SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG


SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG

“Wallet! Wallet..!!” teriak orang Malaysia itu sambil memandang sekeliling orang-orang thawaf yang ada di sekitarnya. Saya yang berada persis di belakangnya menyangka bahwa ia telah kehilangan dompetnya. Benar, ia kecopetan. Hah, di Masjidil Haram ada copet? Tak semua orang yang ada di sana berniat ibadah. Itu saja jawabnya kalau ada pertanyaan mengapa.

    Yang jadi pertanyaan juga mengapa ke Masjidil Haram bawa dompet? Dompet penting untuk bawa duit? Tidak penting sebenarnya karena kita tak perlu bawa uang banyak-banyak. Paling banter cuma 50 Real. Dan itu bisa diselipkan di mana saja. Di kantong kaos kangguru, saku celana, saku kemeja, atau tempat tersembunyi lainnya.

Dompet penting juga untuk menyimpan tanda pengenal dan kartu-kartu penting lainnya? Enggak juga. Sebelum berangkat ke tanah suci saya sudah menyortir apa saja yang wajib ada di dalam dompet. Dan ternyata cuma KTP dan satu ATM saja. SIM tidak perlu di bawa ke sana. Setelah itu dompet saya tipisnya minta ampun.

Karena tidak perlu bawa uang banyak-banyak, juga dikarenakan KTP kita tidak berlaku di sana, pun karena rawan hilang, maka selama ini saya tidak pernah bawa dompet ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Cukup saya simpan dalam kopor besar dan baru saya tengok kembali setelah tiba di tanah air.

Lalu tanda pengenal apa yang berlaku atau penting buat kita di sana? Kalau dihitung-hitung bisa ada sampai tujuh tanda pengenal yang menunjukkan identitas dan alamat kita selama di Makkah ataupun di Madinah.

Yang pertama dan terpenting sudah barang tentu adalah Paspor. Karena ini dokumen paling penting buat Jama’ah Haji Indonesia maka paspor ini akan disimpan oleh pengurus maktab di Makkah atau muassasah di Madinah. Kita sudah tidak pegang paspor lagi sewaktu kita naik ke bus yang akan mengantarkan kita ke pondokan atau hotel dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah atau Bandar Udara Madinah. So, selama kita di Makkah ataupun di Madinah kita tidak pegang paspor sama sekali. Menurut saya metode yang dilakukan oleh maktab ataupun muassasah ini sudah tepat untuk mengantisipasi hilangnya paspor oleh jamaah haji. Karena peluang hilang dokumen ini sangatlah besar.

*Paspor

*Beberapa identitas yang harus dibawa pada saat di Makkah

Setelah paspor ada kartu tanda pengenal lain yang warnanya coklat dan ada foto kita. Ini kita dapatkan dengan menyobek lembar A Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji yang ada di selipan buku paspor. Setelah disobek nanti oleh petugas embarkasi, kita diminta untuk menuliskan nama daerah tempat pondokan berada dan nomor maktab. Lihat sudut kiri atas lembar coklat pada foto di atas. Ada tulisan tangan saya. Setelah disobek, segera simpan kartu itu di kantong depan tas haji kecil kita.

*Buku Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH)

Identitas lainnya adalah gelang besi yang diberikan kepada jamaah haji pada saat di embarkasi sebelum keberangkatan menuju bandar udara. Gelang ini adalah gelang termahal di dunia. Harganya senilai biaya ONH (ongkos naik haji) kita. Di gelang itu sudah tercetak nama , tahun, nomor tempat duduk pesawat, nomor kloter, nomor paspor, tulisan haji Indonesia dalam bahasa Arab , bendera negara, dan lambang negara kita.

Gelang ini jangan sampai hilang karena sangat penting untuk menunjukkan berapa nomor kloter kita. Bagi kita yang usia muda mungkin gampang untuk mengingat nomor kloter tetapi betapa banyak jama’ah haji Indonesia usia lanjut yang tidak mengerti baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan mungkin penglihatannya kurang tajam. Bagaimana kalau mereka tersasar? Maka itulah gunanya gelang, oleh karenanya gelang itu harus dipakai ke mana-mana. Saya benar-benar mencopotnya ketika sampai di rumah di Citayam.

Yang ketiga adalah gelang karet yang diberikan oleh pengurus Maktab. Gelang ini diberikan pada saat pertama kali sampai di kota Mekkah. Jadi sebelum kita turun ke pondokan atau hotel, bus dari Madinah atau dari Jeddah kudu mampir dulu ke kantor Maktab.

Warna gelang kami satu kloter adalah biru muda bertuliskan huruf Arab dan ada angka latinnya juga. Apakah semua gelang orang Indonesia berwarna yang sama? Saya tak tahu. Tak soal warnanya yang terpenting gelang ini penting banget untuk menunjukkan nomor maktab kita. Jadi jangan dilepas juga ini gelang. Sayangnya tulisan yang ada di gelang karet itu mudah luntur.

Selain gelang karet, oleh pengurus Maktab diberikan juga kartu tanda pengenal yang dilaminasi dan dikasih peniti. Peniti ini gunanya agar kartu tanda pengenal itu bisa disematkan di baju atau di mana gitu. Tapi saya sarankan, benar-benar saya sarankan, kalau pakai peniti kartu tanda pengenal itu juga rawan hilang, oleh karenanya simpan saja di kantong bagian luar dari tas haji kecil yang selalu dibawa ke mana-mana itu.

*Bagian belakang kartu tanda pengenal.

Dan sumpah Beib, Demi Allah, jangan sampai hilang ini kartu. Jangan sampai ketinggalan di pondokan atau hotel kalau mau pergi ke Masjidil Haram. Karena kartu ini menunjukkan daerah tempat maktab atau pondokan atau hotel kita berada. Di kartu saya ada tulisan Arab yang bertuliskan Almisfalah Bakhutmah, serta nomor maktab, dan nomor rumah jama’ah. Setiap pondokan atau hotel buat jamaah haji Indonesia selalu disebut sebagai Rumah Jama’ah. Dan setiap rumah jama’ah ada nomor-nomornya. Nomor rumah jama’ah itu selalu terpampang jelas di neon box yang ada di depan pondokan atau hotel.

