SAYA DULU ADALAH ANDA SAAT INI


SAYA DULU ADALAH ANDA SAAT INI

 

Saya sibak tirai kamar hotel lantai 10 pagi ini. Gunung Salak terlihat jauh di sebelah selatan. Bangunan tinggi-tinggi banyak menjulang di kejauhan. Terselip di antaranya pemukiman padat. Khas Jakarta. Terlihat pula keramaian kendaraan bermotor tiada henti melewati jalan di bawah sana.

    Seringkali saya berlama-lama menyaksikan apa yang ada di balik tirai ini. Indah sekali menurut saya. Menginspirasi. Apalagi lanskap pada waktu malam hari. Kelap-kelip lampu gedung, motor, dan mobil. Tentu pula antriannya. Baik yang ada di tol maupun non-tol. Pemandangan biasa yang menjadi keseharian ibukota.

    Saya bersyukur mendapatkan kamar yang sedemikian rupa. Lebih bersyukur lagi saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti workshop pelatihan menulis yang diadakan oleh Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA), Direktorat Jenderal Pajak, selama tiga hari ini.

    Begitu banyak yang didapat. Bertemu dengan begitu banyak orang, dengan berbagai karakter dan asal. Dari barat Indonesia maupun timurnya. Begitu banyak talenta. Begitu banyak semangat membara untuk membuat Direktorat Jenderal Pajak menjadi lebih baik lagi melalui pena-pena yang tergores di atas kertas.

    Kini, saat saya menulis lembaran ini, matahari pagi memboroskan cahayanya hingga memenuhi ruangan kamar hotel. Amat saya rindukan atmosfer ini. Seperti saat saya shalat dhuha di saung tengah sawah bermandikan kirana surya beberapa tahun yang lampau.

    Seperti pula rindunya saya pada sesuatu yang bernama konsistensi dalam menulis. Untuk punya komitmen menulis apa saja di setiap hari.Hingga ide di kepala ini terkuras habis. Atau maut memutus segala kenikmatan.

    Sebenarnya inilah jawaban kepada teman-teman—baik peserta atau kawan di berbagai tempat di luar sana—yang mengeluhkan tentang ketidakmampuannya untuk menulis. Kok mereka mengeluh pada saya yah padahal saya bukan penulis buku, terkenal apalagi, saya cuma blogger yang berusaha untuk tetap menulis dan menulis.

C’mon beib…kamu bisa. Hapus semua mental block yang ada. Takkan terulang lagi keluar dari mulut kita kata-kata yang melemahkan kemauan kita untuk menulis. “Saya dulu adalah Anda saat ini,” begitulah kalimat saya yang terucap kepada mereka. “Anda cuma butuh konsistensi untuk menulis apa saja di setiap hari,” terang saya lagi.

Realitanya, sungguh saya senang dengan keluhan mereka. Itu adalah ungkapan hati dan benih dari sebuah kejernihan yang tak bisa dibohongi bahwa mereka ingin berkarya. Wow…Mereka ingin maju. Mereka ingin menghasilkan karya. Mereka ingin menelurkan buku. Mereka ingin ada sebuah keabadian yang akan dikenang oleh anak cucu.

Apapun niatan mereka, takkan berhasil jikalau mereka—setelah membaca tuntas artikel ini—tak segera ambil kertas, buka laptop, dan langsung menuliskan apa saja yang ada di benak mereka. Kawan, saat ini tulis apa saja yang kau rasa, derita, pikirkan, bayangkan. Semuanya. Dan saya selalu akan menunggu karyamu.

Sang baskara mulai meninggi.

***

 

Tags: kitsda, djp, tips menulis, blogger, workshop, pelatihan, gunung salak.

    

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semua orang bisa menulis

06.40 04 Desember 2010

    

Termuat pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/04/saya-dulu-adalah-anda-saat-ini/

 

PIKIRAN ADALAH MUSUH


PIKIRAN ADALAH MUSUH

 

Tulisan membuat seseorang mampu untuk melebihi masa hidupnya dan mampu membuat pintu untuk melampaui ruang lingkupnya. Tulisan menjadi sesuatu yang tidak ada kata pensiunnya buat penulisnya.

Itulah salah satu yang dikemukakan oleh Zaim Uchrowi dalam Pelatihan Aktif Menulis, Kreatif, dan Inspiratif yang diselenggarakan oleh Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA) di Hotel Twin Plaza, Jakarta, Kamis (2/12).

Zaim melanjutkan bahwa untuk menjadi penulis sejati maka ia harus hati-hati dengan pikirannya, karena terkadang pikiran adalah musuh bagi penulis sendiri. Penulis sering terjajah dengan pikirannya. Seharusnya penulis harus mampu untuk mengendalikannya. Maka seringkali mengajar tentang kepenulisan di dunia akademisi akan lebih sulit daripada yang lainnya karena hilangnya spontanitas dan mereka benar-benar hidup di dunia pikiran.

Oleh karenanya, lanjut Zaim, untuk tidak terjajah oleh pikiran, penulis harus mampu menggunakan mata, mata, dan matanya. Memosisikan matanya seperti kamera yang mampu untuk merekam segalanya. Dengan mata itulah ia mengamati dan memdeskripsikan apa yang ia lihat. Dan tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa mendeskripsikan sesuatu dengan jelas.

Untuk memperkuat mata itu, dalam menulis pun perlu menggunakan bahasa atau kata-kata sehari-hari. Hindari jebakan akademik. Karena dunia akademik kita amat sangat diwarnai dengan feodalisme, kekakuan, dan formalistik. Di luar negeri, karya akademik dari dunia ilmiah mampu mendekatkan diri dengan tulisan-tulisan populer lainnya.

Zaim mencontohkannya dengan tulisan anak-anak yang mampu berkata jujur dan polos. “Kita lihat tulisan anak-anak itu. Jelas strukturnya, subjek, predikat, objek, dan keterangan.Pendek-pendek. Namun dengan bertambahnya usia mereka, ilmu mereka, pendidikan mereka, tulisannya semakin panjang, dan membingungkan. Menjadi sulit dimengerti. Hingga muncul anggapan tulisan yang ilmiah itu adalah tulisan yang sulit dipahami.”

“Akan sangat baik pula untuk menambahkan latar belakang wilayah lokalnya masing-masing dalam tulisan itu agar penuh dengan warna,” lanjut Zaim mengakhiri.

Pelatihan yang diisi instruktur dari Balai Pustaka School of Writing dan dibuat untuk
para kontributor Buku Berbagi Kisah dan Harapan (Berkah) Direktorat Jenderal Pajak ini, menurut rencana akan diselenggarakan selama tiga hari.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

memandang pagi Jakarta dari lantai 10

04.44 03 Desember 2010

SPICE IKLAN


SPICE IKLAN

 

Suatu saat ketika dalam perjalanan dari Semarang menuju Magelang saya banyak menjumpai papan reklame berukuran besar di sepanjang jalan. Sebagian terisi dengan iklan tentunya dan sebagian masih kosong. Yang kosong biasanya ada tulisan dengan huruf-huruf besar seperti “DISEWAKAN” atau “FOR RENT”
yang diikuti dengan nomor yang harus dihubungi.

    Saking semangatnya sampai ada yang menulisnya demikian “SPICE IKLAN DISEWAKAN”. Betul Pembaca, Anda tidak salah membacanya. Mereka menulisnya dengan huruf i bukan a. Tentu bagi yang memahami bahasa Inggris SPICE berarti rempah. Seharusnya yang betul adalah SPACE pastinya, yang berarti ruang. Space, spice kalau diucapkan hampir-hampir mirip memang. Maunya keren tapi salah, jadinya malu-maluin.

    Tapi apakah penggunaan kata space iklan juga sudah betul ? Memangnya bahasa Indonesia belum mengakomodasi istilah asing itu. Tentunya tidak. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui laman Glosariumnya menginformasikan kepada kita untuk memakai istilah ruang untuk menggantikan istilah asing space.

