujan memang sebaiknya tak perlu lari, cukuplah jalan. Karena hidup ini bukanlah pelarian, melainkan sebuah perjalanan. Selamat menikmati pagi nan mewah karena hujan adalah keberkahan.

Tiba-tiba saya ingat, pagi ini saya belumlah mencicipi kepahitan. Kopi, mana kopi?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 3, 28 September 2017

Advertisements

2 thoughts on “Tak Perlu Lari

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s