Bakhutmah adalah nama daerah tempat rumah jama’ah saya berada. Sekitar dua kiloan dari Masjidil Haram. Rumah Jama’ah saya bernomor 1128. Empat digit nomor ini punya arti. Dua digit pertama adalan nomor sektor dan dua digit terakhir adalah nomor urut rumah jama’ah yang berada di sektor tersebut. Kalau ada nomor rumah jama’ah 917, berarti sektor 9 nomor 17. Tapi tak penting tahu detil seperti ini yang penting adalah ingat betul nomor rumah jama’ahnya.

Seringkali saya mengantar orang yang tersasar dan yang paling sulit ditemukan pondokan mereka adalah mereka yang enggak bawa kartu identitas itu dan sama sekali tak ingat atau tak tahu nomor rumah jama’ahnya. So, kartu itu memudahkan banget buat orang yang mau bantuin kita atau pada saat kita mau bantuin orang lain yang sedang tersasar. Ingat jangan sampai hilang. Atau jika memang tak butuh kartu itu tajamkan ingatan Anda, ingatan adik, ingatan kakak, ingatan orang tua, ingatan kakek-nenek, dan ingatan seluruh kerabat Anda yang sedang pergi haji dan berada di Mekkah setajam memori prosesor tercanggih saat ini agar tak lupa.

Ohya jangan juga untuk dilupakan adalah di lantai berapa kamar kita berada dan nomor kamar kita. Sayangnya ini tak dapat kita ketahui di kartu tanda pengenal yang diberikan maktab. Ingatlah-ingatlah atau kalau kita punya ingatan pendek, segera tulis di selembar kertas dan taruh di kantung depan tas kecil. Karena betapa banyak dari jama’ah haji, terutama yang berusia lanjut yang lupa lantai dan di nomor kamar berapa dia tinggal. Perlu diketahui yah, kalau dalam satu hotel itu tidak semua penghuninya mereka yang berada dalam satu kloter yang sama. Ada beberapa juga kloter lain di sana. Makanya kalau tidak ingat-ingat betul, bisa tersesat di hotel sendiri. Betul begitu omsqu?

*Ini adalah pondokan kami. Saat-saat keberangkatan menuju Madinah tanggal 25 November 2011. Di sebelah pintu gerbang pondokan ada yang jual eskrim, sayang saya dari awal sampai akhir tak pernah bisa mencicipi es krim itu. Tak berani. Batuk…uhuk…uhuk…

Nah itu baru di Mekkah, ketika kita baru sampai di Madinah, kita akan diberi dua tanda pengenal lagi. Satu diberikan oleh pihak Muassasah dan satunya lagi diberikan oleh pihak hotel.

  • Kartu Identitas

Terus terang saja kartu yang diberikan pihak muassasah ini pada saya kurang fungsinya. Saya tak tahu kegunaannya apa. Di balik kartu itu juga yang ada cuma informasi tentang muassasah saja. Pakai bahasa Arab lagi.

*Kartu yang diberikan pihak muassasah di Madinah.

Menurut saya yang mesti kita harus punya dan penting dimiliki adalah kartu identitas yang diberikan pihak hotel berupa kartu nama hotel. Pada waktu kami datang pertama kali ke hotel kami, Burju Badri Al Muhammadiyah, pihak hotel menyediakan kartu nama ini dan membagikannya kepada jamaah haji. Nah masalahnya tidak semua hotel begini. So, berinisiatiflah untuk meminta kartu nama hotel kepada pihak hotel.

Jika tidak ada, maka catatlah nama hotel itu dan ingat-ingat betul. Karena lagi-lagi banyak dari jamaah haji Indonesia yang tersasar di Madinah itu adalah mereka yang tidak bawa kartu nama hotel bahkan sama sekali tidak tahu nama hotelnya. Saking semangat ibadah mengejar arba’in, maka pertama kali masuk Masjid Nabawi dengan penuh rasa percaya diri jadi tidak lihat-lihat jalan. Baru sadar kalau sudah keluar pintu. Tadi arahnya kemana yah? Nah loh.

Pada akhirnya apakah menjamin dengan membawa enam atau tujuh tanda pengenal ini kita tidak tersasar? Hanya Allah yang tahu dan berkehendak. Yang penting kita sudah berikhtiar. Jangan lupa untuk tidak bawa dompet.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.33 24 Desember 2011-12-24

Tags: burju badri al muhammadiyah, makkah, madinah, masjidil haram, masjid nabawi, al misfalah, bakhutmah, rumah jama’ah, kloter, dapih, dokumen administrasi perjalanan ibadah haji, maktab, muassasah, king abdul aziz, king ‘abdul ‘aziz, malik abdul aziz, malik ‘abdul ‘aziz, onh, ongkos naik haji, biaya perjalanan ibadah haji, bpih, citayam, jeddah

bias


Bias


*

hujan mengetuk jendela

aku terjaga

“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu

derit reot mencoba membuat garis lurus di tengah

“namamu siapa?”

“derai!”

 

hujan meramaikan sudut menjadi onggokan hidup

aku terjun pada kebekuan

apa yang kau inginkan derai?

jawabmu bagiku adalah

:sepucuk tanya untuk kau kirimkan pada drupadi

“jika api menjadi debu, kapan kau akan injakkan kaki di bara hati?”

ah, pasopati di balik punggung membara.

derai menjadi partikel

fana tapi ada

 

tapi di sebelah kamar

hujan mengetuk jendela

“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu

terlelap dalam hutan mimpi jadi kunci untuk lari

aku bias

menjadi bunga di atas meja

tanpa nama

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas krl tanah abang bogor, aku teringat drupadi

17:54 23 desember 2011

 

Gambar di ambil dari sini

JANGAN CERITA YANG SERAM-SERAM


JANGAN CERITA YANG SERAM-SERAM

    

    “Ayo, mumpung masih muda segera saja ke sana. Nikmat banget. Beneran!” seru saya pada teman baik saya agar tidak menunda-nunda lagi pergi haji. Minimal sudah mulai mendaftar atau menabung. Jawabannya setengah mengagetkan. “Enggak ah, takut. Masih banyak dosanya,” timpalnya berulang kali.

    Kalau memikirkan dosa kapan bisa perginya sedangkan manusia tempatnya lupa dan lalai. Tetapi kekhawatiran itu wajar juga. Seminggu sebelum berangkat saja saya masih berpikir saya ini layak enggak sebenarnya untuk pergi ke sana. Banyak dosanya begini. Saya sampai berdiskusi via Gtalk dengan teman yang saat itu sudah berada di Makkah tentang kekhawatiran ini. Khawatir tentang apa sih? Takut dibalas sama Allah di sana atas segala kelakuan buruk selama di tanah air. Jawabnya gampang saja: “daripada dibalas di akhirat.”