    Jadi yang tepat seharusnya bukan space iklan apalagi spice iklan melainkan ruang iklan. Atau kalau merasa masih belum keren pakai saja istilah media luar ruang. Belum keren juga? Ingatlah Sumpah Pemuda 1928. J

Papan reklame kosong iklan itu sayangnya tidak saya abadikan dengan kamera sebagai bukti yang bisa saya sodorkan kepada Anda semua. Namun yang dibawah ini ada foto yang bisa menggambarkan—sekali lagi—keinginan keren tapi salah, jadinya malu-maluin.

Saya yakin Pembaca sudah mengenal yang namanya sandwich (roti lapis)
yang menurut
Wikipedia Bahasa Indonesia sandwich adalah makanan berupa dua potong roti yang menjepit daging, sayuran, keju atau berbagai teman makan roti dan biasanya diberi bumbu atau saus sehingga rasanya menjadi lebih enak. Berbagai jenis roti bisa digunakan untuk sandwich dan bergantung pada isi, permukaan roti biasanya dioles sedikit mayones, mentega, margarin, atau minyak zaitun yang berfungsi sebagai perekat dan penambah aroma.

Nah, kalau yang ini sandwich bukan yah? Memang betul sih sandwich tapi tulisannya itu loh…


SUNWIHS…

Saya menemukannya di sebuah pusat perbelanjaan ternama di bilangan Cibinong, Kabupaten Bogor. Mungkin kalau ditulis roti lapis oleh penjualnya, dagangannya tidak akan laku walaupun dijual dengan harga yang teramat spesial. Pun, mungkin pembelinya juga mau beli karena merasa kalau menyantap makanan yang tulisannya pakai bahasa Inggris terasa tidak biasa, diluar kebiasaan, serasa makan makanannya orang bule, terasa keren. Roti lapis sih sudah biasa.

Inikah yang namanya rasa rendah diri yang teramat sangat dari bangsa ini? Atau mengutip Farranasir—seorang dokter pecinta kata-kata—inikah yang namanya bahasa Indonesia diselingkuhi bahasa Inggris?

Allohua’lam bishshowab.

 

Maraji’:

Wikipedia Bahasa Indonesia (Online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Roti_lapis , diakses 28 Januari 2009)

Farranasir. 05 Oktober 2009. Internasionalisasi dan Budaya Rendah Diri.
(Online) (http://politikana.com/baca/2009/10/05/internasionalisasi-dan-budaya-rendah-diri.html
, diakses 28 Januari 2009)

    

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

28 Januari 2009 09.28

 

NOTULENSI, NOTULEN, ATAU NOTULA?


NOTULENSI, NOTULEN, ATAU NOTULA?

(Dimuat dan Diambil dari Situs BahasaKita.com)

Jum’at sore, saya membaca sebuah hasil rapat yang terdiri dari beberapa halaman. Judul lembaran itu adalah NOTULENSI RAPAT. Karena saya merasa sudah pernah berburu kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia di laman Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia saya mencoba mengoreksi judul tersebut. Tapi yang membuat lembaran hasil rapat tersebut bersikeras bahwa yang betul adalah notulensi.

Oke, saya akan berbagi kepada Anda semua. Tapi sebelumnya saya memberitahukan kepada Anda jika Anda mengetik kata notulensi di laman pencarian seperti Google maka Anda akan mendapatkan pemakaian kata notulensi banyak dipakai oleh instansi-instansi beken di republik ini.

Dan kepada siapa kita akan merujuk tentang bentuk kata yang benar dari sebuah kata? Maka jawabannya adalah tentu kepada sebuah instansi pemerintahan yang berwenang dan kapabel dalam menangani ini. Pusat Bahasa tentunya.

Di laman Kamus Besar Bahasa Indonesia yang telah disediakan oleh Pusat Bahasa itu maka dapat dicari banyak kata dasar. Kalau kita memilih bentuk pencarian “memuat” dan mengetikkan kata notul pada kotak yang disediakan tersebut maka daftar kata yang ditampilkan ada tiga:

  • Notula;
  • Notulen;
  • Notulis.

Coba lihat tak ada kata notulensi di sana. Saya tidak tahu darimana kata ini berasal. Apakah KBBI yang lupa memasukkan kata ini atau adakah sumber lain yang meyakinkan saya bahwa kata ini memang layak untuk dipakai.

Mungkin maksudnya karena ini berkaitan dengan dokumen dan kata dokumen berdekatan dengan kata dokumentasi, maka kata notulen didekatkan pula dengan imbuhan “si” di belakang sehingga menjadi notulensi. Pengaitan yang salah.

Mari kita cari tahu definisi ketiga kata itu.

no·tu·la
n catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yg dibicarakan dan diputuskan: — rapat merupakan dokumentasi penting

no·tu·len ? notula

no·tu·lis
n orang yang bertugas membuat notula (catatan rapat)

Terkadang orang juga banyak yang bingung dalam pemakaian kata siapa yang bertugas membuat catatan rapat. Notulis atau notulen? Tentu setelah Anda membaca pengertian di atas semoga tidak keliru untuk memakainya.

Contoh yang salah dari pemakaian kata notulen:

Saya butuh seorang notulen yang mengerti tentang isu pencemaran udara.”

“Saya diminta sama seorang teman buat jadi notulen di acaranya yang cukup berbau internasional.”

Yang benar adalah:

“Saya butuh seorang notulis yang mengerti tentang isu pencemaran udara.”

“Saya diminta sama seorang teman buat jadi notulis di acaranya yang cukup berbau internasional.”

Jadi singkatnya, catatan rapat itu disebut notula sedangkan yang membuat notula adalah notulis.

Pakailah kata notula atau notulen jangan notulensi. Dan pakailah notulis jangan notulen untuk menunjukkan siapa yang membuat catatan rapat.

Semoga informasi ini berguna buat Anda semua.

***

Baca: Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari

Baca: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

Catatan: yang tidak setuju tentang catatan kecil saya ini coba tunjukkan kepada saya sebuah landasan yang betul dari pemakaian kata notulensi.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis untuk laman Bahasa Kita yang diasuh oleh Wieke Gur

09.09 16 Januari 2009

Hukum Membaca dan Menulis Cerita Fiksi, Haram?


HUKUM MEMBACA DAN MENULIS CERITA FIKSI,
HARAM?

A. Pendahuluan

Dalam sebuah forum diskusi yang membahas sebuah cerita fiksi, ada sebuah celetukan
yang muncul di sana seperti ini, “Tulisan bohong seperti itu memang bermanfaat?” atau dengan celetukan yang
lain seperti ini, “namanya juga khayalan yang diperhalus dengan kata imajiner.”

Bagi saya, celetukan-celetukan tersebut adalah sesuatu yang wajar, karena tidak
semua orang harus dipaksa untuk dapat menyukai sesuatu apalagi sebuah tulisan. Bahkan dengan keterusterangan yang
dilontarkan oleh yang lain dengan mengatakan ketidaksukaannya pada fiksi, saya anggap sebuah kewajaran juga.

Namun menjadi tidak wajar jika ketidaksukaannya tersebut bercampur dengan sinisme
yang berlebihan sehingga menganggap penulis dan pembaca fiksi menjadi orang-orang yang terlena dan jatuh dalam
kesia-siaan serta kedustaan. Apalagi dilatarbelakangi kebencian terhadap penulisnya karena berbada harakah, atau
penulisnya tersebut adalah bagian dari ahlul bid’ah. Subhanallah…

Sinisme inilah yang nantinya akan menghambat banyak orang atau pemula dalam
kepenulisan yang sudah memutuskan menulis fiksi sebagai alat untuk berdakwah dan menyebarkan kebaikan kepada sesama.
Kalaupun karena adanya fatwa ulama yang melarangnya, maka sudah cukup itu bagi yang memercayainya. Karena ada juga
fatwa yang memperbolehkannya sehingga tidak bisa kita memaksakan pendapat yang satu kepada yang lainnya. Perbedaan
dalam hal ini tidak bisa dilarang. Bila hal itu terjadi maka sungguh kita terjerumus kepada ta’ashub yang
dilarang dalam agama yang mulia ini karena merasa dirinya dan fatwa ulamanya yang paling benar. Semoga kita
terlindung dari hal yang demikian.

