Buku Terbaru Riza Almanfaluthi: Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari


Joe Simpson memulai mendaki gunung Siula Grande di pegunungan Andes dengan ketinggian 6.344 meter, Peru bersama Simon Yates pada 6 Juni 1985. Pada saat turun gunung dua hari kemudian, musibah terjadi, Joe tergelincir sehingga meremukkan tungkai kaki kanannya.

Ditemani Simon, perjalanan ke bawah menjadi lambat. Sampai suatu ketika, saat Simon menurunkan Joe, Joe tergelincir dari tepi gunung. Ia terayun-ayun di ketinggian dengan hanya seutas tali yang tertambat di tubuh Simon. Jurang menganga ratusan kaki di bawah Joe. Angin berembus kencang dengan banyak salju. Kemudian Joe jatuh. Simon pergi ke perkemahan karena menyangka Joe telah mati.

Beruntung Joe masih selamat, tetapi jarak perkemahannya masih enam kilometer. Dengan luka kaki dan kenyerian yang luar biasa, Joe merangkak dan masih memelihara harapan hidupnya. Ia tidak membayangkan jarak enam kilometernya, tetapi ia membuat permainan, semacam garis finis imajiner, ia harus bergerak sampai 200 meter ke depan. Setiap ia selesai mencapai garis khayal itu, ia senang dan berusaha menetapkan garis finis berikutnya. Sampai kemudian ia pingsan ketika mencapai area toilet perkemahan.

Joe selamat dan memenangkan permainannya. Joe menjalani enam operasi pembedahan. Ia divonis oleh para dokter tidak akan pernah bisa mendaki lagi dan akan kesulitan berjalan. Namun, setelah menjalani dua tahun rehabilitasi, ia mendaki lagi, menulis buku Touching the Void pada 1988, mematahkan kaki kirinya saat mendaki Mal Duff pada 1991, dan menjadi motivator.

Saya terkesan dengan cerita Joe Simpson dalam pendakian itu. Perjuangannya untuk tetap hidup menginspirasi banyak orang. Dalam dunia pelarian, banyak juga pelari hebat dan menginspirasi, namun tidak banyak yang mau menuliskan tentang pengalaman larinya di blog atau membukukannya agar dibaca banyak orang. Saya mengisi ruang tak padat itu dengan hadirnya buku ini karena saya menyukai menulis dan lari.

Mewujudkan buku ini sampai ke tangan pembaca setidaknya juga menghilangkan Efek Dunning-Kruger yang sering saya derita ketika mengunjungi toko buku.

Tahu bukan efek ini? Sederhananya adalah ketika saya berkunjung ke toko buku, kemudian membuka buku-buku di sana, saya berceletuk: “Ah, kalau buat begini saja mah gampang. Saya juga bisa.” Pada kenyataannya jauh lebih sulit. Untuk menghilangkan efek ini, saya berusaha mewujudkannya. Dan jadilah buku ketiga saya ini yang berjudul Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari.

**

Riza Almanfaluthi pernah melewati kawanan monyet dengan aman saat berlari di Tapaktuan. Menjelang Bandung Marathon, belasan anjing datang mengadang dan mengintimidasinya dengan salakan. Bagaimana ia mengatasi kawanan binatang itu? Cukup dengan berjongkok atau…?

Buku ini berisi cerita lari Riza Almanfaluthi yang dimulai saat ia baru memulai perubahan drastis dalam hidupnya di Tapaktuan, Aceh Selatan sampai di masa pandemi Corona Virus Disease 2019. Dari mulai tidak bisa lari sampai sanggup mengikuti Full Marathon dengan berlari sejauh 42,195 km tanpa henti. Berlari dari race yang satu ke race yang lainnya sebagai bentuk perjuangan mengalahkan dirinya sendiri.

Riza, pemilik berat badan 78 kg sampai kemudian menyentuh angka 62 kg hanya dalam 15 minggu dengan Freeletics dan lari ini, menuliskan pengalaman larinya dengan ringan, renyah, dan menginspirasi buat siapa saja yang ingin melakukan perubahan dan hidup sehat. Keduanya membutuhkan tekad, konsistensi, dan hanya satu alasan. Nah, buku ini juga memberikan tip-tip bermanfaat buat mereka yang ingin memulai dan konsisten berlari.

Untuk pemesanan buku silakan mengisi tautan berikut https://forms.gle/6PTKdTL7ht3ikZtJ7. Nanti ada Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi yang menghubungi balik melalui telepon atau Whatsapp di nomor 087742649595.

**

Suryo Utomo, Pembina DJP Runners, Direktur Jenderal Pajak:

Riza Almanfaluthi sebagai anggota DJP Runners mendokumentasikan perubahan dan cerita larinya dengan ringan dalam buku ini. Kita jadi tahu kalau perubahan itu tidak pandang umur dan tempat. Riza memulai perubahan dirinya di Tapaktuan, Aceh Selatan ketika usianya 38 tahun. Dan berhasil. Yang penting adalah tekad kuat dan persistensi.

 

Wiyoso Hadi, Editor dan Penulis Buku:

Anda hobi lari atau tidak, buku ini menarik untuk dibaca bagi Anda yang ingin wujudkan tekad jadi kenyataan dan hidup lebih bugar.

 

Kris Wahyudi, Pendiri Freeletics Indonesia

Jangan pernah takut berkeringat karena berkeringat itu sehat. Riza sudah membuktikan itu seperti ceritanya dalam buku ini.

 

Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari 

  1. Penulis             : Riza Almanfaluthi
  2. Jenis buku       : Nonfiksi
  3. Kategori           : Pengembangan Diri
  4. Penerbit           : Maghza Pustaka
  5. Tahun terbit     : November 2020
  6. Cetakan            : Pertama, November 2020
  7. ISBN                 : 978-602-5824-85-2
  8. Jumlah hal.      : xvi+216 halaman
  9. Dimensi buku  : 14cm x 20,5cm
  10. Berat              : 200 gram
  11. Harga buku   : Rp60.000,00 (di luar ongkos kirim).

 

4 thoughts on “Buku Terbaru Riza Almanfaluthi: Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.