    Ketakutan teman itu juga dan kebanyakan calon jamaah haji yang lain karena seringkali mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang keadaan di sana, seperti kisah tak bisa melihat Kakbah, tersesat berhari-hari, diperkosa sama orang Arab, sakit dari awal sampai akhir, hilang uang dan barang, dan semua kesulitan yang terjadi di sana. Semuanya selalu dianggap sebagai pembalasan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Yang tampak adalah Allah sebagai Tuhan yang Maha Pembalas. Mana kasih sayangnya Allah?

Sebenarnya ada perspektif yang perlu dipahami. Pertama, Allah adalah pemilik rumah itu. Sebagai Tuan Rumah yang baik sudah barang tentu Allah tidak akan pernah menyengsarakan dan menelantarkan tamunya. Maka yakinlah dengan ini terlebih dahulu.

Kedua, berusahalah untuk selalu menjadi tamu yang baik pula. Adab-adab bertamu hendaklah diindahkan. Merendahkan diri, bersikap sopan, dan tidak sombong. Bukankah yang berhak sombong itu hanya Allah? Bukankah kesombongan adalah selendangnya Allah? Maka wajar saja ketika setitik kesombongan itu ada di hati yang tidak berhak, maka yang berhak sombong akan menuntutnya.

Maka seringkali kita mendengar cerita-cerita kurang enak itu. Misalnya ada orang yang bilang, “ah segini sih mudah?” Sedikit keangkuhan yang terucap di Tanah Haram baik di lisan atau di dalam hati itu pada akhirnya berbuah kesulitan. Lalu kenapa langsung dibalas? Sebagaimana layaknya do’a yang langsung dikabulkan, begitupula dengan kesalahan yang tercipta maka akan langsung ditegur. Semata-mata karena di sana itu Allah sangat dekat.

Yang ketiga bukankah mereka yang mau bertekad bulat untuk pergi haji senantiasa dianjurkan untuk bertaubat terlebih dahulu, menyesali dosa yang lampau, dan berusaha kuat untuk tidak mengulanginya. Walaupun sejatinya bertaubat pun tidak perlu menunggu sampai mau pergi haji saja. Kalau sudah demikian mengapa khawatir kalau Allah akan menghukum kita di sana? Jika memang kita mendapatkan kesulitan di sana maka muhasabah saja dulu jangan-jangan taubat kita memang taubat yang hanya di mulut saja. Taubat yang perlu ditaubati.

Selanjutnya adalah jika memang kesulitan itu benar-benar terjadi menimpa pada diri kita, semoga jangan, anggap saja ini adalah teguran dan semata-mata kasih sayang Allah yang ingin menaikkan derajat keimanan kita. Betul kata teman saya, lebih baik dibalas di dunia atas kesalahan yang kita lakukan daripada dibalas akhirat, karena pembalasan di sana lebih keras adanya.

Berikutnya adalah bercerita yang nikmat-nikmat dan enak-enak saja sepulang dari haji. Ini yang kelima. Ada hal yang menarik di sini. Ada teman saya, salah seorang jamaah Masjid Al-Ikhwan, yang pergi haji di tahun 2007. Sampai sekarang ia sama sekali tidak pernah menceritakan kisah perjalanan hajinya yang enggak enak-enggak enak. Semuanya adalah cerita yang menyenangkan. Sehingga membangkitkan semangat yang mendengar ceritanya untuk bisa segera pergi ke Tanah Suci.

Selayaknya memang demikian, kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan yang pernah kita alami pada saat haji hendaknya tak perlu diceritakan serta merta. Cukup menjadi pembelajaran bagi kita saja, menjadi pengingat kala bermuhasabah, dan jadi nasehat bagi yang benar-benar membutuhkan.

Dikhawatirkan kalau diceritakan, kita seperti menjadi hamba yang tidak bersyukur, yang bisanya mengeluh tentang kelelahan-kelelahan di sana, yang punya dada sempit dan tidak lapang terhadap segala kenikmatan yang sebenarnya telah ditunjukkan Allah di sana. Ini sudah jelas akan membuat orang enggan untuk pergi haji.

Maka berceritalah tentang keberkahan yang kita dapatkan di sana. Perasaan dekatnya kita dengan Allah, keagungan bangunan hitam itu, kekhusyu’an thawaf kita, kemegahan Masjidil Haram, keanggunan Masjid Nabawi, syahdunya Arafah, kesejukan pagi Muzdalifah, semangat membara melempar di jamarat untuk menanggalkan segala bentuk jejak-jejak iblis pada diri kita serta kedamaian kita saat berziarah mengunjungi Nabi Saw. Pokoknya jadilah jama’ah haji yang gembira atas nikmat yang diberikan Allah karena telah dimudahkan untuk datang mengunjungi rumahNya.

*Tampak jamaah haji asal Pakistan tertidur di atas kursi yang biasa dipakai oleh syaikh untuk mengajar di majelis taklim Masjidil Haram. Nikmaaat…(Dhuha, 24 November 2011)

Kalau sudah tahu perspektif ini, maka sudah seharusnya pula kita tak bertanya kepada yang baru datang dari berhaji dengan pertayaan seperti ini: “ada yang aneh-aneh enggak di sana?” Pun, jika kita di tanya seperti itu tak perlu terpancing dengan bercerita yang serba menyusahkan. Take it easy.

Lalu bagaimana jika ketakutan pergi haji waktu muda itu karena nanti setelahnya tak bisa ngapa-ngapain lagi? Itu bahasan lain. Semoga kita tidak demikian. Insya Allah.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ada gak ada saya, kudu nulis

23.12 20 Desember 2011

ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA


ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA

 

Sosok paling terhormat, paling mulia, paling dicinta oleh seluruh umat islam sejak dahulu kala sampai saat ini terbujur kaku dan abadi di bawah bangunan berpagar hijau ini. Dialah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tak jauh darinya terdapat makam beserta dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ashshidiq, dan Umar bin Khaththab. Di sebelahnya lagi konon terdapat lubang kosong yang sudah disiapkan untuk makam Nabi ‘Isa. Ke sanalah saya pergi mengunjungi mereka untuk terakhir kalinya.

    Ahad dini hari (4/12), pukul 01.00 waktu Madinah, saya keluar dari hotel menuju Masjid Nabawi yang dinginnya benar-benar menusuk tulang. Kebetulan pada saat itu Madinah sudah mulai memasuki musim dingin. Jam 7 pagi kami harus sudah ada di dalam bus yang akan membawa kami menuju Bandar Udara Madinah, jadi malam ini adalah malam terakhir kami di Madinah. Oleh karena itu saya berusaha untuk berpamitan dan berziarah sebagai bentuk perpisahan.