Maka izinkanlah saya untuk membedah sedikit terhadap permasalahan ini sebatas
dengan keilmuan saya.

B. Fatwa Pengharaman

Biasanya mereka yang berceletuk demikian mendasarkan pemikirannya pada fatwa
syaikh yang mereka percayai. Akhirnya saya menemukan fatwa tersebut di sebuah blog ini:

http://wiramandiri.wordpress.com/2007/10/23/hukum-membaca-dan-menulis-cerita-fiksi-novel-cerpen-dll/

Hukum Membaca dan Menulis Cerita Fiksi (Novel, Cerpen, dll)

Oleh:
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan


Pertanyaan:

Apa hukum membaca dan menulis kisah fiksi dan cerita yang bisa membangkitkan imajinasi? Dan apakah jika kisah-kisah
ini membantu memperbaiki beragam masalah sosial, maka kisah-kisah ini diperbolehkan?

Jawab:
Kisah fiksi seperti ini merupakan kedustaan yang hanya menghabiskan waktu si
penulis dan pembaca tanpa memberikan manfaat. Jadi lebih baik bagi seseorang untuk tidak menyibukkan diri dengan
perkara ini (menulis atau membaca cerita fiksi-ed).

Apabila
kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi ini membuat seseorang lalai dari perkara yang hukumnya wajib, maka kegiatan
ini hukumnya haram. Dan apabila kegiatan ini melalaikan seseorang dari perkara yang hukumnya sunnah maka kegiatan ini
hukumnya makruh.
Dalam
setiap kondisi, waktu seorang muslim sangat berharga, jadi tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan waktunya untuk
perkara yang tidak ada manfaatnya.

(Fatwa Syaikh Fauzan di ad-Durar an-Naadhirah fil-Fataaawa al-Mu’aasirah – Pages 644-645,
al-Fowzaan – ad-Da’wah 1516, Jumaada al-Oolaa 1416AH)

Diterjemahkan dari http://www.fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/miscellaneous/0070823.htm

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau dan kelimuannya serta amal
shalihnya yang sungguh amat luar biasa ini izinkanlah pula saya sedikit mengkritisi tentang fatwa beliau yang mulia
ini. Yakni terletak pada kemanfaatan dan ketidakmanfaatan dari kisah fiksi tersebut. Maka pertanyaannya adalah siapa
yang merasakan kemanfaatan dan ketidakmanfaatan dari kisah fiksi tersebut? Tentu mudah sekali untuk menjawabnya yaitu
si pembaca atau penulisnya
sendiri.
Bila sedari awal si pembaca atau penulisnya menyadari bahwa menulis atau membaca fiksi itu
tidak terasa manfaatnya maka sudah layak ia termasuk dalam ruang lingkup fatwa ini.

Kemudian bila si penceletuk ini mendasarkan pada kalimat yang ditebalkan tepatnya
pada kalimat “Apabila kegiatan membaca
atau menulis kisah fiksi ini membuat seseorang lalai dari perkara yang hukumnya wajib, maka kegiatan ini hukumnya
haram. Dan apabila kegiatan ini melalaikan seseorang dari perkara yang hukumnya sunnah maka kegiatan ini hukumnya
makruh.
maka
ini adalah
sebuah kaidah umum yang berlaku pada suatu apapun. Tidak hanya membaca atau menulis kisah fiksi saja tetapi menulis
nonfiksi, buku, artikel, makalah seminar, atau pekerjaan-pekerjaan lain seperti bekerja di kantor, berbicara dan
mengobrol tidak kenal waktu dan membuat seseorang lalai dari perkara yang hukumnya wajib dan sunnah maka ia bisa
dijatuhi hukumnya haram dan makruh.

Menulis dan membaca artikel nonfiksi atau ilmiah untuk membantah ahlul bid’ah
tetapi ia juga sampai melalaikan kewajiban shalatnya, itu pun sudah dijatuhi hukumnya haram. Apalagi menulis dan
membaca beratus-ratus halaman sebuah buku nonfiksi dan dianggap ilmiah karena maraji’nya berderet-deret untuk
membantah dan menghujani seseorang atau lembaga-lembaga dakwah dengan celaan-celaan yang banyak, tidak pantas, lagi
keras meskipun pihak yang dicela itu belum tentu layak menerimanya, bahkan sampai merusak persatuan dan kesatuan
ummat yang merupakan hal yang diwajibkan dalam syariat ini, maka sudah barang tentu ini pun hukumnya HARAM (dengan
huruf besar). Dalam setiap kondisi, waktu seorang muslim
sangat berharga, jadi tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak ada
manfaatnya.

Dari fatwa tersebut dapat kita simpulkan pula bahwa terdapat hal-hal yang
bertentangan di dalamnya yaitu dalam paragraf pertama menegaskan pengharaman secara menyeluruh karena kisah fiksi itu
yang ada hanyalah kedustaan dan ketiadaan manfaat buat penulis dan pembacanya.

Sedangkan dalam paragraf kedua dan ditebalkan terdapat pengecualian, ini ditandai
dengan kata “apabila”, maka dapat diartikan bahwa apabila kegiatan menulis dan membaca fiksi itu tidak
melalaikan sesuatu yang wajib dan sunnah maka hukumnya adalah mubah atau boleh. Jadi dalam fatwa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan
, semoga Allah
memberikan rahmat dan keberkahan kepadanya, ini sebenarnya bukan sebuah pengharaman mutlak terhadap kegiatan menulis
dan membaca fiksi.


C.
Tanggapan
terhadap Komentar

Fatwa dan para
pengomentarnya dalam blog tersebut pernah saya beri tanggapan, dan tidak lama kemudian tanggapan saya tersebut sudah
hilang. Ya betul, setiap komentar yang masuk ke sana selalu dimoderasi, entah hilangnya tanggapan saya tersebut
adalah sengaja dihilangkan atau sedang dicari jawabannya yang tepat oleh si pemilik blog ini untuk menyanggah saya.

Beberapa
komentar yang ada di sana saya sebutkan di sini:

  1. Nufeeda, di/pada Oktober 25th, 2007 pada 10:11 amDikatakan:

bagaimana jika baik untuk dakwah? bagaimana jika sanggup membangkitkan keimanan dan membuat seseorang
semakin bersemangat untuk mengerjakan amal shaleh?

Tetap
saja dusta, dan menilai baik atau tidaknya dakwah itu dengan contohan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Pernahkah
nabi membuat cerita dusta untuk membangkitkan keimanan dan mengerjakan amal shalih?

  1. sonta, di/pada Oktober 26th, 2007 pada 7:27 amDikatakan:

ehm,tak bisa dipungkiri bahwa kadang ada juga orang yang terinspirasi novel atau cerita.tapi………yang
namanya fiksi ya tetap fiktif atau bohong. Ex seseorang termotivasi berzakat karena ada film yang menceritakan kalau
berzakat lalu mendadak dapat mobil. nah, kalau kemudian ketahuan itu cuma boong, apakah motivasinya gak ilang?

kalaupun mau memotivasi dengan cerita..bisa dengan cerita cerita yang valid .dari hadits, ayat al qur’an
dll.Misalkan dulu pernah dengar hadits yang menceritakan kalau seseorang ikhlas infaq karena Alloh, Alloh akan
mengambil infaq nya langsung dari tangannya.(mohon dicek dulu, karena ane aq mendadak lupa-lupa ingat)

Hmm…
memang kaum muslimin semakin meninggalkan Al-Quran dan Hadits, mereka lebih memilih kisah-kisah bohong ini sebagai
bahan motivasi sehingga kita lihat pemuda-pemuda muslim lebih banyak membaca novel-novel dusta daripada membaca
buku-buku hadits seperti Riyadhus Shalihin. Padahal di dalam Riyadhus Shalihin itu terdapat banyak sekali kisah dan
nasehat-nasehat Nabi yang memotivasi kita menjadi lebih baik dunia dan akhirat.

Para
penceramah juga pun nampaknya alergi dengan kisah-kisah dalam hadits, sehingga suatu saya mendengar khotib Jumat
berkhutbah tentang keutamaan ilmu dengan menceritakan Kisah Tarzan di hutan yang punya ilmu bahasa hewan sehingga
bisa hidup di hutan… Edede.. Cerita beginian jadi bahan khutbah Jumat. Innnalillahi wainna ilaihi rajiun.

Catatan: Tulisan miring (italic) di
atas adalah tanggapan si pemilik blog terhadap komentator.

Sedikit tanggapan saya tentang komentar yang pertama, bahwa pendukung fatwa ini
selalu mengaitkan antara fiksi dengan sebuah kedustaan. Tidak melirik dan tidak bisa menolerir sedikit pun terhadap
kisah-kisah perumpamaan. Sehingga wajar saja pelekatan vonis kedustaan terhadap cerita fiksi sangat erat sekali.
Apalagi dikaitkan dengan cara berdakwah dan menyampaikan kebenaran ala Rasulullah SAW.

Bila menganggap cerita fiksi adalah sebuah kedustaan maka sudah barang tentu itu
tidak bisa dikaitkan dengan cara dakwah Rasulullah SAW. Bila tidak menganggap sebagai sebuah kedustaan karena
dikaitkan dengan kisah-kisah perumpamaan yang begitu banyak disebutkan dalam Alqur’an maka cara dakwah ini
termasuk ke dalam makaanul ijtihad (tempat ijtihad) pada uslub dan iqtiraahaat (cara dan
metode) dakwah. Masalahnya penentuan kedustaan dan tidaknya sebuah cerita fiksi adalah sesuatu yang debatable. (Catatan penting
bahwa ketika saya menyebutkan dua kata “cerita fiksi” maka berarti semua cerita diluar kisah fiksi yang
penuh kemusyrikan , sihir, dan pornografi).

Sedangkan tanggapan dari pemilik blog ini pada komentar yang kedua, saya
melihatnya terlalu mudah memvonis. Berkaitan dengan banyaknya kaum muslimin yang memilih novel-novel daripada
buku-buku hadits, tentu tidak bisa kita salahkan kepada para penerbit dan penulis novelnya, karena ini berkenaan
dengan pemahaman seorang muslim kepada agamanya. Pemisalan itu sama saja dengan masih banyaknya orang yang memilih
tidak pergi ke masjid untuk sholat berjama’ah di dalamnya dan lebih baik ngendon di rumah atau menonton televisi. Ini sudah barang tentu tidak bisa kita
salahkan masjidnya, karena ini semua bergantung kepada keimanan orang tersebut.

Tanggapan lainnya juga sama, terlalu mudah menggeneralisir, memvonis dengan kata
alergi, dan meremehkan para ustadz yang mengisahkan kisah-kisah perumpamaan. Seakan-akan para penceramah itu tidak
layak untuk berdiri di atas mimbar untuk mengajak kepada kebenaran dan seakan-akan dirinya (penulis komentar ini)
lebih baik daripada para penceramah tersebut. Wallahul musta’an.

D. Fatwa Pembolehan dengan Syarat

Maka setelah panjang lebar saya uraikan (kritisi) tentang fatwa dan tanggapan
komentar yang melarang membaca dan menulis kisah fiksi ini maka dapat kiranya saya uraikan pendapat yang membolehkan
menulis dan membaca cerita fiksi ini.

Saya ambil pendapat tersebut dari Pusat Konsultasi Syariah/Sharia Consulting Center (SCC)
yang
beralamatkan di
http://www.syariahonline.com sebagai
berikut
:

Ustadz- Semoga Allah menjaga dan memuliakan Anda

Bismillahirrahmaanirrahiim

Pertanyaan saya:

bolehkah kita membuat cerita2 fiksi ” islami” untuk dijual sekaligus utk dakwah?

Abdullah Arif

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Cerita fiksi adalah cerita yang tidak berdasarkan fakta kejadian yang nyata. Dalam
hal ini bisa terbagi menjadi fiksi realistis dimana setting dan alur ceritanya logis dan masuk akal. Selain itu ada
yang dibuat imajinatif dan tidak masuk akal.

Yang paling baik tentu saja bila based on
true story
, fiksi yang berangkat dari kisah nyata. Misalnya kisah para pahlawan Islam, para ulama dan ilmuwan
Islam ataupun kisah-kisah orang terdahulu yang memang mengandung hikmah dan pelajaran yang bagus.

Meski demikian, sebuah cerita/ kisah memang tidak harus didasarkan pada kisah
nyata. Boleh saja cerita itu merupakan karangan penulisnya. Namun alur cerita dan isinya harus bersifat logis dan
masuk akal, atau minimal ada keterangan ilmiyahnya. Sehingga unsur pendidikannya bisa jelas dirasakan.

Dan tentu saja tidak boleh mengandung unsur kemusyrikan dan sihir. Sehingga
dongeng seperti Harry Potter, Pinokio, Cinderella, Peter Pan, Peri dan sejenisnya tidak sesuai dengan aqidah Islam.
Karena isinya menceritakan tentang sihir, alam ghaib, syetan dan segala bentuk kemusyrikan. Memang secara aqidah kita
mengenal fenomena sihir dan segala keajaibannya, namun menurut aqidah Islam, semua itu adalah perbuatan syetan yang
jahat yang harus dihancurkan, bukan dijadikan tontonan. Sehingga menyuguhkan cerita syetan bukanlah ide yang benar.

Allah SWT dalam ayat-ayat Al-Quran sering menggunakan permisalan untuk lebih
menjelaskan suatu duduk perkara. Perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Quran itu merupakan ilustrasi dari sebuah pesan yang
ingin disampaikan kepada pembacanya.

Beberapa diantaranya adalah ayat-ayat berikut :

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api , maka setelah
api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat
melihat.” (QS. Al-Baqarah : 17)

“Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil
binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja . Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak
mengerti.” (QS. Al-Baqarah : 171)

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan nya dengan ayat-ayat
itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing
jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya . Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka
berfikir.”.(QS. Al-A`raf : 176)

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka
tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang
mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(QS. Al-Jumuah :
5).

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”(QS. Al-ankabut : 43).

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quraan ini setiap
macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.”(QS. Az-Zumar : 27).

Berangkat dari gaya bahasa Al-Quran yang banyak menggunakan perumpamaan itu, maka banyak para
ulama pendidikan yang mencoba meniru gaya Al-Quran dengan membuat kisah-kisah perumpamaan. Kisah-kisah ini tidak
harus kejadian nyata, tetapi bisa saja sebuah kisah fiktif yang mengandung unsur pendidikan, baik berkaitan dengan
aqidah, akhlaq, sopan santun, etika, ilmu pengetahuan, patriotisme dan sebagainya.

Wallahu a`lam bis-shawab.

E. Imajinasi

Ada yang pelu
digarisbawahi pada pada paragraf ketiga dari fatwa tersebut tepatnya pada kalimat:

Meski demikian, sebuah cerita/ kisah
memang tidak harus didasarkan pada kisah nyata. Boleh saja cerita itu merupakan karangan penulisnya. Namun alur
cerita dan isinya harus bersifat logis dan masuk akal, atau minimal ada keterangan ilmiyahnya. Sehingga unsur pendidikannya bisa jelas dirasakan.