*Suasana lengang dini hari di pelataran Masjid Nabawi.

    Pintu masjid Nabawi sebagian besar masih tertutup. Hanya Babussalam Gate dan pintu-pintu disampingnya yang terbuka. Saya melangkahkan kaki memasuki masjid. Walau sudah jam segitu, masih saja raudhah ramai dengan orang. Pelan-pelan melewati orang mencari tempat kosong di sana yang beralaskan karpet hijau itu. Shalat untuk beberapa raka’at dan berdo’a. Lagi-lagi saya memastikan diri untuk tak ada satu pun harap yang terlewatkan.

 

    Saya membayangkan wajah-wajah dari teman-teman di tanah air. Wajah Bapak A, Ibu B, Mbak C, Mang D, Teteh E, Mas F, Bibi G, Lik H, Aa I, dan saya bayangkan wajah-wajah orang-orang yang telah mendoakan kami kala kami hendak berangkat ke tanah suci. Saya meminta pada Allah, “Ya Allah begitu banyak do’a-do’a yang dititipkan kepada kami oleh sanak saudara dan teman-teman kami, kabulkanlah semuanya yang mereka titipkan itu ya Allah. Dan begitu banyak yang telah mendoakan kami untuk menjadi haji yang mabrur, maka pada malam terakhir di raudhah ini, kami meminta padamu ya Allah, jadikan pula mereka haji yang mabrur dan berilah kesempatan untuk datang mengunjungi makam kekasihMu.”

    Sudah jam setengah tiga pagi. Saya memutuskan untuk meninggalkan raudhah dan tentunya berjalan ke depan untuk bisa melewati makam Nabi saw. Sebelumnya saya salami salah satu askar yang berdiri di pintu Raudhah. Saya ucapkan salam dan terima kasih kepadanya. Karena merasa bahwa askar-askar ini lebih ramah daripada teman mereka yang berada di Masjidil Haram. Mereka lebih mengutamakan pelayanan kepada jama’ah, dan tak sekadar pengawasan serta penghukuman.

    Ketika melewati makam Nabi itu, tak terasa lagi kalau air mata ini jatuh. Emosional lagi. Saya pun mengucapkan banyak shalawat dan salam kepadanya. “Assalaamu’alaika ya Rasulullah, warahmatullah, wabarakaatuh.” Begitu pula kepada dua orang sahabatnya, salam pun teruluk untuk mereka. Untuk Abu Bakar, sahabat mulia yang begitu perasa, yang ketika mengimami shalat seringkali tidak terdengar suara karena tangisannya. Untuk Umar bin Khaththab, seorang yang keras kepala sebelum Islam datang menghampirinya lalu menjadi seorang lembut, tegas, dan zuhud ketika hidayah itu datang.

  • Salah satu sudut makam Nabi saw.

Sebelum benar-benar keluar dari Baqee Gate (tempat keluar dari makam Nabi saw), saya berdoa lagi untuk ketiga orang mulia itu. Ya Allah kumpulkanlah kami bersama Kanjeng Nabi Muhammad saw dan para sahabat di Firdaus A’laa. Dan berilah kesempatan kepada kami untuk bisa datang kembali.

*Baqee Gate yang terekam pada tanggal 26 November 2011.

Shubuh masih lama dan saya memutuskan untuk pulang ke hotel kembali. Kembali saya dipeluk dingin. Tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Dan saya tak menengok lagi ke belakang.

Dari ketiga cerita itu, saya pun akhirnya berkesimpulan bahwa pada dasarnya saya tak sudi untuk sebuah kata yang disebut perpisahan. Apalagi dengan orang dan sesuatu yang kita cintai. Tapi perpisahan memang sebuah kemestian jika ada pertemuan di awalnya. Maka apa mesti bahwa pertemuan itu yang harusnya disesali daripada perpisahan itu sendiri. Tidaklah. Itu cuma ada di negeri dangdut. Di sini pertemuan pun adalah sebuah kemestian. Apalagi perpisahannya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita dipisahkan dari rahmat Allah sampai hari nanti itu. Semoga.

***

Selesai

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tak ada lagi elegi setelah ini?

10:02 19 Desember 2011

    

Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar,

 

 

ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK


ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK

 

Tiga hari menjelang keberangkatan ke Madinah, sekitar 11 hari setelah ritual haji, suasana kota Makkah sudah mulai sepi. Banyak jama’ah haji Indonesia atau dari negara lain yang sudah pulang ke tanah air atau mulai meninggalkan kota Makkah menuju Madinah.

Hotel atau pondokan sudah mulai ada yang di gembok dengan rantai karena sudah kosong. Toko-toko sepi dan siap-siap tutup untuk buka kembali di tahun depan, karena konsumen utama mereka—jama’ah haji Indonesia—telah menyusut. Setiap hari ada saja rombongan bis  yang sudah nongkrong di depan hotel untuk mengangkut jama’ah haji yang mau pulang.

Masjidil haram pun demikian, sudah sedikit mulai kosong dan tidak seperti sebelum ritual wajib haji yang begitu padat dan berjubel. Kami masih mendapatkan dengan mudah posisi strategis dengan melihat Kakbah langsung pada saat shalat. Pun posisi shaf perempuan di lantai 1 sudah mulai maju tanpa khawatir diusir oleh para askar. Lantai paling atas, lantai 4 yaitu lantai untuk tempat sa’i telah ditutup. Tak ada lagi jama’ah yang berdiri di pagarnya untuk melihat kerumunan orang thawaf.

Suasana itu membuat saya nelangsa. Dan berpuncak pada saat pelaksanaan thawaf wada ba’da Shubuh di pagi jum’at (25/11). Karena setelah thawaf ini kami harus langsung pulang dan tak boleh kembali lagi shalat di masjidil haram. Saya putari Kakbah itu  tujuh kali. Berdo’a lagi banyak-banyak. Menatap lekat-lekat bangunan yang dirindu oleh jutaan manusia di dunia. Tak henti-hentinya air mata jatuh.

Setelah tujuh itu terlampaui, kami pun menuju barisan yang searah multazam untuk berdo’a lagi. Lalu shalat sunnah dua raka’at. Berdo’a kembali. Banyak. Lama. Kembali meyakinkan diri tidak ada yang terlewat. Dan berulang-ulang saya berharap untuk bisa diberikan kesempatan untuk kembali ke sini.