Bahwa cerita
fiksi harus mempunyai alur cerita, isinya harus bersifat logis, dan masuk akal, atau minimal ada keterangan
ilmiyahnya. Singkatnya, menurut istilah Harris Effendi Thahar, adalah cerita fiksi atau imajinasi harus masih dalam
batas-batas kausalitas yang diperlukan.

Harris Effendi
Thahar pernah menulis:

Bahwa cerita fiksi (termasuk cerpen) merupakan ramuan fakta dan imajinasi.
Berimajinasi atau berfantasi adalah salah satu kelebihan manusia yang dianugerahkan Sang Khalik dibanding makhluk
lain. Sejak kecil manusia telah diperkenalkan dengan dongeng, sampai pada suatu waktu, ia pun mampu mendongeng dengan
gayanya sendiri. Dengarlah teman, tetangga, atau siapa saja yang kita kenal bercerita tentang dirinya atau tentang
orang lain, pasti dibumbui fiksi di sana-sini. Anda sendiri pun, tak luput dari hal itu. Sering melebih-lebihkan
fakta! Nah, bukankah itu rekayasa imajinasi?

“Berimajinasi dalam menulis cerita adalah suatu keniscayaan, akan tetapi
harus tetap dalam koridor hukum kausalitas, yakni hukum sebab-akibat,” lanjut Thahar. Karena cerita yang diluar
nalar dan jauh dari hukum kausalitas maka cerita itu adalah cerita mengada-ada.

F. Penutup

Dari apa yang saya utarakan di atas bisa jadi salah dan pendapat yang lain benar,
bisa jadi pendapat saya benar dan yang lain salah. Saya meminta ampun kepada Allah atas segala kekurangan saya. Dan
saya berkesimpulan sebagai berikut:

1. Selama tidak mengandung cerita
kemusyrikan dan sihir tidaklah mengapa membuat cerita fiksi;


2.
Apabila kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi ini membuat seseorang lalai dari perkara yang
hukumnya wajib, maka kegiatan ini hukumnya haram. Dan apabila kegiatan ini melalaikan seseorang dari perkara yang
hukumnya sunnah maka kegiatan ini hukumnya makruh
. Tetapi ini
tidak hanya berlaku untuk menulis dan membaca cerita fiksi saja tetapi menulis dan membaca nonfiksi pun bisa berhukum
haram atau makruh jika sampai melalaikan kewajiban dan sunnah.

3. Yang paling baik tentu saja bila
based on true story, fiksi yang berangkat dari kisah nyata. Misalnya
kisah para pahlawan Islam, para ulama dan ilmuwan Islam ataupun kisah-kisah orang terdahulu yang memang mengandung
hikmah dan pelajaran yang bagus.

Demikian apa yang bisa saya sampaikan sebagai upaya memberikan hak kepada yang
berhak, memberikan jawaban terhadap orang-orang yang seringkali meremehkan orang lain dan mudah untuk mengeluarkan
tuduhan, serta menghukumi seseorang. Yang sangat bersuka cita jika menemukan suatu kesalahan saudaranya. Sungguh
akhlak salafushshalih tidaklah sedemikian rupa.

Mereka berakhlak mulia, memelihara kerhomatan diri, menahan marah, memaafkan
manusia, menunaikan hak-hak
persaudaraan
, tidak menghina, tidak mencela, tidak memanggil dengan gelaran buruk, menghina,
berprasangka buruk, hatinya lembut untuk senantiasa bertaubat, memohon ampun atas dosa-dosanya kepada Allah. Indah
nian akhlak yang mereka punyai.

Semoga bermanfaat.

Maraji’:

1. Alqur’aanul Kariim;

2. Harris Effendi Thahar, Sulit
Memulai?
, Annida, Ummionline, Jumat, 28 Januari
2005;

3. Konsultan Pusat Konsultasi Syariah,
Hukum Cerita
Fiksi,
http://www.syariahonline.com, 2006;

4. Wira, Hukum Membaca dan Menulis Cerita Fiksi (Novel, Cerpen, dll), http://wiramandiri.wordpress.com, Selasa, 23
Oktober 2007;

DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT


DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT

(Dimuat di Situs Kitsda)

Apresiasi perlu disematkan kepada semua pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang naskahnya terpilih dalam buku Berkah, Berbagi Kisah & Harapan, Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak. Karena tak semua mampu untuk mengungkapkan apa yang ada dalam kepala dan menuangkannya dalam bentuk tulisan tentang apa yang setidaknya menjadi cita-cita bersama kita semua yakni menjadi pegawai DJP yang mempunyai integritas, profesionalitas, inovasi, dan mampu bekerja sama.

Pertanyaannya adalah apakah cukup sampai di situ? Seharusnya para penulis buku itu akan mampu berteriak tidak dengan lantang. Ya, karena capaian itu adalah baru capaian yang seharusnya disikapi dengan biasa saja. Tak perlu euforia karena terbuai dengan ucapan selamat bertubi-tubi.

Sejatinya dua hal yang akan menumpulkan pena dan mematikan sebuah kreativitas dalam kepenulisan adalah mabuk pujian dan cepat berpuas diri. Selayaknya pujian adalah obat atau multivitamin yang apabila diminum secara overdosis bukannya menyembuhkan tapi sebaliknya, bahkan ia akan menjadi racun.

Terjebak dalam pujian hanya akan membuat punggung terbungkuk-bungkuk ke tanah karena beban yang berat agar bisa menulis sebuah tulisan yang minimal sama dengan yang sudah diberikan penghargaan tersebut. Padahal tak selamanya penulis mampu dalam keadaan prima serta menghasilkan sebuah karya yang bagus. Pada akhirnya, karena terbebani ia tidak menulis dengan hati tapi menulis sesuai apa kata orang. Sejak saat itu matilah sebuah kreativitas.

Lalu bagaimana dengan berpuas diri? Sama saja. Kalau itu yang dilakukan cukuplah kita menjadi kutu anjing yang seharusnya dalam keadaan normal mampu untuk meloncat setinggi 2 meter tapi karena ia dimasukkan ke dalam kotak korek api selama dua pekan maka ia cuma akan bisa meloncat setinggi kotak korek api saja. Sungguh akan ada potensi luar biasa yang tercerabut dan lenyap. Mengerikan.

Maka momen Berkah bukan momen narsis sambil mematut-matut diri di cermin. Tapi titik awal agar mampu menulis lebih baik lagi, kontinyu, dan mencerahkan. Bagaimana caranya? Tiada hari tanpa pengamatan, mencerna dan menuliskannya dengan menggunakan otak kanan—otak yang menyukai kebebasan dan tidak suka yang berbau urut dan tata tertib—dan biarkan ia mengalir apa adanya, lalu menyuntingnya dengan menggunakan otak kiri. Selanjutnya terserah kita.

Publikasi pun menjadi titik penting lainnya. Karena siapa yang akan tercerahkan kalau apa yang Anda tulis tidak diketahui dan bukan untuk siapa-siapa? Koran, majalah, blog, forum diskusi internet, facebook bisa jadi tempat yang tepat untuk itu. Bahkan situs Kepegawaian DJP selayaknya pula menyediakan tautan terbuka untuk menyalurkan kreatifitas kepenulisan ini.

Berhenti? Lagi-lagi tidak! Selesai suatu urusan maka kerjalanlah urusan yang lain. Menulislah lagi. Jangan berhenti. Setelah itu tawadhu’lah, berrendahhatilah, karena di luar masih banyak penulis-penulis yang lebih hebat dan lebih jago. Pun, ada kredo nan elok dan tak akan pernah mati: di atas langit masih ada langit.

Ayuk, tetap Semangat menulis.

***

sekadar curahan hati malam mingguan

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13:12 11 November 2009

LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?


LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?

Dua orang juri—termasuk saya di dalamnya—ternyata punya feeling yang tak jauh berbeda terhadap cita rasa sebuah cerita pendek (cerpen). Setelah masing-masing memilih tiga cerpen terbaik, ternyata terbaik pertama dan kedua pilihan kami sama.

Terbaik pertama, bagi saya punya keindahan bahasa yang jauh di atas peserta lainnya, alur cerita yang mengalir, dan ada hikmah yang bisa diberikan kepada pembaca. Bagi juri yang lain, terbaik pertama tahu betul bagaimana membuat sebuah cerpen yang baik. Terbaik kedua kualitasnya tentunya di bawah yang pertama.

Yang menjadi perdebatan adalah penentuan terbaik ketiga. Kami mempunyai pandangan yang berbeda di sini. Terbaik ketiga dalam penilaian saya ia mempunyai kreatifitas ide yang lain daripada yang lain. Dan saya memberikan skor tertinggi daripada peserta lain dalam masalah ini. Sedangkan terbaik ketiga dari juri yang lain itu menurut saya cerpennya bagus diawal, membuat trenyuh, tetapi ending-nya jelek sekali.

Akhirnya kami memutuskan untuk menjumlahkan skor yang dimiliki masing-masing. Dan terbaik ketiga dari penilaian sayalah yang berhak untuk menjadi juara ketiga Lomba Penulisan Cerpen Education Fair 2009 yang diselenggarakan ahad kemarin (17 Mei 2009) oleh Kelompok Studi Pelajar Muslim (KSPM) dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Perlombaan penulisan cerpen itu adalah satu dari sekian perlombaan yang diselenggarakan LSM (lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak khusus dalam pembinaan remaja dan pelajar se-Bojonggede itu.

Apa yang dilakukan oleh teman-teman muda saya dari KSPM itu patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Karena dalam kerangka pikir saya yang namanya lomba penulisan cerpen itu para peserta lomba diperkenankan untuk mengirim sebanyak mungkin karyanya dengan persyaratan yang telah ditentukan dan dikumpulkan kepada panitia pada waktu yang telah ditentukan. Lalu dengan jumlah juri yang lebih dari dua dan punya kapabilitas tentunya dipersilakan untuk memberikan penilaian kemudian mendiskusikan siapa pemenangnya.

Jadi bukan dengan mengumpulkan para peserta lomba penulisan cerpen itu dalam suatu kelas lalu dalam waktu hanya 90 menit disuruh untuk membuat cerpen, dengan menggunakan tulisan tangan tentunya. Maka bagi saya hasil yang didapat pun akan pas-pasan. Yaitu juri harus berkerut kening untuk membaca tulisan tangan dari para peserta lomba, karena tidak semua peserta tulisan tangannya bagus. Lalu tidak ada pengeditan yang dilakukan oleh peserta lomba. Dan tentunya sangat jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal salah satu esensi dari lomba penulisan cerpen adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau demikian yang terjadi namanya bukan lomba penulisan cerpen tapi ujian mengarang.

Maka dengan segala keterbatasan yang ada itu parameter kebahasaan Indonesia yang baik dan benar tidak saya pakai dalam penilaian saya. Padahal parameter penilaian itu yang menjadi pokok dalam setiap penilaian yang saya gunakan dalam menentukan baik atau tidaknya sebuah cerpen. Dalam lomba itu yang diukur hanya kreatifitas ide, alur cerita, keindahan bahasa, dan hikmah yang ada.

Yang saya tahu alasan dari gaya lomba seperti ini adalah kalau tidak dikumpulkan pesertanya dalam satu ruangan maka takut adanya karya jiplakan atau dalam pembuatan cerpennya dibantu oleh orang lain. Bagi saya tak masalah. Silakan orang membuat cerpen jiplakan itu, karena suatu saat akan ketahuan juga. Dan tentu itu adalah menipu diri sendiri saja. Tidak ada nilai kreatifitas yang nantinya akan memacu semangat untuk lebih maju lagi. Tidak ada yang didapat kecuali kemenangan dan kebahagiaan semu. Untuk menjadi penulis cerpen yang baik modal utama adalah sebuah kejujuran. Tanpa kejujuran maka silakan ke laut saja.

Kalaupun dengan alasan tidak adanya peserta yang datang pada hari puncak perayaan, maka sudah barang tentu pengumuman lombanya dilakukan pada hari itu. Dan saya yakin masih banyak peserta lomba yang akan penasaran untuk mengetahui siapa pemenangnya.

Oleh karena itu ke depan saya mencoba mengusulkan syarat dan ketentuan lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh KSPM. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Sesuai tema yang telah ditentukan panitia;
  2. Diketik rapih, (format teknis menyusul);
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  4. Melampirkan biodata;
  5. Salinan keras
    paling lambat dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan;
  6. Salinan lunak
    dikirim via email kepada panitia;
  7. Juri lebih dari dua dan diberikan satu minggu untuk memberikan penilaian. Dan ada diskusi penentuan antarjuri;
  8. dan lain-lain.

Saya harapkan ke depan, dengan syarat dan ketentuan tersebut akan di dapat hasil dan penilaian cerpen yang berkualitas.

Terakhir saya ucapkan selamat kepada para pemenangnya, saya yakin 90 menit waktu yang diberikan belumlah cukup untuk mengembangkan potensi kalian, karena penulis-penulis cerpen terkenal pun kiranya belumlah mampu untuk dapat menghasilkan karya masterpiece-nya dalam waktu sesingkat itu.

Berikut nama empat besar lomba penulisan cerpen Education fair 2009 KSPM tersebut:

  1. Shinta Lestari, “Kurindu Guruku”. Ternyata terbaik pertama ini adalah siswi SMU. Salut. Saya melihat ada bakat pada dirinya.
  2. Tegar Adinda B. Putri (SMP), “Pengorbanan Bocah kecil”. Ternyata terbaik kedua ini adalah seorang perempuan.
  3. Kartika Putri (SMPN 2 Bojonggede), “Pingsan Mania Go To Bathroom“. Terbaik ketiga. Tomboy juga nih anak.
  4. Syifa Fauziah, (SMPN 2 Bojonggede). Ceritanya bagus sekali, sayang ending kurang bagus. Jika tidak saya akan pilih kamu.

Semuanya putri. Semoga tahun depan ada juga penulis cerpen laki-lakinya. J

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:02 18 Mei 2009


Ebook Tips-tips Menulis: Writing 1.0


W
R
I
T
I
N
G
1.0

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Semoga kita
dimasukkan Allah ke dalam hamba-hambaNya yang shalih, yang tidak berlebih-lebihan dalam beragama, dan dimasukkan ke
dalam pengikut sunnah Rasulullah yang mulia.

Saudara-saudaraku
yang dimuliakan Allah, banyak yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menulis yang baik dan menumpahkan isi yang
ada di kepala dalam bentuk sebuah tulisan. Karena seringkali ide begitu banyak namun senantiasa gagal membuat
jejaknya dalam sebuah tulisan. Banyak hal yang membuat tulisan itu tidak pernah muncul. Semua ini adalah hal yang
pernah saya alami. Namun dengan berjalannya waktu dan tidak malu untuk belajar kepada yang lain akhirnya saya juga
bisa menulis. Dan apa yang saya yakini adalah siapa saja bisa untuk menulis tetapi karena tiada latihan untuk menulis
itulah, mimpi untuk menjadi penulis tiada kunjung datang.

Dari latar
belakang tersebut, kiranya perkenankanlah saya menyampaikan risalah kecil dalam format CHM ini untuk membagi apa yang
saya dapatkan selama menjalani proses kepenulisan saya. Tentunya perlu saya garis bawahi bahwa saya ini bukanlah
siapa-siapa, saya bukan penulis jempolan, saya bukanlah penulis yang punya buku, saya bukanlah penulis yang memenangi
banyak lomba kepenulisan, saya bukanlah penulis yang cerita pendeknya memenuhi halaman-halaman media massa, maka apa
yang Anda akan dapatkan pada risalah kecil ini adalah tip-tip seadanya dari saya. Tip-tip yang menurut saya telah
saya terapkan dan saya anggap berhasil pada diri saya.