Emosional sekali  kala itu ketika saya mengulang-ulang sebuah harap ini. “Ya Allah jadikan hati kami adalah hati yang senantiasa merindukan-Mu dan rumah-Mu.  Ya Allah jikalau Engkau rela padaku maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak ya Allah, maka berilah aku anugerah sekarang ini, saat ini juga, sebelum aku jauh dari rumah-Mu. Ya Allah janganlah Engkau  jadikan waktuku ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya engkau jadikan masa ini adalah masa terakhir, maka gantilah masa itu dengan surga untukku dengan rahmatMu.”

Setelah minum air zam-zam, kami  langsung pulang dengan hati yang masih berdebar-debar. Tidak ada jalan mundur. Saya menguatkan hati betul untuk tidak ada lagi air mata yang jatuh lagi setelah sesi do’a itu. Lamat-lamat bangunan hitam itu hilang dari pandangan mata tertutup tiang-tiang megah Masjidil Haram.

Di pelataran Masjidil Haram pun, kami segera memakai sandal dan bergegas. Tidak dengan jalan mundur pula dan bertekad untuk tidak menengok-nengok ke belakang lagi.  Tak ada foto-fotoan juga. Tapi saya luruh kembali. Di antara tinggi bangunan Menara Abraj Al Bait dan Bin Dawood Super Store, saya berhenti sejenak dan menengok ke belakang untuk menatap dinding marmer putih Masjidil Haram yang tertimpa matahari dhuha. Selamat tinggal Masjid Mulia dan I’ll be right back, insya Allah.

*Abraj Al Bait Tower.

***

Bersambung ke Elegi 3.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tak ada yang dicari

10:02 19 Desember 2011

Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar

 

ELEGI 1: PADA PANDANGAN PERTAMA


ELEGI  1: PADA PANDANGAN PERTAMA

Pertanyaan dari seorang sahabat ketika bertamu itu membuat saya berpikir keras, “apa yang paling berkesan selama di tanah suci yang bisa dijadikan pelajaran buat kami?” Pertanyaan ini terus terang menyentak dan membuat saya terdiam. Menjawabnya pun jadi lama, karena saya harus berpikir dulu. Ada beberapa kemungkinan, ini dikarenakan memang tidak ada yang luar biasa di sana atau semuanya luar biasa sehingga sulit menemukan yang paling luar biasa.

Pertanyaan ini pun sejenis dengan pertanyaan seperti ini, “apa yang paling membuat kamu emosional di sana?” Seringkali saya mendengar banyak cerita dari orang, keluarga, dan teman saat pertama kali melihat Kakbah. Tidak ada yang tidak menangis. Tidak ada yang tidak emosional. Tidak ada yang tidak terharu.

Tapi sungguh saya tidak emosional melihat bangunan hitam itu pertama kali dengan nyata di depan mata. Tak ada air mata yang jatuh. Dan saya tidak bisa berpura-pura untuk menangis sesenggukan karena jama’ah yang lain dalam satu rombongan sudah pada menangis.  Saya sampai berkata dalam hati, “hatiku telah mati ya Allah?”

Memasuki Masjidil Haram pertama kali dengan do’a (25/10) melalui pintu Raja Malik ‘Abdul ‘Aziz, masih dengan dua lembar pakaian ihram, rambut masih gondrong, melihat Kakbah pertama kali, lalu menuju sudut Hajar Aswad untuk memulai thawaf umrah sebagai rangkaian pertama dari haji Tamattu’. Di belakang saya ada istri dan sepasang kakek nenek yang mengikuti kami karena terpisah dari rombongan.

“Bismillahi Allahu Akbar…!” seru saya serasa mengangkat tangan kanan memulai thawaf. Saya membaca semua doa dan dzikir yang saya hafal. Dan tentu do’a Robbana Atina ketika melewati Rukun Yamani sampai Rukun Hajar aswad. Bukankah begitu sunnahnya? Bagaimana dengan sunnah Raml? Berlari-lari kecil tiga  putaran pertama thawaf? Tidak bisa dilakukan karena terlalu padatnya pelataran utama Masjidil Haram.

“Banyak dosa membuat hati saya mati,” lagi-lagi saya berpikir demikian. Memikirkan banyaknya dosa, aib, maksiat, tidak diampuninya semua itu, dan tidak diterimanya amal-amal saya malah membuat saya luruh. Dan pada putaran kedua itulah tak ada yang bisa ditahan oleh mata. Semuanya keluar. Deras. Dan pada saat itulah saya tahu antara titik harap dan takut pada-Nya.

*Suasana Thawaf pada tanggal 26 Oktober 2011, saat pertama kali kami datang.

 

Itu yang paling emosional? Tidak. Kalau saya bisa urutkan adalah pada saat wukuf di Arafah, pada saat thawaf wada, dan pada saat ziarah yang terakhir kali di makam nabi saw.

Seperti diketahui bersama kalau Islam telah memerintahkan kepada yang mampu untuk berhaji dan haji adalah wukuf di Arafah. Kami berwukuf di dalam tenda yang telah dipersiapkan. Sudah suci dari hadas kecil dan besar sejak jam 11 karena sebentar lagi pelaksanaan khutbah wukuf dan shalat jama  takdim dhuhur dan asar.

*Suasana pagi tanggal 9 Dzulhijjah 1432 di Arafah.

Mental sudah saya siapkan untuk waktu wajib wukuf itu yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai matahari tenggelam. Pun karena waktu wukuf adalah salah satu hari yang terbaik di dunia. Yaitu hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka. Saat di mana Allah mendekat. Pun tertawa.. Saat Ia membanggakan kepada para malaikat orang-orang yang bermunajat pada-Nya di hari itu serta berfirman, “apa yang mereka kehendaki.” Piye jal?

*Jama’ah haji dari negara lain yang berdo’a di luar pagar tenda pada waktu ashar.

Apalagi terasa sekali bagi saya kalau waktu itu seakan-akan waktu yang paling mahal yang pernah dirasa. Waktu yang mungkin hanya dijumpai sekali dalam seumur hidup saja adanya. Waktu yang terasa pendek untuk do’a, talbiyah, Istighfar, tahlil, dan shalawat.

Seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya kalau waktu wukuf itu pun bagi saya seakan-akan waktu terakhir di mana besok akan dihukum mati. Ibaratnya seperti kedatangan malaikat maut yang bilang: “Za, besok pagi kamu mati!” Maka detik itu langsung tobat, langsung minta ampun, berdo’a yang macam-macam untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Teks khutbah wukuf yang dibacakan oleh Ketua Kloter 65 bagi saya terasa indah, seperti pukulan untuk menyadarkan sanubari bahwa masih adanya banyak kesalahan pada diri, serta menghanyutkan dengan do’a-do’a muhasabah panjangnya.

*Suasana sore di Arafah.

Apalagi menjelang maghrib, saya benar-benar harus meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tertinggal dari do’a-do’a itu. Do’a untuk diri, istri, anak-anak, keluarga, teman-teman, tanah air, dan kejayaan umat Islam. Semoga tetesan air mata itu menjadi saksi buat kami.

***

Bersambung ke Elegi 2

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih mencari

10:02 19 Desember 2011

Tags: menara abraj al bait, abraj al bait tower, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar

 

 

Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah


Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah

Di tanah suci macam-macam saja kebiasaan jama’ah haji Indonesia ini. Salah satunya kebiasaan bersandar di tembok atau tiang masjid di tanah air yang ternyata terbawa sampai ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    Di Masjid Nabawi tampak mencolok wajah melayu, bertubuh kecil, memakai baju batik yang berleha-leha di tiang-tiang masjid sambil menunggu waktu shalat. Ini masih mending karena jama’ah Masjid Nabawi tidaklah sebanyak Masjidil Haram. Kalau di Masjidil Haram kebiasaan itu akan merugikan jama’ah haji sendiri. Mengapa?

Harga shaf di Masjidil Haram sangatlah mahal. Paha yang dilipat bersila menandakan masih adanya tempat yang leluasa untuk bisa diselipi oleh orang lain. Dan itu dimanfaatkan betul oeh jamaah dari negara lain yang tanpa basa-basi meminta kita untuk bergeser walaupun sudah tahu bahwa shaf sudah penuh.

Nah, jamaah haji kita kalau dekat tiang seharusnya duduk merapat tiang agar tidak bisa digeser oleh orang, tetapi karena kebiasaan bersandar itu jadi menyebabkan terlihat mencolok space yang kosong. Mau tidak mau seharusnya dia yang dapat tempat yang nyaman untuk duduk malah disingkirkan oleh jama’ah haji yang melihat adanya ruang yang kosong itu. Karena orang Indonesia orangnya santun, tak enakan, dan ngalahan maka ia pun terpaksa duduk dengan melipat kaki ke dada.

Ada lagi yang lain. Saya pernah menjumpai ibu-ibu jamaah haji Indonesia yang mendekati petugas kebersihan Masjidil Haram dan memohon-mohon dengan sangat sambil mengangkat jari telunjuk menandakan angka satu dan menunjuk-nunjuk kain pel. Artinya ibu-ibu itu meminta kepada Petugas Kebersihan satu helai kain pel. Untuk apa sih? Saya juga tidak tahu. Mungkin buat bahan cerita di tanah air, “nih kain pel asli dari Makkah buat membersihkan Masjidil haram. Asli.” Klenik? Tidak tahu juga. Hanya Allah yang tahu.

Orang Indonesia saja yang demikian? Tidaklah. Jama’ah haji Pakistan seringkali menggerak-gerakkan jari-jari mereka seperti menulis ketika habis shalat di lantai Masjidil Haram. Entah apa yang ditulis. Mungkin nama mereka agar bisa datang lagi ke Mekkah. Apalagi waktu di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Suatu tempat pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa. Kalau jamaah haji yang lain pakai spidol, mereka tidak. Cukup dengan menggunakan jari tangan mereka.

*Jurus Tulisan Tanpa Bayangan?

Selain itu di Jabal Rahmah ini banyak sekali foto-foto yang bertebaran. Foto sendiri atau foto berdua. Katanya kalau meninggalkan foto di sini atau menulis di batu-batunya bisa dipanggil lagi untuk berkunjung ke tempat itu atau jodohnya awet.

  • Salah satu foto yang saya temukan. Ada nama di balik foto itu.

  • Lembaran foto lainnya. Ada nama mereka berdua di balik foto itu.

Karena melihat kebiasaan itu, maka seringkali para askar atau penjaga yang bertugas di Jabal Rahmah menegur dan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Karena tidak pernah ada syari’atnya untuk itu. Syukurnya kami pun tidak melakukan itu. Berdoa di sana pun tidak.

Di sekitar tugu yang berada di puncak Jabal Rahmah tampak terlihat dijaga ketat sekali oleh para askar. Para askar yang berbaju gamis, berjenggot panjang, dan bersurban itu senantiasa berteriak serta menasehati para peziarah untuk tidak menyentuh tugu dan berdoa menghadap tugu persis, tetapi diminta oleh mereka untuk menghadap kiblat. Kalau tidak dijaga, maka tugu Jabal rahmah rawan jadi tempat shalat, thawaf, dan dicoret-coret.

Kalau yang berziarahnya itu terlihat bermuka melayu maka yang dihadapkan adalah askar dari Malaysia. Kalau orang Afrika maka askar yang ditugaskan adalah askar yang berkulit hitam dan mampu berbahasa orang Afrika. Jadi para askar yang bertugas di sana dari berbagai macam bangsa pula.

*Tampak para askar sedang menjaga tugu di puncak Jabal Rahmah

Ada lagi yang menarik. Seringkali kita melihat kalau di sekeliling tembok Kakbah itu banyak sekali orang yang menyapu kopiah, peci, surban, sajadah, baju mereka ke tembok Kakbah. Awalnya saya menduga, semua barang itu nanti akan jadi barang kenang-kenangan dan tidak akan pernah dicuci karena bekas kena batu dinding Kakbah. Mungkin bagi sebagian orang iya. Kemudian saya berbaik sangka kalau mereka itu sebenarnya memang hanya ingin mengetahui wangi Kakbah itu seperti apa.

Karena ternyata, sebelum shalat jama’ah dimulai, dinding Kakbah yang steril dari manusia karena dijaga ketat para polisi itu, selalu diberi minyak wangi oleh petugas khusus. Begitu pula dengan hajar aswadnya. Nah itu yang diperebutkan oleh seluruh jama’ah di dekat Kakbah ketika imam selesai salam bahkan sebelum imam selesai mengucapkan salam pertamanya. Saat pertama itulah kopiah, peci, surban, sajadah, baju menyapu bersih wangi parfum Kakbah.