Untuk mendapatkan
hasil yang lebih baik lagi maka sudah barang tentu tidak hanya menerapkan pada apa yang saya sampaikan, karena ada
begitu banyak di luar sana para penulis yang mempunyai tip-tip menulis yang canggih dan mau berbagi kepada Anda
semua. Poinnya adalah belajar kepada siapapun sesuai dengan kaidah “janganlah melihat siapa yang
mengatakan tapi dengarkanlah apa yang dikatakannya
“.

Saudaraku inilah
yang bisa saya sampaikan dan karena kewajiban saya kepada Anda semua dari sedikit apa yang saya punya sesuai dengan
apa yang dikatakan Baginda Rasulullah SAW: “barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, lalu dia menyembunyikannya,
maka pada hari kiamat dia akan dipasangi kendali dengan api.” (Hadits yang diriwayatkan dari berbagai
jalan).

Selain tips-tips
menulis dari saya juga akan ditampilkan seputar tips-tips menulis dari rubrik Bengkel Pena Eramuslim yang dikelola
oleh Forum Lingkar Pena DKI, dan dari para blogger atau penulis lainnya yang saya ambil dari berbagai situs di
internet.

Tentunya tip-tip
menulis yang saya beri judul Writing version 1.0 akan senantiasa saya perbaharui, insya Allah, jika saya diberikan
waktu oleh Allah untuk melengkapinya. Semoga ini menjadi amal ibadah saya, dan semoga Allah meridhai apa yang saya
lakukan. Wahai saudaraku, menulislah dengan mencerahkan.

Anda semua bisa mengunduhnya dengan mengklik alamat ini:

writing 1.0

Atau jika tidak bisa, Anda tinggal kopi alamat tersebut lalu tempelkan alamat itu ke
penjelajah jaringan Anda semisal Internet Explorer, Opera, dan Mozilla Firefox.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Citayam yang
dingin,

21 Desember
2007

Riza
Almanfaluthi

Anggota Batre V
FLP Depok

DUA YANG MEMATIKAN


Menurut kamu, kecemasan apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Ada banyak jawaban yang akan kamu berikan kepada saya. Dan akan saya katakan kepada kamu, itulah manusia, tidak lepas dari sebuah rasa yang bernama cemas. Lalu jika kamu bertanya hal yang sama kepada saya, maka saya akan jawab salah satu dari sekian rasa kecemasan saya, “tidak menulis selama beberapa hari.”
Bagi saya, yang patut dicemasi pada diri saya adalah hilangnya kemampuan menulis saya. Karena saya merasa bukan orang yang berbakat menulis. Karena tidak adanya bakat itulah saya berusaha untuk latihan dan latihan menulis terus menerus. Menulis bagi saya adalah sebuah latihan untuk menutupi ketiadaan bakat itu. Menulis adalah proses latihan bagi diri saya. Sebagus apapun tulisan yang saya hasilkan itu adalah proses bagi pembelajaran saya.
Maka bolehlah saya akan cemas ketika sudah berminggu-minggu tiada tulisan yang saya hasilkan. Saya akan merasa bahwa kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada saya ini akan hilang selamanya. Dan saya tidak mau. Maka saya harus memaksakan diri untuk menulis. Menulis apa saja. Tak peduli apa yang orang akan bilang saat membaca tulisan saya.
Saya pun senantiasa berpikir mengapa saya tidak produktif dalam menulis. Dan saya akan iri kalau melihat betapa teman-teman saya begitu produktifnya menghasilkan sebuah karya. Saya pikir rasa iri ini tentunya masih dalam lingkup yang bisa ditolerir. Sebuah keirian agar saya bisa menghasilkan karya, bukan sebuah keirian yang ingin agar teman-teman saya tidak bisa menulis lagi. Naif sekali kalau yang terakhir itu yang saya irikan. Sungguh iri itu adalah tanda ketidakmampuan.
Setelah saya berpikir lama mencari jawaban dari sebuah pertanyaan tentang ketidakproduktifan saya—yang sebenarnya bisa saja saya mencari beribu alasan untuk melegitimasinya, maka saya menemukannya.
Pujian. Bagi saya sebenarnya ia adalah racun yang sangat mematikan kreatifitas saya. Maka sedari awal sejak saya mulai belajar menulis bertahun-tahun lalu, saya sudah siapkan payung agar tiada ribuan tetesan pujian yang akan membasahi tubuh saya. Tapi terkadang payung antipujian yang saya pakai seringkali tidak mampu untuk menahan derasnya. Sehingga membuat saya terkapar dalam sebuah keterlenaan. Dan pada akhirnya saya tidak mampu menulis segera.
Apa kaitannya dengan kreatifitas yang mati? Konkritnya begini. Jika saya dipuji, dan sangat menikmati sekali pujian itu, ketika akan menulis lagi dalam benak saya akan dipenuhi sebuah keinginan agar dapat membuat sebuah karya yang bisa menghasilkan pujian. Agar karya saya bisa memuaskan para pembacanya seperti kepuasan yang diperoleh saat membaca tulisan saya terdahulu.
Nah, pada saat itulah saya terjebak untuk melawan idealisme yang saya buat buat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa idealisme kepenulisan saya saat membuat sebuah tulisan adalah TIDAK PERLU PEDULI APA KATA ORANG. Biasanya dengan idealisme itu saya—syukurnya—bisa membuat sebuah tulisan berhalaman-halaman dengan lancar tanpa beban tanpa hambatan.
Sudah barang tentu saat saya mengabaikan idealisme ini dan hanya menurutkan sebuah nafsu hanya untuk dipuji maka sudah dapat dipastikan saya tidak bisa menulis. Ada saja hambatannya, seperti takut salah atau adanya pikiran: “jangan yang ini, orang pasti tidak suka nantinya.” Seperti ada beban di pundak. Sejak itulah sebuah kreativitas mati.
Dan yang selanjutnya adalah cepat berpuas diri. Ini pun bagi saya adalah racun yang sama dahsyatnya dengan racun pujian di atas. Karena merasa bahwa tulisan sudah bagus maka biasanya saya akan terlena dengan tulisan itu, berhenti sejenak yang kebablasan dan tidak dapat dihentikan. Mengagumi diri sendiri. Narsisme yang sudah sangat keterlaluan.
Merasa diri besar dan hebat, pasti disitulah saya lengah. Karena sudah merasa hebat saya merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras. Kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.
Di situlah sebuah kreativitas akan mati. Karena sesungguhnya walaupun menulis itu gampang tapi ia adalah sebuah kerja yang harus dilakukan dengan keras, telaten, dan penuh pemikiran. Tidak bisa dengan hanya berpuas diri.
Berpuas diri hanya akan memuarakan diri saya pada ‘ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri) yang sangat membinasakan bahkan menghancurkan agama. Bukankah saya dan kamu juga pernah ingat tentang Nabi kita tercinta yang menegaskan ‘ujub ini digolongkan sebagai perusak agama? Ia disebut pertama kali dari dua hal lainnya yang merusak agama, yaitu kikir dan hawa nafsu yang diikuti.
Ternyata betul sekali. ‘Ujub menjadi unsur pertama pemusnah agama timbul karena saya akan merasa segala nikmat yang diberikan Allah SWT itu hadir atas usaha saya sendiri. Saya yang sudah memiliki sifat seperti ini akan merasa bangga dengan diri saya sendiri, melebihi rasa bangganya terhadap kebesaran Allah.
Lalu pada tahap selanjutnya, sifat ‘ujub ini bisa berkembang menjadi riya. Saya yang memiliki sifat riya selalu ingin agar kebaikan-kebaikan saya ini dilihat orang lain. Dari sifat riya itu akan muncul pula sikap takabur. Jika sifat ini sudah ada pada diri saya maka musnahlah kehidupan beragama saya. Saya berlindung pada Allah atas sifat-sifat yang sedemikian rupa ini.
Jadi, jikalau kamu-kamu yang sudah mulai berkomitmen diri untuk menjadikan menulis sebagai jalan untuk dapat mencerahkan orang lain, selain dibutuhkan keuletan dan kesabaran untuk terus melatih dan mengasah kemampuan itu, dibutuhkan pula kesiapan mental menghadapi pujian dan rasa cepat berpuas diri.
Introspeksi atau muhasabah diri adalah jalan terbaik untuk memiliki kesiapan mental itu. Dengan muhasabah diri, saya dan kamu akan merasa bahwa semua pujian itu hanyalah milik Allah semata. Juga karena mereka yang memberikan pujian itu tidak mengetahui betapa banyak aib yang telah saya dan kamu perbuat selama hidup ini. Jikalau mereka mengetahui tentu mereka tidak akan pernah memuji saya dan kamu.
Akhirnya jikalau muhasabah itu menjadi keseharian saya dan kamu, kreatifitas itu akan senantiasa hidup dalam diri. Karena ide senantiasa ada dan mengalir mengisi pena-pena kita di setiap harinya. Menghitamkan layar putih komputer itu dengan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat yang tersusun lancar dan enak dinikmati. Lalu kita tidak perlu cemas. Dan kita, saya dan kamu, pada akhirnya bisa tidur nyenyak. Insya Allah.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’:
1. A. Ilyas Ismail, Bahaya Pujian, Republika, 18 Juni 2005;
2. Suprianto, Pemusnah Agama, Republika, 09 September 2005.