Jadi siapa bilang kalau hajar aswad itu selalu wangi. Wanginya itu wangi sebelum dicium oleh puluhan ribu orang. Baru tercium wangi kalau Anda jadi yang pertama mencium hajar aswad. Tentu itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Mau?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

selalu berdoa untuk pertemuan itu

22.41 15 Desember 2011

Tags: hajar aswad, jabal rahmah, jurus tulisan tanpa bayangan, jurus, Kakbah, masjidil haram, masjid nabawi, mekkah, makkah, mecca, macca, medinah, madinah, kota nabi

KENA SANKSI ADMINISTRASI


Ibu Puspa mengirim email kepada saya dan menanyakan tentang hal ini:
Saya membaca di internet tentang konsultasi pajak. Kami didatangi petugas kantor pajak yang menyatakan telat bayar PPN tahun masa pajak – 12122009. Tanggal jatuh tempo 15 Januari 2010, tanggal bayar 10 Desember 2010, telat 10 bulan.

Perusahaan kami baru berdiri jadi pada tahun 2009 belum ada yang menangani pajak. Kami baru masuk bulan November 2010, dan pembayaran pajak baru dilakukan bulan Desember 2010. Pada saat itu tidak ada yang menangani. Mohon tips untuk mengatasi masalah ini. Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya. Sangat kami tunggu.
*
Ibu Puspa yang saya hormati, kalau sudah didatangi oleh petugas pajak itu berarti sudah dalam proses penagihan aktif karena ada Surat Tagihan Pajak (STP) yang sampai dalam jangka waktu tertentu belum juga dilunasi oleh perusahaan Ibu.

Kalau dari apa yang diterangkan oleh Ibu, memang betul telah terjadi kelalaian berupa keterlambatan dalam pembayaran PPN Masa Pajak Desember 2009 tersebut yang seharusnya ibu bayar paling lambat tanggal 15 Januari 2010 tetapi baru dilakukan pembayaran pada tanggal 10 Desember 2010.

Kantor Pelayanan Pajak atas keterlambatan pembayaran tersebut menerbitkan STP untuk menagih sanksi administrasi berupa bunga itu kepada perusahaan Ibu. STP tidak segera dilunasi maka diterbitkan surat teguran. Setelah ditegur juga tidak dilunasi segera dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka diterbitkan surat paksa yang kemudian disampaikan oleh petugas pajak ke domisili perusahaan Ibu.

Tidak ada tips lain dari saya terkecuali perusahaan ibu segera melakukan pembayaran atas STP tersebut. Karena secara formal dan material penerbitan STP tersebut sudah benar. Sedangkan alasan bahwa di tahun 2009 tidak ada orang yang menangani pajak di perusahaan tidak bisa diterima.

Saya dapat sedikit menyimpulkan bahwa Ibu datang di perusahaan tersebut di bulan November 2010 untuk menangani masalah pajak dan mengetahui adanya pembayaran PPN yang belum dilakukan lalu Ibu berinisiatif untuk melakukan pembayaran tetapi tidak disadari bahwa ternyata akan timbul sanksi administrasi. Apa yang dilakukan Ibu adalah suatu hal yang sudah benar, karena jika pembayaran PPN itu tidak dilakukan atau ditunda-tunda karena khawatir akan dikenakan STP maka malah akan menambah besarnya sanksi administrasi tersebut. Tentu ini akan memberatkan perusahaan juga.
Saran saya konsultasikan lebih lanjut dengan Account Representative perusahaan ibu di KPP.

Demikian jawaban saya semoga dapat dipahami.
***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11.35 13 Desember 2011

Tags: surat tagihan pajak, stp, bunga, telat bayar pajak, pajak pertambahan nilai, ppn, telat bayar, konsultasi pajak, konsultasi pajak gratis

CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS


CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS

Ini ilmu yang perlu diketahui  seluruh calon jama’ah haji Indonesia. Kata Ketua Rombongan saya ilmu yang baik ini harus dibagi. Okelah kalau begitu. Soalnya beliau saja yang sudah pergi bolak-balik ke tanah suci saja belum tahu kalau ada ilmu seperti ini. Saya kira sudah tahu.

Ini berguna buat halaqah, majelis taklim, yayasan, masjid, musholla, madrasah, ma’had, lembaga pendidikan, pengajian RT, pengajian RW, pengajian PKK, pengajian desa yang ingin mengganti atau menambah Alqur’an buat jama’ahnya.

Sudah tiga periode sejak tahun 2007 Masjid Al-Ikhwan menitipkan proposal permintaan Alqur’an kepada pengurusnya yang pergi haji untuk disampaikan kepada Pengurus Masjid Nabawi, Madinah. Sebut saja pengurus karena kita tidak tahu nama sebenarnya dari lembaga pewakaf Alqur’an tersebut.

Nah, tentu syarat utama dari keberhasilan proposal ini adalah kerelaan dari yang dititipkan untuk dibebani banyak Alquran dengan berat total sebesar 10 kg itu. Karena mau tidak mau amanah ini akan mengurangi jatah berat maksimal dalam kopor untuk dirinya. Atau minimal bikin ribet selama perjalanan pulang kalau ditenteng.

Proposalnya seperti apa sih? Sebenarnya cukup surat satu lembar saja. Rinciannya begini:

  1. Kop Surat. Saya lihat ada juga yang tidak pakai. Tetapi lebih baik surat tersebut memakainya sebagai tanda bahwa permintaan ini resmi.
  2. Pakai bahasa apa? Bahasa Arab boleh. Bahasa Indonesia juga boleh. Bahasa Betawi Bojong juga tidak apa. Tidak dibaca soalnya.
  3. Ditujukan kepada siapa surat tersebut? Tulis saja Pengurus Masjid Nabawi.
  4. Struktur suratnya bagaimana? Salam, kalimat pembukaan seperti biasa yang terdiri dari rasa syukur dan shalawat, inti surat yang isinya bahwa lembaga kita butuh alqur’an, dan penutup.
  5. Tanda tangan pengurus. Dalam surat saya ditambah pula tanda tangan Ketua RW.
  6. Cap. Ini penting banget. Mereka, para penjaga, akan meminta cap kalau dalam surat itu—di atas tanda tangannya—tidak ada cap. Walaupun pada akhirnya tetap akan diberi. Saya sarankan untuk memakai cap buat surat itu. Selesai.

Proposalnya disampaikan kemana? Kalau sudah sampai di Masjid Nabawi pergilah ke pintu 18. Gate 18 ini seingat saya bernama Gate Umar Bin Khaththab. Masuklah dari Gate King Fahd lalu cari di sebelah kanan. Di sana akan ditemukan ruangan kecil yang d idepannya ada tempat antrian untuk masuk ke ruangan itu dan mengambil Alqur’an.

Saya lupa di hari ke berapa saya bawa proposal itu ke sana. Tetapi saya masih ingat saya mengambilnya pada waktu dhuha. Sekitar jam 10-an pagi. Kalau memang belum buka coba tanya-tanya sama penjaga pintu Masjid Nabawi, pakai bahasa tarzan sambil menunjukkan surat itu Insya Allah mereka paham.

Tak hanya orang Indonesia yang bawa proposal, orang Tajikistan, orang Turki, orang dari negeri seberang banyak juga tuh yang bawa. Pokoknya yang enggak bawa proposal sudah pasti tidak boleh masuk. Nanti akan ada penjaganya yang menyortir setiap pengantri bawa proposal atau tidak. Kebetulan saya lihat yang jaga sambil nyortir juga dzikir pakai biji tasbih. Pikir saya di pusat gerakan salafy ini ada juga orang dzikirnya memakai biji tasbih yang katanya bid’ah itu.

Karena saya bawa surat saya diperkenankan untuk masuk. Di sana surat hanya dilihat sebentar (tidak dibaca) oleh para penjaga yang lain lalu diberi lembaran kertas yang divalidasi olehnya dan diberikan kepada saya. Lalu saya disuruh masuk ke ruangan yang lain dengan menunjukkan lembaran kertas kecil tersebut.

Di tanya oleh penjaga yang berada di ruangan itu: “ustadz fi madrasah?” Saya jawab: “Na’am”. Saya enggak bohong kok jawabnya. Saya memang seorang guru dalam sekolah informal pekanan. Lalu saya diberi satu kardus berisi Alqur’an.

Karena saya dari Indonesia, Sang Penjaganya memberi tambahan lagi satu Alquran Terjemah dan satu buku tafsir. Tapi saya diharuskan minta validasi lagi ke penjaga sebelumnya. Satu hal yang perlu diingat kertas validasi itu jangan sampai hilang.

Mau bawa berapa proposal? Mau bawa tujuh proposal dan antri setiap harinya enggak apa-apa, yang penting bisa tidak bawa pulangnya ke tanah air. Saya cuma bawa satu saja cukup. Ada juga jama’ah haji Indonesia yang bawa dua proposal. Dua proposal berarti dua kardus.

Kardus itu berat sekali. Pada saat penimbangan tas kopor dilakukan saya iseng untuk menimbang kardus alqur’an wakaf itu ternyata beratnya berkisar 10 kg. Lalu bagaimana cara bawa kardus itu ke tanah air? Soalnya para jama’ah haji sudah ditakut-takuti oleh para petugas haji sejak di tanah air sampai pemulangan itu bahwa kita tidak boleh bawa tas tenteng selain tas tenteng berlogo maskapai penerbangan. Ah, masa iya sih?

Alternatif cara pertama adalah mengirimkannya dengan kargo. Hitung saja kalau ongkosnya sekitar 8 real per kilonya. Berarti total 80 real. Kalau dikurskan ke rupiah berkisar 200 ribu rupiah. Ini sama saja dapat Al Qur’an enggak gratis. Tapi tidak masalah kalau yang dititipkan memang ikhlas dan berniat infak serta tak mau direpotkan dengan membawa banyak barang tentengan.

Alternatif kedua adalah dengan memasukkannya ke dalam kopor. Tentu saja ini akan makan tempat apalagi tas kopor para jama’ah haji dibatasi beratnya hanya maksimal 32 kg. Tapi sebenarnya tak apa beratnya melebihi itu yang penting berat total satu kloter tidak melebihi batas maksimal 32 kg dikalikan jamaah dalam satu kloter.

Paling tidak jika beratnya melebihi batas yang telah ditentukan biasanya akan jadi perahan para pekerja perusahaan kargo. Untungnya Ketua Rombongan kami tahu trik ini jadi ketika diperas Ketua Rombongan kami dengan tegas menolak permintaan uang tambahan itu karena yang jadi patokan adalah berat total dalam satu kloter itu. Kebetulan banyak juga dari jamaah haji rombongan kami yang beratnya tidak melebihi 32 kg.

Kalau memang tasnya masih kempes dan hanya diisi dengan sedikit oleh-oleh tidaklah mengapa kalau kopor itu diisi dengan Alqur’an itu. Masalahnya adalah bisa tidak kita mengemas Alqur’an sebanyak 19 buku itu dalam kopor? Kalau masih muat silakan saja.

*Jumlah 19 Kitab Alqur’an wakaf ini baru diketahui setelah tiba di tanah air.

Alternatif ketiga adalah dengan menentengnya. Petugas haji Indonesia yang garang-garang di bandara itu tidak akan mungkin untuk meminta kita untuk membuang kardus wakaf alqur’an ini. Jika ditanya isinya apa, jawab saja Alqur’an wakaf dan siapkan kertas validasi jika mereka enggak percaya. Mereka cuma pegang-pegang kardusnya pada saat pemeriksaan untuk mengecek kalau-kalau ada air zam-zam di dalam kardus itu.

Cara alternatif ini tentu merepotkan tapi tidaklah mengapa jika yang bawanya ikhlas. Semoga amalnya dihitung oleh Allah sebagai amal kebaikan. Repotnya gimana sih? Ya karena rawan lupa atau tertinggal barang bawaannya. Apalagi kalau sudah tiba di bandara tanah air dan embarkasi. Sedikitnya ada 4 bawaan di setiap jamaah antara lain Tas tenteng di tangan kanan, tas paspor yang digantung di leher dan diikat di pinggang, tas gemblok di punggung, dan air zam-zam 5 literan di tangan kiri, ditambah satu kardus Alqur’an entah di tangan yang mana lagi.

Satu saran saya terakhir jika memang kardus itu mau ditenteng, siapkan saja sapu tangan tebal untuk ditaruh di talinya. Tanpa sapu tangan itu siap-siap saja tangan lecet kena tajamnya tali kardus. Itu saja.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semoga kita dipertemukan kembali…

14.55 12 Desember 2011

Tags: masjid nabawi, pintu 18, gate 18, proposal alqur’an gratis, gate King Fahd, gate umar bin Khaththab, cara dapat alqur’an gratis, proposal alqur’an.