***
sekadar tips untuk menulis
jelang ramadhan ini sudikan saya untuk memberi salam hormat buat mas danang sh, mas Isa, masker, maswin, ustadz andi harsono, mbak anis, mbak atik, mierza imoet, deedee, mbak listya, eko anakitebet dan atifah, salsabila, jund1, mas ekonov, abu amru, ibnu umar, binanto, budi utomo, mentari pagi, suprayitno, anggun, azzam mas budi, abu dhaby, brazkie, abu salma, abu fauzan, gaza, java, andri tasik makassar, viviet di ciblog, sajadah biru, abu miqdad, joen dan kafanputih, lumpur kering, kuswedi, alkhoir, firdaus, fathur, tri satya hadi, seseorang di bogor, dan lain-lainnya yang saya tak bisa sebut namanya satu persatu. Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. ini cita besar kita semua.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:54 10 September 2007

MENOLAK SI TITIN


MENOLAK SI TITIN
(Sebuah Kiat)

Cerita pendek (cerpen) saya yang berjudul TITIN BARIDIN ditolak oleh Harian Umum Kompas untuk dimuat di kolom sastranya. Suatu hal yang biasa sebenarnya dan sudah dipahami betul bagi saya sebagai penulis pemula. Hal yang paling saya kagumi dari redaktur Kompas adalah profesionalitas mereka. Yaitu pemberitahuan penolakan tersebut kepada si penulis yang tidak memakan waktu lama. Dalam kasus saya cuma dalam waktu dua minggu saya sudah tahu keputusannya.
Pemberitahuan ini jarang sekali dilakukan oleh redaktur harian yang lainnya. Sehingga terkadang penulis harus menunggu berminggu-minggu bahkan sampai tiga bulan untuk mengetahui karyanya dimuat atau tidak. Bahkan sama sekali tidak diberitahu. Walaupun ditolak, sebenarnya pemberitahuan itu penting agar penulis bisa mengirimkannya ke media lainnya dengan cepat tanpa lebih lama menunggu.
Sebagaimana saya mengirimkan cerpen di atas kepada Kompas melalui surat elektronik (email) Kompas memberitahukan penolakan pemuatan itu juga melalui media yang sama. Isinya adalah: “Maaf cerpen Anda tidak sesuai dengan Kompas.”
Sempat terpengaruh juga dengan penolakan tersebut. Tapi saya tepis segera kemasygulan itu dan menghibur diri saya sendiri. Masih banyak media lain yang bisa saya kirimi. Pun, kalaupun tidak bisa tembus juga, karya saya yang sudah dibaca banyak orang di kalangan internal sudah patut untuk disyukuri. Tinggal membuat karya-karya lain yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Tidak berputus asa di sana. Saya mengirimkan cerpen tersebut untuk mengikuti seleksi cerpen yang akan dibahas di diskusi bulanan Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat, Ahad, 26 Agustus 2007. Dari banyak cabang seperti DKI Jakarta, Depok, Ciputat, dan Bekasi mengirimkan masing-masing cerpen unggulannya. Alhamdulillah, cerpen saya yang ditolak Kompas itu masuk nominasi untuk diikutkan di diskusi tersebut. Cerpen saya itu adalah salah satu dari lima cerpen unggulan yang mewakili FLP Depok.
Total cerpen yang dibahas sebanyak dua puluh cerpen. Salah satu judul cerpen menjadi kaver dari kumpulan cerpen yang akan dibahas—biasanya yang dianggap terbaik oleh penyusun kumpulan tersebut. Judulnya adalah Perempuan yang Digoda Malam. Milik salah satu cerpenis dari FLP Depok.
Aturan main dalam pembahasan tersebut adalah pembahas akan mengulas satu persatu cerpen tersebut, mengulas bagus dan jeleknya karya itu. Lalu pada sesi terakhir akan diumumkan cerpen siapa yang dianggap terbaik oleh pembahas mulai nomor urut satu sampai terakhir. Tentu dengan penilaian yang subyektif dan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Kali ini sebagai pembahas adalah Irfan Hidayatullah, Dosen Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, kolumnis majalah Annida, dan mantan Ketua FLP Pusat.
Saat, Kang Irfan—biasa dipanggil demikian—membahas cerpen TITIN BARIDIN, ia memberi judul pembahasannya sebagai berikut: “Lokalitas dan Logika Kalimat”. Tentu banyak kritikan yang saya dapatkan, terutama masalah fokus cerita dan tidak detil dalam penggambaran kemelaratan keluarga Baridin. Kritikan itu saya terima dengan lapang dada.
Singkat cerita, setelah membahas kumpulan cerpen tersebut, Kang Irfan dengan parameter penilaian berupa “keahlian penulis cerita pendek untuk mengubah atau meramu teks menjadi konteks” maka menobatkan cerpen saya TITIN BARIDIN sebagai cerpen terbaik pada diskusi karya hari itu. Mengalahkan cerpen Perempuan yang Digoda Malam dan cerpen berjudul Bukan Dongeng Biasa yang diunggulkan sekali oleh teman-teman di FLP Depok.
“Lokalitasnya kental,” komentar Kang Irfan, “yang benar-benar cerpen,” lanjutnya lagi. Hasil ini, kata Koko Nata, mantan Ketua FLP Depok, menegaskan lagi bahwa daya lokalitas seringkali memberikan penilaian lebih terhadap suatu cerpen. Karena cerpen terbaik di diskusi bulan Juli lalu dengan pembahas Mbak Helvy Tiana Rosa adalah juga cerpen yang mempunyai lokalitas kental, berjudul: Membasuh Megatruh.
Penobatan ini bagi saya adalah sebuah apresiasi yang patut saya syukuri. Tentunya saya tidak bisa untuk cepat berpuas diri. Lalu tenggelam dalam lautan pujian yang seringkali melenakan dan mematikan kreativitas. Masih banyak yang harus saya lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik.
Lalu ada pelajaran yang bisa saya petik dari sebuah kegagalan yang bermula dari Kompas yang menolak si “Titin”, yaitu Sebuah kegagalan akan menjadi kesuksesan ketika kita tidak mudah untuk berputus asa. Ini, bagi saya, adalah sebuah kiat untuk mengatasi keterpurukan mental dari sebuah penolakan. Pula semuanya bermula dari membaca, membaca, membaca, dan berkarya.
Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
setelah dimarahin boss besar
11:09 27 Agustus 2007